4.3.20

Hassān bin Tsabit r.a
Diantara lisan dan Jihad Fisabilillah
Sebelum disampaikan biografi Hassān bin Tsabit r.a alangkah baiknya kita mengenal terlebih dulu karakter syair dimasa lalu. Bahwa sesungguhnya syair dimasa lalu merupakan media khusus yang termasuk kepada salah satu bentuk siyasah[1], cukup banyak syair-syair yang digunakan sebagai “muslihat”, dilatar belakangi berbagai sebab, diantaranya karena persaingan antar qabilah. Syair juga merupakan salah satu bagian dari media informasi yang menjadi “trik” komunikasi diantara masyarakat arab pada masa sebelum Islam, bahkan qasidah-qasidah syair yang dimainkan memiliki peran penting dalam luang lingkup media informasi diantara qabilah-qabilah arab, karakternya menyerupai media ”provokasi”, hiburan atau media sosial pada masa sekarang, hanya berbeda dari segi tampilan dan perkembangan budaya dan adat maupun tujuannya, adapun topiknya tak jauh berbeda pada setiap zamannya yakni bermuatan seputar kehormatan, silsilah nasab, ashobiyah (fanatisme golongan/kelompok) dan bermegah-megah dengan kekuasaan dan kesia-siaan.
Adapun pada masa Islam, maka media syair dipergunakan untuk mengobarkan semangat jihad fisabilillaah, maka syair dalam Islam menjadi salah satu bagian dari cikal-bakal "media" dakwah fiisabiilillaah, muatan dan prinsip siyasahnya dapat menjadi pegangan dan kerangka umum bagi para aktivis media Islam.
Dan diantara penyair yang populer dan mendukung Islam dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Hassān bin Tsabit,‘Abdullah bin Rowahah, dan Ka’ab bin Malik Radhiyallaahu ‘anhum.
Dalam makalah ini in syaa Allaah akan disampaikan sekilas biografi dan kiprah Hasan bin Tsabit sebagai juru syairnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam menguatkan semangat jihad fi sabilillah. Wa AllaahulMuwaffiq.
Silsilah Nasab Hassān bin Tsabit r.a
Beliau yaitu Abu alWalid Hassān bin Tsabit, nasabnya terhubung dengan qabilah khazraj yang merupakan satu qabilah yang  berhijrah dari Yaman ke Hijaz kemudian menetap di Madinah bersama qabilah Aus. Hassān bin Tsabit lahir di Madinah kira-kira 8 tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hidup dalam kejahiliyahan selama 60 tahun dan dalam keislaman selama 60 tahun pula, tumbuh dalam keluarga yang terhormat. Ayahnya yaitu Tsabit bin alMundzir bin Harām alKhazrajiy termasuk diantara salah seorang pemuka kaumnya, dan ibunya yaitu AlFurai’ah binti Khālid bin Hubaisy bin Laudzan termasuk qabilah khazraj sama seperti ayahnya. [2]
hassan bin tsabitHassān bin Tsabit tidak hanya memiliki hubungan nasab dengan Khazraj saja, bahkan beliau juga memiliki hubungan kekerabatan dengan bani Najjār yang memiliki kekerabatan pula dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Nama dan Nasabnya  yaitu Hassān bin Tsabit ibnu alMundzir bin Harām bin ‘Amr bin Zaid Manah bin ‘Adiy bin ‘Amr ibnu Malik bin Najjār yaitu Taymullāh bin Tsa’labah bin ‘Amr alKhazraj Abu alWalid, dipanggil juga Abu ‘AbdirRahman dipanggil juga AbulHisām alAnshariy alKhazrajiy AnNajjāriy, dimasa Perjuangan Islam beliau ini ahli syairnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam[3], pemimpinnya ahli syair kaum mukminin, yang dikuatkan dengan Ruhul Qudus.
Yatsrib, yakni Madinah sebagai tempat tumbuh Hassān bin Tsabit merupakan satu daerah di Hijaz yang memiliki letak strategis yang mengarah ke sebelah timur Makkah dan Thaif, adapun kebanyakan penduduk madinah dizaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab dan Yahudi , dan penduduk arab disana terbagi kepada dua qabilah besar sebagaimana sekilas telah disebutkan diatas, yakni qabilah Aus dan Khazraj, diantara kedua qabilah ini sebenarnya memiliki kekerabatan. Kemudian dari kaum Yahudi, qabilah yang masyhur yaitu Quraizhah dan Nadhir.
Sebagaimana telah kita ketahui dalam tarikh, di Yatsrib itu sering sekali terjadi konflik yang keras antar qabilah, banyak sekali terjadi tawuran dan peperangan disana, baik itu dua qabilah Arab maupun dua qabilah Yahudi, konflik terjadi diantara sebabnya adalah saling klaim wilayah dan ekspansi kekuasaan.
Mengenai usia Hassān bin Tsabit , para ahli tarikh bersepakat, usia beliau mencapai 120 tahun. Ketika dakwah Islam memasuki fase madaniyah dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib maka kaum Aus dan Khazraj pun masuk Islam termasuk Hassān bin Tsabit yang ketika itu usianya 60 tahun. 
Hassān bin Tsabit mempunyai isteri dari kalangan Aus bernama ‘Imrah binti AshShāmit  bin Khālid, dan satu lagi isterinya bernama Sya’tsā' dan banyak disebutkan dalam syairnya, sebagian menyebutkan bahwa Sya’tsā' adalah yang paling disayanginya. Dimasa Islam Hassān bin Tsabit menikah dengan Siiriin yaitu saudari Mariyah, dan memiliki anak yang bernama ‘AbdurRahmān.
Menurut satu riwayat, Hassān bin Tsabit meninggal di tahun 54 H (673 M) di Madinah pada masa pemerintahan Muawwiyah bin Abi Sufyan, atau pada masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib r.a[4]. Allahu A’lam
Abu ‘Ubaidah mengatakan: “ keutamaan Hassān bin Tsabit diatas para penyair lainnya ada 3 keutamaan, yaitu beliau merupakan ahli syairnya kaum Anshar di masa Jahiliyah, kemudian sebagai ahli syairnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa kenabian shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya :” Yaa Allah kuatkan dia dengan RuhulQudus” [5],  beliau juga menjadi ahli syairnya Yaman.[6]
Hassān bin Tsabit sebelum Islam
            Sebagaimana disinggung diatas bahwa Madinah dimasa jahiliyah merupakan wilayah yang rawan konflik antar Aus dan Khazraj. Qabilah Aus memiliki ahli syair yang masyhur yaitu Qais bin alKhatim, dan qabilah Khazraj memiliki Hassān bin Tsabit. Dan sebelum kedatangan Islam, Hassān bin Tsabit telah memiliki kontribusi dengan syairnya dalam tawuran antar qabilah ini dengan bentuk peperangan yang silih berganti tergantung kepentingan yang ingin diraih oleh masing-masing qabilah, sehingga dikenal dengan hari Sumair (Aus menyerang Khazraj) atau hari Ka’ab bin ‘Amr (Khzaraj menyerang Aus), atau hari Bi’āts / Ba’āts (Aus menyerang Khazraj), dan begitu seterusnya[7].
Hassān bin Tsabit bersekutu dengan sebagian kaum yang penuh konflik tersebut, berperan sebagai ”eksekutor media” dalam bentuk “syair perjuangan”, yang menjadi perantara lisan kaumnya (Khazraj) dalam mengobarkan semangat perang diantara mereka dengan qabilah Aus, sehingga Hassān bin Tsabit menjadi orang popular di Arab, bahkan menurut satu riwayat popularitas Hasan bin Tsabit sampai ke qabilah Ghasan karena ia sering menyanjung mereka dengan syairnya. Berikut ini petikan bait sanjungan untuk penguasa Ghasan:
يُغْشَوْنَ حَتَّى مَا تَهِرُّ كِلَابُهُمْ   لَا يَسْأَلُونَ عَنِ السَّوَادِ الْمُقْبِلِ
Mereka dikunjungi sampai-sampai anjing-anjing mereka melolong…
Mereka tidak bertanya tentang kegelapan yang akan datang
يَسقُونَ مَنْ وَرَدَ البَرِيصَ عَلَيهمِ... بَرَدَى يُصَفَّقُ بِالرَّحِيقِ السَّلسَلِ
Mereka beri minum siapa saja yang mendatangi “albarish”[8] ….
Sungai Barad[9] yang ditumpahkan dengan sari khamr yang disaring murni
بِيضُ الْوُجُوهِ كَرِيمَةٌ أَحْسَابُهُمْ ... شُمُّ الْأُنُوفِ مِنَ الطِّرَازِ الْأَوَّلِ
Putih cerahnya wajah-wajah puteri, kebanggaan mereka…
Mancung hidungnya lahir dari kasta tertinggi.
 Demikian penggalan bait syair dimasa jahiliyahnya, juga kala itu Hassān bin Tsabit termasuk orang yang memiliki sifat ‘ashobiyah(fanatisme kelompok) terhadap kaumnya, sehingga ia selalu menampilkan pembelaan dengan syairnya dan mencaci serta menjatuhkan musuh-musuhnya. Bahkan karena mendalamnya fanatik terhadap kelompok, sampai-sampai syairnya dilantunkan dipasar-pasar dan ditempat-tempat semacam pekan raya dikala itu.
            Syair sanjungan Hassān bin Tsabit tidak mengikuti gaya orang-orang asing yang biasa menyanjung untuk mendapatkan pemberian dari Ghasan, melainkan dilakukannya hanya untuk kebanggaan dan kesombongan (prestise).
Bahkan popularitas beliau sampai masuk kedalam lingkungan istana Hirah[10]. Konon ketika beliau sampai di istana ini, Hassān bin Tsabit bertemu dengan salah seorang pujangga terkemuka disana yang bernama Abu Qabus AnNu’mān bin AlMundzir ArRabi’. [11]  Allaahu A’lam.
Hassān bin Tsabit r.a sebagai Juru Syair Islam
Setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Makkah ke Madinah, maka kota ini menjadi pusat perhatian jazirah Arab, dari Madinah pula Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semakin kuat menyebarkan dakwah Islam, maka hati orang-orang Muslim menjadi semakin bersinar.
Keberkahan atas hijrahnya Nabi saw ke Madinah pun dirasakan oleh kaum Aus dan Khazraj, yang jika saja mereka tidak segera memeluk Islam maka Madinah tidak akan menempati posisi yang strategis dalam peradaban ummat disebabkan konflik yang berkepanjangan antara mereka.  Difase hijrah inilah maka api peperangan di Madinah padam. Dengan datangnya Islam ke hadapan mereka maka kondisi Madinah berangsur kondusif sebagai bentuk curahan nikmat Allah Ta’ala kepada mereka, sebagaimana alQuran mengingatkan, Allah Ta’ala berfirman :
وَاعْتَصِمُوۡا بِحَبْلِ اللہِ جَمِیۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَاذْكُرُوۡا نِعْمَتَ اللہِ عَلَیۡكُمْ  اِذْ كُنۡتُمْ اَعْدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمۡ بِنِعْمَتِہٖۤ اِخْوَانًا ۚ وَكُنۡتُمْ عَلٰی شَفَا حُفْرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَكُمۡ مِّنْہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللہُ لَكُمْ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّكُمْ تَہۡتَدُوۡنَ
" dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".(Q.S.Ali ‘Imran:103)
Genap 60 tahun usia Hassān bin Tsabit, seketika mendengar kedatangan Islam di Madinah, maka beliau pun masuk Islam bersama kaum Aus dan Khazraj. Kemudian Hassān bin Tsabit berkhidmat dengan lisan dan syairnya dalam membela Islam dan membela Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka dengan kiprahnya itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menguatkan dengan ucapannya dan Allah Ta’ala menguatkannya dengan Jibril a.s, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Hassān bin Tsabit :
اهْجُهُمْ أَوْ قَالَ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ
"Cacilah mereka atau beliau bersabda balaslah cacian mereka, dan Jibril bersamamu". (H.R. Bukhari, no.5687)
Selain periwayatan Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi khazanah Islam, maka bait-bait syairnya Hassān bin Tsabit juga menjadi salah satu catatan penting atas kondisi yang terjadi secara berturut-turut terhadap kaum Muslimin, maka syairnya memiliki kedudukan yang khusus dalam jiwa kaum muslimin sebagai pembela Rasul dan Islam. Bahkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada sahabat untuk meletakan mimbar buat Hassān bin Tsabit di masjid :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ لِحَسَّانَ مِنْبَرًا فِي الْمَسْجِدِ يَقُومُ عَلَيْهِ قَائِمًا يُفَاخِرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ يُنَافِحُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُؤَيِّدُ حَسَّانَ بِرُوحِ الْقُدُسِ مَا يُفَاخِرُ أَوْ يُنَافِحُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari 'Aisyah ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meletakkan mimbar buat Hassān bin Tsabit di masjid, yaitu sebagai tempat berdirinya, dia membanggakan diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau membela Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menguatkan Hassān dengan Ruhul Qudus yang dapat membanggakan atau membela Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam". (H.R. AtTirmidzi, no.2773).
Dengan ini maka Hassān bin Tsabit memperoleh posisi dalam perjuangan Islam sebagai "Mujahid Media", atas karunia dari Allah Ta’ala beliau memiliki kepiawaian dalam melantunkan dan menulis bait-bait syair yang menakjubkan, meskipun beliau dikatakan sebagai orang yang lemah dan tak punya keberanian dalam perang fisik, namun beliau berani menghadang musuh dengan lisannya yang menggetarkan.
Peranan syair sebagai salah satu perangkat media dalam Islam dikala itu memberi pengaruh besar dalam memotivasi para mujahid, pernah ‘Abdurrahman bin Ka’ab meriwayatkan dari ayahnya :
يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَدْ أَنْزَلَ اللهُ فِي الشُّعَرَاءِ مَا أَنْزَلَ. قَالَ: إِنَّ المُجَاهِدَ مُجَاهِدٌ بِسَيْفِهِ وَلِسَانِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَكَأَنَّمَا تَرْمُونَهُمْ بِهِ نَضْحُ النَّبْلِ.
"Yaa Rasulallah, sungguh Allah telah menurunkan kepada para penyair itu apa yang Dia turunkan". Nabi bersabda : " Sesungguhnya Mujahid itu  berjihad  dengan pedangnya dan lisannya, yang demi jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya apa yang kalian lemparkan kepada mereka seakan-akan anak panah yang meluncur" [12] [H.R.Ahmad, no.25921]
Pernah pula dalam perang Ahzab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يَحْمِي أَعْرَاضَ المُسْلِمِيْنَ؟
" Siapa yang akan mengawal kehormatan kaum Muslimin?"
Lalu Ka’ab bin Malik, Ibnu Rawahah dan Hassān bin Tsabit menyanggupinya. [13]
Dimasa itu syair merupakan bagian dari strategi perang media, dan Hassān bin Tsabit diantara yang menyanggupi untuk membela Nabi dan Islam dengan lisannya. Pernah Abu Sufyan bin alHarits mencela Nabi,  lalu Hassān bin Tsabit membelanya, berikut kisahnya dalam hadits :
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اهْجُوا قُرَيْشًا فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنْ رَشْقٍ بِالنَّبْلِ فَأَرْسَلَ إِلَى ابْنِ رَوَاحَةَ فَقَالَ اهْجُهُمْ فَهَجَاهُمْ فَلَمْ يُرْضِ فَأَرْسَلَ إِلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ حَسَّانُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تُرْسِلُوا إِلَى هَذَا الْأَسَدِ الضَّارِبِ بِذَنَبِهِ ثُمَّ أَدْلَعَ لِسَانَهُ فَجَعَلَ يُحَرِّكُهُ فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَأَفْرِيَنَّهُمْ بِلِسَانِي فَرْيَ الْأَدِيمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَعْجَلْ فَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ أَعْلَمُ قُرَيْشٍ بِأَنْسَابِهَا وَإِنَّ لِي فِيهِمْ نَسَبًا حَتَّى يُلَخِّصَ لَكَ نَسَبِي فَأَتَاهُ حَسَّانُ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ لَخَّصَ لِي نَسَبَكَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَأَسُلَّنَّكَ مِنْهُمْ كَمَا تُسَلُّ الشَّعْرَةُ مِنْ الْعَجِينِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَسَّانَ إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ لَا يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَقَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَجَاهُمْ حَسَّانُ فَشَفَى وَاشْتَفَى قَالَ حَسَّانُ:
Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Cacilah kaum kafir Quraisy dengan syair, Karena yang demikian itu lebih pedih daripada bidikan panah." Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus seseorang kepada lbnu Rawahah untuk menyampaikan pesan beliau yang berbunyi: Cacilah kaum kafir Quraisyy dengan syairmu!" Kemudian lbnu Rawahah melancarkan serangan kepada mereka dengan syairnya, tetapi sepertinya Rasulullah belum merasa puas. Setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirim seorang utusan kepada Ka'ab bin Malik. Lalu juga mengutus seorang utusan kepada Hassan bin Tsabit. Ketika utusan tersebut datang kepadanya, Hassan berkata; "Telah tiba saatnya engkau mengutus singa yang mengipas-ngipaskan ekornya, menjulurkan dan menggerak-gerakkan Iidahnya. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya akan menyayat-nyayat hati kaum kafir Quraisyy dengan syair saya ini seperti sayatan kulit." Tetapi Rasulullah memperingatkannya terlebih dahulu: "Hai Hassan, janganlah kamu tergesa-gesa, karena sesungguhnya Abu Bakar itu lebih tahu tentang nasab orang-orang Quraisyy. Sementara nasab Quraisyy itu sendiri ada pada diriku." Kemudian Hassan bin Tsabit pergi mengunjungi Abu Bakar Setelah itu, ia pun kembali menemui Rasulullah dan berkata: Ya Rasulullah, nasab engkau telah saya ketahui silsilahnya. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya pasti akan mampu mencabut engkau dan kelompok mereka sebagaimana tercabutnya sebutir gandum dari adonannya." Aisyah berkata; "Lalu saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Jibril Alahis Salam senantiasa akan mendukungmu hai Hassan selama kamu menghinakan orang-orang kafir dengan syairmu untuk membela Allah dan Rasul-Nya." Aisyah berkata: Hassan bin Tsabit melontarkan syair-syair celaan kepada kaum Quraisy dengan dahsyatnya." Hassan bin Tsabit berkata:
هَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ...وَعِنْدَ اللَّهِ فِي ذَاكَ الْجَزَاءُ
Kau hina Muhammad, maka kubalas hinaanmu...
DI Sisi Allah balasan pahala dalam pembelaanku.
هَجَوْتَ مُحَمَّدًا بَرًّا حَنِيفًا...رَسُولَ اللَّهِ شِيمَتُهُ الْوَفَاءُ
Kau hina Muhammad yang benar lagi lurus…
Utusan Allah yang tidak pernah ingkar janji
فَإِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِي...لِعِرْضِ مُحَمَّدٍ مِنْكُمْ وِقَاءُ
Sesungguhnya ayahku, nenekku, dan kehormatanku…
Kupersembahkan demi menjaga kehormatan Muhammad dari kamu
ثَكِلْتُ بُنَيَّتِي إِنْ لَمْ تَرَوْهَا...تُثِيرُ النَّقْعَ مِنْ كَنَفَيْ كَدَاءِ
Ku pacu anakku hingga tak dapat kau melihatnya(pasukan kuda)…
Kuda-kuda perang kami melesat menerjang musuh
يُبَارِينَ الْأَعِنَّةَ مُصْعِدَاتٍ...عَلَى أَكْتَافِهَا الْأَسَلُ الظِّمَاءُ
Terus  melesat ke atas bukit…
Diatas punggungnya anak panah yang haus darah
تَظَلُّ جِيَادُنَا مُتَمَطِّرَاتٍ...تُلَطِّمُهُنَّ بِالْخُمُرِ النِّسَاءُ
Pasukan Kuda kami terus berlari…
 Dengan panji-panji yang ditata oleh kaum wanita
فَإِنْ أَعْرَضْتُمُو عَنَّا اعْتَمَرْنَا...وَكَانَ الْفَتْحُ وَانْكَشَفَ الْغِطَاءُ
Tantanganmu pasti kami hadapi…
Sampai kemenangan berada di tangan kami.
وَإِلَّا فَاصْبِرُوا لِضِرَابِ يَوْمٍ...يُعِزُّ اللَّهُ فِيهِ مَنْ يَشَاءُ
Jika tidak, maka tunggulah saat pertempuran…
Pasti akan Allah bela siapa yang Dia kehendaki
وَقَالَ اللَّهُ قَدْ أَرْسَلْتُ عَبْدًا...يَقُولُ الْحَقَّ لَيْسَ بِهِ خَفَاءُ
Allah berfirman: "Telah Aku utus seorang hamba…
 Yang menyampaikan kebenaran tanpa tersembunyi"
وَقَالَ اللَّهُ قَدْ يَسَّرْتُ جُنْدًا...هُمْ الْأَنْصَارُ عُرْضَتُهَا اللِّقَاءُ
Allah berfirman: "Telah Aku siapkan bala tentara…
Yaitu pasukan Anshar yang merindukan musuh"
لَنَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ مَعَدٍّ...سِبَابٌ أَوْ قِتَالٌ أَوْ هِجَاءُ
Setiap hari kami berada dalam kesiapan…
Menghadapi cacian, pertempuran, ataupun hinaan.
فَمَنْ يَهْجُو رَسُولَ اللَّهِ مِنْكُمْ...وَيَمْدَحُهُ وَيَنْصُرُهُ سَوَاءُ
Maka siapa yang mencaci Rasulullah diantara kalian…
Dan yang menyanjungnya juga menolongnya, tiada arti baginya.
وَجِبْرِيلٌ رَسُولُ اللَّهِ فِينَا...وَرُوحُ الْقُدُسِ لَيْسَ لَهُ كِفَاءُ
Jibril utusan Allah bersama kami...
dialah Ruhul Qudus yang tak tertandingi.
(H.R. Muslim, no.4545)
Status Penyair dalam AlQuran
Syair itu termasuk kepada kalam, jika isinya baik maka baik pula syair tersebut demikian pula sebaliknya, jika buruk maka buruk pula, dan Allah Ta’ala mencela para penyair ketika didalamnya terdapat magholah (hal-hal yang melampaui batas) baik dalam sanjungan ataupun sindiran sampai melewati batas tujuan. Sebagaimana Allah berfirman :
وَالشُّعَرَآءُ یَتَّبِعُہُمُ الْغَاوٗنَ ؕ  اَلَمْ تَرَ اَنَّہُمْ فِیۡ كُلِّ وَادٍ یَّہِیۡمُوۡنَ ۙ  وَ اَنَّہُمْ یَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا یَفْعَلُوۡنَ  
“ dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?” (Q.S.AsySyu’araa:224-226).
Namun demikian Allah Ta’ala mengecualikan para penyair yang shalih, Dia berfirman :
اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ ذَکَرُوا اللہَ کَثِیۡرًا وَّ انۡتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوۡا ؕ وَ سَیَعْلَمُ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَیَّ مُنۡقَلَبٍ یَّنۡقَلِبُوۡنَ  
" kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali ".(Q.S.AsySyu’araa:227).
Terjatuh dalam fitnah lisan
Selain syair-syair pembelaan yang dilantunkan, namun Hassān bin Tsabit pun pernah terjatuh kedalam fitnah, beliau tidak dapat menjaga lisannya sehingga ikut menyebarkan berita hoax tentang ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dan sebagai hukuman dari Rasulullah, maka mereka yang ikut menyebarkan berita bohong diantara kaum muslimin dijatuhi hukuman had.  Mengenai ini dikisahkan dalam hadits:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا نَزَلَ عُذْرِي قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَذَكَرَ ذَاكَ وَتَلَا تَعْنِي الْقُرْآنَ فَلَمَّا نَزَلَ مِنْ الْمِنْبَرِ أَمَرَ بِالرَّجُلَيْنِ وَالْمَرْأَةِ فَضُرِبُوا حَدَّهُمْ حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ بِهَذَا الْحَدِيثِ لَمْ يَذْكُرْ عَائِشَةَ قَالَ فَأَمَرَ بِرَجُلَيْنِ وَامْرَأَةٍ مِمَّنْ تَكَلَّمَ بِالْفَاحِشَةِ حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَمِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ قَالَ النُّفَيْلِيُّ وَيَقُولُونَ الْمَرْأَةُ حَمْنَةُ بِنْتُ جَحْشٍ
Dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Ketika Allah menurunkan udzurku (Ayat yang membebaskan 'Aisyah dari kasus fitnah yang dituduhkan padanya), Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpidato di atas mimbar dan menyampaikan hal itu seraya membacakan ayat Al-Qur'an. Ketika turun dari mimbar, beliau langsung memerintahkan untuk menghukum dua orang laki-laki dan seorang wanita (pelaku fitnah), maka mereka pun dicambuk sebagai had". Telah menceritakan kepada kami An Nufaili berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq seperti hadits ini, hanya saja ia tidak menyebutkan nama 'Aisyah. Ia menyebutkan, "Beliau kemudian memerintahkan untuk menghukum dua orang lelaki -Hassan bin Tsabit dan Misthah bin utsatsah- dan seorang wanita karena termasuk orang-orang yang menyebarkan fitnah (atas diri 'Aisyah) tersebut." An Nufaili berkata, "Mereka mengatakan bahwa wanita itu adalah Hamnah binti Jahsy".(H.R. Abu Dawud, no.3880)
AlBaghawiy menjelaskan bahwa dalam salah satu riwayat , Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan supaya mereka dihukum cambuk, masing-masing 80 kali, namun dijelaskan dalam footnotenya bahwa pada rawinya ada ke dha’ifan.[14] Penjelasan yang sama didapatkan dalam tafsir AlQurtubiy tanpa ada tahqiq. Allahu A’lam.
            Terdapat pelajaran berharga bagi para aktivis media, agar berhati-hati dalam me-viralkan satu berita atau konten, harus dibiasakan meneliti terlebih dahulu validitas datanya, sebelum hawa nafsu "gatal" untuk segera "showing". Bahkan meskipun data valid sudah terkumpul, harus dapat memilih dan menentukan kapan konten tersebut mesti di publish, perhatikan kaidah pokok dari ilmu ushul :
فَإِنَّ لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالًا وَ لِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامًا
“ Maka pada setiap tempat ada perkataanya, dan setiap perkataan ada tempatnya”
                        Demikian sekilas kiprah Hassān bin Tsabit r.a dalam perjuangan Islam, diriwayatkan bahwa beliau mengalami kebutaan diakhir hayatnya, dan bagaimana sikap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berlapang dada dan menyanjung keutamaan Hassān bin Tsabit :
عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَعِنْدَهَا حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ يُنْشِدُهَا شِعْرًا يُشَبِّبُ بِأَبْيَاتٍ لَهُ وَقَالَ حَصَانٌ رَزَانٌ مَا تُزَنُّ بِرِيبَةٍ وَتُصْبِحُ غَرْثَى مِنْ لُحُومِ الْغَوَافِلِ فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ لَكِنَّكَ لَسْتَ كَذَلِكَ قَالَ مَسْرُوقٌ فَقُلْتُ لَهَا لِمَ تَأْذَنِينَ لَهُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْكِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ. فَقَالَتْ وَأَيُّ عَذَابٍ أَشَدُّ مِنْ الْعَمَى قَالَتْ لَهُ إِنَّهُ كَانَ يُنَافِحُ أَوْ يُهَاجِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Masruq ia berkata; "Aku menemui 'Aisyah sementara Hassān bin Tsabit di sampingnya tengah melantunkan bait-bait sya'ir untuk memujinya. Hassan bersya'ir : "Yang memelihara dirinya, teguh dan tidak mudah terperdaya, Jadilah ia sasaran orang-orang yang lalai." 'Aisyah berkata kepadanya; "Tetapi kamu tidak termasuk seperti itu." Masruq berkata: aku bertanya kepada 'Aisyah: "Mengapa engkau mengizinkan dia menemuimu, padahal Allah telah berfirman; "Dan orang yang berperan besar diantara mereka baginya akan mendapatkan siksa yang besar". (QS An Nur:11). 'Aisyah berkata: "Siksa apakah yang lebih berat dari kebutaan?." 'Aisyah melanjutkan: "Sungguh dia pernah membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mencaci musuh". (H.R. Bukhari, no.3831)
______________

Maraji’
ديوان حسان بن ثابت-بيروت:1994م
الإصابة في تمييز الصحابة
تاريخ دمشق لابن عساكر
فتح المنعم شرح صحيح مسلم
سير أعلام النبلاء ط الرسالة
تفسير البغوي - إحياء التراث
صحيح البخاري
https://www.alukah.net
https://mawdoo3.com



[1] Lihat muqaddimah : ديوان حسان بن ثابت-بيروت:1994م
[2] الإصابة في تمييز الصحابة (2/ 55(
[3] حسان بن ثابت ابن المنذر بن حرام بن عمرو بن زيد مناة بن عدي بن عمرو ابن مالك بن النجار وهو تيم الله بن ثعلبة بن عمرو بن الخزرج أبو الوليد ويقال أبو عبد الرحمن ويقال أبو الحسام الأنصاري الخزرجي النجاري شاعر رسول الله صلى الله عليه وسلم  .تاريخ دمشق لابن عساكر (12/ 378)
[4] Lihat : ( فتح المنعم شرح صحيح مسلم (9/ 500
[5]  اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ القُدُسِ - صحيح البخاري (1/ 98(
[6] ا لإصابة في تمييز الصحابة (2/ 55 (
[7] Lihat : ديوان حسان بن ثابت-بيروت:1994م
[8] Al-Barish merupakan nama satu tempat padang rumput yang melimpah airnya [https://www.alukah.net/literature_language/0/72132/#_ftn16]
[9] Satu sungai yang besar di damasqus
[10] Salah satu kota kuno di bagian selatan Iraq yang terkenal dengan keahlian seni music dan nyanyiannya bahkan arsitektur bangunannya.(lihat:https://mawdoo3.com/ أين_تقع_الحيرة )
[11] Lihat : ديوان حسان بن ثابت-بيروت:1994م
[12] Lihat: سير أعلام النبلاء ط الرسالة 2/ 525
[13] Ibid.
[14] Lihat : ( تفسير البغوي - إحياء التراث (3/ 393

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik