Idul Fitri dan Idul Adha
Petunjuk Nabi dalam Melaksanakan Hari Raya
Oleh: Den Herians
'Idul Fithri dan 'Idul Adha merupakan hari raya akbar umat Islam, yang perayaannya memuat Ibadah dan syi'ar Islam, yang mana setiap Muslim sangat ditekankan untuk melaksanakannya.
Pelaksanaan ibadah dua hari raya ini disyari'atkan pada awal-awal hijrah, pernah di bahas juga pada artikel yang lalu, telusuri aja disini.
Adapun dua hari raya Islam ini telah menggugurkan kebiasaan perayaan masyarakat arab pada masa jahiliyah, sebagaimana yang dikisahkan ketika pertama Nabi hijrah ke Madinah, diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas :
Adapun dua hari raya Islam ini telah menggugurkan kebiasaan perayaan masyarakat arab pada masa jahiliyah, sebagaimana yang dikisahkan ketika pertama Nabi hijrah ke Madinah, diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas :
قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُم يَومَانِ يَلعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ اليَومَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلعَبُ فِيهِمَا فِي الجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَد اَبدَلَكُمَا خَيرًا مِنهُمَا: يَومُ الأَضحَى، وَيَومُ الفِطرَةِ.[1]
Rasulullah saw tiba di Madinah dan mereka (shahabat) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain (hiburan). Maka Nabi bertanya : " Apa yang dilakukan dua hari ini?". Mereka menjawab : " Kami biasa mengadakan hiburan permainan pada dua hari ini dimasa jahiliyah". Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri".
Selanjutnya bagaimanakah contoh Nabi saw dalam melaksanakan perayaan dua hari raya ini, yakni Idul Fithri dan Idul Adha. Silakan dibaca beberapa penjelasan berikut :
Mengenakan Pakaian Terbaik
Nabi saw mengenakan pakaian yang paling indah ketika keluar untuk sholat 'Idain dan sholat jum'at, sesekali Beliau saw suka mengenakan kain berwarna hijau, dan sekali waktu berwarna merah tua, bukan kain berwarna merah polos seperti anggapan sebagian orang, melainkan kain bercorak garis (salur) berwarna merah tua seperti burdah Yamaniyah, disebut Ahmar (merah tua) karena karakter coraknya (bukan warna merah polos). Karena terdapat penjelasan yang shahih dari Nabi saw tanpa ada pertentangan, bahwa Nabi saw melarang mengenakan pakaian (kain) yang berwarna kuning dan merah (solid tanpa corak), sebagaimana Beliau saw pernah memerintahkan kepada 'Abdullah bin 'Amr ketika mengenakan dua pakaian berwarna merah agar membakarnya. Demikian yang dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad.
Makan sebelum Sholat Idul Fitri
Beliau saw mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat 'Id. Dan Rasulullah saw, beliau makan beberapa butir kurma terlebih dahulu sebelum keluar untuk sholat Idul Fitri, beliau memakannya dalam jumlah ganjil, adapun di hari Idul Adha Beliau saw tidak makan terlebih dahulu hingga Beliau kembali dari lapangan, barulah beliau makan dari hasil udhiyahnya. (Zaadul Ma'ad).
Anas berkata : Adalah Rasulullah saw tidak datang pada hari Idul Fithri hingga Beliau makan terlebih dahulu beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dengan jumlah ganjil. Makan di pagi hari Idul Fithri menuju lapangan adalah sunnah mustahabah (dianjurkan) menurut para 'ulama berdasarkan perbuatan Nabi. Diriwayatkan pula dari 'Ali dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhuma : Bahwa termasuk sunnah, makan sebelum berangkat kelapang pada hari Fithri. Adapun menurut riwayat Ibnu Mas'ud : jika mau silakan makan terlebih dahulu atau tidak. Dan Ibnu 'Umar mengatakan bahwa itu adalah rukhsah untuk tidak makan dulu. Ibnu Abi Syaibah menyebutkan riwayat dari 'Abdullah dari Nafi' dari Ibnu 'Umar bahwa ia (Ibnu 'Umar) pernah keluar pada hari 'Idul Fithri tidak makan terlebih dahulu. (Lihat : شرح صحيح البخارى لابن بطال 2/ 552).
Sholat 'id dilaksanakan Dilapangan
Rasulullah saw melaksanakan sholat idul fitri dan idul adha di Mushola (Dilapangan), yaitu mushola yang berada di pintu gerbang Madinah sebelah timur, yang biasa dipakai tempat menampung jamaah haji, Beliau saw tidak melaksanakan sholat 'Id di masjid kecuali hanya satu kali saja ketika mereka ditimpa hujan, maka ketika itu Beliau saw sholat 'Id bersama para sahabat di masjid, itu dikuatkan dalam hadits pada riwayat Sunan AbuDawud dan Ibnu Majah. Dan tuntunan Nabi saw melaksanakan sholat 'Idul Fitri dan 'Idul Adha adalah senantiasa dilapangan.
Ibnu Bathal menjelaskan :
أبو سَعِيدٍ قَالَ: كَانَ النبى يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ،[2]
Abu Sa'id berkata : "Nabi saw keluar pada hari Idul Fithri dan Idul Adha menuju mushola (lapangan), pertama-tama Beliau saw memulai nya dengan melaksanakan Sholat, kemudian beliau beranjak dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang tetap duduk di shafnya masing-masing, kemudian beliau memberi nasihat dan berwasiyat, dan memerintah mereka (menyembelih udhiyah pada hari Adha).
Jumlah Roka'at dan Takbir pada Sholat 'Id
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا.[3]
Dari Ibnu 'Abbas r.a , bahwa Nabi saw sholat pada hari 'iid 2 rakaat, Beliau tidak melaksanakan sholat sebelumnya dan sesudahnya.
Berdasarkan penjelasan hadits diatas, maka tidak ada sholat qabliyah 'iid ataupun ba'diyah 'iid.
وَعَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى الْعِيدَ بِلَا أَذَانٍ, وَلَا إِقَامَةٍ. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ
Masih dari Ibnu 'Abbas : Bahwa Nabi saw melaksanakan sholat 'iid tanpa mengumandangkan adzan dan iqomah. (HR. Abu Dawud)
وَعَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ.
Dari 'Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya berkata : Nabi saw bersabda : " Takbir pada 'Idul Fithri itu tujuh kali pada rakaat awal, dan lima kali pada rakaat akhir, dan membaca ayat alQuran (alfatihah dan surat lainnya) setelah selesai jumlah takbir tersebut. (H.R. Abu Dawud).
Sebagaimana telah kita ketahui dan biasa melaksanakannya, bahwa takbir pada rakaat pertama itu 7 x , kemudian membaca fatihah dan surat, pada rakaat kedua 5x takbir kemudian membaca fatihah dan surat. Ini sesuai dengan penjelasan hadits diatas. Adapun surat yang pernah di baca oleh Nabi saw pada 'Idul fithri dan 'Idul Adha sebagaimana berikut :
وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق) , وَ (اقْتَرَبَتْ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Waqid al Laitsiy ia berkata : Adalah Nabi saw pada sholat 'Idul Fithri dan 'Idul Adha, Beliau membaca surat Qaf dan Iqtarobat (Surat al Qomar). (H.R Muslim).
Secara rinci Ibnul Qayyim menjelaskan :
Nabi saw mengakhirkan Sholat Idul Fithri dan menyegerakan sholat Idul Adha, Adapun Ibnu Umar begitu kuatnya mengikuti sunnah Nabi saw, beliau tidak keluar hingga matahari terbit,dan beliau bertakbir dari rumahnya menuju lapangan. Kemudian sholat dua rokaat, Beliau bertakbir pada rokaat pertama 7x takbir mencakup takbir iftitah (Takbiratul Ihram), Beliau diam sejenak setiap diantara dua takbir dan tidak dilhafalkan dari beliau dzikir yang ditentukan di setiap takbir tersebut. Nabi saw ketika telah menyempurnakan takbir, barulah Beliau membaca surat alfatihah kemudian surat Qaf padar rakaat pertama dan surat alQomar pada rakaat ke dua. Terkadang Beliau saw juga membaca surat al A'la dan surat alGhasyiyah, riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat yang shahih.
Khutbah setelah Sholat 'Id
ابْنِ عَبَّاسٍ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ النبى صلي الله عليه وسلم ، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ، فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
وفيه: ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ صلي الله عليه وسلم ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ [4]
Dari Ibnu 'Abbas : "Aku menghadiri hari 'Id bersama Nabi saw, Abu Bakr, 'Umar dan 'Utsman radhiyallahu anhum, semuanya melaksanakan sholat sebelum Khutbah.
Riwayat yang sama, dari Ibnu 'Umar ia berkata: " bahwa Nabi saw, Abu Bakr, dan 'Umar melaksanakan sholat dua hari raya (Idul Fithri dan Idul Adha) sebelum khutbah.
Demikian Nabi saw, apabila telah menyempurnakan sholat 'Iid Beliau kemudian berdiri dan menghadap orang-orang, sedangkan mereka duduk di shafnya masing-masing, kemudian Nabi berkhutbah,memberi nasihat dan berwashiyat. Apabila setelah khutbah Idul Adha maka Beliau memerintahkan untuk memotong hewan kurban.
Dan pada masa itu beliau tidak berkhutbah 'Iid diatas mimbar, melainkan berdiri langsung diatas tanah menghadap orang-orang.
Dan pada saat yang lain beliau juga berkhutbah diatas kendaraan dan diatas mimbar, sebagaimana berdasarkan pada riwayat yang lain.
Adapun khutbah Nabi saw sebagaimana diriwayatkan :
قَالَ جابر: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Jabir berkata : Aku hadir bersama Rasulullah saw pada hari 'Iid, maka beliau saw memulainya dengan sholat sebelum Khutbah tanpa adzan dan iqomah, kemudian Beliau berdiri dan bersandar kepada Bilal, kemudian Beliau memerintahkan orang-orang dengan washiyat takwa kepada Allah dan bersegera untuk menta'ati-Nya, dan Beliau menasihati orang-orang dan mengingatkan mereka, kemudian beliau melanjutkan hingga mendatangi shaf wanita, kemudian menasihati mereka dan mengingatkan mereka. (H.R. Mutafaq alaih).
Didalam riwayat yang lain beliau juga memerintahkan untuk bershadaqah.
Memulai Khutbah dengan Tahmid
Ibnul Qayyim menjelaskan karakteristik Khutbah Nabi saw sebagai berikut :
وَكَانَ يَفْتَتِحُ خُطَبَهُ كُلَّهَا بِالْحَمْدِ لِلَّهِ، وَلَمْ يُحْفَظْ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ أَنَّهُ كَانَ يَفْتَتِحُ خُطْبَتَيِ الْعِيدَيْنِ بِالتَّكْبِيرِ، وَإِنَّمَا رَوَى ابْنُ مَاجَهْ فِي " سُنَنِهِ " عَنْ سعد القرظ مُؤَذِّنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُكْثِرُ التَّكْبِيرَ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ، وَيُكْثِرُ التَّكْبِيرَ فِي خُطْبَتَيِ الْعِيدَيْنِ. وَهَذَا لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يَفْتَتِحُهَا بِهِ.
Dan Nabi saw membuka setiap khutbahnya dengan tahmid (alhamdulillaah), dan tidak dihapal riwayat dari Beliau saw dalam satu hadits pun bahwa Beliau saw pernah membuka (memulai) khutbah dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan takbir. Hanya saja Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunannya, dari Sa'ad alQurzh yaitu salah satu muadzin Nabi saw, bahwasanya Nabi saw memperbanyak takbir disela-sela khutbah, dan beliau memperbanyak takbir pada khutbah dua hari raya. Dan ini tidak menunjukkan bahwa Nabi saw memulai khutbah dengan takbir.
Menempuh jalan berbeda saat berangkat dan pulang
وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَالِفُ الطَّرِيقَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَيَذْهَبُ فِي طَرِيقٍ، وَيَرْجِعُ فِي آخَرَ
Nabi saw biasa membedakan jalan yang dilalui pada hari 'Iid, Beliau berangkat melalui satu jalan dan beliau pulang melalui jalan yang lain.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa mengambil jalan yang berbeda itu untuk menunjukkan syi'ar-syi'ar Islam, dan untuk menjengkelkan orang-orang munafiq supaya mereka melihat keagungan Islam.
Mengumandangkan Takbir
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ «اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ»
Bahwa Nabi saw bertakbir dari mulai sholat subuh pada hari 'Arafah hingga waktu ashar pada akhir hari-hari tasyriq :
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaaha illallaah wallaahu akbar Allahu akbar wa lillaahilhamd.
Ucapan Selamat di hari 'Iid (Tahniah)
Sebagaimana sudah biasa di masyarakat jika berada pada satu hari raya saling mengucapkan selamat, namun bagaimana hukumnya dalam Islam, dan bagaimana ungkapan yang benar?. Selengkapnya baca aja di sini.
Demikian secara ringkas pembahasan dua hari raya Islam yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Semoga keberkahan di hari raya membuat kita lebih dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Demikian secara ringkas pembahasan dua hari raya Islam yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Semoga keberkahan di hari raya membuat kita lebih dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
_____________
Disarikan dari :
Hadyu Nabi saw fil 'Idain (ZaadulMa'ad)
Syarh Bulughul Maram
0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik