1.12.22

duduk iftirasy
Cara Duduk Diantara Dua Sujud & Bacaannya

Bismillaah.

Pada artikel sebelumnya telah disampaikan mengenai tatacara sujud berikut bacaan pada rukuk dan sujud, berikutnya pada artikel ini akan disampaikan mengenai sifat dan kaifiyat sholat selanjutnya yaitu bangkit sambil bertakbir lalu duduk diantara dua sujud.

18.          Bertakbir lalu duduk diantara dua sujud.

Keterangan sifat shalat pada tema ini, secara umum telah disebutkan pada hadits Abu Humaid as-Sa’idy dan Wail bin Hujr, juga pada hadits almusi'u shalatahu sebagaimana diterangkan pada sebagian riwayatnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ، فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ. (سنن أبي داود ٨٥٧, بَابُ صَلَاةِ مَنْ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ).

Kemudian mengucapkan: Allahu Akbar, dan mengangkat kepalanya hingga duduk tegak lurus, kemudian mengucapkan: Allahu Akbar, kemudian sujud hingga persendiannya tuma'ninah, kemudian mengangkat kepalanya lalu bertakbir. Maka apabila ia melakukan itu, sungguh telah sempurna shalatnya.

Juga dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا. (صحيح , أخرجه البخاري (٧٥٧)، ومسلم (٣٩٧))

Kemudian bersujudlah kamu hingga kamu tuma'ninah dalam sujud, lalu bangkitlah(dari sujud) hingga kamu tuma'ninah dalam duduk.

  Dalil-dalil diatas menunjukkan wajibnya tuma'ninah dalam shalat, sampai penyebutannya terperinci hingga dalam posisi sujud dan duduk. Juga diterangkan dalam riwayat yang lain dari Tsabit al-Bunany dari Anas bin Malik ra bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan gerakan shalat, Anas berkata:

إنِّي لا آلُو أنْ أُصَلِّيَ بكُمْ كما رَأَيْتُ النبيَّ ﷺ يُصَلِّي بنا. قالَ ثابِتٌ: كانَ أنَسُ بنُ مالِكٍ يَصْنَعُ شيئًا لَمْ أرَكُمْ تَصْنَعُونَهُ؛ كانَ إذا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قامَ حتّى يَقُولَ القائِلُ: قدْ نَسِيَ، وبيْنَ السَّجْدَتَيْنِ حتّى يَقُولَ القائِلُ: قدْ نَسِيَ.( صحيح البخاري ٨٢١, بَابُ الْمُكْثِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ).

Sesungguhnya aku tidak akan mengurangi shalatku bersama kalian sebagaimana aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami. Tsabit berkata: “Anas bin Malik senantiasa melakukan sesuatu yang aku tidak melihat kalian melakukannya, beliau(Anas) apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berdiri sampai seorang berkata: “sungguh ia telah lupa”, dan (ketika duduk) diantara dua sujud sampai seorang berkata: ”sungguh ia telah lupa””.

Terlukiskan dalam hadits ini bagaimana para sahabat begitu bersemangat untuk senantiasa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana Anas bin Malik mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang berdiam cukup lama ketika i’tidal dan duduk diantara dua sujud hingga orang-orang menduga Anas lupa rakaat. Ini merupakan dalil penegasan tuma'ninah dan perhatian yang tidak boleh diabaikan ketika i’tidal setelah rukuk dan duduk diantara dua sujud.

Iftirasy, sifat duduk diantara dua sujud dan duduk tasyahhud awwal

Duduk iftirasy
Adapun sifat duduk diantara dua sujud, hendaklah duduk dengan melipat kaki kiri dan menghamparkan telapak kaki kiri (iftirasy) untuk diduduki diatasnya dan menegakkan telapak kaki kanan dengan lurus disertai menghadapkan ujung jemarinya ke arah kiblat. Sekilas penyebutannya telah disampaikan pada hadits terdahulu yang diriwayatkan Abu Humaid as-Sa’idy ra (dimana duduk diantara dua sujud seperti halnya duduk ketika tasyahhud awwal), terdapat juga penjelasan dalam hadits yang lain dari riwayat Ibnu ‘Umar ra bahwa sifat duduk tersebut harus dilakukan sesempurna mungkin kecuali bila ada udzur. Berikut ini dalil-dalilnya:

سُنَّةُ الصَّلاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ اليُمْنَى وتَثْنِيَ رِجْلَكَ اليُسْرَى.(سنن أبي داود ت الأرنؤوط ٩٥٨, باب كيف الجلوس في التشهد, إسناده صحيح)

Sunnahnya shalat adalah hendaknya kamu meluruskan kakimu yang kanan dan melipat kakimu yang kiri.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ القَاسِمِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ كَانَ يَرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَتَرَبَّعُ فِي الصَّلاَةِ إِذَا جَلَسَ، فَفَعَلْتُهُ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ، فَنَهَانِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَقَالَ: «إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ اليُمْنَى وَتَثْنِيَ اليُسْرَى»، فَقُلْتُ: إِنَّكَ تَفْعَلُ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ رِجْلَيَّ لاَ تَحْمِلاَنِي.(صحيح البخاري ٨٢٧, بابُ سُنَّةِ الجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim dari ‘Abdullah bin ’Abdullah bahwasanya ia (‘Abdullah bin ‘Umar ra) telah mengabarkan kepadanya (Ibnu ‘Abdullah bin ‘Umar), bahwa sesungguhnya ia pernah melihat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma tarabbu’  (bersila) ketika duduk, maka akupun ikut melakukannya dan usiaku pada waktu itu masih sangat muda, maka kemudian beliau ‘Abdullah bin ‘Umar melarangku dan berkata: “Hanya sanya sunnahnya shalat itu adalah hendaknya kamu meluruskan kakimu yang kanan dan melipat kakimu yang kiri”. Lalu aku berkata: “sesungguhnya engkau melakukan itu (bersila)”, lalu beliau berkata: “sesungguhnya kakiku tidak sanggup menopang badanku”.

Hadits ini disimpan oleh Imam al-Bukhari pada bab: Sunnahnya Duduk Dalam Tasyahhud, yakni menjelaskan sifat duduk pada tasyahhud awwal sebagaimana dijelaskan dalam syarah haditsnya, adapun sifat duduk pada tasyahhud akhir dilakukan dengan cara duduk tawarruk, in syaa Allah penjelasannya di tema tasyahhud. Dan Hadits ini pun menjadi dalil adanya kelonggaran dalam hukum ketika anggota tubuh tidak sanggup menyempurnakan rukun, syarat, dan kaifiyat shalat. Maka hendaklah rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya dilakukan semaksimal kemampuan.

Duduk diantara dua sujud boleh juga dilakukan dengan cara iq’a' (الإقعاء)

duduk iq'aDuduk iq’a' yaitu kaifiyat duduk dengan cara memposisikan tapak jari jemari kedua kaki menekan bumi dan ujung jarinya mengarah kekiblat, lalu memposisikan kedua pantat duduk diatas kedua tumitnya, dan posisi kedua lutut menekan bumi.

Dalilnya sebagaimana riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas:

عن طَاوُوسٍ قال: قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ فِي الْإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ، فَقَالَ: «هِيَ السُّنَّةُ»، فَقُلْنَا لَهُ: إِنَّا لَنَرَاهُ جَفَاءً بِالرَّجُلِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «بَلْ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ ﷺ » (صحيح مسلم ٥٣٦, - بَابُ جَوَازِ الْإِقْعَاءِ عَلَى الْعَقِبَيْنِ).

Dari Thawus berkata: “Kami bertanya kepada Ibnu ‘Abbas mengenai duduk iq’a' diatas dua kaki (diatas tumit), kemudian beliau menjawab: “ia adalah sunnah”, kemudian kami berkata kepadanya: “sesungguhnya kami melihat beliau tidak membiasakannya, lalu Ibnu ‘Abbas menjawab: “sekalipun begitu, ia adalah sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Hadits ini menunjukkan duduk iq’a' adalah termasuk sunnah walapun jarang dilakukan.

Duduk iq’a' ada dua jenis, ada yang terlarang yaitu duduk iq’a' yang menyerupai duduknya anjing, dan ada yang sesuai sunnah seperti yang dijelaskan salah seorang muhaqqiq Shahih Muslim, syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqy:

duduk iq'a yang makruhإِنَّ الإِقعَاءَ نَوعَانِ أَحَدُهُمَا أَن يُلصِقَ رُكبَتَيهِ بِالأَرضِ وَيَنصِبَ سَاقَيهِ وَيَضَعَ يَدَيهِ عَلَى الأَرضِ كَإِقعَاءِ الكَلبِ هَكَذَا فَسَّرَهُ أَبُو عُبَيدَةَ مَعمَرُ بنُ الْمَثنَى وَصَاحِبُهُ أَبُو عُبَيدٍ القَاسِمُ بنُ سَلَامٍ وَآخَرُونَ مِن أَهلِ اللُّغَةِ وَهَذَا النَّوعُ هُوَ الْمَكرُوهُ الَّذِي وَرَدَ فِيهِ النَّهيُ. وَالنَّوعُ الثَّانِي أَن يَجعَلَ أَليَتَيهِ عَلَى عَقِبَيهِ بَينَ السَّجدَتَينِ وَهَذَا هُوَ مُرَادُ ابنِ عَبَّاسٍ بِقَولِهِ سُنَّةُ نَبِيِّكُم صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (صحيح مسلم(1/ 380), المسند الصحيح المختصر بنقل العدل عن العدل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم, المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي, المكتبة الشاملة)

Sesungguhnya duduk iq’a' ada dua macam, yang pertama menempelkan kedua lututnya ke bumi dan meluruskan kedua betisnya dan meletakkan kedua tangannya diatas bumi seperti duduk iq’a' nya anjing, demikian Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al-Matsna dan shahabatnya yaitu Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam dan juga yang lainnya dari ahlu lughah telah menerangkannya, dan jenis duduk ini adalah makruh, yang telah dinyatakan larangan terhadapnya. Dan jenis yang kedua yaitu menjadikan kedua pantatnya berada diatas kedua tumitnya diantara dua sujud dan inilah maksud Ibnu ‘Abbas dengan ucapannya: Sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bacaan Duduk Diantara Dua Sujud

Terdapat beberapa bacaan duduk diantara dua sujud, yaitu:

عَنْ حُذَيْفَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي» سنن ابن ماجه(1/ 289)سنن أبي داود (1/ 231)

Dari Hudzaifah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengucapkan diantara dua sujud: Rabbighfirli, rabbighfirli.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ، قَالَ: فَانْتَبَهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، قَالَ: ثُمَّ رَكَعَ، قَالَ: فَرَأَيْتُهُ قَالَ فِي رُكُوعِهِ: " سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ " ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، فَحَمِدَ اللهَ مَا شَاءَ أَنْ يَحْمَدَهُ، قَالَ: ثُمَّ سَجَدَ، قَالَ: فَكَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: " سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى " قَالَ: ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، قَالَ: فَكَانَ يَقُولُ فِيمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ: " رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي ".(مسند أحمد ط الرسالة: 3514 (5/460), حسن، وهذا سند رجاله ثقات رجال الشيخين غير كامل- وهو ابن العلاء التميمي- فقد روى له أصحاب السنن غير النسائي)

Dari Ibnu ‘Abbas berkata: saya bermalam di rumah bibi saya Maimunah, ia (Ibnu ‘Abbas) berkata: kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun disebagian malam. Lalu ia menyebutkan hadits ini; ia berkata: kemudian Beliau rukuk, ia berkata: saya melihat Beliau dalam rukuknya mengucapkan: Subhana Rabbiyal’Azhim, kemudian Beliau mengangkat kepalanya lalu memuji Allah sekehendak Beliau untuk memuji-Nya, ia berkata: kemudian Beliau sujud, ia berkata: kemudian Beliau dalam sujudnya mengucapkan: Subhana Rabbiyal A’la, kemudian Beliau mengangkat kepalanya, ia berkata: kemudian pada posisi duduk diantara dua sujud Beliau mengucapkan: Rabbighfirli, warhamni,  wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini.

عن عبدالله بن عباس: أنَّ النَّبيَّ  كانَ يَقولُ بينَ السَّجدَتينِ: اللَّهُمَّ اغفِر لي، وارحَمني، وعافِني، واهدِني، وارزُقني. (حسن ,أخرجه أبو داود (٨٥٠) واللفظ له، والترمذي (٢٨٤)، وابن ماجه (٨٩٨))

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas: sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengucapkan diantara dua sujud:  Allahummaghfirli, warhamni, wa ‘afini, wahdini, warzuqni.

19.       Kemudian bertakbir lalu sujud kedua.

Sifat dan kaifiyatnya sama dengan sujud yang awal sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits sebelumnya.

20.       Kemudian bangkit dari sujud kedua, mengangkat kepala sambil bertakbir dan boleh duduk ringan sejenak lalu berdiri untuk melaksanakan roka’at kedua.

Duduk ringan sejenak ini disebut jalsatul-istirohah (duduk istirahat), dan penjelasan duduk istirahat ini secara tegas terdapat dalam riwayat Malik bin al-Huwairits ra:

أنه رأى النبي ﷺ يُصَلِّي، فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا. (صحيح البخاري (1/ 164) بَابُ مَنِ اسْتَوَى قَاعِدًا فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ ثُمَّ نَهَضَ, سنن أبي داود ت الأرنؤوط باب النهوض في الفَرد  (2/ 134))

Bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat kemudian ketika berada dalam roka’at ganjil dari sholatnya, beliau tidak berdiri sampai beliau duduk tegak.

Yang dimaksud fi witrin min shalatihi, yaitu pada roka’at pertama dan roka’at ketiga.[1]

            Hadits ini sebagai dalil atas disyari’atkannya duduk sejenak setelah sujud kedua dari roka’at pertama dan roka’at ketiga, kemudian bangkit berdiri untuk melaksanakan roka’at kedua atau roka’at keempat, pendapat ini masyhur dalam madzhab syafi’i walaupun tidak masyhur dari Imam Asy-Syafi’i secara langsung. Adapun yang masyhur dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Ahmad dan Ishaq, mereka berpendapat duduk istirahat tersebut tidak disyari’atkan berdasarkan dalil dari hadits riwayat Wail bin Hujr:

فَكَانَ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَتَيْنِ اسْتَوَى قَائِمًا

Kemudian apabila Beliau mengangkat kepalanya dari dua sujud maka Beliau berdiri tegak lurus.

Hadits ini ditakhrij oleh al-Bazzar dalam musnadnya, adapun menurut An-Nawawi haditsnya dha’if. Terdapat juga dalam riwayat lain dari Ibnul-Mundzir dari hadits an-Nu’man bin Abi ‘Abbasy:

أَدْرَكْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَكَانَ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَفِي الثَّالِثَةِ قَامَ كَمَا هُوَ وَلَمْ يَجْلِسْ

Saya mengetahui tidak hanya satu dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud pada awal roka’at dan yang ketiga, Beliau berdiri sebagaimana biasanya dan tidak duduk (terlebih dahulu).

Adapun sebagai jawaban dari kedua dalil yang seolah kontradiktif ini, sebetulnya kedua dalil tersebut tidaklah saling menafikan melainkan justru saling melengkapi, maka siapa yang melakukannya(duduk istirahat), itu sesuai sunnah, dan siapa yang tidak melakukannya itupun cocok dengan sunnah.[2]

21.       Melaksanakan roka’at kedua sebagaimana kaifiyat pada roka’at pertama

Keumuman haditsnya telah disampaikan pada hadits almusi'u shalatahu, dan berikut ini kami cantumkan redaksi hadits shahih al-Bukhari, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا.(صحيح البخاري  (1/ 158), بَابُ مَنْ رَدَّ فَقَالَ: عَلَيْكَ السَّلاَمُ)

Apabila engkau hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu' kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah padamu (yang hapal) dari alquran, kemudian rukuklah hingga kamu tuma'ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah hingga berdiri tegak lurus, kemudian sujudlah hingga kamu tuma'ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah hingga kamu tuma'ninah dalam duduk, kemudian kerjakan itu pada semua shalatmu.


Selanjutnya : Tasyahhud Awwal

 


[1] Lihat penjelasan syaikh Badruddin al-’Aini dalam: (شرح أبي داود للعيني (4/ 28)).

[2] A. Lihat penjelasan Ash-Shan’ani dalam Subulussalam: سبل السلام,  [الدُّعَاءِ فِي الْقُعُودِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ] (1/ 275).

  B. Lihat juga penjelasan Asy-Syaukani dalam:  نيل الأوطار: بَابُ كَيْفَ النُّهُوضُ إلَى الثَّانِيَةِ وَمَا جَاءَ فِي جِلْسَةِ الِاسْتِرَاحَةِ(2/ 312)

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik