15.4.20

Hati-hati! Riyā' Pada 5 Bagian Diri Kita
Riya merupakan salah satu penyakit hati yang Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam khawatirkan menimpa banyak ummatnya. Dalam salah satu hadits dengan sanad yang hasan disebutkan :
عن محمود بن لبيد الأنصاري: إنَّ رسولَ اللهِ ﷺ قال: إنَّ أخْوَفَ ما أخافُ عليكم الشِّركُ الأصغَرُ. قالوا: وما الشِّركُ الأصغَرُ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الرِّياءُ، يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ لهم يَومَ القيامةِ، إذا جُزِيَ الناسُ بأعْمالِهِم: اذْهَبوا إلى الذين كُنتُم تُراؤونَ في الدُّنيا، فانْظُروا هل تَجِدونَ عندَهم جَزاءً  [1]
Dari Mahmūd bin Labĩd Al-Anshārĩ : Bahwa Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya kekhawatiran yang paling, dari apa yang aku khawatirkan atas kalian, adalah syirik kecil". Mereka (para sahabat) bertanya: "Lantas apa syirik kecil itu wahai Rasulullāh?", Nabi bersabda: " Riyā' , Allāh ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat ketika manusia diberi balasan sesuai dengan amal-amal mereka: "Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian cari popularitas dari manusia ketika didunia, maka lihatlah apakah kalian dapati disisi mereka ada balasan pahala?".
Ash-Shan’ānĩ dalam Subul As-Salām menjelaskan :
Riyā' adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiyatan disertai dengan rasa ingin diperhatikan oleh selain Allāh, atau menginformasikan amalnya tersebut, atau ia suka menampilkannya untuk tujuan keuntungan duniawi, berupa harta dan semacamnya. Dalam Al-Qurān Allāh ‘Azza wa Jalla benar-benar mencela sikap ingin dilihat orang, dan memasukkannya kedalam sifat orang-orang munafiq[2] , Allāh berfirman:
يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
"…mereka ingin dilihat dihadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allāh kecuali sedikit sekali" [3]
Dan Firman-Nya:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
" orang-orang yang berbuat riya" [4]
Cukup banyak sebetulnya hadits-hadits shahih yang menunjukkan betapa besarnya akibat yang akan menimpa orang yang riyā', karena pada hakikatnya orang yang riyā' itu adalah orang yang menghambakan diri kepada selain Allāh. Perhatikan dalam salah satu Hadits Qudsi, Allāh berfirman:
مَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا فَأَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ
"Siapa yang beramal untuk-Ku dengan satu amalan lalu ia sekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku berlepas diri darinya, dan amalnya tersebut adalah bagi sekutunya" [5]
Riya dan ujub            Demikian tercelanya orang yang mengharapkan pandangan manusia, ingin populer dihadapan makhluq. Tepat sekali Ibnu Al-Jauzy dalam Minhāj Al-Qāshidĩn memberikan sub judul : كِتَابُ ذَمِّ الجَاهِ وَالرِّيَاءِ , sebab memang kedudukan dan popularitas lebih dekat untuk tergelincir kepada riyā', karena riyā' termasuk kepada syahwat yang sifatnya tersembunyi dan akan membawa malapetaka tanpa disadari. Riyā' merupakan sebesar-besarnya perangkap untuk manusia yang dipasang oleh syaitan-syaitan.

Menurut Ibnul-Jauzy rahimahullāh, potensi riyā' tercakup pada 5 bagian, yaitu :
1.      Badan.
Riyā' dalam agama dari segi badaniyah, memperlihatkan badan kurus karena jarang makan(sering shaum) dan terlihat pucat karena terjaga semalaman (qiyamulail), dia menampakkan itu untuk menunjukkan mujahadahnya, terlihat rambut yang kusut untuk menunjukkan ia tenggelam dalam memikirkan agamanya dan tidak punya waktu luang untuk memperhatikan rambutnya. Semua kerja keras dan lelahnya ibadah yang dia lakukan, ia tunjukkan dihadapan manusia. Dan ini salah satu bentuk riyā' yang ditampilkan ahli agama dari segi badaniyah.
Adapun riyā' yang ditampilkan ahli dunia yaitu dengan menunjukkan badan yang gemuk atau ideal, kulitnya yang bersih cerah, perawakannya tegap ideal, wajahnya indah dan badannya bersih. Ia tampilkan itu demi pujian manusia.
2.      Mode (gaya dan penampilan).
Riyā' dalam agama dari segi mode, boleh jadi dengan gaya rambut yang kusut, kumisnya dipotong, jalannya menunduk, menjaga bekas sujud diwajahnya, dan lain sebagainya yang dia anggap identik dengan gayanya orang-orang shalih dan mengikuti sunnah, namun ia ingin mendapat perhatian dan pengakuan kesalihan dari makhluq dengan penampilannya tersebut.
Adapun yang ditampilkan ahli dunia, ia menampilkan pakaian untuk kemuliaan, kendaraan yang bagus mewah, berbagai macam aksesoris yang indah dan berbagai perabotan rumah. Untuk menunjukkan dan berbangga dengan kesuksesannya.
3.      Ucapan.
Riyā' dalam perkataan sebagai bentuk riyā'nya ahli agama dengan nasihat dan tadzkirnya, kuatnya hafalan hadits dan atsar demi menjawab berbagai persoalan, itu nampak karena banyaknya ilmu, menunjukkan betapa kuatnya perhatian terhadap SalafushShālihĩn, suka menggerak-gerakan bibirnya dengan dzikrullāh dihadapan manusia, ber-amar ma’ruf nahy munkar dengan mempersaksikannya dihadapan makhluq, menampakkan kemarahannya terhadap kemunkaran, menunjukkan kesedihan yang mendalam karena jijiknya kepada para pelaku maksiyat, menampilkan kerendahan suara ketika berbicara dan memperindahnya ketika membaca Al-Qurān untuk menunjukkan kesedihan dan ketakutannya(khauf), berpura-pura hafal hadits dan telah bertemu dengan banyak guru bertujuan untuk menyangkal orang-orang yang mendebatnya, dan lain sebagainya yang menunjukkan hebatnya seorang ahli agama.
Adapun riyā'nya ahli dunia dalam bentuk ucapan, yaitu dengan menampilkan hafalan sya’ir-sya’ir dan perumpamaan-perumpamaan (kata-kata mutiara, pantun atau wejangan-wejangan), berlebih-lebihan dalam berbicara, menghafal ungkapan-ungkapan yang aneh supaya unik dan nyeleneh, memperlihatkan ungkapan kasih sayang dan persahabatan kepada manusia untuk menunjukkan keluasan hatinya.
4.      Perbuatan.
Riyā' dalam perbuatan, semisal penampakkan orang yang shalat dengan panjang dan lamanya berdiri, memanjangkan ruku dan sujudnya, tunduknya kepala tidak menoleh kesana kemari, menampilkan kekhusyuan, meratakan tangan dan kaki, dll. Begitu juga dengan shaum dan jihad, haji dan shadaqah, memberi makan fakir miskin, ketawadhuan dalam berjalan seperti menunjukkan mata yang sayu dan menundukkan kepala, sampai-sampai pelaku riyā' terkadang bergegas dan tergesa-gesa dalam hajatnya, namun bila ada seorang dari ahli agama melihatnya maka ia segera kembali dalam kewibawaan dan ketenangannya karena khawatir dirinya diketahui akan ketergesa-gesaan dan kurangnya adab, dan ketika seseorang ahli agama tersebut telah hilang maka ia (pelaku riyā') kembali pada ketergesa-gesaannya. Ada pula pelaku riyā' yang memaksakan diri (takalluf[dibuat-buat]) dalam sikapnya ketika sendirian (berkhalwat) supaya benar-benar tidak diketahui oleh orang lain, padahal sikap terbaik adalah seseorang itu tetap bagus ketika sepi ataupun ramai (dalam artian hati tidak berbunga-bunga dengan pujian ketika ibadahnya dikeramaian ataupun ditempat sepi, melainkan cukup hanya Allāh yang ada didalam hatinya).
Adapun ahli dunia, riyā'nya dalam berjalan melenggang penuh keangkuhan untuk menunjukkan kehormatannya,dll.
5.      Fans (follower) dan produk luar.
Yaitu orang yang riyā' dengan banyaknya sahabat dan pergaulannya, semisal orang yang berpura-pura sering diminta untuk berkunjung sebagai orang yang ‘alim supaya disebut sebagai orang yang suka didatangi ahli agama yang bertabarruk (ngalap berkah) kepadanya dan banyak orang yang berkunjung kepadanya. Dan adapula orang yang riyā' karena ia sering berkunjung keluar negeri, dan sebagainya berupa kedudukan, prestise dan ketenaran lainnya.
            Imam An-Nawawi rahimahullāh dalam RiyādhushShālihĩn, secara khusus mencantumkan satu bab tentang haramnya riyā', beliau beristidlal dengan beberapa ayat Al-Qurān, Allāh berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus" [6]
Yakni tidaklah manusia itu diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allāh dengan mengikhlashkan diri terhadap agama Allāh, shalat harus karena Allāh, shadaqah, shaum, haji dan sebagainya diantara amalan-amalan shalih semuanya harus ikhlash karena Allāh ‘Azza wa Jalla. Dan ikhlash karena Allāh ini yaitu tidak boleh ada didalam hati manusia sifat riyā', melainkan harus ada dalam hatinya tujuan semata-mata hanya mengharap Wajah Allāh dan pahala akhirat. [7]
Dan Firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…".[8]
Sifat mengungkit pemberian ini diserupakan dengan perbuatan orang yang riyā' dan orang kafir. Maka menyebut-nyebut dan mengungkit-ungkit suatu pemberian, menyebabkan hilangnya pahala, sebab amalan orang yang riyā', munafiq dan orang kafir itu tidak mendatangkan pahala dari Allāh.
            Demikian 5 bagian dalam diri yang rawan terjangkit penyakit riyā'. Adapun obat dan pencegahnya hanya ada satu, yaitu IKHLASH.



[1] 
 شعيب الأرنؤوط (١٤٣٨ هـ)، تخريج المسند ٢٣٦٣١ ,  إسناده حسن ,  أخرجه أحمد (٢٣٦٣٠) واللفظ له، والبيهقي في «شعب الإيمان» (٦٨٣١)، والبغوي في «شرح السنة» (٤١٣٥) 
[2] Lihat : سبل السلام (2/ 660)
[3] QS. An-Nisā':142
[4] QS. Al-Māūn :6
[5] HR. Ahmad, no.7659
[6] QS. Al-Bayyinah : 5
[7]  Lihat : شرح رياض الصالحين , الشيخ محمد بن صالح العثيمين, الجزء الرابع , ص: 206
[8] QS. Al-Baqarah : 264

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik