Makna dan Tafsir Surat Al-Fātiḥah
Surat Al-Fātiḥah tergolong surat Makkiyyah, meskipun ada yang berpendapat Madaniyyah, dan ada pula yang mengatakan bahwa Al-Fātiḥah turun dua kali—yakni satu kali di Makkah dan satu kali lagi di Madinah. Namun, pendapat yang benar adalah pendapat pertama (Makkiyyah). Surat Al-Fātiḥah berjumlah tujuh ayat tanpa ada perselisihan di antara ulama; hanya saja terdapat perbedaan pendapat mengenai lafaz basmalah: apakah ia termasuk ayat terpisah di awal surat sebagaimana yang masyhur di kalangan mayoritas Qurrā’ Kufah serta mayoritas sahabat, tabiin, dan generasi setelahnya; ataukah bagian dari ayat pertama; ataukah tidak dihitung sebagai bagian dari awal surat secara keseluruhan sebagaimana pendapat penduduk Madinah di antara para Qurrā’ dan fuqaha’.
Imam Al-Bukhari menjelaskan pada awal Kitāb at-Tafsīr bahwa Al-Fātiḥah dinamakan Ummul-Kitāb (أم الكتاب) karena penulisan dalam mushaf didahului dengannya, serta pembacaan dalam salat pun didahului dengan membacanya. Ada juga yang berpendapat dinamakan demikian karena makna Al-Qur'an seluruhnya tercakup di dalamnya. Ibnu Jarir at-Thabari berkata: “Setiap yang menjadi pusat suatu perkara atau yang paling depan dari suatu perkara ketika terdapat pengikut yang mengikutinya, ia adalah imāmun jāmi‘; orang Arab menamainya ummun (إمام جامع / أم)” [1].
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ibnu Katsir رحمة الله memaparkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan disahihkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Adapun mengenai kedudukan basmalah, Ad-Daraquthni (dan beliau mensahihkannya) serta Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Surat Al-Fātiḥah memuat makna-makna agung dalam Al-Qur'anul-‘Azhim; mencakup pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, meliputi akidah, ibadah, syariat, keimanan kepada hari kebangkitan, serta keimanan kepada Asma' wa Sifat Allah Ta‘ālā. Surat ini mengajarkan pengesaan Allah dalam beribadah, memohon pertolongan dan doa, bimbingan hidayah menuju jalan yang lurus, serta ajakan menjauhi jalan orang-orang yang menyimpang dari petunjuk-Nya.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Abu Sa‘id bin Al-Mu‘alla radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Hadis ini merupakan penjelas bagi firman Allah Ta‘ālā:
Yakni surat Al-Fātiḥah yang berjumlah tujuh ayat tersebut dibaca berulang-ulang di dalam setiap rakaat salat.
Surat Al-Fātiḥah memiliki 12 nama sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi [6], yaitu:
- Aṣ-Ṣalāh (الصلاة): Berdasarkan hadis qudsi: “Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian...” (HR. Muslim).
- Al-Ḥamdu (الحمد): Karena di dalamnya terdapat penyebutan lafaz pujian tersebut.
- Fātiḥatul-Kitāb (فاتحة الكتاب): Karena pembacaan dan penulisan Al-Qur'an serta pelaksanaan salat dibuka dengannya.
- Ummul-Kitāb (أم الكتاب): Berdasarkan pandangan jumhur ulama.
- Ummul-Qur'ān (أم القرآن): Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Al-Ḥamdu lillāh adalah Ummul-Qur'ān, Ummul-Kitāb, dan As-Sab‘ul-Matsānī” (HR. At-Tirmidzi).
- Al-Matsānī (المثاني): Karena dibaca berulang-ulang pada setiap rakaat salat.
- Al-Qur'ānul-‘Aẓīm (القرآن العظيم): Karena Al-Fātiḥah merangkum seluruh prinsip ilmu Al-Qur'an dan maqashid (tujuan mulia)-nya secara mendasar.
- Asy-Syifā' (الشفاء): Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Fātiḥatul-Kitāb adalah obat dari segala racun/penyakit” (HR. Ad-Darimi).
- Ar-Ruqyah (الرقية): Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang meruqyah seorang pemimpin suku: “Tidakkah engkau tahu bahwa Al-Fātiḥah itu adalah ruqyah?” (HR. Al-Bukhari & Muslim).
- Al-Asās (الأساس): Berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Dasar seluruh kitab adalah Al-Qur'an, dasar Al-Qur'an adalah Al-Fātiḥah, dan dasar Al-Fātiḥah adalah Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.”
- Al-Wāfiyah (الوافية): Karena Al-Fātiḥah wajib dibaca utuh sempurna dalam salat dan tidak boleh dibagi atau dipotong ke dalam dua rakaat.
- Al-Kāfiyah (الكافية): Karena Al-Fātiḥah mencukupi salat tanpa perlu surat lain, sedangkan surat lain tidak dapat menggantikan kedudukan Al-Fātiḥah.
Nama yang paling populer dan masyhur di antara nama-nama tersebut ada tiga, yaitu: Al-Fātiḥah, Ummul-Kitāb, dan As-Sab‘ul-Matsānī.
- Lafaz Al-Ḥamdu lillāh (الْحَمْدُ لِلَّهِ): Secara struktur kalimat berbentuk pemberitaan (jumlāh khabariyyah), namun secara makna berfungsi sebagai kalimat permohonan/ungkapan pujian (jumlāh insyā'iyyah) [7] yang mengandung faedah ringkasan sanjungan kepada Allah Ta‘ālā.
- Lafaz Iyyāka na‘budu (إِيَّاكَ نَعْبُدُ): Terdapat perpindahan penyampaian dari bentuk gaib (ketiga) ke bentuk lawan bicara langsung (iltifāt). Pendahuluan objek (maf‘ūl bihi) memberikan faedah pembatasan (haṣr), bermakna: Lā na‘budu siwāka (Kami tidak menyembah selain Engkau).
- Lafaz Ihdināṣ-ṣirāṭ (اهْدِنَا الصِّراطَ): Bermakna tetapkanlah dan teguhkanlah kami di atasnya secara berkesinambungan (istimrār).
- Lafaz Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ): Secara takdir balagah membuang kata yang diulang, yaitu bermakna: Ghairi ṣirāṭil-maghḍūbi ‘alaihim (bukan jalan orang-orang yang dimurkai).
Al-Ḥamdu (الحمد): Sanjungan atas kebaikan yang dilakukan secara sukarela, maknanya lebih luas dan umum daripada sekadar ungkapan syukur.
Allah (اللهِ): Nama bagi Zat Yang Mahatinggi dan Mahasuci, bermakna Al-Ma‘būdu bi ḥaqq (Yang berhak disembah secara benar). Ia adalah Ismullāhil-A‘ẓam yang tidak boleh disematkan kepada siapa pun selain-Nya.
Al-Ilāh (الإِلَهُ): Sesembahan secara umum, baik yang disembah secara benar maupun batil.
Rabb (رَبِّ): Pemilik, Penguasa, Pemelihara, Pengatur, dan Yang Maha Berdiri Sendiri. Mencakup dimensi Rububiyah, Tarbiyah, dan Inayah bagi seluruh makhluk.
Al-‘Ālamīn (الْعَالَمِينَ): Bentuk jamak dari ‘ālam, yaitu segala sesuatu selain Allah Ta‘ālā (alam semesta, manusia, jin, hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya).
Ar-Raḥmān ar-Raḥīm (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ): Dua nama/sifat turunan (musytaq) dari kata ar-raḥmah. Ar-Raḥmān adalah sifat rahmat yang maha luas bagi seluruh makhluk di dunia dan khusus bagi Allah, sedangkan Ar-Raḥīm adalah rahmat yang terus-menerus dan khusus bagi orang-orang beriman di akhirat.
Māliki Yaumid-Dīn (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ): Penguasa Hari Pembalasan dan Penghitungan amal. Segala urusan pada hari kiamat sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya.
Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ): Kami mengkhususkan Engkau dalam beribadah dan memohon pertolongan. Penggunaan bentuk jamak ("kami") menunjukkan ketundukan hamba yang menyatu bersama rombongan orang-orang beriman.
Ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm (اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ): Berilah kami petunjuk, taufik, dan keteguhan di atas jalan yang lurus (Islam).
Ṣirāṭalladhīna an‘amta ‘alaihim (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ): Jalan para Nabi, Ṣiddīqīn, Syuhadā’, dan orang-orang saleh.
Ghairil-maghḍūbi ‘alaihim walāḍ-ḍāllīn (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ): Bukan jalan orang-orang yang dimurkai (kaum Yahudi yang mengetahui kebenaran tetapi meninggalkannya) dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (kaum Nasrani yang beramal tanpa ilmu).
Lafaz Āmīn (آمين) berarti: "Ya Allah, perkenankanlah doa kami." Lafaz ini bukan bagian dari ayat Al-Qur'an, tetapi disunnahkan untuk diucapkan setelah membaca Al-Fātiḥah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Menjahrkan (Mengeras) atau Mensirkan (Memelankan) Aamiin:
- Mazhab Hanafi dan Maliki: Memelankan suara (sirr) lebih utama karena Āmīn adalah doa, sebagaimana firman Allah: "Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut" (QS. Al-A‘rāf: 55).
- Mazhab Syafi'i dan Hanbali: Diucapkan secara sirr pada salat sirriyyah (Zuhur & Asar) dan diucapkan secara keras (jahr) bersama-sama imam pada salat jahriyyah (Magrib, Isya, Subuh), berdasarkan hadis Wā’il bin Hujr dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma [8] [9].
Dalam Surat Al-Fātiḥah, manusia terbagi menjadi dua kelompok: kelompok yang mendapat petunjuk (الهدى) dan kelompok yang sesat (الضلال). Allah Ta‘ālā membagikan 5 tingkatan hidayah bagi manusia:
- Hidāyatul-Ilhām (هداية الإلهام): Hidayah insting/fitrah dasar sejak bayi (seperti menangis saat lapar/haus).
- Hidāyatul-Hawās (هداية الحواس): Hidayah pancaindra untuk merespons lingkungan sekitar.
- Hidāyatul-‘Aql (هداية العقل): Hidayah akal pikiran untuk menimbang baik dan buruk dalam kehidupan bermasyarakat.
- Hidāyatud-Dīn (هداية الدين): Hidayah wahyu/agama yang membimbing akal agar tidak tersesat oleh hawa nafsu.
- Hidāyatul-Ma‘ūnah wat-Taufīq (هداية المعونة والتوفيق): Hidayah pertolongan khusus dari Allah agar seseorang mampu istikamah menjalankan kebaikan. Hidayah inilah yang selalu kita minta dalam kalimat "Ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm".
Secara garis besar, hidayah dalam Al-Qur'an terbagi dua: Hidayah Umum (Irsyad & Bayan: penjelasan hukum kepada seluruh manusia) dan Hidayah Khusus (Taufik: bimbingan hati yang merupakan hak prerogatif Allah Ta‘ālā sebagaimana dalam QS. Al-Qaṣaṣ: 56 dan QS. Al-Baqarah: 272).
[1] Lihat: عمدة التفسير عن الحافظ ابن كثير, Juz 1, hal. 49.
[2] تفسير القرطبي, Juz 1, hal. 108.
[3] تفسير ابن كثير (ط العلمية), Juz 1, hal. 18.
[4] الدر المنثور في التفسير بالمأثور, Juz 1, hal. 11.
[5] عمدة التفسير عن الحافظ ابن كثير.
[6] التفسير المنير للزحيلي.
[7] Jumlah insyā'iyyah yaitu kalimat yang di dalamnya bermuatan perintah, larangan, atau permohonan.
[8] رواه أبو داود وابن ماجه: "حَتَّى يَسمَعَهَا أَهلُ الصَّفِّ الأَوَّلِ، فَيَرتَجَّ بِهَا الْمَسجِدُ".
[9] رواه أحمد وأبو داود والترمذي.
- عمدة التفسير عن الحافظ ابن كثير - أحمد محمد شاكر
- التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج - د. وهبة الزحيلي
- الجامع لأحكام القرآن (تفسير القرطبي)
- الدر المنثور في التفسير بالمأثور - جلال الدين السيوطي
- صحيح البخاري & صحيح مسلم
- سنن أبي داود & سنن الترمذي & سنن ابن ماجه & مسند أحمد

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik