Hati-hati! Riyฤ' Pada 5 Bagian Diri Kita

Riya' merupakan salah satu penyakit hati yang paling dikhawatirkan oleh Nabi shallallฤhu ‘alaihi wa sallam menimpa umatnya. Dalam sebuah hadis dengan sanad yang hasan disebutkan:
Tampilkan Teks Arab & Terjemahan Hadis
Ash-Shan’ani dalam Subul As-Salam menjelaskan bahwa riya' adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan disertai rasa ingin diperhatikan oleh selain Allah, menginformasikan amal tersebut, atau menampilkannya demi meraih keuntungan duniawi berupa harta dan semacamnya. Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT dengan tegas mencela sifat ingin dilihat orang dan menggolongkannya ke dalam sifat orang-orang munafik:
Tampilkan Q.S. An-Nisa' [4]: 142 & Terjemahannya
Dalam firman-Nya yang lain:
Tampilkan Q.S. Al-Ma'un [107]: 6 & Terjemahannya
Cukup banyak hadis sahih yang menunjukkan betapa besar akibat buruk bagi pelaku riya', karena pada hakikatnya ia sedang menghambakan diri kepada selain Allah. Perhatikan dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman:
Tampilkan Teks Arab Hadis Qudsi & Terjemahannya
Demikian tercelanya orang yang mengharapkan pandangan manusia dan popularitas di hadapan makhluk. Ibnu Al-Jauzi dalam Minhaj Al-Qashidin memberikan subjudul khusus: ِูุชَุงุจُ ุฐَู ِّ ุงูุฌَุงِู َูุงูุฑَِّูุงุกِ (Kitab Celaan terhadap Ambisi Kedudukan dan Riya'). Kedudukan serta popularitas sangat dekat dengan gelinciran riya' karena sifatnya yang tersembunyi dan membawa malapetaka tanpa disadari. Riya' merupakan perangkap terbesar yang dipasang oleh setan untuk menjerat manusia.
Menurut Ibnul-Jauzi rahimahullah, potensi riya' tercakup pada 5 bagian utama dalam diri manusia:
-
Badan
Riya' dalam urusan agama dari segi fisik tampak pada seseorang yang menampakkan badan kurus karena sering berpuasa sunnah atau pucat karena terjaga malam (qiyamul lail) demi menunjukkan kesungguhan ibadahnya. Terkadang ia juga membiarkan rambutnya kusut agar dinilai tenggelam dalam urusan akhirat. Adapun riya' dari kalangan ahli dunia tampak pada usaha memperlihatkan badan yang gemuk ideal, kulit bersih cerah, dan penampilan fisik menarik demi menuai pujian sesama manusia.
-
Mode (Gaya dan Penampilan)
Riya' agama dalam hal mode ditunjukkan lewat gaya berpakaian atau gerak-gerik yang diasosiasikan dengan orang saleh—seperti menjaga bekas sujud di wajah atau berjalan menunduk—namun disertai niat mencari pengakuan kesalehan. Sementara itu, ahli dunia ber-riya' dengan mengenakan pakaian mewah, mengendarai kendaraan mahal, atau menata perabotan rumah secara berlebihan demi memamerkan kesuksesan.
-
Ucapan
Bentuk riya' pada ahli agama melalui lisan mencakup pamer hafalan hadis, bertutur kata dengan gaya ulama salaf saat mendebat, menggerakkan bibir seolah berzikir di tengah keramaian, memperindah suara saat membaca Al-Qur'an untuk menarik kekaguman, atau menunjukkan amarah palsu demi membela agama. Adapun riya' ahli dunia tampak dari kepiawaian merangkai kata-kata mutiara, pantun, atau ungkapan unik yang berlebihan untuk memikat perhatian publik.
-
Perbuatan
Riya' dalam amal perbuatan tecermin pada orang yang sengaja memanjangkan ruku' dan sujud saat salat di hadapan orang lain, menampakkan kekhusyukan, atau bersikap sangat tawadu' di hadapan publik namun berubah drastis ketika bersendirian. Sikap takalluf (dibuat-buat) saat berkhalwat agar dinilai mulia juga termasuk ke dalam bentuk riya' perbuatan yang tercela.
-
Fans (Pengikut) dan Relasi Luar
Bentuk riya' ini menjangkiti orang yang membanggakan banyaknya relasi, santri, atau tamu yang datang berkunjung dengan tujuan disangka sebagai ulama besar yang sering dimintai berkah (tabarruk). Termasuk pula di dalamnya kebiasaan memamerkan frekuensi perjalanan luar negeri atau prestise pergaulan demi mendongkrak ketenaran.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin secara khusus mencantumkan bab mengenai haramnya riya', dengan beristidlal pada firman Allah SWT:
Tampilkan Q.S. Al-Bayyinah [98]: 5 & Terjemahannya
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan hanya kepada-Nya, bebas dari unsur riya', serta semata-mata mengharapkan wajah Allah dan pahala akhirat.
Allah SWT juga berfirman dalam ayat lain:
Tampilkan Q.S. Al-Baqarah [2]: 264 & Terjemahannya
Sifat mengungkit pemberian diserupakan dengan perbuatan orang riya' dan orang kafir, yang mana amal kebaikan mereka tidak mendatangkan pahala di sisi Allah SWT.
Demikian lima bagian dalam diri yang sangat rawan terjangkit penyakit riya'. Adapun obat sekaligus penangkal utamanya hanyalah satu, yaitu IKHLAS.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik