Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Menyucikan Jiwa

Mengapa Harus Menyucikan Jiwa?

Sesungguhnya adab yang baik dan kesucian jiwa merupakan seagung-agungnya perkara agama yang harus melekat serta menjadi bagian dari diri manusia demi kebahagiaan hidup dan peradabannya. Oleh sebab itulah Islam begitu mementingkan penyucian jiwa insani ini. Setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan, minimal bagi keluarga dan anak-anaknya yang kelak akan meneruskan kebaikan tersebut secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Sebagaimana para salafusṣāliḥ dengan istiqamah memberikan pengajaran hingga ilmu yang agung ini sampai kepada kita, sudah menjadi tugas kita pula untuk meneruskan perjuangan mereka.

Tazkiyatunnafs merupakan permulaan dari rukun-rukun agama, yakni syahadah tauhid yang memurnikan dan membersihkan diri dari berbagai macam sifat menuhankan sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla. Penyucian jiwa ini adalah tuntutan serta tujuan dari maqāṣid syarī‘ah. Dengannya, Allah menjadikan Islam sebagai cahaya penerang bagi hamba-hamba-Nya, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahliyahan menuju Islam, serta dari kesempitan dunia kepada kelapangan dunia dan akhirat[1], yang pada akhirnya bermuara pada keberuntungan sejati.

Mengenai hal ini, Allah Ta‘ālā telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bagaimana kondisi orang yang senantiasa mensucikan jiwanya:
Penjelasan ini menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki tidak akan pernah tercapai tanpa adanya upaya sadar untuk membersihkan batin dari noda kemaksiatan dan kecintaan berlebihan pada dunia.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

"Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi siapa yang mengotorinya." [2]

Demikian Allah menerangkan bahwa keberuntungan dan kebahagiaan mutlak akan diraih oleh mereka yang senantiasa menyucikan jiwanya, sementara kerugian menanti bagi siapa saja yang tenggelam dalam kekotoran jiwa.

Dalam ayat yang lain, Allah Ta‘ālā menegaskan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia salat." [3]

Para nabi 'alaihimus-salām dalam setiap dakwahnya senantiasa menyeru kepada tazkiyatunnafs. Di antaranya adalah Nabi Musa ‘alaihissalām yang diperintahkan untuk mengajak Fir’aun membersihkan jiwanya, sebagaimana firman-Nya:

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19)

"Maka katakanlah (kepada Fir'aun): Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri?, dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?" [4]

Begitu pula Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyerukan hal yang serupa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab serta hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata." [5]

tazkiyatunnafs

Oleh sebab itu, tazkiyatunnafs harus menjadi bagian dari mujahadah setiap muslim...
Terkhusus bagi para pegiat kebaikan dan pendidik, penjagaan hati menjadi kunci utama agar keteladanan yang disampaikan dapat menyentuh jiwa para penerus generasi dengan tulus.

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى (75) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى (76)

"Dan siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi bersungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi, (yaitu) surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan bagi orang yang menyucikan jiwa." [6]

Penyucian diri ini dilakukan dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun serta senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah. Bahkan, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajarkan umatnya agar senantiasa memohon ketakwaan jiwa melalui doa:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

"…Wahai Allah, karuniakanlah ketakwaan pada jiwaku, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik zat yang dapat menyucikannya…" [7]

Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah ‘Azza wa Jalla serta mendambakan kebahagiaan abadi, hendaklah ia berjuang membersihkan hatinya dari kemusyrikan dan maksiat, agar kembali kepada-Nya dengan hati yang selamat:

اِلَّا مَنْ اَتَی اللہَ بِقَلْبٍ سَلِیۡمٍ

"Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." [8]

Hanya kepada-Nya kita memohon taufik, pertolongan, dan bimbingan agar senantiasa berada dalam kesucian lahir dan batin, istikamah di atas syariat yang lurus hingga akhir hayat dalam keridaan-Nya.

📚 Catatan Kaki

[1] Lihat: تزكية النفس- شيخ الإسلام أبو العباس أحمد بن عبد الحليم ابن تيمية الحراني

[2] QS. Asy-Syams: 7-10

[3] QS. Al-A’lā: 14-15

[4] QS. An-Nāzi’āt: 18-19

[5] QS. Al-Jumu’ah: 2

[6] QS. Thāhā: 75-76

[7] HR. Muslim, no. 4899

[8] QS. Asy-Syu’arā: 89

Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik