Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Naluri Bersaing Dengan Fastabiqul Khairat

Meraih Gelar Pemenang Sejati Melalui Fastabiqul Khairat

Kategori: Motivasi & Inspirasi Islam
Di tengah kompetisi yang kerap memicu ambisi tanpa batas, sering kali orang-orang terjebak dalam perlombaan duniawi yang melelahkan. Padahal, Islam telah menyediakan arena tanding yang jauh lebih bermartabat dan menenangkan jiwa. Memang, pada dasarnya setiap manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya persaingan, baik secara moril maupun materiil, yang terbagi menjadi persaingan secara sehat dan tidak sehat.
Adanya karakter dalam jiwa manusia yang selalu ingin menjadi lebih baik merupakan potensi luar biasa. Potensi ini harus dikelola dengan benar agar menuntun seseorang untuk senantiasa tampil dalam segala medan kebaikan demi meraih prestasi di dunia dan akhirat, sehingga ia selalu bersemangat untuk bergerak, bekerja, dan berjuang menjadi pribadi yang lebih unggul.

Dalam hal ini, Allah SWT telah membimbing dan memberikan semangat kepada kita semua agar dapat meraih gelar "The Winner" (pemenang) bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak. Kemenangan hakiki tersebut dapat diraih melalui metode yang lurus, yaitu fastabiqul khairat.

Jika dikaitkan dengan naluri bersaing dalam diri manusia, kita menyadari bahwa hanya orang yang memiliki moralitas bersih yang mampu bersaing secara sehat. Ia akan berusaha, beramal, dan berjuang dengan seluruh kemampuannya yang didasarkan pada nilai-nilai keikhlasan, murni, serta bersih dari kedustaan, kecurangan, maupun pengkhianatan.

Perintah fastabiqul khairat secara jelas tertuang dalam firman Allah SWT:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Q.S. Al-Baqarah: 148).

Di sini Allah Ta'ala memberikan bimbingan yang luas kepada kita, di antaranya sebagai isyarat agar kita senantiasa menetapi keikhlasan dan bermuwajahah (menghadapkan diri) hanya kepada-Nya. Keikhlasan ini mencakup ibadah yang ditentukan waktu, tempat, niat, dan tata caranya secara eksplisit—seperti wudhu dan shalat—maupun amal kebajikan yang tidak terikat waktu tertentu, seperti mencari nafkah melalui pekerjaan, berdagang, berbisnis, atau profesi lainnya.

Seluruh aktivitas muamalah tersebut dapat bernilai pahala kesalehan di sisi Allah swt. apabila diniatkan dalam kerangka fastabiqul khairat, yakni bersaing dan berlomba dalam beramal saleh.

Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, penafsiran dari frasa fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan) merujuk pada makna al-mubadarah ila tanfidzi ma amara Allah bihi, yakni aksi nyata dan kesegeraan untuk mengimplementasikan segala perintah Allah. Contoh terbaik adalah ketaatan Rasulullah saw. terhadap perintah Allah untuk menghadap ke Baitulmaqdis ketika shalat; beliau dan para sahabat melaksanakannya dengan penuh keikhlasan, kendati hati beliau sebenarnya sangat merindukan arah Kakbah, hingga akhirnya Allah swt. menurunkan perintah untuk kembali menghadap Kakbah.

Inilah isyarat bahwa perintah kebaikan dan amal saleh itu terkadang menyalahi hasrat hati, terasa berat memang, namun justru di sinilah letak pembeda antara mereka yang sanggup bersaing dalam kebaikan dan mereka yang menyerah.

Pada akhirnya, status sosial tidaklah menjadi ukuran—baik ia seorang pemimpin, rakyat jelata, pemilik perusahaan, pekerja, pengajar, pelajar, maupun profesi apapun. Ketika seseorang bersaing dan berlomba menegakkan kebaikan dengan penuh keikhlasan, maka dialah "The Winner" (sang pemenang sejati).

Al-Qur'an telah memberikan pedoman hidup dari perkara terkecil hingga terbesar, memastikan bahwa setiap langkah yang sejalan dengan petunjuk-Nya akan mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Mari manfaatkan waktu secara optimal dengan merenungkan setiap amal, memastikan perbuatan kita bernilai alkhairat (amal saleh) yang bermanfaat bagi sesama, bersaing tanpa menjatuhkan orang lain, serta meneladani akhlak Rasulullah saw.

Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan untuk meningkatkan hasrat bersaing dalam kebaikan, sehingga kelak dikumpulkan oleh Allah swt. bersama para kekasih-Nya.

Sumber / Referensi:
  • Al-Qur'an Al-Karim
  • Tafsir Al-Munir (Dr. Wahbah az-Zuhaili)
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik