Dari masa Adam as hingga masa Nabi saw
Bag.1
Oleh: Den Herians
1. Awal Penciptaan Manusia
1.1. Islam dan Ummat Islam
Penting untuk diketahui terutama bagi ummat Islam, bahwa Dinul-Islam telah ditetapkan sebagai satu-satunya aqidah tauhid seiring penciptaan manusia itu sendiri. Maka yang dimaksud Ummat Islam adalah kumpulan manusia yang disatukan didalam Aqidah Tauhid sepanjang perputaran sejarah hingga hari kiamat, yakni mereka orang-orang yang mengikuti para nabi dan rasul dari zaman Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan siapa saja yang berjalan diatas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat, yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membenarkan para rasul-Nya, mereka semua adalah ummat Islam. Mata rantai utamanya adalah al-‘Aqidatuttauhid, bukan bahasa, tarikh atau tempat, ataupun asal-usul dan lain-lainnya. Maka Islam bukanlah produk sejarah, bukan produk bahasa ataupun tempat, ataupun produk hukum buatan manusia, melainkan Islam adalah jalan hidup yang ditetapkan dan diatur oleh Rabb semesta alam sejak pertama kali manusia diciptakan. Sebagaimana Allah menerangkan dalam al-Quran, Firman-Nya:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ. [الروم ٣٠]
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Para ‘ulama sedikit berbeda pendapat mengenai kata fitrah pada ayat ini, namun demikian tidak mengurangi kebenaran Islam sebagai agama yang diturunkan kepada manusia sejak awal penciptaan, dimana ayat diatas sendiri yang menegaskan bahwa itulah ad-Dinul-Qayyim.
Dalam hal ini Ibnul-Jauzy juga mengatakan:
Al-Fitrah adalah: Al-khilqah (penciptaan), yang mana Allah telah menciptakan manusia berada diatasnya, sebagaimana sabda Nabi saw :” Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan diatas fitrah”, yaitu diatas keimanan kepada Allah.
Dan Mujahid mengatakan terkait Firman-Nya: ﴿فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النّاسَ عَلَيْها﴾ ,ia berkata: yaitu Islam, sebagaimana perkataan Qatadah. Adapun Ibnu Qutaibah berpendapat bahwa al-fitrah adalah pengakuan dan ma’rifat kepada Allah, bukan Islam, adapun makna al-fitrah pada ayat tersebut adalah: permulaan penciptaan. (Lihat: (تفسير ابن الجوزي — ابن الجوزي (٥٩٧ هـ)))
Baca juga: Fitrah Iman
Aqidah Tauhid sebagai perjanjian khilqah sejak awal penciptaan manusia, juga diterangkan dalam ayat:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ. [الأعراف ١٧٢]
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”
1.2. Manusia Pertama
Allah ‘Azza wa Jalla dengan Hikmah-Nya telah menetapkan satu makhluk bernama manusia sebagai makhluq yang ditugaskan untuk memimpin dan mengelola bumi ini (khalifah fil ardh),
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (سورة البقرة:30)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri untuk menemani dan menjadi istrinya. Singkat kisah, Adam & Hawa diciptakan dan diberi tempat tinggal di surga, namun kemudian diusir dan diturunkan ke bumi akibat memakan buah dari pohon terlarang disebabkan terbujuk oleh rayuan iblis, sehingga mereka diturunkan di Jazirah Arab berdasarkan pendapat yang paling banyak namun seluruh riwayat mengenai tempat diturunkannya tersebut tidak cukup tervalidasi, namun sangat penting untuk ditegaskan bahwa manusia dari sejak penciptaannya pertama kali, diciptakan dalam bentuk yang indah dan sempurna bukan seperti anggapan yang keliru yg mengatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi menjadi manusia. Islam memiliki dalil atas kesempurnaan penciptaannya dan menolak anggapan batil tersebut, Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (At-Tiin 95:4)
1.3. Qabil dan Habil
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Adam dan Hawa ditunkan di Jazirah Arab, artinya kehidupan manusia dijazirah Arab telah dimulai semenjak Adam berjumpa kembali dengan Hawa setelahnya berpisah sekian lama pasca diturunkan ke bumi. Mereka bedua menjalani hidup dibumi dan berketurunan, dimana setiap kali Hawa mengandung, ia melahirkan anak kembar laki dan perempuan. Yang lahir pertama kali adalah Qabil dengan saudara perempuannya, kemudian lahir Habil dan saudara perempuannya, kemudian diturunkan syari’at untuk melakukan pernikahan silang namun Qabil menolaknya. Sampai satu ketika diperintahlah mereka untuk melakukan pengorbanan, dan yang diterima oleh Allah ternyata adalah qurbannya Habil. Kemudian disebabkan dengki maka Qabil membunuh Habil, itulah Jarimah (kejahatan)pertama yg dilakukan manusia di bumi. Diterangkan dalam ayat, Allah berfirman:
۞ وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".(Al Ma'idah 5:27)
1.4. Syts ‘alaihissalam
Kemudian Adam as dikaruniai rizqi seorang anak yg shalih yaitu Nabi Syts as, dinamai Syts karena nama tersebut bermakna هِبَةُ اللَّهِ (karunia Allah) dimana Allah merizqikan Syts kepada Adam setelah terbunuhnya Habil. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam Qashashul-Anbiya':
قَالَ أَبُو ذَرٍّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِائَةَ صَحِيفَةٍ وَأَرْبَعَ صُحُفٍ، عَلَى شِيثَ خَمْسِينَ صَحِيفَةً ". قصص الأنبياء (1/ 67)
Abu Dzar mengatakan dalam haditsnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Sesungguhnya Allah telah menurunkan seratus shahifah dan empat shuhuf, dan diturunkan kepada Syts lima puluh shahifah”
Syts as diberi karunia banyak anak yang keturunannya pun melaksanakan pernikahan yang shahih, Adam mengajarkan ketauhidan kepada Nabi Syts dan keturunannya hingga beliau wafat, para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai usia nabi Adam dan diantara pendapat yang paling shahih menyampaikan bahwa usianya adalah 950 atau 1000 tahun, Allahu a’lam. Kemudian Syst melanjutkan ajaran dan dakwah tauhid pada keturunannya, hingga kemudian lahir nabi Idris as. Dan banyak sekali nabi dan rasul yang kemudian lahir dari anak cucu Adam.
Adapun mengenai jumlah Nabi dan Rasul ini terdapat dalam salah satu hadits, walaupun riwayatnya diperselisihkan namun para ‘ulama tarikh banyak menukilnya demikian juga ‘ulama tafsir dengan berbagai redaksi, diantaranya:
عن أبي ذر الغفاري: قلتُ يا رسولَ اللهِ كم الأنبياءُ قال مائةُ ألفِ نبيٍ وأربعةَ وعشرونَ ألفًا قلت يا رسولَ اللهِ كم الرسل ُمنهم قال ثَلَثُمِائَةُ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جمٌ غفيرُ قال يا أبا ذرٍ أربعةٌ سريانيونَ آدمُ وشيثٌ ونوحٌ وخنوخُ وهو إدريسُ وهو أولَ من خط بقلمٍ وأربعةٌ من العربِ هودٌ وصالحٌ وشعيبٌ ونبيكَ وأولُ نبيٍ من أنبياءِ بني إسرائيلَ موسى وآخرهُم عيسى وأولُ النبيينَ آدمَ وآخِرُهم نبيكَ.السيوطي (ت ٩١١)، الدر المنثور ٥/١٣٢ • الصواب أنه ضعيف لا صحيح ولا موضوع.
Dari Abu Hurairah: Aku bertanya: Ya Rasulallah berapakah jumlah para nabi?, Beliau menjawab: ”Seratus duapuluh empat ribu”, dan aku bertanya: Ya Rasulallah berapa jumlah para rasul diantara mereka?, Beliau menjawab: ”Tigaratus tigabelas,jumlahnya banyak sekali”, Beliau bersabda: “wahai Abu Dzar ada empat kelompok nabi dari kalangan suryaniyun yaitu Adam, Syits, Nuh dan Khanukh yaitu Idris dan beliau adalah manusia pertama yang menulis dengan pena, dan ada empat kelompok nabi dari kalangan Arab yaitu Hud, Shalih, Syu’aib dan Nabimu (Muhammad saw), dan nabi pertama dari kalangan bani Israil adalah Nabi Musa dan yang terakhir dari bani Israil adalah Nabi ‘Isa, dan nabi pertama adalah Nabi Adam dan nabi yang terakhir adalah Nabimu (Muhammad saw)"
1.5. Idris ‘alaihissalam
Nabi Idris as merupakan keturunan dari Nabi Syts as, dan beliau yang pertama kali menulis dengan pena sebagaimana sedikit disebutkan dalam hadits diatas, al-Quran pun menyebutkan perihal kenabian Idris as, Firman-Nya:
وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi” (Maryam 19:56)
Nabi Idris as senantiasa menegakkan hukum dan syari’at Islam sebagai agama tauhid sampai Allah mengangkatnya kelangit sebagaimana Nabi ‘Isa as, demikian menurut sebagian ‘Ulama dan sebagian lagi mengatakan yang bersumber dari adh-Dhahak bahwa Idris as diangkat hingga langit keenam kemudian wafat disana(lihat Qashashul-Anbiya': Dzikru Idris as). Allahu a’lam .
Demikian para Nabi diperintahkan untuk senantiasa melaksanakan dan menegakkan syari’at tauhid yang selanjutnya Allah mengutus pula para rasul untuk mendakwahkan Agama Tauhid, diterangkan dalam ayat:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (النحل:36).
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Adapun rasul yang petama kali diutus adalah Nabi Nuh as, pada masa Nuh as inilah perselisihan manusia dalam agama bermula.
Baca kilasannya disini : Awal Perselisihan Manusia dalam Agama
2. Sejarah imigrasi manusia
Anak keturunan Adam as menyebar dan bermigrasi dari satu tempat ketempat lain. Kemudian semakin banyak manusia yang tinggal di jazirah Arab dan tumbuh peradaban di masing-masing wilayah, adapun menurut sejarah yang paling banyak adalah di Hijaz. Dimana terdapat 3 kelompok besar manusia yang berimigrasi, yaitu:
1. Kearah timur laut: Sebagian besar menetap di Iraq dan menggarap pertanian, dan sebagian besar lagi terus berimigrasi hingga ke wilayah Asia dan Amerika.
2. Kearah utara: mereka berimigrasi ke Syam yang kemudian sebagian besar pindah ke kawasan laut tengah.
3. Kearah selatan: menuju negeri Yaman , kemudian dari Yaman sebagian besar kelompok manusia berimigrasi ke Afrika dan India.
Para muarrikh menyebutkan bahwa para nabi khuruj dari Jazirah Arab ke Syam, Iraq dan Mesir, yang mana negeri-negeri ini merupakan permulaan kawasan bumi yang dimakmurkan oleh para nabi.
3. Peradaban besar pertama manusia
Konon katanya, peradaban pertama adalah peradaban Firaun(mesir) dan Sumeria, demikian data menurut museum sejarah.
3.1.Peran Kerajaan & Para Nabi di Iraq.
Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa setelah manusia banyak yang bermukim dijazirah Arab, maka sebagian kelompok besar manusia hijrah ke arah timur laut dan mereka menetap di Iraq sebagai petani. Dimasa itu mereka semua menganut agama tauhid, tidak ada sedikitpun kelompok manusia yang menyembah berhala hingga tiba peradaban kaum Nabi Nuh as, dari sanalah bermula pemberhalaan.
3.1.1. Dakwah Nabi Nuh as, sebagai rasul pertama.
Setelah berlalu 1000 tahun masa antara Nabi Adam ke masa Nabi Nuh, maka Allah mengutus Nuh as sebagai Rasul pertama, karena dizaman inilah manusia mulai melakukan penyimpangan dari ketauhidan, sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Firman-Nya:
كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوافِيهِۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا ٱخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. (Al Baqarah 2:213)
Sebelum Nuh diutus terdapat beberapa laki-laki dari kaumnya yang shalih, setelah mereka meninggal maka para pengikutnya berinisiatif (karena dipengaruhi oleh bisikan syaitan) sehingga kemudian mereka mengatakan bahwa baik sekiranya bila dibuatkan patung orang-orang shalih tersebut untuk mengenang mereka, maka dibuatlah patung dan lukisan-lukisan, maka ketika mereka yang berinisiatif tersebut telah meninggal datanglah orang-orang yang lainnya lalu dibisikkanlah oleh iblis bahwa orang-orang sebelumnya telah beribadat kepada patung-patung tersebut, maka kemudian para pendatangpun menyembahnya, sehingga masyhur nama-nama berhala tersebut seperti wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr. Kemudian Nuh as diutus untuk mendakwahi mereka agar kembali menyembah Allah dan meninggalkan pemberhalaan, namun mereka tidak mau kembali kepada tauhid kecuali hanya sedikit saja yang mau beriman, sebagaimana dikisahkan dalam ayat:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (الأعراف:59)
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”.
Namun setelah 950 tahun berlalu Nabi Nuh as berdakwah kepada kaumnya, mereka tak kunjung taat, al-Quran mengisahkan:
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7)] سورة نوح[
Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.
Kemudian Nuh as berdo'a kepada Allah:
وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى ٱلْأَرْضِ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ دَيَّارًا
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh 71:26)
Dan Allah mengabulkannya:
فَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ أَنِ ٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ ۙ فَٱسْلُكْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ ٱلْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا ۖ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ
Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Al Mu'minuun 23:27)
Setelah didatangkan badai topan yang sangat besar, maka daratan diliputi air, dan berjalanlah perahu dari Iraq kearah utara. Al-Quran mengisahkan:
إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلْمَآءُ حَمَلْنَٰكُمْ فِى ٱلْجَارِيَةِ
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, (Al-Haaqqah; 69:11)
Kemudian perahu Nabi Nuh as berlabuh di jabal Judy (sekarang disebut gunung Ararat yang berada di timur laut Turki). Kemudian dari sinilah dimulai kembali peradaban baru manusia, mereka bermukim didaerah ini yang kemudian keturunan Nabi Nuh as terpisah-pisah. Lalu anaknya Nabi Nuh as yaitu Sam dan keturunannya mulai hijrah ke Jazirah Arab, dan anak Nuh yang lainnya yaitu Ham hijrah ke Iraq dan sekitarnya, kemudian Yafuts (masih anaknya Nabi Nuh) dan keturunannya memilih ke arah timur dan sebagian lagi ke arah barat. Kemudian sebagian yang lain lagi bermukim kearah yang lainnya.
Baca juga: Perjuangan Dakwah Nabi Nuh as
3.1.2. Lahirnya Daulah Sumariyah (sumeria) di Iraq selatan hingga diutusnya Nabi Ibrahim as
Orang-orang yang menetap diselatan Iraq berprofesi sebagai petani, yaitu Sumeria dan Bani as-Sadud, dan tinggal pula penduduk yang bersebelahan dengan mereka yang dikenal dengan kaum Akadiya dikota Akadi. Sebagian dari mereka berpindah kedataran tinggi bagian timur wilayah ini. Kemudian Bani Madyanah (kaum Suza) yaitu kaum Elam (العيلاميون) yakni kaum Sumeria adalah kaum yang memiliki kekuatan terbesar diwilayah ini, raja mereka yang terkenal yaitu raja Sarjun, dan kotanya yang terkenal yaitu kota Uur. Mereka semua adalah kaum-kaum yang menyembah patung dan bintang-bintang, mereka terombang ambing dalam kesesatan dan kezhaliman, lalu Allah mengutus Nabi Ibrahim Khalilullah as yang mana beliau berasal dari kota Uur.
Peran Ibrahim ‘alaihissalam sebagai Abu Tauhid
Ibrahim as merupakan anak keturunan dari jalur Sam bin Nuh, Allah mengutus Ibrahim kepada kaumnya untuk berdakwah mengajak mereka kepada Tauhidullah, namun raja mereka yaitu Namrud mendebat dan menolak Ibrahim. Dijelaskan dalam al-Quran :
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِۦمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Al Baqarah 2:258)
Kemudian Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka, dan Ibrahim as mendapatkan hukuman dari raja, al-Quran menerangkan:
فَجَعَلَهُمْ جُذَٰذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya”. (Al Anbiyaa' 21:58)
قَالُوا۟ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓا۟ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak".(Al Anbiyaa' 21:68)
قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim"(Al Anbiyaa' 21:69)
Setelah Ibrahim melaksanakan jihad dakwah tersebut dan kaumnya tetap tidak mau beriman, kemudian beliau berhijrah kenegeri Syam bersama istrinya yaitu Sarah, dan juga keponakan Ibrahim yaitu nabi Luth as.
3.1.3. Daulah Akadiyah dan Babiliyah (babilonia), masih di wilayah Iraq.
Sumeria, kaumnya nabi Ibrahim as semakin bertambah kesesatan dan pembangkangannya terhadap syari'at Allah, maka kemudian Allah memberikan kekuasaan kepada kaum zhalim yang lain sehingga mengalahkan mereka, kemudian Babilonia menguasai wilayah Sumeria. Diisyaratkan dalam al-Quran, Firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (Al An'aam 6:129)
Kemudian datang pula sekelompok kekuatan besar menyerang Babilonia dari arah barat daya yang kemudian mereka menguasai kota Babil, maka jadilah Babilonia kedaulatan besar yang mengutamakan agronomi dan infrasfruktur. Raja mereka yang termasyhur yaitu Hammurabi (حمورابي) [yaitu raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama], dia lah yang membuat peraturan dan dikenal dengan syari'at Hammurabi (undang-undang Hammurabi) yang merupakan undang-undang pertama buatan manusia yang ditetapkan dimuka bumi untuk tujuan hegemoni kekuasaan, mereka juga merupakan kaum yang senantiasa menyembah berhala dan bintang-bintang. Kemudian Allah mendatangkan kaum-kaum yang lain untuk membinasakan mereka dari arah utara semisal bangsa Hits (الحيثيون), Mitan(الميتانيون), dan bangsa Asyur (الأشوريون).
3.1.4. Daulah Asyuriyah
Selanjutnya bangsa Asyur menguasai wilayah tersebut, yakni wilayah Iraq utara, yang kemudian berdirilah pusat kota yaitu Ninawa, dimana kedaulatannya semakin berkembang hingga otoritas mereka meluas keseluruh Iraq dan Syam, juga sebagian dari Mesir, adapun raja mereka yang populer adalah Raja Salmanishir III (سلمنصر الثالث) dan raja Asyur Banibal (آشور بانيبال), mereka semua menyembah berhala. Maka kemudian Allah mengutus nabi Yunus as.
Nabi Yunus as
Allah mengutus Nabi Yunus as kepada penduduk Ninawa agar mengajak mereka kembali pada agama tauhid supaya mereka hanya beribadah kepada Allah semata, tidak berbuat kemusyrikan, namun mereka menolak dakwahnya sehingga Nabi Yunus kesal dan marah lalu pergi dengan perahu menempuh sungai Daljah (Tigris, sebuah sungai di Mesopotamia yang mengalir dari pegunungan Anatolia di Turki hingga melalui Irak dan bermuara di Teluk Persia, sepanjang sekitar 1.900 km, beriringan dengan sungai Efrat yang menjadi ciri khas daerah Mesopotamia).
Kemudian Allah memberi pelajaran kepada Nabi Yunus dan mengujinya karena beliau kurang bersabar dalam menghadapi kaumnya, sehingga Allah menghendaki Nabi Yunus kalah dalam undian, lalu dilemparkanlah Nabi Yunus ke laut dan ditelan ikan paus. FirmanNya:
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (139) إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (140) فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ (141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ (142) فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144) ۞ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ (145) [الصافات [
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit”.
Kemudian Nabi Yunus as kembali kepada kaumnya dan berdakwah sehingga kaumnya menyadari kesesatan mereka kemudian bertaubat dan Allah menerima taubat mereka, dikisahkan dalam Firman-Nya:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ [يونس : 98[
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu”
3.1.5. Peradaban Daulah Kaldaniyah(Babilonia kedua) & terpencarnya Yahudi
Bangsa Kaldeniya(babilonia selatan) menjadi bangsa dengan kerajaan yang besar (Bukhtanashar) dan menjadi Penengah Hukum Wilayah serta menguasai tanah Syam dan membumi hanguskan al-Quds, membinasakan Yahudi dan merampas kekuasaan mereka. Sejak zaman ini maka Bani Israil terpisah-pisah dan menyebar kesetiap penjuru bumi. Sebagian besar mereka menetap di Hijaz, Mesir dll, sementara Bukhtanashar menduduki mesir. Dan diantara karya mereka yang masyhur yaitu bangunan menara Babil.
Kedaulatan Kaldan ini berkuasa hingga akhirnya dihancurkan oleh Persia yang menguasai wilayah ini sekitar 1161 Sebelum Hijriyah(504 SM).
3.1.6. Peradaban Daulah Persia
Kekaisaran Persia dimasa lalu merupakan nama bagi kedaulatan bangsa Fursu(الفرس) yang sekarang kita kenal dengan nama Iran. Kata alfursu (الفرس/orang persia) sendiri sebenarnya kembali ke tempat asal mereka yaitu Iraq, yang kemudian mereka pindah kesebelah timur Iraq lalu mereka menetap di tanah Persia(الفارس). Ketika telah memiliki cukup kekuatan maka kemudian mereka melakukan invasi ke Kaldeniya, yakni Babilonia Selatan(sebagaimana telah disebutkan sebelumnya), sehingga akhirnya Mesir dan Iraq jatuh dalam kekuasaan Persia, kemudian pemerintahan Mesir berada dalam otoritas Al-Iskandar al-Maqduny. Adapun Iraq berada dalam otoritas Persia hingga hadirnya al-futuhat al-Islamiyyah.
Selanjutnya di tema:
Peradaban dan para Nabi di Tanah Syam
0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik