Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Tauhid dan Sejarah Manusia, Ringkasan bag1

Ringkasan Sejarah Manusia

Dari Masa Adam ‘Alaihissalam hingga Masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Bagian 1

Oleh: Den Herians

1. Awal Penciptaan Manusia

1.1. Islam dan Umat Islam ▼

Penting untuk diketahui, terutama bagi umat Islam, bahwa Dīnul-Islām telah ditetapkan sebagai satu-satunya akidah tauhid seiring dengan penciptaan manusia itu sendiri. Yang dimaksud umat Islam adalah kumpulan manusia yang disatukan di dalam akidah tauhid sepanjang perputaran sejarah hingga hari kiamat; yakni mereka yang mengikuti para nabi dan rasul dari zaman Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta siapa saja yang berjalan di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membenarkan para rasul-Nya.

Mata rantai utamanya adalah al-‘Aqīdatut-tauhīd (akidah tauhid), bukan bahasa, tarikh, tempat, asal-usul, atau atribut duniawi lainnya. Islam bukanlah produk sejarah, produk bahasa, produk tempat, ataupun produk hukum buatan manusia. Melainkan, Islam adalah jalan hidup yang ditetapkan dan diatur oleh Rabb semesta alam sejak pertama kali manusia diciptakan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta‘ala menerangkan dalam Al-Qur'an:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [الروم: ٣٠]
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (fitrah Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm: 30)

Para ulama sedikit berbeda pendapat mengenai makna kata fitrah pada ayat ini, namun demikian hal tersebut tidak mengurangi kebenaran Islam sebagai agama yang diturunkan kepada manusia sejak awal penciptaan, di mana ayat di atas sendiri menegaskan bahwa itulah ad-Dīnul-Qayyim (agama yang lurus).

Dalam hal ini, Ibnul-Jauzī rahimahullāh menjelaskan:

“Al-Fitrah adalah al-khilqah (penciptaan), di mana Allah telah menciptakan manusia berada di atasnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan di atas fitrah,’ yaitu di atas keimanan kepada Allah.”

Adapun Mujahid rahimahullāh berkata terkait firman-Nya fi‘ratallāh allatī fataran-nāsa ‘alaiha: yaitu Islam. Demikian pula pendapat Qatadah. Sementara Ibnu Qutaibah berpendapat bahwa al-fitrah adalah pengakuan dan makrifat kepada Allah, dan makna al-fitrah pada ayat tersebut adalah permulaan penciptaan. (Lihat: Tafsīr Ibnil-Jauzī).

Baca juga: Keimanan Itu Fitrah

Akidah tauhid sebagai perjanjian khilqah (eksistensial) sejak awal penciptaan manusia juga diterangkan dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ [الأعراف: ١٧٢]
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS. Al-A‘rāf: 172)
1.2. Manusia Pertama ▼

Allah ‘Azza wa Jalla dengan hikmah-Nya telah menetapkan satu makhluk bernama manusia sebagai makhluk yang ditugaskan untuk memimpin dan mengelola bumi ini (khalīfatan fil-ardh), memanfaatkan segala sumber daya dan pembendaharaannya dengan baik dan benar. Dialah Adam ‘alaihissalam, yang Allah ciptakan dari tanah, ditiupkan ruh dari-Nya, diajarkan segala jenis nama (ilmu), dan diperintahkan kepada para malaikat untuk sujud penghormatan kepadanya. Begitu pula iblis diperintahkan, namun ia membangkang sehingga Allah melaknanya. Mengenai kekhalifahan ini, Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ [البقرة: ٣٠]

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Hawa dari tulang rusuk sebelah kiri untuk menemani dan menjadi istrinya. Singkat kisah, Adam dan Hawa diciptakan dan diberi tempat tinggal di surga, namun kemudian diturunkan ke bumi akibat memakan buah dari pohon terlarang karena terbujuk oleh rayuan iblis. Berdasarkan pendapat yang paling banyak, mereka diturunkan di Jazirah Arab, meskipun seluruh riwayat mengenai tempat spesifik diturunkannya tidak cukup tervalidasi secara mutlak.

Sangat penting untuk ditegaskan bahwa manusia sejak pertama kali diciptakan berada dalam bentuk yang indah dan sempurna, bukan seperti anggapan keliru yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi. Islam memiliki dalil atas kesempurnaan penciptaan manusia dan menolak anggapan batil tersebut. Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ [التين: ٤]
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tīn: 4)
1.3. Qabil dan Habil ▼

Sebagaimana telah disinggung bahwa Adam dan Hawa diturunkan di Jazirah Arab, maka kehidupan manusia di Jazirah Arab dimulai sejak Adam berjumpa kembali dengan Hawa setelah berpisah sekian lama pasca-diturunkan ke bumi. Mereka berdua menjalani hidup di bumi dan berketurunan. Setiap kali Hawa mengandung, ia melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Yang lahir pertama kali adalah Qabil bersama saudara perempuannya, kemudian lahir Habil bersama saudara perempuannya.

Ketika diturunkan syariat pernikahan silang antara saudara kembar yang berbeda kelahiran demi kelangsungan keturunan, Qabil menolaknya. Hingga pada suatu ketika, diperintahkanlah mereka untuk melakukan persembahan kurban, dan yang diterima oleh Allah adalah kurban dari Habil. Karena rasa dengki yang mendominasi jiwanya, Qabil membunuh Habil. Itulah jarīmah (tindak kejahatan) pertama yang dilakukan manusia di bumi. Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [المائدة: ٢٧]
“Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka kurban salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Ia (Qabil) berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’ Habil berkata: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Mā'idah: 27)
1.4. Syits ‘Alaihissalam ▼

Kemudian Nabi Adam ‘alaihissalam dikaruniai seorang anak yang saleh, yaitu Nabi Syits ‘alaihissalam. Dinamai Syits karena nama tersebut bermakna hibatullāh (karunia Allah), di mana Allah menganugerahkannya kepada Adam setelah terbunuhnya Habil. Ibnu Katsir rahimahullāh menyebutkan dalam Qashashul-Anbiyā':

قَالَ أَبُو ذَرٍّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِائَةَ صَحِيفَةٍ وَأَرْبَعَ صُحُفٍ، عَلَى شِيثَ خَمْسِينَ صَحِيفَةً" (قصص الأنبياء ١/٦٧)
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan dalam hadisnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan seratus syahifah dan empat suhuf, dan diturunkan kepada Syits lima puluh syahifah.”

Nabi Syits ‘alaihissalam dikaruniai banyak keturunan yang melaksanakan pernikahan yang sah. Nabi Adam ‘alaihissalam mengajarkan ketauhidan kepada Nabi Syits dan keturunannya hingga beliau wafat. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai usia Nabi Adam, di antaranya pendapat yang paling sahih menyatakan usianya adalah 950 atau 1.000 tahun; Allāhu a‘lam. Kemudian Syits melanjutkan ajaran dan dakwah tauhid kepada keturunannya hingga lahirnya Nabi Idris ‘alaihissalam.

Adapun mengenai jumlah nabi dan rasul, terdapat dalam sebuah riwayat hadis (meskipun diperselisihkan keshahihannya oleh sebagian ahli hadis, namun banyak dinukil oleh para ulama tarikh dan tafsir dengan berbagai redaksi):

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ: "مِائَةُ أَلْفِ نَبِيٍّ وَأَرْبَعَةً وَعِشْرُونَ أَلْفًا"، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْهُمْ قَالَ: "ثَلَاثُ مِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جَمّاً غَفِيرًا"... (السيوطي، الدر المنثور ٥/١٣٢)
Dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para nabi?” Beliau menjawab: “Seratus dua puluh empat ribu.” Aku bertanya lagi: “Berapa jumlah para rasul di antara mereka?” Beliau menjawab: “Tiga ratus tiga belas, jumlah yang sangat banyak.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, ada empat kelompok nabi dari kalangan Suryani: Adam, Syits, Nuh, dan Khanukh (yaitu Idris, manusia pertama yang menulis dengan pena). Empat dari kalangan Arab: Hud, Shalih, Syu‘aib, dan Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Nabi pertama dari Bani Israil adalah Musa, dan yang terakhir adalah Isa. Serta nabi pertama adalah Adam dan nabi terakhir adalah Nabimu (Muhammad).”
1.5. Idris ‘Alaihissalam ▼

Nabi Idris ‘alaihissalam merupakan keturunan dari Nabi Syits ‘alaihissalam dan beliau adalah manusia pertama yang menulis dengan pena sebagaimana disinggung dalam hadis di atas. Al-Qur'an pun menyebutkan perihal kenabian Idris ‘alaihissalam, firman-Nya:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا [مريم: ٥٦]
“Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi.” (QS. Maryam: 56)

Nabi Idris ‘alaihissalam senantiasa menegakkan hukum dan syariat Islam sebagai agama tauhid sampai Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana Nabi Isa ‘alaihissalam—demikian menurut sebagian ulama. Sebagian ulama lain bersumber dari adh-Dhahhak mengatakan bahwa Idris diangkat hingga langit keenam kemudian wafat di sana. Allāhu a‘lam.

Demikianlah para nabi diperintahkan untuk senantiasa melaksanakan dan menegakkan syariat tauhid, selanjutnya Allah mengutus pula para rasul untuk mendakwahkan agama tauhid. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ... [النحل: ٣٦]
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)

Adapun rasul yang pertama kali diutus adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Pada masa Nabi Nuh inilah perselisihan manusia dalam agama bermula.

Baca kilasannya di sini: Awal Perselisihan Manusia dalam Agama

2. Sejarah Imigrasi Manusia

2. Gelombang Migrasi dan Penyebaran Keturunan Adam ▼

Anak keturunan Adam ‘alaihissalam menyebar dan bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain. Semakin banyak manusia yang tinggal di Jazirah Arab, lalu tumbuh peradaban di masing-masing wilayah—menurut data sejarah yang paling dominan adalah di kawasan Hijaz. Terdapat tiga kelompok besar manusia yang berimigrasi:

  • Ke arah timur laut: Sebagian besar menetap di Iraq dan menggarap pertanian, sementara sebagian lainnya terus berimigrasi hingga ke wilayah Asia dan Amerika.
  • Ke arah utara: Mereka berimigrasi ke Syam, yang kemudian sebagian besar pindah ke kawasan Laut Tengah.
  • Ke arah selatan: Menuju negeri Yaman, kemudian dari Yaman sebagian besar berimigrasi ke Afrika dan India.

Para muarrikh (sejarawan) menyebutkan bahwa para nabi khuruj (berangkat/berdakwah) dari Jazirah Arab ke Syam, Iraq, dan Mesir; di mana negeri-negeri ini merupakan permulaan kawasan bumi yang dimakmurkan oleh para nabi.

3. Peradaban Besar Pertama Manusia

Konon menurut data museum sejarah modern, peradaban tertua dunia diidentifikasi sebagai peradaban Firaun (Mesir) dan Sumeria.

3.1. Peran Kerajaan dan Para Nabi di Iraq

Sebagaimana telah disebutkan, setelah banyak manusia bermukim di Jazirah Arab, sebagian kelompok besar manusia hijrah ke arah timur laut dan menetap di Iraq sebagai petani. Pada masa itu mereka semua menganut agama tauhid; tidak ada sedikit pun penyembahan berhala hingga tiba peradaban kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, dari sanalah bermula penyimpangan dan penyembahan berhala.

3.1.1. Dakwah Nabi Nuh ‘Alaihissalam sebagai Rasul Pertama ▼

Setelah berlalu 1,000 tahun antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh, Allah mengutus Nuh ‘alaihissalam sebagai rasul pertama, karena pada zaman inilah manusia mulai melakukan penyimpangan dari ketauhidan. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ... [البقرة: ٢١٣]
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan...” (QS. Al-Baqarah: 213)

Sebelum Nabi Nuh diutus, terdapat beberapa orang saleh dari kaumnya. Setelah mereka meninggal, para pengikutnya berinisiatif—atas bisikan setan—untuk membuat patung-patung orang saleh tersebut guna mengenang mereka. Ketika generasi pembuat patung itu wafat dan datang generasi berikutnya, iblis membisikkan bahwa nenek moyang mereka dahulu menyembah patung-patung tersebut. Maka, merekapun menyembahnya. Masyhurlah nama-nama berhala tersebut seperti Wadd, Suwā‘, Yāghūts, Ya‘ūq, dan Nasr.

Allah kemudian mengutus Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk mendakwahi mereka agar kembali menyembah Allah dan meninggalkan pemberhalaan. Namun, mereka menolak kecuali sedikit yang beriman. Allah berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ [الأعراف: ٥٩]
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. Al-A‘rāf: 59)

Setelah 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, kaumnya tak kunjung taat. Al-Qur'an mengisahkan keluh kesah beliau dalam Surah Nuh ayat 5–7, hingga akhirnya beliau berdoa memohon kepada Allah agar tidak membiarkan seorang pun orang kafir tinggal di muka bumi (QS. Nuh: 26). Allah mengabulkannya dengan memerintahkan pembuatan bahtera (kapal) di bawah pengawasan-Nya.

Setelah badai topan besar melanda dan daratan diliputi air, perahu berlayar dari Iraq ke arah utara. Al-Qur'an mengisahkan:

إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ [الحاقة: ١١]
“Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera.” (QS. Al-Hāqqah: 11)

Perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam berlabuh di Jabal Judy (yang sekarang diidentifikasi sebagai Gunung Ararat di timur laut Turki). Dari sinilah peradaban baru manusia dimulai kembali. Keturunan Nabi Nuh terpisah: Sam dan keturunannya hijrah ke Jazirah Arab, Ham hijrah ke Iraq dan sekitarnya, sedangkan Yafuts dan keturunannya memilih ke arah timur dan barat.

3.1.2. Lahirnya Daulah Sumeria di Iraq Selatan hingga Diutusnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ▼

Orang-orang yang menetap di selatan Iraq berprofesi sebagai petani, yaitu kaum Sumeria dan Bani as-Sadud, serta penduduk tetangga mereka yang dikenal sebagai kaum Akadiya di kota Akadi. Sebagian dari mereka berpindah ke dataran tinggi bagian timur. Kaum Elam (العيلاميون) dari Bani Madyanah (Kaum Suza) adalah kekuatan terbesar di wilayah ini dengan raja terkenal bernama Sarjun dan kota utamanya Uur. Mereka menyembah berhala dan bintang-bintang dalam kesesatan serta kezaliman. Maka, Allah mengutus Nabi Ibrahim Khalīlullāh ‘alaihissalam yang berasal dari kota Uur.

Peran Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai Abul-Anbiyā' (Bapak Para Nabi): Ibrahim adalah keturunan dari jalur Sam bin Nuh. Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk menyeru kepada tauhid. Raja mereka, Namrud, mendebat dan menolak dakwah beliau, sebagaimana diabadikan dalam QS. Al-Baqarah: 258. Setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala mereka dan dijatuhi hukuman bakar, Allah menyelamatkan beliau dengan mukjizat (QS. Al-Anbiyā': 68–69). Selepas itu, beliau berhijrah ke negeri Syam bersama istrinya, Sarah, serta keponakannya, Nabi Luth ‘alaihissalam.

3.1.3. Daulah Akadiyah dan Babilonia ▼

Karena kaum Sumeria semakin membangkang terhadap syariat Allah, Dia memberikan kekuasaan kepada bangsa Babilonia untuk mengalahkan mereka (sunatullah: orang zalim menguasai orang zalim). Selanjutnya, datang kekuatan besar dari barat daya menguasai kota Babil, menjadikan Babilonia kedaulatan besar yang mengutamakan agronomi dan infrastruktur. Raja mereka yang termasyhur adalah Hammurabi (حمورابي) dari dinasti Babilonia pertama, pencipta hukum tertulis pertama di bumi (Undang-Undang Hammurabi) untuk hegemoni kekuasaan. Mereka juga penyembah berhala dan bintang. Allah kemudian mendatangkan bangsa-bangsa penumpas dari utara seperti bangsa Hits (الحيثيون), Mitanni (الميتانيون), dan Asyur (الأشوريون).

3.1.4. Daulah Asyuriyah dan Nabi Yunus ‘Alaihissalam ▼

Bangsa Asyur menguasai Iraq utara dengan pusat kota Ninawa, memperluas otoritas hingga seluruh Iraq, Syam, dan sebagian Mesir. Raja-raja mereka seperti Salmanishir III (سلمنصر الثالث) dan Ashurbanipal (آشور بانيبال) menyembah berhala. Allah mengutus Nabi Yunus ‘alaihissalam untuk menyeru mereka kepada tauhid, namun mereka menolak hingga Yunus meninggalkan mereka dalam keadaan marah, menaiki kapal di Sungai Tigris (Daljah). Setelah ujian ditelan ikan paus dan bertobatnya penduduk Ninawa, Allah menyelamatkan mereka (QS. Yūnus: 98).

3.1.5. Daulah Kaldania (Babilonia Kedua) dan Terpencarnya Bani Israil ▼

Bangsa Kaldania (Babilonia Selatan) di bawah kepemimpinan Nebukadnezar (Bukhtanashar) menjadi kekuasaan besar yang menguasai Syam, membumihanguskan Al-Quds, membinasakan kekuasaan Yahudi, dan merampas harta mereka. Sejak zaman ini, Bani Israil tercerai-berai ke berbagai penjuru bumi; sebagian besar menetap di Hijaz dan Mesir, sementara Bukhtanashar menduduki Mesir. Di antara peninggalan masyhur mereka adalah Menara Babil. Kekuasaan Kaldan berakhir setelah dihancurkan oleh Persia sekitar 504 SM.

3.1.6. Peradaban Daulah Persia ▼

Kekaisaran Persia kuno adalah kedaulatan bangsa Furs (الفرس), yang kini dikenal sebagai Iran. Asal-usul bangsa Furs bermula dari Iraq sebelum berpindah ke sebelah timur Iraq dan menetap di tanah Persia (الفارس). Setelah memiliki kekuatan penuh, mereka menginvasi Kaldania (Babilonia Selatan), sehingga Mesir dan Iraq berada di bawah otoritas Persia hingga kedatangan Islam melalui al-futūhāt al-Islāmiyyah.

Selanjutnya pada tema:

Peradaban dan Para Nabi di Tanah Syam

Catatan Kaki & Referensi Kitab Rujukan ▼

Disarikan dari kitab:
Mūjaz at-Tārīkh al-Islāmī munzu Ādam ‘alaihissalam ila ‘Ashrina al-Hāndhir 1417H

Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik