13.11.22

berdiri dalam shalat

Berdiri dan Posisi Kedua Tangan dalam Shalat

1.     Berdiri untuk shalat

    Yang utama, sholat harus dilakukan dengan berdiri kecuali bila ada udzur, sebagaimana akan dijelaskan pada dalil-dalil berikut:

Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ [البقرة ٢٣٨]

Peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk

[عن عمران بن الحصين] كانَتْ بي بَواسِيرُ، فَسَأَلْتُ النبيَّ ﷺ عَنِ الصَّلاةِ، فَقالَ: صَلِّ قائِمًا، فإنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقاعِدًا، فإنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلى جَنْبٍ. (صحيح البخاري ١١١٧) 

(Dari ‘Imran bin al-Hushain): Saya dalam kondisi terkena penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat, maka Beliau bersabda: Shalatlah sambil berdiri, namun bila kamu tidak mampu maka shalatlah sambil duduk, kemudian bila kamu tidak mampu duduk maka shalatlah sambil berbaring      

sifat shalat

Para ‘ulama menjelaskan bahwa yang pokok pada shalat fardhu harus dikerjakan sambil berdiri kecuali bila sakit, namun untuk shalat sunnat diperbolehkan shalat sambil duduk meskipun sebenarnya ia sanggup bila sambil berdiri, hanya saja nilai pahalanya setengah, dasar hukumnya diambil masih dari hadits ‘Imran bin al-Hushain:

سَأَلْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عليه وسلَّمَ عن صَلاةِ الرَّجُلِ قاعِدًا، فَقالَ: إنْ صَلّى قائِمًا فَهو أفْضَلُ ومَن صَلّى قاعِدًا، فَلَهُ نِصْفُ أجْرِ القائِمِ، ومَن صَلّى نائِمًا، فَلَهُ نِصْفُ أجْرِ القاعِدِ.( عمران بن الحصين  -  صحيح البخاري ١١١٦)

Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalatnya seseorang yang sambil duduk, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bila ia shalat sambil berdiri maka itu lebih utama, dan siapa yang shalat sambil duduk maka baginya setengah dari pahala shalat berdiri, dan siapa yang shalat sambil berbaring maka baginya setengah dari pahala shalat sambil duduk

      Sebagaimana pula halnya shalat sunnat boleh dikerjakan sambil duduk, maka boleh juga dikerjakan diatas kendaraan, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat witir ketika safar diatas kendaraannya:

عن ابْنِ عُمَرَ قَالَ: (كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَم يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ، حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ، يُومِئُ إِيمَاءً صَلاةَ اللَّيْلِ، إِلا الْفَرَائِضَ، وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ) شرح صحيح البخارى لابن بطال (2/ 583)

Ibnu ‘Umar ra berkata: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dalam perjalanan diatas kendaraannya dimana Beliau menghadap sesuai dengan arah kendaraannya, Beliau manggut-manggut sebagai isyarat shalat pada shalat malam, (Beliau melakukannya) selain pada shalat fardhu, dan Beliau mewitirkan shalat diatas kendaraannya.

Para ‘ulama banyak menerangkan bahwa sebagian hukum dalam shalat sunnat berbeda dengan shalat wajib sebagaimana dalam hadits ini, Ibnu ‘Umar ra menerangkan kaifiyat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan diatas kendaraan, maka rukuk dan sujud diganti dengan isyarat dengan menggerakkan kepala sebagai isyarat rukuk atau sujud, isyarat untuk sujud dilakukan lebih rendah daripada isyarat untuk rukuk. Para pensyarah hadits juga menjelaskan bahwa takbiratul ihram dilakukan dengan menghadapkan tunggangan kearah kiblat terlebih dahulu, namun diperbolehkan pula dalam kondisi darurat seperti tengah berada dalam kekhawatiran atau ketakutan seumpama dalam perang, tidak mengapa untuk tidak menghadap kearah kiblat.  

Hal ini merupakan bagian dari kemudahan dan keringanan syari’at dalam pelaksanaan shalat sunnat.

            Kemudian bila dalam kondisi udzur yang mengharuskan seseorang shalat sambil duduk maka ketika itu nilai pahala tetap sempurna, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari:

إذا مَرِضَ العبدُ أوْ سافرَ كُتِبَ لهُ من العملِ ما كان يَعْملُ وهو صحيحٌ مُقيمٌ.

ابن تيمية (ت ٧٢٨)، مجموع الفتاوى ١٠‏/٤٤١  -  صحيح  - أخرجه البخاري (٢٩٩٦) 

Apabila seorang hamba sakit atau safar maka ditetapkan baginya pahala amal sebagaimana ia beramal ketika sehat lagi muqim.

Dengan demikian maka siapa yang beramal shalih baik itu shalat sunnat, shaum sunnat ataupun yang lainnya, kemudian ia safar atau tertimpa sakit sehingga menahannya untuk menuntaskan amal sebagaimana mestinya, tetap Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pahala yang sempurna untuknya sebagaimana ketika ia sehat atau muqim.

Bila imam shalat sambil duduk maka makmum harus ikut duduk

        Ketentuan berdiri dalam shalat apabila berjama’ah maka terikat dengan keadaan dan posisi imam dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عن جابر بن عبدالله: اشْتَكى رَسولُ اللهِ صَلّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فَصَلَّيْنا وراءَهُ وهو قاعِدٌ، وأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النّاسَ تَكْبِيرَهُ، فالْتَفَتَ إلَيْنا فَرَآنا قِيامًا، فأشارَ إلَيْنا فَقَعَدْنا فَصَلَّيْنا بصَلاتِهِ قُعُودًا فَلَمّا سَلَّمَ قالَ: إنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فارِسَ والرُّومِ يَقُومُونَ على مُلُوكِهِمْ، وهُمْ قُعُودٌ فلا تَفْعَلُوا ائْتَمُّوا بأَئِمَّتِكُمْ إنْ صَلّى قائِمًا فَصَلُّوا قِيامًا وإنْ صَلّى قاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا.(صحيح مسلم ٤١٣) 

Dari Jabir bin ‘Abdillah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa Beliau sakit, maka kami shalat dibelakang Beliau dan Beliau duduk, dan Abu Bakr ra memperdengarkan suara takbirnya kepada orang-orang, kemudian beliau(Abu Bakr) menoleh kepada kami lalu melihat kami dalam kondisi berdiri, maka beliau berisyarat kepada kami, lalu kamipun duduk, maka kami shalat sesuai dengan shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil duduk. Maka setelah selesai salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hampir saja kalian tadi melakukan perbuatan kaum persia dan romawi , mereka berdiri dihadapan raja-raja mereka padahal mereka (raja-raja) duduk, maka janganlah kalian lakukan. Ikutilah imam kalian, bila ia shalat sambil berdiri maka shalatlah kalian sambil berdiri, dan jika ia shalat sambil duduk maka shalatlah kalian sambil duduk.

            Hadits diatas mengisyaratkan agar makmum ta’at dan mengikuti imam, artinya bagaimana posisi imam maka makmum harus mengikutinya, hadits ini pun mengajari kita untuk tidak bertasyabuh dengan orang-orang musyrik.

Catatan:

Bila shalat harus dilakukan berbaring, para ahli ilmu berpendapat bila mampu memiringkan badan maka miringkan kearah kiblat bila tidak mampu maka boleh terlentang dengan punggung, adapun posisi kaki berada diarah kiblat.

Sunnahnya mengarahkan pandangan ketempat sujud dalam shalat, berdasarkan hadits:

كان ﷺ إذا صلى طأطأَ رأسَه، ورمى ببصرِه نحو الأرضِ. (الألباني (ت ١٤٢٠)، صفة الصلاة ٨٩  - صحيح وله شواهد)

Keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat, Beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke bumi.

2.     Niyat shalat

Berniyat dalam shalat merupakan bagian dari rukun shalat, berdasarkan Firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة :٥]

Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنَّما الأعْمالُ بالنِّيّاتِ، وإنَّما لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوى، (صحيح البخاري ١)

Sesungguhnya segala amal itu dengan niyat, dan setiap orang hanya tergantung dengan yang dia niyatkan

        Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa niyat merupakan syarat sahnya shalat, dan sebagian lagi berpendapat sebagai rukun shalat. Perbedaannya yaitu, yang berpendapat syarat maka niyat harus tetap ada(diingat) sampai shalatnya tuntas, sedangkan yang berpendapat rukun, maka niyat wajib dilakukan diawal saja, sehingga apabila ia lupa ditengah-tengah shalatnya maka lupanya tersebut tidak memadharatkannya. Adapun Ibnu Hajar rahimahullah menggabungkan dua pendapat tersebut bahwa yang rajih adalah mewujudkan atau menghadirkan niyat dengan mengingatnya diawal perbuatan adalah rukun, dan mushtahab secara hukum. Artinya tidak ada pertentangan antara rukun dan syarat. (Lihat : Tamamul-Minnah juz:1, hal:221)  

3.     Takbiratul ihram

Takbiratul ihram juga merupakan rukun dalam shalat, sehingga tidaklah shalat itu terikat kecuali dengannya. Jumhur ‘ulama bersepakat terkait ini, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِفتاحُ الصَّلاةِ الطُّهورُ، وتحريمُها التَّكبيرُ، وتحليلُها التَّسليمُ، ولا صلاةَ لمن لَم يَقرأ بالحمدُ وسورةٍ، في فريضةٍ أو غيرِها.( صحيح الترمذي ٢٣٨)

Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir, penghalalannya adalah salam, dan shalat tidak sah bagi orang yang tidak membaca alhamdu(alfatihah) dan surat, baik dalam shalat fardhu ataupun sunnat.

4.     Mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbir 

Telah disinggung terkait mengangkat tangan dalam shalat pada hadits-hadits yang terdahulu, silakan merujuk ke artikel: Keutamaan Shalat, kedudukan, dan sifat shalat

Tidak ada perselisihan dikalangan ahli ilmu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan ketika membuka shalat. Adapun sifat dalam mengangkat tangan dijelaskan pula dalam hadits:

عن أبي هُرَيْرةَ قالَ: كانَ رسولُ اللَّهِ ﷺ إذا دَخلَ في الصَّلاةِ رفعَ يَديهِ مَدًّا. (صحيح أبي داود ٧٥٣)

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila memulai shalat, Beliau mengangkat kedua tangannya dengan lebar.

Dalam riwayat yang lain dijelaskan:

ولم يُفَرِّجْ بَينَ أَصَابعِهِ، ولم يَضُمَّها.( صحيح ابن خزيمة ١‏/ ٥٢٣)

takbir dan mengangkat tangan dalam shalatDan Beliau tidak membuka lebar jari jemarinya, dan tidak juga merapatkannya

Adapun memposisikan kedua tangan, boleh sejajar dengan bahu atau sejajar dengan telinga, boleh mengangkat tangan dahulu kemudian bertakbir sebagaimana telah dijelaskan Abu Humaid as-Sa’idy ra pada hadits terdahulu, atau boleh pula mengangkat tangan bersamaan dengan takbir sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra:

رَأَيْتُ النبيَّ ﷺ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ في الصَّلاةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حتّى يَجْعَلَهُما حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وإذا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ، وإذا قالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ، فَعَلَ مِثْلَهُ، وقالَ: رَبَّنا ولَكَ الحَمْدُ، ولا يَفْعَلُ ذلكَ حِينَ يَسْجُدُ، ولا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ.( صحيح البخاري ٧٣٨)

Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai takbir pada shalat, maka Beliau ketika bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga membuatnya sejajar dengan kedua pundaknya, dan ketika bertakbir untuk rukuk Beliau pun melakukan semisalnya, dan ketika Beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah Beliau pun melakukan semisalnya dan mengucapkan Rabbana wa lakalhamdu, dan Beliau tidak melakukan demikian ketika sujud begitupun ketika bangkit dari sujud.

5.     Menyimpan tangan kanan diatas tangan kiri dan menempatkannya di dada

Keumuman sifat mengangkat kedua tangan dalam shalat telah dijelaskan pada tema sifat shalat,  adapun memposisikannya di dada memang terdapat khilafiyah, yang pertama penulis ingin menyampaikan terlebih dahulu penjelasan AsySyaukani dalam kitab Nailul Authar, sebagai berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بِهِمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ» وَهُوَ مُرْسَلٌ. وَهَذِهِ الرِّوَايَاتُ مَذْكُورَةٌ عَنْ أَبِي دَاوُد كُلُّهَا لَيْسَتْ إلَّا فِي نُسْخَةِ ابْنِ الْأَعْرَابِيِّ.( نيل الأوطار(2/ 219))

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpan tangannya yang kanan diatas tangannya yang kiri, kemudian menekankan kedua tangannya diatas dadanya, yaitu didalam shalat. Hadits ini mursal, dan terkait kaifiyat memposisikan di atas dada, periwayatan seluruhnya disebutkan dari Abu Dawud, dan tidak terdapat kecuali pada salinan Ibnu al-A’rabi

وَالْحَدِيثُ اسْتَدَلَّ بِهِ مَنْ قَالَ: إنَّ الْوَضْعَ يَكُونُ تَحْتَ السُّرَّةِ وَهُوَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهْوَيْهِ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ. وَذَهَبَتْ الشَّافِعِيَّةُ، قَالَ النَّوَوِيُّ: وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ إلَى أَنَّ الْوَضْعَ يَكُونُ تَحْتَ صَدْرِهِ فَوْقَ سُرَّتِهِ. وَعَنْ أَحْمَدَ رِوَايَتَانِ كَالْمَذْهَبَيْنِ، وَرِوَايَةٌ ثَالِثَةٌ أَنَّهُ يُخَيَّرُ بَيْنَهُمَا وَلَا تَرْجِيحَ وَبِالتَّخْيِيرِ قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَابْنُ الْمُنْذِرِ. قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي بَعْضِ تَصَانِيفِهِ: لَمْ يَثْبُتْ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي ذَلِكَ شَيْءٌ فَهُوَ مُخَيَّرٌ. وَعَنْ مَالِكٍ رِوَايَتَانِ: إحْدَاهُمَا يَضَعُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ، وَالثَّانِيَةُ يُرْسِلُهُمَا( نيل الأوطار(2/ 219))

Adapun orang yang beristidlal dengan hadits tersebut berkataSebenarnya menyimpan kedua tangan itu disekitar pusar, ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ishaq al-Marwazi dari pengikut madzhab Syafi’i, dan pegikut Syafi’i telah mengambil pendapat tersebut. An-Nawawi berkata: Jumhur ‘ulama mengatakan hingga sampai pada pendapatbahwa menyimpan kedua tangan itu adalah dibawah dada diatas pusar (pent: di ulu hati).  Dan dari Ahmad terdapat dua riwayat (yang berpendapat) seperti kedua madzhab tersebut, dan riwayat ke tiga berpendapat boleh dipilih diantara keduanya dan tidak ada tarjih untuk memilih yang mana, demikian Al-Auza’i dan Ibnul-Mundzir berpendapat. Ibnul-Mundzir berkata disebagian tulisannya: “Tidak terdapat secara pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikitpun mengenai perkara tersebut, artinya itu bersifat pilihan”. Dan dari Malik terdapat dua riwayat: yang pertama, bahwa menyimpan kedua tangan itu dibawah dada, dan yang kedua irsal (bebas, atau boleh jadi dilepas tanpa disimpan di dada atau diperut). (Nailul-Authar, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdillah asy-Syaukani al-Yamani [wafat: 1250H])

posisi tangan diatas dadaNamun demikian, walaupun hadits ini mursal, kemursalannya tetap menjadi data yang dapat digunakan sebagai hujjah bagaimanapun keadaannya, terlebih lagi tidak menyelisihi hadits shahih yang menerangkan posisi tangan kanan diatas tangan kiri yang menggenggam tangan diantara pergelangan dan sikut setelah takbiratul ihram. Selain itu telah menjadi kesepakatan jumhur ‘ulama bahwa memposisikan tangan dalam shalat itu adalah sunnah, yakni setelah takbiratul ihram maka kedua tangan itu diposisikan, tidak dilepaskan begitu saja.     

Kemudian menempatkannya didada (baik diatasnya ataupun dibawahnya) menjadi ketentuan yang boleh dipilih, dan itupun tetap terikat dengan sifat tuma’ninah dalam shalat, sehingga posisi tangan berada diantara dada dan perut nampaknya lebih tuma’ninah. Allahu a’lam.

Yang kedua, hadits yang menerangkan posisi tangan didada tersebut selaras dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang memposisikan tangan dipinggang, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَهى النبيُّ ﷺ أنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا. (]أبو هريرة[صحيح البخاري ١٢٢٠)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang shalat sambil memposisikan tangannya dipinggang

Ibnu Bathal menjelaskan makna alKhashr  yaitu seseorang memposisikan kedua tangannya pada pinggangnya, perbuatan tersebut mengisyaratkan kesombongan. (Lihat Syarah shahih Bukhari li Ibni Bathal)

        Yang ketiga, keterangan yang menunjukkan posisi tangan dibawah pusar, hadits-haditsnya jelas dha’if menurut para ‘ulama , berikut ini salah satu redaksinya:

مِنَ السنةِ في الصلاةِ وضعُ الأكُفِّ على الأكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ

Termasuk sunnah dalam shalat itu adalah memposisikan telapak tangan diatas (punggung)telapak tangan, dibawah pusar

Imam an-Nawawi menjelasakan bahwa para ‘ulama sepakat atas kedha’ifan hadits tersebut (lihat Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim)

Selanjutnya: Do'a Istiftah, do'a pembuka shalat

                       Membaca Isti'adzah, Al-Fatihah & Surat 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik