Kaifiyat Rukuk & Permasalahannya
Setelah menyelesaikan bacaan al-Fatihah dan surat (yang belum baca silakan baca terlebih dahulu urutannya), kaifiyat selanjutnya adalah bertakbir dan mengangkat tangan kemudian rukuk dengan tuma’ninah. Berikut ini dalil-dalilnya:
11. Bertakbir sambil mengangkat tangan.
A. Takbir perpindahan gerakan
Telah pasti dalam keterangan mengenai sifat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bertakbir(mengucapkan: اللهُ أكبَرُ) pada setiap turun untuk ruku dan sujud serta ketika bangkit dari keduanya, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra:
رأيتُ رسولَ اللَّهِ ﷺ يُكبِّرُ في كلِّ خفضٍ ورفعٍ وقيامٍ وقعودٍ ويسلِّمُ عن يمينِهِ وعن شمالِهِ السَّلامُ عليْكم ورحمةُ اللَّهِ حتّى يرى بياضُ خدِّهِ قالَ ورأيتُ أبا بَكرٍ وعمرَ يفعلانِ ذلِكَ. (صحيح ,أخرجه الترمذي (٢٥٣)، والنسائي (١١٤٢) واللفظ له، وأحمد (٣٦٦٠))
Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada setiap turun(rukuk/sujud), bangkit, berdiri, dan duduk, dan Beliau mengucapkan salam ke kanan dan kekiri: “Assalamu’alaikum wa rahmatullah”, hingga terlihat putihnya pipi Beliau. Ia(Ibnu Mas’ud) berkata: dan saya melihat Abu Bakr dan ‘Umar juga melakukan demikian.
Hadits diatas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada setiap perpindahan gerakan, namun terdapat pengecualian yaitu pada gerakan i’tidal yakni bangkit dari rukuk, maka Beliau mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits-hadits yang telah lalu.
Adapun kaifiyat bertakbir, dilakukan bersamaan dengan gerakan sebagaimana keterangan yang paling rajih menurut para ‘ulama, diantaranya berdasarkan hadits:
عن أبي هريرة: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ. (صحيح البخاري (1/ 157))
Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bila berdiri untuk shalat, Beliau bertakbir sewaktu berdiri kemudian bertakbir waktu ruku, lalu mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah” sewaktu Beliau mengangkat punggungnya sehabis rukuk, kemudian Beliau mengucapkan: “rabbana lakalhamdu “ dalam keadaan berdiri tegak.
Pada riwayat imam Muslim, bab takbir ini dijelaskan lebih lengkap:
عن أَبي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قال كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرُّكُوعِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ في الصَّلَاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الْمَثْنَى بَعْدَ الْجُلُوسِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
(مختصر صحيح مسلم للمنذري ت الألباني (1/ 79))
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bila berdiri untuk shalat, Beliau bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir waktu ruku, lalu mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah” sewaktu Beliau mengangkat punggungnya sehabis rukuk, kemudian Beliau mengucapkan: “rabbana wa lakalhamdu “ dalam keadaan berdiri tegak, kemudian Beliau bertakbir ketika turun untuk sujud, kemudian bertakbir waktu mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika bersujud, kemudian bertakbir waktu mengangkat kepalanya, kemudian melakukan yang semisal disetiap shalatnya hingga selesai. Dan Beliau juga bertakbir sewaktu berdiri dari dua rakaat setelah duduk(tasyahud awal). Lalu Abu Hurairah berkata: “sesungguhnya aku yang lebih menyerupai shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kalian”.
B. Mengangkat kedua tangan
Disunnahkan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak, boleh juga hingga sejajar dengan kedua telinga, sebagaimana telah dijelaskan di tema takbiratul ihram.
Hadits yang menerangkan rincian kaifiyat mengangkat tangan ini diantaranya bersumber dari Ibnu ‘Umar ra, bahwa beliau berkata:
رَأَيْتُ النبيَّ ﷺ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ في الصَّلاةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حتّى يَجْعَلَهُما حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وإذا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ، وإذا قالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ، فَعَلَ مِثْلَهُ، وقالَ: رَبَّنا ولَكَ الحَمْدُ، ولا يَفْعَلُ ذلكَ حِينَ يَسْجُدُ، ولا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ.( صحيح البخاري ٧٣٨)
Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai takbir pada shalat, maka Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga membuatnya sejajar dengan kedua pundaknya, dan ketika bertakbir untuk rukuk Beliau pun melakukan semisalnya, dan ketika Beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah Beliau pun melakukan semisalnya dan mengucapkan Rabbana wa lakalhamdu, dan Beliau tidak melakukan demikian (mengangkat tangan) ketika sujud begitupun ketika bangkit dari sujud.
أنَّ ابْنَ عُمَرَ، كانَ إذا دَخَلَ في الصَّلاةِ كَبَّرَ ورَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا قالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ، رَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا قامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ، ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَرَ إلى نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ. (صحيح البخاري ٧٣٩)
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar, beliau itu bila memulai shalat ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, dan bila rukuk ia mengangkat kedua tangannya, ketika mengucapkan: “sami’allahu liman hamidahu” ia mengangkat kedua tangannya, dan ketika berdiri dari dua raka’at (tasyahud awal) ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar memarfu’kan (menyandarkan hadits) hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan demikian, maka terdapat empat tempat yang disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan, yaitu:
1) ketika takbiratul ihram,
2) ketika takbir untuk rukuk,
3) ketika bangkit dari rukuk, dan
4) ketika berdiri setelah tasyahud awwal.
Allahu a’lam.
Pembahasan sebelumnya:
Berbagai Redaksi Do'a Istiftah
12. Rukuk
Rukuk termasuk rukun diantara rukun-rukun shalat, adapun sifatnya telah disampaikan dalam hadits al-musi'u shalatahu (orang yang merusak shalatnya). Adapun cara rukuk, telah diriwayatkan secara pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau membungkukkan punggungnya dan meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya dengan membuka jari jemarinya lebar-lebar dan mencengkram lututnya, keadaan punggungnya lurus dan rata, tidak mengangkat dan menundukkan kepalanya. Sebagaimana diterangkan dari Abu Humaid as-Sa’idy:
ثمَّ يرْكعُ ويضعُ رَاحَتَيهِ على رُكبَتَيهِ ثمَّ يعتدلُ فلا يَصُبُّ رأسَهُ ولا يُقْنِعُ ... (صحيح أبي داود ٧٢٩)
kemudian Beliau rukuk dan menyimpan kedua telapak tangannya diatas kedua lututnya kemudian Beliau meluruskan dan menyeimbangkan punggungnya maka kepala Beliau tidak menunduk tidak juga mendongak.
13. Tuma’ninah dalam rukuk
Tuma’ninah dalam rukuk termasuk rukun shalat menurut pendapat jumhur kecuali madzhab Hanafiyah.
Karena pentingnya tuma’ninah ini, terdapat hadits yang bernuansa peringatan bagi orang yang tidak tuma’ninah dalam rukuk:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ فِيهَا الرَّجُلُ - يَعْنِي - صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ». (سنن الترمذي ت شاكر ((2/ 51 حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ )
Dari Abu Mas’ud al-Anshariy ra, berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidak akan berpahala shalat orang yang tidak meluruskan shalatnya, maksudnya yakni meluruskan punggungnya dalam rukuk dan sujud.
Bahkan sebagian ‘ulama berkomentar:
قَالَ الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ: «مَنْ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَصَلَاتُهُ فَاسِدَةٌ»(سنن الترمذي ت شاكر ((2/ 51)
Imam Syafi’i, Ahmad dan Ishaq, berkata: “siapa yang tidak meluruskan punggungnya pada rukuk dan sujud, maka shalatnya rusak”.
14. Mengangkat kepala dari rukuk dan mengucapkan ”sami’allahu liman hamidah”
Sifat i’tidal yaitu berdiri tegak sehingga setiap tulang kembali pada persendiannya. Sebagaimana telah diterangkan dalam hadits riwayat al-Bukhari:
عن أبي هريرة: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ. (صحيح البخاري (1/ 157))
Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bila berdiri untuk shalat, Beliau bertakbir sewaktu berdiri kemudian bertakbir ketika hendak rukuk. Selanjutnya mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah” sewaktu Beliau mengangkat punggungnya sehabis rukuk, kemudian dalam keadaan berdiri tegak Beliau mengucapkan: “rabbana lakalhamdu “.
Bacaan i’tidal diatas memiliki keutamaan yang besar berupa ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla bila bertepatan dengan amin malaikat, sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih:
فيه: أَبِي هُرَيْرَةَ: قَالَ رَسُولَ اللَّهِ: (إِذَا قَالَ الإمَامُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ،فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا ولَكَ الْحَمْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلائِكَةِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) . وقال أبو هُرَيْرَةَ: لأقَرِّبَنَّ صَلاةَ رسول الله.(شرح صحيح البخارى لابن بطال (2/ 419))
Pada riwayat Abu Hurairah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bila imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Allahumma rabbana walakal hamdu. Maka siapa yang bertepatan ucapannya dengan ucapan malaikat, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Dan Abu Hurairah berkata: sesungguhnya aku yang paling mendekati shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain bacaan yang ringkas diatas, terdapat pula redaksi bacaan yang lain sewaktu i’tidal:
1. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kepalanya dari ruku’, Beliau mengucapkan:
اللَّهُمَّ رَبَّنا لكَ الحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَواتِ ومِلْءُ الأرْضِ، وما بيْنَهُما، ومِلْءُ ما شِئْتَ مِن شيءٍ بَعْدُ، أهْلَ الثَّناءِ والْمَجْدِ، لا مانِعَ لِما أعْطَيْتَ، ولا مُعْطِيَ لِما مَنَعْتَ، ولا يَنْفَعُ ذا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ.( صحيح مسلم ٤٧٨)
Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membacanya hingga:
ومِلْءُ ما شِئْتَ مِن شيءٍ بَعْدُ , tanpa mengucapkan bacaan setelahnya.
2. Dari Rifa’ah bin Rafi’, berkata: ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala dari rukuk, Beliau mengucapkan: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ, lalu seseorang yang berada dibelakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap: رَبَّنا ولَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبارَكًا فِيهِ , maka setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: siapa yang tadi berucap?, laki-laki tersebut menjawab: saya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَأَيْتُ بضْعَةً وثَلاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَها أيُّهُمْ يَكْتُبُها أوَّلُ.( صحيح البخاري ٧٩٩)
Aku melihat 30 lebih malaikat berebut siapa yang paling dulu mencatat kalimat tersebut.
Dimana Posisi Kedua Tangan Setelah Rukuk?
Mengenai ini terdapat khilafiyyah diantara para ahli ilmu dikarenakan tidak ada nash yang khusus ataupun keterangan yang terperinci dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai posisi tangan setelah rukuk, sehingga wajar bila terjadi khilafiyyah terkait apakah memposisikan kedua tangan diatas dada setelah rukuk itu hukumnya sunnah ataukah bukan?.
Adapun yang menghukumi sunnah, mereka berargumen dengan dalil umum yang menerangkan posisi kedua tangan diatas dada sewaktu berdiri dalam shalat, dimana mereka memandang kaifiyat tersebut berlaku baik itu sebelum rukuk ataupun sesudahnya, diantara argumen mereka yaitu:
1) Berdasarkan keterangan Imam Malik dalam al-Muwatha':
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلاَةِ.( موطأ مالك ت الأعظمي (2/ 221),باب: وَضْعُ الْيَدَيْنِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فِي الصَّلاَةِ)
Orang-orang diperintahkan, bahwa hendaklah seseorang itu memposisikan tangannya yang kanan diatas lengannya(diantara pergelangan dan sikut) yang kiri didalam shalat.
2) Tidak ada keterangan satupun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau melepaskan atau membiarkan kedua tangannya di kedua sisi lambungnya pada saat berdiri didalam shalat.
Diantara ‘ulama abad ini yang juga menghukuminya sebagai sunnah yaitu syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Majmu Fatawa wa Rasail, dimana beliau berkata:
وَالصَّوَابُ: أَنَّ وَضعَ اليَدِ اليُمنَى عَلَى اليُسرَى بَعدَ الرَّفعِ مِنَ الرُّكُوعِ هُوَ السُّنَّةُ ( مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (13/ 160))
Yang benar adalah: bahwa penempatan tangan yang kanan diatas tangan kiri setelah bangkit dari rukuk adalah sunnah.
Adapun sebagian lagi berpendapat, bahwa menyimpan kedua tangan diatas dada setelah rukuk bukanlah termasuk sunnah, sebab tidak ada satupun dari keumuman hadits-hadits tentang shalat yang secara mutlak menjelaskan posisi kedua tangan diatas dada ketika bangkit dari rukuk. Berbeda halnya dengan penyebutan kaifiyat mengangkat tangan, yang secara rinci diterangkan dalam hadits Abu Humaid as-Sa’idy ra dan juga Ibnu ‘Umar ra, dimana ketika bangkit dari rukuk pun terdapat keterangan rinci bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, dimana tidak disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya ketika hendak sujud setelah rukuk. Bahkan diantara detailnya penyebutan kaifiyat antara rukuk dan sujud, tidak ada satupun hadits yang menerangkan posisi kedua tangan diatas dada ketika bangkit dari rukuk, sehingga nampaknya mustahil bila hal itu terlewat dari perhatian sahabat bila memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memposisikan kedua tangannya diatas dada setelah rukuk. Mengenai hal ini terdapat keterangan mengenai kelompok yang berpendapat bukan sunnah sebagaimana jawaban Syaikh Ahmad bin ‘Abdil-Rahman al-Rasyid dalam Fatawa wa Istisyaratul-Islam al-Yauma, diantaranya yaitu:
1) Madzhab Hanafi. Telah ditentukan dalam madzhab mereka yaitu irsal, yakni melepaskan kedua tangan. Beliau berkata dalam al-Fatawa al-Hindiyah:
وَيُرسِلُ اِتِّفَاقًا فِي قَومَةِ الرُّكُوعِ؛ إِذ الذِّكرُ سُنَّةُ الِانتِقَالِ لَا اَلقَومَةِ. (الفتاوى الهندية(1/ 73))
Dan melepaskan (kedua tangan) kondisinya telah disepakati, (itu dilakukan) pada setiap kali berdiri dari rukuk, karena dzikir i’tidal itu adalah sunnah intiqal (peralihan gerakan) bukan sunnah berdiri dari rukuk.
2) Madzhab Maliki. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnul-Qashim dari Imam Malik:
وَقَالَ مَالِكٌ فِي وَضعِ اليُمنَى عَلَى اليُسرَى فِي الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا أَعرِفُ ذَلِكَ فِي الفَرِيضَةِ. وَلَكِن فِي النَّوَافِلِ إذَا طَالَ القِيَامُ فَلَا بَأسَ بِذَلِكَ يُعِينُ بِهِ نَفسَهُ.( المقدمات الممهدات (1/164))
Dan Imam Malik telah berkata mengenai posisi tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat, beliau berkata: saya tidak mengetahui itu (dilakukan) dalam shalat fardhu. Namun pada shalat sunnat apabila berdirinya lama maka tidak mengapa melakukannya untuk membantu menguatkan berdirinya.
3) Madzhab Syafi’i. Mereka mengambil kesimpulan irsalulyadain (melepaskan kedua tangan). Ibnu Hajar al-Haitsami berkata:
إِنَّ الْمُعتَمَدَ أَنَّهُ يُرسِلُهُمَا وَلَا يَجعَلُهُمَا تَحتَ صَدرِهِ. وَقَالَ: وَظَاهِرُ كَلَامِهِم هُنَا بَل صَرِيحُهُ أَنَّهُ لَا يَجعَلُهُمَا تَحتَ صَدرِهِ.( الفتاوى الفقهية الكبرى (1/150))
Sesungguhnya yang diakui (dijadikan pegangan[dalam madzhab Syafi’i]) adalah bahwa sanya beliau (Asy-Syafi’i) melepaskan kedua tangannya dan tidak menempatkan dibawah dadanya. Dan ia berkata: Jelas sekali perkataan mereka ini bahkan sharih, bahwasanya beliau tidak menyimpan kedua tangannya dibawah dadanya.
4) Madzhab Hambali. Mereka berpendapat bahwa orang yang shalat dipersilahkan memilih untuk memposisikan kedua tangannya atau melepaskannya, sebab tidak dinyatakan secara sharih dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai posisi kedua tangan setelah bangkit dari rukuk. Al-Mardawi berkata:
إِذَا رَفَعَ رَأسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ إِن شَاءَ أَرسَلَ يَدَيهِ وَإِن شَاءَ وَضَعَ يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ. (الإنصاف (2/64))
Ketika beliau (Imam Ahmad) mengangkat kepalanya dari rukuk, jika mau maka beliau melepaskan kedua tangannya, dan jika mau maka beliau menyimpan tangan kanannya diatas tangan kirinya.
Ibnu Maflah juga berkata:
الْمَنصُوصُ عَن أَحمَدَ: إِن شَاءَ أَرسَلَهُمَا، وِإِن شَاءَ وَضَعَ يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ. (المبدع (1/451))
Yang tercatat dari Imam Ahmad adalah: Bila mau maka beliau melepaskan kedua tangannya, dan bila mau maka beliau menyimpan tangan kanannya diatas tangan kirinya.
Allahu a’lam.
Dinukil dari:
(فتاوى واستشارات موقع الإسلام اليوم, وضع اليد على الصدر بعد الرفع من الركوع-المجيب أحمد بن عبد الرحمن الرشيد- عضو هيئة التدريس بجامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية. كتاب الصلاة/ صفة الصلاة /وضع اليدين في الصلاة وجلسة الاستراحة. التاريخ 24/10/1425ه)ـ
Dari perbandingan pendapat diatas selayaknya para pembaca tidak perlu lagi ada kebingungan dalam menentukan posisi kedua tangan setelah rukuk. AllahulMuwaffiq.
15. Tuma'ninah dalam i’tidal
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa tuma’ninah termasuk rukun didalam shalat. Adapun tuma'ninah dalam i’tidal dapat kita teladani dalam hadits berikut:
عن أبي هريرة: لا ينظرُ اللَّهُ إلى عَبدٍ لا يُقيمُ صُلبَهُ بينَ رُكوعِهِ وسُجودِهِ.(المنذري (ت ٦٥٦)، الترغيب والترهيب ١/٢٤٤ إسناده جيد)
Dari Abu Hurairah ra: Allah tidak akan melihat kepada seorang hamba yang tidak menegakkan punggungnya diantara rukuk dan sujudnya.
عن رفاعة بن رافع: فإذا رفعتَ رأسَك فأَقِمْ صُلبَك حتى ترجعَ العظامُ إلى مفاصلِها. (حسن, أخرجه أبو داود (٨٥٩)، وأحمد (١٩٠١٧))
Dari Rifa’ah bin Rafi’: kemudian bila kamu mengangkat kepalamu maka tegakkanlah punggungmu sampai tulang kembali pada persendiannya
16. Selanjutnya bertakbir, kemudian turun untuk bersujud
Tangan ataukah lutut yang terlebih dahulu menyentuh bumi?
Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari rukuk dan bertakbir ketika hendak turun sujud telah berlalu penyebutannya pada hadits almusi’u shalatahu (orang yang merusak shalatnya), adapun kaifiyat turun sujud memang terdapat khilafiyah dalam hal mendahulukan tangan ataukah lutut, ada sebagian yang berpendapat bahwa yang rajih adalah mendahulukan kedua tangan daripada kedua lutut, adapun tarjih yang diambil berdasarkan hadits berikut:
عن عبدالله بن عمر: أنَّهُ كانَ يضعُ يديهِ قبلَ رُكْبتيهِ، وقالَ: كانَ رسولُ اللَّهِ ﷺ يفعلُ ذلِكَ.( صحيح ابن خزيمة ١/ ٦٥٤, أخرجه في صحيحه)
Dari Abdullah bin ‘Umar ra: bahwa ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, dan berkata: begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.
Al-Qasthalany dalam karyanya: Irsyadus-Sari, pada bab: يَهْوِي بِالتَّكْبِيرِ حِينَ يَسْجُدُ , menerangkan bahwa yang berpendapat demikian(mendahulukan kedua tangan daripada lutut) adalah pendapat madzhab Maliki dengan tambahan argumen bahwa kaifiyat tersebut lebih baik dalam menunjang kekhusyuan shalat dan ketenangannya, dimana perawi hadits dalam as-sunan beristidlal dengan hadits Abu Hurairah dengan lafazh:
إذا سَجَدَ أَحَدُكُم فَلَا يَبرُك كَمَا يَبرُكُ البَعِيرُ، وَليَضَع يَدَيهِ قَبلَ رُكبَتَيهِ. (أخرجه أبو داود (٨٤٠)، والبيهقي (٢٧٣٩))
Apabila salah seorang dari kalian hendak bersujud maka janganlah berlutut sebagaimana unta menderum dan hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya
(lihat: (2/ 112)شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري )
Kemudian terkait argumen ‘ulama yang berpendapat mendahulukan lutut daripada tangan, al-Qasthalany juga mengatakan:
وَمَذهَبُ الثَّلَاثَةِ وِفَاقًا لِلجُمهُورِ: يَضَعُ رُكبَتَيهِ قَبلَ يَدَيهِ، لِأَنَّ الرُّكبَتَينِ أَقرَبُ لِلأَرضِ. وَاستَدَلَّ لَهُ بِحَدِيثِ وَائِلِ بنِ حُجرٍ الْمَروِيُّ فِي السُّنَنِ، وَقَالَ التِّرمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ، وَلَفظُهُ قَالَ: رَأَيتُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكبَتَيهِ قَبلَ يَدَيهِ.
وَقَالَ الدَّارَقُطنِيُّ: قَالَ ابنُ أَبِي دَاوُدَ: وَضَعَ الرُّكبَتَينِ قَبلَ اليَدَينِ تَفَرَّدَ بِهِ شَرِيكٌ القَاضِي عَن عَاصِمِ بنِ كُلَيبٍ، وَشَرِيكٌ لَيسَ بِالقَوِيِّ فِيمَا يَنفَرِدُ بِهِ.(شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (2/ 112))
(Pendapat) Tiga madzhab selaras dengan jumhur: Beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, karena kedua lutut lebih dekat ke bumi. Dan periwayat hadits dalam as-Sunan telah beristidlal dengan hadits Wail bin Hujr, dan at-Tirmidzi berkata: hadits hasan, adapun lafaznya (Wail bin Hujr) berkata: Saya melihat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bersujud, Beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.
Adapun ad-Daraquthny berkata: Ibnu Abi Dawud berkata: (hadits) meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, Syarik al-Qadhy (salah satu perawi) menyendiri dalam periwayatannya dari ‘Ashim bin Kulaib, dan Syarik apabila menyendiri dinilai tidak kuat periwayatannya.
Al-Qasthalany juga mengutip pendapat alhafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram pada hadits-hadits ahkam, dalam hadits Abu Hurairah diatas, pada lafazh: hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, Ibnu Hajar berkata bahwa hadits ini lebih kuat daripada hadits Wail bin Hujr yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Kenapa demikian? Sebab hadits Abu Hurairah menjadi syahid bagi hadits Ibnu ‘Umar dimana Ibnu Khuzaimah menshahihkannya, adapun imam al-Bukhari menyebutkan bahwa hadits tersebut mu’allaq mauquf.
Adapun sebagian lagi mengatakan bahwa mayoritas ‘ulama justru berpendapat kedua lutut lebih didahulukan daripada kedua tangan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Rajab, juga komentarnya terkait hadits riwayat Abu Dawud diatas:
خرَّجه أبو داود والنسائي والترمذي مختصراً، وقال: غريب. وقال حمزة الكناني: هو منكر. فتح الباري لابن رجب (7/ 218)
واختلفت العلماء في الساجد: هل يضع ركبتيه قبل يديه، أم يديه قبل ركبتيه؟ فقال الأكثرون: يضع ركبتيه قبل يديه. فتح الباري لابن رجب (7/ 219)
Abu Dawud, An-Nasai dan At-Tirmidzi telah meriwayatkannya secara ringkas, dan ia berkata: gharib. Dan Hamzah al-Kinany berkata: ia (hadits tersebut) munkar.
Para ‘ulama telah berbeda pendapat dalam hal bersujud: apakah menyimpan kedua lutut sebelum tangan ataukah kedua tangan sebelum lutut?, maka mayoritas berkata: mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan.
Ibnu Khuzaimah mengatakan:
ذِكرُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الأَمرَ بِوَضعِ اليَدَينِ عِندَ السُّجُودِ مَنسُوخٌ، وَأَنَّ وَضعَ الرُّكبَتَينِ قَبلَ اليَدَينِ نَاسِخٌ.( التوضيح لشرح الجامع الصحيح (7/ 186))
Kedudukan dalil mengenai perkara menyimpan kedua tangan pada waktu sujud telah dihapus, dan sesungguhnya (hadits) menempatkan kedua lutut sebelum kedua tangan adalah yang menghapus
Solusi Dari Ibnu Taimiyyah Atas Khilafiyah Tersebut
Terlepas dari perbedaan para ‘ulama diatas, maka sebagai jalan tengah, tepat kiranya bila Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawa al-Kubra mengatakan:
أَمَّا الصّلَاةُ بِكِلَيهِمَا فَجَائِزَةٌ بِاتِّفَاقِ العُلَمَاءِ، إِنْ شَاءَ الْمُصَلِّي يَضَعُ رُكبَتَيهِ قَبلَ يَدَيهِ، وَإِنْ شَاءَ وَضَعَ يَدَيهِ قَبلَ رُكبَتَيهِ وَصَلاَتُهُ صَحِيحَةٌ فِي الحَالَتَينِ بِاتِّفَاقِ العُلَمَاءِ وَلَكِنْ تَنَازَعُوا فِي الاَفضَلِ فَقِيلَ: الأَوَّلُ كَمَا هُوَ مَذهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحمَدَ فِي إِحدَى الرِّوَايَتَينِ وَقِيلَ: الثَّانِي كَمَا هُوَ مَذهَبُ مَالِكٍ وَأَحمَدَ فِي الرِّوَايَةِ الأُخرَى وَقَد رُوِيَ بِكُلٍّ مِنهُمَا حَدِيثٌ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - فَفِي السُّنَنِ عَنهُ: أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى وَضَعَ رُكبَتَيهِ ثُمَّ يَدَيهِ وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَ يَدَيهِ ثُمَّ رُكبَتَيهِ وَفِي "سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ" وَغَيرِهِ أَنَّهُ قَالَ: "إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُم فَلَا يَبرُكُ بُرُوكَ الجَمَلِ وَلَكِن يَضَعُ يَدَيهِ ثُمَّ رُكبَتَبهِ" وَقَد رُوِيَ ضِدُّ ذَلِكَ، وَقِيلَ: أَنَّهُ مَنسُوخٌ وَاللهُ أَعلَمُ. (التوضيح لشرح الجامع الصحيح (7/ 188))
Adapun shalat dengan kedua cara tersebut maka diperbolehkan berdasarkan kesepakatan para ‘ulama, jika mau maka yang shalat boleh menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan jika ia mau maka boleh juga menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, dan shalatnya tetap sah dengan kedua cara tersebut sesuai kesepakatan ‘ulama. Kemudian dalam hal afdhaliyah, sebagian mengatakan yang lebih utama adalah pendapat pertama sebagaimana madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad pada salah satu diantara dua riwayat. Sebagian lagi mengatakan yang paling utama adalah pendapat kedua sebagaimana madzhab Maliki dan Ahmad pada riwayat yang lain, dan telah diriwayatkan pada kedua hadits tersebut satu hadits dalam as-sunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat, menempatkan kedua lututnya kemudian kedua tangannya, dan apabila Beliau bangkit maka Beliau mengangkat kedua tangannya kemudian kedua lututnya. Dan dalam sunan Abu Dawud dan yang lainnya, bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bila salah seorang dari kalian bersujud maka hendaklah ia tidak berlutut seperti menderumnya unta, tetapi hendaklah ia menempatkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya. Dan telah diriwayatkan pula yang berbeda dari hadits ini, dan ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut dihapus. Allahu a’lam.
Dengan demikian maka tiap orang berhak menentukan pilihan diantara dua pendapat diatas tanpa harus memaksakan kecenderungannya kepada yang lain. Untuk itu penting juga bagi tiap orang memahami dalil-dalil yang menjadi khilafiyah diantara ‘ulama agar dapat saling memaklumi bukan untuk saling menghakimi. Allahul-Muwaffiq.
Selanjutnya: Kaifiyat sujud, bacaan pada rukuk dan sujud



0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik