Abul Aswad AdDuali dan Ilmu Nahwu
Oleh : Den Herians
Abul Aswad AdDuali (أَبُو الأَسودِ الدُّؤَلِيُّ) Rahimahullahu, beliau adalah Zhalam bin ‘Amr bin Sufyan bin Jundul bin Ya’mar bin Hulais bin Nufatsah bin ‘Adiy bin Diyal bin Bakr bin ‘Abdi Manat bin Kinanah. Beliau masuk Islam semasa hidup Rasulullah saw, namun beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi saw, oleh karena itu ‘ulama mengategorikan Beliau termasuk generasi Tabi’in senior. Beliau mengambil qira’at dari ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma, adapun orang yang meriwayatkan qira’at dari Abul Aswad diantaranya yaitu Abu Harb(anaknya) dan Yahya bin Ya’mar. Beliau adalah orang yang memiliki pemikiran yang luas, berasal dari Bashrah. Dan Beliau juga merupakan orang pertama yang membuat asas, metode dan tahapan-tahapan mengenai kaidah-kaidah Bahasa Arab. Beliau lah yang menyusun standarisasinya, juga yang memberi tanda titik dan harakat pada mushaf alQuran.
Hal tersebut dilatarbelakangi adanya kekacauan dalam pembicaraan dan penggunaan kalimat Bahasa Arab, Beliau mendapati banyak kekeliruan dan kesalahan. Lalu disusunlah bab fa’il, maf’ul bih, mudhof, huruf-huruf nashab, rafa’, jar dan jazm.
Abu ‘Aliy Isma’il bin alQasim bin ‘Aidzun bin Harun alQaliy, kemudian AlBaghdadi, mengatakan : “Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin asSariy azZajaj anNahwiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Yazid bin ‘Abdil Akbar al Azdiy, ia berkata : “ Orang yang pertama-tama meletakan kaidah Bahasa Arab dan memberi tanda (titik dan syakal) pada Mushaf, yaitu Abul Aswad Zhalam bin ‘Amr”.
Abul ‘Abbas Muhammad bin Yazid mengatakan : “Abul Aswad AdDualiy ditanya tentang siapa yang telah membuka jalan baginya untuk membuat dan menyusun kaidah nahwiyah dan mengarahkannya, maka Beliau menjawab : “Aku mendapatkannya dari ‘Ali bin Abi Thalib r.a”. Dalam riwayat yang lain, Beliau berkata : “ ‘Ali berbicara kepada ku dan mengusulkan untuk menyusunnya” “.
Dan diriwayatkan bahwa yang membuat Abul Aswad merasa wajib menyusun kaidah nahwiyah tersebut adalah anak perempuannya yang pernah ketika ia duduk-duduk bersamanya pada suatu hari yang teramat sangat panas. Kemudian anak perempuannya tersebut bermaksud untuk mengungkapkan kalimat ta’ajjub (merasa heran) karena panasnya cuaca, lalu ia berkata :
مَا أَشَدُّ الْحَرِّ
“Apakah yang sangat panas?”
Lalu Abul Aswad menjawab :
القَيظُ، وَهُوَ مَا نَحنُ فِيهِ يَا بُنَيَّةُ
“Ya panas teriknya, yaitu yang kita alami ini wahai anakku”
Ungkapan Abul Aswad ini sebagai jawaban dari perkataan anaknya yang menggunakan pola kalimat tanya, kemudian anaknya kebingungan dan nampaklah kesalahannya. Lalu Abul Aswad mengetahuinya bahwa anaknya bermaksud mengungkapkan kalimat ta’ajjub (keheranan). Kemudian Abul Aswad mengajarinya, beliau berkata :
قَولِي يَا بُنَيَّةُ: مَا أَشَدَّ الحرَّ!
“ (ikuti) Ucapanku wahai anakku : “ Alangkah panasnya cuaca!”
Kemudian Abul Aswad membuat pola kalimat dalam bab ta’ajjub, bab fa’il, maf’ul bih, dan yang lainnya.
Dan Ibnu Abi Sa’d telah menyebutkan dari ‘Umar bin Syabbah dari Abu Bakr bin ‘Iyyasy dari ‘Ashim bin Abi Najwad, ia berkata : “ Orang yang pertama meletakan kaidah Bahasa Arab adalah Abul Aswad AdDualiy, Beliau datang kepada Ziyad di Bashrah, ia berkata : “ Sesungguhnya Aku melihat orang Arab telah bercampur baur dengan orang luar Arab, dan lisan-lisan mereka telah bertukar-tukar, apakah anda mengizinkanku agar Aku menyusun bagi orang Arab suatu kaidah kalam yang akan menegakkan pengucapan mereka?”. Lalu Ziyad berkata : “Tidak”. Kemudian seseorang mendatangi Ziyad, lalu ia berkata : “Semoga Allah mengishlahkan alAmir, telah wafat bapak kita dan anak-anak telah meninggalkan”. Lalu Ziyad berkata : “Telah wafat bapak kita dan anak-anak telah meninggalkan, panggil kembali kepadaku Abul Aswad!”, lalu ia berkata : “ Buatlah untuk orang-orang yang Aku telah malarangmu untuk membuatnya!”.
Abul Aswad berkata : “Sesungguhnya Aku mendapati kekeliruan tata bahasa dalam kondisi menenggelamkan, seperti tenggelamnya daging”.
Ibnu Abi Sa’d berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad alHasyimi, ia berkata :
“Aku mendengar bapakku menyebutkan: “Permulaan yang disusun oleh Abul Aswad adDuali adalah ilmu nahwu, dilatar belakangi bahwa Beliau bertemu dengan Sa’ad, ia adalah seorang laki-laki dari Persia yang datang ke Bashrah bersama keluarganya, ketika itu ia sedang menuntun kudanya, lalu Abul Aswad bertanya: “Kenapa kau hai Sa’ad, kenapa tak kau tunggangi?”, Ia menjawab : فَرَسِي ضَالِعٌ (Kudaku yang bengkok tulang rusuknya [mungkin maksudnya, kudanya sakit pinggang]).
Maka orang yang ada disekitarnya tertawa, berkatalah Abul Aswad : “Mereka adalah orang-orang yang mengikutiku, mereka sangat bersemangat kepada Islam lalu masuk Islam dan jadilah mereka bagi kita ini saudara, maka sekiranyalah kita ajarkan mereka berbicara bahasa Arab yang benar. Maka kemudian Beliau membuat satu bab tentang Fa’il dan Maf’ul, dan belum ditambah lagi setelah itu. Kemudian bapakku mengatakan : “Kemudian seseorang dari bani Laits menambahkan kedalam kitab tersebut beberapa bab, ia pikir apabila dalam pembicaraan bahasa arab ada yang tidak masuk didalamnya, maka ia membuatnya lebih ringkas”.
Kemudian ketika itu ‘Isa bin ‘Umar mengatakan : “ Aku pikir sebaiknya Aku buat saja satu kitab yang memuat lebih banyak kaidah, dan ku sebut kitab yang lain tersebut lughot”. Ia lah orang pertama yang sampai tujuannya dalam penulisan kitab nahwu.
Ada yang mengatakan bahwa ‘Isa bin ‘Umar membuat kitab nahwu itu dua kitab, yang satu Ia namai AlJaami’ (الجامع) dan satunya lagi AlMukammal (المكمل). Bahkan AlKhalil bin Ahmad sampai berkata :
بَطَلَ النَّحوُ جَمِيعًا كُلُّهُ ... غَيرَ مَا أَحدَثَ عِيسَى بنُ عُمَرْ
ذَاكَ "إِكمَالٌ" وَهَذَا "جَامِعٌ" ... فَهُمَا لِلنَّاسِ شَمسٌ وَقَمَرْ
“ Tidak sah ilmu nahwu seluruhnya... Selain apa yang dibuat oleh ‘Isa bin ‘Umar “.
“ Itu ‘ Ikmal’ dan ini ‘Jaami’ ... kedua-duanya bagi manusia adalah mentari dan bulan”.
Puisi diatas tentu bukan untuk menjelek-jelekan kaidah yang lain, melainkan sebagai sanjungan atas dua kitab tersebut.
Abul Aswad adalah seorang yang pantang untuk takut dalam menyampaikan kebenaran, bahkan kepada kepala negara sekalipun, konon diriwayatkan bahwa Abul Aswad pernah menulis surat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a , wa Allaahu a’alam :
أَمَّا بَعدُ؛ فَإِنَّ اللهَ جَعَلَكَ مُؤتَمَنًا وَرَاعِيًا مَسؤُولًا، وَقَد بَلَوتُكَ -رَحِمَكَ اللهُ- فَوَجَدتُكَ عَظِيمَ الأَمَانَةِ، نَاصِحًا لِلرَّعِيَّةِ، تُوَفِّرُ فَيئَهُم، وَتُنَزِّهُ نَفسَكَ عَن دُنيَاهُم، فَلَا تَأكُل أَموَالَهُم، وَلَا تَرتَشِي فِي أَحكَامِهِم. وَإِنَّ ابنَ عَمِّكَ ابنَ عَبَّاسٍ قَد أَكَلَ مَا تَحتَ يَدَيهِ بِغَيرِ عِلمِكَ، فَلَم يَسعَنِي كِتمَانُكَ ذَلِكَ، فَانظُر -رَحِمَكَ اللهُ- فِيمَا هُنَاكَ، وَتَقَدَّم إِلَيَّ فِيمَا أَحبَبتَ أَتبَعُهُ إِن شَاءَ اللهُ.
“Amma Ba’du, Sesungguhnya Allah telah menjadikanmu orang yang dipercaya dan pemimpin yang berwenang, dan sesungguhnya aku mencobamu -semoga Allah menyayangimu- maka aku mendapati bagimu sebesar-besarnya amanah, sebagai Penasihat Rakyat, engkau menyimpan ghanimah mereka, engkau mensucikan dirimu dari dunia mereka, maka janganlah kau makan harta mereka, dan janganlah engkau menerima suap dalam menghukumi mereka. Dan sesungguhnya anak pamanmu yaitu Ibnu ‘Abbas , sungguh ia telah makan apa yang dibawah kekuasaannya tanpa sepengetahuanmu, maka rahasiamu itu tidak akan berpengaruh padaku, maka lihatlah -semoga Allah menyayangimu- pada apa yang terjadi , ajukanlah kepadaku pada apa yang kau sukai, aku akan mengikutinya in syaa Allaah”.
Kemudian ‘Ali r.a membalas suratnya :
أَمَّا بَعدُ؛ فَإِنَّكَ نَاصِحٌ لِلإِمَامِ وَالأُمَّةِ، وَأَنتَ مِمَّن وَالَى أَهلَ الحَقِّ، وَبَارَزَ أَهلَ البَاطِلِ وَالجَوْرِ. وَقَد كَتَبتُ إِلَى صَاحِبِكَ فِيمَا كَتَبتَ فِيهِ إِلَيَّ مِن أَمرِهِ، وَلَم أَعلَمهُ كِتَابَكَ إِلَيَّ، فَلَا تَدَعْ إِعلَامِي بِمَا يَكُونُ بِحَضرَتِكَ مِمَّا النَّظَرِ فِيهِ لِلأُمَّةِ صَلَاحٌ، فَإِنَّكَ بِذَلِكَ جَدِيرٌ، وَهُوَ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَيكَ إِن شَاءَ اللهُ.
“ Amma ba’du, sesungguhnya engkau adalah penasihat bagi Imam dan Ummat, dan engkau termasuk orang yang mengokohkan ahlul haq dan memerangi ahlul bathil dan kesewenang-wenangan. Dan sesungguhnya aku telah mengirim surat kepada shahabatmu mengenai apa yang kau tuliskan padaku dari perkaranya, dan aku tak kan memberitahu nya surat yang kau tulis padaku, dan sebaiknya jangan kau biarkan informasiku dengan apa yang ada di hadapanmu dari apa yang terlihat didalamnya kepada ummat, maka sesungguhnya engkau layak untuk itu, dan itu adalah kewajiban bagimu in syaa Allaah”.
Sedikitnya terlukiskan bagaimana sanjungan Imam ‘Ali r.a kepada Abul Aswad. Wallahu a’lam bishshowab.
Abul Aswad wafat pada tahun 69 H kira-kira bertepatan dengan tahun 670-M di usia 85 tahun terkena wabah yang ganas.
___________
Maraji’
هداية القاري إلى تجويد كلام الباري
طبقات النحويين واللغويين

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik