Kaidah Menjadi Muslimah Shalihah
Manusia, baik pria maupun wanita, tentu menyukai dan menginginkan kebaikan. Akidah tauhid mengajarkan bahwa hakikat kebaikan adalah setiap hal yang beriringan dengan taufik, di mana tujuan kesuksesan, kebahagiaan, dan keselamatan secara praktis sejalan dengan ittiba' (mengikuti) Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sikap dan sifat seperti ini hanya dapat dirasakan dengan keyakinan utuh tanpa keraguan sedikit pun. Hanya muslim dan muslimah sejati yang dapat meraihnya, yaitu mereka yang benar-benar yakin bahwa hidayah Al-Qur'an dan Sunnah adalah petunjuk yang mengantarkan pada kehidupan akhirat yang kekal dalam kebahagiaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Mereka juga yakin sepenuhnya dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian dari ketetapan wahyu Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya:
Oleh sebab itu, tiada lagi panduan yang cocok dan benar selain Al-Qur'an dan Sunnah. Untuk meraih kebaikan dan kebahagiaan hakiki, setiap orang hendaknya menjadikan kaidah-kaidah di dalam keduanya sebagai pedoman hidup.
Berikut adalah beberapa kaidah dan prinsip utama yang wajib dipegang oleh para wanita sebagai panduan menjaga ketaatan dalam meraih derajat wanita shalihah. Wa Allahul-musta'an.
Perempuan dan laki-laki setara dalam ketaatan kepada Allah, sama-sama mendapatkan ampunan dan pahala di sisi-Nya sesuai dengan tingkat amalnya. Allah Ta'ala berfirman:
Ayat ini turun ketika istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Wahai Rasulullah, Allah menyebutkan para lelaki dalam Al-Qur'an dan tidak menyebutkan kebaikan para perempuan..." Maka Allah menurunkan ayat tersebut untuk menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi dalam meraih rahmat-Nya.
Dari ayat di atas, terdapat 10 kaidah amaliyah yang menjadi landasan:
- Islam dan Inqiyad: Berserah diri, tunduk patuh, serta ittiba' terhadap hukum syar'i.
- Iman dan Tashdiq: Percaya dan yakin penuh terhadap seluruh syariat dan adab dari Allah.
- Qunut: Senantiasa taat dan mendawamkan amal saleh.
- Ash-Shidqu: Jujur dalam ucapan dan perbuatan sebagai tanda keimanan.
- Ash-Shabr: Sabar menghadapi musibah, tabah dalam beribadah, dan konsisten menjauhi maksiat.
- Khusyu': Tenang (tuma'ninah), tawaduk, senantiasa takut kepada Allah, dan merealisasikan muraqabah (ihsan).
- Shadaqah: Berinfak kepada yang membutuhkan, baik zakat wajib maupun sedekah sunnah.
- Shaum: Menjalankan puasa fardhu dan sunnah untuk mengendalikan syahwat.
- Iffah wa Hifzhul-Furuj: Menjaga kesederhanaan dan memelihara kemaluan dari perbuatan haram.
- Adz-Dzikru: Banyak berzikir dengan menghadirkan keagungan Allah di dalam hati serta mensucikan-Nya dengan lisan.
Wanita wajib menjaga pandangan, kemaluan, menutup aurat, serta tidak menampakkan perhiasan atau tebar pesona kepada yang bukan mahram. Allah Ta'ala berfirman:
Beberapa poin penting dalam kaidah penjagaan diri ini:
- Menjaga Pandangan: Mencegah diri dari celah-celah fitnah, perbuatan keji, dan zina mata.
- Batasan Aurat (Wajah dan Telapak Tangan): Mayoritas mazhab fikih (Maliki, Hanafi, Syafi'i) berpandangan bahwa bagian yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menerangkan bahwa asalkan tidak menimbulkan fitnah, keduanya bukan aurat, namun wajib ditutup jika dikhawatirkan memicu keburukan atau maraknya kefasikan.
- Berhijab Menutupi Dada: Perintah mengulurkan kerudung hingga ke dada sebagai bentuk kemuliaan (lihat atsar riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Sahih Al-Bukhari no. 4758).
- Larangan Tabarruj & Sifat Sensitif Aurat: Berhias utamanya untuk suami, serta dilarang mendeskripsikan tubuh wanita lain kepada suami seolah suaminya melihat langsung (HR. Bukhari no. 5240).
- Tidak Tebar Pesona: Menghindari intonasi suara manja, gerak-gerik, atau wewangian yang menarik perhatian non-mahram.
Hendaklah para wanita mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan nasihat-nasihat mulia:
- Jaminan Masuk Surga dari Pintu Mana Saja: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah: "Apabila seorang perempuan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki." (Sahih Ibnu Hibban no. 4163).
- Keagungan Hak Suami: Rasulullah bersabda mengenai besarnya hak suami, hingga seandainya boleh sujud kepada manusia, niscaya diperintahkan istri sujud kepada suaminya (HR. Tirmidzi no. 1159).
- Istri Idaman: Sebaik-baik bekal bagi seorang mukmin setelah takwa adalah istri shalihah yang jika disuruh taat, dan jika dipandang menyenangkan (HR. Ibnu Majah no. 1857).
- Peringatan Tidak Menyakiti Suami: Ancaman bagi istri yang menyakiti suaminya di dunia, di mana bidadari surga memperingatkannya bahwa suami tersebut adalah tamu sementara yang akan segera berpulang kepada mereka (HR. Tirmidzi no. 1174).
- Bahaya Kufur Nikmat Suami: Peringatan Nabi bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita karena mereka sering mengingkari kebaikan suami (HR. Bukhari no. 29 & Muslim no. 907).
- Penciptaan dari Tulang Rusuk: Mengingat tabiat wanita yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, suami dinasihati untuk membimbing dengan lembut dan penuh hikmah tanpa bersikap keras yang memecahkannya (HR. Bukhari no. 5185 & Muslim no. 1468).
Untuk meneladani kelembutan hati para wanita shalihah terdahulu, silakan baca kisah inspiratif di sini: Teladan Untuk Para Muslimah.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik