Meraih Gelar Pemenang Sejati Melalui Fastabiqul Khairat
Dalam hal ini, Allah SWT telah membimbing dan memberikan semangat kepada kita semua agar dapat meraih gelar "The Winner" (pemenang) bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak. Kemenangan hakiki tersebut dapat diraih melalui metode yang lurus, yaitu fastabiqul khairat.
Jika dikaitkan dengan naluri bersaing dalam diri manusia, kita menyadari bahwa hanya orang yang memiliki moralitas bersih yang mampu bersaing secara sehat. Ia akan berusaha, beramal, dan berjuang dengan seluruh kemampuannya yang didasarkan pada nilai-nilai keikhlasan, murni, serta bersih dari kedustaan, kecurangan, maupun pengkhianatan.
Perintah fastabiqul khairat secara jelas tertuang dalam firman Allah SWT:
Di sini Allah Ta'ala memberikan bimbingan yang luas kepada kita, di antaranya sebagai isyarat agar kita senantiasa menetapi keikhlasan dan bermuwajahah (menghadapkan diri) hanya kepada-Nya. Keikhlasan ini mencakup ibadah yang ditentukan waktu, tempat, niat, dan tata caranya secara eksplisit—seperti wudhu dan shalat—maupun amal kebajikan yang tidak terikat waktu tertentu, seperti mencari nafkah melalui pekerjaan, berdagang, berbisnis, atau profesi lainnya.
Seluruh aktivitas muamalah tersebut dapat bernilai pahala kesalehan di sisi Allah swt. apabila diniatkan dalam kerangka fastabiqul khairat, yakni bersaing dan berlomba dalam beramal saleh.
Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili, penafsiran dari frasa fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan) merujuk pada makna al-mubadarah ila tanfidzi ma amara Allah bihi, yakni aksi nyata dan kesegeraan untuk mengimplementasikan segala perintah Allah. Contoh terbaik adalah ketaatan Rasulullah saw. terhadap perintah Allah untuk menghadap ke Baitulmaqdis ketika shalat; beliau dan para sahabat melaksanakannya dengan penuh keikhlasan, kendati hati beliau sebenarnya sangat merindukan arah Kakbah, hingga akhirnya Allah swt. menurunkan perintah untuk kembali menghadap Kakbah.
Inilah isyarat bahwa perintah kebaikan dan amal saleh itu terkadang menyalahi hasrat hati, terasa berat memang, namun justru di sinilah letak pembeda antara mereka yang sanggup bersaing dalam kebaikan dan mereka yang menyerah.
Pada akhirnya, status sosial tidaklah menjadi ukuran—baik ia seorang pemimpin, rakyat jelata, pemilik perusahaan, pekerja, pengajar, pelajar, maupun profesi apapun. Ketika seseorang bersaing dan berlomba menegakkan kebaikan dengan penuh keikhlasan, maka dialah "The Winner" (sang pemenang sejati).
Al-Qur'an telah memberikan pedoman hidup dari perkara terkecil hingga terbesar, memastikan bahwa setiap langkah yang sejalan dengan petunjuk-Nya akan mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Mari manfaatkan waktu secara optimal dengan merenungkan setiap amal, memastikan perbuatan kita bernilai alkhairat (amal saleh) yang bermanfaat bagi sesama, bersaing tanpa menjatuhkan orang lain, serta meneladani akhlak Rasulullah saw.
Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan untuk meningkatkan hasrat bersaing dalam kebaikan, sehingga kelak dikumpulkan oleh Allah swt. bersama para kekasih-Nya.
- Al-Qur'an Al-Karim
- Tafsir Al-Munir (Dr. Wahbah az-Zuhaili)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik