Biografi Khadijah Radhiyallahu 'anha
Sudah semestinya setiap muslim dan muslimah mengetahui dan mengenal sejarah ummahatul Mukminin Radhiyallahu ‘anhunna, bagaimana peran istri shalihah dalam mendampingi perjuangan manusia terbaik yakni baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salah satu wanita terbaik didunia ini adalah sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha yang mencurahkan kasihnya, jiwa raga dan hartanya demi mendukung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjuangan dakwah fii sabiilillaah.
Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan ada empat wanita terbaik dimuka bumi ini yang tepat dijadikan teladan bagi para wanita yang menghendaki keshalihan dirinya, dan salah satunya adalah istri beliau yakni Khadijah radhiyallahu ‘anha, Nabi bersabda:
حَسبُكَ مِن نِسَاءِ العَالَمِينَ مَريَمُ ابنَةُ عِمرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنتُ خُوَيلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امرَأَةُ فِرعَونَ [1]
"Cukuplah bagi kamu keteladanan dari wanita di dunia yaitu Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad serta Asiyah istrinya Fir’aun"
Hadits diatas menerangkan wanita-wanita yang sampai kepada tingkatan kesempurnaan, cukuplah keempat wanita tersebut sebagai teladan bagi wanita seluruhnya hingga akhir zaman, kebaikannya, pekertinya, kezuhudan mereka terhadap dunia dan keyakinan yang kokoh serta kerinduannya akan negeri akhirat menyebabkan mereka dikaruniai keutamaan oleh Allah Ta’ala dari kebanyakan wanita lainnya. Yang pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallaam menyebutkan Maryam bintu ‘Imran yakni bundanya Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam, beliaulah ashshiddiiqah ashshaabirah (wanita yang jujur,benar dan shabar) terhadap ujian agung yang menimpanya dari Allah ‘Azza wa Jalla dengan Kalam-Nya dan mengandung AlMasih tanpa pernah disentuh seorang laki-laki pun, dikisahkan dalam ayat :
وَ مَرْیَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِیۡۤ اَحْصَنَتْ فَرْجَہَا فَنَفَخْنَا فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتْ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَكُتُبِہٖ وَ کَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِیۡنَ [2]
"dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat".
Yang kedua, yaitu Khadijah bintu Khuwailid, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang pertama Quraisy yang menerima kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkannya, beliaulah sebaik-baik istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sebaik-baiknya “pendukung" dan "sandaran", seorang wanita Quraisy yang terhormat, beliaulah seutama-utamanya wanita, memiliki pemikiran arif bijaksana dan berakhlaq mulia. Dan sosok Khadijah inilah yang akan diketengahkan dalam artikel kali ini in syaa Allah. Selanjutnya yang ketiga adalah Fathimah bintu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, iya.. beliau putri kandungnya baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Khadijah radhiyallahu ‘anha, Fathimah adalah seorang wanita tangguh yang sering ditinggal suaminya yakni ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu ke medan Jihad fii sabiilillaah. Dan yang terakhir adalah Asiyah istrinya Fir’aun, dita’rif bukan dengan nasab kepada bapaknya melainkan dengan nama suaminya, karena memang Allah Ta’ala mengenalkannya dalam AlQuran dengan menyebut suaminya, Allah berfirman:
وَ ضَرَبَ اللہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَ ۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِیۡ عِنۡدَکَ بَیۡتًا فِی الْجَنَّۃِ وَ نَجِّنِیۡ مِنَ فِرْعَوْنَ وَ عَمَلِہٖ وَ نَجِّنِیۡ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِیۡنَ [3]
"dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim"
Demikian juga Allah telah menjadikan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain sebagai teladan, Allah berfirman:
وَمَنۡ یَّقْنُتْ مِنۡكُنَّ لِلہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ تَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِہَاۤ اَجْرَہَا مَرَّتَیۡنِ ۙ وَ اَعْتَدْنَا لَہَا رِزْقًا کَرِیۡمًا یٰنِسَآءَ النَّبِیِّ لَسْتُنَّ کَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ اِنِ اتَّقَیۡتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَیَطْمَعَ الَّذِیۡ فِیۡ قَلْبِہٖ مَرَضٌ وَّ قُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوۡفًا وَقَرْنَ فِیۡ بُیُوۡتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاہِلِیَّۃِ الْاُوۡلٰی وَ اَقِمْنَ الصَّلٰوۃَ وَ اٰتِیۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ اَطِعْنَ اللہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ؕ اِنَّمَا یُرِیۡدُ اللہُ لِیُذْہِبَ عَنۡكُمُ الرِّجْسَ اَہۡلَ الْبَیۡتِ وَ یُطَہِّرَكُمْ تَطْہِیۡرًا وَ اذْكُرْنَ مَا یُتْلٰی فِیۡ بُیُوۡتِكُنَّ مِنْ اٰیٰتِ اللہِ وَ الْحِكْمَۃِ ؕ اِنَّ اللہَ کَانَ لَطِیۡفًا خَبِیۡرًا [4]
" dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, pasti Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia, Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu Hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya, dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui".
Dalam ayat diatas Alla ‘Azza wa Jalla mengajarkan kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketaatan dan adab agar menjadi wanita yang terjaga dan penuh kehormatan, terlebih lagi karena mereka berada dipusat pemerintahan dan pusat pembinaan di rumah yang akan melahirkan generasi pemimpin yang hebat dan beriman, mereka juga sebagai ummahatul mu'minin, mereka memiliki banyak berita mengenai nabi yang dibutuhkan oleh semua orang untuk mengenal prilaku nabi yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah qudwah yang agung. Dan sifat ummahatulmukminin ini menjadi contoh yang wajib diteladani bagi semua wanita beriman hingga akhir zaman supaya mengikuti jejak mereka dalam menta'ati Allah dan Rasul-Nya.
Khadijah Bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha
Nasab dan Kelahiran
Khadijah[5] merupakan keturunan dari bani asad, Ayah beliau adalah Khuwailid bin Naufal, yaitu pemimpin Bani Asad bin ‘Abdil ‘Uzza saudara kandung ‘Abdu Manaf sekaligus penggantinya, sehingga berakhir kepadanya keutamaan, kemuliaan, kedaulatan diantara kaum dan keluarganya, mereka mentaatinya dan segan kepadanya, menghormati pemikiran dan ketokohannya. Kaum Quraisy menyimpan momen keberaniannya ketika ia menghadapi raja yaman yang akan membawa hajar aswad ke negerinya, oleh sebab itu pula Quraisy mengangkatnya sebagai pemimpin dan tidak ada yang mau memperebutkan kepemimpinannya.
Khadijah memiliki saudara sepupu yang bernama Waraqah dan terkenal dengan kebijaksanaan dan kecerdasan pemikirannya, juga termasuk salah satu dari empat orang Quraisy yang bertengkar dalam pemberhalaan dan penyembahannya.
Khuwailid menikahi Fathimah binti Zaidah bin al-Ahmi al-Qurasyiyah [6] seorang wanita tercantik di Makkah yang memang para wanitanya kebanyakan memiliki wajah yang cantik nan cerah, kemudian lahirlah dari pernikahan tersebut sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha tahun 63 sebelum hijrah, parasnya mewarisi paras ibundanya yang cantik, juga mewarisi ketegaran dan kecerdasan ayahnya, serta mendapatkan pengetahuan dan kebijaksanaan dari pamannya.
Ummul-Mukminin Khadijah Radhiyallahu ‘anha
Perjalanan hidup sebelum menjadi istri Rasul
Khadijah radhiyallahu ‘anha tumbuh ditengah-tengah keluarga terpandang dan berkehidupan mewah, kendati demikian beliau memiliki akhlaq yang terpuji dan memiliki karakter tangguh, pintar dan ‘iffah (sederhana). Ketika mencapai usia 15 tahun, beliau di khitbah oleh Abu Halah bin Zurarah yang merupakan Muftinya kaum Bani Tamim yang paling kaya dan bergelimang harta. Kemudian mereka berkeluarga dan melahirkan dua anak perempuan yang bernama Halah dan Hindun, namun taqdir Allah mendahului, sang ayah meninggal sebelum kedua anak ini tumbuh dewasa, ia meninggalkan harta yang banyak melimpah.
Karena Khadijah terkenal dengan kebaikan dan ketinggian akhlaqnya maka banyak para pemuda yang berlomba untuk menikahi beliau dan ada salah seorang yang beruntung diantara mereka bernama ‘Atiq bin A’id al-Makhzumy, namun memang taqdir senantiasa mengintai, dan mautpun menjemput ‘Atiq sebelum mereka dikaruniai keturunan, ia meninggalkan harta kekayaan dan aset bisnis yang melimpah yang selanjutnya dikelola oleh Khadijah. Namun sebagian ada yang mengisahkan bahwa ‘Atiq bin A’id al-Makhzumy adalah suami Khadijah yang pertama, Allahu A’lam.
Ketenaran Khadijah radhiyallahu ‘anha pun tidak sebatas harta dan kecantikannya, namun lebih daripada itu beliaupun terkenal sebagai wanita pemberani hingga kisahnya sampai ke setiap pemudi dan ummahat, baik yang dekat ataupun jauh sehingga beliau dikenal dengan gelar thahirah[7]. Dan kelak beliau juga menjadi tangan pertolongan Ilahi dalam perjuangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Khadijah, beliaulah sayyidah Quraisy yang kelak menjadi perintis muslimah yang utama, ummulmukminin yang utama dan sayyidatunnisaail’alamin, seorang wanita pejuang yang penuh kesabaran.
Menikah dengan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagai seorang pebisnis besar, Khadijah pun memperluas bisnisnya hingga ke Syam, dan beliau mengetahui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pemuda yang tegar, kuat dan berakhlaq mulia, menjaga amanah lagi jujur, sederhana dan rendah hati. Itulah yang membuat sayyidah Khadijah menaruh kepercayaan kepada Baginda Nabi untuk menjalankan bisnisnya. Singkat cerita, berdasarkan kesepakatan antara Nabi dan Khadijah, maka kemudian Nabi Khuruj untuk berniaga dan mengembangkan bisnis Khadijah ke Syam, usia Nabi waktu itu menuju 25 tahun, beliau khuruz selama 14 malam di bulan dzulhijjah, beliau disertai seorang anak laki-laki, pesuruhnya Khadijah yaitu Maisarah. Setelah selesai dari berbisnis, Nabi kemudian kembali dengan membawa hasil yang berlimpah, Beliau dan Maisarah tiba di Makkah pada tengah hari, kemudian mendatangi Khadijah dan mengabarkan tentang bisnisnya di Syam memperoleh keuntungan yang besar, maka Khadijah merasa gembira dan bersuka cita, serta semakin tertarik dengan keperibadian Nabi ketika Maisarah menceritakan kejadian dengan rahib Nusthura.[8]
Tibalah waktu ketertarikan Khadijah untuk menikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau meminta sahabatnya Nafisah binti Munabbih[9] untuk menyampaikan maksudnya kepada Rasulullah. Dan gayung bersambut, Rasulullah pun menerima Khadijah, beliau merupakan wanita pertama yang dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menikah dengan Khadijah pada tahun ke 25 dari kelahiran Nabi, demikian menurut pendapat jumhur.[10] Saat itu beliau radhiyallaahu anha berusia 40 tahun yang merupakan seorang janda yang cukup lama ditinggal wafat suaminya.
Berangkatlah Nabi saw didampingi pamannya yaitu Hamzah radhiyallahu ‘anhu menemui Khuwailid bin Asad untuk melaksanakan khitbah kepada Khadijah[11] dengan mahar 20 ekor unta. Kemudian menikahlah Nabi saw dengan sayyidah Khadijah radhiyallaahu anha, dan Abu Thalib yang menyampaikan khutbah nikahnya.
Dzuriyat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Khadijah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki banyak keturunan selain dari Khadijah, kecuali Ibrahim yang meninggal ketika masih anak-anak yang merupakan keturunan dari Mariyah alQibthi, sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan:
وهي أم أولاده كلهم سوى إبراهيم فإنه من مارية [12]
"Beliau (Khadijah) adalah ibu dari seluruh anak-anaknya Nabi, kecuali Ibrahim, beliau dari Mariyah"
Adapun keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Khadijah radhiyallahu ‘anha yaitu:
1.AlQashim, beliau merupakan anak laki-laki Nabi yang paling besar dan meninggal ketika masih bayi. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipanggil AbulQashim. Mengenai hal ini dikisahkan dalam satu riwayat:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السُّوقِ فَقَالَ رَجُلٌ يَا أَبَا الْقَاسِمِ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّمَا دَعَوْتُ هَذَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمُّوا بِاسْمِي وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِي
dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berada dalam suatu pasar tiba-tiba ada seorang lelaki yang memanggil Beliau: "Wahai AbulQasim!", lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menoleh kepada orang itu, lalu dia berkata: "Aku yang memanggil dengan panggilan tadi". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Panggillah dengan menyebut namaku dan jangan memanggil dengan nama kunyahku (julukan)".
2.‘Abdullah, meninggal juga ketika masih bayi, dipanggil juga Thayyib dan Thahir, dipanggil demikian karena beliau lahir setelah nubuwah.
3.Zainab, beliau merupakan puteri sulung Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lahir ketika usia Nabi 30 tahun, artinya beliau lahir 10 tahun sebelum kenabian. Kemudian beliau dinikahi oleh Abul’Ash bin Ar-Rabi’ seorang laki-laki terpandang di Makkah dengan kemuliaan dan harta, ibunya yaitu Halah binti Khuwailid, saudarinya Khadijah radhiyallahu ‘anha. Beliau wafat pada tahun ke 8 dari hijrah.
4.Ruqayyah, puteri kedua Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menikahkan puterinya ini dengan ‘Utbah bin Abu Lahab dimasa jahiliyah, dan ketika Nabi diutus sebagai Rasul Allah, Abu Lahab menentang dengan keras hingga turun surat Al-Lahab, dan Abu Lahab menyuruh anaknya menceraikan Ruqayyah. Dan kelak Ruqayyah menikah dengan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Ruqayyah wafat tahun ke 2 dari hijrah.
5.Ummu Kultsum, beliau adiknya Ruqayyah, dipersunting oleh ‘Utaibah bin Abu Lahab yang merupakan adik kandungnya ‘Utbah, namun Ummu Kultsum belum disentuh sedikitpun oleh ‘Utaibah disebabkan ia telah menceraikannya. Dan kelak Rasulullah menikahkan Ummu Kultsum dengan ‘Utsman bin ‘Affan setelah wafatnya Ruqayyah, mereka menikah pada tahun ke 3 dari hijrah. Oleh sebab itu pula ‘Utsman bin ‘Affan dipanggil DzunNurain karena menikahi kedua puteri Rasulullah.[15] Beliau wafat tahun ke 9 dari Hijrah.
6.Fathimah, beliau sayyidatunisaail’alamin radhiyallahu ‘anha, puteri bungsunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lahir 5 tahun sebelum kenabian, beliau dinikahi oleh ‘Ali bin Abu Thalib di Madinah pada bulan DzulQa’dah tahun ke 2 setelah perang badar. Lahirlah dari rahimnya, generasi ahli surga yakni Al-Hasan, Al-Husain, Muhsin, Ummu Kultsum dan Zainab. Fathimah radhiyallahu ‘anha wafat setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. [16]
Permulaan wahyu AlQuran dan peran Khadijah
Khadijah radhiyallahu ‘anha yang pertama kali beriman dan membenarkan kerasulan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendampingi dan mendukung Nabi sepenuhnya, dapat kita temukan kisahnya dalam cukup banyak tarikh, sirah dan tafsir serta syarah hadits. Diantaranya terdapat dalam asbabunnuzul ayat-ayat AlQuran yang turun diawal periode Makkah, juga dalam hadits-hadits yang menerangkan permulaan turunnya wahyu. Beliau radhiyallahu ‘anha yang senantiasa mendukung, menguatkan dan menentramkan jiwa dan meringankan beban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kegelisahan memenuhi relung hati dan pikiran baginda Rasul, kisahnya kita dapati dalam hadits mengenai permulaan turunnya wahyu yang menjelaskan kronologis 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, Firman-Nya Ta’ala:
اِقْرَاۡ بِاسْمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿۱﴾ خَلَقَ الْاِنۡسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۚ﴿۲﴾ اِقْرَاۡ وَ رَبُّکَ الْاَكْرَمُ ۙ﴿۳﴾ الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ﴿۴﴾ عَلَّمَ الْاِنۡسَانَ مَا لَمْ یَعْلَمْ ؕ﴿۵﴾
Para mufassir menerangkan secara kronologis bahwa ayat-ayat ini turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di goa Hira sebagai wahyu AlQuran yang pertama turun, ketika Nabi sering melakukan tahannuts untuk mencari petunjuk dari Pemilik alam semesta. Menurut sebagian ahli sejarah, kejadian wahyu pertama turun di goa Hira ini terjadi pada tahun ke 41 dari kelahiran Beliau saw, diperkirakan bertepatan tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 6 agustus 610 M, ada juga yang mengatakan tahun 622 M, Wallaahu a'lam. Ini terjadi ketika Beliau terjaga dan sepenuhnya sadar[17] yang kemudian turun beberapa ayat dari surat al'Alaq. Itulah permulaan hari diantara hari-hari kenabian dan awal turunnya wahyu AlQuran.
Sebagaimana telah kita ketahui, ketika kegelisahan akan kejahiliyahan kaumnya terus menggelora, maka Nabi meminta izin kepada Khadijah untuk bertahannuts, dan Khadijahpun mendukung dan membantu beliau, menyiapkan perbekalan dengan penuh kasih sayang. Kemudian setelah Rasul mendapat wahyu pertama ini, beliau kembali kepada Khadijah dalam kondisi gelisah lalu menceritakan apa yang menimpa beliau, dikisahkan dalam hadits:
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ [18]
Kemudian Rasulullah kembali dengan membawa kalimat wahyu tersebut dalam keadaan hati gelisah. Beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid seraya berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi: "Aku mengkhawatirkan diriku". Maka Khadijah berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim, menolong yang susah, memberi kepada yang kekurangan, memuliakan tamu, membantu yang benar ", Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: "Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini". Waroqoh berkata: "Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami". Maka Rasulullah saw menceritakan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: "Dia lah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu". Rasulullah saw bertanya: "Apakah aku akan diusir mereka?" Waroqoh menjawab: "Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kau bawa ini kecuali akan dimusuhi. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga". Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu.
Demikian Khadijah beriman kepada kerasulan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa sedikitpun keraguan, terlukiskan bagaimana tenangnya seorang Khadijah dalam menguatkan dan menentramkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau memahami benar harus mengantarkan Nabi kepada Waraqah yang memahami alkitab demi mengokohkan dan menghilangkan keraguan dalam diri Nabi sebagai manusia pilihan Allah ‘Azza wa Jalla.
Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sirah Ibnu Hisyam dari riwayat Ibnu Ishaq, bahwa masuk Islamnya Khadijah mampu menghilangkan kesedihan Nabi :
وَكَانَتْ أَوَّلَ مَنْ آمَنَ باللَّه وَبِرَسُولِهِ، وَصَدَّقَ بِمَا جَاءَ مِنْهُ. فَخَفَّفَ اللَّهُ بِذَلِكَ عَنْ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَا يَسْمَعُ شَيْئًا مِمَّا يَكْرَهُهُ مِنْ رَدٍّ عَلَيْهِ وَتَكْذِيبٍ لَهُ، فَيُحْزِنُهُ ذَلِكَ، إلَّا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا إذَا رَجَعَ إلَيْهَا، تُثَبِّتُهُ وَتُخَفِّفُ عَلَيْهِ، وَتُصَدِّقُهُ وَتُهَوِّنُ عَلَيْهِ أَمْرَ النَّاسِ، رَحِمَهَا اللَّهُ تَعَالَى [19].
Dan Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan semua risalah yang datang kepada Nabi, maka dengan peran Khadijah itu, Allah meringankan beban Nabi-Nya, tidaklah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar sesuatu yang tidak disukai berupa penolakan dan pendustaan terhadap dirinya melainkan Allah melapangkan hati Nabi dengan Khadijah setiap kali Nabi kembali kepadanya, beliau selalu mengokohkan, menenangkan dan memudahkan Nabi dalam mengurusi perkara manusia, semoga Allah Ta’ala merahmati Khadijah.
Setelah wahyu pertama turun, Nabi masih mengalami kegelisahan dan keraguan karena wahyu terputus begitu saja, beliau kembali gelisah menanti AlHaq dari Rabb ‘Azza wa Jalla, dan rupanya kondisi demikian itu justru untuk menguatkan keyakinan Rasulullah terhadap kerasulannya, sehingga setiap kali Nabi merasa diabaikan Rabbnya, dan hendak menjatuhkan diri dari atas bukit, seketika itu pula Jibril menampakkan diri kepada beliau, sebagaimana dikisahkan:
أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ مِنْهُ نَفْسَهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ وَتَقِرُّ نَفْسُهُ فَيَرْجِعُ فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الْوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ. [20]
(Waraqah( meninggal dan wahyu berhenti beberapa lama hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedih. Berita yang sampai kepada kami, kesedihan yang beliau alami sedemikian rupa, hingga beliau beberapa kali hendak menjatuhkan diri dari puncak gunung, setiap kali beliau naik puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan: "hai Muhammad, sesungguhnya engkau sebenar-benarnya Rasul Allah". Ucapan Jibril ini menjadikan hati beliau lega dan jiwa nya tenang kemudian beliau pulang. Namun jika wahyu tidak turun seperti itu lagi, Nabi kembali terguncang, dan setiap kali ia naik puncak gunung untuk menjatuhkan diri lagi, Jibril menampakkan diri dan menguatkan Nabi kembali.
Sehingga sampai pada suatu hari Nabi melihat bayangan di langit yang mengikutinya, dan peristiwa ini mengantarkan Nabi untuk mendapatkan wahyu berikutnya, masih dikisahkan dalam hadits riwayat Bukhari yang sebelumnya:
أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ . فَحَمِيَ الْوَحْيُ [21]
Bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ceritakan: "Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malak yang pernah datang kepadaku di goa Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: "Selimuti aku..Selimuti aku". Kemudian Allah Ta'ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan."
Dan kembali Khadijah menenangkan dan meyakinkan beliau, hingga selanjutnya wahyu turun secara berkesinambungan dan Khadijah semakin mendukung dan menguatkan perjuangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Surat demi surat AlQuran turun memandu pejuangan dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan Khadijah, seiring berjalannya usia terus menguatkan perjuangan baginda terkasih, seluruh harta dan kasih sayang beliau serahkan demi perjuangan fii sabiilillaah. Sebagaimana diisyaratkan dalam AlQuran, Allah berfirman:
اَلَمْ یَجِدْکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶﴾ وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷﴾ وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغْنٰی ؕ﴿۸﴾
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan"
Sebagian ‘ulama tafsir memaknai bahwa Allah mencukupkan Nabi dengan harta Khadijah[23]. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam manusia agung terpilih, Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah meninggalkan beliau, tidak pernah murka kepadanya. Surat ini sebagai bantahan kepada kaum musyrikin atas anggapan mereka bahwa Allah meninggalkan Nabi, sekaligus sebagai penguat keyakinan bahwa kehidupan akhirat lebih baik karena kekal sedangkan dunia itu fana, oleh sebab itu Rasulullah pernah berkata : اللّهم لا عيش إِلا عيشُ الآخرة , "ya Allah, tiada kehidupan melainkan kehidupan akhirat". Allah Ta’ala akan segera memberikan balasan pahala di akhirat, kemuliaan dan syafaat. Allah senantiasa menjaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika yatim Allah jadikan kakek dan paman beliau sebagai pelindungnya, ketika kebingungan maka Allah berikan petunjuk yang terang, ketika kekurangan maka Allah mudahkan dengan jalan berniaga, dengan harta Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu bakar radhiyallahu ‘anhu[24].
Kesetiaan Khadijah menemani perjuangan Rasulullah, rela mengorbankan semua yang dimilikinya, tanpa ragu memberikan semua hartanya demi perjuangan dakwah Islam, tanpa ada keluhan yang keluar dari lisannya, melainkan hanyalah lisan yang lirih dan menyejukkan, menenangkan bagaikan tenangnya malam, pantas saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam begitu menyayangi dan mencintai beliau, bahkan karena peran Khadijah yang begitu besar , sepenuhnya selalu mendukung Nabi, sehingga cukup sering Nabi menyebu-nyebut keutaman Khadijah yang menyebabkan Aisyah cemburu, terdapat dalam salah satu riwayat hadits:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا حَسَدْتُ أَحَدًا مَا حَسَدْتُ خَدِيجَةَ وَمَا تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بَعْدَ مَا مَاتَتْ وَذَلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَّرَهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ مِنْ قَصَبٍ قَالَ إِنَّمَا يَعْنِي بِهِ قَصَبَ اللُّؤْلُؤِ [25]
Dari Aisyah dia berkata: "Aku tidak pernah iri terhadap seorang pun seperti keirianku terhadap Khadijah, dan tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menikahiku kecuali setelah wafatnya Khadijah, yang demikian itu karena beliau telah memberi kabar gembira kepadanya dengan rumah di surga yang terbuat dari permata, yang di dalamnya tidak ada teriakan dan keletihan."
Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan shahih. (perkataannya) dari qashab adalah qashabul lu`lu` (permata)."
Ibnu Hisyam pun mengisahkan dalam sirahnya :
أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أُقْرِئْ خَدِيجَةَ السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا خَدِيجَةُ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلَامَ مِنْ رَبِّكِ، فَقَالَتْ خَدِيجَةُ:
اللَّهُ السَّلَامُ، وَمِنْهُ السَّلَامُ، وَعَلَى جِبْرِيلِ السَّلَامُ.[26]
Bahwa Jibril ‘alaihissalam mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata: " Sampaikan kepada Khadijah salam dari Rabbnya". Kemudian Rasulullah menyampaikannya pada Khadijah: "wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Rabbmu", kemudian Khadijah berkata: "Allah AsSalam dan darinya lah keselamatan, serta salam kepada Jibril"
Itulah sosok wanita shalihah, tangguh dan menentramkan, bagaikan ketenangan malam yang selalu menyelimuti berisiknya siang, itulah isyarat dan sifat fitrah wanita sesungguhnya, sebagaimana disebutkan dalam AlQuran, Allah berfirman:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir".(Ar-Ruum:21)
Demikianlah seharusnya sosok seorang istri, selain penuh kasih sayang, juga menenangkan dan menentramkan jiwa suami. Perhatikanlah ayat diatas, kalam : لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا , sama dengan kalam yang berbicara tentang sifat malam yang menenangkan, Firman-Nya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوافِيهِ
"Dialah yang menjadikan malam bagimu supaya kamu tentram (beristirahat) didalamnya"(Yunus:67)
Wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha
Pada tahun ke7 dari kenabian atau tahun 616 M, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin diboikot oleh kaum Quraisy, ini dilakukan karena mereka selalu gagal dalam menghentikan dakwah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Langkah ini didasari perkembangan politik yang kian memanas dalam kurun waktu empat pekan saja, yaitu :
1. Hamzah dan Umar masuk islam.
2. Diplomasi menemui jalan buntu tatkala tawaran orang orang quraisy ditolak mentah mentah oleh Nabi.
3. Abu Thalib menghimpun keluarga besarnya untuk melindungi keluarga mereka dari ancaman yang ada dan didukung oleh Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib dan Bani Abdi Manaf, walaupun alasannya adalah ikatan kesukuan.
Maka orang orang qurasy berkumpul dan membuat kesepakatan bersama untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al Muthalib, yang isinya adalah :
1. Larangan untuk menikah, jual beli, berteman, berkumpul, memasuki rumah, berbicara dengan mereka.
2. Semua akan berakhir jika mereka mau menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.
Kemudian pengumuman ini mereka gantung di salah satu sudut Ka’bah. Pemboikotan berlangsung hingga 3 tahun karena Keluarga Bani Hasyim tidak bersedia menyerahkan Nabi Muhammad.
Sehingga dengan pemboikotan ini, Rasulullah dan kaum muslimin terisolasi dalam pengasingan dilembah bukit milik Abu Thalib, makanan, transportasi dan komunikasi dihentikan. Disaat ini Rasulullah dan Khadijah dengan kaum muslimin diuji dengan penderitaan dan cobaan berat dalam menjalani dakwah fii sabiilillaah. Sehingga mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit, bahkan terdengar tangisan anak-anak dan bayi di keseharian mereka karena lapar dan haus.
Khadijah yang dahulu bergelimang harta dan sangat berkecukupan, dengan tegar dan tangguh menemani dan mendampingi baginda Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kesempitan ini, beliau tetap tenang dan kokoh, setia membersamai suaminya terkasih dalam rintangan dakwah ini, namun demikian kondisi kesehatan khadijah mulai tertanggu dan menurun, hingga setelah pemboikotan dihentikan Khadijah jatuh sakit dan akhirnya wafat.
Menjadi tahun kesedihan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditinggal wafat Khadijah tercinta, di bulan Ramadhan tahun ke 10 dari kenabian, 3 tahun sebelum hijrah ke Yatsrib, Khadijah wafat di usia 65 tahun dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat itu di usia 50 tahun, beliau wafat sebelum turun perintah sholat wajib 5 waktu, ditahun itu juga Abu Thalib wafat, berturut-turut kesedihan menimpa baginda Nabi. Khadijah dimakamkan di makam Ma’lah di Makkah.
Demikian, sekelumit kisah dari peran Khadijah sebagai istri shalihah, wanita terbaik yang menyejukkan jiwa baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/4 abad hidup bersama Rasul, 10 tahun mendampingi rasul berdakwah, menjadi teladan sepanjang masa bagi para wanita yang mendambakan kehormatan dunia akhirat, yang akan melahirkan generasi terbaik sebagai tonggak peradaban dunia.
Semoga Allah merahmati Khadijah radhiyallahu ‘anha dan menempatkannya di tempat yang mulia.
Allahu a’lam bishshowab…
[1] فضائل الصحابة - أحمد بن حنبل - (ج 2 / ص 755( الترمذي (ت ٢٧٩)، سنن الترمذي ٣٨٧٨ (صحيح) أخرجه الترمذي (٣٨٧٨) واللفظ له، وأحمد (١٢٤١٤)
[2] QS. At-Tahrim:12
[3]QS. At-Tahrim:11
[4] QS. Al-Ahzab:31-34
[5] أُمُّ القَاسِمِ, خَدِيجَةُ ابْنَةُ خُوَيْلِدِ بنِ أَسَدِ بنِ عَبْدِ العُزَّى بنِ قُصَيِّ بنِ كِلاَبٍ القُرَشِيَّةُ الأَسَدِيَّةُ (سير أعلام النبلاء (3/ 408)) - خديجة ابنة خويلد بن أسد بن عبد العزى بن قصي بن كلاب بن مرة ابن كعب بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة (سيرة ابن اسحاق = السير والمغازي (ص: 82))
[6] فاطمة بنت زائدة بن الأصم بن الهرم بن رواحة بن حجر بن عبد معيص بن عامر بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة (أسد الغابة 5/434، سيرة ابن هشام 1/189، المعارف لابن قتيبة ص 79)
[7] Gelar : الطاهرة (wanita suci, sayyidah Quraisy), itu terjadi sebelum kenabian (Lihat: أسد الغابة 5/434، سير أعلام النبلاء 1/111 )
[8] Lihat : السيرة النبوية على ضوء القرآن والسنة
[9] Lihat : الرحيق المختوم
[10] Lihat : فتح الباري 7/167
[11] Lihat : البداية والنهاية 2/233ـ234
[12] Lihat: المنتظم 2/316 ، البداية والنهاية 5/223
[13] رواه البخاري 1977 كتاب البيوع ، باب/ما ذكر في الأسواق ، ورواه مسلم 3974،والترمذي 2768،وابن ماجه 3727،وأحمد 11771
[14] Lihat : البداية والنهاية 5/233
[15] Lihat : البداية والنهاية 5/223
[16] Lihat : ( سير أعلام النبلاء ط الحديث (3/ 417
[17] Lihat : السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي
[18] HR. Bukhari, no.3, HR.Muslim, no.231
[19] سيرة ابن هشام (1/ 240(
[20] HR. Bukhari, no. 6467
[21] HR. Bukhari, no. 3
[22] QS. Ad-Duha:6-8
[23] Lihat: السيدة خديجة أم المؤمنين – تأليف :عبد الحميد محمود طهاز
[24] Lihat : صفوة التفاسير, تفسير المراغي, لباب التأويل في معاني التنزيل, تفسير القرطبي
[25] HR. Tirmidzi, no.3811
[26] سيرة ابن هشام (1/ 241)

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik