Hikmah dalam Perayaan Idulfitri
Alhamdulillah, syukur kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas limpahan karunia-Nya. Betapa Allah menjamu orang-orang beriman dengan syariat shaum Ramadan demi kebersihan dan kesucian mereka, yang puncaknya adalah menjadi manusia-manusia bertakwa. Ketakwaan tersebut mengantarkan manusia kepada surga-Nya yang penuh kenikmatan. Allah Ta‘ālā berfirman:
Dengan demikian, esensi shaum Ramadan di antaranya adalah sebagai salah satu tolak ukur manusia bertakwa, yang akan berbuah kenikmatan kekal abadi penuh dengan ridha Ilahi. Ibadah ini ditutup dengan Idulfitri sebagai perayaan yang tidak pernah disyariatkan kepada umat-umat sebelumnya.
Allah subhanahu wa ta‘ālā menetapkan syariat Idulfitri agar orang beriman meluapkan kebahagiaan hari raya dengan berbagai rangkaian ibadah, yakni sebagai bentuk rasa syukur hamba-hamba yang beriman kepada-Nya. Sekaligus untuk meniadakan tasyabuh (penyerupaan) terhadap orang-orang kafir dan musyrik dalam perayaan hari raya mereka, sebab menyerupai mereka tidaklah disukai oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
Sejatinya manusia memang butuh sesuatu yang menggembirakan jiwanya, sehingga tanpa ada syariat pun tentu manusia akan mencari-cari bentuk perayaan terhadap sesuatu yang mereka anggap sakral. Allah subhanahu wa ta‘ālā memberikan karunia kepada kaum Muslimin dengan syariat Idulfitri yang berbeda secara nilai dan hakikatnya dengan perayaan agama lain (penjelasan rinci telah dibahas pada artikel Idulfitri dan Iduladha di tahun lalu, silakan rujuk di sini). Dengan rangkaian sunnah-sunnahnya, Idulfitri tak hanya sebagai perayaan yang bersifat seremonial, melainkan justru sekaligus sebagai syiar Islam dan amal saleh yang siapa melaksanakannya maka Allah berikan balasan pahala di sisi-Nya... Allāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-hamd.
Perayaan Idulfitri sarat akan hikmah yang menunjukkan kepada manusia akan kebesaran dan kelapangan syariat Islam tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
Demikian hikmah dalam perayaan Idulfitri sejatinya menunjukkan jati diri Islam yang penuh dengan integritas ruhiyah, agama yang lurus dan benar yang berada di atas ikatan akidah tauhid yang Allah subhanahu wa ta‘ālā telah mengagungkan perayaan tersebut. Maka, mari berbahagia di hari raya Fitri disertai memenuhi relung hati ini dengan kecintaan kepada-Nya, bertakbir dan bertahmid sebagai bentuk syukur dan pengagungan akan segala nikmat-Nya. Allāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-hamd.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik