📌 Serial Sifat Shalat Nabi:
Setelah menyelesaikan dua rakaat pertama, gerakan shalat selanjutnya adalah duduk tasyahhud awwal.
1. Makna Tasyahhud
Secara bahasa, kata tasyahhud di sini merujuk pada bacaan At-Tahiyyat. Gerakan ini dinamakan tasyahhud (persaksian) karena di dalamnya terkandung pembacaan dua kalimat syahadat sebagai bentuk pengakuan keimanan seorang hamba di hadapan Allah ﷻ.
2. Hukum Duduk Tasyahhud Awwal
Para ulama memiliki silang pendapat mengenai hukum tasyahhud awwal: apakah ia berstatus sunnah atau wajib?
Pendapat Mayoritas Ulama (Sunnah):
Ibnu Baththal al-Maliki dalam Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa mayoritas ahli fiqih (seperti Imam Malik, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Al-Laits, Asy-Syafi'i, Abu Tsaur, dan Ishaq) bersepakat bahwa tasyahhud awwal hukumnya tidak wajib.
Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal (Wajib):
Imam Ahmad berpandangan bahwa tasyahhud awwal hukumnya wajib. Beliau berhujah bahwa Nabi ﷺ senantiasa bertasyahhud dan mengajarkannya kepada para sahabat, serta terdapat riwayat dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menekankan pentingnya tasyahhud.
إِنَّهُ وَاجِبٌ وَحُجَّتُهُ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ تَشَهَّدَ وَعَلَّمَهُمُ التَّشَهُّدَ، وَرُوِىَ عَن عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَتَشَهَّدْ فَلَا صَلَاةَ لَهُ.
"Sesungguhnya tasyahhud itu wajib. Hujahnya adalah karena Nabi ﷺ bertasyahhud dan mengajarkannya. Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Barangsiapa yang tidak bertasyahhud maka tidak ada shalat baginya (tidak sah).'" (Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal, 2/444)
Adapun dalil pendukung pendapat mayoritas yang menyatakan tasyahhud awwal bukan kewajiban mutlak (sehingga jika terlewat cukup diganti sujud sahwi) adalah hadits riwayat Ibnu Buhainah:
أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ صَلَّى رَكعَتَينِ فَقَامَ إِلَى الثَّالِثَةِ وَلَم يَجلِسْ فَلَمَّا تَمَّ أَربَعًا سَجَدَ لِلسَّهوِ قَبلَ السَّلَامِ.
"Bahwasanya Nabi ﷺ pernah shalat dua rakaat lalu langsung berdiri ke rakaat ketiga tanpa duduk (tasyahhud awwal). Ketika shalatnya telah sempurna empat rakaat, beliau melakukan sujud sahwi sebelum salam." (HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu Baththal menegaskan, seandainya tasyahhud awwal itu rukun atau kewajiban yang membatalkan shalat jika ditinggalkan, tentu Nabi ﷺ akan kembali duduk untuk mengulanginya. Namun, beliau memilih menggantinya cukup dengan sujud sahwi.
Bagaimana jika kita lupa tasyahhud awwal saat shalat berjamaah atau sendiri? Jika lupa, kita tidak perlu membatalkan shalat atau memotong rakaat, melainkan mencukupkannya dengan sujud sahwi sebelum salam. Namun, jika tasyahhud awwal sengaja ditinggalkan tanpa uzur syari, maka shalat tersebut dianggap batal.
3. Dalil dan Sifat Duduk Tasyahhud Awwal
Tata cara duduk tasyahhud awwal diterangkan secara rinci dalam hadits al-musi'u shalatahu (orang yang keliru shalatnya). Salah satunya diriwayatkan oleh Rifa'ah bin Rafi' radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ اليُسرَى، ثُمَّ تَشَهُّدْ...
"Jika engkau duduk di pertengahan shalat, maka bersikaplah tumakninah dan hamparkanlah paha kirimu (duduk iftirasy), kemudian bertasyahhudlah..." (HR. Abu Dawud no. 859, isnadnya hasan)
Imam Ibnu Khuzaimah juga memuat hadits dari Abu Humaid as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu bersama para sahabat lainnya:
جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَأَقْبَلَ بِصَدْرِ الْيُمْنَى عَلَى قِبْلَتِهِ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَكَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ.
"(Nabi ﷺ) duduk lalu menghamparkan kaki kirinya (iftirasy) dan menghadapkan ujung-ujung jari kaki kanannya ke arah kiblat. Beliau meletakkan telapak tangan kanan di atas lutut kanan, telapak tangan kiri di atas lutut kiri, dan berisyarat dengan jari telunjuknya." (Sahih Ibnu Khuzaimah 1/343)
4. Seputar Silang Pendapat (Khilafiyah) Posisi Duduk
Secara umum, terdapat gambaran ragam pendapat mazhab fiqih mengenai posisi duduk pada tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir:
Duduk Iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri) dilakukan pada tasyahhud awwal dan duduk di antara dua sujud. Sedangkan duduk Tawarruk (menjelujurkan kaki kiri ke kanan dan pinggul menempel ke lantai) dilakukan pada tasyahhud akhir yang diakhiri salam.
Posisi duduk pada kedua tasyahhud (baik awwal maupun akhir) disunnahkan secara Tawarruk.
Posisi duduk pada kedua tasyahhud disunnahkan secara Iftirasy.
Catatan Penting: Penulis sendiri lebih cenderung mengikuti rincian yang dipilih oleh **Mazhab Asy-Syafi'i**, karena memadukan secara harmonis antara dalil duduk iftirasy dan dalil duduk tawarruk sesuai konteks rakaatnya. Allahu a'lam.
5. Posisi Tangan & Cara Berisyarat Jari Telunjuk
Berdasarkan riwayat shahih, meletakkan posisi tangan saat duduk tasyahhud dapat dilakukan dengan dua cara yang sama-sama sesuai sunnah:
- Menempatkan tangan tepat di atas lutut.
- Menempatkan tangan di atas paha.
Adapun mengenai formasi jemari dan isyarat telunjuk, diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma:
...وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى، وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ.
"...Dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya, membentuk genggaman angka 53, lalu berisyarat dengan jari telunjuknya." (HR. Muslim no. 580)
Cara membentuk angka 53: Yaitu dengan melingkarkan ibu jari dan jari tengah, melipat jari manis dan kelingking, kemudian mengangkat serta mengacungkan jari telunjuk sebagai isyarat ketauhidan.
Apakah Telunjuk Digerak-gerakkan?
Terdapat silang pendapat pakar hadits & fiqih:
- Pendapat Menggerakkan: Berdasarkan hadits Wail bin Hujr (HR. An-Nasa'i no. 1268): "...lalu beliau mengangkat jarinya dan aku melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa." Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini. Ditinjau dari kaidah fiqih, dalil yang menetapkan (al-mutsbit) didahulukan atas yang meniadakan (an-nafi).
- Pendapat Tanpa Menggerakkan: Sebagian ulama (seperti Sheikh Syu'aib Al-Arnauth dan Al-Baihaqi) mengkritik lafazh "yuharrikuha" (menggerak-gerakkannya) sebagai lafazh yang syadz atau mengartikan gerakan tersebut hanya isyarat angkat tanpa dikocok/diulang-ulang.
6. Pilihan Lafazh Bacaan Tasyahhud
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa variasi lafazh tasyahhud yang shahih. Kita diperbolehkan membaca salah satu di antaranya:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
"At-tahiyyaatu lillaah, wash-shalawaatu wat-thayyibaat. As-salaamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. As-salaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhuu wa rasuuluh."
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ، الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.
"At-tahiyyaatul-mubaarakaatush-shalawaatut-thayyibaatu lillaah. As-salaamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. As-salaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish-shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar-rasuulullaah."
7. Bershalawat Kepada Nabi ﷺ Setelah Tasyahhud Awwal
Menurut Mazhab Asy-Syafi'i, membaca shalawat setelah tasyahhud awwal hukumnya adalah sunnah (dan menjadi wajib pada tasyahhud akhir).
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
"Allaahumma shalli 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad, kamaa shallaita 'alaa aali ibraahiim. Wa baarik 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad, kamaa baarakta 'alaa aali ibraahiim, fil-'aalamiina innaka hamiidum-majiid." (HR. Muslim no. 405)
Langkah Selanjutnya:
Materi Berikutnya: Bershalawat Hingga Salam Penutup Shalat →📚 Referensi Kitab & Footnote Akademia
- Syarh An-Nawawi 'ala Muslim (14/116).
- Mirqaat al-Mafaatiih Syarh Misykaat al-Masabiih (2/663).
- Fath al-Baari karya Ibnu Rajab (7/322).
- Syarh as-Sunnah karya Al-Baghawi (3/172).
- Al-Fath ar-Rabbani li Tartiib Musnad Ahmad (17/4).
- Ibid.
- Ibid.
- 'Uqbatusy-Syaithan: Duduk Iq'a yang menyerupai anjing (menempelkan pantat dan lutut ke tanah sambil menegakkan betis).
- Al-Fath ar-Rabbani (17/4).
- Dzakhiirat al-'Uqba fi Syarh al-Mujtaba karya Muhammad bin 'Ali bin Adam Al-Walawwi.
- Musnad Ahmad (Tahqiq Syu'aib Al-Arnauth et al., no. 18870).
- Dzakhiirat al-'Uqba (15/69).
- Jam'u al-Fawaid (1/250).
- Jaami' al-Ushuul karya Ibn al-Atsiir (4/152).
- Zaad al-Ma'aad karya Ibn al-Qayyim (1/231).
- Sunan An-Nasa'i (Tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, no. 1270).
- Jam'u al-Fawaid (1/250).
- 'Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari karya Al-'Aini.
- Tamaam al-Minnah fi Fiqh al-Kitaab wa ash-Shahih as-Sunnah, hlm. 267.
- Ibid, hlm. 268.
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (4/123) & Manaar al-Qaari (5/67).
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik