Membaca Isti’adzah, Al-Fatihah, dan Ayat Al-Qur'an dalam Shalat
Shalat merupakan tiang agama yang tata cara pelaksanaannya telah diatur secara komprehensif melalui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap rukun dan sunnah di dalam shalat memiliki landasan normatif yang kuat dari dalil-dalil syariat. Pemahaman yang mendalam mengenai urutan bacaan setelah doa istiftah memegang peranan krusial untuk memastikan kualitas ibadah sesuai dengan tuntunan fikih yang sahih.
Setelah merampungkan doa istiftah, rangkaian gerakan dan bacaan shalat berlanjut pada tahap isti’adzah, pembacaan Surah Al-Fatihah, pengucapan amin, serta melanjutkannya dengan surat atau ayat pilihan dari Al-Qur'an. Penjelasan terperinci mengenai dalil, hukum, serta pandangan mazhab fikih terkait rangkaian ibadah tersebut diuraikan sebagai berikut.
7. Membaca Isti’adzah
Membaca isti’adzah hukumnya disunnahkan ketika hendak membaca Al-Qur'an di dalam shalat, merujuk pada firman Allah Ta'ala:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل ٩٨]
“Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Anjuran beristi’adzah ini juga ditegaskan setelah membaca doa istiftah berdasarkan riwayat hadits dari Jabir bin Muth’im:
عن جبير بن مطعم: رأَيْتُ رسولَ اللهِ ﷺ إذا استفتَح الصَّلاةَ قال (اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بكَ مِن الشَّيطانِ: مِن هَمْزِه ونَفْخِه [ونَفْثِه])
Dari Jabir bin Muth’im: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan: dari bisikannya, tiupannya, dan hembusannya.’”
Lihat juga: Tafsir Isti'adzah
Catatan: Pensyariatan isti’adzah berfungsi sebagai perisai batin sebelum seorang hamba berdialog langsung dengan Allah melalui ayat-ayat suci. Setelah benteng spiritual ini ditegakkan, rukun shalat berikutnya yang mutlak dilaksanakan adalah membaca Ummul Kitab.
8. Membaca Al-Fatihah
Membaca surat Al-Fatihah dalam shalat berstatus sebagai rukun yang wajib ditunaikan. Keabsahan shalat seseorang menjadi gugur apabila ia meninggalkannya, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عن عبادة بن الصامت: قال النَّبيُّ ﷺ : لا صَلاةَ لِمَن لَمْ يَقْرَأْ بفاتِحَةِ الكِتابِ. (صحيح البخاري ٧٥٦)
Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).”
Kewajiban ini bersifat universal dan berlaku pada setiap jenis shalat, baik fardhu maupun sunnah, shalat sir maupun jahr, dikerjakan oleh laki-laki maupun perempuan, mukim maupun musafir, dewasa maupun anak-anak yang telah baligh, serta dalam posisi berdiri, duduk, berbaring, dalam keadaan aman maupun takut, baik secara berjamaah maupun munfarid.
Kend demikian, para ulama berbeda pendapat (khilafiyah) mengenai hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum pada shalat jahr. Berdasarkan keumuman dalil serta penguatan hadits berikut, kewajiban membaca tetap melekat:
عن عبادة بن الصامت: صَلّى بنا رسولُ اللهِ ﷺ صَلاةَ الغَداةِ، فثَقُلَتْ عليه القِراءةُ، فلمّا انصرَفَ قال: إنِّي لأراكم تَقرَؤونَ وراء إمامِكم، قُلْنا: نعمْ، واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنّا لنَفعَلُ هذا، قال: فلا تَفعَلوا إلّا بأُمِّ القُرآنِ؛ فإنَّه لا صَلاةَ لمن لم يَقرَأْ بها. (تخريج المسند ٢٢٦٩٤, صحيح لغيره)
Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami pada shalat subuh, lalu bacaan beliau terasa berat. Ketika selesai, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku melihat kalian membaca di belakang imam kalian.” Kami menjawab: “Benar, demi Allah wahai Rasulullah, kami memang melakukannya.” Beliau bersabda: “Jangan kalian lakukan, kecuali membaca Ummul Qur'an (Al-Fatihah), karena tidak sah shalat bagi orang yang tidak membacanya.”
Di sisi lain, sebagian ulama memandang bahwa makmum tidak perlu melafalkan Al-Fatihah pada shalat jahr karena kewajiban makmum adalah menyimak bacaan imam, berdasarkan firman Allah Ta'ala:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [الأعراف ٢٠٤]
“Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A'raf: 204)
Menurut Syaikh Wahbah al-Zuhaili rahimahullah, persoalan khilafiyah ini terbagi ke dalam tiga pandangan utama mazhab fikih:
- Mazhab Maliki dan Hambali: Berpendapat bahwa makmum membaca bersama imam pada shalat sir, dan tidak membaca pada shalat jahr. Mazhab Hambali menambahkan bahwa jika bacaan imam pada shalat jahr tidak terdengar, makmum wajib membaca, dan jika terdengar jelas, maka tidak perlu membaca.
- Mazhab Hanafi: Berpendapat bahwa hukum asalnya makmum sama sekali tidak membaca bacaan apa pun bersama imam.
- Mazhab Syafi’i: Berpendapat bahwa makmum wajib membaca Al-Fatihah beserta surat lainnya pada shalat sir, sedangkan pada shalat jahr makmum tetap wajib membaca Al-Fatihah saja. (Lihat: Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, 2/1219).
Penting untuk diketahui: Makna & Tafsir Surat Al-Fatihah, Seputar Basmalah
Catatan: Perbedaan pandangan mazhab di atas menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam dalam menyikapi posisi makmum. Setelah menyempurnakan bacaan Al-Fatihah, sunnah berikutnya yang mengiringi adalah melafalkan kalimat pengesahan doa secara berjamaah.
9. Mengucapkan Amin
Mengucapkan amin setelah merampungkan bacaan Al-Fatihah hukumnya disunnahkan, berlandaskan hadits sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
(عن أبي هريرة) كان رسولُ اللهِ ﷺ إذا فرغ من أمِّ القرآنِ رفع صوتَه قال آمين. (صحيح, أخرجه ابن خزيمة ٥٧١)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai membaca Ummul Qur'an, beliau mengangkat suaranya dan mengucapkan: ‘Aamiin.’”
Riwayat lain dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu menegaskan tata cara pelafalannya:
(عن وائل بن حجر) سمعتُ النبيَّ ﷺ قرأ غَيْرِ المغْضُوبِ عَليهِمْ وَلاَ الضّالِّينَ, فقال: آمين ومدَّ بها صوتَه. (صحيح الترمذي ٢٤٨)
Dari Wail bin Hujr: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhalliin’, lalu beliau mengucapkan: ‘Aamiin’ dengan memanjangkan suaranya.”
Sebagian kalangan mengamalkan tambahan bacaan ‘rabbighfirlii’ sebelum melafalkan ‘aamiin’. Namun, menurut para ahli hadits, riwayat-riwayat pendukungnya berstatus dha’if (lemah). Penjelasan ulama mengenai hal ini di antaranya disampaikan oleh Ibnu Rajab dan Al-Qasthalani:
روى أبو بكر النهشلي... عن وائل بن حجر، أنه سمع النبي... حين قال: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} قال: رب اغفر لي، آمين. خرجه البيهقي وغيره. وهذا الإسناد لا يحتج به. (فتح الباري لابن رجب 7/99)
Abu Bakr an-Nahsyili meriwayatkan dari Wail bin Hujr bahwa ia mendengarnya mengucapkan ‘Rabbighfirlii, aamiin’. Al-Baihaqi dan perawi lainnya meriwayatkannya, namun sanadnya tidak dapat dijadikan hujjah (landasan kuat). Abu Hamzah selaku perawinya dinilai dha’if.
Dengan demikian, amalan yang sesuai dengan sunnah murni selepas Al-Fatihah adalah langsung mengucapkan ‘aamiin’. Di samping itu, terdapat keutamaan besar bagi orang yang mengucapkannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذا أمَّنَ الإمامُ، فأمِّنُوا، فإنَّه مَن وافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الملائِكَةِ غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ. (أخرجه البخاري ٧٨٠)
“Apabila imam mengucapkan ‘aamiin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ pula, karena barang siapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Catatan: Setelah mengawali shalat dengan isti’adzah, membaca Al-Fatihah, dan mengakhirinya dengan amin, tahapan berikutnya yang menyempurnakan bacaan shalat adalah melantunkan surat atau ayat pendek dari Al-Qur'an.
10. Membaca Surat
Membaca ayat atau surat pendek setelah Al-Fatihah hukumnya disunnahkan. Para ulama berhujah berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
عن أبي هريرة يقولُ: في كُلِّ صَلاةٍ يُقْرَأُ، فَما أسْمعنا رَسولُ اللَّهِ ﷺ أسْمَعْناكُمْ، وما أخْفى عَنّا أخْفَيْنا عَنْكُمْ، وإنْ لَمْ تَزِدْ على أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ. (أخرجه البخاري ٧٧٢)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bacaan Al-Qur'an dilakukan pada setiap shalat. Bacaan yang diperdengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami, kami perdengarkan pula kepada kalian; dan bacaan yang disembunyikan dari kami, kami sembunyikan pula dari kalian. Jika engkau tidak menambah bacaan selain Ummul Qur'an, maka itu sudah mencukupi; namun jika engkau menambahnya, maka itu jauh lebih baik.”
Dalam praktiknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan variasi bacaan, baik yang dikeraskan (jahr) maupun yang dilirihkan (sir), sesuai dengan ketetapan hukum masing-masing shalat fardhu dan sunnah.
1) Bacaan Sir (Lirih)
Bacaan sir diterapkan pada shalat Zuhur dan Asar. Hal ini dikonfirmasi melalui riwayat dari Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، قَالَ: قُلْتُ لِخَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالعَصْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ... قَالَ: «بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ» (صحيح البخاري 1/152)
Dari Abu Ma’mar berkata: “Aku bertanya kepada Khabbab bin al-Aratt: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat Zuhur dan Asar?” Ia menjawab: “Ya.” Aku bertanya kembali: “Bagaimana kalian mengetahui bacaan beliau?” Ia menjawab: “Dari gerakan jenggot beliau.”
Catatan: Seluruh kaum Muslimin telah bersepakat mengenai ketetapan bacaan sir dan jahr di dalam shalat. Pemahaman terhadap dalil-dalil ini sangat esensial bagi masyarakat awam guna memperkokoh keyakinan dan landasan amaliah ibadah mereka.
2) Bacaan Jahr (Dikeraskan)
Bacaan jahr dikerjakan pada shalat Maghrib, Isya, dan Subuh. Sejumlah hadits sahih merekam pelaksanaan ibadah tersebut secara langsung:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ أَبِيهِ: سَمِعْتُ رَسولَ اللَّهِ ﷺ: قَرَأَ في الْمَغْرِبِ بالطُّورِ. (صحيح البخاري ٧٦٥)
Dari Jubair bin Muth’im dari ayahnya: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thur pada shalat Maghrib.”
Demikian pula riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
عن عائشة أم المؤمنين: أن رسولَ اللهِ صلّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّم قرأ في المغربِ بسورةِ الأعرافِ فَرَّقَها في الركعتينِ. (نيل الأوطار ٢/٢٥٨)
Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-A’raf pada shalat Maghrib dan membaginya ke dalam dua rakaat.”
Adapun pada shalat Isya, Al-Bara' bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan:
(عن البراء بن عازب) قالَ: سَمِعْتُ النبيَّ ﷺ يَقْرَأُ: وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ في العِشاءِ... (أخرجه البخاري ٧٦٩، ومسلم ٤٦٤)
Dari Al-Bara' bin ‘Azib berkata: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Wat-tiini waz-zaitun’ pada shalat Isya, dan aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih merdu suara dan bacaannya daripada beliau.”
Sementara itu, pelaksanaan jahr pada shalat Subuh didasarkan pada atsar Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha:
قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: «طُفْتُ وَرَاءَ النَّاسِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، وَيَقْرَأُ بِالطُّورِ» (صحيح البخاري 1/154)
Ummu Salamah berkata: “Aku melakukan tawaf di belakang barisan orang-orang manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat Subuh, dan beliau membaca surat Ath-Thur.”
Imam Al-Bukhari menempatkan riwayat tersebut di dalam bab khusus tentang mengeraskan bacaan pada shalat Subuh. Di samping shalat fardhu lima waktu, bacaan jahr juga disunnahkan pada shalat Jumat, shalat Id, serta sebagian shalat sunnah malam (qiyamullail), berdasarkan dalil berikut:
عن النعمان بن بشير: كانَ رَسولُ اللهِ ﷺ يَقْرَأُ في العِيدَيْنِ وفي الجُمُعَةِ بـ{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلى}، وَ{هَلْ أَتاكَ حَدِيثُ الْغاشِيَةِ}. (صحيح مسلم ٨٧٨)
Dari An-Nu’man bin Basyir: “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah pada shalat Id dan shalat Jumat.”
Adapun sifat bacaan qiyamullail dijelaskan dalam riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
عن عائشة أم المؤمنين: [أن النبيَّ ﷺ] كان في صلاةِ الليلِ ربما جهر وربَّما أسرَّ. (مجموع فتاوى ابن باز ١١٦/١١)
Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat malamnya, terkadang mengeraskan suara (jahr) dan terkadang melirihkannya (sir).”
Keterangan lebih mendalam mengenai kualitas tadabbur ayat dalam qiyamullail direkam melalui hadits ‘Auf bin Malik al-Asyja’i:
عن عوف بن مالك الأشجعي: قُمتُ معَ رسولِ اللَّهِ ﷺ ليلةً، فقامَ فقرأَ سورةَ البقرةِ، لا يمرُّ بآيةِ رحمةٍ إلّا وقفَ فَسألَ، ولا يمرُّ بآيةِ عَذابٍ إلّا وقَفَ فتعوَّذَ... (صحيح أبي داود ٨٧٣)
Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i: “Aku berdiri shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Beliau mulai membaca surat Al-Baqarah; tidaklah beliau melewati ayat rahmat melainkan beliau berhenti untuk memohon, dan tidaklah beliau melewati ayat azab melainkan beliau berhenti untuk berlindung...”
Rangkaian dalil di atas menegaskan betapa komprehensifnya bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengatur ritme, bacaan, serta kekhusyukan di dalam shalat.
Catatan: Memahami tata cara bacaan shalat secara runtut mulai dari isti’adzah hingga surat pendek akan mengantarkan seorang Muslim pada kesempurnaan ibadah. Sebagai kesinambungan materi fikih shalat berikutnya, pembahasan mengenai gerakan rukun dapat dipelajari melalui tautan berikut.
Kaifiyat Rukuk & Permasalahannya
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik