Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
Antara Lisan dan Jihad Fī Sabīlillāh
Sebelum disampaikan biografi Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu karakter syair di masa lalu. Bahwa sesungguhnya syair di masa lalu merupakan media khusus yang termasuk ke dalam salah satu bentuk siyasah [1]. Cukup banyak syair yang digunakan sebagai “muslihat”, dilatarbelakangi berbagai sebab, di antaranya karena persaingan antar-qabilah. Syair juga merupakan salah satu bagian dari media informasi yang menjadi “trik” komunikasi di antara masyarakat Arab pada masa sebelum Islam. Bahkan qasidah-qasidah syair yang dimainkan memiliki peran penting dalam lingkup media informasi di antara qabilah-qabilah Arab; karakternya menyerupai media “provokasi”, hiburan, atau media sosial pada masa sekarang, hanya berbeda dari segi tampilan, perkembangan budaya, adat, maupun tujuannya. Adapun topiknya tak jauh berbeda pada setiap zamannya, yakni bermuatan seputar kehormatan, silsilah nasab, ashobiyah (fanatisme golongan/kelompok), serta bermegah-megah dengan kekuasaan dan kesia-siaan.
Adapun pada masa Islam, media syair dipergunakan untuk mengobarkan semangat jihad fī sabīlillāh. Maka, syair dalam Islam menjadi salah satu bagian dari cikal bakal “media” dakwah fī sabīlillāh; muatan dan prinsip siyasahnya dapat menjadi pegangan dan kerangka umum bagi para aktivis media Islam.
Di antara penyair yang populer serta mendukung Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Hassān bin Tsabit, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Ka‘ab bin Malik radhiyallahu ‘anhum.
Dalam tulisan ini, in syā’ Allāh, akan disampaikan sekilas biografi dan kiprah Hassān bin Tsabit sebagai juru syair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menguatkan semangat jihad fī sabīlillāh. Wa Allāhul-muwaffiq.
Beliau yaitu Abu al-Walid Hassān bin Tsabit, nasabnya terhubung dengan qabilah Khazraj yang merupakan salah satu qabilah yang berhijrah dari Yaman ke Hijaz, kemudian menetap di Madinah bersama qabilah Aus. Hassān bin Tsabit lahir di Madinah kira-kira delapan tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau hidup dalam masa jahiliah selama 60 tahun dan dalam keislaman selama 60 tahun pula, serta tumbuh dalam keluarga yang terhormat. Ayahnya yaitu Tsabit bin al-Mundzir bin Harām al-Khazrajiy termasuk di antara salah seorang pemuka kaumnya, dan ibunya yaitu Al-Furai‘ah binti Khālid bin Hubaisy bin Laudzan termasuk qabilah Khazraj sama seperti ayahnya [2].
Hassān bin Tsabit tidak hanya memiliki hubungan nasab dengan Khazraj saja, bahkan beliau juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Najjār yang memiliki kekerabatan pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama lengkap dan nasab beliau yaitu Hassān bin Tsabit ibnu al-Mundzir bin Harām bin ‘Amr bin Zaid Manah bin ‘Adiy bin ‘Amr ibnu Malik bin Najjār (yaitu Taymullāh bin Tsa‘labah bin ‘Amr al-Khazraj), Abu al-Walid, dipanggil juga Abu ‘Abdirrahmān, dipanggil pula Abul-Hisām al-Anshāriy al-Khazrajiy al-Najjāriy. Di masa perjuangan Islam, beliau ini adalah ahli syairnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam [3], pemimpin para ahli syair kaum mukminin yang dikuatkan dengan Rūhul-Qudus.
Yatsrib, yakni Madinah sebagai tempat tumbuh Hassān bin Tsabit, merupakan satu daerah di Hijaz yang memiliki letak strategis yang mengarah ke sebelah timur Makkah dan Thaif. Kebanyakan penduduk Madinah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab dan Yahudi. Penduduk Arab di sana terbagi kepada dua qabilah besar sebagaimana sekilas telah disebutkan di atas, yakni qabilah Aus dan Khazraj, di mana kedua qabilah ini sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan. Adapun dari kaum Yahudi, qabilah yang masyhur yaitu Quraizhah dan Nadhir.
Sebagaimana telah kita ketahui dalam tarikh, di Yatsrib sering sekali terjadi konflik yang keras antar-qabilah; banyak sekali terjadi tawuran dan peperangan di sana, baik antara dua qabilah Arab maupun dua qabilah Yahudi. Konflik tersebut terjadi di antaranya karena saling klaim wilayah dan ekspansi kekuasaan.
Mengenai usia Hassān bin Tsabit, para ahli tarikh bersepakat bahwa usia beliau mencapai 120 tahun. Ketika dakwah Islam memasuki fase Madaniyah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib, kaum Aus dan Khazraj pun masuk Islam, termasuk Hassān bin Tsabit yang ketika itu usianya genap 60 tahun.
Hassān bin Tsabit mempunyai istri dari kalangan Aus bernama ‘Imrah binti Ash-Shāmit bin Khālid, serta satu istri lagi bernama Sya’tsā’ yang banyak disebutkan dalam syairnya (sebagian menyebutkan bahwa Sya’tsā’ adalah istri yang paling disayanginya). Di masa Islam, Hassān bin Tsabit juga menikah dengan Sīrīn (saudari Mariyah al-Qibthiyah) dan memiliki anak yang bernama ‘Abdurrahmān.
Menurut satu riwayat, Hassān bin Tsabit meninggal pada tahun 54 H (673 M) di Madinah pada masa pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan, atau pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu [4]. Allahu a‘lam.
Abu ‘Ubaidah mengatakan: “Keutamaan Hassān bin Tsabit di atas para penyair lainnya ada tiga keutamaan: beliau merupakan ahli syair kaum Ansar di masa Jahiliah, kemudian sebagai ahli syair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa kenabian (bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya: ‘Yā Allāh, kuatkan ia dengan Rūhul-Qudus’ [5]), serta beliau juga menjadi ahli syairnya Yaman [6].”
Sebagaimana disinggung di atas, Madinah di masa Jahiliah merupakan wilayah yang rawan konflik antara Aus dan Khazraj. Qabilah Aus memiliki ahli syair yang masyhur yaitu Qais bin al-Khatim, dan qabilah Khazraj memiliki Hassān bin Tsabit. Sebelum kedatangan Islam, Hassān bin Tsabit telah memberikan kontribusi dengan syairnya dalam tawuran antar-qabilah ini dalam bentuk peperangan yang silih berganti tergantung kepentingan yang ingin diraih oleh masing-masing qabilah, sehingga dikenal dengan Hari Sumair (Aus menyerang Khazraj), Hari Ka‘ab bin ‘Amr (Khazraj menyerang Aus), Hari Bi‘āts / Ba‘āts (Aus menyerang Khazraj), dan begitu seterusnya [7].
Hassān bin Tsabit bersekutu dengan sebagian kaum yang penuh konflik tersebut, berperan sebagai “eksekutor media” dalam bentuk “syair perjuangan” yang menjadi perantara lisan kaumnya (Khazraj) dalam mengobarkan semangat perang di antara mereka dengan qabilah Aus. Hal ini menjadikan Hassān bin Tsabit sebagai sosok yang populer di Arab. Bahkan menurut satu riwayat, popularitas Hassān bin Tsabit sampai ke qabilah Ghassan karena ia sering menyanjung mereka dengan syairnya. Berikut ini petikan bait sanjungan untuk penguasa Ghassan:
Mereka tidak bertanya tentang kegelapan yang akan datang.”
Sungai Barada [9] yang ditumpahkan dengan sari khamar yang disaring murni.”
Mancung hidungnya, lahir dari kasta tertinggi.”
Demikian penggalan bait syair di masa Jahiliahnya. Kala itu, Hassān bin Tsabit termasuk orang yang memiliki sifat ashobiyah (fanatisme kelompok) terhadap kaumnya, sehingga ia selalu menampilkan pembelaan dengan syairnya serta mencaci dan menjatuhkan musuh-musuhnya. Bahkan karena mendalamnya fanatisme terhadap kelompok, syairnya dilantunkan di pasar-pasar dan di tempat-tempat semacam pekan raya pada masa itu.
Syair sanjungan Hassān bin Tsabit tidak mengikuti gaya orang-orang asing yang biasa menyanjung untuk mendapatkan pemberian dari Ghassan, melainkan dilakukannya hanya untuk kebanggaan dan kesombongan (prestise).
Popularitas beliau bahkan sampai masuk ke dalam lingkungan Istana Hirah [10]. Konon, ketika beliau sampai di istana ini, Hassān bin Tsabit bertemu dengan salah seorang pujangga terkemuka di sana yang bernama Abu Qabus An-Nu‘mān bin Al-Mundzir Ar-Rabi‘ [11]. Allahu a‘lam.
Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah ke Madinah, kota ini menjadi pusat perhatian Jazirah Arab. Dari Madinah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin kuat menyebarkan dakwah Islam, sehingga hati orang-orang Muslim menjadi semakin bersinar.
Keberkahan atas hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah dirasakan pula oleh kaum Aus dan Khazraj. Jika saja mereka tidak segera memeluk Islam, Madinah tidak akan menempati posisi yang strategis dalam peradaban umat disebabkan konflik yang berkepanjangan di antara mereka. Di fase hijrah inilah api peperangan di Madinah padam. Dengan datangnya Islam ke hadapan mereka, kondisi Madinah berangsur kondusif sebagai bentuk curahan nikmat Allah Ta‘ālā kepada mereka, sebagaimana Al-Qur‘an mengingatkan. Allah Ta‘ālā berfirman:
Genap 60 tahun usia Hassān bin Tsabit, seketika mendengar kedatangan Islam di Madinah, beliau pun masuk Islam bersama kaum Aus dan Khazraj. Kemudian, Hassān bin Tsabit berkhidmat dengan lisan dan syairnya dalam membela Islam serta membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kiprahnya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan dengan ucapannya dan Allah Ta‘ālā menguatkannya dengan Jibril ‘alaihissalām. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Hassān bin Tsabit:
Selain periwayatan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi khazanah Islam, bait-bait syair Hassān bin Tsabit juga menjadi salah satu catatan penting atas kondisi yang terjadi secara berturut-turut terhadap kaum Muslimin. Syairnya memiliki kedudukan yang khusus dalam jiwa kaum Muslimin sebagai pembela Rasul dan Islam. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat untuk meletakkan mimbar buat Hassān bin Tsabit di masjid:
Dengan ini, Hassān bin Tsabit memperoleh posisi dalam perjuangan Islam sebagai “Mujahid Media”. Atas karunia dari Allah Ta‘ālā, beliau memiliki kepiawaian dalam melantunkan dan menulis bait-bait syair yang menakjubkan. Meskipun beliau dikatakan sebagai orang yang lemah dan tidak punya keberanian dalam perang fisik, beliau berani menghadang musuh dengan lisannya yang menggetarkan.
Peranan syair sebagai salah satu perangkat media dalam Islam kala itu memberi pengaruh besar dalam memotivasi para mujahid. Pernah ‘Abdurrahmān bin Ka‘ab meriwayatkan dari ayahnya:
Pernah pula dalam Perang Ahzab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Lalu Ka‘ab bin Malik, Ibnu Rawahah, dan Hassān bin Tsabit menyanggupinya [13].
Di masa itu, syair merupakan bagian dari strategi perang media, dan Hassān bin Tsabit adalah salah satu yang menyanggupi untuk membela Nabi dan Islam dengan lisannya. Pernah Abu Sufyan bin al-Harits mencela Nabi, lalu Hassān bin Tsabit membelanya. Berikut kisahnya dalam hadis:
Hassān bin Tsabit berkata:
Dan di sisi Allah balasan pahala dalam pembelaanku.”
Utusan Allah yang tidak pernah ingkar janji.”
Kupersembahkan demi menjaga kehormatan Muhammad dari kamu.”
Kuda-kuda perang kami melesat menerjang musuh.”
Di atas punggungnya anak panah yang haus darah.”
Dengan panji-panji yang ditata oleh kaum wanita.”
Sampai kemenangan berada di tangan kami.”
Pasti akan Allah bela siapa yang Dia kehendaki.”
Yang menyampaikan kebenaran tanpa tersembunyi’.”
Yaitu pasukan Ansar yang merindukan musuh’.”
Menghadapi cacian, pertempuran, ataupun hinaan.”
Dan yang menyanjungnya juga menolongnya, tiada arti baginya.”
Dialah Rūhul-Qudus yang tak tertandingi.”
(HR. Muslim, no. 4545)
Syair itu termasuk ke dalam kalam; jika isinya baik, maka baik pula syair tersebut, demikian pula sebaliknya. Allah Ta‘ālā mencela para penyair ketika di dalamnya terdapat maghūlah (hal-hal yang melampaui batas), baik dalam sanjungan maupun sindiran sampai melewati batas tujuan. Sebagaimana Allah berfirman:
Namun demikian, Allah Ta‘ālā mengecualikan para penyair yang saleh. Dia berfirman:
Selain syair-syair pembelaan yang dilantunkan, Hassān bin Tsabit pun pernah terjatuh ke dalam fitnah. Beliau tidak dapat menjaga lisannya sehingga ikut menyebarkan berita bohong (hoaks) tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā. Sebagai hukuman dari Rasulullah, mereka yang ikut menyebarkan berita bohong di antara kaum Muslimin dijatuhi hukuman had. Mengenai hal ini dikisahkan dalam hadis:
Al-Baghawiy menjelaskan bahwa dalam salah satu riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya mereka dihukum cambuk masing-masing 80 kali, namun dijelaskan dalam catatan kakinya bahwa pada perawinya terdapat kelemahan (daif) [14]. Penjelasan yang sama didapatkan dalam Tafsir Al-Qurthubiy tanpa ada tahqiq. Allahu a‘lam.
Terdapat pelajaran berharga bagi para aktivis media agar berhati-hati dalam memviralkan suatu berita atau konten. Harus dibiasakan meneliti terlebih dahulu validitas datanya sebelum hawa nafsu “gatal” untuk segera showing. Bahkan, meskipun data valid sudah terkumpul, harus dapat memilih dan menentukan kapan konten tersebut mesti dipublikasikan. Perhatikan kaidah pokok dari ilmu ushul:
Demikian sekilas kiprah Hassān bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dalam perjuangan Islam. Diriwayatkan bahwa beliau mengalami kebutaan di akhir hayatnya, dan bagaimana sikap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhā yang berlapang dada serta menyanjung keutamaan Hassān bin Tsabit:
[1] Lihat mukaddimah: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م
[2] الإصابة في تمييز الصحابة (2/55)
[3] تاريخ دمشق لابن عساكر (12/378): حسان بن ثابت ابن المنذر بن حرام بن عمرو بن زيد مناة بن عدي بن عمرو ابن مالك بن النجار وهو تيم الله بن ثعلبة بن عمرو بن الخزرج أبو الوليد ويقال أبو عبد الرحمن ويقال أبو الحسام الأنصاري الخزرجي النجاري شاعر رسول الله صلى الله عليه وسلم.
[4] Lihat: فتح المنعم شرح صحيح مسلم (9/500)
[5] صحيح البخاري (1/98): اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ القُدُسِ
[6] الإصابة في تمييز الصحابة (2/55)
[7] Lihat: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م
[8] Al-Barish merupakan nama satu tempat padang rumput yang melimpah airnya [https://www.alukah.net/literature_language/0/72132/#_ftn16]
[9] Satu sungai yang besar di Damaskus.
[10] Salah satu kota kuno di bagian selatan Irak yang terkenal dengan keahlian seni musik dan nyanyiannya, bahkan arsitektur bangunannya (lihat: https://mawdoo3.com/أين_تقع_الحيرة)
[11] Lihat: ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م
[12] Lihat: سير أعلام النبلاء ط الرسالة (2/525)
[13] Ibid.
[14] Lihat: تفسير البغوي - إحياء التراث (3/393)
- ديوان حسان بن ثابت - بيروت: 1994م
- الإصابة في تمييز الصحابة
- تاريخ دمشق لابن عساكر
- فتح المنعم شرح صحيح مسلم
- سير أعلام النبلاء ط الرسالة
- تفسير البغوي - إحياء التراث
- صحيح البخاري
- https://www.alukah.net
- https://mawdoo3.com
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik