19.6.17

 Bersungguh-sungguh Di Sepuluh Akhir Ramadlan
Gbr. Bersungguh-sungguh di sepuluh akhir Ramadlan
Bismillaahi walhamdulillaah washsholaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah wa 'alaa aalihii wa ashhaabihi ajma'iin.
Ikhwah fillaah semoga kita senantiasa dirahmati Allah, sebagaimana telah kita ketahui bahwa di sepuluh akhir syahru ramadlan terdapat satu malam alqadar yang mana Allah Ta’ala memuliakannya diatas malam-malam yang lain bagi ummat ini dengan fadhilah dan kebaikan yang sangat berlimpah. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memuji keutamaannya dalam alQuran :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ,  فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ , أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا.. .
" Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan, pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami..". (Q.S. AdDukhan:3-5).
Allah Ta’ala menyifatinya bahwa sesungguhnya malam tersebut adalah malam "mubaarakah" (yang diberkahi), karena sangat banyaknya kebaikan, barakah dan keutamaannya. Dan diantara berkahnya adalah bahwa Allah Ta’ala menurunkan alQuran pada malam tersebut, kemudian Allah menyifatinya :
يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yakni Allah merinci dan membagi-bagi segala urusan dari Lauhilmahfuzh kedalam suatu catatan (Allaahu a’lam), yang didalamnya terdapat segala sesuatu perkara dari Allah Ta’ala yang berhubungan dengan makhluq-Nya berupa rizqi, âjal (hidup & mati), kebaikan dan keburukan, dan lain sebagainya diantara urusan-urusan yang penuh hikmah yang Allah tetapkan dengan penuh keadilan dan kesempurnaan, yang tidak ada didalamnya sedikitpun kecacatan, kekurangan, kelemahan, dan kebatilan. Itulah takdir Allah Al’Aziizul ‘Alim. [1]
          Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
" Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?, malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malak Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar".(Q.S. AlQadr:1-5).
Syaikh al’Utsaimin rahiimahullaah menjelaskan, bahwa alQadar bermakna:
الشَّرَفُ  وَ التَّعظِيمُ
(kemuliaan dan keagungan)
atau bermakna :
التَّقدِيرُ  وَ القَضَاءُ
(qadla dan qadar),
karena malam alqadr adalah malam yang agung dan mulia dan Allah menetapkan qadla dan qadar didalamnya.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan),
yaitu lebih baik dalam fadhilah, kemuliaan, serta banyaknya pahala dan ganjaran. Oleh karena itulah siapa yang melaksanakan qiyamullail pada malam tersebut iimaanan wahtisaaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
(turun malaikat dan Jibril pada malam itu),
malaikat merupakan hamba diantara hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya siang dan malam, sebagaimana Allah berfirman :
لَايَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ  ,  يُسَبِّحُونَ  اللَّيْلَ   وَالنَّهَارَ  لَا يَفْتُرُونَ
"mereka tiada mempunyai kesombongan  untuk menyembah Allah dan tiada (pula) merasa letih, mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya"(Q.S alAnbiya': 19-20).
Mereka (malaikat), pada malam alqadr turun kebumi dengan membawa kebaikan, berkah dan rahmah.
Dan الروح , adalah Jibril a.s yang secara khusus Allah sebut dengan arRuuh, yakni sebagai kemulyaan dan keutamaannya. 
Kemudian سَلَامٌ هِيَ    (penuh kesejahteraan),  yakni malam alqadr adalah malam yang penuh kesejahteraan bagi orang-orang beriman dari setiap kekhawatiran karena pada malam tersebut disediakan ampunan yang dapat menyelamatkan dari adzab Allah dan api neraka. Selanjutnya malam  alqadr berakhir dengan terbitnya fajar sebagai tanda berakhirnya pula amal yang diberikan keutamaan pada malam yang penuh berkah tersebut.
Terdapat banyak fadhilah mengenai lailatulqadr pada surat yang mulia ini, beberapa diantaranya al’Utsaimin menyebutkan :
1.   Bahwa Allah swt pada malam itu menurunkan alQuran yang menjadi hidayah bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.  Adanya istifham (pertanyaan) untuk menunjukan bahwa Allah memuliakan dan mengagungkan malam tersebut dalam firman-Nya Ta’ala: وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ.
3.     Lebih baik dari seribu bulan.
4.  Bahwa tidaklah malaikat turun pada malam tersebut kecuali mereka turun dengan kebaikan, berkah dan rahmat.
5.   Malam tersebut adalah malam yang sejahtera karena berlimpahnya keselamatan dari siksa dan adzab Allah dengan sebab hamba-hamba yang melaksanakan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.
6.  Dan sungguh Allah Ta’ala menurunkan keutamaan pada surat yang mulia ini secara sempurna hingga hari kiamat.
Dan diantara keutamaan malam alqadr, terdapat penjelasan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw bersabda :
  [2]  مَن قَامَ لَيلَةَ القَدرِ   إِيمَانًا وَاحتِسَابًا  غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ  ,
Sabda Nabi saw : imanan wahtisaban , yakni percaya dan yakin kepada Allah, kepada janji Allah bahwa Allah telah menyiapkan balasan pahala lil-qaaimiina fiihaa, yaitu bagi orang-orang yang berdiri (qiyamullail) pada malam itu, wahtisaaban lil-ajri , yaitu benar-benar mengharap imbalan/balasan pahala hanya dari Allah swt.
Dan lailatul qadr itu berada di bulan ramadlan, karena alQuran diturunkan pada bulan ramadlan, sebagaimana ayat alQuran menjelaskan :
 [3] شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ ,
maka dengan demikian  sudah tentu bahwa lailatulqadr terdapat dibulan ramadlan bukan dibulan yang lain. Juga terdapat penjelasan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar r.a bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَ فِي رَمَضَانَ  هِيَ أَوْ فِي غَيْرِهِ   قَالَ : بَلْ هِيَ فِي رَمَضَانَ , قَالَ قُلْتُ:  تَكُونُ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ مَا كَانُوا فَإِذَا قُبِضُوا رُفِعَتْ أَمْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , قَالَ : بَلْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ .[4]
'Wahai Rasulullah, beritahu saya tentang lailaitul qadar, apakah dia terjadi di bulan Ramadan atau di selainnya? ' Rasulullah saw bersabda: 'Melainkan dia itu terjadi di bulan Ramadan'. Abu Dzar melanjutkan, "Aku lalu berkata, 'Apakah malam itu hanya ada bersama para Nabi, sehingga ketika mereka semua meninggal malam itu diangkat oleh Allah? Atau itu berlaku hingga datang hari kiamat? ' Beliau bersabda: "Melainkan ia itu hingga hari kiamat". (H.R. Ahmad).
          Dan lailatulqadr itu berada di sepuluh terakhir bulan ramadlan berdasarkan sabda Nabi saw :
 تَحَرَّوْا  لَيلَةَ القَدرِ  فِي العَشرِ الأَوَاخِرِ مِن رَمَضَانَ [5]
 "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan".(H.R. Bukhari & Muslim). Yaitu pada malam-malam ganjil sebagaimana sabda Nabi saw :
 تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ  [6]  
 "Carilah Lailatul Qadar di malam yang ganjil pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan". (H.R. Bukhari).
Dan terdapat masih dalam riwayat Imam alBukhari mengenai lebih dekat terjadinya lailatulqadr, bahwa Nabi saw bersabda :
اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى .[7]
"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima". (H.R. Bukhari).
Allah swt merahasiakan pengetahuan tepatnya terjadi malam alqadr kepada hambanya justru sebagai rahmat supaya mereka memperbanyak amalnya dan bersungguh-sungguh didalam mencarinya pada malam-malam yang diutamakan pada sepuluh terakhir itu dengan melaksanakan sholat, dzikir, berdo’a, dan lain sebagainya yang dapat menambah kecintaan kepada Allah swt. Supaya lebih tumbuh dan bertambah kedekatannya kepada Allah Ta’ala dan bertambah juga pahala disisi-Nya. Sekaligus dirahasiakannya itu sebagai ujian pula bagi mereka sehingga jelas mana hamba yang bersungguh-sungguh dalam menuntut dan mengharapkannya dan mana hamba yang malas-malasan dan lalai bahkan tidak peduli sama sekali.
Ikhwah fillaah rahiimakumullaah mari kita niatkan lebih bersungguh-sungguh lagi pada sepuluh terakhir ini, harapan lebih besar diampuni dosa-dosa, diijabahnya do’a-do’a, lebih dekat kecintaan kepada-Nya, dan ditetapkan pahala yang berlipat ganda, inilah waktu dan musimnya, dan berhati-hatilah dari kelalaian, karena kelalaian sungguh dapat merusak dan merugikan.
Allaahumma yaa ilaahanaa..jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang  benar-benar shaum pada bulan ramadlan ini, yang merasakan lailatulqadr dan memperoleh pahala dan ganjaran yang berlimpah.
Allaahumma yaa ilaahanaa.. jadikanlah kami termasuk golongan assaabiquuna ilalkhairaat (yang berlomba-lomba dalam kebaikan), yang menjauhkan diri dari perbuatan munkar, yang engkau berikan kenikmatan atas mereka dan Engkau jaga dari segala keburukan.
Allaahumma..lindungilah kami ya Allah dari orang-orang yang menyesatkan, dan jauhkan kami dari perbuatan fahsya.
Allaahumma..karuniakanlah kepada kami rizqi yang banyak bermanfaat bagi dunia dan akhirat kami, karuniakan kami hati yang senantiasa mensyukuri nikmatMu, masukanlah kami kedalam golongan hamba-hamba yang ta’at kepadaMu..
وَآتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةَ وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، وَاغفِر لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ المُسلِمِينَ بِرَحمَتِكَ يَا أَرحَمَ الرَّاحِمِينَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجمَعِينَ.



[1] . Lihat : مجالس شهر رمضان, محمد بن صالح العثيمين: في الاجتهاد في العشر الأواخر وليلة القدر
[2] . متفق عليه
[3] .Q.S. Albaqarah:185.
[4]  . رواه أحمد، وقال : حديث صحيح على شرط مسلم ، والله أعلم
[5]   . متفق عليه
[6] . رواه البخاري
[7] . Ibid.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik