Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Keutamaan shalat, kedudukan, sifat dan kaifiyatnya

Manzilah, Fadhilah, Sifat, dan Kaifiyat Shalat

Keutamaan shalat, sifat dan kaifiyat shalat

Bismillahirrahmanirrahim, walhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, wa ba'du.

Awal kewajiban dalam beribadah kepada Allah setelah tauhid dan ikhlas adalah ibadah shalat, sebagaimana kita ketahui dalam rukun Islam. Perintah ini termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur'an, di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ [التوبة ٥]
"Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat ini berkaitan dengan penahanan diri dari berperang di bulan haram meskipun orang-orang musyrik menyulut peperangan. Umat Islam baru diperbolehkan memerangi mereka setelah usainya bulan haram dengan tujuan agar mereka keluar dari kemusyrikan dan kembali kepada tauhidullah. Setelah mereka bertobat dari kemusyrikan dan mendirikan shalat, darah serta kehormatan mereka menjadi terjaga. Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أُمِرْتُ أنْ أُقاتِلَ النّاسَ حتّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلّا اللَّهُ، وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، ويُقِيمُوا الصَّلاةَ، ويُقُوا الزَّكاةَ، فَإِذا فَعَلُوا ذلكَ عَصَمُوا مِنِّي دِماءَهُمْ وأَمْوالَهُمْ إلّا بحَقِّ الإسْلامِ، وحِسابُهُمْ على اللَّهِ. (صحيح البخاري ٢٥)
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal tersebut, darah dan harta mereka dilindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan amal mereka diserahkan kepada Allah." (Sahih Al-Bukhari no. 25)

Terkait urutan kewajiban shalat setelah tauhid, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam ayat lain:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ۞ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ [الروم ٣٠-٣١]
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya, bertakwalah kepada-Nya, dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." (QS. Ar-Rum: 30-31)

Terdapat pula dalam sebuah hadis bahwa isyarat kewajiban shalat disebutkan setelah keikhlasan dan tauhidullah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ، وَعِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، فَارَقَهَا وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ. (الترغيب والترهيب ١‏/٣٩)
"Barang siapa yang meninggal dunia di atas keikhlasan kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia meninggal dunia dalam keadaan Allah ridokepadanya." (At-Targhib wa At-Tarhib 1/39; isnadnya sahih, hasan, atau mendekati keduanya)

Sebagaimana telah disinggung sekilas, shalat adalah rukun Islam yang ditetapkan setelah dua kalimat syahadat. Selain itu, shalat merupakan amal seorang muslim yang pertama kali dihisab di hari kiamat kelak. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أولُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبدُ الصَّلَاةَ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ بِالدِّمَاءِ. (صحيح النسائي ٤٠٠٢)
"Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat, dan peradilan yang diputuskan pertama kali di antara manusia menyangkut pertumpahan darah." (Sahih An-Nasai no. 4002)

Shalat lima waktu merupakan perintah mutlak setelah perintah tauhidullah dan termasuk kurikulum utama dalam mendidik umat. Karena itulah, ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seruan pertama yang disampaikan adalah ajakan kepada keimanan (aqidah tauhid), kemudian baru perintah mendirikan shalat. Penuturan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu:

أنَّ النبيَّ ﷺ بَعَثَ مُعاذًا رَضِيَ اللهُ عنْه إلى اليَمَنِ، فَقالَ: ادْعُهُمْ إلى شَهادَةِ أنْ لا إلَهَ إلّا اللهُ، وأَنِّي رَسولُ اللهِ، فإنْ هُمْ أطاعُوا لذلكَ، فأعْلِمْهُمْ أنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَواتٍ في كُلِّ يَومٍ ولَيْلَةٍ... (صحيح البخاري ١٣٩٥)
"Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, lalu beliau bersabda: 'Serulah mereka kepada syahadat bahwa tiada ilah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaatinya, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam...'." (Sahih Al-Bukhari no. 1395)

Begitu tingginya kedudukan shalat dalam aqidah Islam, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras bagi orang yang meninggalkannya, sebagaimana diriwayatkan dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu ‘anhu:

العَهدُ الَّذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تركَها فَقد كَفرَ. (أخرجه الترمذي ٢٦٢١ والنسائي ٤٦٣)
"Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir/munafik) adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir." (Disahihkan oleh Tirmidzi no. 2621 dan Nasai no. 463)

Syaikh Abu ‘Abdirrahman ‘Adil bin Yusuf al-‘Azazy hafizhahullah menerangkan dalam Tamamul-Minnah bahwa siapa yang mengingkari kewajiban shalat lima waktu, ia dihukumi kafir dan murtad dari Islam tanpa ada ikhtilaf di kalangan ulama. Adapun muslim yang meninggalkan shalat karena malas, para ulama merincikannya: jika ia meninggalkan shalat secara total hingga akhir hayatnya, ia dihukumi kafir berdasarkan hadis di atas dan atsar sahabat:

كان أصحابُ محمَّدٍ ﷺ لا يرونَ شيئًا من الأعمالِ تركُه كفرٌ، غيرَ الصَّلاةِ. (صحيح الترمذي ٢٦٢٢)
"Adalah para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang suatu amal pun yang apabila ditinggalkan menjadi sebuah kekafiran, selain shalat." (Sahih Tirmidzi no. 2622)

Namun, bagi orang yang kadang mendirikan shalat dan kadang meninggalkannya, ia tidak dihukumi murtad keluar dari Islam. Wallahu a'lam.

Yang pasti, seorang muslim tidak boleh melalaikan shalat atau menyerupai orang munafik, sebab perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang diancam dengan adzab pedih, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [مريم ٥٩]
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 59)

Mengingat kedudukannya yang sangat agung, shalat memiliki fadhilah yang luar biasa besar, bahkan dapat mengantarkan pelakunya masuk ke dalam golongan orang-orang siddiqin dan syuhada. Berdasarkan hadis dari ‘Amr bin Murrah al-Juhany:

جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ، فقال: يا رسولَ اللهِ أرأيتَ إن شهدتُ أن لا إله إلا اللهُ، و أنك رسولُ اللهِ، و صلَّيتُ الصلواتِ الخمسَ... فممَّن أنا؟ قال: من الصِّدِّيقين و الشُّهداءِ. (صحيح الترغيب ١٠٠٣)
"Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, engkau utusan Allah, dan aku mendirikan shalat lima waktu... termasuk golongan siapakah aku?' Nabi menjawab: 'Termasuk golongan shiddiqin dan syuhada'." (Sahih At-Targhib no. 1003)

Shalat juga merupakan amalan yang kedudukannya lebih utama daripada jihad. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya berulang-ulang sebagai amal terbaik, sebagaimana kisah dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:

أنَّ رجُلًا جاء إلى رسولِ اللهِ ﷺ فسأَله عن أفضلِ الأعمالِ قال: فقال ﷺ: (الصَّلاةُ) قال: ثمَّ مَهْ؟ قال: (ثمَّ الصَّلاةُ)... قال: ثمَّ مَهْ؟ قال: (ثمَّ الجهادُ في سبيلِ اللهِ). (صحيح ابن حبان ١٧٢٢)
"Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab: 'Shalat.' Ia bertanya lagi: 'Lalu apa?' Beliau menjawab: 'Lalu shalat.' Ia bertanya lagi: 'Lalu apa?' Beliau menjawab: 'Lalu shalat' (diulang tiga kali). Ia bertanya lagi: 'Lalu apa?' Beliau menjawab: 'Lalu jihad di jalan Allah'." (Sahih Ibnu Hibban no. 1722)

Di samping itu, penjagaan terhadap shalat wajib yang diiringi wudhu, khusyuk, dan rukuk yang sempurna dapat menjadi penebus dosa-dosa kecil. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu:

ما مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاةٌ مَكْتُوبَةٌ فيُحْسِنُ وُضُوءَها وخُشُوعَها ورُكُوعَها، إلّا كانَتْ كَفّارَةً لِما قَبْلَها مِنَ الذُّنُوبِ ما لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وذلكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ. (صحيح مسلم ٢٢٨)
"Tidaklah seorang muslim mendapati waktu shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, khusyuknya, serta rukuknya, melainkan shalat itu menjadi kafarat (penebus) bagi dosa-dosa sebelumnya selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu berlaku sepanjang masa." (Sahih Muslim no. 228)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي (السنن الكبرى للبيهقي)
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (Al-Sunan Al-Kubra lil-Baihaqi)

Sifat dan tata cara shalat bersifat tauqifi (mutlak ditetapkan berdasarkan syariat), sehingga kita dituntut untuk mencontoh persis tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perbedaan pandangan di kalangan ulama dalam memahami redaksi hadis disikapi dengan merujuk kepada ilmu fiqih, ushul fiqih, serta ilmu hadis agar pengamalan ibadah kita berlandaskan dalil yang sah sebagai bentuk ittiba' kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menyempurnakan Rukun dan Tuma'ninah

Rangkaian shalat tidak sekadar menuntaskan gerakan dan bacaan lisan, melainkan cerminan ketundukan jiwa dan raga kepada Sang Khaliq. Peristiwa al-musي' shalatahu (orang yang jelek shalatnya) memberikan pelajaran berharga. Ketika ada seseorang yang shalat secara tergesa-gesa di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menyuruhnya mengulangi shalatnya hingga tiga kali seraya bersabda:

ارجعْ فصَلِّ فإنك لم تُصَلِّ (صحيح البخاري ٦٢٥١ ومسلم ٣٩٧)
"Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat." (Sahih Al-Bukhari no. 6251 dan Sahih Muslim no. 397)

Ketika orang tersebut meminta diajari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberikan panduan tuma'ninah:

إذا قمتَ إلى الصَّلاةِ فَكبِّر ثمَّ اقرأ ما تيسَّرَ معَك منَ القرآنِ ثمَّ اركع حتّى تطمئنَّ راكعًا ثمَّ ارفع حتّى تعتدِلَ قائمًا ثمَّ اسجُد حتّى تطمئنَّ ساجدًا ثمَّ اصنع ذلِك في صلاتِك كلِّها.
"Apabila kamu hendak berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai tuma'ninah dalam keadaan rukuk, lalu bangkitlah hingga berdiri tegak (i'tidal), lalu sujudlah sampai tuma'ninah dalam keadaan sujud, dan lakukanlah hal tersebut pada seluruh shalatmu."

Gerakan Membuka Shalat, Posisi Tangan, dan Gerakan Jari

Tata cara terperinci mengenai gerakan awal shalat diriwayatkan oleh para sahabat mulia seperti Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu dan Abu Humaid as-Sa’idy radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat Sahih An-Nasai (no. 888), Wail bin Hujr menuturkan:

فَقامَ فَكبَّرَ ورفعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمنَى عَلَى كَفِّهِ اليُسرَى وَالرُّسغِ والسَّاعِدِ... وَرَأَيتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدعُو بِهَا.
"...Lalu beliau berdiri, bertakbir, dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan lengan bawahnya... dan aku melihat beliau menggerak-gerakkan jari telunjuknya untuk berdoa." (Sahih An-Nasai no. 888)

Adapun dalam riwayat Abu Humaid as-Sa’idy radhiyallahu ‘anhu dijelaskan pula kesempurnaan posisi duduk tasyahud awal (iftirasy) dan tasyahud akhir (tawarruk):

...حَتَّى إذا كانتِ السَّجدةُ الَّتي فيها التَّسليمُ أخَّرَ رجلَهُ اليسرى وقعدَ متورِّكًا على شقِّهِ الأيسرِ. (صحيح أبي داود ٧٢٩)
"...Sehingga apabila tiba pada rakaat terakhir yang di dalamnya terdapat salam, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan duduk tawarruk di atas lantai pada sisi sebelah kirinya." (Sahih Abu Dawud no. 729)
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik