Kesalahan dan dosa berasal dari sifat-sifat alkibru (الكبر/sombong), alhirshu (الحرص/hasrat) dan alhasadu (الحسد/dengki). Sebagaimana kita tau bahwa sejarah kesalahan dan dosa manusia terjadi sejak manusia pertama diciptakan, yang perseteruannya diawali oleh Iblis laknatullah, ketika ia menolak dan menentang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam a.s. Disebabkan sifat alkibru (sombong) nya Iblis yang merasa lebih baik dari Adam a.s, sebagaimana dikisahkan alQuran, Allah Ta’ala berfirman :
“Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah"(Q.S. Shaad:76).
Adapun kesalahan pertama manusia yakni ketika Adam a.s melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon yang terlarang, disebabkan alhirshu (hasrat) yang tidak terkendali yang dimanfaatkan oleh Iblis sebagai jalan untuk menggelincirkan Adam a.s, AlQuran mengisahkan :
“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”(Q.S. Thahaa:120).
,akibat hasrat yang menggebu-gebu maka Adam a.s tergoda dan terjerumus kepada dosa hingga akhirnya diusir dari surga. Allah Ta’ala berfirman :
“ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia”. (Q.S. Thahaa:121).
Namun Adam a.s berbeda dengan Iblis, Adam a.s mau bertaubat dan Allah menerima taubatnya sedangkan Iblis tetap dalam kesombongannya.
Selanjutnya kisah dibunuhnya Habil oleh Qabil disebabkan sifat alhasad (dengki) dalam diri Qabil yang menyebabkan ia pun terjerumus kedalam dosa. Allah Ta’ala berfirman :
“ Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan ditolak dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" “ (Q.S. AlMaidah:27).
Demikian sifat hasud(dengki) dapat membuat seseorang tega membunuh saudaranya sendiri.
Dari sifat-sifat tercela itulah maka banyak berkembang dosa-dosa dan kesalahan manusia yang berakibat pada kerugian dunia dan akhirat bagi yang enggan bertaubat, sebab dosa-dosa tersebut yang menjadi sebab kehinaan dan kebinasaan, sebagaimana yang pernah terjadi kepada kaum Nuh a.s. Allah Ta’ala berfirman:
“Disebabkan dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah” (Q.S. Nuh:25).
Dengan demikian maka penting bagi kita menjadikan kisah pilu para pendahulu kita sebagai pelajaran agar kita berhati-hati dengan sifat-sifat tercela yang menjadi sumber utama perbuatan dosa tersebut, mari kita kenali dan berusaha untuk mengendalikannya karena memang potensinya ada dalam diri kita yang akan digunakan syaitan untuk menggelincirkan kita hingga jatuh kedalamnya, wal ‘iyaadzu billaah.
1. AlKibru (الكبر /sombong).
Kesombongan merupakan akar pertama dari perbuatan dosa, tak ubahnya ibarat virus yang dapat hidup dalam hati manusia. Karakteristiknya selalu merasa paling tinggi diatas yang lain, kesombongan ini akan menggerogoti kedalam hati. Sifat ini terbagi 3 :
- الكِبرُ عَلَى اللهِ (sombong terhadap Allah). Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sifat kekafiran murni yang membawa pelakunya kepada kafir hakiki, bahkan ini adalah setinggi-tingginya kekufuran. Alkibru ini di beritakan oleh Allah Ta’ala dalam alQuran dengan memberikan contoh-contoh seperti ucapan Raja Namrud kepada Ibrahim a.s , Allah Ta’ala berfirman:
“ Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Aku dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Q.S. AlBaqarah:258).
Juga seperti ucapan Fir’aun, alQuran mengisahkan :
“ia berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi" “ (Q.S. AnNazi’at:24).
“ Dan Fir´aun menyeru kaumnya, ia berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)” (Q.S. Az-Zukhruf:51).
Sikap sombong terhadap Allah, menolak Dinullah, menolak hukum dan aturan Allah adalah sebesar-besarnya kesombongan dan penentangan, oleh karena itulah dihukumi dengan kafir murni yakni kafir hakiki.
- الكِبرُ عَلَى الرُّسُلِ (sombong terhadap Rasul-rasul). Sifat ini menyebar di tiap-tiap ummat, yang mana mereka menolak dan membangkang kepada para Rasul yang diutus kepada mereka. AlQuran banyak mengisahkan kaum-kaum ini, diantaranya kaum Fir’aun yang mengejek dan menyombongkan diri terhadap kebenaran Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalaam, Firman-Nya Ta’ala:
“Dan mereka berkata: "Apakah pantas kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Q.S. AlMukminun :47).
Juga sebagaimana kaum Quraisy yang menghina Rasulullah saw ketika alQuran diwahyukan Allah kepada Baginda Nabi saw :
“Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” (Q.S. Az-Zukhruf:31).
Mereka menyombongkan diri dengan menganggap bahwa Baginda Nabi saw bukanlah seseorang yang layak mendapat karunia kenabian dan kerasulan, salah satu pembesar Quraisy yang mereka anggap berhak adalah Abu Jahal. Karena alkibru inilah yang memakan hati mereka sehingga mereka jatuh kepada kekufuran. AlQuran menyebutkan kesombongan mereka, Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah Kibr (kebesaran) yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(Q.S. Ghafir:56).
Kibr terhadap para Rasul, yang demikian juga termasuk kepada Kafir murni, kafir hakiki. Na’udzubillaah, semoga kita diberi karunia kecintaan kepada para Rasul Allah.
- الكِبرُ عَلَى النَّاسِ (sombong terhadap manusia). Kesombongan seseorang terhadap orang lain ini terkadang tingkatannya ada yang sampai jatuh kepada kafir hakiki juga, yang artinya boleh jadi kekal di neraka, na’udzubillah. Diriwayatkan dalam shahih Muslim , bahwa Nabi saw pernah bersabda :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ [1]
“Tak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat sebesar dzarah dari kesombongan (kibr)”. Berkata seseorang: “sesungguhnya seseorang itu ada yang menyukai pakaian yang bagus dan sepatu bagus”. Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya Allah itu indah menyukai keindahan, (sedangkan) alkibru itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (Ringkasan Shahih Muslim alMundziry tahqiq albany).
Maka diantara kezaliman seseorang adalah merendahkan orang lain, menolak dan menghalang-halangi jalan kebenaran. Ini termasuk kepada alkibr. Allah Ta’ala berfirman :
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (Q.S. Al A’raf ;146).
Kalaupun ada dalam kesombongan ini yang tidak menjadi wabah dan berakibat terhadap kecelakaan yang sangat besar yang dapat memalingkan manusia dari ayat-ayat Allah, maka cukuplah kesombongan itu akan berakibat buruk dan merugikan dirinya sendiri dunia dan akhirat, na’udzubillaahi min dzalik.
2. Alhirsh (الحرص /hasrat [keinginan yang kuat])
Mengenai hasrat yang kuat ini, Rasulullah saw telah mengajarkan agar kita berhati-hati dan jangan terjebak dengan keinginan hawa nafsu dalam menuntut ataupun mencari sesuatu dari dunia. Nabi saw pernah bersabda :
إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِيَ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ [2]
“ Sesungguhnya RuhulQudus (Jibril) telah membisikan kedalam jiwaku bahwa sesungguhnya satu jiwa tak akan mati hingga sempurna ajalnya dan mendapatkan rizqinya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam menuntutnya, dan janganlah keterlambatan rizqi membuat salah seorang dari kalian menuntutnya dengan cara maksiyat, sesungguhnya Allah, tak akan diperoleh rizqi yang ada di Sisi-Nya kecuali dengan menta’atinya” .(Hilyatul Auliya wa Thabaqaatul Ashfiya).
Seseorang ketika ia mengetahui dengan yakin apa yang telah Allah tetapkan bagian yang baik baginya, boleh jadi ia akan mendapatkannya berlipat ganda diatas segala kelemahannya dalam berikhtiar, dan apa yang tidak ditetapkan baginya maka ia tak akan memperolehnya walaupun ia mencurahkan segala cara dan kekuatannya. Maka ketika ia menyempurnakan ikhtiar dengan disertai pengetahuan dan keyakinannya ini ia akan mendapat ketenangan dalam dirinya dan akan sedikit hasrat dari hawa nafsu yang menggelora dalam dirinya, karena alhirsu (hasrat hawa nafsu) ini terkadang menjadi pendorong yang kuat untuk berbuat dosa, sebagaimana telah disebutkan diatas apa yang terjadi kepada Adam a.s dan Hawa yang terdorong hasrat yang kuat untuk mendapatkan kenikmatan buah dan kerajaan yang kekal, padahal itu hanyalah tipuan angan-angan dari Iblis yang menyimpan dendam kepada mereka. Dan Maha Penyayang Allah Yang Maha Menerima Taubat.
Sebagai orang yang beriman, maka yakinlah bahwa karunia rizqi dan kehidupan yang baik bagi orang beriman hanya akan diperoleh dengan cara menta’ati Allah dan RasulNya. Wa AllaahulMusta’aan.
3. Alhasad (الحسد /dengki)
Hasud, juga merupakan sumber utama dari banyak perbuatan dosa, ya.. dengki atau iri hati bagaikan api yang membakar, amal kebaikan pun bisa menjadi hangus, menjadi debu yang tiada berarti. Selain dari kisah Qabil dan Habil dapat kita cermati pula kisah saudara-saudaranya Yusuf a.s, disebabkan hatinya dimakan kedengkian, maka mereka tega memasukan Yusuf a.s kedalam sumur sehingga Beliau a.s terlunta-lunta, namun Allah Yang Maha Penyayang senantiasa menolong hamba-Nya yang beriman. Dan buah pahit dari kedengkian itu tetaplah akan kembali kepada si pelakunya, sebagaimana yang didapatkan saudara Yusuf a.s yang akhirnya pun mereka mengakui kesalahannya. AlQuran mengisahkan :
“Mereka berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berdosa" (Q.S. Yusuf:91).
Dan Allah Maha Luas Ampunan-Nya, Dia senantiasa membukakan pintu taubat-Nya. Dengan santun dan penuh kasih sayang Yusuf a.s tetap memaafkan saudaranya :
“ Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang"”. (Q.S. Yusuf:92).
Demikian dari penjelasan ringkas diatas, dapat kita petik pelajaran bahwa kita mesti mendidik hati ini agar mampu mengendalikan diri sehingga kita terjaga dari Sumber Utama Perbuatan Dosa yakni Alkibru (sombong/takabbur), alhirsu (hasrat yang menggebu) dan alhasad (dengki) yang akan melahirkan dosa-dosa turunan lainnya.
Hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh kita mohon pertolongan, semoga kita termasuk hamba-hamba Nya yang diberi Rahmat-Nya dan di jauhkan dari sumber-sumber perbuatan dosa, sehingga kita termasuk yang mendapatkan ampunan-Nya.
وصلى الله على محمد وعلى آله، والحمد لله رب العالمين















Sungguh tulisan yang bagus dengan sumber yang relevance, sangat disayangkan jika yang membaca hanya lewat saja tanpa mau berkomentar, terimakasih telah meluangkan waktu untuk menulis mudah2an dibalas kebaikan yg banyak oleh Alloh Swt, aamiin dan teruslah menulis bro... Salam hangat dri sohib di cibolerang.
BalasHapusthx brad...bukan komen dan like yang diharap in syaa Allah, tapi semoga materi ini kelak menjadi bagian dari saksi telah ikut berkontribusi menyampaikan risalah Ilahi.
Hapusbissmillah
BalasHapusizin save pak,,apakah boleh
silakan, semoga Allah berkahi.
Hapus