3.6.17

      Suka shalat tapi masih maksiyat?, suka menggunjing, merendahkan orang lain, berakhlak buruk dan sebagainya dari rangkaian dosa-dosa?...apa sih yang keliru?, mending guwe aja yang ga sholat tapi ga suka nyakitin orang lain, ga ngerugiin orang lain, guwe juga banyak temen, hidup  juga berkecukupan, jalan selalu dimudahkan..bla..bla..😁.
esensi shalat

          Ungkapan diatas mungkin pernah atau sering kita denger, atau mungkin kita malah berpendapat sama kayak gitu ..😢..al'iyaadzu billaah... 
Sebab itulah kita harus senantiasa memohon pertolongan dan pelindungan kepada Allah dari sia-sia nya sholat kita...mohon juga kepada Allah agar kita digolongkan kedalam kelompok orang-orang beriman yang diterima ibadahnya..aamiin.
          Ok guys, kita kembali  ke tema artikel ini, yaitu esensi shalat. Sebenarnya apa sih yang keliru dari pelaksanaan shalat seseorang? sehingga ga ngefek sama kehidupan sehari-harinya, padahal alQuran sesungguhnya telah menjelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Q.S.Al ’Ankabut:45).
       Nah tuh...sesungguhnya orang-orang yang yakin akan kebenaran alQuran pasti gembira dan bahagia dengan ayat tersebut, sebab Allah Ta'ala menginformasikan akan kehebatan dan keajaiban shalat, sehingga si pelakunya dijamin akan tercegah dari perbuatan maksiyat, dan Allah mustahil keliru, mustahil ingkar janji. Dengan demikian shalat yang bagaimana sih yang disebutkan dalam ayat tersebut?.
          Alhafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
أَنَّ الصَّلَاةَ تَشْتَمِلُ عَلَى شَيْئَيْنِ: عَلَى تَرْكِ الْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرَاتِ، أَيْ: إِنَّ مُوَاظَبَتَهَا تَحْمِلُ عَلَى تَرْكِ ذَلِكَ. وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ رِوَايَةِ عِمْرَانَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: "مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا"
Sesungguhnya Sholat itu mencakup kepada dua unsur, yaitu: untuk meninggalkan segala perbuatan fahsya' dan kemunkaran, maksudnya: Bahwa kesungguhan hati dalam mengerjakan shalat dapat membawa kepada meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut (keji dan munkar). Dan sungguh telah terdapat dalam hadits dari riwayat 'Imran dan Ibnu 'Abbas secara marfu’ : " Siapa yang sholatnya tidak sanggup mencegah dirinya dari perbuatan fahsya' dan munkar , maka tidak akan bertambah kepadanya kecuali hanya semakin jauh dari Allah".
          Inilah rupanya kenapa banyak pelaku shalat tapi suka maksiyat, boleh jadi karena dirinya memang tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya (asal sholat atau asal gugur kewajiban), karena shalat bukan sekedar mengerjakan, bukan sekedar gerakan, maka perintahnyapun aqimushsholah (tegakkan/dirikanlah shalat) bukan i'malushsholah (kerjakanlah shalat). Justru ayat tersebut ternyata menegaskan bahwa pelaku shalat semestinya dapat mencegah dirinya dari perbuatan maksiyat.
          Selanjutnya Ibnu Katsir pun menjelaskan :
قَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ: إِنَّ الصَّلَاةَ فِيهَا ثَلَاثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلَاةٍ لَا يَكُونُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْخِلَالِ فَلَيْسَتْ بِصَلَاةٍ: الْإِخْلَاصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللَّهِ. فَالْإِخْلَاصُ يَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالْخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَذِكْرُ الْقُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ.
Abul ’Aliyah berkata : Sesungguhnya sholat itu mempunyai tiga karakteristik, maka setiap shalat yang tidak terdapat padanya salah satu dari ketiga karakter tersebut, maka itu bukanlah sholat, yaitu : Ikhlash, Kasyyah (khusyu’/takut) dan dzikrullah. Adapun ikhlash akan menyuruhnya berbuat ma’ruf, khasyyah (rasa takut kepada Allah) akan mencegahnya dari berbuat munkar, dan dzikrulqur'an akan menyuruhnya amar ma'ruf  nahyi munkar.
          Maka jelaslah bahwasanya sholat yang benar itu adalah sholat yang "berisi", maka inilah esensi shalat yang penulis maksud dalam artikel ini, yakni sholat yang berisi keikhlashan, ketakutan, dan tidak dipungkiri bahwa sholat berisi dzikrulQuran yang mana alQuran adalah petunjuk hidup yang diantaranya bermuatan perintah dan larangan dari Allah Ta'ala yang jika difungsikan dengan benar...sudah barang tentu shalat yang kita laksanakan adalah sholat yang tegak dan shalat yang mampu menjaga dari kemaksiyatan.
          Demikian agan-agan yang dirahmati Allah Ta'ala ikhtishar makna pelaksanaan sholat semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk menjadi hamba-Nya yang ikhlash, khusyu' dan senantiasa dzikrullaah dan dzikrulQuran...Wallaahulmuwaffiq.




Sumber  :
تفسير ابن كثير ت سلامة
_______________________
Baca juga : Mendirikan Sholat

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik