29.12.22

Tasyahhud Awwal

Tata Cara Tasyahhud awwal

Pembahasan sebelumnya:

Berdiri & Posisi Kedua Tangan

Berbagai pilihan Do'a Istiftah

Isti'adzah, membaca Al-Fatihah dan Surat

Tata cara rukuk dan permasalahannya

 Duduk diantara dua sujud

22.      Setelah selesai dari dua rakaat, selanjutnya duduk untuk tasyahhud awwal.

Makna Tasyahhud

    Yang dimaksud tasyahhud disini yaitu attahiyyat, dinamakan tasyahhud(persaksian) karena didalamnya terdapat syari’at membaca dua kalimat syahadat. 

Hukum Tasyahhud

Para ‘ulama berbeda pendapat mengenai hukum tasyahhud, ada yang berpendapat sunnah dan ada yang berpendapat wajib.

Ibnu Bathal yang bermadzhab Maliki, dalam syarah shahih al-Bukhari menerangkan bahwa para Fuqoha' diantaranya imam Malik, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Al-Laits, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur dan Ishaq, telah bersepakat bahwa tasyahud awwal hukumnya tidak termasuk wajib kecuali imam Ahmad bin Hambal, beliau berkata:

إِنَّهُ وَاجِبٌ وَحُجَّتُهُ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ تَشَهَّدَ وَعَلَّمَهُمُ التَّشَهُّدَ، وَرُوِىَ عَن عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَتَشَهَّدْ فَلَا صَلَاةَ لَهُ. (شرح صحيح البخارى لابن بطال (2/ 444) باب مَنْ لَمْ يَرَ التَّشَهُّدَ الأوَّلَ وَاجِبًا لأنَّ نَبِيَّ الله قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ، وَلَمْ يَرْجِعْ).

Sesungguhnya tasyahhud itu wajib dan sebagai hujjahnya adalah sesungguhnya  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertasyahhud dan mengajarkan tasyahhud, dan telah diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab ra bahwasanya ia berkata: “siapa yang tidak bertasyahhud maka tidak ada shalat baginya(tidak sah)”.

Adapun dalil yang dijadikan hujjah oleh sebagian ‘ulama bahwa tasyahhud awwal bukanlah termasuk wajib yaitu berdasarkan hadits riwayat Ibnu Buhainah:

أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ ، صَلَّى رَكعَتَينِ فَقَامَ إِلَى الثَّالِثَةِ وَلَم يَجلِسْ فَلَمَّا تَمَّ أَربَعًا سَجَدَ لِلسَّهوِ قَبلَ السَّلَامِ.(شرح صحيح البخارى لابن بطال (2/ 445)باب مَنْ لَمْ يَرَ التَّشَهُّدَ الأوَّلَ وَاجِبًا لأنَّ نَبِيَّ الله قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ، وَلَمْ يَرْجِعْ ).

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah shalat dua raka’at maka Beliau berdiri untuk roka’at ketiga dan Beliau tidak duduk(tasyahhud awwal), maka kemudian ketika telah sempurna empat raka’at Beliau sujud sahwi sebelum salam.

Ibnu Bathal menyebutkan bahwa seandainya tasyahhud awwal itu hukumnya wajib, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengulanginya, namun tidak didapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi kaifiyat tasyahhud sebelum sujud sahwi.

An-Nawawi dalam syarah Muslim juga menyebutkan bahwa imam asy-Syafi’i dan sebagian ‘ulama berkata bahwa tasyahhud awwal hukumnya sunnat dan tasyahhud akhir hukumnya wajib, adapun mayoritas ahli hadits mengatakan kedua-duanya wajib, adapun imam Ahmad berkata bahwa tasyahhud awwal hukumnya wajib dan tasyahhud akhir hukumnya fardhu, kemudian Abu Hanifah, Malik dan mayoritas Fuqoha' mengatakan kedua-duanya sunnat. [1]

Dalil Tasyahhud

        Penjelasan sifat dan kaifiyat tasyahhud awwal redaksinya terdapat pada sebagian hadits almusi'u shalatahu, berikut ini salah satu riwayatnya:

عَن مُحَمَّدِ بنِ إِسحَاقَ، حَدَّثَنِي عَلِيُّ بنُ يَحيَى بنِ خَلَادِ بنِ رَافِعٍ، عَن أَبِيهِ عَن عَمِّهِ رِفَاعَةَ بنِ رَافعٍ، عَنِ النِّبِيِّ ﷺ بِهَذِهِ القِصَّةِ، قَالَ: "إذَا أَنتَ قُمتَ فِي صَلَاتِكَ فكَبِّرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اقرَأْ مَا تَيَسَّرَ عَلَيكَ مِنَ القُرآنِ" وَقَالَ فِيهِ: "فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ اليُسرَى، ثُمَّ تَشَهَّدْ، ثُمَّ إذَا قُمتَ فَمِثلَ ذَلِكَ حَتَّى تَفرُغَ مِن صَلَاتِكَ". (سنن أبي داود , الأرنؤوط  (2/ 146) إسناده حسن، محمد بن إسحاق صدوق حسن الحديث، وباقي رجاله ثقات, وأخرجه الطبراني في"الكبير" (4528)، والبيهقي 2/ 133 - 134 من طريق إسماعيل ابن علية، بهذا الإسناد).

Dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku ‘Ali bin Yahya bin Khalad bin Rafi’ dari ayahnya dari pamannya yaitu Rifa’ah bin Rafi’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kisah ini; Beliau bersabda: Bila kamu berdiri dalam shalatmu maka bertakbirlah kemudian bacalah yang mudah untukmu dari al-Quran. Dan Beliau bersabda kepadanya: Kemudian bila kamu duduk di pertengahan shalat maka tuma’ninahlah dan hamparkanlah pahamu yang kiri (iftirasy) kemudian bertasyahhudlah, kemudian bila kamu berdiri lagi lakukanlah yang demikian sampai  kamu selesai dari shalatmu.

        Dan pada redaksi yang lain kami kutip juga dari shahih Ibnu Khuzaimah dimana beliau mencantumkan bab: Sunnahnya Duduk Pada Tasyahhud Awwal, diantara salah satu hadits yang beliau muat yaitu:

اجْتَمَعَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ، وَأَبُو أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ، وَسَهْلُ بْنُ سَعْدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ، فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ: أَنَا أَعْلَمُكُمُ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ  فَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: «جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَأَقْبَلَ بِصَدْرِ الْيُمْنَى عَلَى قِبْلَتِهِ [2]، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَكَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ». (صحيح ابن خزيمة  (1/ 343) بَابُ سُنَّةِ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ).

Telah bersepakat Abu Humaid as-Sa’idiy, Abu Usaid as-Sa’idiy, Sahl bin Sa’d dan Muhammad bin Maslamah. Lalu Abu Humaid berkata: Saya akan ajari kalian bagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian ia menyebutkan hadits  yang panjang, dan ia berkata: (Beliau saw) Duduk lalu menghamparkan kakinya yang kiri (iftirasy) dan Beliau menghadapkan ujung kaki kanan ke arah qiblat, dan meletakkan telapak tangannya yang kanan diatas lututnya yang kanan dan telapak tangan yang kiri diatas lututnya yang kiri dan Beliau berisyarat dengan jari telunjuknya.

Kemudian dalam satu hadits masih riwayat Ibnu Khuzaimah:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: أَتَيْتُ الْمَدِينَةَ، فَقُلْتُ: لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، وَقَالَ: «وَثَنَى رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى» (صحيح ابن خزيمة  (1/ 343) بَابُ سُنَّةِ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ).

Dari Wail bin Hujr ia berkata: Saya tiba di Madinah kemudian saya berkata: sungguh saya benar-benar memperhatikan shalatnya Rasulullah saw. Kemudian ia menyebutkan satu hadits dan berkata: dan Beliau (Rasulullah saw) melipat kakinya yang kiri dan meluruskan kakinya yang kanan.

Sujud Sahwi Jika Lupa Tasyahhud

        Mengenai ini telah disebutkan diatas pada hadits Ibnu Buhainah, dimana hadits tersebut menjadi dalil bahwa siapa yang meninggalkan tasyahhud karena lupa, maka itu tidak membatalkan shalatnya namun disyari’atkan untuk sujud sahwi.

Namun bila sengaja meninggalkan tasyahhud, maka shalatnya batal.[3]

Seputar Khilafiyyah Pada Duduk Tasyahhud

Duduk Tasyahhud awwal dilakukan dengan cara iftirasy sebagaimana diterangkan pada dua hadits riwayat Ibnu Khuzaimah diatas, sifatnya sama dengan duduk diantara dua sujud.

Terkait khilafiyah dalam sifat duduk tasyahhud, al-Baghawy dalam syarhussunnah menyampaikan bahwa mayoritas ‘ulama berpendapat duduk tasyahhud awwal dilakukan dengan cara iftirasy, demikian pula kaifiyat duduk diantara dua sujud, yaitu duduk diatas telapak kaki yang kiri, sedangkan sifat duduk pada tasyahhud akhir yaitu dengan cara tawarruk yakni membaringkan kaki kiri dan mengeluarkannya dari pangkal paha yang kanan kemudian menegakkan (telapak) kaki yang kanan, lalu duduk diatas bumi, demikian yang dipilih Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Sedangkan Imam Malik berpendapat sifat duduk pada kedua tasyahhud adalah tawarruk. Sufyan ats-Tsauriy berkata: Sifat duduk pada kedua tasyahhud adalah iftirasy yaitu menghamparkan telapak kaki yang kiri, dan ia adalah pendapat ashhaburra'yi. Dan telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar melihat seseorang yang duduk bersila didalam shalat, lalu ia mengomentarinya, kemudian seseorang tersebut berkata: “engkau juga melakukannya”, lalu ia (ibnu ‘Umar) menjawab: “aku sedang sakit”.[4]

        Adapun kejelasan dalil yang menyebutkan iftirasy pada tasyahhud awwal dan tawarruk pada tasyahhud akhirtelah penulis sampaikan terdahulu pada tema sifat shalat dengan mengutip hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Humaid as-Sa’idy ra, hadits selengkapnya silakan dicek kembali, adapun berikut ini sebagian kutipan terkait kaifiyat duduk tasyahhud akhir:

حتَّى إذا كانتِ السَّجدةُ الَّتي فيها التَّسليمُ أخَّرَ رجلَهُ اليسرى وقعدَ متورِّكًا على شقِّهِ الأيسرِ قالوا صدقتَ هَكذا كانَ يصلِّي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ.

(صحيح أبي داود ٧٢٩)

“…hingga apabila berada di sujud pada rakaat yang didalamnya terdapat salam(rakaat akhir), Beliau men-ta'khiir- kan kaki kirinya (mengeluarkan kaki yang kiri dibawah kaki yang kanan) dan Beliau duduk tawarruk pada sisi yang kiri (duduk dengan pinggul yang kiri diatas bumi)”. Maka para sahabat berkata: “engkau benar, begitulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat”.

Selain itu dapat kita cermati pula penjelasan berikut:

Pendapat Madzhab Syafi’i

قال الشافعي رحمه الله تعالى: السنة أن يجلس كل الجلسات مفترشا إلا التى يعقبها السلام. قال النووي رحمه الله: والجلسات عند الشافعي رحمه الله أربع: الجُلُوسُ بَينَ السَّجدَتَينِ، وَجَلسَةُ الِاستِرَاحَةِ عقب كل ركعة يعقبها قيام، والجلسة للتشهد الأول، والجلسة للتشهد الأخير، فالجميع يسن مفترشًا إلا الأخيرة، فلو كان مسبوقًا وجلس إمامه في آخر صلاته متوركًا بجلس المسبوق مفترشًا لأن جلوسه لا يعقبه سلام، ولو كان على المصلي سجود سهو فالأصح أنه يجلس مفترشًا في تشهده، فإذا سجد سجدتي السهو تورك ثم سلم، هذا تفصيل مذهب الشافعي رحمه الله تعالى.[5]

Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:Sunnahnya setiap duduk (dalam shalat) adalah duduk iftirasy, kecuali duduk yang diakhiri dengan salam. An-Nawawi berkata: Sifat duduk itu  menurut Asy-Syafi’i ada empat: duduk diantara dua sujud, duduk istirahat pada tiap-tiap raka’at yang diikuti dengan berdiri, duduk tasyahhud awwal, dan duduk tasyahhud akhir, seluruhnya disunnahkan dengan cara iftirasy kecuali dirakaat akhir, kemudian apabila kondisinya masbuq dan imamnya berada dirakaat akhir shalat dalam keadaan duduk tawarruk maka masbuq duduk dengan posisi iftirasy karena duduknya masbuq tidak diakhiri dengan salam, dan apabila yang shalat harus melakukan sujud sahwi maka yang lebih shahih adalah ia duduk dengan cara iftirasy dalam tasyahhudnya kemudian ketika ia telah selesai sujud pada dua sujud sahwi maka ia duduk tawarruk kemudian salam, ini adalah detailnya penjelasan dari madzhab imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Pendapat Madzhab Maliki, Hanafi dan Hambali

قال مالك: يجلس فيهما متوركًا. وقال أبو حنيفة والثوري: يجلس فيهما مفترشًا. وقال أحمد: إن كانت الصلاة ركعتين افترش، وإن كانت أربعًا افترش في الأولى وتورك في الثاني.[6]

Malik berkata: Duduk pada dua tasyahhud dengan cara tawarruk. Dan Abu Hanifah berkata: Duduk pada dua tasyahhud dengan cara iftirasy. Dan Ahmad berkata: Jika shalatnya dua rakaat maka iftirasy dan jika shalatnya empat rakaat maka iftirasy pada tasyahhud awwal dan tawarruk pada tasyahhud akhir.

Argumen dari masing-masing kesimpulan diatas

واحتج لمن قال يفترش فيهما بحديث عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم «كان يفرش رجله اليسرى وينصب رجله اليمنى وينهى عن عقب الشيطان» ,وفي رواية البيهقي «يفرش رجله اليسرى وينصب رجله اليمنى» وعن وائل بن حجر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفرش رجله اليسرى.[7]

Yang berpendapat iftirasy pada dua tasyahhud, berhujjah dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Beliau menghamparkan kakinya yang kiri dan meluruskan kakinya yang kanan dan Beliau melarang dari ‘uqbatusy-syaithan[8]. Dan pada riwayat Al-Baihaqi: (Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kakinya yang kiri dan meluruskan [menegakkan telapak kaki]nya yang kanan). Dan dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Beliau menghamparkan kakinya yang kiri).

 واحتج للتورك بحديث عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم «كان إذا قعد في الصلاة جعل قدمه اليسرى بين فخذه وساقه وفرش قدمه اليمنى» رواه مسلم. وعن ابن عمر رضي الله عنهما «سنة الصلاة أن تنصب رجلك اليمنى وتثني اليسرى» رواه البخاري.[9]

Dan yang berpendapat tawarruk, berhujjah dengan hadits ‘Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Beliau apabila duduk dalam shalat, Beliau menjadikan kakinya yang kiri berada diantara pahanya dan betis(tulang kering)nya dan meluruskan (telapak) kakinya yang kanan)-HR.Muslim. Dan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma (sunnahnya shalat itu adalah engkau meluruskan kakimu yang kanan dan melipat kaki yang kiri)-HR.Bukhari.  

        Demikian diantara ragam perbedaan pendapat, adapun penulis lebih cenderung pada pendapat Asy-Syafi’i.

Allahu a’lam.

Posisi Kedua Tangan & Berisyarat Ketika Duduk Tasyahhud

Sebagian redaksinya telah disampaikan sebelumnya pada hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, juga pada riwayat An-Nasa'i dari Wail bin Hujr, ada pula redaksi lain dengan tambahan kaifiyat isyarat pada hadits riwayat Muslim sebagai berikut:

  •       Menyimpan tangan diatas lutut

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى، وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ» (صحيح مسلم (1/ 408)بَابُ صِفَةِ الْجُلُوسِ فِي الصَّلَاةِ، وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخْذَيْنِ)

Dari Ibnu ‘Umar: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila duduk tasyahhud, Beliau meletakkan tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri dan meletakkan tangannya yang kanan diatas lututnya yang kanan dan Beliau membuat angka lima puluh tiga, dan Beliau berisyarat dengan jari telunjuk.

Membentuk angka lima puluh tiga yaitu membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, kemudian melipat jari manis dan jari kelingking, lalu berisyarat dengan mengangkat telunjuk.

  •        Menyimpan tangan diatas paha

عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: رَآنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِي الصَّلَاةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِي فَقَالَ: اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ، فَقُلْتُ: وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ؟ قَالَ: «كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى» (صحيح مسلم(1/ 408) بَابُ صِفَةِ الْجُلُوسِ فِي الصَّلَاةِ، وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخْذَيْنِ)

Dari ‘Ali bin ‘Abdul-Rahman al-Mu’awiy, bahwa ia berkata: “ ‘Abdullah bin ‘Umar melihatku  memainkan batu kerikil padahal aku sedang shalat, maka ketika selesai shalat ia melarangku, kemudian berkata: “ Lakukanlah (shalat) sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan”, kemudian aku berkata: “ Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya?”, ia berkata: “ Beliau saw apabila duduk dalam shalat, Beliau meletakkan telapak tangannya yang kanan diatas pahanya yang kanan dan menggenggam semua jemarinya dan berisyarat dengan jarinya yang dekat ibu jari, dan meletakkan telapak tangannya yang kiri diatas pahanya yang kiri”.

Dengan demikian maka menyimpan tangan diatas lutut ataupun diatas paha kedua-duanya merupakan sunnah.

Berisyarat Dalam Tasyahhud

        Tidak perlu diragukan, berisyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud adalah termasuk sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits Muslim diatas. Hanya saja terjadi khilafiyah dalam hal kaifiyat berisyarat apakah digerak-gerakkan ataukah tidak, dimana kedudukan hadits yang menunjukkan digerakkan ataupun tidak masing-masing dari kedua periwayatan tersebut terdapat komentar dari para ‘ulama.

Isyarat Dengan Menggerakkan Jari Telunjuk

        Isyarat dengan menggerakkan telunjuk ketika duduk tasyahhud, sedikitnya telah disampaikan terdahulu pada tema sifat shalat yang penulis kutip dari hadits an-Nasa'i yang bersumber dari Wail bin Hujr:

ثُمَّ قَعَدَ وَافتَرَشَ رِجلَهُ اليُسرَى وَوَضَعَ كَفِّهِ اليُسرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكبَتِهِ اليُسرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرفَقِهِ الأَيمَنِ عَلَى فَخِذِهِ اليُمنَى ثُمَّ قَبَضَ اثنَتَينِ مِن أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلقَةً ثُمَّ رَفَعَ أُصبُعَهُ فَرَأَيتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدعُو بِهَا. (سنن النسائي:1268) بَابُ قَبْضِ الثِّنْتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الْيَدِ الْيُمْنَى وَعَقْدِ الْوُسْطَى وَالْإِبْهَامِ مِنْهَا.

Kemudian Beliau duduk dan menghamparkan(iftirasy) kakinya yang kiri dan menyimpan telapak tangan yang kiri diatas paha dan lututnya yang kiri dan menjadikan ujung sikutnya yang kanan diatas paha kanannya lalu beliau menggenggam dua jari diantara jemarinya dan membuat satu lingkaran lalu Beliau mengangkat jari (telunjuknya) lalu saya melihat Beliau menggerak-gerakkannya sambil berdo’a  bersama isyarat jarinya.

Syaikh al-Bani dalam Irwaul-Ghalil menshahihkan hadits ini.

Hadits tersebut dicantumkan pula oleh An-Nasai dalam bab: مَوْضِعِ الْيَمِينِ مِنَ الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ , no hadits:889. Adapun komentar ‘ulama terkait rijalul-haditsnya yang 6 yaitu:[10]

1.      Suwaid bin Nashr, adalah seorang yang tsiqah (kredibel dan kuat hapalan).

2.      ‘Abdullah bin al-Mubarak, adalah al-Imamul-Hujjah.

3.      Zaidah, yaitu Ibnu Qudamah ats-Tsaqafi, dinilai tsiqah lagi tsabit.

4.    ‘Ashim bin Kulaib, adalah seorang yang shaduq (derajatnya dibawah tsiqah) dan periwayatannya tidak bermasalah. Ibnu Ma’in dan an-Nasai menilainya tsiqah. Adapun Ibnu al-Madini menilai apabila periwayatannya menyendiri maka tidak dapat dijadikan hujjah. Dan Ibnu Sa’ad menilainya tsiqah dan dapat dijadikan hujjah, adapun al-Bukhari menilainya mu’allaq.

5.    Kulaib bin Syihab bin al-Majnun al-Jarmiy, seorang yang shaduq.

6. Wail bin Hujr ra, salah satu shahabat Nabi saw. Mayoritas ‘ulama Hadits meriwayatkan darinya, terkecuali al-Bukhari.

Dari status ke-tsiqah-an perawi berdasarkan penilaian para ‘ulama tersebut, menunjukkan bahwa hadits kaifiyat tahrikussabbabah (menggerakkan telunjuk) minimal derajatnya hasan.  Dengan demikian in syaa Allah dapat diamalkan, dan berisyarat dapat dilakukan sepanjang berdo’a dalam tasyahhud. Allahu a’lam.

        Hadits yang serupa ditakhrij pula oleh imam Ahmad dalam musnadnya dengan perawi yang berbeda, yakni dari ‘Abdush-Shamad yaitu Ibnu ‘Abdil-Warits bin Sa’id al-Anbari, walaupun jalurnya sama dari Zaidah (yakni Ibnu Qudamah ats-Tsaqafi) dengan tambahan redaksi:

ثُمَّ جِئْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي زَمَانٍ فِيهِ بَرْدٌ فَرَأَيْتُ النَّاسَ عَلَيْهِمُ الثِّيَابُ تُحَرَّكُ أَيْدِيهِمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ مِنَ الْبَرْدِ.( مسند أحمد ط الرسالة: 18870, باب: حَدِيثُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ)

Kemudian setelah itu aku sampai pada musim dingin, lalu aku melihat orang-orang berpakaian (musim dingin), yang mana tangan mereka digerak-gerakkan dibalik pakaian karena cuaca dingin.

Komentar Syaikh Syu’aib al-Arnauth

Hadits riwayat Ahmad ini adalah hadits shahih bila tanpa penyebutan: فَرَأَيتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدعُو بِهَا , redaksi ini syadz (perawinya tsiqah, namun menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya), karena Zaidah (yakni Ibnu Qudamah) menyendiri dalam periwayatannya, namun demikian rijalul-isnadnya tsiqah. Adapun ‘Abdush-Shamad, periwayatannya dinukil oleh para ‘ulama hadits yaitu: Ad-Darimi, Al-Bukhari, Abu Dawud, Ibnul-Jarud, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-thabrani, dan Al-Baihaqi. Sementara Ibnu Khuzaimah berkata: tidak ada sedikitpun diantara khabar-khabar  yang menyatakan “yuharrikuha” (menggerak-gerakkan) selain dari hadits ini, yakni penyebutannya bersumber dari Zaidah. Adapun Al-Baihaqi berkata: yang dimaksud dengan attahrik adalah berisyarat dengan menggerakkan telunjuk, bukan mengulang-ulang menggerak-gerakkannya (لَا تَكرِيرَ تَحرِيكِهَا). [11]

Empat perbedaan kaifiyat dalam berisyarat

        Setidaknya ada empat pendapat dari para ‘ulama fiqih terkait kaifiyat dalam berisyarat:

1.      Menggerakkan telunjuk ketika menyebut nama Allah saja.

2.      Menggerakkan ketika menyebut nama Allah dan nama Rasulullah saw saja.

3.      Berisyarat selama tasyahhud dan menggerak-gerakkannya.

4.      Berisyarat ketika menyebut lafazh: إلَّا اللهُ .

Pada dasarnya pendapat ‘ulama menunjukkan bahwa berisyarat itu disertai dengan gerakkan jari telunjuk. Adapun penjelasan kaifiyat berisyarat yang lebih rinci, tidak dipungkiri bahwa riwayat Wail bin Hujr ra memuat data yang lebih lengkap, oleh sebab itu maka kafiyat berisyarat adalah disertai dengan menggerakkan telunjuk sepanjang do’a tasyahhud. Allahu a’lam.

Berisyarat Tanpa Menggerak-gerakkan Jari Telunjuk

        Terdapat pula riwayat lain yang menerangkan bahwa isyarat dalam tasyahhud dilakukan tanpa menggerak-gerakkan jari telunjuk, sebagaimana dalam hadits berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذا دَعا وَلا يُحَرِّكُها. (سنن أبي داود (989) بَابُ الْإِشَارَةِ فِي التَّشَهُّدِ, سنن النسائي (1270) بَابُ بَسْطِ الْيُسْرَى عَلَى الرُّكْبَةِ(المجتبى من السنن = السنن الصغرى للنسائي))

Sesungguhnya Nabi saw, Beliau berisyarat dengan jarinya ketika berdo’a dan tidak menggerak-gerakkannya.

Komentar ‘Ulama:

Dalam syarah sunan an-Nasai, disebutkan mengenai rijalul isnad hadits ini[12], yaitu:

1.      Ayyub bin Muhammad al-Wazzan Abu Muhammad ar-Raqqi, ia tsiqah.

2.      Hajjaj bin Muhammad al-A’war al-Mushshishy, ia tsiqah tsabit.

3.      Ibnu Juraij Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz bin Juraij  al-Umawy, ia tsiqah faqih, hanya saja mudallis (suka menyembunyikan kecacatan suatu hadits).

4.      Ziyad bin Sa’d bin ‘Abdirrahman al-Khurasani, ia tsiqah tsabit.

5.      Muhammad bin ‘Ajlan al-Madani, ia shaduq.

6.      ‘Amir bin ‘Abdillah az-Zubair al-Asady Abul Harits al-Madani, ia tsiqah.

7.      ‘Abdullah bin az-Zubair bin al-‘Awwam al-Qurasy al-Asadi, shahabat Nabi saw.

Diantara penilaian yang masyhur dari beberapa ‘ulama:

  •     Imam Muslim meriwayatkan hadits semisal namun tanpa ada tambahan: وَلا يُحَرِّكُها .[13]
  •      Imam an-Nawawi menshahihkan isnad hadits ini.[14]
  •      Ibnul-Qayyim dalam Zadul-Ma’ad menyampaikan:

وَأَمَّا حَدِيثُ أبي داود عَنْ عبد الله بن الزبير أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( «كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا» ) فَهَذِهِ الزِّيَادَةُ فِي صِحَّتِهَا نَظَرٌ.[15]

Adapun hadits Abu Dawud dari 'Abdullah bin az-Zubair bahwasanya Nabi saw (Beliau berisyarat dengan telunjuknya ketika berdo’a dan tidak menggerak-gerakkannya), maka tambahan kalimat ini, mengenai keshahihannya perlu ditinjau kembali.

  •     Syaikh al-Bani dalam Kitab Dha’if Abu Dawud menyebutkan isnadnya hasan, hanya saja tambahan lafazh:  وَلا يُحَرِّكُها , syadz[16], karena periwayatannya tafarrud (menyendiri) yaitu Ziyad bin Sa’ad dari Ibnu ‘Ajlan[17].

Allahu a’lam.

Dari status hadits tersebut, setidaknya dapat kita ketahui bahwa pada masing-masing periwayatannya terdapat rawi yang penilaiannya kurang. Dalam hal ini, penulis mendapati bahwa hadits “menggerak-gerakkan” lebih kuat daripada hadits ”tidak menggerak-gerakkan” ditinjau dari sisi nafi (النفي[yang mengingkari]),  dan mutsbit (المثبت[yang menetapkan]), maka sebagaimana qaidah fiqih: almutsbit lebih didahulukan daripada annafi.

Lafazh Tasyahhud

        Terdapat beberapa bacaan tasyahhud yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

1.      Riwayat Ibnu Mas’ud:

عن عبد الله بن مسعود: كنّا نقولُ في التَّحيَّةِ: السَّلامُ على اللهِ، فقال رسولُ اللهِ ﷺ: لا تَقولوا: السَّلامُ على اللهِ، فإنّ اللهَ هو السَّلامُ، ولكنْ قولوا: التَّحيّاتُ للهِ، والصَّلَواتُ والطَّيِّباتُ، السَّلامُ عليك أيُّها النَّبيُّ ورَحمةُ اللهِ وبَركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالحينَ، أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلّا اللهُ، وأشهَدُ أنّ محمَّدًا عبدُه ورسولُه.( أخرجه البخاري (١٢٠٢)، ومسلم (٤٠٢)، وأبو داود (٩٧٠)، والترمذي (١١٠٥)، والنسائي (١٢٩٨)، وابن ماجه (٨٩٩) بنحوه، وأحمد (٤٤٢٢) واللفظ له).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud: Kami pernah membaca dalam tahiyyat: Assalaamu ‘alalloohi..., kemudian Rasulullah bersabda: Janganlah kalian ucapkan assalaamu ‘alalloohi, karena sesungguhnya Allah, Dia adalah As-Salam, tapi ucapkanlah oleh kalian: attahiyyaatu lillaahi, washsholawaatu waththoyyibaatu, asssalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barakaatuhu, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahishshoolihiina, asyhadu allaa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu.

2.      Riwayat Ibnu ‘Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ فَكَانَ يَقُولُ: «التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ، الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ». ( صحيح مسلم (1/ 302), بَابُ التَّشهُّدِ فِي الصَّلَاةِ)

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengajari kami attasyahhud sebagaimana mengajari kami satu surat dalam al-Quran, maka Beliau mengucapkan: attahiyyaatulmubaarokaatu, ashsholawaatuththoyyibaatu lillaahi, assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuhu, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahishshoolihiina, asyhadu allaa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna muhammadarrosuululloohi.

3.      Riwayat ‘Umar bin al-Khaththab:

عَن عَبدِ الرَّحمَنِ بنِ عَبدِ القَارِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ يُعَلِّمُ النَّاسَ التَشَهُّدَ عَلى المِنبَرِ، وَهُوَ يَقُولُ: التَّحِيَّاتُ للهِ الزَّاكِيَاتُ للهِ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ.( موطأ مالك ت الأعظمي (2/ 124) باب: التَّشَهُّدُ فِي الصَّلاَةِ. النووي (ت ٦٧٦)، الأذكار ٩١ ,إسناده صحيح ,أخرجه ابن أبي شيبة(٢٩٩٢)،والبيهقي في «السنن الكبرى» (٢٨٣٨)) .

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy, bahwa ia mendengar ‘Umar bin al-Khaththab diatas mimbar mengajari orang-orang bacaan tasyahhud, dan beliau mengucapkan: attahiyyatu lillaahi azzaakiyaatu lillaahi aththoyyibaatu ashsholawaatu lillaahi assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatullaahi assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahishshoolihiina asyhadu allaa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna muhammadan ‘abdulloohi wa rosuuluhu.

4.      Riwayat  Ibnu ‘Umar:

عَن ابْن عمر عَن رَسُول الله ﷺَ  فِي التَّشَهُّد: التَّحِيَّات لله الصَّلَوَات الطَّيِّبَات لله السَّلَام عَلَيْك أَيهَا النَّبِي وَرَحْمَة الله وَبَرَكَاته قَالَ ابْن عمر زِدْت فِيهَا وَحده لَا شريك لَهُ وَأشْهد أَن مُحَمَّدًا عَبده وَرَسُوله " (وَأخرجه الدَّارَقُطْنِيّ عَن ابْن أبي دَاوُد عَن نصر بن عَليّ وَقَالَ إِسْنَاده صَحِيح) [18]

Dari Ibnu ‘Umar, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai bacaan tasyahhud: attahiyyaatu lillaahi ashsholawaatuththoyyibaatu lillaahi assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuhu. Ibnu ‘Umar berkata: aku menambahkan padanya redaksi: wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu.

        Demikian beberapa redaksi bacaan tasyahhud, adapun mana yang paling afdhal para ‘ulama berbeda pendapat, mayoritas pendapat mengutamakan  redaksi pada riwayat Ibnu Mas’ud, adapun imam Asy-Syafi’i memilih redaksi dari riwayat Ibnu ‘Abbas[19], Allahu a’lam.  

Setelah membaca do’a tasyahhud, selanjutnya membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

23.        Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Membaca shalawat setelah membaca do’a tasyahhud pada tasyahhud awwal hukumnya sunnat menurut pendapat imam Syafi’i, dan itu merupakan pendapat yang paling rajih[20] dan pada tasyahhud akhir hukumnya wajib, adapun Abu Hanifah dan imam Malik berpendapat sunnat [21].

Adapun dalil disyari’atkannya shalawat, yaitu:

1)     Dalil Al-Quran

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا [الأحزاب ٥٦]

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

2)     Dalil Al-Hadits

عن أبي مسعود عقبة بن عمرو: أتانا رَسولُ اللهِ ﷺ ونَحْنُ في مَجْلِسِ سَعْدِ بنِ عُبادَةَ، فَقالَ له بَشِيرُ بنُ سَعْدٍ: أمَرَنا اللهُ تَعالى أنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يا رَسولَ اللهِ، فَكيفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قالَ: فَسَكَتَ رَسولُ اللهِ ﷺ، حتّى تَمَنَّيْنا أنّه لَمْ يَسْأَلْهُ، ثُمَّ قالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: قُولوا اللَّهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ، كما صَلَّيْتَ على آلِ إبْراهِيمَ وبارِكْ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ كما بارَكْتَ على آلِ إبْراهِيمَ في العالَمِينَ، إنّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (صحيح مسلم ٤٠٥, بَابُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعْدَ التَّشهُّدِ).

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, sementara kami tengah berada di majelis Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu Basyir bin Sa’ad bertanya kepada Beliau: Allah telah menyuruh kami agar bershalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?. Ia (Abu Mas’ud) berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, hingga kami berharap kalau saja ia tidak bertanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah oleh kalian: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiim fil’aalamiin, innaka hamiidummajiid.

Terdapat pula dalam redaksi yang lain:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ ﷺَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ، فَقَدْ عَرَفْنَاهُ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا فِي صَلَاتِنَا صَلَّى الله عَلَيْكَ؟ قَالَ: فَصَمَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ. فَقَالَ: " إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا: اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ "( مسند الإمام أحمد بن حنبل, صحيح ابن حبان (تحقيق شعيب الأرنؤوط-عادل مرشد، وآخرون):حديث صحيح. وفي صحيح ابن خزيمة بتحقيق د. محمد مصطفى الأعظمي: إسناده حسن (المكتبة الشاملة)).

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr, ia berkata: Seseorang datang hingga ia duduk dihadapan Rasulullah dan kami tengah bersama Beliau, lalu ia bertanya: Wahai Rasulullah adapun membaca salam kepadamu, sungguh kami telah mengetahuinya, lalu bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ketika kami harus bershalawat kepadamu dalam shalat kami?. Ia (Abu Mas’ud) berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, hingga kami lebih suka kalau saja orang tersebut tidak bertanya. Kemudian Beliau bersabda: Jika kalian hendak bershalawat kepadaku maka ucapkanlah: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadinnabiyyil’ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa aali Ibroohiim wa baarik ‘alaa Muhammadinnabiyyil’ummiyyi kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid.

        Selanjutnya terkait lafazh-lafazh shalawat, penjelasannya akan disampaikan pada tema tasyahhud akhir. in syaa Allah.


Materi berikutnya:

Bershalawat Hingga Salam Penutup  Shalat


[1] Lihat: باب التَّشَهُّدِ فِي الصَّلَاةِ (14/116) شرح النووي على مسلم

[2] أَيْ: وَجَّهَ أَطْرَافَ أَصَابِعِ رِجْلِهِ الْيُمْنَى إِلَى الْقِبْلَةِ، وَذَلِكَ بِوَضْعِ بَاطِنِ الْأَصَابِعِ عَلَى الْأَرْضِ. (مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (2/ 663) بَابُ صِفَةِ الصَّلَاةِ)

Maksudnya  menghadapkan ujung-ujung jari kakinya yang kanan ke arah qiblat, dan dengan menekankan telapak jari jemari ke bumi.

[3] Lihat: فتح الباري لابن رجب (7/ 322)

[4] Lihat penjelasan al-Baghawi(3/ 172)شرح السنة للبغوي, بَابُ كَيْفِيَّةِ الْقُعُودِ لِلتَّشَهُّدَيْنِ  

[5] Lihat:  الفتح الرباني لترتيب مسند الإمام أحمد بن حنبل الشيباني(17\4)

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] ‘Uqbatusysyaithan yaitu duduk iq’a' yang menyerupai anjing, yakni cara duduk dengan menempelkan pantat dan kedua lutut ke bumi, meluruskan kedua betisnya (tulang kering) serta meletakkan kedua tangannya diatas bumi.

[9] Lihat:  الفتح الرباني لترتيب مسند الإمام أحمد بن حنبل الشيباني(17\4)

[10] Silakan merujuk pada: شرح سنن النسائي المسمى ذخيرة العقبى في شرح المجتبى , karya Muhammad bin as-Syaikh al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa al-Atyubi al-Walawwi.

[11] Lihat: footnote;  مسند أحمد ط الرسالة: 18870 المكتبة الشاملة . المحقق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون.  باب: حَدِيثُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ

[12] Lihat: ذخيرة العقبى في شرح المجتبى (15/ 69)

[13] Lihat: footnote; جمع الفوائد من جامع الأصول ومجمع الزوائد,باب: الجلوس والتشهد والسلام.    (1/ 250)

[14] Lihat: footnote; ابن الأثير (المتوفى : 606هـ) جامع الأصول, (4/ 152)

[15] Lihat: زاد المعاد في هدي خير العباد (1/ 231), [فَصْلٌ في الْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ]

[16] Lihat: footnote;  سنن النسائي (1270) بَابُ بَسْطِ الْيُسْرَى عَلَى الرُّكْبَةِ(المجتبى من السنن = السنن الصغرى للنسائي. المكتبة الشاملة . تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة)

[17] Lihat: footnote; جمع الفوائد من جامع الأصول ومجمع الزوائد,باب: الجلوس والتشهد والسلام.    (1/ 250)

[18] Lihat:  عمدة القاري شرح صحيح البخاري , أبو محمد محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن حسين الغيتابى الحنفى بدر الدين العينى (المتوفى: 855هـ)

[19] Lihat: تمام المنة في فقه الكتاب والصحيح السنة,ص:267

[20] Lihat: تمام المنة في فقه الكتاب والصحيح السنة,ص:268

[21] Lihat: المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج, باب الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ التَّشَهُّدِ, ج:4, ص:123 

   فتح المنعم شرح صحيح مسلم, باب الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بعد التشهد,ج:2,ص:530

منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري, بَابُ قَوْلِهِ تعالى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا),ج:5,ص:67

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik