Ikhlas dan Istiqomah dalam Dakwah
(Belajar dari Nuh as bagian 2)
Oleh: Den Herians
Melanjutkan pembahasan dakwah Nuh as kepada kaumnya, sebagai pembelajaran bagi kita para aktivis dakwah, terdapat point-point yang patut dijadikan acuan dalam menyampaikan dakwah, diantaranya yang dilakukan Nuh as yaitu Ikhlas dan istiqomah dalam dakwah, dengan rincian sebagai berikut :
1. Mengajak ummat agar beribadah kepada Allah dengan ikhlash
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun"(Q.S. Nuh: 10).
Nuh a.s menyeru kaumnya agar memohon ampunan Allah atas dosa-dosa mereka yang telah lalu dengan cara memurnikan keimanan kepada-Nya (Ikhlash), karena Allah sungguh maha pengampun. Ini sebagai dorongan (targhib) supaya bertaubat, sebagaimana Rasulullah saw pernah bersabda :
الِاسْتِغْفَارُ مِمْحَاةٌ لِلذُّنُوبِ
Adapun syarat diterimanya taubat adalah dengan meng-ikhlash-kan niyat karena Allah, yaitu supaya mereka (kaum Nuh) bertaubat dari kekafiran dan kemaksiyatan. Dan ini menunjukkan bahwa istighfar itu menambah keberkahan dan peningkatan kualitas hidup, karena kefakiran, kekeringan, kesusahan dan keprihatinan adalah pertanda buruknya kemaksiyatan. Maka apabila mereka bertaubat dan memohon ampun, hilanglah keburukan dan bala bencana, maka kebaikan dan kelapangan hidup diraih kembali.[2]
Oleh karena itulah Allah berjanji kepada kaum Nuh, jika mereka mau bertaubat dari kekafiran dan kemaksiyatan, dan mereka beribadah dengan penuh keikhlashan mereka akan mendapatkan berbagai kebaikan , Allah berfirman :
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (Q.S. Nuh: 11-12).
2. Istiqamah mengajak umat ke jalan Allah, dakwah tidak dilakukan musiman
Menyeru umat kejalan Allah harus dilakukan secara terus-menerus, tidak hanya dilakukan pada peringatan hari-hari besar atau yang dianggap sakral, berdakwah tidak berhenti begitu saja manakala belum diterima umat, sebagaimana Nabi Nuh a.s menyeru kaumnya siang dan malam sampai datang ketetapan Allah atas kaumnya, Allah Ta’ala berfirman :
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (Q.S. Nuh: 5-6).
ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا
"Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam".(Q.S. Nuh: 8-9).
Nuh a.s menempuh tiga tahapan dalam mengajak umatnya ke jalan Allah, yaitu :
1. Dimulai dengan memberi nasihat secara diam-diam.
2. Secara terang-terangan.
3. Menggabungkan antara i’laan (deklarasi/terang-terangan) dan diam-diam.
Itu semua merupakan Siyaasah Naajihah (siasat orang yang berhasil) , dan metode yang efektif sebagai tuntutan untuk menuntaskan segala upaya/kerja keras (jihad) nya dalam dakwah ketika banyaknya pertentangan yang menyertai dakwah, dan adanya interaksi (saling mempengaruhi) disamping perkataan juru dakwah. [3]
Demikianlah, berdakwah siang dan malam dilakukan oleh Nuh a.s demi mengajak mereka supaya menta’ati perintah Allah, kendatipun peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya itu mendapat pembangkangan dari mereka, dan mereka malah berlari dari kebenaran. Namun Nuh a.s tidak kehilangan jalan untuk dakwah, maka Nuh melakukan tiga cara diatas dengan penuh kesungguhan dan istiqamah hingga tibanya ketetapan Allah swt atas kaumnya.
Dari sini dapat kita ambil pelajaran dan hikmah, bahwa berbagai metode yang baik harus senantiasa menjadi suatu kreatifitas seorang juru dakwah, gagal dengan satu cara maka harus ada cara yang lain sebagai gambaran kuat dan istiqamahnya seorang juru dakwah, karena ia yakin tugasnya hanyalah menyampaikan risalah-Nya, sedangkan Allah lah yang Maha Mengetahui mana orang yang ingin berada di jalan-Nya dan mana yang enggan.
[2] . Lihat : المكتبة الشاملة ( التفسير المنير للزحيلي (29/ 142

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik