8.4.22

 Majelis Ramadhan

Shaum Ramadhan Madrasah Ketakwaan

Shaum Ramadhan Madrasah Ketakwaan

Shaum merupakan ibadah yang diutamakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-hamba Nya dimana terdapat banyak manfaat dan faidah didalam pelaksanaannya, orang yang shaum akan mendapatkan maghfirahNya, yakni dihapuskan dosa-dosanya, shaumnya akan menjadi syafa’at dihari kiamat, belum lagi shaum juga sejatinya akan mengembalikan pelakunya pada kesabaran dan keteguhan serta menumbuhkan sifat muraqabatullah hingga berbuah ihsan dalam ucapan dan perbuatan.

Shaum ramadhan bagaikan madrasah ketakwaan, dimana pelaksanaannya dipenuhi nuansa pendidikan yang syarat akan kepatuhan dan ketaatan, bagaimana tidak? Seorang yang shaum dengan penuh kesabaran menjaga dirinya dari dosa dan kesia-siaan disertai dengan menahan haus dan lapar padahal tiada seorang pun manusia yang dapat mengetahui hakikat shaumnya apakah ia jujur ataukah pura-pura, melainkan karena ia yakin bahwa Allah Maha Melihat sehingga ia tunduk dan patuh memenuhi Hak-Nya demi meraih ketakwaankarena untuk itulah Allah mewajibkan orang beriman supaya melaksanakan shaum ramadhan, Firman-Nya:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة:183]

Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu shaum sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Motivasi serta harapan dalam Kalam-Nya ‘Azza wa Jalla dan sabda rasul-Nya saw bersifat qath’i (tetap dan pasti), demikian pula dorongan pelaksanaan shaum memberi harapan bagi siapa yang mengamalkannya dengan benar maka ia berhak menyandang derajat orang yang bertakwa, adapun ketakwaan seseorang hanyalah Allah Yang Mengetahuinya. Oleh sebab itu ciri ketakwaan seseorang terletak pada sifat ihsannya, sejauh mana ia merasa diawasi oleh Allah, maka takwa merupakan ilmu hati demi mendekat kepada Ilahi.

Shaum mengajari kita untuk menshalihkan batin dimana hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui jiwa seluruh makluk-Nya, shaum menuntut jiwa untuk mengendalikan jasadnya agar meninggalkan syahwat yang dihalalkan, maka amaliyah shaum menuntut mujahadah ruhiyah dan jasadiyah demi ke-RidhoanNya. Untuk itu Allah ‘Azza wa jalla memuliakan dan mengangkat derajat ibadah shaum ini dengan menyandarkan penyebutannya kepada DiriNya, sebagaimana Firman-Nya dalam hadits qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابنِ آدمَ له، فالحَسَنةُ بعَشْرِ أمثالِها إلى سَبعِ مِئةِ ضِعفٍ، إلّا الصِّيامَ؛ هو لي، وأنا أجزي به، يَترُكُ الطَّعامَ لِشَهوَتِهِ مِن أجْلي، ويَترُكُ الشَّرابَ لِشَهوَتِهِ مِن أجْلي، هو لى، وأنا أجزي به. (•  صحيح  •  أخرجه البخاري (١٩٠٤)، ومسلم (١١٥١)، والنسائي (٢٢١٦) بنحوه مطولاً، والترمذي (٧٦٤)، وابن ماجه (١٦٣٨) باختلاف يسير، وأحمد (١٠٥٤٠) واللفظ له)

Setiap amalnya bani Adam adalah untuknya, maka setiap satu kebaikan dilipat gandakan pahalanya 10 kali hingga 700 kali lipat, kecuali ibadah shaum ia khusus untuk-Ku, Aku yang menghitung balasan pahala untuknya, dia meninggalkan syahwat makannya karena Aku, meninggalkan syahwat minumnya karena Aku, ia untuk-Ku, Aku yang melipatgandakan pahala shaumnya

          Dengan demikian maka shaum mengajari kita untuk senantiasa ihsan, karena sifat merasa diawasi akan mengantarkan pada ketaatan dan kepatuhan, maka siapa yang berhasil menerapkan esensi shaum dalam kehidupannya, ia akan sampai pada derajat muroqobah dan takwa, sebab shaum sejatinya memuat unsur-unsur akhlaq muttaqin dan akhlaq muhsinin dimana orang yang shaum dilatih untuk menjaga lisan dan pikiran dari rafats (tidak senonoh) dan fahsya, menjaga diri dari shakhab (berteriak-teriak tanpa ada urgensinya). Nabi saw pernah bersabda:

قالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ له، إلَّا الصِّيَامَ؛ فإنَّه لي، وأَنَا أجْزِي به، والصِّيَامُ جُنَّةٌ، وإذَا كانَ يَوْمُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فلا يَرْفُثْ ولَا يَصْخَبْ، فإنْ سَابَّهُ أحَدٌ أوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. والذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِن رِيحِ المِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إذَا أفْطَرَ فَرِحَ، وإذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بصَوْمِهِ.( أبو هريرة  •  البخاري (ت ٢٥٦)، صحيح البخاري ١٩٠٤  •  [صحيح]  •  أخرجه البخاري (١٩٠٤)، ومسلم (١١٥١) واللفظ له).

Allah berfirman:”Seluruh amal bani Adam itu untuknya kecuali shaum sesungguhnya ia bagi-Ku dan Aku yang menghitung balasan pahala untuknya”. Dan shaum itu adalah perisai, dan apabila salah seorang dari kamu dalam kondisi shaum janganlah ia berbuat rafats dan shakhab, kemudian bila ada seseorang yang memakinya dan mengajaknya bertengkar maka katakanlah: sesungguhnya aku ini orang yang sedang shaum. Demi yang jiwa muhammad  berada di Tangan-Nya, sungguh perubahan aroma mulut orang yang shaum itu lebih harum di Sisi Allah daripada harumnya kesturi. Bagi yang shaum itu ada dua kegembiraan yang akan membahagiakannya: yaitu ketika berbuka ia gembira dan ketika ia bertemu Rabbnya ia gembira karena shaumnya.

Dalam hadits diatas, Nabi saw mengajari kita bahwa dengan shaum harus mampu mengendalikan diri, seperti ketika berhadapan dengan keburukan maka yang harus muncul adalah sifatnya akhlak mulia orang yang shaum, hadits diatas pun memotivasi orang yang shaum dengan kebahagiaan akhirat, harapan yang senantiasa dinanti dan ditunggu-tunggu dihari kiamat yaitu pahala shaum yang nilainya berada di Sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Betapa menghibanya jiwa yang penuh hina… semoga lautan aib dan dosa yang meliputi jiwa dihapuskan-Nya sehingga diri ini bergembira bertemu Rabb ‘Azza wa Jalla yang telah berjanji menyediakan limpahan pahala dari ibadah shaum dibulan mulia, berharap surga yang dilukiskan dengan limpahan kebahagiaan, Dia peruntukkan bagi yang dapat meraih ketakwaan, Allah berfirman:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأَيَّامِ الْخَالِيَةِ [الحاقة:24]

Makan dan minumlah dengan penuh kesenangan disebabkan amal yang telah kamu kerjakan dihari-hari yang telah berlalu

Mereka itulah orang-orang yang berbahagia disurga disebabkan amal shalih yang mereka lakukan sewaktu didunia. Firman-Nya:  الأَيَّامِ الْخَالِيَةِ, Mujahid berkata: yaitu hari-hari shaum. (Lihat: فتح البيان للقنوجي — صديق حسن خان (١٣٠٧ هـ))

          Demikian tarbiyah dalam pelaksanaan shaum, sejatinya mengantarkan pelakunya menjadi manusia yang pandai mengendalikan diri demi menetapi ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Madrasah ramadhan madrasah takwa, tarbiyahnya hanya sebulan, siapa yang sukses dialah yang meraih setinggi-tinginya gelar.

Muttaqin: gelar yang akan dibawa sampai wafat bila istiqomah dalam ta’at...


Baca Juga: 

Keutamaan Ramadhan 

Bersungguh-Sungguh di 10 Akhir Ramadhan

Nafas Iman di Penghujung Ramadhan

Menjaga Ketakwaan Setelah Ramadhan



Disarikan dari: مجالس رمضان - أحمد فريد

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik