Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Nafas Iman di Penghujung Ramadhan

Nafas Iman di Penghujung Ramadhan

Iman Ramadhan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Baik, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mencipta segala sesuatu dan menetapkan ukurannya dengan sempurna. Betapa agung dan indahnya kalam Yang Maha Sempurna, Dia berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ * وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالعُرجُونِ الْقَدِيمِ * لاَ الشَّمْسُ يَنبَغِى لَهَا أَن تدْرِكَ القَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [يس: 38 - 40]
"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tiada mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Yasin: 38-40)

Salawat dan salam tercurah untuk sang kekasih, pembawa risalah suci, Al-Musthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Seiring Ramadhan pergi, seolah jiwa kehilangan belahan hati, kerinduannya akan diantarkan dan disimpan di sisi-Nya sebagai saksi.

Betapa bahagianya seorang hamba yang selalu merangkai waktu demi keridaan-Nya, bahkan menjemput amal yang Dia sempurnakan balasannya di sisi-Nya. Tak bosan rasanya mengulang nasihat baginda yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya:

الصيامُ جُنَّةٌ، وهو حِصْنٌ مِنْ حصونِ المؤمِنِ، وكُلُّ عملٍ لصاحِبِهِ إلّا الصيامُ، يقولُ اللهُ: الصيامُ لِي، وأنا أجزي بِهِ. (صحيح الجامع ٣٨٨١)
"Shaum itu perisai, ia adalah benteng di antara benteng-benteng seorang mukmin. Setiap amal diperuntukkan bagi pelakunya, kecuali shaum. Allah berfirman: 'Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang menghitung pahalanya'." (Sahih Al-Jami' no. 3881)

Maka, segala syukur dan sanjungan kepada-Nya sudah seharusnya memenuhi relung jiwa, di mana Dia telah memberi kabar gembira dengan sebaik-baik dan sebesar-besarnya pahala. Tak ubahnya Ramadhan, dipenuhi limpahan ghanimah akibat kemenangan jiwa atas pertempuran iman dengan hawa nafsu dan bisikan setan.

Maka, harta rampasan tersebut seolah menjadi bekal dalam mengarungi peperangan jiwa di sebelas bulan berikutnya, perjuangan untuk senantiasa taqarrub demi menjaga keridaan-Nya...

Semoga saja amalan, doa, dan kerendahan diri kepada-Nya menguatkan harapan untuk menjadi hamba yang mendapat penjagaan-Nya, meskipun jiwa mengetahui benar kehinaan diri dan kekurangannya. Hanya keagungan dan kelapangan rahmat-Nya yang menjadi tumpuan harapan bagi kokohnya jiwa di atas fananya dunia...

Wahai Ramadhan, sebulan penuh engkau membawa luasnya hamparan rahmat Rabbmu. Engkau ajarkan bagaimana jiwa harus menyuruh jasad untuk tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta jika ingin menjadi kekasih di sisi-Nya. Dan untukmu wahai Rasul yang mulia, kerinduan ini tak sanggup tertuangkan. Seribu tahun telah menjauh, nasihatmu tetap menjadi saksi akan kemurahan Sang Raja semesta. Kami catat dan kami jadikan pendorong semangat saat engkau sampaikan firman-Nya untuk jiwa-jiwa yang senantiasa ingin mendekat:

مَن عادى لي وَلِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتّى أُحِبَّهُ... (صحيح البخاري ٦٥٠٢)
"Siapa yang berani memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya! Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada perkara yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya..." (Sahih Al-Bukhari no. 6502)

Begitulah pembelaan Sang Khaliq kepada hamba-hamba yang berjuang untuk mencintai-Nya. Hadis qudsi di atas memuat isyarat bahwa siapa yang menjalani hidup di atas jalan-Nya, melaksanakan kewajiban serta sunnah-sunnah-Nya, maka Allah-lah yang akan senantiasa membimbingnya dalam mengarungi kehidupan.

Ramadhan sebagai madrasah ketakwaan telah melipatgandakan setiap amalan. Semoga tarbiyah di dalamnya menambah dan menumbuhkan jiwa-jiwa yang merindukan ketaatan.

Di penghujung Ramadhan, meski pintu surga ditutup kembali, Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu taubat sebelum nyawa sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ باللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مَغْرِبِهَا. (صحيح مسلم ٢٧٥٩)
"Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan pada siang hari, dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari, hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya." (Sahih Muslim no. 2759)

Sungguh, betapa luas rahmat Allah. Dari waktu ke waktu, Dia sediakan ruang untuk bertaubat dan memperbaiki diri hingga waktu tersebut berakhir sesuai kehendak-Nya.

Perihnya jiwa di penghujung Ramadhan bukanlah karena merasa hebat dan kuat menjalankan ketaatan, melainkan kekhawatiran akan timbulnya penyesalan akibat menyia-nyiakan amalan selama bulan Ramadhan.

Ya Rabb... Jangan biarkan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang penuh penyesalan, di mana iman tiada berguna lagi jika jasad sudah berada dalam buaian akhirat:

فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ
"Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (QS. Ghafir: 85)
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik