9.9.17

الإيمان بالقدر Beriman kepada Taqdir.
           Al Qadar (القدر ) secara bahasa yaitu : الْإِحَاطَةُ بِمِقْدَارِ الشَّيْ batas ukuran sesuatu.[1]  Dan Qadar Allah Ta'ala yaitu bergantung kepada ilmu-Nya dan kehendak-Nya dalam keadaan tetap bagi seluruh makhluqNya sebelum ada, maka tidak terjadi kecuali Allah telah menetapkannya, yaitu ilmu-Nya dan kehendak-Nya telah mendahului qadar-Nya.
          Keharusan beriman kepada taqdir sesuai dengan sabda Rasulullah saw :

الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ كُلِّهِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (رواه أحمد)

"Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari akhir dan kepada Taqdir yang baik dan yang buruk."( H.R. Ahmad).
           Demikian wajib hukumnya beriman kepada taqdir, baik dan buruknya, manis dan pahitnya, kecil dan besarnya, banyak dan sedikitnya...bahwa semua itu adalah dari Allah swt, tiadalah di alam ini sedikit pun yang keluar dari Taqdir-Nya, tiadalah sesuatu pun bermula kecuali itu berdasarkan yang telah diatur dan di tetapkan-Nya.
         Allah swt berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ
" Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka ".(Q.S. AlAnbiyaa' :101)
وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
" dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku," (Q.S. alAhzab:38).
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
" Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (Q.S. alQomar :49).
           Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

"Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi " (HR. Muslim).

         Didalam Shahih Bukhari, diriwayatkan dari Ali ra, bahwa Nabi saw suatu ketika berada dalam rombongan pelayat jenazah, lalu beliau mengambil tongkat dan menancapkannya di tanah. Kemudian Nabi saw bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ أَوْ مِنْ الْجَنَّةِ
"
  Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau di surga "
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ
 Para sahabat pun bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimana kalau sebaiknya kita hanya bertawakkal saja?".
قَالَ  اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

Nabi saw menjawab: " Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan."
Kemudian Rasulullah saw menyampaikan ayat :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى  وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى   فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

" Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah".(Q.S. AlLail :5-7).
 
gbr.beriman kepada takdir baik dan buruk
       Tugas kita adalah hendaknya banyak beramal shalih dengan segenap kemampuan dan menjauhi perkara-perkara yang menjadi jalan kepada taqdir buruk. Dan janganlah menjadikan taqdir Allah sebagai alasan pembenaran perbuatan dosa, sebab tidaklah Allah menurunkan para rasul dan kitab-kitab yang bermuatan perintah dan larangan , kecuali agar dilaksanakannya perintah tersebut dan di jauhi apa yang di larang-Nya. 
         Tidak ada sedikitpun yang luput melainkan semuanya telah tercatat di lauhulmahfuzh , dan Allah swt berbuat apa yang Dia kehendaki, dan tidaklah Dia akan ditanya tentang ketepan-Nya itu, melainkan Dia lah yang akan bertanya, Firmannya Ta'ala :
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai  " (Q.S. Al Anbiya:23).

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

" tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah ".(Q.S. AlHadid:22).
         Allah Ta'ala telah menciptakan makhluq-makhluqnya, Dia menetapkan rizqi dan ajal nya, Dia memberi petunjuk kepada yang dia kehendaki dengan Rahmat-Nya  dan Dia menyesatkan orang yang dia kehendaki sesuai dengan hukum-Nya.  Allah Ta'ala berfirman :
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ  فِي السَّمَاء
" Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[2], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman". (Q.S. Al An'am:125).

وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين

"dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah Perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama."(Q.S. AsSajdah:13).

         Demikian diantara dalil-dalil mengenai taqdir Allah, kemudian diantara hikmah tidak diberitahunya manusia dengan taqdirnya, agar kita optimis dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bahwa kita telah diberikan arahan berupa petunjuk agar tidak jatuh kepada taqdir buruk yaitu dengan cara menjalankan keta'atan kepada-Nya, terhadap apa yang Dia memerintahkannya dan melarangnya.
         Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya..."
Ayat ini menunjukan bahwa setiap orang dibalasi sesuai dengan perbuatannya, ini merupakan qodlo dan qadarnya Allah Ta'ala.
Maka do'a pun menjadi jalan agar Allah menurunkan rahmat dan ampunanNya..

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."

         Kemudian diantara tanda optimisnya orang beriman adalah dia berjuang beramal shalih dengan segenap kemampuannya, sebab dia yakin bahwa Allah Maha Adil dan Maha bijaksana, sebagaimana perintah-Nya Ta'ala :
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا..
" Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah..." (Q.S. At Taghabun:16)

Tingkatan Beriman kepada Taqdir
         Beriman kepada taqdir terdapat dua tingkatan[3], setiap tingkatannya mencakup 2 perkara, yakni :
1.Yakin bahwa sesungguhnya Allah Maha mengetahui setiap apa yang akan dikerjakan makhluqNya, setiap keadaannya, siapa yang  akan  bermaksiyat dan siapa yang akan ta'at, bagaimana rizqinya bagaimana ajalnya, kemudian Dia tetapkan taqdir makhluqNya itu ditulis dalam kitab di lauhulmahfuzh. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih :
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ  القَلَمَ  وَقَالَ لَهُ : اُكتُب مَا هُوَ  كَائِنٌ    إِلَى يَومِ القِيَامَةِ
"Pertama-tama yang Allah ciptakan adalah pena, Dia berfirman kepadanya : Tulislah segala yang terjadi hingga hari kiamat" (H.R.Ibnu Abi 'Asim dalam assunnah). 
Dan taqdir ini mengikuti pengetahuan-Nya Allah Ta'ala, maka telah dituliskan di lauhulmahfuzh apa yang Dia kehendaki. Dan ketika Allah menciptakan janin, maka sebelum Dia meniupkan ruhnya, Dia mengutus seorang malak [4]  dan diperintahkan dengan empat kalimat, dikatakan kepadanya :
اُكتُب رِزقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَعَمَلَهُ، شَقِيًّ  أَم سَعِيدً، وَنَحوَ ذَلِكَ
" Tulislah rizqinya, ajalnya,  amalnya, sedih dan bahagianya, dan lain sebagainya".(Lihat:Shahih Bukhari).

2. Bahwa Kehendak Allah itu sangat kuat (pasti) dan ketetapanNya itu sempurna, yaitu kita beriman bahwa jika Dia berkehendak pasti terjadi dan sebaliknya, dan tiadalah apa yang ada dilangit dan di bumi, yang bergerak dan yang diam, kecuali atas kehendak Allah Ta'ala, sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, semua perkara yang nampak dan yang tersembunyi dilangit dan di bumi adalah ciptaanNya. Maha Suci Allah tiada Pencipta Kecuali Allah, oleh karena itu diperintahkan kepada hamba untuk menta'ati Allah dan rasulNya, dan melarang bermaksiyat kepada Allah dan rasulNya. Sesunggunya Dia mencintai orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang ihsan dan berbuat adil, Dia ridlo kepada orang yang beriman dan beramal shalih. Dan Dia tidak mencintai orang kafir juga tidak ridlo kepada yang fasik dan berbuat fasad. Dia tidak pernah memerintahkan perbuatan maksiyat. Taqdir yang buruk bagi pelaku keburukan, dan taqdir yang baik bagi pelaku keshalihan.
          Taqdir Allah itu memang ghaib bagi kita, maka Allah memerintahkan agar kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya taqdir itu termasuk kesempurnaan Ilmu Allah dan merupakan Iradah dari sifat Rabb kita. Maka taqdir itu adalah ruang lingkupnya Aqidah, sedangkan syari'at adalah ruang lingkup amal, dan kita dituntut untuk beramal sesuai dengan syari'at Allah, sebagai jalan (tawassul) dengan syari'at Allah tersebut untuk keselamatan kita, seperti bertawassulnya seseorang yang menginginkan keturunan maka dia harus menikah, seperti orang yang ingin memanen maka dia bertawassul dengan menanam dan membajak, orang yang menginginkan ilmu dia harus bertawassul dengan menuntutnya, demikian pula dengan iman kepada taqdir. Maka tidak diperbolehkan meninggalkan amal yang di syari'atkanNya, karena itu merupakan bukti keimanan kita kepada taqdir Allah, taqdir baik dan taqdir buruk. Siapa yang melakukan amalan baik, maka dia telah berusaha menjadikan amalnya itu sebagai wasilah kepada taqdir yang baik demikian pula sebaliknya. Mari kita renungkan kembali sabda Nabi saw:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ  , فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى  وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى   فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan", " Adapun orang yang memberi (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah".

Wajib Berhati-hati
          Seiring dengan beriman kepada Taqdir Allah, maka wajib pula kita mengambil kehati-hatian dengan bersiap siaga, sebagaimana bersiap siaganya dalam peperangan, sebagaimana perintah Allah dalam alQuran :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ

" Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu.." (Q.S. AnNisa : 71)

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

"...dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata..." (Q.S. AnNisa : 102).

Hikmah dan Keadilan dalam Taqdir Allah
          Seluruh Taqdir Allah itu bersifat adil dan bijaksana, yakni apa yang menimpa setiap hamba maka itu adalah balasan dari perbuatannya, dan biasanya akan diketahui hikmah dari taqdir itu setelah terjadinya. Dan diantara asma Allah adalah alHakiim ( الْحَكِيمُ / Yang Maha Bijaksana) dan al'Adl ( الْعَدْلُ / Yang Maha Adil). Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)"(Q.S. AsySyuraa:30).
Maka disandarkan keburukan kepada seorang hamba merupakan disandarkannya sesuatu kepada yang menjadi sebab terjadinya keburukan tersebut bukan disandarkan kepada pembuat taqdir.
          Mari berharap dengan optimis bahwa dengan beriman kepada Taqdir Allah, dapat mengantarkan seorang hamba kepada kehati-hatian dalam hidup, Allah Ta'ala telah menentukan taqdir baik dan taqdir buruk, dijelaskanNya dalam alQuran dan dijelaskan pula dalam sunnah Nabi saw mengenai jalan-jalan yang akan menyampaikan hamba kepada taqdir baik atau taqdir yang buruk. Semoga Allah swt senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita semua, sehingga kita dimudahkan dalam menjalani hidup didunia ini diatas jalan-Nya yang lurus menuju taqdirNya yang baik di kehidupan abadi...wa Allaahul Musta'aan...

[1] Lihat  Maktabah Syamilah : الْعَقَائِدُ الْإِسْلاَمِيَّةِ مِنَ الْآيَاتِ الْقُرْآنِيَّةِ وَالْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ
[2] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.(Quran in Word
[3] Lihat : maktabah syamilah : قطف الثمر في بيان عقيدة أهل الأثر
[4] Bentuk mufrad dari malaikat.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik