17.6.21

 Mengapa Harus Menyucikan Jiwa?

Oleh: Den Herians

Sesungguhnya adab yang baik dan kesucian jiwa merupakan seagung-agungnya perkara agama yang harus melekat dan menjadi bagian dari diri manusia demi kebahagiaan hidup dan peradabannya, oleh sebab itulah kenapa Islam begitu mementingkan pensucian jiwa insani ini, sebab setiap manusia harus menjadi teladan minimal bagi keluarga dan anak-anaknya yang kelak akan menjadi penerus kebaikannya, berkesinambungan dari generasi kegenerasi, sebagaimana para salafushshālih dengan istiqāmah memberikan pengajaran, sehingga ilmu yang agung ini sampai kepada kita, maka menjadi tugas kita untuk meneruskan perjuangan mereka.

            Tazkiyatunnafs merupakan permulaan rukun diantara rukun-rukun agama, yakni Syahādah At-Tauhid yang memurnikan dan membersihkan diri dari berbagai macam sifat menuhankan sesuatu selain Allāh ‘Azza wa Jalla. Maka pensucian jiwa ini merupakan tuntutan dan tujuan dari Maqāsid Syāri’ah, yang dengannya Allāh ‘Azza wa Jalla menjadikan Islam sebagai cahaya penerang bagi hamba-hamba-Nya, yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, dari kejahiliyahan kepada Islam, dari kesempitan dunia kepada kelapangan dunia dan akhirat[1], yang akan berujung pada keberuntungan dan kebahagiaan. Mengenai hal ini Allāh Ta’ālā telah menjelaskan dalam AlQurān bagaimana kondisi orang yang senantiasa mensucikan jiwanya, Firman-Nya:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

" Demi jiwa serta penyempurnaannya, Maka Allāh mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi siapa yang mengotorinya" [2]

Demikian Allāh Ta’ālā  menerangkan dalam ayat diatas, yakni keberuntungan dan kebahagiaan yang akan diraih, yaitu bagi orang yang senantiasa menyucikan jiwanya. Sedangkan bagi siapa yang selalu tenggelam dalam kekotoran jiwa maka kerugianlah yang akan menimpanya.

Dalam ayat yang lain Allāh Ta’ālā menegaskan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)  

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia shalat".[3]

            Para Nabi ashsholātu wassalāmu ‘alaihim ajma’iin, dalam dakwahnya mereka menyeru kepada tazkiyatunnafs, sebagaimana diantaranya adalah Nabi Musa ‘alaihissalām yang diperintahkan untuk menyeru Fir’aun agar membersihkan jiwanya, Firman-Nya Ta’ālā :

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19)

"Maka katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?, dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?". [4]

Dan sebagaimana Allāh Ta’ālā menerangkan dalam AlQuran bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun diantaranya diutus untuk menyerukan tazkiyatunnafs, Allāh Ta’ālā berfirman :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

" Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan(tazkiyah) mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah, dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata," [5]

Oleh sebab itu tazkiyatunnafs harus menjadi bagian dari mujāhadahnya setiap muslim, terlebih lagi bagi para aktivis dakwah dan mu’allimiin, sebab mereka adalah para penjaga lisan dan hati yang akan memelihara generasi, tak ubahnya bagaikan air yang mengaliri tanaman. Dan mereka merupakan penopang pendidikan dan peradaban. Mereka wajib mengajarkan tazkiyatunnafs dan memberi keteladanan dalam perjuangannya, menyampaikan bagaimana tazkiyatunnafs akan mengantarkan seorang hamba pada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, berupa masa depan yang penuh kegembiraan dengan balasan pahala dan derajat yang tinggi di Sisi-Nya disertai nikmat yang tiada henti-hentinya, sebagaimana Allāh Ta’ālā berfirman:

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى (75) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى (76)

" dan siapa yang datang kepada Tuhannya dalam Keadaan beriman, lagi bersungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang Tinggi, (yaitu) jannatu 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan bagi orang yang mensucikan jiwa". [6]

tazkiyatunnafsYaitu orang yang mensucikan dirinya dari perbuatan kotor dan keji, dari kemaksiyatan dan kesyirikan dengan cara beribadah kepada Allāh tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mereka senantiasa mengikuti ajaran Rasul-Nya.

Demikian betapa pentingnya penyucian jiwa, bahkan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan agar ummatnya membiasakan berdo’a kepada Allāh agar diberikan jiwa yang taqwa dan suci, sebagaimana Beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

"…Wahai Allāh, karuniakanlah ketakwaan pada jiwaku, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya…" [7]

            Maka siapa saja yang mengharapkan perjumpaan dengan Allāh ‘Azza wa Jalla dan meraih kebahagiaan yang kekal, hendaklah ia berjuang untuk membersihkan jiwanya, menjauhkan diri dari kemusyrikan dan kemaksiyatan,  sehingga ia kembali kepada-Nya dengan membawa hati yang suci, sebagaimana Allāh ‘Azza wa Jalla berfirman :

اِلَّا مَنْ اَتَی اللہَ  بِقَلْبٍ سَلِیۡمٍ

"kecuali orang-orang yang menghadap Allāh dengan hati yang bersih"[8]

            Hanya kepada-Nya kita memohon taufiq, pertolongan dan bimbingan yang lurus, agar senantiasa berada dalam kesucian lahir dan batin, berjalan diatas agama dan syari’at yang lurus hingga berakhir dalam keridhoan-Nya




[1]   Lihat :
تزكية النفس- شيخ الإسلام أبو العباس أحمد بن عبد الحليم ابن تيمية الحراني(13)

[2] QS. Asy-Syams:7-10

[3] QS. Al-A’lā :14-15

[4] QS. An-Nāzi’āt : 18-19

[5] QS. Al-Jumu’ah : 2

[6] QS. Thāhā : 75-76

[7] HR. Muslim, no.4899

[8] QS. Asy-Syu’arā: 89

 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik