Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Kaifiyat Sujud & Dzikir Pada Rukuk & Sujud

Kaifiyat Sujud & Dzikir Pada Rukuk & Sujud

17. Tuma’ninah Dalam Sujud

Sujud dan tuma’ninahnya termasuk rukun di antara rukun-rukun shalat. Dalilnya telah disebutkan terdahulu pada hadits al-musi'u shalatahu.

Adapun sujud, meliputi tujuh anggota badan sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنِ الْعَبَّاسِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا سَجَدَ الرَّجُلُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ: وَجْهِهِ، وَكَفَّيْهِ، وَرُكْبَتَيْهِ، وَقَدَمَيْهِ."
(Musnad Ahmad t. Ar-Risalah 3/289, Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim)
"Dari al-‘Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Apabila seseorang bersujud, maka sujud bersamanya tujuh anggota badan: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya.'"

Hadits ini sebagai dalil wajibnya sujud dengan tujuh anggota badan tersebut. Hanya terjadi khilafiyah di antara 'ulama terkait kening/dahi dan hidung, apakah kedua-duanya wajib menyentuh bumi atau boleh salah satunya? Yang rajih memang kesempurnaan kaifiyat sujud adalah dengan menyentuhkan dahi dan hidung ke bumi, sebagaimana Ibnu Rajab menerangkannya dalam Fathul-Bari pada bab as-sujud ‘alal-anfi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ».
(Fathul-Bari karya Ibnu Rajab 7/255, Bab As-Sujud 'alal-Anfi)
"Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Aku diperintah agar bersujud pada tujuh tulang (anggota badan) yaitu pada dahi —dan Beliau menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya— kedua tangannya, kedua lututnya, dan pada jemari kedua kakinya, dan kami tidak boleh menahan pakaian dan rambut.' [1]"

Adapun sujudnya hidung menyentuh bumi hukumnya sunnah sebagaimana Ibnu Rajab mengatakan:

وَقَالَ كَثِيرٌ مِنَ العُلَمَاءِ: السُّجُودُ عَلَى الأَنفِ مُستَحَبٌّ غُيرُ وَاجِبٍ، وَرُوِيَ عَنِ الحَسَنِ وَالشَّعِبِي وَالقَاسِمِ وَسَالِمٍ، وَهُوَ قَولُ الشَّافِعِي وَسُفيَانَ وَأَحمَدَ.
(Fathul-Bari karya Ibnu Rajab 7/258)
"Mayoritas ‘ulama berkata: sujud di atas hidung itu adalah mustahab (disukai/sunnah) bukan wajib, dan telah diriwayatkan dari al-Hasan, asy-Sya’bi, al-Qasim dan Salim, dan itu juga adalah ucapan Imam Syafi’i, Sufyan dan Ahmad."

Posisi Jemari Kaki Ketika Sujud

Dalam posisi sujud, ujung jemari tangan dan kaki diusahakan menghadap ke kiblat, sementara posisi telapak tangan menekan bumi dan sejajar dengan pundak (atau sejajar dengan telinga) di mana posisi lengan hingga sikut tidak terhampar ke bumi, bahkan kedua tangan terbuka lebar dan jauh dari lambung. Kemudian telapak jemari kaki menekan bumi sementara ujung-ujung jarinya mengarah ke kiblat. Mari kita cermati hadits-hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ.
(Sahih Al-Bukhari 1/87 & Sahih Muslim 1/356)
"Dari ‘Abdullah bin Malik ibnu Buhainah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat, Beliau membuka lebar-lebar di antara kedua tangannya sehingga nampak putihnya kedua ketiak Beliau."
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الكَلْبِ.
(Sahih Al-Bukhari 1/164 & Sahih Muslim 1/355)
"Dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Lurus serta seimbanglah kalian dalam bersujud, dan janganlah seseorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti terbentangnya anjing.'"
قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ: أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ... وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا، وَاسْتَقْبَلَ بِأَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ.
(Sahih Ibnu Khuzaimah 1/327)
"Abu Humaid as-Sa’idiy berkata [2]: '...Dan apabila sujud, Beliau meletakkan kedua tangannya dengan sikap ghair muftarisy (tidak menghamparkan lengannya serta perut tidak bertumpu pada kedua paha), dan tidak juga memposisikan kedua tangannya di bawah perutnya, dan Beliau menghadapkan jari jemari kakinya ke arah kiblat.'"

Bacaan Pada Rukuk Dan Sujud

Dalam rukuk dan sujud terdapat bacaan dzikir yang khusus, dan dilarang untuk membaca Al-Qur'an di dalamnya, sebagaimana diterangkan dalam hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا... أَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ... وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ».
(HR. Muslim - Subulus Salam 1/266)
"Dari Ibnu ‘Abbas ra berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku telah dilarang membaca Al-Qur'an pada rukuk ataupun sujud. Adapun rukuk maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Dan adapun ketika sujud maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, maka layak untuk diijabah.'"

Hadits di atas sebagai dalil haramnya membaca Al-Qur'an pada waktu rukuk dan sujud. Adapun bacaan rukuk dan sujud secara khusus disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya sebagai berikut:

  1. سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلائِكَةِ والرُّوحِ
    (HR. Muslim No. 487)
    "Subbuuhun qudduusun Rabbul-malaaikati war-ruuh."

    Dari Qatadah dari Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir bahwa ‘Aisyah mengabarkan kepadanya: Rasulullah ﷺ mengucapkan pada rukuk dan sujudnya kalimat di atas.

  2. سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنا وبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
    (HR. Bukhari No. 794 & Muslim No. 484)
    "Subhaanakallaahumma Rabbanaa wa bihamdika Allaahummaghfir lii."

    Dari ‘Aisyah ra, beliau berkata: Nabi ﷺ berucap pada rukuk dan sujudnya kalimat tersebut. Bacaan Nabi ﷺ ini merupakan pengamalan dari perintah Allah SWT:

    فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ واسْتَغْفِرْهُ [An-Nasr: 3]

    "Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan memohon ampunlah kepada-Nya."

    Adapun lamanya sujud Nabi ﷺ yang paling singkat, berdasarkan perkiraan para sahabat adalah seukuran bila seseorang mengucapkan “subhaanallah wabihamdihi” sebanyak 3 kali (HR. Abu Dawud No. 885).

  3. سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ (Saat Rukuk)
    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Saat Sujud)
    (Musnad Ahmad 38/276, Isnad Shahih)
    Rukuk: "Subhaana Rabbiyal-‘Azhim" | Sujud: "Subhaana Rabbiyal-A’la"

    Dari Hudzaifah ra berkata: Saya shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau mengucapkan dalam rukuknya: “Subhaana Rabbiyal-‘Azhim”, dan dalam sujudnya: “Subhaana Rabbiyal-A’la”.

    Anjuran membacanya minimal 3 kali selaras dengan pandangan para ulama dan anjuran Ibnul-Mubarak:

    أَسْتَحِبُّ لِلإِمَامِ أَنْ يُسَبِّحَ خَمْسَ تَسْبِيحَاتٍ لِكَيْ يُدْرِكَ مَنْ خَلْفَهُ ثَلاثًا
    "Saya anjurkan kepada imam untuk bertasbih sebanyak lima kali tasbih supaya makmum dapat terpenuhi tiga kali ucapan." (Mukhtashar Al-Ahkam 2/112)
  4. Dzikir yang Panjang (HR. Muslim No. 771):
    وَإِذَا رَكَعَ، قَالَ: «اللهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي»
    "Allaahumma laka raka’tu wa bika aamantu wa laka aslamtu khasya’a laka sam’i wa bashari wa mukhkhi wa ‘azhmi wa ‘ashabi." [3]
    وَإِذَا سَجَدَ، قَالَ: «اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ»
    "Allaahumma laka sajadtu wa bika aamantu wa laka aslamtu sajada wajhi lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu tabaarakallaahu ahsanul-khaaliqiin." [4]
  5. Doa Ampunan Dosa Saat Sujud:
    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وجِلَّهُ، وأَوَّلَهُ وآخِرَهُ وعَلانِيَتَهُ وسِرَّهُ
    (HR. Muslim No. 483 & Abu Dawud No. 878)
    "Allaahummaghfir lii dzanbi kullahu diqqahu wa jillahu wa awwalahu wa aakhirahu wa ‘alaaniyatahu wa sirrahu." [5]

    Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengucapkan doa tersebut dalam sujudnya.

📚 Catatan Kaki & Penjelasan Lafazh (Klik untuk membaca)

[1] Lafazh nakfita (نَكْفِتَ) kedudukannya manshub. Maknanya diterangkan oleh Ibnu Malik dalam Syarhu Mashabihis-Sunnah: Kami dilarang mendekap/menghimpun kain baju dan rambut dengan kedua tangan ketika berhamburan demi mencegah debu, melainkan hendaklah dibiarkan hingga jatuh ke bumi agar semua anggota badan dan pakaian ikut bersujud bersamanya.

[2] Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, penjelasan Abu Humaid ra diterangkan lebih rinci hingga sampai pada penjelasan cara duduk tahiyyat awal dan akhir.

[3] Artinya: "Ya Allah, untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Untuk-Mu aku tundukkan pendengaranku, penglihatanku, pikiranku, tulangku, dan urat sarafku."

[4] Artinya: "Ya Allah, untuk-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Telah bersujud wajahku kepada Yang Menciptakannya dan membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta."

[5] Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang awal dan yang akhir, serta dosa yang nampak dan yang tersembunyi."

Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik