Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Esensi Shalat

Esensi Shalat: Mengapa Ibadah Ini Harus Mencegah Perbuatan Keji

Kategori: Ibadah & Fiqih
Tidak dapat dipungkiri, manusia sering kali dihadapkan pada fenomena sosial yang membingungkan: seseorang rajin menunaikan shalat, tetapi dalam kesehariannya masih gemar bermaksiat, menggunjing, atau merendahkan orang lain. Bahkan, tidak sedikit anak muda yang kemudian melontarkan sinisme, "Mending nggak shalat tapi nggak nyakitin orang lain, hidup berkecukupan, dan banyak teman." Anggapan keliru seperti ini tentu menjadi alarm bagi kita bahwa ada yang kurang tepat dalam cara pandang memaknai ibadah. Melalui tulisan ini, mari kita bedah kembali esensi shalat agar ibadah yang kita lakukan benar-benar berdampak nyata pada akhlak dan kehidupan sehari-hari.
Ungkapan-ungkapan miring tersebut mungkin pernah atau sering kita dengar, atau bahkan sempat terlintas di benak sebagian orang. Al-'iyaadzu billaah. Sebab itulah kita harus senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari kesia-siaan shalat, serta memohon agar digolongkan ke dalam kelompok orang beriman yang diterima ibadahnya.

Kembali ke tema utama kita mengenai esensi shalat, sebenarnya apa yang keliru dari pelaksanaan shalat seseorang sehingga tidak memberikan efek positif pada kehidupannya? Padahal, Al-Qur'an secara tegas telah menjelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-'Ankabut: 45).

Orang-orang yang yakin akan kebenaran Al-Qur'an pasti merasa gembira dan bahagia dengan ayat tersebut, sebab Allah Ta'ala menginformasikan kehebatan shalat yang dapat menjamin pelakunya tercegah dari kemaksiatan. Allah mustahil keliru dan mustahil ingkar janji. Lantas, shalat yang bagaimana yang dimaksud dalam ayat tersebut?

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa shalat mencakup dua unsur utama: meninggalkan segala perbuatan fakhisyah dan kemungkaran, yang artinya kesungguhan hati dalam mengerjakannya menuntun seseorang untuk meninggalkan hal-hal tersebut. Dalam hadis riwayat 'Imran dan Ibnu 'Abbas secara marfu' disebutkan: "Siapa yang shalatnya tidak sanggup mencegah dirinya dari perbuatan fakhisyah dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah dari Allah kecuali semakin jauh."

Di sinilah letak jawaban mengapa banyak pelaku shalat yang masih gemar bermaksiat—boleh jadi karena mereka tidak bersungguh-sungguh melaksanakannya atau sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat bukan sekadar gerakan fisik semata; itulah mengapa perintahnya menggunakan aqimush-shalah (tegakkan/dirikanlah shalat), bukan i'malush-shalah (kerjakanlah shalat).

Dalam realitas kehidupan masa kini, tantangan terbesar anak muda bukan lagi sekadar ketersediaan waktu, melainkan bagaimana menjaga kehadiran hati di tengah gempuran distraksi digital. Ketika shalat kehilangan esensi kekhusyukannya, ibadah tersebut berubah menjadi rutinitas harian yang kering, gagal berfungsi sebagai alarm moral, dan kehilangan kapasitasnya sebagai pengendali diri dari arus modernitas yang hedonis.

Selanjutnya, Ibnu Katsir juga mengutip perkataan Abul 'Aliyah bahwa shalat memiliki tiga karakteristik mutlak yang jika salah satunya tidak ada, maka ibadah itu tidak bisa disebut sebagai shalat yang hakiki: ikhlas, khasyyah (rasa takut/khusyuk), dan dzikrullah. Ikhlas akan mendorong seseorang pada kebaikan, khasyyah mencegahnya dari kemungkaran, dan dzikrullah membimbingnya dalam amar makruf nahi mungkar.

Maka, jelaslah bahwa shalat yang benar adalah shalat yang "berisi". Inilah esensi shalat yang memuat keikhlasan, ketakutan kepada Allah, serta internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Jika difungsikan dengan benar, shalat yang kita dirikan pasti mampu menjaga diri kita dari segala bentuk kemaksiatan.

Demikian ikhtisar makna pelaksanaan shalat ini disampaikan. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, khusyuk, dan senantiasa berada dalam penjagaan dzikrullah serta dzikrul-Qur'an. Wallaahul muwaffiq.

Baca Juga:
- Mendirikan Sholat
Sumber / Maraji':
  • Tafsir Ibnu Katsir (t. Salamah)
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik