31.10.17

gbr bersabar dan bersyukur
 Bersabar dan Bersyukur (Belajar dari Nuh as bag-3)
Oleh : Den Herians
Nuh a.s berdakwah dan berargumen berdasarkan wahyu Allah, yang dengan bekal inilah para rasul Allah menyampaikan dan mengajak umatnya, disertai anugrah kefasihan dan nasihat yang bijak dan ilmu yang benar. Keilmuan dan keimanan yang membuahkan kesabaran dalam beramal shalih dan berdakwah.
Dapat kita ketahui dari penjelasan alQuran bagaimana pedih dan kerasnya penentangan kaumnya terhadap Nuh a.s, Allah Ta’ala berfirman :
قَالَ الْمَلأ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata"Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui ".(Q.S. Al-A’raaf : 60-62).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, bahwa ketika Nuh a.s mengajak kaumnya untuk kembali menta’ati Allah, para pembesar kaumnya menolak dan malah menuduh Nuh sesat, namun Nuh menjawab bantahan mereka dengan penuh kesabaran dan perkataan yang benar dan santun :

يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلالَةٌ   وَلكِنِّي رَسُولٌ  مِنْ رَبِّ الْعالَمِينَ 
"Wahai kaumku tidak ada padaku kesesatan, akan tetapi aku ini adalah seorang rasul dari Rabb semesta alam".
Yakni :
مَا أَنَا ضَالٌّ وَلَكِنْ أَنَا رَسُولٌ مِن رَبِّ العَالَمِينَ رَبِّ كُلِّ شَيءٍ  وَمَلِيكِهِ  أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي  وَأَنْصَحُ  لَكُمْ   وَأَعْلَمُ  مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ  
" Aku bukanlah orang yang sesat, akan tetapi aku adalah seorang rasul dari Rabb semesta alam yaitu Rabbnya segala sesuatu dan Yang Maha Memilikinya, aku menyampaikan kepada kalian risalah-risalah Tuhanku, aku memberi nasihat kepada kalian dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui".[1]
Dan inilah makna penting seorang rasul, dijadikan oleh Allah swt sebagai muballigh yang fasih pemberi nasihat lagi berilmu.
Dalam ayat yang lain dijelaskan pula mengenai sebagian besar kaumnya yang malah memperolok-olok ajakan Nuh kepada Tauhidullah tersebut, mereka mendustakan dan mencemoohnya, bahkan merendahkannya. Sebagaimana terlukiskan dalam Firman-Nya Ta’ala:
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
"Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".".(Q.S. Hud:27).
Meskipun Nuh a.s didustakan oleh kaumnya, akan tetapi nabiyullah ini tidak berhenti untuk mengajak mereka ke jalan-Nya hingga tiba ketetapan Allah atas mereka. AlQuran melukiskan bagaimana Nabi Nuh dengan kesabarannya menghadapi kaumnya yang selalu membangkang dan membelakangi seruannya :
وَ  إِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ  لِتَغْفِرَ لَهُمْ  جَعَلُوا  أَصَابِعَهُمْ   فِي آذَانِهِمْ  وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ   وَأَصَرُّوا   وَاسْتَكْبَرُوا  اسْتِكْبَارًا
"Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat".(Q.S. Nuh:7).
Namun dengan penuh kesabaran Nabi Nuh a.s tetap santun dalam berdakwah, beliau memberi penerangan dengan argument-argument yang benar dan tak terbantahkan oleh kaumnya, namun pada akhirnya mereka berada di puncak kesombongannya dan berani menantang Rabb Yang Maha Perkasa :
قَالُوا  يَا نُوحُ   قَدْ  جَادَلْتَنَا   فَأَ كْثَرْتَ  جِدَالَنَا   فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا   إِنْ كُنْتَ  مِنَ الصَّادِقِينَ
"Mereka berkata: "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".(Q.S. Hud:32).
          Nuh a.s pun menjawab dengan penuh kesabaran dan keyakinan atas ke-Maha Perkasaan  Rabbnya, Firman-Nya Ta’ala:
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ  إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ  وَلا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي  إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ  إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri, dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".(Q.S. Hud:33-34).
Demikian Nuh a.s bersabar dan berserah diri kepada Rabbnya atas pembangkangan kaumnya, bahkan dalam perjuangannya selama 950 tahun berdakwah, dan hanya sedikit yang mengikutinya, mari kita lihat yang dikisahkan alQuran, sebagaimana Firman-Nya :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ  فَلَبِثَ  فِيهِمْ  أَلْفَ  سَنَةٍ   إِلَّا خَمْسِينَ  عَامًا  فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ  وَهُمْ  ظَالِمُونَ
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zhalim".(Q.S. Al’Ankabut:14).
Dan sebagaimana Ibnu Katsir menjelaskan mengenai usia Nabi Nuh berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بُعِثَ نُوحٌ  وَهُوَ  لِأَرْبَعِينَ سَنَةٍ وَلَبِثَ فِي قَوْمِهِ أَلْفَ سَنَةٍ  إِلَّا خَمْسِينَ  عَامًا  وَعَاشَ بَعْدَ الطُّوفَانِ سِتِّينَ عاماً حَتَّى كَثُرَ النَّاسُ وَفَشَوا. تفسير ابن كثير
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Nuh diutus yaitu ketika usianya empat puluh tahun dan beliau tinggal bersama kaumnya seribu tahun kurang limapuluh tahun dan beliau hidup setelah terjadi banjir besar selama enampuluh tahun hingga manusia bertambah banyak dan menyebar.(Tafsir Ibnu Katsir)
          Sekian lama Nuh a.s berdakwah dengan penuh kesabaran, namun pengikutnya hanya sedikit, Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا آمَنَ مَعَهُ  إِلَّا  قَلِيلٌ
"Dan tidak beriman bersama dengan Nuhkecuali sedikit"  (Q.S. Hud:40).
Ibnu Katsir menjelaskan mengenai berapa banyak orang yang beriman kepada Nuh a.s :
فَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: كَانُوا  ثَمَانِينَ  نَفْسًا  مِنْهُمْ  نِسَاؤُهُمْ،  وَعَنْ كَعْبِ  الْأَحْبَارِ: كَانُوا  اثْنَيْنِ  وَسَبْعِينَ  نَفْسًا ،  وَقِيلَ كَانُوا عَشَرَةً، والله أعلم. تفسير ابن كثير
Kemudian dari riwayat Ibnu ‘Abbas : Mereka terdapat 80 orang diantaranya perempuan.  Dan dari riwayat Ka’ab al-Ahbar : Mereka terdapat 72 orang. Dan ada yang berpendapat mereka itu ada 10 orang. Wallaahu a’lam. (Tafsir Ibnu Katsir).
Demikianlah perjuangan dakwahnya hanya mendapatkan sedikit yang beriman. Kemudian setelahnya Nuh merasa tidak mempunyai harapan lagi terhadap kaumnya dalam masa dakwah yang panjang tersebut, Nuh a.s menghadap kepada Rabbnya, Firman-Nya Ta’ala :
قَالَ نُوحٌ   رَبِّ  إِنَّهُمْ عَصَوْنِي  وَاتَّبَعُوا  مَنْ لَمْ يَزِدْهُ   مَالُهُ   وَوَلَدُهُ   إِلَّا خَسَارًا   وَمَكَرُوا  مَكْرًا  كُبَّارًا.
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar".(Q.S. Nuh:21-22).
Nuh a.s mengadu kepada Allah swt bahwa kaumnya terus-terusan membangkang dan berbuat durhaka, mereka tidak memenuhi seruannya, mereka malah mengikuti kebanyakan pemimpin-pemimpin, pemuka dan orang-orang kaya, yaitu orang-orang yang tidak menambah kepada mereka banyaknya harta dan anak melainkan hanya kesesatan di dunia, dan mendapat hukuman diakhirat, maka mereka rugi di dunia dan akhirat. Bahkan mereka malah berbuat makar yang amat besar supaya manusia menolak dakwah Nuh a.s yang mengajak kepada agama yang benar dan tauhidullah, dan mereka membujuk para penjahat untuk menganiaya Nuh dan membunuhnya.
Bahkan para pembesar kaumnya malah berkata kepada para pengikut mereka supaya tetap berada dalam kekafiran dan kemusyrikan, sebagaimana Firman-Nya :
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr".(Q.S. Nuh:23).
          Begitulah kaum Nabi Nuh a.s bersikeras berada dalam kekafiran, keras kepala dan penentangan serta penyembahan berhala, mereka malah berwasiyat dengan penyembahan berhala dan meninggalkan penghambaan diri kepada Allah, terlebih lagi mereka malah mengibadati wadd, suwaa’, yaghuts, ya'uq dan nasr, yaitu berhala-berhala dan patung-patung, demikian kaum Nuh menyembahnya kemudian orang arab ikut-ikutan pula. Dan perbuatan mereka itu telah menyesatkan banyak manusia, secara turun-temurun mereka terus-menerus berada dalam penyembahan berhala selama berabad-abad, sebagaimana terjadi pula hingga masa Ibrahim a.s, sehingga al-Khalil a.s mengungkapkan dalam do’anya, Firman-Nya Ta’ala :
  وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia..".(Q.S. Ibrahiim:35-36).
Demikianlah pembangkangan kaum Nabi Nuh hingga mencapai puncak kesesatan selama ratusan tahun, Nuh a.s menghadapinya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya Nuh a.s pun memohon kepada Allah Ta’ala, sebagaimana Firman-Nya :
    وَقَدْ أَضَلُّوا  كَثِيرًا  وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ   إِلَّا ضَلَالًا
" Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan" .(Q.S. Nuh:24).
Sehingga akhirnya tiba ketetapan Allah Ta’ala maka kaum Nuh a.s ditenggelamkan oleh Allah swt kecuali orang-orang yang ikut bersama Nuh, Allah selamatkan didalam kapal yang melindungi mereka dari banjir dan badai. Allah Ta’ala berfirman :
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا  نَارًا  فَلَمْ يَجِدُوا  لَهُمْ  مِنْ دُونِ اللَّهِ  أَنْصَارًا
"Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah".(Q.S. Nuh:25).
Adapun kisah ditenggelamkannya kaum Nuh a.s, terdapat beberapa ayat alQuran dan hadits yang menyebutkannya, begitu juga banyak penjelasan dari ‘ulama dalam kisah-kisah para Nabi.
Selain seorang yang sabar dalam menempuh perjalanan dakwah selama ratusan tahun, sebagai hamba-Nya yang ta’at, Nuh a.s sepanjang hayatnya tidak sedikitpun surut rasa syukurnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nuh a.s adalah seorang hamba yang pandai bersyukur, pantas Allah swt memujinya , Firman-Nya Ta’ala:
إِنَّهُ  كَانَ   عَبْدًا  شَكُورًا     
"Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur" (Q.S Al Israa':3).
Mengenai ini dijelaskan dalam Tafsir alQurtuby bahwa Nuh a.s senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya, dan tidaklah Nuh melihat suatu kebaikan melainkan beliau melihat itu pasti dari Sisi-Nya.
Qatadah berkata :
  كَانَ  إِذَا لَبِسَ  ثَوْبًا  قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ،  فَإِذَا نَزَعَهُ  قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ   
Adalah Nuh apabila beliau mengenakan suatu pakaian, beliau mengucapkan Bismillah, kemudian bila beliau melepaskannya, beliau mengucapkan  Alhamdulillah.
وَرَوَى مَعْمَرٌ  عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: شُكْرُهُ   إِذَا أَكَلَ   قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ،  فَإِذَا فَرَغَ   مِنَ الْأَكْلِ  قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ.
Dan Ma’mar meriwayatkan dari Manshur dari Ibrahim, ia berkata : Bersyukurnya Nuh as ketika beliau hendak makan, mengucapkan : Bismillah. Kemudian ketika selesai makan beliau mengucapkan : Alhamdulillaah.
Ibnu Katsir menjelaskan :
أَنَّ   نُوحًا عَلَيهِ السَّلَامُ كَانَ  يَحمَدُ اللهَ  عَلَى طَعَامِهِ  وَشَرَابِهِ  وَلِبَاسِهِ  وَشَأْنِهِ  كُلِّهِ،  فَلِهَذَا سُمِّيَ عَبدًا شَكُورًا.[2]
Bahwa sesungguhnya Nuh a.s biasa memuji Allah atas makanannya, minumannya dan pakaiannya dan setiap perkara semuanya, oleh karena itulah beliau dinamai ‘Abdan Syakuran (hamba yang bersyukur).
وَقَالَ مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ : كَانَ يَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ حَالٍ.[3]
Dan Malik mengatakan dari Zaid bin Aslam : Nuh a.s memuji Allah pada setiap keadaan.
وَقَدْ ذَكَرَ الْبُخَارِيُّ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ -بِطُولِهِ، وَفِيهِ -: فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ  إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ" وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بكماله  .[4]
Dan AlBukhari telah menyebutkan dari riwayat Abu Hurairah r.a dari Nabi saw bersabda :" Aku adalah penghulu manusia pada hari kiamat (dengan redaksi hadits yang panjang, dan didalamnya disebutkan:)  Kemudian mereka mendatangi Nuh dan berkata : " Wahai Nuh engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi, dan sungguh Allah telah menamaimu ‘Abdan Syakuraa, mintakanlah syafa’at bagi kami kepada Rabbmu". Dan telah disebutkan secara lengkap pada redaksi haditsnya.
Demikian dapat kita petik pelajaran dan hikmah dari rasa syukur dan kesabaran Nuh a.s dalam berjihad, bahwa seorang juru dakwah itu tidak bisa lepas dari sikap syukur dan sabar, sebab inilah yang membuat ia bertahan dan istiqamah didalam semangat juangnya. Semoga Allah swt mengokohkan hati kita dalam syukur dan sabar...Wallaahul musta'an..
Lanjut baca ke : Bag 4 (Tamat)


Maraji' :
[1]  Lih :  المكتبة الشاملة تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 432
[2]  المكتبة الشاملة  تفسير ابن كثير ت سلامة (5/ 46
[3]  Ibid.
[4]. Ibid.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik