15.11.22


Membaca Isti’adzah, Alfatihah Dan Ayat AlQuran     

        Setelah membaca do’a istiftah, dilanjutkan dengan beristi’adzah dan membaca surat alfatihah yang diikuti dengan membaca ayat atau satu surat dari alQuran. Berikut ini dalil-dalil yang menjadi landasannya:

7.     Membaca isti’adzah

Membaca isti’adzah hukumnya sunnat bila hendak membaca alQuran, berdasarkan Firman-Nya:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل ٩٨]

Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Begitupula sunnah beristi’adzah setelah membaca istiftah, berdasarkan hadits:

عن جبير بن مطعم: رأَيْتُ رسولَ اللهِ ﷺ إذا استفتَح الصَّلاةَ قال (اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بكَ مِن الشَّيطانِ: مِن هَمْزِه ونَفْخِه [ونَفْثِه])

Dari Jabir bin Muth’im: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau telah membaca do’a pembuka shalat, Beliau mengucapkan: Aku  berlindung kepada-Mu dari Syaitan: dari  cekikannya, tiupannya dan  hembusannya.

Lihat juga: Tafsir Isti'adzah

8.     Membaca Al-Fatihah

Membaca surat Al-Fatihah dalam shalat hukumnya wajib karena termasuk rukun diantara rukun-rukun shalat, sehingga tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca al-Fatihah, sebagaimana diterangkan dalam hadits:

عن عبادة بن الصامت: قال النَّبيُّ ﷺ : لا صَلاةَ لِمَن لَمْ يَقْرَأْ بفاتِحَةِ الكِتابِ. (صحيح البخاري ٧٥٦)

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak sah shalat bagi  orang yang tidak membaca surat al-Fatihah

Oleh karena itu membaca al-Fatihah wajib pada shalat fardhu ataupun shalat sunnat, baik yang sir ataupun yang jahr, laki-laki ataupun perempuan, muqim maupun musafir, dewasa maupun anak-anak (yang sudah baligh), baik shalat sambil berdiri, duduk ataupun berbaring, dalam kondisi takut ataupun aman, berjama’ah ataupun munfarid.

Hanya saja terjadi khilafiyyah diantara para ‘ulama terkait makmum wajib membaca al-fatihah atau tidak pada shalat yang jahr. Adapun bila melihat keumuman hadits diatas maka dapat dimaklumi bagi mereka yang membaca alfatihah dibelakang imam yang jahr, juga berdasar kepada hadits berikut:

عن عبادة بن الصامت: صَلّى بنا رسولُ اللهِ ﷺ صَلاةَ الغَداةِ، فثَقُلَتْ عليه القِراءةُ، فلمّا انصرَفَ قال: إنِّي لأراكم تَقرَؤونَ وراء إمامِكم، قُلْنا: نعمْ، واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنّا لنَفعَلُ هذا، قال: فلا تَفعَلوا إلّا بأُمِّ القُرآنِ؛ فإنَّه لا صَلاةَ لمن لم يَقرَأْ بها.

( شعيب الأرنؤوط (ت ١٤٣٨)، تخريج المسند ٢٢٦٩٤  , صحيح لغيره ,  أخرجه البخاري (٧٥٦)، ومسلم (٣٩٤)، والنسائي (٩١٠)، وابن ماجه (٨٣٧) بنحوه مختصراً، وأبو داود (٨٢٣)، والترمذي (٣١١) باختلاف يسير، وأحمد (٢٢٦٩٤) واللفظ له)

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit ra: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami pada shalat subuh, kemudian ada bacaan (makmum) yang memberatkan(mengganggu)Beliau, maka ketika selesai shalat Beliau bersabda: Sesungguhnya aku melihat kalian membaca dibelakang imam. Kami menjawab: ya, demi Allah wahai Rasulullah kami melakukannya. Nabi bersabda: maka jangan kamu lakukan, kecuali membaca al-fatihah karena tidak sah shalat bagi orang yang tidak membacanya.

Sebagian lagi memandang bahwa pada shalat yang jahr, makmum tidak perlu membaca al-fatihah karena makmum wajib menyimak bacaan imam, berdasarkan ayat:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [الأعراف ٢٠٤]

Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

        Menurut Syaikh Wahbah al-Zuhaili rahimahullah, terdapat 3 pendapat terkait khilafiyyah tersebut, yaitu:

1)     Madzhab Maliki dan Hambali, berpendapat bahwa makmum membaca bersama-sama imam pada shalat yang sir, dan tidak membaca ketika shalat jahr. Madzhab Hambali juga mengatakan bahwa bila pada shalat yang jahr bacaan imam tidak terdengar, maka makmum wajib membaca, dan bila terdengar maka tidak perlu membaca.

2)     Madzhab Hanafi berpendapat bahwa hukum asalnya adalah: makmum tidak membaca bersama-sama imam.

3)     Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa makmum harus membaca al-Fatihah dan surat lainnya pada shalat yang sir, adapun pada shalat yang jahr maka makmum hanya membaca al-Fatihah saja.

(Lihat: الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (2/ 1219))

Penting untuk diketahui: Makna & Tafsir Surat Al-Fatihah,  Seputar Basmalah

9.     Mengucapkan Amin

Mengucapkan amin setelah selesai membaca Fatihah hukumnya sunnat, berdasarkan hadits:

(عن أبي هريرة)كان رسولُ اللهِ ﷺ إذا فرغ من أمِّ القرآنِ رفع صوتَه قال آمين. (صحيح , أخرجه ابن خزيمة (٥٧١)، وابن حبان (١٨٠٦))

Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai membaca ummul Quran, Beliau mengeraskan suaranya mengucapkan : aamiin

(عن وائل بن حجر) سمعتُ النبيَّ ﷺ قرأ غَيْرِ المغْضُوبِ عَليهِمْ وَلاَ الضّالِّينَ, فقال: آمين ومدَّ بها صوتَه. (صحيح الترمذي ٢٤٨)

Dari Wail bin Hujr: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhallin, kemudian Beliau mengucapkan: aamiin, dengan memanjangkan suaranya.

Ada juga yang mengamalkan dengan tambahan rabbighfirli  sebelum mengucapkan aamiin, hanya saja menurut para ‘ulama hadits-haditsnya dha’if, berikut ini beberapa penjelasan ‘ulama:

روى أبو بكر النهشلي، عن أبي إسحاق عن أبي عبد الله اليحصبي، عن وائل بن حجر، أنه سمع النبي - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حين قال: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} قال: رب اغفر لي، آمين. خرجه البيهقي وغيره. وهذا الإسناد لا يحتج به. وروى أبو حمزة، عن إبراهيم النخعي، قال: كانوا يستحبون ذلك. وأبو حمزة، هو ميمون الأعور، ضعيف. (فتح الباري لابن رجب (7/ 99))

Abu Bakr an-Nahsyili telah meriwayatkan dari Abu Ishaq dari Abu ‘Abdillah al-Yahshibi dari Wail bin Hujr, bahwa ia (Wail) mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah membaca: ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhallin, Beliau mengucapkan: Rabbighfirli, aamiin.  AlBaihaqi dan yang lain juga meriwayatkannya, namun sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah. Abu Hamzah meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata: bahwa mereka suka mengucapkannya. Namun Abu Hamzah yaitu Maimun al-A’war, ia dha’if. (Lihat; FathulBari li Ibni Rajab).

Syaikh al-Qasthalani pun mengomentari periwayatan hadits tersebut, sebagai berikut:

وأما ما رواه البيهقي من حديث وائل بن حجر: أنه سمع رسول الله -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حين قال: {غير المغضوب عليهم ولا الضالين} قال: رب اغفر لي آمين. فإن في إسناده أبا بكر النهشلي وهو ضعيف.(شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (2/ 100))

Adapun al-Baihaqi meriwayatkannya dari hadits Wail bin Hujr: bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membaca: ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhallin, Beliau mengucapkan: Rabbighfirli, aamiin.  Maka sebenarnya pada isnadnya terdapat Abu Bakr an-Nahsyili, dan ia itu dha’if. (Lihat: Irsyadussari, Syarh shahih alBukhari, AlQasthalani)

        Dengan demikian jelas bahwa yang sesuai sunnah setelah selesai Al-Fatihah adalah mengucapkan aamin. Selain itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan faidah membaca aamin, Beliau bersabda:

إِذا أمَّنَ الإمامُ، فأمِّنُوا، فإنَّه مَن وافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الملائِكَةِ غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.((عن أبي هريرة) أخرجه البخاري (٧٨٠)، ومسلم (٤١٠))

Apabila imam mengucapkan aamin, maka hendaklah kalian ucapkan aamin, karena siapa yang bertepatan ucapan aminnya dengan ucapan aminnya malaikat niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.

10.     Membaca Surat

Membaca ayat atau surat setelah al-Fatihah hukumnya sunnat, para ‘ulama diantaranya berhujjah dengan hadits berikut:

عن أبي هريرة يقولُ: في كُلِّ صَلاةٍ يُقْرَأُ، فَما أسْمعنا رَسولُ اللَّهِ ﷺ أسْمَعْناكُمْ، وما أخْفى عَنّا أخْفَيْنا عَنْكُمْ، وإنْ لَمْ تَزِدْ على أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ.( أخرجه البخاري (٧٧٢) واللفظ له، ومسلم (٣٩٦))

Dari Abu Hurairah ra, berkata: (Al-Quran) dibaca pada setiap shalat, maka bacaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perdengarkan kepada kami, kami perdengarkan juga kepada kalian, dan bacaan yang Beliau sembunyikan dari kami, maka kami pun sembunyikan dari kalian, dan bila kamu tidak menambah bacaan surat setelah al-Fatihah, itu telah mencukupi, namun jika kamu menambahnya maka itu lebih baik.

        Dalam setiap shalat ditekankan untuk membaca satu surat atau ayat al-Quran setelah membaca al-Fatihah sebagai bentuk afdhaliyyah melaksanakan sunnah, sebab termasuk rugi bila menyia-nyiakan keutamaan. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan pada sebagian shalat, ada yang diperdengarkan bacaannya dan ada yang tidak, dapat kita teladani pula pada keterangan hadits-hadits berikut:

1) Bacaan sir  (sunyi) dilakukan pada shalat zhuhur dan ashar, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، قَالَ: قُلْتُ لِخَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالعَصْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: قُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ قِرَاءَتَهُ؟ قَالَ: «بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ» (صحيح البخاري (1/ 152))

Dari Abu Ma’mar, ia berkata: “Saya bertanya kepada Khabbab bin al-Aratt ra: Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (surat) pada shalat zhuhur dan ashar?”. Ia menjawab: “iya”. Abu Ma’mar berkata: “saya bertanya: bagaimana anda bisa mengetahui bacaan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Ia (Khabbab) berkata: “dari pergerakan jenggotnya”.

Catatan:

Kaum muslimin telah bersepakat terkait ketetapan bacaan sir dan jahr didalam shalat, namun sangat penting bagi yang awam untuk mengetahui dan memahami dalil-dalilnya agar lebih menguatkan keyakinan dan landasan dalam beramal.

2)    Adapun bacaan yang jahr (dikeraskan) dikerjakan pada shalat maghrib, ‘isya dan subuh. Sebagaimana keterangan dalam hadits:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ أَبِيهِ: سَمِعْتُ رَسولَ اللَّهِ ﷺ: قَرَأَ في الْمَغْرِبِ بالطُّورِ.(صحيح البخاري ٧٦٥- بَابُ الجَهْرِ فِي المَغْرِبِ)

Dari Jubair bin Muth’im dari ayahnya: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat ath-Thur pada shalat maghrib.

عن عائشة أم المؤمنين: أن رسولَ اللهِ صلّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّم قرأ في المغربِ بسورةِ الأعرافِ فَرَّقَها في الركعتينِ. (صحيح -الشوكاني (ت ١٢٥٥)، نيل الأوطار ٢‏/٢٥٨)

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin ra: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat al-A’raf pada shalat maghrib, beliau membaginya dalam dua raka’at.

(عن البراء بن عازب) قالَ: سَمِعْتُ النبيَّ ﷺ يَقْرَأُ: والتِّينِ والزَّيْتُونِ في العِشاءِ، وما سَمِعْتُ أحَدًا أحْسَنَ صَوْتًا منه أوْ قِراءَةً.(أخرجه البخاري (٧٦٩)، ومسلم (٤٦٤))

(Dari al-Bara' bin ‘Azib), berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: والتِّينِ والزَّيْتُونِ ,pada shalat ‘isya', dan saya tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih indah daripada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam suara dan bacaannya.

قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: «طُفْتُ وَرَاءَ النَّاسِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، وَيَقْرَأُ بِالطُّورِ» (صحيح البخاري(1/ 154) بَابُ الجَهْرِ بِقِرَاءَةِ صَلاَةِ الفَجْرِ)

Ummu Salamah berkata: Saya tawaf di belakang orang-orang dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, dan Beliau membaca surat ath-Thur.  

Imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab mengeraskan bacaan pada shalat subuh. Al-Qasthalani juga menyebutkan bahwa lafazh (يُصَلِّي) yang dimaksud adalah shalat subuh. 

عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْفَجْرِ: وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ

(مسند أحمد ط الرسالة (31/ 35) إسناده صحيح على شرط مسلم)

Dari ‘Amr bin Huraits berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada shalat subuh: وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (surat at-Takwir).

Ibnu Hajar dalam fathul bari pada bab maddilqira'ah (bab memanjangkan bacaan) menjelaskan:

أخرج بن أَبِي دَاوُدَ مِنْ طَرِيقِ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْفَجْرِ ق فَمَرَّ بِهَذَا الْحَرْفِ لَهَا طلع نضيد فَمَدَّ نَضِيدٌ وَهُوَ شَاهِدٌ جَيِّدٌ لِحَدِيثِ أَنَسٍ وَأَصْلُهُ عِنْدَ مُسْلِمٍ. (فتح الباري لابن حجر(9/ 91))

Ibnu Abi Dawud telah meriwayatkan dari jalur Quthbah bin Malik: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada shalat subuh surat Qaf (ق), kemudian ketika melewati ayat: لَهَا طَلعٌ نَضِيدٌ, Beliau memanjangkan lafazh: نَضِيدٌ . Dan hadits ini sebagai syahid yang baik bagi hadits riwayat Anas, dimana pada asalnya adalah riwayat muslim.

Demikian dari Keterangan hadits-hadits diatas dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan pada shalat maghrib, ‘isya dan subuh. Selain pada shalat-shalat tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengeraskan bacaan pada shalat jum’at dan pada sebagian shalat sunnat seperti qiyamullail dan shalat ‘id. Sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits, diantaranya:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: «إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ» صحيح مسلم (2/ 597)

Abu Hurairah ra berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca kedua surat tersebut (maksudnya surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun) pada shalat jum’at.

عن النعمان بن بشير: كانَ رَسولُ اللهِ ﷺ يَقْرَأُ في العِيدَيْنِ وفي الجُمُعَةِ بـ{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلى}، وَ{هَلْ أَتاكَ حَدِيثُ الْغاشِيَةِ}. قالَ: وإذا اجْتَمع العِيدُ والْجُمُعَةُ في يَومٍ واحِدٍ، يَقْرَأُ بهِما أَيْضًا في الصَّلاتَيْنِ.(صحيح مسلم ٨٧٨ ,بَابُ مَا يُقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ)

Dari an-Nu’man bin Basyir: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada shalat ‘id dan shalat jum’at: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلى dan هَلْ أَتاكَ حَدِيثُ الْغاشِيَةِ . Ia (an-Nu’man)berkata: dan apabila berkumpul hari raya ‘id dan hari jum’at dalam satu hari, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca kedua surat tersebut pada dua shalat itu(shalat jum’at & shalat ‘id).

Adapun bacaan jahr pada qiyamullail, terdapat keterangan diantaranya  pada salah satu hadits yang tsabit:

عن عائشة أم المؤمنين: [أن النبيَّ ﷺ] كان في صلاةِ الليلِ ربما جهر وربَّما أسرَّ. (ابن باز (ت ١٤١٩)، مجموع فتاوى ابن باز ١١٦‏/١١ [ثابت])

Dari ‘Aisyah ra: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau itu dalam shalat malam terkadang jahar dan terkadang sir.

Kemudian dalam hadits berikut:

عن عوف بن مالك الأشجعي:  قُمتُ معَ رسولِ اللَّهِ ﷺ ليلةً، فقامَ فقرأَ سورةَ البقرةِ، لا يمرُّ بآيةِ رحمةٍ إلّا وقفَ فَسألَ، ولا يمرُّ بآيةِ عَذابٍ إلّا وقَفَ فتعوَّذَ، قالَ: ثمَّ رَكَعَ بقَدرِ قيامِهِ، يقولُ في رُكوعِهِ: سُبحانَ ذي الجبَروتِ والملَكوتِ والكِبرياءِ والعَظَمةِ، ثمَّ سجدَ بقدرِ قيامِهِ، ثمَّ قالَ في سُجودِهِ مثلَ ذلِكَ، ثمَّ قامَ فقرأَ بآلِ عمرانَ، ثمَّ قرأَ سورةً سورةً.( صحيح أبي داود ٨٧٣  )

Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i: Saya berdiri(shalat) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, kemudian Beliau berdiri lalu membaca surat al-Baqarah, tidak lah Beliau melewati ayat rahmat kecuali Beliau diam lalu berdo’a, dan tidaklah Beliau melewati ayat adzab kecuali beliau diam lalu memohon perlindungan. Ia (‘Auf) berkata: kemudian Beliau rukuk seukuran lama berdirinya, Beliau berdoa dalam rukuknya : Maha Suci Pemilik kekuasaan dan kerajaan, kebesaran dan keagungan. Kemudian Beliau sujud seukuran lama berdirinya, kemudian Beliau berdo’a dalam sujudnya semisal itu juga, kemudian Beliau berdiri lalu membaca surat Ali ‘Imran, kemudian Beliau membaca surat demi surat (surat An-Nisa kemudian surat Al-Maidah).

Hadits ini diantaranya juga menjelaskan tentang sifat qiyamullailnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana Beliau membaca al-Quran dengan memahami dan mentadabburinya, serta betapa panjang dan lamanya shalat malam Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya:

Kaifiyat Rukuk & Permasalahannya

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik