20.7.17

Tauhid dalam Islam

Oleh: Den Herians


Gbr kitab Tauhid dalam Islam
Apa sih tauhid sebenarnya?...Mengapa ajaran ini begitu eksklusif sehingga Allah Ta’ala hanya mengakui agama tauhid inilah yang benar?...
     Kira-kira sekitar kurang lebih 21 tahun silam (selepas SMA), pertanyaan tersebut diatas menggangu hati dan pikiranku...kemudian membawaku mencari tentang keyakinan agama yang benar, padahal aku terlahir dari keluarga muslim (tentu kini aku sangat bersyukur), namun saat itu tak jua memahami bagaimana beragama yang benar, bahkan sempat merasa ragu akan keyakinan yang aku pegang, sampai beberapa kali jiwa cukup tergoncang karena pertanyaan dari kedunguan diriku terhadap agama, singkat cerita...sampai akhirnya, aku mau bertanya dan belajar pada beberapa teman dan asatidz hingga sempat juga ketemu dengan beberapa ajaran dan “d😶gma” (kini ku kenal dengan istilah “aliran sesat”).
Diantara sekian banyak pertanyaan, ada diantaranya yang mungkin sama dengan pertanyaan banyak orang muslim lainnya, yaitu...apa buktinya Islam adalah ajaran yang benar dari Tuhan?, untuk apa sholat?, kenapa harus begitu gerakannya?, mengapa harus 5x sehari semalam? Apa manfaatnya?.. siapa Allah itu?...untuk apa Allah menciptakan alam semesta?, kenapa Tuhan harus menciptakan aku? kenapa aku harus menjadi bagian dari yang terlahir?.. Akhirnya sekian pertanyaan itu terjawab seiring dengan perjalanan menuntut ilmu, walaupun sebenarnya tidak setiap pertanyaan harus ada jawabannya karena Allah Maha Luas pengetahuan-Nya. (Jazaakumullaahu Khairan kepada guru-guru kami dan sahabat-sahabat, yang selalu bersabar mengajariku pemahaman yang benar). 
      Well...untuk mengetahui apakah suatu ajaran itu adalah ajaran yang lurus tentu kita harus mendapatkan informasi yang benar dan dari sumber yang terpercaya lagi bisa dipertanggungjawabkan, baik secara argumen, data, ataupun secara prilaku (adab dan akhlaq), apalagi dalam hal keyakinan agama. Oleh karena itulah Allah Ta’ala menurunkan para utusan yang terpercaya pada tiap-tiap ummat untuk memberi informasi dan mengajarkan bagaimana beragama yang benar, hingga sampai pada rasul terakhir yang bernama Muhammad, yang masyarakat pada masa itu tau betul akan kejujuran dan kebenarannya, hingga beliau Shollallaahu ‘alihi wasallam diberi gelar alAmin (yang terpercaya),... maka bagaimana mungkin masyarakat jahiliyah pada waktu itu menolak Informasi Religi yang disampaikan Rasul saw jika bukan karena kedengkian yang ada dalam hati mereka?...  Oleh karena itu juga informasi mengenai risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad saw, dengan izin Allah akan senantiasa ada orang-orang yang menjaganya disetiap masa _sampai kehendak Allah tiba untuk dicabutnya ilmu_ bahkan lahirlah khazanah keilmuan Islam yang tersusun rapi atas jasa-jasa ‘ulama, sehingga tidak sulit bagi orang-orang yang ikhlash dan mau belajar untuk menyusuri informasi mengenai kebenaran agama tauhid dan risalah keilmuan Islam, dan itu semua bermuatan informasi yang kuat sehingga setiap ada celah yang digunakan para pendengki untuk menjatuhkan alhaq, mesti selalu ada ‘ulama yang meluruskannya dan semakin membuktikan kebenaran Islam sebagai Agama Tauhid. Lalu..bagaimana ajaran tauhid itu?... keep reading yea...Let’s check it out!

Pengertian Tauhid
Ahli ilmu memberi definisi tauhid sebagai berikut :
التَّوحِيدُ لُغَةً : اَلإِفرَادُ.[1]
التَّوْحِيدُ مَصْدَرُ وَحَّدَ يُوَحِّدُ وَمَعْنًى وَحَّدْتُ اللَّهَ اعْتَقَدْتُهُ مُنْفَرِدًا بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ لَا نَظِيرَ لَهُ وَلَا شَبِيهَ. [2]
Lafazh التَّوْحِيدُ  merupakan mashdar (kata dasar) nya lafazh وَحَّدَ يُوَحِّدُ  , dan maknanya : Aku mengesakan Allah dan meyakini-Nya bahwa Dia itu tunggal dalam Dzat-Nya dan Sifat-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya.
وَفِي الاِصطِلَاحِ: إِفرَادُ اللهِ بِالعِبَادَةِ , أَيْ أَن تَعبُدَ اللهَ وَحدَهُ لَا تُشرِكَ بِهِ شَيئًا، وَلاَ تُشرِكَ بِهِ نَبِيًّا مُرسَلاً ، وَلَا مَلَكًا مُقَرَّبًا وَلَا رَئِيسًا وَلَا مَلِكًا وَلَا أَحَدًا مِنَ الخَلقِ ، بَل تُفرِدُهُ وَحدَهُ بِالعِبَادَةِ مَحَبَّةً وَتَعظِيمًا ، وَرَغبَةً وَرَهبَةً.[3]
Pembagian Ilmu Tauhid
Secara umum para ‘ulama membagi tauhid kepada 3 bagian (adapun terdapat beberapa tambahan yang berbeda dari sebagian ‘ulama mengenai pembagian ilmu tauhid, insyaaAllah akan di sampaikan pada kesempatan yang lain) , yaitu :
1.  توحيد الربوبية  / Tauhid Rububiyah, yaitu: Mengesakan Allah swt atas Penciptaan-Nya, ke-Kuasaan dan ke Pengurusan-Nya".  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
ayat azzumar :62

"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu" (Q.S. AzZumar : 62).
Dan Firman-Nya Ta’ala:
gbr.fathir :3
" Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? tidak ada Tuhan selain dia; Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?". (Q.S. Fathir : 3).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
gbr. al Mulk : 1

"Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu".(Q.S. AlMulk : 1).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
"....Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam".(Q.S. Al  A’raf : 54).
Iman kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu pondasi dalam Aqidah Islamiyah, yaitu keyakinan yang mutlak kepada Allah Ta’ala bahwa sesungguhnya Dia adalah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya, Dia lah satu-satunya yang Maha Pencipta Yang Maha Mengatur seluruh alam, dan hanya Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi tiada sekutu bagi-Nya. Dan setiap yang disembah selain Allah maka itu adalah suatu kebatilan dan ibadahnya pun batil, Allah Ta’ala berfirman :
"yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar".(Q.S. AlHajj:62).
Kemudian ditinjau dari segi bahasa : Rububiyah merupakan mashdar (kata dasar) dari kata kerja  رَبَبَ   [4], dan darinya lah kata الرَّبُّ , kemudian kata Rububiyah merupakan sifatnya Allah Ta’ala, yaitu diambil dari nama  الرَّبّ. Adapun lafazh  الرَّبّ  menurut pembicaraan orang arab, dikenal dengan beberapa makna : diantaranya  الْمَالِكُ  (Yang Menguasai/Yang Memiliki), السَّيِّدُ الْمُطَاعُ (Raja yang di ta’ati) ,  الْمُصْلِحُ (Yang memperbaiki).

Syaikh Shalih Ibnu Fauzan al Fauzan menjelaskan :
فَأَمَّا تَوحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ, فَإِنَّهُ الِإقرَارُ بِأَنَّ اللهَ وَحدَهُ هُوَ الخَالِقُ لِلعَالَمِ، وَهُوَ الْمُدَبِّرُ، الْمُحيِي، الْمُمِيتُ، وَهُوَ الرَّزَّاقُ، ذُو القُوَّةِ الْمَتِينِ   [5]
Adapun Tauhid Rububiyah, yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Esa, Dia lah Pencipta alam semesta, Yang Maha Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan dan Dia yang Maha memberi Rizqi, Pemilik segala kekuatan lagi Maha Kokoh.
Seorang hamba wajib untuk mengimani Rububiyahnya Allah seluruh nya, Allah Ta’ala berfirman :
gbr luqman ayat 10-11
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." (Q.S. Luqman : 10-11).
Demikian juga Firman-Nya Ta’ala :
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Q.S. Al Thur: 35).
Dan terdapat dalam sunnah yang diriwayatkan oleh Imam AtTurmudzi dan yang lainnya :
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي وَصِيَّتِهِ لِابنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما : . . . « وَاعلَم أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجتَمَعَت عَلَى أَن يَنفَعُوكَ بِشَيءٍ لَم يَنفَعُوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَكَ ، وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أَن يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَم يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيكَ ، رُفِعَت الأَقلَامُ وَجَفَّت الصُّحُفُ » [6]
Bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda mengenai nasihat beliau kepada Ibnu ‘Abbas r.a :..." Ketahuilah! sesungguhnya suatu ummat, seandainya mereka berkumpul untuk memberikan manfa’at kepada kamu dengan sesuatu manfa’at, tidaklah mereka akan dapat memberikan manfa’at bagimu kecuali dengan sesuatu yang Allah telah menetapkannya bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk memberi madharat kepadamu dengan sesuatu kemadharatan maka tidaklah mereka akan dapat memadharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering". 
     Bahkan secara dalil ‘aqli, akal dapat mengetahui adanya wujud (keberadaan) dan ke-esaan Allah Ta’ala beserta Rububiyah dan kesempurnaan segala perhitungan-Nya dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk-nya, bagi orang berakal yang mau memikirkan. Diantaranya :
1.  Dengan memperhatikan ayat-ayat Allah mengenai penciptaan diri dan jiwa manusia. Betapa tanda-tanda kekuasaan Allah menunjukan atas ke-Esaan-Nya dengan segala kekuasaan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.  Sebagaimana Allah berfirman :
 وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ  . الذاريات:21
 "dan pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?",
dan firman-Nya:
 وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا .الشمس:7
 "demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)". Perhatikanlah bagaimana secara detail tubuh manusia terdapat sistem yang demikian teratur dan penuh perhitungan. Maka siapakah yang menciptakan dan mengurusnya?... 
2. Dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah mengenai penciptaan alam semesta, semua menunjukkan Rububiyahnya Allah Ta’ala. Firman-Nya: 

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (Q.S. Fushshilat:53).


Demikian konsep rububiyah ini memberikan pengetahuan mengenai Tuhan Yang Maha Satu, DIA Yang Maha Menguasai, Maha Mengatur, Maha Mengurus , Maha Mengendalikan  segala sesuatu.
     Dan sungguh berdosa bagi manusia yang berani mengingkari Rububiyahnya Allah Ta’ala, karena dia telah melakukan Syirik dan diancam sebagai pelaku dosa besar, sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S. AnNisa:48). 
     Semoga kita tidak terjatuh kedalam perbuatan yang termasuk kepada mengingkari Tauhid rububiyah. 
     Oleh karenanya kita perlu mengetahui aspek-aspek penolakan Tauhid Rububiyah yang dapat menyebabkan kekafiran, sehingga kita dapat menjaga diri darinya.
     Diantara aspek-aspek penyangkalan tauhid rububiyah yaitu : 
1.      Menyangkal atas Rububiyahnya Allah Ta’ala dengan mengingkari wujud-Nya sebagaimana aqidahnya orang-orang atheis yang mana mereka menduga dan menyandarkan bahwa segala sesuatu yang ada itu terjadi secara alamiah atau berdasarkan perubahan waktu, dan lain sebagainya, tanpa ada keterlibatan Yang Maha Pencipta. Al’Iyaadzu billaah...Firman-Nya Ta’ala
 وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ 
 "Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,.." (Q.S. AlJaatsiyah:24). 
Demikian AlQuran melukiskan sifat orang-orang atheis.
2.      Menyangkal sebagian karakteristik Rabb ‘Azza wa Jalla dan mengingkari sebagian makna-makna Rububiyah-Nya swt, sebagaimana orang yang menafikan Qudratullah (takdir) atas ke Maha Kuasaan-Nya mematikan dan menghidupkan kembali sesudah mati, dsb.
3.      Meyakini adanya yang dapat memberi sesuatu dari selain Allah, menyerupai kekhususan atas rububiyahnya Allah, yaitu seperti orang yang meyakini adanya penguasa yang menyertai Allah pada apa saja yang terjadi dalam kekuasaan-Nya mengurus alam semesta dari adanya penciptaan, adzab, kehidupan, kematian, memberi kebaikan, memberi barakah, menolak keburukan, dan lain sebagainya yang termasuk kepada kemusyrikan.[7]

Selanjutnya Tauhid yang ke dua adalah Tauhid Uluhiyah.

2. Tauhid Uluhiyah, yaitu: "Mengesakan Allah swt dengan beribadah serta tidak menjadikan seseorangpun untuk dia sembah dan mendekatkan dirinya kepada sesembahan tersebut seperti dia menyembah Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya".
Firman-Nya Ta’ala :
 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
 "dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [8]   itu". (Q.S. An-Nahl:36).


Setiap rasul yang diutus memulai dakwah kepada kaumnya dengan memerintahkan supaya bertauhid uluhiyah, seperti halnya Nuh a.s, Hud a.s, Shalih a.s, juga Syu’aib a.s. Sebagaimana tercantum dalam Firman-Nya Ta’ala :
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ

 "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya"  [9]
Ibrahim a.s pun, sebagaimana dalam alQuran dikisahkan :
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ
 " dan Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya".(Q.S. AlAnkabut:16).
Selanjutnya Rasulullah saw, sebagaimana Allah berfirman :
 قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
 "Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama". (Q.S. AzZumar : 11).


وَقَالَ صلى الله عليه وسلم : ( أُمِرتُ أَن أُقَاتِلَ النَّاسَ؛ حَتَّى يَشهَدُوا أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ) الحديث رواه البخاري ومسلم [10]
Rasulullah saw bersabda: " Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah" (H.R. Bukhari Muslim).
Selanjutnya...Tauhid uluhiyah disebut juga tauhid ibadah, berdasarkan kepada al-‘u'budiyah (pengabdian) yang merupakan sifat seorang hamba yang mana ia wajib untuk menghambakan dirinya kepada Allah dengan ikhlash, karena kebutuhan dan kefakirannya kepada-Nya.
Lalu bagaimana dan apa ibadah itu?...diantaranya ‘Ulama menjelaskan :
مَعنَى العِبَادَةِ فِي اللُّغَةِ الطَّاعَةُ مَعَ الخُضُوعِ [11] .وَأَمَّا العِبَادَةُ فِي الشَّرعِيَّةِ فَقَد قَالَ شَيخُ الإِسلَامِ ابنُ تَيمِيَّةَ:" اَلعِبَادَةُ: اِسمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرضَاهُ، مِنَ الأَقوَالِ وَالأَعمَالِ البَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ" [12]
Makna ibadah menurut bahasa adalah keta’atan beserta ketundukan. Adapun Ibadah menurut istilah syara’, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Lafazh اَلعِبَادَةُ  merupakan sebutan bagi semua yang Allah mencintainya dan meridhainya berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, baik yang batin maupun yang zhahir.
وَقَالَ شَيخُ الإِسلَامِ رَحمَةُ اللهِ عَلَيهِ: اَلعِبَادَةُ هِيَ طَاعَةُ اللهِ بِامتِثَالِ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ عَلَى أَلسِنَةِ الرُّسُلِ.
Dan Syaikhul Islam juga mengatakan : Ibadah adalah menta’ati Allah dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan melalui lisan para Rasul.
Allah Ta’ala berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
 "hanya kepada Engkaulah Kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan". Para ulama menjelaskan dalam Tafsir alMuyassar :
وَفِي هَذِهِ الآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ العَبدَ لَا يَجُوزُ لَهُ أَن يُصَرِّفَ شَيئًا مِن أَنوَاعِ العِبَادَةِ كَالدُّعَاءِ وَالِاستِغَاثَةِ وَالذَّبحِ وَالطَّوَافِ إِلَّا للهِ وَحدَهُ، وَفِيهَا شِفَاءُ القُلُوبِ مِن دَاءِ التَّعَلُّقِ بِغَيرِ اللهِ، وَمِن أَمرَاضِ الرِّيَاءِ وَالعُجُبِ، وَالكِبرِيَاءِ.[13]
Ayat ini menunjukan bahwa seorang hamba itu tidak diperbolehkan untuk merubah apapun diantara macam-macam ibadah yang telah ditetapkan, seperti do’a, istighatsah, ibadah kurban, tawaf, kecuali semuanya hanya bagi Allah semata, yang didalamnya terdapat obat hati dari penyakit ketergantungan kepada selain Allah, dan dari penyakit-penyakit riya, ‘ujub dan kesombongan.
    Tauhid uluhiyah merupakan substansi dakwah para rasul, sebagai fondasi bagi berdirinya seluruh amal, dan tanpa dilandasi dengan ini maka sebanyak apapun amal menjadi tidak sah. Maka yang terjadi justru kebalikannya yaitu syirik. 
Firman-Nya Ta’ala :
 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ
 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik" (Q.S:AnNisa:48),
dan Firman-Nya Ta’ala :
 وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
 " seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan".(Q.S: AlAn’am :88). Dan Firman-Nya Ta’ala :
 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِين
 "Jika kamu mempersekutukan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi".(Q.S: AzZumar :65) [14].
 
Kemudian yang ke 3 adalah Tauhid Asma wa Sifat.. 
3.  Tauhid Asma wa Shifat, yaitu : "Mengesakan Allah Ta’ala dengan nama Diri-Nya, dan Sifat Diri-Nya sebagaimana Dia menamakan diri-Nya dalam  AlQuran, atau sebagaimana yang dijelaskan melalui lisan Rasul-Nya saw, demikian juga dengan meyakini apa yang Allah telah menetapkannya".
     Mengetahui dan mempelajari asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya merupakan jalan untuk mengenal Allah (Ma’rifatullah). Allah Ta’ala telah menciptakan seluruh makhluq, yakni supaya  mereka mengenal-Nya dan menyembah-Nya dengan penuh keta’atan. Kemudian jika para hamba menginginkan supaya mereka mengenal Rabbnya, maka tidak ada jalan bagi mereka  kecuali mereka harus mengenal-Nya melalui nash-nash yang melukiskan Sifat-sifat-Nya Ta’ala, yang menjelaskan Perbuatan-Nya dan Nama-nama-Nya [15] , sebagaimana dijelaskan dalam AlQuran, Firman-Nya :
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar".(Q.S. AlBaqarah:255).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Q.S. AlHasyr: 22-24).
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan sifat-sifat Allah Ta’ala. Kemudian usaha seorang hamba dalam mengenal Allah akan mendatangkan dan mengundang kecintaan Allah kepada hamba tersebut, sehingga tertanam dalam jiwanya : مَحَبَّتُهُ (kecintaan kepada-Nya),  خَشيَتُهُ (kekhusyu'an kepada-Nya), خَوفُهُ (takut kepada-Nya),  رَجَائُهُ (berharap hanya kepada-Nya), dan إِخلَاصُ العَمَلِ لَهُ  (memurnikan amal hanya kepada-Nya). Maka inilah sumber kebahagiaan seorang hamba, dan tiada jalan menuju ma’rifatullah kecuali dengan mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang mencocoki-Nya, makna asma dan sifat-Nya, mengenal segala ketentuan-Nya dan tujuan-tujuan-Nya.
تَزكِيَّةُ النُّفُوسِ  (penyucian jiwa) dan penegakkannya diatas manhaj ‘ubudiyah (cara yang telah ditetapkan dalam beribadah) hanya bagi Allah Yang Maha Esa, merupakan buah dari kemulyaan yang dihasilkan dari ma’rifatu asmaa'illahi washifaatihi, kemudian syari’at yang diturunkan dari Sisi-Nya merupakan tujuan demi tercapainya kebaikan setiap insan. Adapun jalan kebenaran yaitu tegaknya seorang hamba diatas manhaj ‘ubudiyah hanya karena Allah Ta’ala yang tiada sekutu bagi-Nya. Maka dengan mengetahui dan mendalami akan asma dan sifat-Nya , seorang hamba akan terpelihara dengan izin Allah dari "ketergelinciran" dan kesalahan yang fatal, dan akan dibuka bagi hamba-hamba-Nya pintu-pintu harapan dan akan dimantapkan keimanannya, serta akan ditolong dengan diberikan kesabaran. Kemudian jika seorang hamba benar-benar mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, berikut maknanya yang tertancap dalam hatinya, tentu dampaknya akan berpengaruh ketika ia berada dimana saja, maka hatinya akan dipenuhi dengan ke’arifan dan kelembutan, maka tiada yang lain di hatinya kecuali hanya kecintaannya kepada Rabbnya. Firman-Nya Ta’ala :
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
 " ...Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah..." [16].

Allaahu A'lam..        
Well...Sahabat semua, sampai sini dulu uraian pengenalan ilmu tauhid dari segi macamnya. 
      Untuk membentengi diri kita dari penyimpangan aqidah, kita perlu tahu apa saja yang menyebabkan seseorang keluar dari aqidah tauhid, yuk kita baca tema selanjutnya  :
 Syirik kebalikan dari Tauhid.


Baca Juga : Aqidah

[1]. الكتاب : القول السديد في وجوب الاهتمام بالتوحيد-المكتبة الشاملة-
[2]  .  كِتَابُ التَّوْحِيدِ : فتح الباري شرح صحيح البخاري- المؤلف: أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي- المكتبة الشاملة-
[3] . الفوائد المستفادة من شرح ثلاثة الأصول- المكتبة الشاملة-
[4]  . ربَّ يَرُبُّ
[5] .  إعانة المستفيد بشرح كتاب التوحيد
[6] . سنن الترمذي (2516) ، ومسند أحمد (1 / 307) ، وقد حسن الحديث الترمذي وصححه ، وصححه الحاكم  - المكتبة الشاملة- ( أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة - (ج 1 / ص 16)
[7] . Lih: - المكتبة الشاملة- (25 أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة - (ج 1 / ص
[8]  . Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t
[9]  . Lihat : Q.S. Al-A’raf : 59, 65, 73,85.
[10] . - المكتبة الشاملة ( عقيدة التوحيد - (ج 1 / ص 24
[11]  . المكتبة الشاملة لسان العرب - (ج 3 / ص 273)-
[12] . شرح كتاب التوحيد من صحيح البخاري - (ج 1 / ص40 )- المكتبة الشاملة
[13]  . التفسير الميسر, مجموعة من العلماء - عدد من أساتذة التفسير تحت إشراف الدكتور عبد الله بن عبد المحسن التركي- المكتبة الشاملة-  
[14]  . Lihat : - المكتبة الشاملة- ( عقيدة التوحيد - (ج 1 / ص 25)
[15]  . Lihat : - المكتبة الشاملة-  ( توحيد الأسماء والصفات - (ج 1 / ص 3
[16]  . Q.S AlBaqarah:165

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik