Pembahasan sebelumnya:
Berbagai pilihan Do'a Istiftah
Isti'adzah, membaca Al-Fatihah dan Surat
Setelah sebelumnya dibahas terkait do’a tasyahhud, selanjutnya membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini uraiannya, tafadhdhal :
23. Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Membaca shalawat setelah membaca do’a tasyahhud pada tasyahhud awwal hukumnya sunnat menurut pendapat imam Syafi’i, dan itu merupakan pendapat yang paling rajih[1] dan pada tasyahhud akhir hukumnya wajib, adapun Abu Hanifah dan imam Malik berpendapat sunnat [2].
Adapun dalil disyari’atkannya shalawat, yaitu:
1) Dalil Al-Quran
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا [الأحزاب ٥٦]
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya
2) Dalil Al-Hadits
عن أبي مسعود عقبة بن عمرو: أتانا رَسولُ اللهِ ﷺ ونَحْنُ في مَجْلِسِ سَعْدِ بنِ عُبادَةَ، فَقالَ له بَشِيرُ بنُ سَعْدٍ: أمَرَنا اللهُ تَعالى أنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يا رَسولَ اللهِ، فَكيفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قالَ: فَسَكَتَ رَسولُ اللهِ ﷺ، حتّى تَمَنَّيْنا أنّه لَمْ يَسْأَلْهُ، ثُمَّ قالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: قُولوا اللَّهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ، كما صَلَّيْتَ على آلِ إبْراهِيمَ وبارِكْ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ كما بارَكْتَ على آلِ إبْراهِيمَ في العالَمِينَ، إنّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (صحيح مسلم ٤٠٥, بَابُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعْدَ التَّشهُّدِ).
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami, sementara kami tengah berada di majelis Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu Basyir bin Sa’ad bertanya kepada Beliau: Allah telah menyuruh kami agar bershalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?. Ia (Abu Mas’ud) berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, hingga kami berharap kalau saja ia tidak bertanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah oleh kalian: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiim fil’aalamiin, innaka hamiidummajiid.
Terdapat pula dalam redaksi yang lain:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ ﷺَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ، فَقَدْ عَرَفْنَاهُ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا فِي صَلَاتِنَا صَلَّى الله عَلَيْكَ؟ قَالَ: فَصَمَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ. فَقَالَ: " إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا: اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ "( مسند الإمام أحمد بن حنبل, صحيح ابن حبان (تحقيق شعيب الأرنؤوط-عادل مرشد، وآخرون):حديث صحيح. وفي صحيح ابن خزيمة بتحقيق د. محمد مصطفى الأعظمي: إسناده حسن (المكتبة الشاملة)).
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr, ia berkata: Seseorang datang hingga ia duduk dihadapan Rasulullah dan kami tengah bersama Beliau, lalu ia bertanya: Wahai Rasulullah adapun membaca salam kepadamu, sungguh kami telah mengetahuinya, lalu bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ketika kami harus bershalawat kepadamu dalam shalat kami?. Ia (Abu Mas’ud) berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, hingga kami lebih suka kalau saja orang tersebut tidak bertanya. Kemudian Beliau bersabda: Jika kalian hendak bershalawat kepadaku maka ucapkanlah: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadinnabiyyil’ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa aali Ibroohiim wa baarik ‘alaa Muhammadinnabiyyil’ummiyyi kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid.
Selanjutnya terkait lafazh-lafazh shalawat, penjelasannya akan disampaikan pada tema tasyahhud akhir. in syaa Allah.
24. Kemudian berdiri untuk melaksanakan rakaat ketiga, bertakbir sambil mengangkat kedua tangan.
Kaifiyat bertakbir sambil mengangkat tangan ketika berdiri dari dua rakaat shalat, dalil-dalilnya telah disampaikan terdahulu diantaranya pada riwayat Abu Humaid as-Sa’idy, berikut ini kami tampilkan kembali cuplikannya:
ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكعَتَينِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنكِبَيهِ كَمَا كَبَّرَ عِندَ افتِتَاحِ الصَّلَاةِ،..( سنن أبي داود(تحقيق شعَيب الأرنؤوط - محَمَّد كامِل قره بللي), باب افتتاح الصلاة)
Kemudian apabila Beliau berdiri dari dua rokaat, maka Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya sebagaimana Beliau bertakbir ketika pembukaan shalat...
Kemudian pada riwayat al-Bukhari:
أنّ ابْنَ عُمَرَ، كانَ إذا دَخَلَ في الصَّلاةِ كَبَّرَ ورَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا قالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَن حَمِدَهُ، رَفَعَ يَدَيْهِ، وإذا قامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ، ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَرَ إلى نَبِيِّ اللهِ ﷺ. (صحيح البخاري ٧٣٩, بَابُ رَفْعِ اليَدَيْنِ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ)
Bahwasanya Ibnu ‘Umar, apabila memasuki shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya dan apabila rukuk ia mengangkat kedua tangannya dan apabila ia mengucapkan: sami’alloohu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya dan apabila bangkit dari dua rakaat ia mengangkat kedua tangannya, dan Ibnu ‘Umar merafa’kan hadits tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
25. Kemudian melaksanakan rakaat ketiga dan keempat. Setelah selesai sujud terakhir pada rakaat akhir, selanjutnya tasyahhud akhir dan bersholawat, dalam posisi duduk tawarruk.
Pembahasan tasyahhud dan urgensinya telah disampaikan sebelumnya, adapun pada tema ini akan disampaikan lebih kepada bacaan shalawat.
Sebagaimana telah disampaikan bahwa tasyahhud akhir termasuk wajib, artinya termasuk rukun shalat. Dan membaca shalawat pada rakaat akhir, wajib menurut imam Syafi’i dan imam Ahmad, sunnat menurut imam Malik dan imam Abu Hanifah.
Wajib ataupun sunnat, sudah jelas seorang muslim tidak layak melalaikannya. Perintah bershalawat dalam tasyahhud akhir dapat kita teladani pula dalam salah satu hadits berikut:
عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ الْجَنْبِيِّ، حَدَّثَنَا أَنَّهُ سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَقُولُ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ رَجُلًا يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ، وَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: " عَجِلَ هَذَا " ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ وَلِغَيْرِهِ: " إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ "( مسند الإمام أحمد بن حنبل,ج:39و ص:363 (تحقيق شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون) إسناده صحيح، رجاله ثقات رجال الصحيح غير عمرو بن مالك الجَنْبي، فقد روى له أصحاب السنن والبخاري في "الأدب المفرد"، وهو ثقة).
Dari ‘Amr bin Malik al-Janby, telah menceritakan kepada kami bahwasanya ia mendengar Fadhalah bin ‘Ubaid (sahabat Rasulullah saw) berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang yang berdo’a dalam shalatnya dan ia tidak menyebut(memuji) Allah ‘Azza wa Jalla dan juga tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ini tergesa-gesa. Kemudian Beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya dan kepada yang lain: Apabila salah seorang dari kalian shalat , maka mulailah dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawatlah kepada Nabi, kemudian hendaklah setelah itu ia berdo’a dengan do’a yang dia kehendaki.
Hadits ini selain menunjukkan syari’at shalawat dalam tasyahhud akhir, juga menunjukkan bolehnya berdo’a sekehendak hati setelah bershalawat. Sebagaimana diterangkan Ibnu Rajab dalam Fathul-Bari , pada bab: مَا يُتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ بَعدَ التَّشَهُّدِ وَلَيسَ بِوَاجِبٍ , (Do’a yang dapat dipilih setelah tasyahhud dan tidak wajib), dimana beliau menerangkan salah satu hadits riwayat al-Bukhari yang memuat bacaan shalawat, berikut ini redaksinya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود ، قَالَ: كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الصَّلاَةِ، قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: " لاَ تَقُولُوا السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ، وَلَكِنْ قُولُوا: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ فِي السَّمَاءِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَيَدْعُو "( صحيح البخاري ٨٣١).
Pernah terjadi ketika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu shalat, kami mengucapkan: “Assalaamu ‘alalloohi min ‘ibaadihi, assalaamu ‘alaa fulaanin wa fulaanin”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengucapkan assalaamu ‘alallooh, karena sesungguhnya Allah Dia adalah as-Salam, akan tetapi ucapkanlah: “attahiyyaatu lillaahi washsholawaatu waththoyyibaatu, assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahishshoolihiin”.- jika kalian mengucapkannya maka (kalimah tersebut) pasti mengenai (memberi manfaat) kepada setiap hamba (yang shalih) dilangit dan dibumi atau diantara langit dan bumi -, asyhadu allaa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh. Selanjutnya boleh memilih diantara do’a yang ia harapkan ijabahnya, lalu ia berdo’a.
Macam-macam Bacaan Sholawat Yang Diperintahkan Nabi saw
1) Riwayat ‘Abu Mas’ud al-Anshary:
قالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: قُولوا اللَّهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ، كما صَلَّيْتَ على آلِ إبْراهِيمَ وبارِكْ على مُحَمَّدٍ وعلى آلِ مُحَمَّدٍ كما بارَكْتَ على آلِ إبْراهِيمَ في العالَمِينَ، إنّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (صحيح مسلم ٤٠٥, بَابُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بعْدَ التَّشهُّدِ).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah oleh kalian: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiim fil’aalamiin, innaka hamiidummajiid.
2) Riwayat Ka’ab bin ‘Ujrah
قَالَ: «قُولُوا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. (صحيح البخاري ٣٣٧٠, صحيح مسلم ٤٠٦)
Beliau bersabda; Ucapkanlah oleh kalian: Allaahumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidummajiid, Alloohumma baarik 'alaa Muhammadin wa 'alaa aali Muhammadin kamaa baarokta 'alaa aali Ibroohimma innaka hamiidummajiid.
3) Riwayat Abu Sa’id al-Khudry
قَالَ: " قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ". (صحيح البخاري ٦٣٥٨, بَابُ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).
Beliau bersabda; Ucapkanlah oleh kalian: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin ‘abdika wa rosuulika kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim.
4) Riwayat ‘Uqbah bin ‘Amr
قَالَ: "إِذَا صَلَّيْتُمْ عليَّ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم، وبارك عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ, كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ".( المنتخب من مسند عبد بن حميد ت مصطفى العدوي (1/ 211), حسن , وأخرجه: أحمد "4/ 119")
Beliau bersabda; Jika kalian hendak bershalawat kepadaku maka ucapkanlah: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadinnabiyyil ‘ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim wa baarik ‘alaa Muhammadinnabiyyil ‘ummiyyi wa ‘alaa aali mUhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid.
5) Riwayat Abu Humaid as-Sa’idy
قَالَ: " قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.( صحيح البخاري: 6360, بابُ هَلْ يُصَلَّى عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ} [التوبة: 103]).
Beliau bersabda; Ucapkanlah oleh kalian: Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiim innaka hamiidummajiid.
26. Selanjutnya membaca do’a perlindungan dari empat perkara
Setelah selesai membaca tasyahhud dan shalawat, dilanjutkan dengan membaca do’a perlindungan, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah saw.
(عن أبي هريرة) يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إذا فَرَغَ أحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ باللهِ مِن أرْبَعٍ: مِن عَذابِ جَهَنَّمَ، ومِن عَذابِ القَبْرِ، ومِن فِتْنَةِ الْمَحيَا والْمَماتِ، ومِن شَرِّ المَسِيحِ الدَّجّالِ.( صحيح مسلم ٥٨٨, بَابُ مَا يُسْتَعَاذُ مِنْهُ فِي الصَّلَاةِ).
(dari Abu Hurairah) berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan tasyahhud akhir, maka berlindunglah kepada Allah dari empat perkara; dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan almasih addajal.
عَن أَبِي هُرَيرَةَ ، عَن النَّبِي ﷺ قَالَ: إِذَا تَشَهَدَ أَحَدُكُم فَليَستَعِذ بِاللهِ مِن أَربَعٍ، يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِن عَذَابِ القَبرِ، وَمِن فِتنَةِ الْمَحيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِن فِتنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.(فتح الباري لابن رجب, باب الدعاء قبل السلام ,ج:7,ص:337 )
Dari Abu Hurairah, dari Nabii shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian bertasyahhud maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, Beliau mengucapkan: Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabi jahannama wamin ‘adzaabilqobri wa min fitnatilmahyaa walmamaati wa min fitnatilmasiihiddajjaal.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»( صحيح البخاري ١٣٧٧, بَابُ التَّعَوُّذِ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah berdo’a, Beliauu mengucapkan: Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabilqobri wa min ‘adzaabinnaar, wa min fitnatilmahyaa walmamaati wa min fitnatilmasiihiddajjaal.
27. Ditutup dengan salam
Taslim, yakni mengucapkan salam penutup sholat, termasuk rukun. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihii wa sallam:
مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيم.[3]
Pembuka shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah taslim
Pengucapan salam penutup shalat disyari’atkan dua kali pengucapan, yaitu saat menoleh kekanan dan kekiri, sebagaimana diterangkan dalam hadits:
عن ابن مسعود: رأيتُ رسولَ اللَّهِ ﷺ يُكبِّرُ في كلِّ خفضٍ ورفعٍ وقيامٍ وقعودٍ ويسلِّمُ عن يمينِهِ وعن شمالِهِ السَّلامُ عليْكم ورحمةُ اللَّهِ حتّى يرى بياضُ خدِّهِ قالَ ورأيتُ أبا بَكرٍ وعمرَ يفعلانِ ذلِكَ. (صحيح ,أخرجه الترمذي (٢٥٣)، والنسائي (١١٤٢) واللفظ له، وأحمد (٣٦٦٠))
Dari Ibnu Mas’ud: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada setiap turun(rukuk/sujud), bangkit, berdiri, dan duduk, dan Beliau mengucapkan salam ke kanan dan kekiri: “Assalamu’alaikum wa rahmatullah”, hingga terlihat putihnya pipi Beliau. Ia(Ibnu Mas’ud) berkata: dan saya melihat Abu Bakr dan ‘Umar juga melakukan demikian.
Syaikh al-Mubarakfury dalam Tuhfatul-Ahwadzi menerangkan dengan mengutip hadits at-Tirmidzi:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ " كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ يَسَارِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ " حَدِيثُ ابْنِ مَسْعُودٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ «وَالعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَابْنِ المُبَارَكِ، وَأَحْمَدَ، وَإِسْحَاقَ».
(تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي, بَاب مَا جَاءَ فِي التَّسْلِيمِ فِي الصَّلَاةِ [295])
Dari ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Beliau mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri: Assalaamu’alaikum wa rohmatullooh, Assalaamu’alaikum wa rohmatullooh. Hadits Ibnu Mas’ud adalah hadits hasan shahih, amalan tersebut dilakukan oleh banyak ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang setelah mereka yaitu perkataan Sufyan ats-Tsauri, Ibnul-Mubarak, Ahmad dan Ishaq.
Kemudian dalam redaksi riwayat Wail bin Hujr terdapat tambahan:
فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ؛» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.( الصنعاني, سبل السلام, باب : التَّسْلِيم فِي الصَّلَاة. ج:1, ص:291.)
Kemudian Beliau mengucapkan salam ke arah kanannya: Assalaamu ‘alaikum wa rohmatuloohi wa barokaatuh, dan kearah kirinya: Assalaamu ‘alaikum wa rohmatuloohi wa barokaatuh.
Tidak perlu membuka telapak tangan kanan dan kiri ketika mengucapkan salam
Mengenai ini terdapat larangan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita perhatikan keterangan berikut:
الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مِسْعَرِ بْنِ كِدَامٍ، عَنِ ابْنِ الْقِبْطِيَّةِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ، فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ أَحَدُنَا بِيَدِهِ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: " مَا بَالُكُمْ تَرْمُونَ بِأَيْدِيكُمْ، كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ أَوَ لَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ، أَوْ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ، ثُمَّ يُسَلِّمَ عَنْ يَمِينِهِ، وَعَنْ شِمَالِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ".( أبو بكر البيهقي, معرفة السنن والآثار, باب: السَّلَامُ فِي الصَّلَاةِ. ج:3, ص:95).
Asy-Syafi’i berkata: Sufyan bin ‘Uyainah telah mengabarkan pada kami dari Mis’ar bin Kidam dari Ibnu al-Qibthiyyah dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam shalat), kemudian ketika Beliau mengucapkan salam, salah seorang dari kami mengucapkan dengan disertai tangan kanan dan kirinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada apa dengan kalian melemparkan tangan kalian, seperti ekor kuda yang tak bisa diam?. Cukuplah salah seorang dari kalian menyimpan tangan diatas pahanya, kemudian mengucapkan salam ke kanan dan kirinya: Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh.
Allahu a’lam..
Demikian tuntaslah pembahasan sifat dan kaifiyat shalat dari takbiratul ihram hingga salam, semoga dapat membantu pembaca, terutama bagi yang belum memahami urutan dari awal perintah sholat hingga kaifiyatnya berikut dalil-dalilnya.
Baarakallahu fiikum.
[1] Lihat: تمام المنة في فقه الكتاب والصحيح السنة,ص:268
[2] Lihat: المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج, باب الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ التَّشَهُّدِ, ج:4, ص:123
فتح المنعم شرح صحيح مسلم, باب الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بعد التشهد,ج:2,ص:530
منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري, بَابُ قَوْلِهِ تعالى (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا),ج:5,ص:67
[3] صحيح لغيره، وإسناده حسن، عبد الله بن محمد بن عقيل حسن الحديث، وباقي رجاله ثقات رجال الشيخين، وصحح إسناده النووي في "المجموع" 3/289، وابن حجر في "الفتح" 2/322.وأخرجه أبو داود (61) و (618) ، وابن ماجه (275) ، والترمذي (3) ، والبزار (633) ، وأبو يعلى (616) ، وابن عدي في "الكامل" 4/1448، والدارقطني 1/360 و379 من طريق وكيع، بهذا الإسناد. قال الترمذي: هذا الحديث أصح شيء في هذا الباب وأحسن. (مسند الإمام أحمد بن حنبل, تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون).

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik