18.11.17

gbr.sifat penghuni surga
Ahli Surga dan Sifat-sifatnya
Oleh : Den Herians
           Setiap orang tentu tak akan menolak jika diberi kebaikan, kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupnya. Begitupun ketika mendengar kata 'surga' , lalu diberi pertanyaan: inginkah anda masuk surga? Atau anda memilih neraka?.....
Bahkan, sekalipun dia adalah atheist, pelaku kejahatan, pelaku maksiyat, pelaku kezhaliman.     
AlJannah (surga) dan gambaran kenikmatannya serta segala apa yang ada didalamnya berupa kebahagiaan, keceriaan, kesuksesan dan kesenangan yang tiada terputus, yang belum pernah ada dalam penglihatan, lamunan, dan pikiran. Allah swt mengkhususkan itu semua hanya untuk hamba-hambaNya yang pantas mendapatkannya......Ya Rabb betapa sesaknya dada kami..kami tahu sungguh teramat jauh diri kami dari kepantasan itu...kasihanilah kami yaa Arhamarraahimiin..
          Syaikh al’Utsaimin menjelaskan dalam suatu majelis ta’lim ramadlan:
فَإِن  سَأَلتُم عَنِ العَمَلِ لَهَا وَالطَّرِيقِ الْمُوَصِّلِ   إِلَيهَا  , فَقَد بَيَّنَهُ اللهُ فِيمَا أَنزَلَهُ مِن وَحيِهِ عَلَى أَشرَفِ خَلقِهِ.
Maka jika anda sekalian bertanya tentang amal untuk sampai ke surga dan jalan yang dapat menghubungannya kesana. Maka sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskannya dalam wahyu-Nya yang Dia turunkan kepada semulia-mulia makhluqNya (Rasulullah saw).
 قال الله عز وجل :
 وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ , الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ , وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : " dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui".(Q.S. Ali Imran:133-135).
Maka inilah diantara sebagian sifat-sifat yang ada pada ahluljannah :
1.      الْمُتَّقِينُ  
Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Rabbnya dengan menjaga dirinya dari adzab-Nya dengan mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka dengan penuh keta’atan dan hanya mengharapkan balasan dariNya, dan mereka meninggalkan apa yang dilarang-Nya dengan penuh keta’atan dan takut akan akibatnya.
2.      الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ  
Yaitu mereka adalah orang-orang yang menafkahkan sebagian apa yang telah Allah perintahkan untuk mengeluarkannya, berupa zakat, shodaqoh, dan nafaqoh kepada orang yang berhak mendapatkannya, dan berinfaq untuk kepentingan jihad dan lain sebagainya diantara jalan-jalan kebaikan. Mereka berinfaq untuk hal tersebut baik ketika mereka lapang ataupun sempit.  Ketika lapang dan sejahtera mereka tidak rakus dan kikir, dan tidak merasa berat untuk menafkahkan harta yang dicintainya. Dan ketika dalam keadaan sulit merekapun tidak menahan hartanya karena khawatir akan kebutuhannya.
3.      الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ 
Yaitu mereka yang mampu menahan diri ketika marah dan tidak menyerang serta mendendam.
4.       الْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
Yaitu mereka yang sanggup memaafkan orang yang menzhalimi dan menyerang mereka. Dan tidak ada rasa dendam dalam dirinya karena mereka yakin akan ketetapan Allah atas hal tersebut.
FirmanNya Ta’ala :
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Merupakan isyarat bahwa memaafkan itu tidaklah dimuliakan kecuali atas dasar ihsan, dan itu dilakukan untuk mencapai ishlah (perbaikan). Adapun memaafkan namun meninggalkan dan menambah dendam, maka itu tidaklah terpuji dan tidak akan mendapat pahala.
Allah Ta’ala berfirman :
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
  \"Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah".
(Q.S. AsySyuuraa':40).
5.      وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِم
(orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka).
Alfahisyah yaitu yang termasuk kepada dosa besar seperti membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan haq, durhaka kepada kedua orang tua, memakan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari medan perang, berzina, mencuri / korupsi, dan lain sebagainya yang termasuk dosa besar.
Adapun zhalimun linafsi (menganiaya diri sendiri) lebih umum, mencakup dosa besar dan dosa kecil. Maka ketika mereka mengerjakan sesuatu diantara itu, maka mereka segera ingat dan memohon ampunan Allah, mereka sangat khawatir karena telah melakukan pelanggaran, maka mereka berdzikir, memohon ampun dan rahmatNya kemudian mereka bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari hal-hal demikian yang menyebabkan mereka menanggung akibatnya.
FirmanNya Ta’ala :
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?
ini merupakan isyarat bahwa sungguh tidak ada yang dapat dimintai ampunan kecuali hanya Allah swt.
6.      وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 
“dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”
Yaitu mereka tidak meneruskan melakukan perbuatan dosa tersebut dan mereka mengetahui bahwa itu adalah dosa dan mereka mengetahui kesombongan dan kedurhakaannya. Mereka pun tau ampunan Allah itu dekat, maka mereka bersegera menjauh dari dosa dan bertaubat darinya. Kemudian apabila dosa kecil terus menerus dilakukan padahal mengetahui itu dosa, maka akan terus meningkat dan menjadi besar membuat pelakunya jatuh kepada perkara-perkara yang berbahaya dan kronis.
Adapun pada surat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ , الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ , وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ , وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ , وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ,  إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ , فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ,  وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ , وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ , أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ,  الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ .
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi sorga Firdaus, mereka kekal di dalamnya".
(Q.S. AlMu'minuun:1-11).
Pada ayat-ayat yang mulia ini terkumpul didalamnya beberapa sifat dari sifat-sifat ahluljannah :
1.      الْمُؤْمِنُونَ
Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala , malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, kepada hari akhirat dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk. Mereka beriman kepada itu semua dengan keimanan yang bersifat pengakuan dan keyakinan yang melahirkan keta’atan dalam ucapan dan perbuatan.
2.      الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya”
Hati mereka hadir, anggota tubuhnya tenang. Mereka menyadari bahwa sesungguhnya mereka sedang berdiri dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla, mereka berbicara kepada Allah dengan kalamNya, mereka mendekat kepadaNya dengan dzikirNya, mereka memohon kepadaNya dengan do’aNya. Maka mereka adalah orang-orang yang khusyu’ lahir dan batin. [Pent: lihat juga : Esensi Sholat]
3.      وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ 
“orang-orang yang berpaling dari sesuatu yang tiada guna”
Al-Laghwu yaitu tiap-tiap yang tidak bermanfaat didalamnya dan tidak ada kebaikan dalam ucapan ataupun perbuatan. Maka mereka berpaling darinya karena kuatnya kehendak dan kerasnya tekad mereka, tidaklah mereka habiskan waktu mereka yang amat berharga kecuali terhadap apa yang bermanfaat didalamnya sebagaimana mereka memelihara sholat dengan khusyu’, maka mereka pun memelihara waktunya dari kesia-siaan.
4.      وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ  
“orang-orang yang menunaikan zakat”
Secara khusus bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah bagian yang wajib diserahkan dari harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Dan secara umum bertujuan untuk mensucikan dirinya dari harta, perkataan dan perbuatan.
5.       
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ,  إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ 
Yaitu mereka yang memelihara farji nya dari perbuatan zina, liwath (homoseksual), serta apa-apa yang termasuk maksiyat kepada Allah dan menyebabkan rusaknya akhlaq dan pergaulan sosial.
Bahkan boleh jadi memelihara farji yang dimaksud adalah mencakup yang bersifat luas dari itu termasuk memeliharanya pula dari memandang dan menyentuh.  Dan pada firmanNya Ta’ala : فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ , merupakan isyarat bahwa yang pokok, tercelanya manusia itu pada perbuatan demikian (tidak menjaga farji) kecuali kepada istrinya dan budak yang dimilikinya[1]. Kemudian secara umum Firman-Nya Ta’ala :
فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
“ barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas” 
Juga sebagai dalil atas larangan الِاستِمنَاء [2] (istimna'), karena itu termasuk berbuat bukan kepada istri atau budak yang dimiliki.  
6.      وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ 
“orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya”
Amanat adalah apa yang dipercayakan kepada seseorang berupa perkataan, perbuatan, atau penglihatan kemudian ia menyampaikannya khusus kepada anda, maka ia telah beramanat (mempercayakannya) kepada anda. Dan seseorang berbuat sesuatu dihadapan anda yang ia tidak ingin anda mengungkapkannya maka ia telah beramanat kepada anda. Kemudian seseorang yang menyerahkan hartanya kepada anda untuk menjaganya maka itu adalah amanat bagi anda. Dan janji kepada yang lain, yang mana seseorang harus melaksanakannya, seperti bernadzar kepada Allah dan perjanjian yang berlangsung diantara manusia.
Maka ahluljannah itu, mereka senantiasa melaksanakan dan memelihara amanat dan janjinya diantara sesamanya dan Allah, dan pada perjanjian yang dibuat termasuk didalamnya loyalitas dengan akad dan syarat yang diperbolehkan didalamnya.
7.      وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ 
“orang-orang yang memelihara sholatnya”
Yaitu orang yang senantiasa memelihara sholatnya dari keterlambatan dan kelalaian, oleh karena itu ia melaksanakannya tepat pada waktunya berikut menyempurnakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan kewajiban-kewajibannya.
Dan Allah swt banyak menyebutkan dalam alQuran tentang sifat-sifat ahluljannah yang sama seperti dinukil pada ayat-ayat diatas. Dan terdapat cukup banyak pula dalam alHadits mengenai sifat-sifat mereka.
Diantaranya dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا  يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا  إِلَى الْجَنَّةِ
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga" (H.R.Muslim).
Dan masih dari riwayat Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda :
 أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟  قَالُوا  : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ:  إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ.رواه مسلم
"Maukah kalian untuk aku tunjukkan kepada sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudlu pada sesuatu yang dibenci [3] , banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalatberikutnya setelah shalat" (H.R.Muslim).
Kemudian pada hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda :
 مَا مِنكُم مِن أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسبِغُ الوُضُو ءَ  ثُمَّ يَقُولُ : أَشهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ , إِلَّا فُتِحَت لَهُ أَبوَابُ الجَنَّة ِ الثَّمَانِيَةِ يَدخُلُ مِن أَيِّهَا شَاءَ. رواه مسلم
" Tidaklah salah seorang dari kalian berwudlu lalu ia menyempurnakan wudlunya kemudian ia membaca : "Asyhadu allaa ilaaha illa-Llah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuuluh", kecuali dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, dia dapat masuk darimana saja ia kehendaki." (H.R.Muslim).
          Terdapat pula dari riwayat ‘Umar r.a  dalam hadits shahih Muslim mengenai orang yang mengikuti ucapan mu'adzdzin dari hatinya maka ia masuk surga.
Kemudian dari ‘Utsman bin ‘Affan r.a bahwa Nabi saw bersabda :
  مَن بَنَى مَسجِدًا  يَبتَغِي  بِهِ   وَجهَ اللهِ  بَنَى اللهُ لَهُ  بَيتًا  فِي الجَنَّةِ 
" Barang siapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan membuatkan baginya rumah disurga" (Mutafaqun ‘alaih).
Kemudian pada riwayat ‘Ubadah bin Shamit r.a bahwa Nabi saw bersabda :
خَمسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى العِبَادِ ، فَمَن جَاءَ بِهِنَّ وَلَم يُضَيِّع مِنهُنَّ شَيئًا اِستخِفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِندَ اللهِ عَهدٌ أَن يُدخِلَهُ الجَنَّةَ. رواه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي , وله طرق يُقَوِّي بعضها بعضا.
"Lima shalat, Allah telah mewajibkannya bagi para hamba, barang siapa yang melakukannya dan tidak memenyia-nyiakan sedikitpun darinya karena meremehkan haknya, maka baginya di sisi Allah suatu perjanjian untuk Allah masukkan dirinya ke Surga".( H.R. Ahmad, Abu Dawud dan Nasai, dengan jalan yang saling menguatkan satu sama lain).
          Kemudian dari Tsauban r.a, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw tentang amal yang Allah akan memasukkan dirinya ke sorga, maka Rasulullah saw bersabda :
عَلَيكَ بِكَثرَةِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لَا تَسجُدُ لِلهِ سَجدَةً   إِلَّا رَفَعَكَ اللهُ  بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنكَ بِهَا خَطِيئَةً. رواه الإمام أحمد.
"Engkau harus memperbanyak sujud, karena tidaklah engkau bersujud untuk Allah sekali sujud kecuali dengannya Allah akan mengangkat satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu" (H.R.Ahmad).
          Kemudian dari Ummi Habiibah r.a, bahwa Nabi saw bersabda :
مَا مِن عَبدٍ مُسلِمٍ  يُصَلِّي لِلهِ تَعَالَى   فِي كُلِّ يَومٍ  ثِنتَيْ عَشرَةَ رَكعَةً   تَطَوُّعًا  غَيرَ فَرِيضَةٍ   إِلَّا بَنَى اللهُ لَهُ بَيتًا فِي الجَنَّةِ. رواه مسلم
"Tidaklah seorang hamba yang muslim mengerjakan sholat karena Allah Ta’ala pada setiap harinya sebanyak duabelas raka’at tathawu’(sunnat) selain sholat fardlu, kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga".(H.R.Muslim).
Maksudnya yaitu 4 rakaat qobla zhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, kemudian 2 rakaat ba’da maghrib, 2 rakaat ba’da ‘isya dan 2 rakaat qobla sholat subuh.
Kemudian dari Mu’adz bin Jabal r.a bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw :
يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَخبِرنِي بِعَمَلٍ يُدخِلُنِي الجَنَّةَ  وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ؟  قَالَ : " لَقَد سَأَلتَ عَن عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ  عَلَى مَن يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيهِ : تَعبُدُ اللهَ وَلَا تُشرِكُ بِهِ شَيئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ ، وَتُؤتِي الزَّكَاةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ ، وَتَحَجُّ البَيتَ. رواه أحمد والترمذي وصححه.
"Wahai Nabiyullah, kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka. Rasulullah saw bersabda; "Engkau telah menanyakan sesuatu yang agung, itu amatlah mudah bagi yang diberi kemudahan oleh Allah; yaitu engkau menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan engkau shaum ramadhan dan melaksanakan haji ke baitullah."  (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).
Dan dari Sahl bin Sa’id r.a :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ فِي الجَنَّةِ  بَابًا يُقَالُ لَهُ  الرَّيَّانُ  يَدخُلُ مِنهُ الصَّائِمُونَ  يَومَ القِيَامَةِ   لَا يَدخُلُ مِنهُ أَحَدٌ غَيرُهُم يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ. متفق عليه.
Bahwa Nabi saw bersabda :
"Sesungguhnya di sorga itu ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, pada hari kiamat akan masuk daripadanya ashshaaimuun (orang-orang yang shaum). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu itu selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimunberdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu ituditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut". (Mutafaq alaih).
          Dan dari Abu Hurairah r.a :
 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ  عَلَيهِ وَسَلَّمَ  قَالَ : العُمرَةُ إِلَى العُمرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَينَهُمَا وَالحَجُّ المَبرُورُ لَيسَ لَهُ جَزَاءٌ  إِلَّا الجَنَّةُ
Bahwa Nabi saw bersabda:
"Umrah ke 'umrah berikutnya menjadi penghapus dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur itu tidak ada baginya balasan kecuali surga".
(H.R. Bukhari & Muslim).
وَعَن أَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه « أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَن أَكثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الجَنَّةَ ؟ فَقَالَ : تَقوَى اللهِ وَحُسنُ الخُلُقِ. رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه ، وإسناده ليس بذلك لكن متنه صحيح .
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia".
(H.R. Tirmidzi & Ibnu Hibban dalam shahihnya namun sanadnya tidak demikian, akan tetapi matannya shahih).
Kemudian riwayat dari Iyadh bin Himar alMujasyi'i , bahwa Nabi saw bersabda :
أَهلُ الجَنَّةِ   ثَلَاثَةٌ : ذُو سُلطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ ،  وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ القَلبِ  لِكُلِّ ذِي قُربَى ، وَمُسلِمٌ  عَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ. رواه مسلم في حديث طويل
"Penghuni surga itu ada tiga: Pemilik kekuasaan yang sederhana, orang yang sukses dan murah hati, seorang yang berbelas kasih berhati lunak kepadasetiap kerabat , dan seorang muslim yang sangat menjaga diri dan memiliki tanggungan" (H.R. Muslim dengan redaksi yang cukup panjang).
          Demikianlah syaikh ‘Utsaimin menjelaskan beberapa hadits dan ayat alQuran yang menerangkan sebagian sifat-sifat dan amalan para ahli surga, sebagai panduan bagi siapa yang merindukan dan mendambakan supaya dimasukan kedalam golongan mereka.
          Akhirnya hanya kepada Allah yang Maha Rahmaan dan Rahiim kita memohon kemudahan agar dapat menempuh jalan yang lurus sehingga berakhlaq dan beramal sebagaimana amalnya para Ahluljannah.
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni'matan"
(Q.S. Asy Syu’araa': 83-85).
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين.
_____________________


Bisakah Ahli Surga Menolong Ahli Neraka?...Baca Juga:

Ahli Neraka Minta Tolong Kepada Ahli Surga 

[1] . Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[2] . Onani/Masturbasi.
[3] . Seperti keadaan yang sangat dingin.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik