1.5.22

Nafas Iman Di Penghujung Ramadhan


Iman Ramadhan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Baik, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mencipta segala sesuatu dan menetapkan ukurannya dengan sempurna. Betapa agung dan indahnya Kalam Yang Maha Sempurna, Dia berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ * وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالعُرجُونِ الْقَدِيمِ * لاَ الشَّمْسُ يَنبَغِى لَهَا أَن تدْرِكَ القَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ} [يس: 38 - 40]

dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tiada mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Shalawat dan salam tercurah untuk sang kekasih, pembawa risalah suci, almusthafa Muhammad saw, kepada keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

          Seiring ramadhan pergi, seolah jiwa kehilangan belahan hati, kerinduannya akan diantarkan dan disimpan di Sisi-Nya sebagai saksi.

            Betapa bahagianya seorang hamba yang selalu merangkai waktu demi keridhoan-Nya bahkan menjemput amal yang DIA sempurnakan balasan di Sisi-Nya. Tak bosan rasanya mengulang nasihat baginda yang mulia Muhammad saw kepada ummatnya:

الصيامُ جُنَّةٌ، وهوحِصْنٌ مِنْ حصونِ المؤمِنِ، وكُلُّ عملٍ لصاحِبِهِ إلّا الصيامُ، يقولُ اللهُ: الصيامُ لِي، وأنا أجزي بِهِ. (صحيح الجامع ٣٨٨١  •  حسن  •  أخرجه الطبراني (٨/١٥٨) (٧٦٠٨))

Shaum itu perisai, dia itu satu benteng diantara benteng-benteng seorang mukmin, setiap amal diperuntukkan bagi pelakunya, kecuali shaum, Allah berfirman: Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang menghitung pahalanya.

Maka segala syukur dan sanjungan kepada-Nya sudah seharusnya memenuhi relung jiwa, dimana DIA telah memberi kabar gembira dengan sebaik-baik dan sebesar-besarnya pahala. Tak ubahnya ramadhan, dipenuhi limpahan ghanimah akibat kemenangan jiwa atas pertempuran iman dengan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Maka harta rampasan tersebut seolah menjadi bekal dalam mengarungi peperangan jiwa di sebelas bulan berikutnya, perjuangan untuk senantiasa taqarrub demi menjaga keridhoan-Nya...

Semoga saja amalan, do’a dan merendahkan diri kepada-Nya, menguatkan harapan untuk menjadi hamba yang mendapat penjagaan-Nya, meskipun jiwa mengetahui benar kehinaan diri dan kerendahannya. Hanya keagungan dan kelapangan Rahmat-Nya yang menjadi tumpuan harapan bagi kokohnya jiwa diatas fananya dunia...

Yaa ramadhan.. sebulan penuh engkau membawa luasnya hamparan Rahmat Rabbmu, engkau ajarkan bagaimana jiwa harus menyuruh jasad untuk tunduk dan patuh kepada sang penciptanya, bila ingin menjadi kekasih di Sisi-Nya...  dan untuk mu wahai rasul yang mulia, banyak kerinduan yang tak sanggup tertuangkan... seribu tahun telah menjauh, nasihat engkau tetap menjadi saksi akan kemurahan sang Raja semesta, kami catat dan kami jadikan pendorong semangat disaat engkau sampaikan Firman-Nya untuk jiwa-jiwa yang senantiasa ingin mendekat:

مَن عادى لي وَلِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الَّذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المؤْمِنِ؛ يَكْرَهُ الموْتَ، وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ.( صحيح البخاري ٦٥٠٢)

Siapa yang berani memusuhi waliku, maka Aku umumkan perang kepadanya!, tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari perkara yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang sunnat, hingga Aku mencintainya. Maka bila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya dimana ia mendengar dengannya, dan menjadi penglihatannya dimana ia melihat dengannya, menjadi tangannya dimana ia berbuat dengannya, menjadi kakinya dimana ia melangkah dengannya, dan jika ia meminta kepada-Ku niscaya aku akan memberinya, dan jika ia meminta perlindungan-Ku   niscaya Aku akan melindunginya, dan aku tidak ragu  sedikitpun dimana Aku adalah Pelakunya, seperti Keraguan-Ku terhadap jiwa seorang mukmin yang benci akan kematian  dan Aku lebih benci untuk menyakitinya

            Begitulah pembelaan sang Khaliq kepada hamba-hamba yang berjuang untuk mencintai-Nya, Firman diatas tidak untuk difahami dengan kebodohan, melainkan memuat isyarat bahwa siapa yang menjalani hidup diatas jalan-Nya, melaksanakan kewajiban dan sunnah-sunnahnya maka Allah yang akan senantiasa membimbingnya dalam mengarungi kehidupan.

            Ramadhan, madrasah ketakwaan, hari-hari mu melipat gandakan setiap amalan, semoga tarbiyahmu menambah dan menumbuhkan jiwa-jiwa yang merindukan ketaatan.

            Dipenghujung ramadhan..

Meski pintu surga ditutup kembali, namun Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka pintu taubat sebelum nafas dibatas tenggorokan, sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya.  Nabi saw pernah bersabda:

إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ باللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مَغْرِبِهَا. أبو موسى الأشعري  •  مسلم (ت ٢٦١)، صحيح مسلم ٢٧٥٩

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan Tangan-Nya diwaktu malam supaya bertaubat orang yang berbuat kesalahan diwaktu siang, dan DIA membentangkan Tangan-Nya diwaktu siang supaya bertaubat orang yang berbuat kesalahan diwaktu malam , hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya

            Sungguh betapa luasnya rahmat Allah, dari waktu ke waktu DIA sediakan ruang untuk bertaubat dan memperbaiki diri hingga waktu itu berakhir sesuai kehendak-Nya.

            Perihnya jiwa dipenghujung ramadhan, bukan karena hebat dan kuat menjalankan ketaatan, namun khawatir ada penyesalan.. akibat menyia-nyiakan amalan dibulan ramadhan...

Ya Rabb... jangan biarkan kami termasuk kedalam golongan orang-orang yang penuh penyesalan, dimana iman tiada berguna jika jasad sudah dalam buaian wajah akhirat..

فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ

Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

 

Baca Juga:

Madrasah Taqwa

 Hikmah Lebaran

 Dua Hari Raya

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik