Esensi Shalat: Mengapa Ibadah Ini Harus Mencegah Perbuatan Keji
Kembali ke tema utama kita mengenai esensi shalat, sebenarnya apa yang keliru dari pelaksanaan shalat seseorang sehingga tidak memberikan efek positif pada kehidupannya? Padahal, Al-Qur'an secara tegas telah menjelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
Orang-orang yang yakin akan kebenaran Al-Qur'an pasti merasa gembira dan bahagia dengan ayat tersebut, sebab Allah Ta'ala menginformasikan kehebatan shalat yang dapat menjamin pelakunya tercegah dari kemaksiatan. Allah mustahil keliru dan mustahil ingkar janji. Lantas, shalat yang bagaimana yang dimaksud dalam ayat tersebut?
Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa shalat mencakup dua unsur utama: meninggalkan segala perbuatan fakhisyah dan kemungkaran, yang artinya kesungguhan hati dalam mengerjakannya menuntun seseorang untuk meninggalkan hal-hal tersebut. Dalam hadis riwayat 'Imran dan Ibnu 'Abbas secara marfu' disebutkan: "Siapa yang shalatnya tidak sanggup mencegah dirinya dari perbuatan fakhisyah dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah dari Allah kecuali semakin jauh."
Di sinilah letak jawaban mengapa banyak pelaku shalat yang masih gemar bermaksiat—boleh jadi karena mereka tidak bersungguh-sungguh melaksanakannya atau sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat bukan sekadar gerakan fisik semata; itulah mengapa perintahnya menggunakan aqimush-shalah (tegakkan/dirikanlah shalat), bukan i'malush-shalah (kerjakanlah shalat).
Dalam realitas kehidupan masa kini, tantangan terbesar anak muda bukan lagi sekadar ketersediaan waktu, melainkan bagaimana menjaga kehadiran hati di tengah gempuran distraksi digital. Ketika shalat kehilangan esensi kekhusyukannya, ibadah tersebut berubah menjadi rutinitas harian yang kering, gagal berfungsi sebagai alarm moral, dan kehilangan kapasitasnya sebagai pengendali diri dari arus modernitas yang hedonis.
Selanjutnya, Ibnu Katsir juga mengutip perkataan Abul 'Aliyah bahwa shalat memiliki tiga karakteristik mutlak yang jika salah satunya tidak ada, maka ibadah itu tidak bisa disebut sebagai shalat yang hakiki: ikhlas, khasyyah (rasa takut/khusyuk), dan dzikrullah. Ikhlas akan mendorong seseorang pada kebaikan, khasyyah mencegahnya dari kemungkaran, dan dzikrullah membimbingnya dalam amar makruf nahi mungkar.
Maka, jelaslah bahwa shalat yang benar adalah shalat yang "berisi". Inilah esensi shalat yang memuat keikhlasan, ketakutan kepada Allah, serta internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Jika difungsikan dengan benar, shalat yang kita dirikan pasti mampu menjaga diri kita dari segala bentuk kemaksiatan.
Demikian ikhtisar makna pelaksanaan shalat ini disampaikan. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, khusyuk, dan senantiasa berada dalam penjagaan dzikrullah serta dzikrul-Qur'an. Wallaahul muwaffiq.
- Mendirikan Sholat
- Tafsir Ibnu Katsir (t. Salamah)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik