Hikmah Ketauhidan dalam Udhiyah
(Khutbah Iduladha 1444 H)
ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا (الأحزاب: ٧٠)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla yang telah menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya:
Pertama: Kita adalah manusia yang telah dipilih Allah sebagai makhluk dengan bentuk sebaik-baiknya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Kedua: Manusia dianugerahi hidayah dan taufik sehingga dapat menjalani hidup dalam tuntunan syariat yang mengantarkan pada keselamatan serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ketiga: Sesungguhnya nikmat paling besar yang dikaruniakan-Nya kepada kita adalah nikmat syariat Islam, yakni nikmat iman dan Islam.
Saat ini kita berada pada hari Iduladha yang menjadi salah satu syariat dan hari raya besar kaum muslimin. Di dalamnya terdapat syariat udhiyah yang kita kenal sebagai ibadah kurban, yaitu sunnatu abiina Ibraahiim 'alaihissalaam wa sunnatu nabiyyinaa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah 'Azza wa Jalla menjadikan udhiyah ini sebagai salah satu bentuk takarub (pendekatan diri) kepada-Nya dengan penuh ketaatan dalam ketauhidan. Terlebih lagi, ibadah kurban ini memuat banyak sekali kebaikan pada setiap helai rambut dan bulu hewan kurban. Sesungguhnya amaliah paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim pada hari Iduladha setelah shalat adalah:
"Bertakarub kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban."
Yakni menyembelih hadyu (hewan kurban) dalam rangka memenuhi seruan Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an:
"Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah."
Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk melepaskan segala bentuk kemusyrikan dan peribadatan kepada selain Allah. Ayat ini sekaligus memuat ungkapan ta'ridh (sindiran) dan kecaman terhadap orang-orang musyrik yang beribadah, shalat, sujud, dan berkurban untuk berhala. Subhaanallaahi 'ammaa yusyrikuun.
Sungguh besar nikmat ketauhidan, di mana Allah Ta'ala telah mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya iman melalui pengutusan manusia terpilih. Beliau adalah Khaatamul-Anbiyaa'i wal-Mursaliin, Sayyidunaa Al-Musthafa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Hari raya dalam Islam merupakan deklarasi atas kemerdekaan seorang hamba dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk. Oleh karena itu, nilai-nilai ketauhidan dan keikhlasan harus semakin menguat dan mengakar di dalam jiwa setiap muslim, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimash-shalatu was-salam. Mereka telah mengorbankan jiwa dan raga demi memurnikan ketauhidan serta menyerahkan seluruh cinta hanya kepada Rabb-nya 'Azza wa Jalla. Sifat istislam (kepasrahan mutlak) mereka kepada Allah menjadi uswatun hasanah yang abadi sepanjang masa. Begitu pula keteladanan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Rasul yang diutus untuk menyempurnakan milah Ibrahim A.S., sebagaimana Allah Ta'ala memerintahkan beliau menyampaikan ayat:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku ke jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik."
Dalam momentum Iduladha ini, sangat penting bagi kita untuk merenungkan kembali serta memeriksa sejauh mana iman ketauhidan telah menancap dalam jiwa. Hal ini seyogianya dapat kita latih saat panggilan berkurban ini datang: apakah yang hadir adalah rasa taat kepada Allah atas seruan berkurban, ataukah justru sifat sombong karena mampu membeli hadyu (hewan kurban) berharga tinggi yang kemudian dipamerkan dengan penuh kebanggaan? Seharusnya, yang hadir dalam hati adalah ketundukan kepada Allah 'Azza wa Jalla yang mengikis dahaga akan pujian dan sanjungan makhluk. Apabila dalam jiwa hadir harapan semata-mata demi meraih keridhaan Allah dan nilai takwa di sisi-Nya, itulah hakikat ketauhidan.
Kemudian, bagi yang belum mampu melaksanakan udhiyah, hendaknya minimal hadir munajat dan istigfar kepada Allah agar diberikan kelapangan di kemudian hari, bukannya bersikap acuh tak acuh karena menganggap udhiyah hanya sebagai rutinitas budaya semata. Wal-'iyaadzu billah.
Untuk itu, marilah kita cermati beberapa hikmah ketauhidan dalam pelaksanaan udhiyah ini. Semoga kita mampu meraihnya serta terbebas dari setiap hal yang mengotori keimanan:
1 Bentuk Ittiba' kepada Milah Nabi Ibrahim A.S.
Udhiyah merupakan bentuk ittiba' (peneladanan) kepada milah Nabi Ibrahim A.S. Hikmahnya adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan. Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif' dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik."
Milah Ibrahim A.S. adalah dinul-Islam yang memerdekakan manusia dari perbudakan hawa nafsu dan pemberhalaan. Maka, udhiyah adalah salah satu sarana menghidupkan sunnah dan menjauhkan diri dari syirik.
2 Hikmah Kesabaran dalam Ketauhidan
Udhiyah memuat hikmah kesabaran dalam ketauhidan. Sebab, jiwa lebih memilih untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah 'Azza wa Jalla daripada kecintaan terhadap makhluk. Marilah kita cermati ayat yang memuat kisah Ibrahim dan Ismail 'alaihimas-salam dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102–111:
Maka ketika anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: "Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu." Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
3 Membuka Ruang Kelapangan dan Kasih Sayang
Syariat udhiyah membuka ruang kelapangan bagi keluarga, kerabat, tetangga, sahabat, serta fakir miskin. Apabila pelaksanaan udhiyah benar niat dan kaifiatnya, seharusnya tumbuh kelembutan dan kasih sayang antarsesama manusia, khususnya sesama muslim. Mereka berkumpul dan bersatu padu saling membantu dalam menuntaskan hajad udhiyah ini, sehingga ruh ketauhidan dapat dirasakan menggema di setiap penjuru. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda pada hari raya yang penuh berkah:
"Agar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa di dalam agama kita terdapat kelapangan. Sesungguhnya aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan toleran."
4 Bentuk Syukur yang Hakiki kepada Allah SWT
Hikmah ketauhidan dalam udhiyah terdapat pada rasa syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebab, sanjungan dan pujian keagungan hanyalah milik Allah semata. Untuk itulah takbir dan tahmid dikumandangkan hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik, mengisyaratkan Dialah yang berhak dipuji dan disyukuri dalam semua keadaan. Bahkan, kalimat syukur pun sesungguhnya tidak cukup untuk membalas segala nikmat Allah. Bukankah Allah Ta'ala berfirman:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya."
Maka, pelaksanaan udhiyah dengan mengorbankan sebagian harta merupakan bentuk tashdiq (pembenaran) atas perintah-Nya. Padahal, harta yang dikeluarkan itu pun semata-mata berasal dari karunia Allah Yang Maha Kaya.
"Milik-Nyalah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
Oleh sebab itu, takbir, tahmid, dan tahlil hendaklah mendominasi ruang hati dan pikiran sebagai bentuk kepasrahan diri kepada-Nya 'Azza wa Jalla; bahwa tiada yang berhak disembah, disanjung, dan dipuja selain Allah 'Azza wa Jalla...
5 Pembersih Hati dan Kesempatan Memperbaiki Diri
Iduladha merupakan kesempatan agung untuk memperbaiki kondisi diri, menyatukan kembali yang terserak, serta mengosongkan hati dari sifat iri, dengki, dendam, permusuhan, dan kebencian.
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."
6 Merangkai Sifat Zikrullah dan Keteladanan Ujian
Keseluruhan prosesi udhiyah merangkai sifat zikrullah (mengingat Allah) bagi orang yang mau mengambil pelajaran, sekaligus menjadi nasihat bagi orang yang bertakwa. Hal ini tecermin dari keberhasilan Ibrahim dan Ismail 'alaihimas-salam menempuh ujian besar dengan sempurna tanpa kekurangan sedikit pun. Ini menjadi nasihat bagi kita tentang kesucian jiwa mereka dalam ketauhidan dan kuatnya keyakinan kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku." Allah berfirman: "Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang zalim."
7 Penggabungan Dua Sifat Pengorbanan Harta (Itlaf & Tamlik)
Udhiyah memuat sifat pengorbanan yang berbeda dari ibadah maliyah (harta) lainnya. Berkorban harta terdiri atas dua jenis:
- Bithariqatit-tamlik (mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki), seperti sedekah.
- Bithariqil-itlaf (mengalirkan atau menuntaskan harta untuk menghentikan kebatilan), seperti membebaskan hamba sahaya.
Adapun dalam udhiyah, kedua sifat pengorbanan tersebut tergabung. Yakni, terdapat sifat takarub bi-iraaqatid-dam (mengalirkan darah hewan kurban) yang termasuk itlaf, serta menyedekahkan dagingnya yang termasuk tamlik. Dengan demikian, tercurahkanlah harta dan jiwa dalam satu peribadatan sebagai bentuk penghambaan mutlak kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari Nahr (Iduladha) yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu telah sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah, maka berbuat baiklah kamu dengan penuh kerelaan jiwa terhadapnya."
8 Simbol Kedekatan Kedudukan Rasulullah SAW dengan Ibrahim A.S.
Siar dan syariat udhiyah sebagai keteladanan Ibrahim A.S. menunjukkan kedekatan serta tingginya kedudukan Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Ibrahim A.S. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang yang beriman."
Demikianlah sekilas hikmah ketauhidan dalam ibadah udhiyah. Pengorbanan harta dan jiwa di dalamnya merupakan bentuk ketaatan serta penyerahan diri kepada Zat Yang Maha Tinggi.
Tidak ada kemampuan, kelapangan, dan kemudahan melainkan semuanya berasal dari rahmat Allah 'Azza wa Jalla. Marilah kita sucikan jiwa dari segala bentuk dan sifat pemberhalaan dengan menumbuhkan iman ketauhidan yang murni, serta meluruskan niat, sikap, dan kaifiat pelaksanaan udhiyah di hari yang mulia ini.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ،
Akhirnya, marilah kita bersama-sama melapangkan hati untuk bermunajat memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga setiap harapan dan hajad kita diperkenankan serta diijabah, diampuni setiap kesalahan yang besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi, serta diberi penjagaan dalam setiap gerak langkah hingga sampai pada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ
رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ
رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلْتَ وَٱتَّبَعْنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِىٓ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ
رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَٱغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik