Shaum Ramadhan Madrasah Ketakwaan
Shaum merupakan ibadah yang diutamakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya, di mana terdapat banyak manfaat dan faidah didorong dalam pelaksanaannya. Orang yang shaum akan mendapatkan maghfirah-Nya (dihapuskan dosa-dosanya), shaumnya akan menjadi syafaat di hari kiamat, serta mengembalikan pelakunya pada kesabaran, keteguhan, dan menumbuhkan sifat muraqabatullah hingga berbuah ihsan dalam ucapan dan perbuatan.
Shaum Ramadhan bagaikan madrasah ketakwaan, di mana pelaksanaannya dipenuhi nuansa pendidikan yang sarat akan kepatuhan dan ketaatan. Bagaimana tidak? Seorang yang shaum dengan penuh kesabaran menjaga dirinya dari dosa dan kesia-siaan, disertai dengan menahan haus dan lapar padahal tiada seorang pun manusia yang dapat mengetahui hakikat shaumnya—apakah ia jujur ataukah pura-pura—melainkan karena ia yakin bahwa Allah Maha Melihat.
Oleh karena itu, ia tunduk dan patuh memenuhi hak-hak-Nya demi meraih ketakwaan, karena untuk itulah Allah mewajibkan orang-orang beriman supaya melaksanakan shaum Ramadhan. Allah Ta'ala berfirman:
Motivasi serta harapan dalam kalam-Nya ‘Azza wa Jalla dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bersifat qath'i (tetap dan pasti). Dorongan pelaksanaan shaum memberi harapan bagi siapa yang mengamalkannya dengan benar untuk menyandang derajat orang yang bertakwa. Adapun hakikat ketakwaan seseorang hanya Allah yang mengetahuinya, dan ciri utamanya terletak pada sifat ihsan serta rasa diawasi oleh Allah (takwa merupakan ilmu hati).
Shaum mengajari kita untuk menshalihkan batin, di mana hanya Allah Ta'ala yang Maha Mengetahui jiwa seluruh makhluk-Nya. Shaum menuntut jiwa untuk mengendalikan jasad agar meninggalkan syahwat yang dihalalkan, sehingga amalan ini memerlukan mujahadah ruhiyah dan jasadiyah demi meraih keridaan-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan dan mengangkat derajat ibadah shaum ini dengan menyandarkan penyebutannya kepada Diri-Nya sendiri, sebagaimana termaktub dalam hadis qudsi:
Dengan demikian, shaum melatih kita untuk senantiasa ihsan. Sifat merasa diawasi ini mengantarkan pada ketaatan mutlak, mencakup akhlak mulia seperti menjaga lisan, pikiran dari perkataan keji (rafats), dan menghindari teriakan serta pertengkaran (shakhab).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan etika saat seseorang berpuasa, terutamanya ketika menghadapi keburukan atau provokasi:
Dalam hadis yang sama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi orang yang berpuasa dengan dua kebahagiaan besar:
Kelak di akhirat, orang-orang yang bertakwa akan disambut di surga dengan penuh kenikmatan atas amal saleh yang mereka kerjakan di dunia. Allah Ta'ala berfirman:
Terkait ayat di atas, Mujahid berkata bahwa yang dimaksud dengan "hari-hari yang telah berlalu" (al-ayyam al-khaliyah) adalah hari-hari berpuasa (lihat: Fath Al-Bayan karya Shiddiq Hasan Khan).
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik