Imam Bukhari menjelaskan pada awal Kitabuttafsir : Alfatihah dinamakan : أم الكتاب (Ummul Kitab) karena didahului dengannya penulisan dalam Mushaf, dan didahului didalam sholat dengan membacanya.
Ada juga yang berpendapat : dinamakan demikian karena makna AlQuran seluruhnya tercakup didalamnya. Ibnu jarir berkata: Setiap yang menjadi pusat suatu perkara atau yang paling depan dari suatu perkara ketika terdapat padanya pengikut yang mengikutinya, ia adalah imamun jaami’un , orang arab menamainya أُمٌّ (ummun) [1].
رَوَى التِّرمِذِيُّ عَن أُبَيِّ بنِ كَعبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وسلم : مَا أَنزَلَ اللَّهُ فِي التَّورَاةِ وَلَا فِي الإِنجِيلِ مِثلَ أُمِّ القُرآنِ وَهِيَ السَّبعُ الْمَثَانِي وَهِيَ مَقسُومَةٌ بَينِي وَبَينَ عَبدِي وَلِعَبدِي مَاسَأَلَ [2]
Tirmidzi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah saw bersabda : "Allah tidak menurunkan didalam Taurat dan tidak juga didalam Injil semisal UmmulQuran, yaitu Assab’ul Matsani, (Allah berfirman ) yaitu yang dibagi antara Aku dan hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang dia minta".
Ibnu Katsir menjelaskan :
وَقَد ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عِندَ التِّرمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ عَن أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : الحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ أُمُّ القُرآنِ وَأُمُّ الكِتَابِ وَالسَّبعُ الْمَثَانِي وَالقُرآنُ العَظِيمِ, وَيُقَالُ لَهَا (الحَمدُ) وَيُقَالُ لَهَا ( الصَّلَاةُ ) لِقَولِهِ صلى الله عليه وسلم عَن رَبِّهِ : قَسَمتُ الصَّلَاةَ بَينِي وَبَينَ عَبدِي نِصفَينِ فَإِذَا قَالَ العَبدُ الحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ قَالَ اللهُ : حَمِدَنِي عَبدِي» الحديث.[3]
Terdapat didalam hadits shahih yang diriwayatkan Tirmidzi dan beliau menshahihkannya, dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin adalah Ummul Quran dan Ummul Kitab dan Assab’ul Matsani dan AlQuranul’Azhim ". Dan alfatihah disebut juga الحمد (alhamdu), dan الصلاة (ashsholah), berdasarkan sabdanya Rasulullah saw dari Rabbnya : " Aku membagi sholat diantara Aku dan hambaKu dua bagian , maka apabila hambaku mengucapkan alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allah berfirman : HambaKu telah memuji Aku...” (Alhadits).
Selengkapnya akan dibahas dalam sub judul nama-nama alFatihah.
Selanjutnya apakah basmalah termasuk bagian dari ayat?, ini dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits :
وَأَخرَجَ الدَّارَقُطنِيُّ وَصَحَّحَهُ وَالبَيهَقِيُّ فِي السُّنَنِ عَن أَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا قَرَأتُم " الحَمدُ " فَاقرَؤُوا بِسمِ الله الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّهَا أُمُّ القُرآنِ وَأُمُّ الكِتَابِ وَالسَّبعُ الْمَثَانِي وَبِسمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ إِحدَى آيَاتِهَا " [4]
Telah meriwayatkan Addâroquthni dan menshahihkannya, juga alBaihaqi dalam kitab Sunannya dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : " Jika kalian hendak membaca ' Alhamdu' , maka bacalah Bismillaahirrahmaanirrahiim, karena ia merupakan UmmulQuran dan Ummul Kitab dan Assab’ul Matsani, dan Bismillaahirrahmaanirrahiim adalah termasuk salah satu ayatnya".
Surat alFatihah memuat makna-makna dalam alQuranul’azhim, mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, meliputi aqidah, ibadah, syari’at dan iman kepada hari kebangkitan dan iman kepada sifat-sifat Allah alHusna. Mengesakan-Nya dalam beribadah, memohon pertolongan dan do’a, bimbingan kepada tuntunan hidayah kepada agama yang benar dan jalan yang lurus, serta menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang menyimpang dari hidayah Allah Ta’ala.
فضل الفاتحة / Keutamaan Fatihah
رَوَى الإِمَامُ أَحمَدُ بنُ مُحَمَّدِ بنِ حَنبَلٍ, عَن أَبِي سَعِيدِ بنِ الْمَعلَى رَضِيَ اللهُ عَنهُ، قَالَ: كُنتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَلَم أَجِبهُ حَتَّى صَلَيتُ وَأَتَيتُهُ، فَقَالَ: " مَا مَنَعَكَ أَن تَأتِيَنِي؟ ". قَالَ: قُلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي كُنتُ أُصَلِّي. قَالَ: " أَلَم يَقُلِ اللهُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا استَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحيِيكُم} [الأنفال: 24] ثُمَّ قَالَ: " لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعظَمَ سُورَةٍ فِي الُقرآنِ قَبلَ أَن تَخرُجَ مِنَ الْمَسجِدِ ". قَالَ: فَأَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَن يَخرُجَ مِنَ الْمَسجِدِ قُلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ قُلتَ: " لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعظَمَ سُورَةٍ فِي القُرآنِ ". قَالَ: " نَعَم، الحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ هِيَ: السَّبعُ الْمَثَانِي وَالقُرآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ ".[5]
Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan yang bersumber dari Abu Sa’id bin Ma’la r.a, ia berkata : " Pernah aku sedang sholat, kemudian Rasulullah saw memanggilku, kemudian aku tidak menjawab beliau hingga aku selesai sholat, dan aku mendatangi beliau, kemudian beliau bersabda : " Apa yang menghalangi kamu untuk datang kepadaku?", Ia (Abu Sa’id) menjawab: " Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang sholat. Beliau saw bersabda: " Bukankah Allah berfirman?: " Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu". Kemudian beliau bersabda : " Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam alQuran sebelum engkau keluar dari masjid". Abu sa’id berkata :" Kemudian beliau memegang tanganku, maka ketika beliau bermaksud keluar dari masjid, aku berkata : " Ya rasulullah sesungguhnya engkau mengatakan :" Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dari alQuran". Beliau bersabda :" Iya , الحمد لله رب العالمين , yaitu Assab’ulmatsani dan alQuranul’azhim yang aku datang dengannya".
Hadits ini sebagai isyarat atas firman Allah Ta’ala :
وَلَقَدْ آتَيْناكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
“ Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan AlQuran yang agung” (Q.S. AlHijr:87).
Yakni surat alFaatihah yang berjumlah tujuh ayat itu dibaca berulang-ulang dalam sholat.
أسماء الفاتحة / Nama-nama Fatihah
Surat alFatihah mempunyai 12 nama sebagaimana telah dijelaskan oleh alQurtuby [6], yaitu :
1. Ashsholah (الصلاة ), berdasarkan hadits qudsi :
قَسَمتُ الصَّلَاةَ بَينِي وَبَينَ عَبدِي نِصفَينِ
“ Aku membagi sholat antara Aku dan hambaku dua bagian..” (H.R. Muslim).
2. Alhamdu (الحمد ), karena didalamnya disebutkan lafazh tersebut.
3. Fatihatul Kitab (فاتحة الكتاب ) karena dibuka dengannya pembacaan alQuran dan penulisannya, juga sholat dibuka dengan alfatihah.
4. Ummul Kitab (أم الكتاب ) berdasarkan pandangan Jumhur ‘Ulama.
5. Ummul Quran (أم القرآن ) berdasarkan pandangan Jumhur ‘Ulama.
Pendapat Jumhur ‘Ulama tersebut berdasarkan sabda Nabi saw :
الحمد لله: أمّ القرآن، وأمّ الكتاب، والسبع المثاني
“Alhamdulillah : yaitu Ummul Quran, Ummul Kitab dan Assab’ul Matsani” (H.R. Tirmidzi dari Abu Hurairah).
6. AlMatsani (المثاني ) sebagaimana disebutkan hadits diatas. Disebut matsani (berulang-ulang) karena alfatihah diulang pada setiap roka’at sholat.
7. AlQuranul ‘Azhim (القرآن العظيم ), sebab alfatihah memuat keseluruhan ilmu-ilmu alQuran dan maqosidnya (tujuan-tujuan) secara mendasar.
8. Asysyifa (الشفاء ), sebagaimana sabda nabi saw :
فَاتِحَةُ الكِتَابِ شِفَاءٌ مِن كُلِّ سَمٍّ
“ Fatihatulkitab adalah obat dari setiap Racun” (H.R. AdDarimi dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dengan lafazh :
فِي فَاتِحَةِ الكِتَابِ شِفَاءٌ مِن كُلِّ دَاءٍ
"Dalam fatihatul kitab ada obat bagi setiap penyakit” )
9. ArRuqyah (الرّقية ), berdasarkan sabda Nabi saw kepada orang yang meminta di ruqyah untuk Sayyid(pemimpin) mereka yang digigit serangga :
مَا أَدرَاكَ أَنَّهَا رُقيَةٌ ؟
“..tidakkah kau tau bahwa sesungguhnya alfatihah itu Ruqyah?..” (diriwayatkan oleh para imam hadits dari jalur Abu Sa’id alKhudri).
10. AlAsas (الأساس ) berdasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas :
أَسَاسُ الكُتُبِ: القُرآنُ، وَأَسَاسُ القُرآنِ:الفَاتِحَةُ، وَأَسَاسُ الفَاتِحَةِ: بِسمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
“Asas(dasar)nya kitab-kitab : yaitu alQuran, dan asasnya alQuran yaitu : alfatihah, dan asasnya alFatihah yaitu : Bismillaahirrahmaanirrahiim”
11. AlWafiyah (الوافية ), karena alfatihah harus dibaca utuh sempurna dalam sholat, seluruh ayatnya tidak bisa dibagi dua atau diringkas (diambil sebagian), walau misalnya alfatihah di bagi setengah-setengah dalam dua raka’at , maka itu tidak diperbolehkan.
12. Disebut juga alkafiyah (الكافية ) karena alfatihah mencukupi terhadap surat lainnya, sedangkan surat yang lain tidak mencakup alfatihah.
Demikian itu nama-nama surat alFatihah, dan yang paling masyhur memang ada 3 yaitu : alfatihah, Ummul Kitab dan Assab’ul Matsani.
AlFatihah merupakan satu bagian dari alQuran yang tersusun lebih dari 3 ayat yang memiliki nama-nama berdasarkan jalur periwayatan yang tsabit.
Pendekatan Balaghah
Secara lafazh, firman Allah : الْحَمْدُ لِلَّهِ , adalah kalimat berita (jumlah khabariyah). Namun secara makna merupakan jumlah insyaiyyah [7]. Yakni berfaidah sebagai ringkasan memuji Allah Ta’ala. (Silakan ketahui lebih lanjut mengenai perbedaan jumlah khabriyah dan jumlah insyaiyyah, klik aja disini ).
Lafazh : إِيَّاكَ نَعْبُدُ , didalamnya terdapat bentuk perhatian dari yang ghaib kepada suatu pembicaraan. Dan didahulukannya objek (maf’ul), ini berfaidah meringkas, maksudnya yaitu : لَا نَعبُدُ سِوَاكَ (kami tidak menyembah selain Engkau).
Lafazh : اهْدِنَا الصِّراطَ , yakni tetapkanlah kami diatasnya. Maksudnya permohonan mendawamkannya dan secara terus menerus berada diatas jalan yang lurus.
Firman-Nya : غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ , didalamnya ada lafazh yang dibuang , yang secara taqdirnya yaitu :
غَيرِ صِرَاطِ الْمَغضُوبِ عَلَيهِم
“yaitu bukan jalannya orang-orang yang dimurkai”
Pendekatan Makna Kosakata
Alhamdu (الحمد), yaitu sanjungan yang lebih umum dari kata syukur.
Lafazh اللهِ adalah nama bagi Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Suci, yang maknanya yaitu الْمَعبُودُ بِحَقٍّ (yang disembah secara Haq), ada juga yang mengatakan اسمُ اللهِ الأَعظَمُ (Nama Allah Yang Maha Agung) yang tidak dinamai dengan lafazh tersebut selain dari Allah.
Sedangkan lafazh الإِلَهُ (Tuhan) bermakna الْمَعبُودُ بِحَقٍّ أَو بَاطِلٍ (yang disembah secara haq ataupun batil), yang digunakan penyebutannya kepada Allah ataupun yang lainnya.
Lafazh رَبِّ bermakna Pemilik, Penguasa, Yang Disembah, Yang Memperbaiki, Yang Mengatur, Yang Mengurus, Yang Maha Berdiri. Didalamnya mencakup makna Rububiyah, Tarbiyah, dan Inayah kepada makhluq-Nya.
Lafazh الْعالَمِينَ merupakan bentuk plural dari kata عَالَمٌ , yaitu tiap-tiap yang ada selain Allah Ta’ala , yang sering kita artikan semesta alam, baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan makhluq-makhluq yang lain baik yang terlihat ataupun tidak.
Lafazh الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ adalah dua sifat bagi Allah Ta’ala yang merupakan musytaq (derivasi/turunan) dari kata الرَّحمَةُ , yaitu kata sifat yang umum pada seluruh macam rahmat. Adapun kebanyakan ‘ulama memutlakkan bahwa lafazh الرَّحْمن adalah nama yang dikhususkan bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak diperbolehkan untuk menamai selain-Nya. Dan الرَّحِيمِ bermakna rahmat yang terus menerus. Dan ketika Allah Ta’ala menyifati Diri-Nya dengan رَبِّ الْعالَمِينَ ,sebagai tarhib (memperingatkan) Dia mengiringinya dengan الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
Lafazh ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ yakni Yang Menguasai hari perhitungan dan hari pembalasan atas seluruh amal-amal hamba-Nya, dan segala urusan pada hari kiamat semuanya dalam Genggaman-Nya. Barang siapa yang mengenal bahwa Allah itu ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ maka sungguh ia telah mengenal-Nya dengan AsmaulHusna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi.
Lafazh إِيَّاكَ نَعْبُدُ , yaitu kami mengkhususkan Engkau dengan beribadah dan kami tidak menyembah selain Engkau. Yang maknanya yaitu kami ta’at kepada-Mu. Adapun pengertian Ibadah yaitu ta’at dan merendahkan diri.
Lafazh وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ yaitu kami memohon pertolongan, dukungan dan taufiq, dan kami mengkhususkan-Mu dengan memohon perolongan, maka hanya Engkaulah sumber pertolongan, keutamaan dan kebaikan, tiada satupun yang memiliki kekuasaan untuk menolong kami.
Kedua perbuatan ini yakni نَعبُدُ وَنَستَعِينُ diungkapkan dengan bentuk plural (kami), tidak dengan bentuk seorang (aku), menunjukan pengakuan keterbatasan seorang hamba dari kedudukannya dihadapan Allah, oleh karena itulah seolah-olah seorang hamba mengungkapan : “Tiada kelayakan bagiku untuk berdiri sendiri dihadapan-Mu dalam bermunajat kepada-Mu, aku malu dengan segala keterbatasanku dan dosa-dosaku, namun aku termasuk kedalam kelompok mukminin dan aku meniadakan diri diantara mereka, maka terimalah do’aku bersama mereka, kami semua beribadah kepada-Mu dan memohon pertolongan-Mu”.
Kalam اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ , bermakna : Perkenalkanlah kami, beri kami taufiq dan tunjukilah kami diatas jalan yang benar, bimbinglah kami kepadanya, dan tunjukilah kami hidayah-Mu yang membimbing kami untuk senang bertaqarrub pada-Mu. Yaitu الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ jalan lurus , jalan Islam yang Engkau telah mengutusnya kepada para Nabi dan Rasul Mu dan telah Engkau sempurnakan risalah mereka dengan risalahnya penutup para nabi yang akan menyampaikan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kalam صِراطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ yakni jalannya orang yang Kau beri nikmat atas mereka, yaitu para Nabi para Shiddiqin, para Syuhada dan Shalihin yang terdahulu.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ , yakni : jangan Kau jadikan kami termasuk mereka yang menyimpang dari jalan yang lurus, mereka yang jauh dari Rahmat Allah, yang ditimpakan sekeras-kerasnya adzab, karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya, dan mereka orang-orang yang sesat.
Mayoritas ‘ulama menyebutkan bahwa mereka yang dimurkai (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) adalah Yahudi, dan yang sesat (الضَّالِّينَ) adalah Nashrani.
Makna Ta’min
Lafazh آمين adalah do’a, maknanya : Terimalah dan Ijabahlah do’a kami. Lafazh ini tidak termasuk ayat alQuran. Dan disunnahkan menutup alFatihah dengannya, adapun dalilnya yaitu terdapat pada hadits riwayat Imam Malik dan aljama’ah (Imam Ahmad dan Imam-imam yang enam) diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَن وَافَقَ تَأمِينُهُ تَأمِينَ الْمَلَائِكَةِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ
“ Apabila Imam mengucapkan Aamiin maka ucapkanlah oleh kalian Aamiin, karena sesungguhnya siapa yang mengaamiinkan bertepatan dengan mengaamiinkannya malaikat, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu ”.
Pendapat Para ‘Ulama Mengenai Jahr atau Sir dalam Mengucapkan Aamin
Terdapat dua pendapat dalam pandangan ‘Ulama, para pengikut Hanafi dan Maliki berdasarkan pendapat yang rajih mengatakan : “ Merendahkan suara dan mensirkan Aamiin lebih utama dibanding menjaharkannya, karena ia itu do’a, sebagaimana Firman Allah : ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً : “Berdo’alah kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lirih” (Al A’raf:55). Dan telah berkata Ibnu Mas’ud : “ Ada empat hal yang Imam merendahkan suaranya yaitu ta’awudz, tasmiyah ta’min dan tahmid (رَبَّنَا لَكَ الحَمدُ)”.
Dan menurut Syafi’iyah dan Hanabilah : “ Bahwa mengucapkan aamiin sir itu ya diwaktu sholat yang sir, dan di jaharkan pada sholat yang dijaharkan qira’atnya, dan makmum mengucapkan aamiin bersama-sama imam, berdasarkan hadits Abu Hurairah yang telah dikemukakan diatas pada sub judul Makna Ta’min. Adapun alasan mereka mengenai seberapa keras jaharnya terdapat beberapa rincian, yakni :
1. Hadits riwayat Abu Hurairah :
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا تَلَا: غَيرِ الْمَغضُوبِ عَلَيهِم وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: آمِينْ، حَتَّى يَسمَعَ مَن يَلِيهِ مِنَ الصَّفِّ الأَوَّلِ [8]
Bahwa Rasulullah saw apabila telah membaca : Ghairil Maghdhu bi ‘alaihim wa ladhdhollin, beliau mengucapkan Aamiin, hingga orang yang dekat dengan Beliau dari shaf pertama mendengarnya.
2. Hadits riwayat Wail bin Hujr :
سَمِعتُ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم قَرَأَ : غَيرِ الْمَغضُوبِ عَلَيهِم وَلَا الضَّالِّينَ، فَقَالَ: آمِين، يَمُدُّ بِهَا صَوتَهُ [9]
Aku mendengar Nabi saw membaca Ghairil Maghdhu bi ‘alaihim wa ladhdhollin, kemudian Beliau mengucapkan Aamiin dengan memanjangkan suaranya.
Tafsir dan Penjelasan
Allah Ta’ala membimbing kita untuk senantiasa memulai tiap-tiap amal dan ucapan dengan membaca Basmallah sebagai tuntutan esensi akan realisasi dari isti’anah (memohon pertolongan) dengan Nama-Nya yang Maha Agung. Dan Allah Ta’ala mengajarkan kita bagaimana cara memuji-Nya atas segala karunia kebaikan dan kenikmatan dari-Nya, karena Dia lah pemilik hak untuk disanjung dan dipuja, maka segala puji hanyalah bagi-Nya tidak untuk selain-Nya karena Dia lah Pemilik Kerajaan dan Rabbnya semesta alam, Dia yang menciptakannya , mengurus dan memperhatikannya, Dia juga pemilik rahmat yang sempurna dan terus menerus, Yang Menguasai hari pembalasan dan penghisaban untuk menegakkan neraca keadilan yang mutlak diantara hamba-hamba-Nya, dan memberikan hak pahala bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat ihsan, dan menimpakan siksa bagi yang berbuat kejahatan.
Maka sifat-sifat Allah tersebut menuntut kita agar hanya mengkhususkan kepada Allah saja dalam beribadah dan memohon pertolongan, dan merendahkan diri secara utuh di hadapan-Nya, maka janganlah meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, jangan mewakilkan (bertawakkal) kecuali hanya kepada-Nya, tidak beribadah kecuali hanya kepda-Nya dengan memurnikan keta’atan dalam agama-Nya karena Dia lah yang berhak atas segala keagungan, Dia tidak memerlukan pemberian manfa’at ataupun penolak madharat.
Sesungguhnya hawa nafsu berhembus sangat kencang didalam diri dan memalingkan akal, maka janganlah sampai jatuh terombang-ambing kedalam syahwat, penyimpangan dan kesesatan. Oleh karena itulah Allah membimbing kita untuk meminta hidayah dan taufiq-Nya sehingga kita berjalan diatas manhaj yang haq dan adil, dan mengikatkan diri kita dengan keistiqomahan dan keselamatan, itulah jalan Islam yang sejak dahulu senantiasa terus menerus dikaruniakan kenikmatannya kepada para nabi, shiddiiqin dan shalihin. Inilah kedudukan hamba yang menghambakan diri, beribadah, berkurban, dan pemilik akal yang ma’rifat yang mengetahui hakikat diri dan tempat tinggal terakhirnya di masa depan, bukanlah kedudukan orang-orang kafir yang membangkang lagi sesat dan menyimpang, yaitu orang yang keras kepala dan berpaling dari jalan yang lurus, atau orang condong kepada hawa nafsunya, yang bodoh lagi sesat, mereka itulah orang-orang yang berhak mendapat kemarahan dan murkanya Allah.
Dalam surat alfatihah dapat kita ketahui bahwa manusia terbagi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat petunjuk (الهدى) dan kelompok yang sesat (الضلال). Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada manusia 5 hidayah yang akan mengantarkannya kepada kebahagiaan, yakni :
1. Hidayatul Ilham (هداية الإلهام) yang fitrah, yaitu dalam keadaan masih bayi sejak kelahirannya ia sudah merasakan akan kebutuhan makan dan minum, maka di ilhamkan agar ia menangis sebagai tuntutan agar orang tuanya tidak menelantarkannya.
2. Hidayatul Hawas (هداية الحواس) , yaitu naluri yang menguatkan hidayah ilham, kedua hidayah ini ada pada manusia dan hewan, namun pada hewan lebih sempurna di awalnya dibanding manusia sebab manusia butuh bantuan orang tuanya untuk proses makan dan minum hingga ia bisa mandiri.
3. Hidayatul ‘Aql (هداية العقل), yakni akal pikiran, yang lebih tinggi dari kedua hidayah diatas, dikaruniakan kepada manusia yang diciptakan sebagai makhluk madani yang perlu bersosialisasi secara tabi’atnya dengan manusia lainnya. Ia tidak cukup merasakan secara zhahir saja untuk berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakatnya, maka ia perlu akal untuk menempuh jalan hidupnya, untuk menjaganya dari penyimpangan dan kesalahan, maka akal akan meluruskannya manakala perasaannya salah, dan tidak terombang-ambing dengan kecenderungan hawa nafsunya.
4. Hidayatuddiin (هداية الدين [hidayah agama]) yaitu hidayah yang tidak tersalah dan acuan yang tidak menyesatkan, dia akan memandu akal dan meluruskannya apabila akal terpengaruh buruk dan terbawa nafsu syahwat. Oleh karena itu manusia perlu unsur-unsur yang dapat membimbing dan memimpin nya agar tidak terpengaruh hawa nafsunya.
Maka hidayah agama akan membantu dan membimbingnya kepada jalan yang lurus, baik setelah ia terjatuh pada kesalahan ataupun belum. Hidayah ini ibarat naungan yang menjaganya, ibarat pengawal yang setia yang datang kepada manusia sebagai bekal membuka kunci-kunci kebaikan dan senjata untuk mengunci keburukan.
5. Hidayatul Ma’unah dan Taufiq (هداية المعونة والتوفيق) agar mampu berada dijalan kebaikan dan keselamatan, hidayah ini lebih khusus dari hidayatuddin. Ia adalah hidayah yang Allah perintahkan pada kita untuk mendawamkannya, hidayah inilah yang kita pinta kepada Allah : اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ , yakni berilah kami petunjuk dari Sisi-Mu sebagai pertolongan ghaib (sepernatural) yang akan menjaga kami dari kesesatan dan dosa.
Hidayah ini hak prerogatif Allah, Dia khususkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebab Dia Maha Mengetahui siapa yang menginginkan dan mengharapkannya. Sebagaimana Allah berfirman :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ، وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. AlQashas:56)
Allah berfirman :
لَيْسَ عَلَيْكَ هُداهُمْ، وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya...” (Q.S. AlBaqarah:272).
Dan jika kita sarikan bahwa hidayah dalam alQuran itu ada dua macam :
1. Hidayah yang umum yaitu petunjuk untuk kebaikan hidup seorang hamba dan kehidupan akhiratnya. Ini tercakup kedalam 4 hidayah diatas.
2. Hidayah yang khusus , yaitu pertolongan dan taufiq untk menjalani kehidupan di atas jalan yang baik dan selamat. Ini termasuk pada hidayah yang poin ke 5 diatas.
Demikian Makna dan Tafsir Surat Alfatihah yang bisa ana share kali ini dengan keterbatasan ilmu dan pemahaman ana yang faqir ini. In Syaa Allah selanjutnya disambung ke tafsir per ayat secara rinci.
Wa Allaahul muwaffiq.
Maraji’
عمدة التفسير عن الحافظ ابن كثير- المؤلف: إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي أبو الفداء عماد الدين - أحمد محمد شاكر.
التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج - المؤلف : د وهبة بن مصطفى الزحيلي.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik