Secara bahasa Tazkiyah bermakna : الطَّهَارَةُ (suci,bersih), النَّمَاءُ (pertumbuhan), dan الزِّيَادَةُ (tambahan). Sebagaimana Allāh Ta’ālā berfirman :
قَدْ اَفْلَحَ مَنۡ تَزَکّٰی [الأعلى: 14]
Dan dalam ayat lain :
قَدْ اَفْلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ [الشمس: 9]
Lafazh tazakkā dan zakkā dalam ayat diatas bermakna التَّطَهُّرُ , yakni mensucikan, membersihkan. Oleh sebab itu "shadaqatulmāl" disebut dengan zakat, karena ia mensucikan dan membersihkan harta dengan cara menunaikan hak Allāh, yakni mengeluarkan harta dijalan Allāh[1]. Dan asal makna kata zakat (الزكاة) yaitu: الزِّيَادَةُ فِي الخَيرِ , yakni bertambah dalam kebaikan. Dan makna yang dimaksud ayat diatas yaitu :
أَنَّ مَن سَعَى فِي تَزكِيَةِ نَفسِهِ ، وَإِصلَاحِهَا، وسُمُوِّهَا بِالاِستِكثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَالخَيرَاتِ، وَالاِبتِعَادِ عَنِ الشُّرُورِ وَالسَّيِّئَاتِ تَحَقَّقَ فَلَاحُهُ.
Bahwa orang yang bersungguh-sungguh berusaha membersihkan jiwanya, memperbaiki diri dan menaikkan derajatnya dengan memperbanyak melakukan ketaatan dan kebaikan serta menjauhi segala keburukan dan dosa maka telah pasti keberuntungannya.[2]
Adapun tazkiyatunnafs menurut istilah yaitu :
إِصلَاحُ النُّفُوسِ وَتَطهِيرُهَا، عَن طَرِيقِ العِلمِ النَافِعِ وَالعَمَلِ الصَّالِحِ، وَفِعلِ المَأمُورَاتِ وَتَركِ المَحظُورَاتِ.
Perbaikan dan pensucian jiwa, yang ditempuh melalui ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih serta mengerjakan perintah-perintah Allāh dan meninggalkan semua larangan(Nya).
Dalam salah satu hadits, Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan makna tazkiyatunnafs ketika ada seseorang yang bertanya kepada Beliau :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ: مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ، وَلَمْ يُعْطِ الْهَرِمَةَ وَلَا الدَّرِنَةَ وَلَا الْمَرِيضَةَ وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بِشَرِّهَا، وَزَكَّى نَفْسَهُ " , فَقَالَ رَجُلٌ: وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ؟ فَقَالَ: أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ. المعجم الصغير للطبراني (1/ 334) وصححه الألباني في ((الصحيحة)) ح (1.46)
Sesungguhnya Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Ada tiga perkara, siapa yang mengamalkannya maka sungguh ia telah merasakan lezatnya iman, yaitu : siapa yang beribadah kepada Allāh ‘Azza wa Jalla semata karena tiada Ilah selain Dia, dan setiap tahun ia menunaikan zakat hartanya dengan penuh kesadaran jiwa, dan tidak memberi hewan yang sudah tua dan ompong lagi sakit, akan tetapi tunaikanlah harta kalian yang pertengahan, karena sesungguhnya Allāh tidak meminta kepada kalian harta terbaik kalian dan tidak juga menyuruh kalian memberikan harta yang terburuk, dan (yang ketiga) ia yang mensucikan jiwanya", kemudian seseorang bertanya: "dan apa itu tazkiyatunnafs?", Lalu Rasul menjawab : "Adalah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allāh ‘Azza wa Jalla bersamanya kapan dan dimana saja ia berada".[4]
Dalam hadits ini, Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam memasukkan tazkiyatunnafs menjadi salah satu bagian yang menjadi sebab seseorang merasakan lezatnya iman, dan Beliau pun menerangkan bahwa attazkiyah merupakan salah satu tingkatan dari sifat ihsan yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, yakni seseorang beribadah kepada Allāh dan merasakan bahwa Allāh senantiasa melihat dan mengawasinya baik ia dalam keadaan tersembunyi ataupun terang-terangan, dan merasakan bahwa Allāh mengetahui apa yang dia sembunyikan ataupun dia nyatakan, bahwa tiada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya.[5]
Mengapa harus mensucikan jiwa?
Nafs (jiwa), yang mana manusia berada diantara kedua sisinya merupakan perkara yang agung dan memiliki urusan yang besar, oleh karena itu Allāh ‘Azza wa Jalla dalam surat AsySyams bersumpah terhadap jiwa manusia dan mendahului sumpah-Nya dengan menyebutkan satu persatu diantara makhluq-makhluq-Nya yang besar yang menunjukkan Keagungan-Nya :
بِسْمِ اللہِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِیۡمِ
وَ الشَّمْسِ وَ ضُحٰہَا ۪ۙ﴿۱﴾ وَ الْقَمَرِ اِذَا تَلٰىہَا ۪ۙ﴿۲﴾ وَ النَّہَارِ اِذَا جَلّٰىہَا ۪ۙ﴿۳﴾ وَ الَّیۡلِ اِذَا یَغْشٰىہَا ۪ۙ﴿۴﴾ وَ السَّمَآءِ وَ مَا بَنٰہَا ۪ۙ﴿۵﴾ وَ الْاَرْضِ وَ مَا طَحٰہَا ۪ۙ﴿۶﴾ وَ نَفْسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿۷﴾ فَاَلْہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقْوٰىہَا ۪ۙ﴿۸﴾ قَدْ اَفْلَحَ مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿۹﴾ وَ قَدْ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ۱۰﴾
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allāh mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya".
Sumpah-Nya menunjukkan betapa sangat penting dan harus menjadi perhatian besar semua manusia terhadap apa yang telah Dia sebutkan dalam Sumpah-Nya, bagaimana Allāh menyebutkan dua sisi dari jiwa manusia dengan kefasikan dan ketakwaan yang disusul dengan penegasan keberuntungan dan kerugian yang akan didapat.
Sisi gelap manusia diungkapkan dengan lafazh : دَسّٰىہَا , yang makna asalnya diambil dari kata التَّدسِيَّةُ yaitu الإِخفَاءُ (tersembunyi), maka pelaku maksiyat telah menghilangkan jiwanya yang mulia dengan berbuat dosa, menguburnya dengan kerendahan dan kehinaan, dia menghancurkan dan membinasakan jiwanya yang baik dengan perbuatan-perbuatan tercela, maka jadilah ia jiwa yang cacat, binasa dan tiada berharga, terpuruk dan merugi. Wal’iyādzubillāh.
Maka ayat diatas menunjukkan urgensi dan arti penting tazkiyatunnafs bagi seorang hamba, agar ia memperhatikan dirinya, bahwa kesuksesan, kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki adalah bergantung kepada kesucian jiwanya. Sedangkan kehinaan disebabkan dari kekotoran jiwanya.
Jiwa-jiwa yang mulia dan terhormat, tidak akan pernah ridhā dengan berbagai hal kecuali bila hal tersebut akan membawanya kepada derajat yang tinggi, membawanya kepada keutamaan dan balasan yang terpuji di Sisi-Nya. Dia takkan pernah ridhā dengan kezhaliman, kemaksiyatan, pengkhianatan dan semua hal yang akan menghancurkan kesuciannya.
Sebagaimana telah disinggung di muqaddimah bahwa tazkiyatunnafs merupakan rukun awal diantara rukun-rukun agama, yakni SyahādatutTauhid yang akan memurnikan dan membersihkan diri dari berbagai macam sifat menuhankan sesuatu selain Allāh ‘Azza wa Jalla, sehingga pensucian jiwa ini merupakan tuntutan dan tujuan dari Maqāsid Syāri’ah. Maka tiada jalan lain untuk sampai pada kesucian jiwa kecuali dengan mengikuti tuntunan Syari’at Allāh ‘Azza wa Jalla. Dalam hal ini Ibnul Qayyim rahimahullāh berkata : "Tazkiyatunnafs, yakni mensucikan dan mengobati jiwa, itu lebih sulit daripada mengobati dan menyembuhkan badan, maka siapa yang mensucikan jiwanya dengan melakukan riyādhah(melatih diri), mujāhadah dan berkhalwat (menyepi) dengan cara yang bukan datang dari ajaran para Rasul Allāh, tak ubahnya seperti orang yang sakit yang dia berusaha menyembuhkannya berdasarkan pendapatnya sendiri, bagaimana bisa ia mengetahui pendapatnya itu tepat dengan pengetahuan dokter?. Maka Rasulullāh adalah seumpama dokter bagi qalbu, tiada jalan yang dapat ditempuh untuk mensucikan dan memperbaiki jiwa kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh para Rasul, berdasarkan petunjuk mereka dengan memurnikan ketaatan dan kepatuhan kepada mereka".[7]
Dengan demikian, maka wajibnya tazkiyatunnafs bagi setiap hamba adalah untuk melindungi dirinya dari kemaksiyatan, dan agar ia memacu dirinya hingga sampai kepada tujuan yang luhur demi kemuliaan dan kehormatannya, keberuntungan dunia dan akhiratnya, untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.
Pentingnya Tazkiyatunnafs Bagi Aktivis Dakwah
Sebagaimana telah disebutkan diatas mengenai urgensi pensucian jiwa bagi setiap hamba, maka terlebih lagi bagi para aktivis dakwah, karena mereka akan menjadi suri teladan bukan hanya dilingkungan pendidikan saja , melainkan dimana saja mereka berada akan turut mewarnai sekitarnya. Maka tazkiyatunnafs harus menjadi bagian dari mujāhadahnya, sebab para aktivis dakwah adalah para penjaga lisan dan hati yang akan memelihara generasi, bagaikan air yang mengaliri tanaman. Mereka merupakan bagian dari penopang pendidikan[8] dan peradaban. Maka tazkiyatunnafs akan membentuk akhlaq dan jiwa aktivis dakwah.
Guru dan aktivis dakwah merupakan sosok yang menjadi figur atau tokoh bagi objek dakwah, mereka akan cenderung meniru serta meneladaninya, oleh karena itulah para pengajar akan disifati dengan ilmu yang akan mengajaknya untuk menetapi akhlaq dan amal yang shalih, dan mereka harus menjadi sebenar-benarnya dan sepantas-pantasnya manusia, sebab mereka berbeda dengan yang lain karena ilmunya, terutama sebagai qudwah(contoh teladan) bagi yang lainnya. Maka jika para aktivis dakwah berada diatas kemuliaan ini, tentu pengajaran mereka pun akan membekas terhadap mad’unya , dibawah pengajaran dan qudwahnya yang akan membawa tabi’at berada diatas kemuliaan akhlaq yang kokoh, semangat yang teguh dan agama yang benar.
Sesungguhnya ahluddakwah takkan sanggup mendidik dan mengantarkan murid-muridnya kepada berbagai fadhilah, kecuali bila dirinya pun memiliki fadhilah, dan takkan sanggup memperbaiki dan menshalihkan mereka, kecuali jika dirinya pun shalih, sebab murid-murid akan mengambil darinya lebih banyak keteladanan dan contoh daripada mengambil perkataan dan teorinya[9]. Maka pantaslah Allāh mengancam ahli ilmu yang hanya sebatas teori dan tidak menjadi qudwah, Firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفْعَلُوۡنَ ﴿۲﴾ کَبُرَ مَقْتًا عِنۡدَ اللہِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفْعَلُوۡنَ ﴿۳﴾
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?, amat besar kebencian di sisi Allāh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan".[10]
Dengan demikian maka tazkiyatunnafs adalah program sepanjang hayat dalam pembentukan ruhiyah yang taat kepada Rabb ‘Azza wa Jalla, yang sejatinya setiap orang memiliki tanggung jawab besar dalam melaksanakan penyucian jiwa ini.
[1] Lihat : تزكية النفوس و تربيتها كما يقرره علماء السلف (ص:12)
[2] Lihat muqaddimah : عشر قواعد في تزكية النفس
[3] Lihat : معالم في السلوك وتزكية النفوس (ص: 57 )
[4] Ibid. [ HR. Thabrani, dalam AlMu’jam AshShaghir, no.555, Syaikh AlBani mensahihkannya ]
[5] Jāmi’ul ‘Ulūm walHikam (1/128-129)[lihat footnote : معالم في السلوك وتزكية النفوس , hal:58]
[6] Lihat muqaddimah : عشر قواعد في تزكية النفس
[7] Lihat : معالم في السلوك وتزكية النفوس(ص:59)
[8] Lihat muqaddimah : مع المعلمين
[9] Lihat : ( مع المعلمين (ص: 21، بترقيم الشاملة آليا

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik