Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Hassan bin Tsabit antara Lisan dan Jihad

Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu

Antara Lisan dan Jihad Fī Sabīlillāh

Sebelum disampaikan biografi Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu karakter syair di masa lalu. Bahwa sesungguhnya syair di masa lalu merupakan media khusus yang termasuk ke dalam salah satu bentuk siyasah [1]. Cukup banyak syair yang digunakan sebagai “muslihat”, dilatarbelakangi berbagai sebab, di antaranya karena persaingan antar-qabilah. Syair juga merupakan salah satu bagian dari media informasi yang menjadi “trik” komunikasi di antara masyarakat Arab pada masa sebelum Islam. Bahkan qasidah-qasidah syair yang dimainkan memiliki peran penting dalam lingkup media informasi di antara qabilah-qabilah Arab; karakternya menyerupai media “provokasi”, hiburan, atau media sosial pada masa sekarang, hanya berbeda dari segi tampilan, perkembangan budaya, adat, maupun tujuannya. Adapun topiknya tak jauh berbeda pada setiap zamannya, yakni bermuatan seputar kehormatan, silsilah nasab, ashobiyah (fanatisme golongan/kelompok), serta bermegah-megah dengan kekuasaan dan kesia-siaan.

Adapun pada masa Islam, media syair dipergunakan untuk mengobarkan semangat jihad fī sabīlillāh. Maka, syair dalam Islam menjadi salah satu bagian dari cikal bakal “media” dakwah fī sabīlillāh; muatan dan prinsip siyasahnya dapat menjadi pegangan dan kerangka umum bagi para aktivis media Islam.

Di antara penyair yang populer serta mendukung Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Hassān bin Tsabit, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhum.

Dalam tulisan ini, in syā’ Allāh, akan disampaikan sekilas biografi dan kiprah Hassān bin Tsabit sebagai juru syair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menguatkan semangat jihad fī sabīlillāh. Wa Allāhul-muwaffiq.

Silsilah Nasab Hassān bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu ▼

Beliau yaitu Abu al-Walid Hassān bin Tsabit, nasabnya terhubung dengan qabilah Khazraj yang merupakan salah satu qabilah yang berhijrah dari Yaman ke Hijaz, kemudian menetap di Madinah bersama qabilah Aus. Hassān bin Tsabit lahir di Madinah kira-kira delapan tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau hidup dalam masa jahiliah selama 60 tahun dan dalam keislaman selama 60 tahun pula, serta tumbuh dalam keluarga yang terhormat. Ayahnya yaitu Tsabit bin al-Mundzir bin Harām al-Khazrajiy termasuk di antara salah seorang pemuka kaumnya, dan ibunya yaitu Al-Furai‘ah binti Khālid bin Hubaisy bin Laudzan termasuk qabilah Khazraj sama seperti ayahnya [2].

Hassān bin Tsabit tidak hanya memiliki hubungan nasab dengan Khazraj saja, bahkan beliau juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Najjār yang memiliki kekerabatan pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama lengkap dan nasab beliau yaitu Hassān bin Tsabit ibnu al-Mundzir bin Harām bin ‘Amr bin Zaid Manah bin ‘Adiy bin ‘Amr ibnu Malik bin Najjār (yaitu Taymullāh bin Tsa‘labah bin ‘Amr al-Khazraj), Abu al-Walid, dipanggil juga Abu ‘Abdirrahmān, dipanggil pula Abul-Hisām al-Anshāriy al-Khazrajiy al-Najjāriy. Di masa perjuangan Islam, beliau ini adalah ahli syairnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [3], pemimpin para ahli syair kaum mukminin yang dikuatkan dengan Rūhul-Qudus.

Yatsrib, yakni Madinah sebagai tempat tumbuh Hassān bin Tsabit, merupakan satu daerah di Hijaz yang memiliki letak strategis yang mengarah ke sebelah timur Makkah dan Thaif. Kebanyakan penduduk Madinah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab dan Yahudi. Penduduk Arab di sana terbagi kepada dua qabilah besar sebagaimana sekilas telah disebutkan di atas, yakni qabilah Aus dan Khazraj, di mana kedua qabilah ini sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan. Adapun dari kaum Yahudi, qabilah yang masyhur yaitu Quraizhah dan Nadhir.

Sebagaimana telah kita ketahui dalam tarikh, di Yatsrib sering sekali terjadi konflik yang keras antar-qabilah; banyak sekali terjadi tawuran dan peperangan di sana, baik antara dua qabilah Arab maupun dua qabilah Yahudi. Konflik tersebut terjadi di antaranya karena saling klaim wilayah dan ekspansi kekuasaan.

Mengenai usia Hassān bin Tsabit, para ahli tarikh bersepakat bahwa usia beliau mencapai 120 tahun. Ketika dakwah Islam memasuki fase Madaniyah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib, kaum Aus dan Khazraj pun masuk Islam, termasuk Hassān bin Tsabit yang ketika itu usianya genap 60 tahun.

Hassān bin Tsabit mempunyai istri dari kalangan Aus bernama ‘Imrah binti Ash-Shāmit bin Khālid, serta satu istri lagi bernama Sya’tsā’ yang banyak disebutkan dalam syairnya (sebagian menyebutkan bahwa Sya’tsā’ adalah istri yang paling disayanginya). Di masa Islam, Hassān bin Tsabit juga menikah dengan Sīrīn (saudari Mariyah al-Qibthiyah) dan memiliki anak yang bernama ‘Abdurrahmān.

Menurut satu riwayat, Hassān bin Tsabit meninggal pada tahun 54 H (673 M) di Madinah pada masa pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan, atau pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu [4]. Allahu a‘lam.

Abu ‘Ubaidah mengatakan: “Keutamaan Hassān bin Tsabit di atas para penyair lainnya ada tiga keutamaan: beliau merupakan ahli syair kaum Ansar di masa Jahiliah, kemudian sebagai ahli syair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kenabian (bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya: ‘Yā Allāh, kuatkan ia dengan Rūhul-Qudus’ [5]), serta beliau juga menjadi ahli syairnya Yaman [6].”

Hassān bin Tsabit Sebelum Islam ▼

Sebagaimana disinggung di atas, Madinah di masa Jahiliah merupakan wilayah yang rawan konflik antara Aus dan Khazraj. Qabilah Aus memiliki ahli syair yang masyhur yaitu Qais bin al-Khatim, dan qabilah Khazraj memiliki Hassān bin Tsabit. Sebelum kedatangan Islam, Hassān bin Tsabit telah memberikan kontribusi dengan syairnya dalam tawuran antar-qabilah ini dalam bentuk peperangan yang silih berganti tergantung kepentingan yang ingin diraih oleh masing-masing qabilah, sehingga dikenal dengan Hari Sumair (Aus menyerang Khazraj), Hari Ka‘ab bin ‘Amr (Khazraj menyerang Aus), Hari Bi‘āts / Ba‘āts (Aus menyerang Khazraj), dan begitu seterusnya [7].

Hassān bin Tsabit bersekutu dengan sebagian kaum yang penuh konflik tersebut, berperan sebagai “eksekutor media” dalam bentuk “syair perjuangan” yang menjadi perantara lisan kaumnya (Khazraj) dalam mengobarkan semangat perang di antara mereka dengan qabilah Aus. Hal ini menjadikan Hassān bin Tsabit sebagai sosok yang populer di Arab. Bahkan menurut satu riwayat, popularitas Hassān bin Tsabit sampai ke qabilah Ghassan karena ia sering menyanjung mereka dengan syairnya. Berikut ini petikan bait sanjungan untuk penguasa Ghassan:

يُغْشَوْنَ حَتَّى مَا تَهِرُّ كِلَابُهُمْ … لَا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّوَادِ الْمُقْبِلِ
“Mereka dikunjungi sampai-sampai anjing-anjing mereka melolong…
Mereka tidak bertanya tentang kegelapan yang akan datang.”
يَسقُونَ مَنْ وَرَدَ البَرِيصَ عَلَيهمِ... بَرَدَى يُصَفَّقُ بِالرَّحِيقِ السَّلسَلِ
“Mereka beri minum siapa saja yang mendatangi ‘Al-Barish’ [8]…
Sungai Barada [9] yang ditumpahkan dengan sari khamar yang disaring murni.”
بِيضُ الْوُجُوهِ كَرِيمَةٌ أَحْسَابُهُمْ ... شُمُّ الْأُنُوفِ مِنَ الطِّرَازِ الْأَوَّلِ
“Putih cerahnya wajah-wajah putri, kebanggaan mereka…
Mancung hidungnya, lahir dari kasta tertinggi.”

Demikian penggalan bait syair di masa Jahiliahnya. Kala itu, Hassān bin Tsabit termasuk orang yang memiliki sifat ashobiyah (fanatisme kelompok) terhadap kaumnya, sehingga ia selalu menampilkan pembelaan dengan syairnya serta mencaci dan menjatuhkan musuh-musuhnya. Bahkan karena mendalamnya fanatisme terhadap kelompok, syairnya dilantunkan di pasar-pasar dan di tempat-tempat semacam pekan raya pada masa itu.

Syair sanjungan Hassān bin Tsabit tidak mengikuti gaya orang-orang asing yang biasa menyanjung untuk mendapatkan pemberian dari Ghassan, melainkan dilakukannya hanya untuk kebanggaan dan kesombongan (prestise).

Popularitas beliau bahkan sampai masuk ke dalam lingkungan Istana Hirah [10]. Konon, ketika beliau sampai di istana ini, Hassān bin Tsabit bertemu dengan salah seorang pujangga terkemuka di sana yang bernama Abu Qabus An-Nu‘mān bin Al-Mundzir Ar-Rabi‘ [11]. Allahu a‘lam.

Hassān bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu sebagai Juru Syair Islam ▼

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah ke Madinah, kota ini menjadi pusat perhatian Jazirah Arab. Dari Madinah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin kuat menyebarkan dakwah Islam, sehingga hati orang-orang Muslim menjadi semakin bersinar.

Keberkahan atas hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah dirasakan pula oleh kaum Aus dan Khazraj. Jika saja mereka tidak segera memeluk Islam, Madinah tidak akan menempati posisi yang strategis dalam peradaban umat disebabkan konflik yang berkepanjangan di antara mereka. Di fase hijrah inilah api peperangan di Madinah padam. Dengan datangnya Islam ke hadapan mereka, kondisi Madinah berangsur kondusif sebagai bentuk curahan nikmat Allah Ta‘ālā kepada mereka, sebagaimana Al-Qur‘an mengingatkan. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Genap 60 tahun usia Hassān bin Tsabit, seketika mendengar kedatangan Islam di Madinah, beliau pun masuk Islam bersama kaum Aus dan Khazraj. Kemudian, Hassān bin Tsabit berkhidmat dengan lisan dan syairnya dalam membela Islam serta membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kiprahnya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan dengan ucapannya dan Allah Ta‘ālā menguatkannya dengan Jibril ‘alaihissalām. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Hassān bin Tsabit:

اهْجُهُمْ أَوْ قَالَ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ
“Cacilah mereka —atau beliau bersabda: Balaslah cacian mereka—, dan Jibril bersamamu.” (HR. Bukhari, no. 5687)

Selain periwayatan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi khazanah Islam, bait-bait syair Hassān bin Tsabit juga menjadi salah satu catatan penting atas kondisi yang terjadi secara berturut-turut terhadap kaum Muslimin. Syairnya memiliki kedudukan yang khusus dalam jiwa kaum Muslimin sebagai pembela Rasul dan Islam. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat untuk meletakkan mimbar buat Hassān bin Tsabit di masjid:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ لِحَسَّانَ مِنْبَرًا فِي الْمَسْجِدِ يَقُومُ عَلَيْهِ قَائِمًا يُفَاخِرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ يُنَافِحُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُؤَيِّدُ حَسَّانَ بِرُوحِ الْقُدُسِ مَا يُفَاخِرُ أَوْ يُنَافِحُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meletakkan mimbar buat Hassān bin Tsabit di masjid, yaitu sebagai tempat berdirinya, di mana ia membanggakan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menguatkan Hassān dengan Rūhul-Qudus yang dapat membanggakan atau membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2773)

Dengan ini, Hassān bin Tsabit memperoleh posisi dalam perjuangan Islam sebagai “Mujahid Media”. Atas karunia dari Allah Ta‘ālā, beliau memiliki kepiawaian dalam melantunkan dan menulis bait-bait syair yang menakjubkan. Meskipun beliau dikatakan sebagai orang yang lemah dan tidak punya keberanian dalam perang fisik, beliau berani menghadang musuh dengan lisannya yang menggetarkan.

Peranan syair sebagai salah satu perangkat media dalam Islam kala itu memberi pengaruh besar dalam memotivasi para mujahid. Pernah ‘Abdurrahmān bin Ka‘ab meriwayatkan dari ayahnya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَدْ أَنْزَلَ اللهُ فِي الشُّعَرَاءِ مَا أَنْزَلَ. قَالَ: إِنَّ المُجَاهِدَ مُجَاهِدٌ بِسَيْفِهِ وَلِسَانِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَكَأَنَّمَا تَرْمُونَهُمْ بِهِ نَضْحُ النَّبْلِ.
“Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menurunkan kepada para penyair itu apa yang Dia turunkan.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya mujahid itu berjihad dengan pedangnya dan lisannya. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya apa yang kalian lemparkan kepada mereka seakan-akan anak panah yang meluncur.” [12] (HR. Ahmad, no. 25921)

Pernah pula dalam Perang Ahzab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَحْمِي أَعْرَاضَ المُسْلِمِيْنَ؟
“Siapa yang akan mengawal kehormatan kaum Muslimin?”

Lalu Ka‘ab bin Malik, Ibnu Rawahah, dan Hassān bin Tsabit menyanggupinya [13].

Di masa itu, syair merupakan bagian dari strategi perang media, dan Hassān bin Tsabit adalah salah satu yang menyanggupi untuk membela Nabi dan Islam dengan lisannya. Pernah Abu Sufyan bin al-Harits mencela Nabi, lalu Hassān bin Tsabit membelanya. Berikut kisahnya dalam hadis:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اهْجُوا قُرَيْشًا فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنْ رَشْقٍ بِالنَّبْلِ...
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Cacilah kaum kafir Quraisy dengan syair, karena yang demikian itu lebih pedih daripada bidikan panah.’ Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang kepada Ibnu Rawahah untuk menyampaikan pesan beliau yang berbunyi: ‘Cacilah kaum kafir Quraisy dengan syairmu!’ Kemudian Ibnu Rawahah melancarkan serangan kepada mereka dengan syairnya, tetapi sepertinya Rasulullah belum merasa puas. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim seorang utusan kepada Ka‘ab bin Malik, lalu juga mengutus seorang utusan kepada Hassān bin Tsabit. Ketika utusan tersebut datang kepadanya, Hassān berkata: ‘Telah tiba saatnya engkau mengutus singa yang mengipas-ngipaskan ekornya, menjulurkan dan menggerak-gerakkan lidahnya. Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya akan menyayat-nyayat hati kaum kafir Quraisy dengan syair saya ini seperti sayatan kulit.’ Tetapi Rasulullah memperingatkannya terlebih dahulu: ‘Hai Hassān, janganlah kamu tergesa-gesa, karena sesungguhnya Abu Bakar itu lebih tahu tentang nasab orang-orang Quraisy, sementara nasab Quraisy itu sendiri ada pada diriku.’ Kemudian Hassān bin Tsabit pergi mengunjungi Abu Bakar. Setelah itu, ia pun kembali menemui Rasulullah dan berkata: ‘Ya Rasulullah, nasab engkau telah saya ketahui silsilahnya. Demi Zat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya pasti akan mampu mencabut engkau dari kelompok mereka sebagaimana tercabutnya sebutir gandum dari adonannya.’ ‘Aisyah berkata: ‘Lalu saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Hassān: Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalām senantiasa akan mendukungmu, hai Hassān, selama kamu menghinakan orang-orang kafir dengan syairmu untuk membela Allah dan Rasul-Nya.’ ‘Aisyah berkata: ‘Hassān bin Tsabit melontarkan syair-syair celaan kepada kaum Quraisy dengan dahsyatnya.’”

Hassān bin Tsabit berkata:

هَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ...وَعِنْدَ اللَّهِ فِي ذَاكَ الْجَزَاءُ
“Kau hina Muhammad, maka kubalas hinaanmu…
Dan di sisi Allah balasan pahala dalam pembelaanku.”
هَجَوْتَ مُحَمَّدًا بَرًّا حَنِيفًا...رَسُولَ اللَّهِ شِيمَتُهُ الْوَفَاءُ
“Kau hina Muhammad yang benar lagi lurus…
Utusan Allah yang tidak pernah ingkar janji.”
فَإِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِي...لِعِرْضِ مُحَمَّدٍ مِنْكُمْ وِقَاءُ
“Sesungguhnya ayahku, nenekku, dan kehormatanku…
Kupersembahkan demi menjaga kehormatan Muhammad dari kamu.”
ثَكِلْتُ بُنَيَّتِي إِنْ لَمْ تَرَوْهَا...تُثِيرُ النَّقْعَ مِنْ كَنَفَيْ كَدَاءِ
“Kupacu anakku hingga tak dapat kau melihatnya (pasukan kuda)…
Kuda-kuda perang kami melesat menerjang musuh.”
يُبَارِينَ الْأَعِنَّةَ مُصْعِدَاتٍ...عَلَى أَكْتَافِهَا الْأَسَلُ الظِّمَاءُ
“Terus melesat ke atas bukit…
Di atas punggungnya anak panah yang haus darah.”
تَظَلُّ جِيَادُنَا مُتَمَطِّرَاتٍ...تُلَطِّمُهُنَّ بِالْخُمُرِ النِّسَاءُ
“Pasukan kuda kami terus berlari…
Dengan panji-panji yang ditata oleh kaum wanita.”
فَإِنْ أَعْرَضْتُمُو عَنَّا اعْتَمَرْنَا...وَكَانَ الْفَتْحُ وَانْكَشَفَ الْغِطَاءُ
“Tantanganmu pasti kami hadapi…
Sampai kemenangan berada di tangan kami.”
وَإِلَّا فَاصْبِرُوا لِضِرَابِ يَوْمٍ...يُعِزُّ اللَّهُ فِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Jika tidak, maka tunggulah saat pertempuran…
Pasti akan Allah bela siapa yang Dia kehendaki.”
وَقَالَ اللَّهُ قَدْ أَرْسَلْتُ عَبْدًا...يَقُولُ الْحَقَّ لَيْسَ بِهِ خَفَاءُ
“Allah berfirman: ‘Telah Aku utus seorang hamba…
Yang menyampaikan kebenaran tanpa tersembunyi’.”
وَقَالَ اللَّهُ قَدْ يَسَّرْتُ جُنْدًا...هُمْ الْأَنْصَارُ عُرْضَتُهَا اللِّقَاءُ
“Allah berfirman: ‘Telah Aku siapkan bala tentara…
Yaitu pasukan Ansar yang merindukan musuh’.”
لَنَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ مَعَدٍّ...سِبَابٌ أَوْ قِتَالٌ أَوْ هِجَاءُ
“Setiap hari kami berada dalam kesiapan…
Menghadapi cacian, pertempuran, ataupun hinaan.”
فَمَنْ يَْهُجُو رَسُولَ اللَّهِ مِنْكُمْ...وَيَمْدَحُهُ وَيَنْصُرُهُ سَوَاءُ
“Maka siapa yang mencaci Rasulullah di antara kalian…
Dan yang menyanjungnya juga menolongnya, tiada arti baginya.”
وَجِبْرِيلُ رَسُولُ اللَّهِ فِينَا...وَرُوحُ الْقُدُسِ لَيْسَ لَهُ كِفَاءُ
“Jibril utusan Allah bersama kami…
Dialah Rūhul-Qudus yang tak tertandingi.”

(HR. Muslim, no. 4545)

Status Penyair dalam Al-Qur'an ▼

Syair itu termasuk ke dalam kalam; jika isinya baik, maka baik pula syair tersebut, demikian pula sebaliknya. Allah Ta‘ālā mencela para penyair ketika di dalamnya terdapat maghūlah (hal-hal yang melampaui batas), baik dalam sanjungan maupun sindiran sampai melewati batas tujuan. Sebagaimana Allah berfirman:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ﴿٢٢٤﴾ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ﴿٢٢٥﴾ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ﴿٢٢٦﴾
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya?” (QS. Asy-Syu‘arā’: 224–226)

Namun demikian, Allah Ta‘ālā mengecualikan para penyair yang saleh. Dia berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ ﴿٢٢٧﴾
“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 227)
Terjatuh dalam Fitnah Lisan ▼

Selain syair-syair pembelaan yang dilantunkan, Hassān bin Tsabit pun pernah terjatuh ke dalam fitnah. Beliau tidak dapat menjaga lisannya sehingga ikut menyebarkan berita bohong (hoaks) tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā. Sebagai hukuman dari Rasulullah, mereka yang ikut menyebarkan berita bohong di antara kaum Muslimin dijatuhi hukuman had. Mengenai hal ini dikisahkan dalam hadis:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا نَزَلَ عُذْرِي قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَذَكَرَ ذَاكَ وَتَلَا تَعْنِي الْقُرْآنَ فَلَمَّا نَزَلَ مِنْ الْمِنْبَرِ أَمَرَ بِالرَّجُلَيْنِ وَالْمَرْأَةِ فَضُرِبُوا حَدَّهُمْ...
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā ia berkata: ‘Ketika Allah menurunkan uzurku (ayat yang membebaskan ‘Aisyah dari kasus fitnah yang dituduhkan padanya), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpidato di atas mimbar dan menyampaikan hal itu seraya membacakan ayat Al-Qur‘an. Ketika turun dari mimbar, beliau langsung memerintahkan untuk menghukum dua orang laki-laki dan seorang wanita (pelaku fitnah), maka mereka pun dicambuk sebagai had.’” (An-Nufaili berkata: “Beliau kemudian memerintahkan untuk menghukum dua orang lelaki —Hassān bin Tsabit dan Misthah bin Utsātsah— dan seorang wanita karena termasuk orang-orang yang menyebarkan fitnah atas diri ‘Aisyah tersebut.” An-Nufaili berkata: “Mereka mengatakan bahwa wanita itu adalah Hamnah binti Jahsy”). (HR. Abu Dawud, no. 3880)

Al-Baghawiy menjelaskan bahwa dalam salah satu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya mereka dihukum cambuk masing-masing 80 kali, namun dijelaskan dalam catatan kakinya bahwa pada perawinya terdapat kelemahan (daif) [14]. Penjelasan yang sama didapatkan dalam Tafsir Al-Qurthubiy tanpa ada tahqiq. Allahu a‘lam.

Terdapat pelajaran berharga bagi para aktivis media agar berhati-hati dalam memviralkan suatu berita atau konten. Harus dibiasakan meneliti terlebih dahulu validitas datanya sebelum hawa nafsu “gatal” untuk segera showing. Bahkan, meskipun data valid sudah terkumpul, harus dapat memilih dan menentukan kapan konten tersebut mesti dipublikasikan. Perhatikan kaidah pokok dari ilmu ushul:

فَإِنَّ لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالًا وَ لِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامًا
“Maka pada setiap tempat ada perkataannya, dan setiap perkataan ada tempatnya.”

Demikian sekilas kiprah Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dalam perjuangan Islam. Diriwayatkan bahwa beliau mengalami kebutaan di akhir hayatnya, dan bagaimana sikap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā yang berlapang dada serta menyanjung keutamaan Hassān bin Tsabit:

عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَعِنْدَهَا حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ يُنْشِدُهَا شِعْرًا يُشَبِّبُ بِأَبْيَاتٍ لَهُ وَقَالَ حَصَانٌ رَزَانٌ مَا تُزَنُّ بِرِيبَةٍ وَتُصْبِحُ غَرْثَى مِنْ لُحُومِ الْغَوَافِلِ فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ لَكِنَّكَ لَسْتَ كَذَلِكَ...
“Dari Masruq ia berkata: ‘Aku menemui ‘Aisyah sementara Hassān bin Tsabit di sampingnya tengah melantunkan bait-bait syair untuk memujinya. Hassān bersyair: “Yang memelihara dirinya, teguh, dan tidak mudah terperdaya / Jadilah ia sasaran orang-orang yang lalai.” ‘Aisyah berkata kepadanya: “Tetapi kamu tidak termasuk seperti itu.” Masruq berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: Mengapa engkau mengizinkan dia menemuimu, padahal Allah telah berfirman: “Dan orang yang berperan besar di antara mereka, baginya akan mendapatkan siksa yang besar” (QS. An-Nūr: 11)?” ‘Aisyah berkata: “Siksa apakah yang lebih berat dari kebutaan?” ‘Aisyah melanjutkan: “Sungguh dia pernah membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencaci musuh.”’” (HR. Bukhari, no. 3831)
____________________
Catatan Kaki & Maraji‘ (Kitab Rujukan) ▼

Catatan Kaki (Footnotes)

[1] Lihat mukaddimah: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م

[2] الإصابة في تمييز الصحابة (2/55)

[3] تاريخ دمشق لابن عساكر (12/378): حسان بن ثابت ابن المنذر بن حرام بن عمرو بن زيد مناة بن عدي بن عمرو ابن مالك بن النجار وهو تيم الله بن ثعلبة بن عمرو بن الخزرج أبو الوليد ويقال أبو عبد الرحمن ويقال أبو الحسام الأنصاري الخزرجي النجاري شاعر رسول الله صلى الله عليه وسلم.

[4] Lihat: فتح المنعم شرح صحيح مسلم (9/500)

[5] صحيح البخاري (1/98): اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ القُدُسِ

[6] الإصابة في تمييز الصحابة (2/55)

[7] Lihat: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م

[8] Al-Barish merupakan nama satu tempat padang rumput yang melimpah airnya [https://www.alukah.net/literature_language/0/72132/#_ftn16]

[9] Satu sungai yang besar di Damaskus.

[10] Salah satu kota kuno di bagian selatan Irak yang terkenal dengan keahlian seni musik dan nyanyiannya, bahkan arsitektur bangunannya (lihat: https://mawdoo3.com/أين_تقع_الحيرة)

[11] Lihat: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م

[12] Lihat: سير أعلام النبلاء ط الرسالة (2/525)

[13] Ibid.

[14] Lihat: تفسير البغوي - إحياء التراث (3/393)

Maraji‘ (Referensi Rujukan Utama)
  • ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م
  • الإصابة في تمييز الصحابة
  • تاريخ دمشق لابن عساكر
  • فتح المنعم شرح صحيح مسلم
  • سير أعلام النبلاء ط الرسالة
  • تفسير البغوي - إحياء التراث
  • صحيح البخاري
  • https://www.alukah.net
  • https://mawdoo3.com
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik