4.7.23

Hikmah Ketauhidan dalam Udhhiyyah

(Khutbah Idul Adha 1444H)

Hikmah ketauhidan dalam Kurban

إِنَّ الحَمدَ للهِ نَحمَدُهُ وَنَستَعِينُهُ وَنَستَغفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِن شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعمَالِنَا مَن يَهدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَن يُضلِل فَلاَ هَادِيَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَن لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ

وقال الله تعالى في كتابه الكريم :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران١٠٢)
اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (الأحزاب٧٠)

أما بعد..

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرة وأصيلً

لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله ولُزوم طاعته، فالتقوى سببٌ للسعادة والنجاة في الدُنيا والآخرة، وأُحذّركم ونفسي من مُخالفته وعصيان أوامره.

معاشر المُسلمين،

Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang telah menurunkan Rahmat-Nya kepada seluruh makhluqNya:

Pertama: kita adalah manusia yang telah dipilih Allah sebagai makhluq dengan sebaik-baik bentuk, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ أَحۡسَنِ تَقۡوِیمࣲ (التين ٤)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Yang kedua, manusia diberikan hidayah dan taufiq sehingga dapat menjalani hidup dalam tuntunan syari'at yang akan mengantarkan pada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Yang ketiga, sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dikaruniakan-Nya kepada kita adalah nikmat syari'at Islam, yakni nikmat iman dan islam.

Dan kita saat ini berada di hari iidul Adhha yang menjadi salah satu syari'at dan hari raya besar kaum Muslimin yang didalamnya terdapat syari'at Adhaahi yang kita kenal sebagai ibadah qurban, yaitu sunnatu abiina Ibraahiim ‘alaihissalam wa sunnatu nabiyyinaa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mana Allah 'Azza wa Jalla menjadikan udhhiyyah ini sebagai salah satu bentuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketaatan dalam ketauhidan, terlebih lagi ibadah qurban ini memuat banyak sekali kebaikan pada setiap helai rambut dan bulu hewan qurban, dan sesungguhnya amaliyah paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim pada hari Idul Adha setelah shalat adalah:

التَّقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِذَبحِ الأَضَاحِي

Taqarrub kepada Allah dengan penyemblihan hewan qurban

Yakni menyembelih hadyu (hewan qurban) dalam rangka memenuhi seruan Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana diperintahkan dalam al-Quran:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ (الكوثر ٢)

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah

Perhatikan dalam ayat ini, Allah Ta'ala menyuruh kita untuk melepaskan semua bentuk pemberhalaan, semua bentuk peribadatan kepada selain Allah, maka ayat ini sekaligus memuat ungkapan ta'ridh, sindiran dan kecaman terhadap orang-orang musyrik karena mereka beribadah, sholat, sujud dan berkurban untuk berhala. Subhaanallaahi 'ammaa yusyrikuun.

Idul Adha 1444 H

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ،

Sungguh besar nikmat ketauhidan, dimana Allah Ta’ala telah mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya iman dengan mengutus manusia terpilih, beliau adalah khatamul anbiya'i walmursalin, sayyiduna almusthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

معاشر المسلمين،

Hari raya dalam Islam merupakan deklarasi atas kemerdekaan seorang hamba dari segala bentuk pemberhalaan, oleh sebab itu maka nilai-nilai ketauhidan dan keikhlashan harus dirasakan semakin menguat dan mengakar didalam jiwa setiap Muslim, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibraahiim dan Ismail 'alaihimashsholaatu wassalaam, yang telah mengorbankan seluruh jiwa dan raga mereka demi memurnikan ketauhidan dalam jiwa, mereka serahkan seluruh cinta mereka hanya kepada Rabbnya 'Azza wa Jalla, sifat istislam mereka kepada Allah menjadi uswah hasanah yang abadi sepanjang masa, begitu pula uswah dan qudwah Nabi Muhammad saw sebagai Rasul yang telah diutus untuk menyempurnakan millah Ibraahiim as, sebagaimana Allah Ta'ala telah menyuruh Nabi saw menyampaikan ayat:


قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ (Al-An'aam:161)

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".

معاشر المسلمين،

Penting bagi kita dalam momentum idul adhha ini, untuk merenungkan kembali, cek dan ricek sedalam apa iman ketauhidan telah menancap dalam jiwa kita, seyogyanya dapat kita latih dan rasakan ketika datang panggilan berkurban ini, apakah hadir perasaan taat kepada Allah atas seruan berkurban ini, ataukah yang hadir justru sifat sombong karena telah mampu membeli hadyu sebagai hewan kurban dengan harga yang tinggi yang kemudian dipertontonkan kepada orang-orang dengan penuh kebanggaan. Maka seharusnya yang hadir dalam hati adalah sifat ketundukkan kepada Allah 'Azza wa Jalla yang menghilangkan sifat suka dan senang dengan pujian, sanjungan dan pandangan dari makhluq, maka bila hadir dalam jiwa rasa berharap hanya demi mendapatkan keridhoan Allah dan nilai taqwa di Sisi-Nya maka itulah bagian dari hakikat ketauhidan.
Kemudian bagi yang belum mampu melaksanakan udhhiyyah, minimal hadir munajat dan istighfar kepada Allah agar diberikan kelapangan di kemudian hari, bukan sikap tak acuh karena menganggap udhhiyyah hanya sebagai rutinitas budaya semata, wal'iyaadzu billah.

الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Untuk itu mari kita sama-sama cermati beberapa hikmah ketauhidan dalam pelaksanaan udhhiyyah ini, dan semoga kita mampu meraihnya serta terbebas dari setiap hal yang mengotori iman ketauhidan:

1.  Udhhiyyah merupakan bentuk ittiba kepada millah nabi Ibraahim ‘alaihiassalam, hikmahnya adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan, Allah Ta'ala berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (النحل :123)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.

معاشر المسلمين

Millah Ibraahim as adalah diinul-Islam yang memerdekakan manusia dari perbudakan hawa nafsu dan pemberhalaan, maka udhhiyyah adalah salah satu sarana menghidupkan sunnah dan menjauhkan diri dari kemusyrikan.

 

2.   Udhhiyyah memuat hikmah kesabaran dalam ketauhidan, karena jiwa lebih memilih untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah 'Azza wa Jalla daripada kecintaan terhadap makhluq. Mari kita cermati ayat yang memuat kisah Ibraahim dan Ismail 'alaihimassalaam, Allah berfirman dalam surat Ashshaffat: 102-111:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

Maka ketika ia (Ismail) itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣)

ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya pada pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥)

Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (١٠٦) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧)

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (١٠٨) سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (١٠٩) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١١٠) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (١١١)

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

3.  Syari'at udhhiyyah membuka ruang kelapangan bagi keluarga dan kerabat serta tetangga dan sahabat, terlebih lagi kepada para faqir miskin, yang sesungguhnya bila pelaksanaan udhhiyyah ini benar niyat dan kaifiyatnya, seharusnya tumbuh kelembutan dan kasih sayang antar sesama manusia apalagi sesama muslim dimana mereka berkumpul, bersatu padu saling bantu membantu dalam menuntaskan hajat udhhiyyah ini, maka sudah seharusnya ruh ketauhidan dapat dirasakan menggema di setiap penjuru kaum muslimin. Nabi saw pernah bersabda pada hari iid yg penuh berkah:

لِتَعْلَمَ يهودُ أنّ في دينِنا فُسْحةً، إنِّي أُرْسِلْتُ بحنيفيَّةٍ سَمْحةٍ.

(عن عائشة أم المؤمنين) ابن حجر العسقلاني(ت ٨٥٢)، تغليق التعليق ٢‏/٤٣ • إسناده حسن

Supaya Yahudi tahu bahwa sesungguhnya agama kita ini lapang, sesungguhnya aku ini diutus membawa agama yang lurus dan toleran.

4.    Hikmah ketauhidan dalam udhhiyyah, juga ada dalam rasa syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla, karena sanjungan dan pujian keagungan hanyalah milik Allah semata, untuk itulah takbir dan tahmid dikumandangkan hingga berakhirnya hari-hari tasyrik. Mengisyaratkan DIA lah yang berhaq dipuji dan disyukuri dalam semua keadaan, bahkan kalimat syukur pun sesungguhnya tiada mencukupi terhadap segala nikmat Allah, bukankah Allah Ta'ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ [إبراهيم ٣٤]

Dan jika kamu menghitung Nikmat Allah, maka kamu tidak dapat menghitungnya

Maka pelaksanaan udhhiyyah dengan mengorbankan sebagian harta, merupakan bentuk tashdiq(membenarkan) atas perintah-Nya, padahal harta yg dikeluarkan pun, itu semata-mata karena karunia Allah Yang Maha Kaya,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (الحج ٦٤)

Milik-Nya lah segala yang dilangit dan segala yang di bumi dan sesungguhnya Allah Dia benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji

Oleh sebab itu maka takbir, tahmid dan tahlil hendaklah mendominasi sebagian ruang hati dan fikiran sebagai bentuk kepasrahan diri kepada-Nya 'Azza wa Jalla, bahwa tiada yang berhak disembah, disanjung, dipuji dan dipuja selain dari Allah 'Azza wa Jalla...

أيها المؤمنون

5.   Idul Adhha merupakan kesempatan yang agung untuk memperbaiki kondisi kita, menyatukan kembali yang terserak, dan mengosongkan hati  dari sifat iri dengki dan dendam, dari permusuhan dan kebencian.

 لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۖ فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ [الحج ٢٨]

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir

6.  Keseluruhan prosesi udhhiyyah merangkai sifat dzikrullah (mengingat Allah) bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan menjadi nasihat bagi orang yang bertaqwa akan keberhasilan Ibraahim dan Ismail 'alaihimassalaam atas ujian besar yg mereka hadapi dan mereka lulus ujian dengan sempurna tanpa ada sedikitpun kekurangan. Itu memuat nasihat bagi kita akan kesucian jiwa mereka dalam ketauhidan dan kuatnya keyakinan kepada Allah Azza wa jalla.

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ [البقرة ١٢٤]

Dan (ingatlah), ketika ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim"

7.      Udhhiyyah memuat sifat pengorbanan yang berbeda dari ibadah maliyah(harta) lainnya, dimana berkorban harta itu ada 2 jenis:

1.      Bithariqotittamlik (mengeluarkan sebagian harta yg dimiliki) seperti shodaqah.

2.      Bithariqil Itlaaf (mengalirkan seluruh harta untuk menghentikan kebatilan) seperti membebaskan hamba sahaya dari perbudakan.

Adapun dalam udhhiyyah, tergabung kedua sifat pengorbanan tersebut, yakni dalam udhhiyyah ada sifat taqorrub bi irooqotiddammi (mengalirkan darah hadyu sampai habis) maka ini termasuk itlaaf, kemudian menshadaqahkan dagingnya maka ini termasuk tamlik. Dengan demikian tercurahkanlah harta dan jiwa dalam satu peribadatan sebagai bentuk penghambaan mutlak kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Nabi saw bersabda:

ما عمِل آدميٌّ من عملٍ يومَ النحرِ أحبَّ إلى اللهِ من إهراقِ الدمِ، إنها لتأتي يومَ القيامةِ بقرونِها وأشعارِها وأظلافِها، وإنّ الدمَ ليقعُ مِنَ اللهِ بمكانٍ قبل أنْ يقعَ مِنَ الأرضِ فطيبوا نفْسًا لها.(عن عائشة أم المؤمنين), أخرجه الترمذي (١٤٩٣)، وابن ماجه (٣١٢٦) باختلاف يسير.

Tidaklah anak adam beramal diantara satu amalan pada hari raya idul adhha yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah hewan kurban, sesungguhnya ia benar-benar akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya dan kukunya, dan sesungguhnya darah hewan kurban tersebut akan sampai lebih dulu (nilainya) kepada Allah sebelum darah tersebut jatuh ketanah, maka berlakuk baiklah kamu terhadap jiwa

8.   Syi'ar dan syari'at udhhiyyah sebagai uswah Ibraahiim as, menunjukkan kedekatan dan tingginya kedudukan Rasulullah Muhammad saw bersama Ibraahim as. Allah berfirman:

إِنَّ أَوْلَى ٱلنَّاسِ بِإِبْرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِىُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلْمُؤْمِنِينَ [آل عمران ٦٨]

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

معاشر المسلمين،

Demikianlah sekilas hikmah ketauhidan dalam ibadah udhhiyyah, maka sifat pengorbanan harta dan jiwa didalamnya, merupakan bentuk ketaatan dan penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Tinggi.

Maka tiada kemampuan, kelapangan dan kemudahan, melainkan semuanya karena Rahmat Allah 'Azza wa Jalla.
Mari kita sucikan jiwa kita dari segala bentuk dan sifat pemberhalaan, dengan menumbuhkan iman ketauhidan yang murni serta meluruskan niyat, sifat dan kaifiyat pelaksanaan udhhiyyah di hari yang mulia ini.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
معاشر المسلمين،

Akhirnya, mari kita sama-sama melapangkan hati kita untuk bermunajat memohon kepada Allah Yang Maha segala-galanya, semoga diperkenankan dan di ijabah setiap harapan dan hajat kita semua, diampuni setiap kesalahan yang besar maupun kecil, yang nampak maupun tersembunyi serta diberi penjagaan dalam setiap gerak langkah kita hingga sampai pada tujuan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

اللهم صل وسلم وزد وبارك على عبدك ورسولك نبينا محمد ، وعلى آل بيته ، وعلى الصحابة أجمعين ، وخص منهم الخلفاء الأربعة الراشدين ، أبي بكر وعمر وعثمان وعلي والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين،

اللَّهمَّ أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين ، وأذل الشرك والمشركين ، ودَمِّر أعداء الدين ، واجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين ، اللهم من أراد المسلمين بسوء فأشغله بنفسه ، واجعل تدبيره تدميراً عليه يارب العالمين.

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ.

رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلْتَ وَٱتَّبَعْنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ.

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِىٓ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَۚ 

رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ

رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ.

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَٱغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القُربى، وينهى عن الفحشاء والمُنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون، سبحان ربك رب العزة عمّا يصفون، وسلامٌ على المُرسلين، والحمد لله رب العالمين.

أقولُ قَولي هَذا، وأَستغفِرُ اللهَ لي ولَكُم والعفو منكم والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته...


0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik