8.5.22

Manzilah, Fadhilah, Sifat dan Kaifiyat Shalat


Oleh: denherians

Keutaman shalat, sifat dan kaifiyat shalat

Bismillaahi walhamdulillaah, washsholaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah, wa ba’du.

Awal kefardhuan dalam beribadat kepada Allah setelah tauhid dan ikhlash adalah ibadah shalat sebagaimana kita ketahui dalam arkanul Islam, sebagaimana pula termaktub isyarat perintahnya dalam ayat-ayat alQuran,  diantaranya yaitu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ [التوبة ٥]

Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini turun berkaitan dengan menahan diri untuk berperang di bulan haram meskipun orang-orang musyrik menyulut peperangan, baru boleh memerangi orang-orang musyrik setelah selesai bulan haram dengan tujuan supaya mereka keluar dari kemusyrikannya dan kembali kepada tauhidullah, kemudian setelah mereka bertaubat dari kemusyrikan dan mendirikan shalat maka terjaga darah dan kehormatan mereka. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:

(عبدالله بن عمر) أُمِرْتُ أنْ أُقاتِلَ النّاسَ حتّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، ويُقِيمُوا الصَّلاةَ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ، فَإِذا فَعَلُوا ذلكَ عَصَمُوا مِنِّي دِماءَهُمْ وأَمْوالَهُمْ إلّا بحَقِّ الإسْلامِ، وحِسابُهُمْ على اللَّهِ . (صحيح البخاري ٢٥)

Aku disuruh untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah, dan mereka menegakkan shalat serta menunaikan zakat, apabila mereka melakukannya maka terjaga darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan penghisaban mereka urusan Allah

Kemudian terkait urutan kefarduan shalat setelah tauhid, dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

۞ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ [الروم ٣٠-٣١]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah

Baca juga:

Beriman Kepada Allah sebagai Fitrah

Keimanan itu Fitrah


Terdapat pula dalam salah satu hadits, isyarat kefardhuan shalat disebutkan setelah ikhlash dan tauhidullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ، وَعِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، فَارَقَهَا وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ. (الترغيب والترهيب ١‏/٣٩  •  [إسناده صحيح أو حسن أو ما قاربهما]  •  أخرجه ابن ماجه (٧٠)، والحارث في «المسند» (٧)، والبزار (٦٥٢٤) باختلاف يسير)

Barang siapa yang meninggal dunia diatas keikhlasan kepada Allah, menyembah hanya kepada Allah semata tanpa menyekutukannya dan mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka ia meninggal dunia dalam keadaan Allah ridho kepadanya

Manzilah Shalat

            Sebagaimana sekilas disinggung diatas bahwa shalat adalah rukun Islam yang ditetapkan setelah syahadat, selain itu shalat merupakan amal seorang muslim yang pertama kali dihisab sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أولُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبدُ الصَّلَاةَ، وَ أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ بِالدِّمَاءِ. (صحيح النسائي ٤٠٠٢)

Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat dan peradilan yang dijatuhkan pertama kali diantara manusia adalah pertumpahan darah

          Shalat 5 waktu merupakan perintah mutlak setelah perintah tauhidullah, dan termasuk kurikulum awal dalam mendidik umat, karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika menyebarkan Islam di Yaman maka urutan yang pertama dijalankan adalah menyeru kepada iman yaitu aqidah tauhid, dan setelah itu Mu’adz radhiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk mengajarkan shalat. Berikut ini penuturan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu: 

(عبدالله بن عباس) أنَّ النبيَّ ﷺ بَعَثَ مُعاذًا رَضِيَ اللهُ عنْه إلى اليَمَنِ، فَقالَ: ادْعُهُمْ إلى شَهادَةِ أنْ لا إلَهَ إلّا اللهُ، وأَنِّي رَسولُ اللهِ، فإنْ هُمْ أطاعُوا لذلكَ، فأعْلِمْهُمْ أنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَواتٍ في كُلِّ يَومٍ ولَيْلَةٍ، فإنْ هُمْ أطاعُوا لذلكَ، فأعْلِمْهُمْ أنَّ اللهَ افْتَرَضَ عليهم صَدَقَةً في أمْوالِهِمْ تُؤْخَذُ مِن أغْنِيائِهِمْ وتُرَدُّ على فُقَرائِهِمْ. (البخاري (ت ٢٥٦)، صحيح البخاري ١٣٩٥)

(Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, lalu beliau bersabda: Serulah mereka kepada Syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, jika mereka mentaatinya maka ajarkan kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, kemudian jika mereka mentaatinya maka ajarkan kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah mewajibkan kepada mereka shadaqah pada harta yang diambil dari para aghniya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir diantara mereka

            Kemudian karena begitu tingginya manzilah (kedudukan) shalat dalam aqidah Islam, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan peringatan keras bagi seorang Muslim yang meninggalkan shalat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu ‘anhu:

(بريدة بن الحصيب الأسلمي) العَهدُ الَّذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تركَها فَقد كَفرَ.  (صحيح - أخرجه الترمذي (٢٦٢١)، والنسائي (٤٦٣)، وابن ماجه (١٠٧٩)، وأحمد (٢٢٩٨٧)).

(Dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami): Yang menjadi jaminan (keislaman) antara kita dan mereka (munafiq atau kafir) adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir

Syaikh Abu ‘Abdirrahman ‘Adil bin Yusuf al’Azazy hafizhahullah menerangkan dalam Tamamul-Minnah, bahwa siapa yang mengingkari hukum wajibnya shalat lima waktu maka ia dihukumi kafir sebagaimana sabda Nabi saw diatas, maka hukumnya murtad dari agama, dan mengenai hal ini tidak ada ikhtilaf dari para ‘ulama. Hanya terjadi perbedaan pandangan terkait seorang muslim yang meninggalkan shalat karena malas, dimana kemalasan dari seseorang ada yang sifatnya utuh yakni ia meninggalkan shalat sampai mati, ada yang terkadang saja ia meninggalkan shalat, maka yang senantiasa meninggalkan shalat sampai mati ia dihukumi kafir sebagaimana diterangkan hadits diatas, juga terdapat penjelasan dari para sahabat:

كان أصحابُ محمَّدٍ ﷺ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ، غيرَ الصَّلاةِ. (صحيح الترمذي ٢٦٢٢ )

Adalah para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melihat sedikitpun  diantara amal-amal yang apabila meninggalkannya maka ia kafir, selain shalat.

Dan bagi orang yang terkadang ia sholat terkadang ia meninggalkannya, tidak dihukumi kafir murtad dari agama. Allahu a’lamu.

Yang jelas kita tidak boleh meninggalkan shalat atau berpura-pura shalat seperti orang kafir dan munafiq, sebab orang yang meninggalkan shalat dan melalaikannya ia telah melakukan dosa  besar dan diancam dengan adzab yang keras. Sebagaimana ayat-ayat alQuran telah menerangkannya, Firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّ. [مريم ٥٩]

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ. [الماعون ٤- ٥]

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya

﴿مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ﴾ [المدثر ٤٢- ٤٣]

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat

Ibnu Hazm mengatakan: Tidak ada dosa yang paling besar setelah kejahatan daripada dosa meninggalkan shalat hingga habis waktunya, dan membunuh seorang mukmin tanpa haq. (Syaikh Muhammad bin Shalih al’Utsaimin dalam  syarh kitab: الكبائر )

Fadhilah Shalat

            Setelah kita tahu kedudukan shalat dari penjelasan diatas, maka pantas bila shalat memiliki keutamaan yang sangat besar, ibadah agung yang mengantarkan pelakunya termasuk kedalam kelompok shiddiqin dan syuhada, sebagaimana diterangkan dalam hadits:

[عن عمرو بن مرة الجهني] جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ، فقال: يا رسولَ اللهِ أرأيتَ إن شهدتُ أن لا إله إلا اللهُ، و أنك رسولُ اللهِ، و صلَّيتُ الصلواتِ الخمسَ، و أدَّيتُ الزكاةَ، و صمتُ رمضانَ، وقُمتُه، فممَّن أنا؟ قال: من الصِّدِّيقين و الشُّهداءِ

صحيح الترغيب ١٠٠٣ , صحيح , أخرجه أحمد كما في «مجمع الزوائد» للهيثمي (٨/١٥٠)، وابن خزيمة (٢٢١٢)، وابن حبان (٣٤٣٨)

(Dari ‘Amr bin Murrah al-Juhany): Seseorang datang kepada Nabi saw, kemudian bertanya: Wahai Rasulullah apa pendapatmu jika saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan bersaksi sesungguhnya engkau adalah rasul Allah, dan saya shalat lima waktu, menunaikan zakat dan shaum ramadhan, dan saya telah melaksanakannya, maka termasuk siapakah saya? Nabi menjawab: termasuk Shiddiqin dan Syuhada.

Selain itu, ibadah shalat juga lebih utama dari jihad, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengungkapkannya berulang-ulang sebagai amal yang paling utama, seperti yang diceritakan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr:

أنَّ رجُلًا جاء إلى رسولِ اللهِ ﷺ فسأَله عن أفضلِ الأعمالِ قال: فقال ﷺ: (الصَّلاةُ) قال: ثمَّ مَهْ؟ قال: (ثمَّ الصَّلاةُ) قال: ثمَّ مَهْ؟ قال: (ثمَّ الصَّلاةُ) ثلاثَ مرّاتٍ قال: ثمَّ مَهْ؟ قال: (ثمَّ الجهادُ في سبيلِ اللهِ) قال: فإنَّ لي والدَيْنِ فقال رسولُ اللهِ ﷺ: (آمُرُكَ بوالدَيْكَ خيرًا) فقال: والَّذي بعَثكَ نَبيًّا لَأُجاهِدَنَّ ولَأترُكَنَّهما ) قال: فقال رسولُ اللهِ ﷺ: (فأنتَ أعلَمُ(.صحيح ابن حبان ١٧٢٢

Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw, kemudian ia bertanya tentang amal yang paling utama. Ia berkata: Nabi saw bersabda: Shalat. Kemudian orang tersebut bertanya: lalu apalagi? Nabi bersabda: lalu Shalat. Kemudian ia bertanya lagi: lalu apa lagi? Nabi bersabda: lalu Shalat, Nabi mengatakannya 3 kali. Kemudian ia bertanya lagi: lalu apalagi? Nabi bersabda: lalu jihad fi sabilillah. Orang tersebut berkata: Sesungguhnya saya masih punya kedua orang tua. Lalu Rasulullah saw bersabda: Aku perintahkan kamu berbuat baik kepada kedua orang tua mu. Lalu ia berkata: Demi yang telah mengutusmu sebagai nabi, saya benar-benar akan berusaha melaksanakannya dan sungguh saya tak akan menyia-nyiakan keduanya. Lalu Rasulullah bersabda: maka kamu lebih tahu.

            Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari seseorang agar mendirikan shalat dan memotivasi untuk sungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkannya. Dalam kesempatan lain Rasulullah pun pernah mengajari sahabat supaya memelihara rangkaian ibadah shalat, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu:

سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ يقولُ ما مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ فيُحْسِنُ وُضُوءَها وخُشُوعَها ورُكُوعَها، إلّا كانَتْ كَفّارَةً لِما قَبْلَها مِنَ الذُّنُوبِ ما لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وذلكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ. مسلم (ت ٢٦١)، صحيح مسلم ٢٢٨

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidaklah seorang Muslim tiba waktu shalat wajib kepadanya lalu ia membaguskan wudhunya, khusyunya dan rukuknya, melainkan shalat tersebut menjadi kafarat bagi dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu berlaku di setiap zaman.

Baca Juga:

Perintah Mendirikan Shalat

Dalil Wajibnya Shalat 5 Waktu


Sifat Shalat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ (مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, السنن الكبرى للبيهقي (2/ 487))

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat, maka bila telah hadir waktu shalat hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang paling besar(tua) diantara kalian menjadi imam.

Sifat shalat sejatinya bersifat tauqifi, mutlak telah ditetapkan kaifiyatnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka kita dituntut untuk sebisa mungkin sesuai dengan sifat shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya saja para ‘ulama terkadang memiliki perbedaan dalam memahami bahasa atau teks yang tertulis dalam hadits. Untuk itu maka kita dituntut pula untuk dapat memahaminya berdasarkan ilmu, baik dari sisi ilmu fiqih dan ushulnya ataupun ilmu hadits dan syarahnya, sehingga ketika melaksanakannya memiliki landasan dalil sebagai pegangan dan tanggung jawab amaliyah yang mudah-mudahan menjadi bagian dari bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ittiba’urrasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.  

Menyempurnakan berdiri, bacaan, rukuk dan sujud, serta tuma'ninah

Rangkaian shalat tidak hanya sekedar menuntaskan gerakan dan bacaan, melainkan setiap sikapnya syarat akan sifat ketunduk patuhan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ruh dan jasadnya menghadap kepada sang Khaliq dengan penuh kesiapan, kemantapan hati dan ketenangan fisik dan psikisnya (tuma’ninah). Terdapat pelajaran yang sangat menarik dari peristiwa seseorang yang shalat tapi belum dianggap shalat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan dalam beberapa hadits diantaranya:

عن أبي هريرة: أنَّ رجلًا دخلَ المسجدَ ورسولُ اللَّهِ ﷺ في المسجدِ فصلّى ثمَّ جاءَ إلى رسولِ اللَّهِ ﷺ فسلَّمَ فردَّ رسولُ اللَّهِ ﷺ وقالَ ارجع فصلِّ فإنَّكَ لم تصلِّ فرجعَ فصلّى كما صلّى ثمَّ جاءَ فسلَّمَ فقال لهُ رسولُ اللَّهِ ﷺ ارجع فصلِّ فإنَّكَ لم تصلِّ فرجعَ فصلّى كما صلّى ثمَّ جاءَ فسلَّمَ فقال لهُ رسولُ اللَّهِ ﷺ وعليكَ السَّلامُ ارجع فصلِّ فإنَّكَ لم تصلِّ ففعل ذلِك ثلاثَ مرّاتٍ فقال الرَّجلُ والَّذي بعثَك بالحقِّ ما أُحسِنُ غيرَ هذا فعلِّمني فقال رسولُ اللَّهِ ﷺ إذا قمتَ إلى الصَّلاةِ فَكبِّر ثمَّ اقرأ ما تيسَّرَ معَك منَ القرآنِ ثمَّ اركع حتّى تطمئنَّ راكعًا ثمَّ ارفع حتّى تعتدِلَ قائمًا ثمَّ اسجُد حتّى تطمئنَّ ساجدًا ثمَّ اصنع ذلِك في صلاتِك كلِّها.

حلية الأولياء ٨‏/٤٢٨  صحيح , متفق عليه [أي:بين العلماء] من حديث يحيى بن سعيد,  أخرجه البخاري (٦٢٥١)، ومسلم (٣٩٧) باختلاف يسير.

Dari Abu Hurairah ra: Bahwa ada seseorang yang masuk ke masjid nabawi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada didalam masjid, lalu orang tersebut shalat kemudian menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, lalu Nabi menjawab salamnya dan bersabda: kembalilah lalu shalat lagi, sesungguhnya kamu belum shalat, lalu ia kembali shalat sebagaimana ia telah shalat, kemudian menghampiri Nabi dan mengucapkan salam, Nabi bersabda: kembali ulangi  shalatmu, sesungguhnya kamu belum shalat. Lalu ia pun kembali dan shalat sebagaimana ia telah shalat, lalu ia datang lagi dan mengucap salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawabnya: wa‘alaikassalam, kembali ulangi shalatmu, sesungguhnya kamu belum shalat. Ia mengulangi shalatnya sampai 3 kali lalu orang tersebut berkata: demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak dapat melakukan yang lebih baik selain dari ini, maka ajarilah saya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: apabila kamu mendirikan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari alQuran(yang hafal), lalu rukulah hingga ruku yang tuma’ninah, lalu bangkitlah hingga berdiri tegak (i’tidal), lalu sujudlah hingga sujud yang tuma’ninah, lalu lakukanlah yang demikian disetiap shalat kamu.

Hadits ini dinamakan dengan hadits almusi'u shalatahu  (orang yang merusak shalatnya), adapun riwayatnya bervariasi, para pensyarah hadits menyebutkan bahwa orang tersebut adalah Khallad bin Rafi’, beliau shalat dengan tergesa-gesa bacaan dan gerakannya, tidak tuma’ninah dalam berdiri, ruku maupun sujudnya, sehingga Nabi sampai menyuruhnya berulang-ulang. Pelajaran penting bagi kita bahwa ibadah shalat harus dilakukan dengan penuh perhatian dan ketenangan sehingga rukun-rukun shalat terpenuhi hak-haknya serta baik dalam bacaan dan dzikirnya. Intinya tidak boleh mengurangi kesempurnaan shalat meskipun seumpamanya memiliki keterbatasan dalam bacaan shalat, tetap harus dikerjakan semaksimal mungkin,  sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

أنَّ رسولَ اللهِ ﷺ بينما هو جالسٌ في المسجدِ يومًا - قال رفاعةُ: ونحن معه - إذا جاءه رجلٌ كالبدويِّ، فصلّى، فأَخَفَّ صلاتَه، ثم انصرف فسلَّم على النَّبيِّ ﷺ، فقال النَّبيُّ ﷺ: (وعليك، فارجعْ فصَلِّ فإنك لم تُصَلِّ) فرجع فصلّى، ثم جاء فسلَّم عليه، فقال: (وعليك، فارجعْ فصلِّ فإنك لم تُصَلِّ)، [ففعل ذلك] مرتين أو ثلاثًا، كل ذلك يأتي النَّبيَّ ﷺ فيُسلِّمُ على النَّبيِّ ﷺ، فيقولُ النَّبيُّ ﷺ: (وعليك، فارجِعْ فصَلِّ فإنك لم تُصَلِّ)، فعاف الناسُ وكبُرَ عليهم أن يكونَ مَن أخفَّ صلاتَه لم يُصلِّ، فقال الرجلُ في آخرِ ذلك: فأَرِني وعلِّمْني، فإنما أنا بشرٌ أُصيبُ وأُخطىءُ، فقال (أجل، إذا قمت إلى الصلاةِ فتوضأ كما أمرك اللهُ به، ثم تشهَّدْ فأَقِمْ أيضًا، فإن كان معك قرآنٌ فاقرأْ، وإلا فاحمد اللهَ وكبِّرْه وهلِّلْه، ثم اركع فاطمئنَّ راكعًا، ثم اعتدلْ قائمًا، ثم اسجدْ فاعتدِلْ ساجدًا، ثم اجلِسْ فاطمئنَّ جالسًا، ثم قُمْ، فإذا فعلتَ ذلك فقد تمتْ صلاتُك، وإن انتقَصتَ منه شيئًا انتقصْتَ من صلاتِك). (رفاعة بن رافع  - الترمذي (ت ٢٧٩)، سنن الترمذي ٣٠٢ ,حسن , وقد روي عن رفاعة من غير وجه)

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari ketika Beliau tengah duduk di masjid -Rifa’ah berkata: dan kami sedang bersamanya- tiba-tiba ada seseorang yang datang sepertinya orang badui, lalu ia shalat dan tergesa-gesa shalatnya, lalu ia menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam, lalu Nabi menjawab: wa ‘alaika, kembalilah ulangi shalatmu sesungguhnya kamu belum shalat, lalu ia kembali shalat kemudian datang lagi dan mengucapkan salam, kembali Nabi menjawab: wa ‘alaika, kembalilah ulangi shalatmu sesungguhnya kamu belum shalat. (Ia melakukannya dua atau tiga kali), dan setiap kali ia datang kepada Nabi saw kemudian mengucapkan salam kepada Beliau, maka Nabi menjawab: wa ‘alaika, kembalilah ulangi shalatmu sesungguhnya kamu belum shalat. Nampaknya orang-orang merasa tidak nyaman dan terasa berat bagi mereka bahwa ada orang yang tergesa-gesa dalam shalatnya yang ia disebut belum melaksanakan shalat. Akhirnya orang tersebut berkata: nasihati dan ajarilah saya, sesungguhnya saya ini adalah orang yang sedang singgah dan tersalah. Lalu Nabi bersabda: tentu saja , maka apabila kamu hendak mendirikan shalat, berwudhulah sebagaimana Allah menyuruhmu berwudhu,  kemudian tasyahudlah (membaca bacaan setelah wudhu) kemudian berdirilah juga, lalu bila kamu memiliki hafalan alQuran maka bacalah, dan bila tidak punya maka bacalah tahmid, takbir dan tahlil, lalu rukulah dengan tuma'ninah, lalu berdirilah i’tidal dengan lurus, lalu sujudlah dengan sujud yang seimbang, lalu duduklah dengan tuma'ninah, lalu berdirilah. Bila kamu melakukannya dengan benar maka sungguh telah sempurna shalatmu, dan bila kamu kurangi sedikit saja dari ketentuan tadi maka kamu telah mengurangi shalatmu.       

Menghadap kiblat, takbir, mengangkat tangan dan memposisikannya, serta berisyarat

Sifat shalat secara umum yang cukup detail telah diriwayatkan dalam beberapa hadits yang diantaranya diriwayatkan oleh Abu Humaid ra dan Wail bin Hujr ra: 

[عن وائل بن حجر] قلتُ لأنظرنّ إلى صلاةِ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم كيف يُصَلّي، فقامَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فاستقبلَ القبلةَ فكبرَ فرفعَ يدهُ حتى حاذى أُذنيهِ، ثم وضعَ يدهُ اليمنى على ظهرِ كَفِّهِ اليُسرَى والرُّسْغِ والسَّاعدِ.

النووي (ت ٦٧٦)، المجموع ٣‏/٣١٢ - إسناده صحيح.

(Dari Wail bin Hujr ra), saya katakan: saya benar-benar memperhatikan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana Beliau shalat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri menghadap kiblat lalu bertakbir sambil mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, kemudian menyimpan tangannya yang kanan diatas punggung telapak tangannya yang kiri dilengan antara pergelangan dan sikut.

[عن وائل بن حجر] كنتُ فيمَن أتى النَّبيَّ صلّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ، فقلتُ: لأنظُرنَّ إلى صلاةِ رسولِ اللَّهِ كيفَ يصلِّي، فرأيتُهُ حينَ كبَّرَ رفعَ يديهِ حتّى حاذَتا أذُنَيْهِ، ثمَّ ضرَبَ بيَمينِهِ على شمالِهِ فأمسَكَها. (ابن خزيمة (ت ٣١١)، صحيح ابن خزيمة ١‏/ ٥٣٧ • أخرجه في صحيحه)

(Dari Wail bin Hujr ra): Saya berada dalam kelompok orang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kukatakan: saya benar-benar memperhatikan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu saya melihat Beliau ketika bertakbir, Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya kemudian menempatkan tangan kanannya diatas tangan kiri lalu memegangnya

[عن وائل بن حجر] لأنظُرَنَّ إلى صلاةِ رسولِ اللَّهِ كيفَ يصلِّي فنظرتُ إليْهِ فقامَ فَكبَّرَ ورفعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمنَى عَلَى كَفِّهِ اليُسرَى وَالرُّسغِ والسَّاعِدِ فَلَمَّا أَرَادَ أَن يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثلَهَا قَالَ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكبَتَيْهِ ثُمَّ لَمَّا رَفَعَ رَأسَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثلَهَا ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ قَعَدَ وَافتَرَشَ رِجلَهُ اليُسرَى وَوَضَعَ كَفِّهِ اليُسرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكبَتِهِ اليُسرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرفَقِهِ الأَيمَنِ عَلَى فَخِذِهِ اليُمنَى ثُمَّ قَبَضَ اثنَتَينِ مِن أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصبَعَهُ فَرَأَيتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدعُو بِهَا. (صحيح النسائي ٨٨٨ )

(Dari Wail bin Hujr ra): sungguh saya memperhatikan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana Beliau shalat, lalu saya melihat Beliau berdiri lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya kemudian menyimpan tangannya yang kanan diatas punggung telapak tangan yang kiri dilengan antara pergelangan dan sikut, kemudian ketika Beliau hendak rukuk maka Beliau mengangkat kedua tangannya seperti sebelumnya. Ia berkata(Wail bin Hujr): Dan Beliau menyimpan kedua tangannya diatas kedua lututnya kemudian ketika Beliau mengangkat kepalanya maka Beliau mengangkat kedua tangannya seperti sebelumnya, kemudian Beliau sujud lalu menjadikan kedua telapak tangannya berada disamping kedua telinganya, kemudian Beliau duduk dan menghamparkan(iftirasy) kakinya yang kiri dan menyimpan telapak tangan yang kiri diatas paha dan lututnya yang kiri dan menjadikan ujung sikutnya yang kanan diatas paha kanannya lalu beliau menggenggam dua jari diantara jemarinya dan membuat satu lingkaran lalu Beliau mengangkat jari (telunjuknya) maka saya melihat Beliau menggerak-gerakkannya sambil berdo’a.

            Adapun riwayat dari Abu Humaid as-Sa’idy dapat kita lihat diantaranya pada hadits berikut:

[عن أبي حميد الساعدي] سمعتُهُ وَهوَ في عشرةٍ من أصحابِ رسولِ اللَّهِ ﷺ أحدُهم أبو قتادةَ بنُ ربعيٍّ قالَ أنا أعلمُكُم بصلاةِ رسولِ اللَّهِ ﷺ كانَ إذا قامَ في الصَّلاةِ اعتدلَ قائمًا ورفعَ يديهِ حتّى يحاذيَ بِهما منْكِبيهِ ثمَّ قالَ اللَّهُ أَكبرُ وإذا أرادَ أن يركعَ رفعَ يديهِ حتّى يحاذيَ بِهما منْكبيهِ فإذا قالَ سمعَ اللَّهُ لمن حمدَهُ رفعَ يديهِ فاعتدلَ فإذا قامَ منَ الثِّنتينِ كبَّرَ ورفعَ يديهِ حتّى يحاذيَ بهما منْكبيهِ كما صنعَ حينَ افتتحَ الصَّلاةَ. (صحيح ابن ماجه ٧٠٩)

(Dari Abu Humaid as-Sa’idy ra): Saya telah mendengarnya(hadits) dan saat itu ada 10 orang sahabat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah satunya ada Abu Qatadah bin Rabi’ ra ia berkata: Saya adalah orang yang paling tahu bagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau itu apabila berdiri dalam shalat, maka Beliau berdiri dengan seimbang lagi lurus, dan beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya sejajar dengan kedua pundaknya lalu mengucapkan: Allahu Akbar, dan apabila Beliau hendak rukuk maka Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, kemudian apabila mengucapkan: sami’allahu liman hamidah Beliau mengangkat kedua tangannya lalu beri’tidal, kemudian bila berdiri dari dua raka’at shalat Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya sebagaimana Beliau melakukannya ketika membuka shalat.

[عن أبي حميد الساعدي] أنا أعلمُكُم بصلاةِ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ قالوا فلِمَ فواللَّهِ ما كنتَ بأَكثرِنا لَهُ تبعًا ولا أقدَمِنا لَهُ صحبةً قالَ بلى قالوا فاعرِض قالَ كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ إذا قامَ إلى الصَّلاةِ يرفعُ يديهِ حتَّى يحاذيَ بِهما مِنْكِبيهِ ثمَّ يُكبِّرُ حتَّى يقَرَّ كلُّ عظمٍ في موضعِهِ معتدلًا ثمَّ يقرأُ ثمَّ يُكبِّرُ فيرفعُ يديهِ حتَّى يحاذيَ بِهما منْكبيهِ ثمَّ يرْكعُ ويضعُ رَاحَتَيهِ على رُكبَتَيهِ ثمَّ يعتدلُ فلا يَصُبُّ رأسَهُ ولا يُقْنِعُ ثمَّ يرفعُ رأسَهُ فيقولُ سمعَ اللَّهُ لمن حمدَهُ ثمَّ يرفعُ يديهِ حتَّى يحاذيَ بِهما منْكبيهِ معتدلًا ثمَّ يقولُ اللَّهُ أَكبرُ ثمَّ يَهوي إلى الأرضِ فيجافي يديهِ عن جنبيهِ ثمَّ يرفعُ رأسَهُ وَيَثنِي رِجلَهُ اليُسرَى فيقعُدُ عليها ويفتحُ أصابعَ رجليهِ إذا سجدَ ويسجدُ ثمَّ يقولُ اللَّهُ أَكبرُ ويرفعُ رأسَهُ وَيَثنِي رِجلَهُ اليسرى فيقعدُ عليها حتَّى يرجِعَ كلُّ عظمٍ إلى موضعِهِ ثمَّ يصنعُ في الأخرى مثلَ ذلِكَ ثمَّ إذا قامَ منَ الرَّكعتينِ كبَّرَ ورفعَ يديهِ حتَّى يحاذيَ بِهما منْكبيهِ كما كبَّرَ عندَ افتتاحِ الصَّلاةِ ثمَّ يصنعُ ذلِكَ في بقيَّةِ صلاتِهِ حتَّى إذا كانتِ السَّجدةُ الَّتي فيها التَّسليمُ أخَّرَ رجلَهُ اليسرى وقعدَ متورِّكًا على شقِّهِ الأيسرِ قالوا صدقتَ هَكذا كانَ يصلِّي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ.

(صحيح أبي داود ٧٢٩)

(Dari Abu Humaid as-Sa’idy ra): “Saya (Abu Qatadah ra) adalah orang yang paling tahu bagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, mereka(para shahabat) berkata: “mengapa bisa begitu? demi Allah kamu tidaklah lebih banyak daripada kami dalam bermujalasah dan berinteraksi bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam”, ia menjawab: “memang begitu”, mereka berkata: “kalau begitu coba kamu terangkan”, ia berkata: “Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bila berdiri untuk shalat, Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya kemudian Beliau bertakbir hingga setiap persendian seimbang berada pada posisinya, kemudian Beliau membaca alQuran, kemudian Beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya, kemudian Beliau rukuk dan menyimpan kedua telapak tangannya diatas kedua lututnya kemudian Beliau meluruskan dan menyeimbangkan punggungnya maka kepala Beliau tidak menunduk tidak juga mendongak(melainkan lurus dengan punggung), kemudian Beliau mengangkat kepalanya kemudian mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, kemudian Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan bahunya dalam keadaan tegak lurus seimbang, kemudian Beliau mengucapkan: Allahu Akbar, kemudian Beliau turun untuk bersujud dan merenggangkan kedua tangannya dari kedua sisi lambungnya, kemudian Beliau mengangkat kepalanya dan melipat kakinya yang kiri kemudian Beliau duduk diatasnya(duduk diantara dua sujud), dan Beliau membuka jemari kakinya bila bersujud(mengarahkan jemarinya kekiblat) dan Beliau bersujud(sujud kedua) kemudian Beliau mengucapkan: “Allahu Akbar”, dan Beliau mengangkat kepalanya dan melipat kakinya yang kiri kemudian Beliau mendudukinya hingga setiap tulang kembali pada posisinya kemudian Beliau melakukan dirakaat yang lainnya seperti itu pula, kemudian bila Beliau berdiri dari dua rakaat(setelah tasyahud awal) Beliau (bangkit) bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya sebagaimana Beliau bertakbir ketika pembukaan shalat kemudian Beliau melakukan  gerakan yang seperti tadi pada sisa rakaat shalatnya hingga apabila berada di sujud rakaat akhir yang ditutup dengan salam maka Beliau mengakhirkan kaki kirinya (mengeluarkan kaki yang kiri dibawah kaki yang kanan) dan Beliau duduk tawarruk pada sisi yang kiri (duduk dengan pinggul yang kiri diatas bumi)”. Maka para sahabat berkata: “engkau benar, begitulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat”.

Terdapat pula sahabat lain yang meriwayatkan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi kaifiyat mengangkat tangan, diriwayatkan secara ringkas, seumpamanya dalam riwayat Malik bin al-Huwairits dan Ibnu ‘Umar:

]عبدالله بن عمر [أنَّ رَسولَ اللَّهِ ﷺ كانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إذا افْتَتَحَ الصَّلاةَ، وإذا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وإذا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُما كَذلكَ أَيْضًا، وقالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ، رَبَّنا ولَكَ الحَمْدُ، وكانَ لا يَفْعَلُ ذلكَ في السُّجُودِ. (صحيح البخاري ٧٣٥)

(Dari Ibnu ‘Umar): Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika Beliau membuka shalat dan ketika bertakbir untuk rukuk. Dan ketika bangkit dari rukuk Beliau mengangkat tangannya seperti itu juga sambil mengucapkan  sami’allahu liman hamidah Rabbana wa lakalhamdu, namun Beliau tidak melakukannya(mengangkat tangan) pada waktu bersujud.

[عن مالك بن الحويرث] أنَّ رَسولَ اللهِ ﷺ كانَ إذا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حتّى يُحاذِيَ بهِما أُذُنَيْهِ، وإذا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حتّى يُحاذِيَ بهِما أُذُنَيْهِ، وإذا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذلكَ. (صحيح مسلم ٣٩١)

(Dari Malik bin al-Huwairits): Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya dan apabila Beliau rukuk maka Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, dan ketika bangkit dari rukuk Beliau mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, Beliau melakukan seperti itu juga(mengangkat tangan).

Baca juga:

Esensi Shalat

Gangguan Ketika Shalat


Selanjutnya: 

Kaifiyat Shalat dari mulai berdiri hingga menyimpan kedua tangan

Beragam Do'a Istiftah  

Membaca Isti'adzah, Al-Fatihah & Surat 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik