28.10.17

gbr. Integritas Muhammad saw
Muhammad saw dan Integritas Islam
Oleh : Den Herians        
Beliau adalah Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abdil Muththalib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu-ay bin ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin 'Adnan.[1]
Beliau adalah Rasulullah saw penutup para nabi, tiada lagi nabi setelahnya sebagaimana Beliau saw bersabda :
مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا، وَيَقُولُونَ: لَوْلَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ - قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ، جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ» [2]
"Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumnya adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun rumah, kemudian ia menyempurnakan bangunannya dan melengkapinya kecuali satu sudut yang belum terpasang satu batu bata, kemudian orang-orang masuk kerumah tersebut dan terkagum-kagum, mereka berkata: 'Seandainya saja...ada satu batu bata terpasang'. Nabi saw bersabda :"Maka aku lah satu batu bata itu, aku datang menutup para nabi". (H.R. Muslim).
Dari sabda nabi saw tersebut dapat kita fahami dengan mudah, bahwa kata "khatam" tepat dimaknai sebagai "penutup" untuk menyempurnakan, maka jika ada yang mengaku nabi setelah Muhammad saw, memang mau disimpan dimana lagi?, sementara tidak ada satu sudut pun yang masih kosong?.
Adapun menurut para ahli ilmu, perumpamaan ini di istilahkan dengan Tasybih Tamtsil, menyerupakan para nabi (yang mana mereka diutus untuk membimbing manusia kepada kemuliaan akhlaq) dengan sebuah rumah yang sudah megah bangunannya hanya tersisa tempat kosong untuk satu bata saja, maka Nabi Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq, seolah-olah beliau saw adalah satu batu bata yang menjadikan bangunan rumah tersebut menjadi sempurna.
Adapun hari kelahiran Nabi saw yaitu pada tahun gajah (عام الفيل), yakni tahun dimana Abrahah melakukan upaya kejahatan untuk menyerang Makkah dan menghancurkan Ka'bah, yaitu pada hari senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal bertepatan dengan tahun 571 M [3], beliau saw lahir dalam keadaan yatim, ditinggal wafat ayahnya yaitu 'Abdullah ketika 2 bulan usia kandungan ibunda, kemudian dirawat dan diurus oleh kakeknya yaitu 'Abdul Muthalib, dan disusui (sebagaimana kebiasaan masyarakat arab pada waktu itu) kepada seorang wanita dari bani Sa'ad bin Bakr yang dipanggil dengan Halimah binti Abi Duaib. [4]
Para periwayat sirah nabawiyah mengisahkan bahwa wilayah bani Sa'ad pada waktu itu sedang menderita kemarau, bahkan air susu ternak pun kering begitu juga pertanian, kecuali ditempat Halimah yang mana Nabi Muhammad saw tinggal disana, asi dari Halimah pun melimpah begitu juga sekeliling ladangnya subur dan hijau sehingga kambing-kambingnya pun merasa nyaman dan kembali dengan kelenjar asi yang penuh. Sungguh keberadaan Muhammad saw ditengah-tengah padang pasir bani Sa'ad membawa keberkahan tersendiri. Kemudian setelah beliau saw mencapai usia 5 tahun, dikembalikanlah kepada ibu kandungnya. Namun baru satu tahun bersama ibunda ketika beliau saw mencapai usia 6 tahun, ibunda beliau yaitu Aminah wafat, kemudian beliau saw dirawat dan dilindungi oleh kakeknya yaitu 'Abdul Muththalib yang juga kemudian wafat ketika Beliau saw berusia 8 tahun, kemudian beliau saw tinggal bersama pamannya yaitu Abu Thalib.
Kemudian ketika usia beliau saw genap 12 tahun, berangkatlah bersama pamannya dan rombongan melakukan perjalanan ke negeri Syam[5] untuk berbisnis.
Ketika kafilah ini tiba di wilayah syam dan singgah di suatu daerah yang bernama Bushra, mereka bertemu dengan rahib (pendeta) yang biasa dipanggil Bahira/Buhaira ( بحيرا ), yaitu  seorang yang mengetahui Injil, dan ahli dalam perkara agama nashrani. Singkat cerita... tertujulah pandangan Buhaira kepada Nabi saw, dia memperhatikan dan mengajak Nabi saw berbicara, kemudian dia berpaling kepada Abu Thalib dan berkata :
مَا هَذَا الغُلَامُ مِنكَ؟
Apa ini anakmu?...
Kemudian Abu Thalib menjawab : ابني  (Anakku)[6].
Buhaira:
مَا هُوَ بِابنِكَ وَمَا يَنبَغِي أَن يَكُونَ أَبُو هَذَا الغُلَامِ حَيًّا
Dia bukan anakmu dan bukankah seharusnya yang menjadi ayah anak ini masih hidup?
Abu Thalib menjawab : هُوَ اِبنُ أَخِي  
(Dia anak saudaraku).
Buhaira : فَمَا فَعَلَ أَبُوهُ؟  
(Apa yang dikerjakan ayahnya?).
Abu Thalib : مَاتَ وَأُمُّهُ حَبلَى بِهِ 
(Meninggal disaat ibunya mengandungnya).
Buhaira :
 صَدَقتَ فَارجِع بِهِ إِلَى بَلَدِهِ وَاحذَر عَلَيهِ يَهُودَ فَوَ اللهِ لَئِن رَأَوهُ هُنَا لَيُبَلِّغَنَّهُ شَرًّا، فَإِنَّهُ كَائِنٌ لِابنِ أَخِيكَ هَذَا شَأنٌ عَظِيمٌ.
Engkau benar, sebaiknya kembalilah dengannya ke negeri asalnya dan berhati-hatilah atasnya terhadap Yahudi, maka demi Allah kalau mereka melihatnya disini, pasti mereka akan berusaha keras untuk menimpakan keburukan, sesungguhnya itu yang akan terjadi kepada anak saudaramu itu, ini adalah perkara yang besar.
Kemudian Abu Thalib bergegas kembali ke Makkah bersama Nabi saw...
Selanjutnya sampailah usia Nabi saw sebagai  pemuda, beliau mulai bekerja untuk menjemput rizqi, beliau memulai bekerja sebagai penggembala kambing [7]. Sungguh Allah Ta'ala memelihara beliau saw dari rusaknya pergaulan dan ke-sia-siaan masa mudanya.  Kemudian Nabi saw mulai berniaga mengembangkan bisnis milik Khadijah Radhiyallaahu anha, beliau adalah sayyidah yang kaya raya lagi terhormat, dan bisnisnya meluas hingga ke Syam. Saat usia Nabi saw mencapai sekira 20 tahun, beliau tumbuh menjadi seorang pemuda yang tegar, kuat dan berakhlaq mulia, menjaga amanah lagi jujur, sederhana dan rendah hati. Itulah yang membuat sayyidah Khadijah menaruh kepercayaan kepada Nabi saw untuk menjalankan bisnisnya. Singkat cerita...berdasarkan kesepakatan antara Nabi dan Khadijah, maka kemudian Nabi saw Khuruj untuk berniaga ke syam dan usia Nabi menuju 25 tahun, beliau khuruz 14 malam dari bulan dzulhijjah, beliau disertai seorang anak laki-laki, pesuruhnya Khadijah yaitu Maisarah, kemudian tibalah di pasar Bushra dan pasar Hubasyah, dalam riwayat lain di Tahamah, beliau saw bernaung dibawah pohon disekitar pasar Bushra yang berdekatan dengan tempat menyepi seorang rahib (pendeta nashrani) yang disebut Nusthura (نسطورا ), kemudian Ia bertanya kepada Maisarah :
يَا مَيسَرَةُ مَن هَذَا الَّذِي نَزَلَ تَحتَ هَذِهِ الشَّجَرَةِ ؟
"Hai Maisarah, siapakah yang berada di bawah pohon itu?
Maisarah menjawab :
رَجُلٌ مِن قُرَيشٍ مِن أَهلِ الحَرَمِ
" Dia seorang yang berasal dari kaum Quraisy dari penduduk tanah haram"
Rahib tersebut berkata lagi :
مَا نَزَلَ تَحتَ هَذِهِ الشَّجَرَةِ- وَفِي رِوَايَةٍ بَعدَ عِيسَى- إِلَّا نَبِيٌّ !!.
" Tidaklah bernaung dibawah pohon itu -dan dalam satu riwayat- setelah 'Isa as-  kecuali dia adalah seorang Nabi!"
Selanjutnya setelah selesai dari berbisnis, Nabi saw kemudian kembali dengan membawa hasil yang berlimpah, Beliau saw dan Maisarah tiba di Makkah pada tengah hari, kemudian mendatangi Khadijah dan mengabarkan tentang bisnisnya di Syam memperoleh keuntungan yang besar, maka Khadijah merasa gembira dan bersuka cita.[8]
Demikianlah kepiawaian Nabi saw dalam berbisnis, hingga Beliau meraih kesuksesan.
Sampaihlah Nabi saw di usia 25 tahun, kemudian Beliau menikahi Khadijah binti Khuwailid, sebagaimana diketahui..Khadijah adalah seorang wanita Quraisy terhormat, beliaulah seutama-utamanya wanita, memiliki pemikiran arif bijaksana dan berakhlaq mulia, dermawan lagi hartanya melimpah. Saat itu Beliau Radhiyallaahu anha berusia 40 tahun yang merupakan seorang janda yang ditinggal wafat suaminya yaitu Abu Halah. Berangkatlah Nabi saw di dampingi pamannya yaitu Hamzah untuk melakukan khitbah kepada Khadijah. Menikahlah Nabi saw dengan sayyidah Khadijah radhiyallaahu anha, dan Abu Thalib yang menyampaikan khutbah nikahnya. Mereka di karuniai beberapa anak, dan salah satunya meninggal yang laki-laki yaitu Ibraahim.
Ketika tiba masa Nabi saw pada usia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk merenovasi Ka'bah, dan mereka bermaksud membuat atap yaitu dari batu-batu yang disusun, kemudian sampailah kepada satu sudut untuk tempat hajar aswad, dan masing-masing kabilah merasa berhak untuk menempatkan hajar aswad tersebut sehingga terjadilah pertikaian, dan mereka melihat bahwa Muhammad adalah seorang yang terpercaya... kemudian Nabi saw memberikan solusi yang terbaik dengan membawa kain kemudian diletakanlah hajar aswad, dan setiap kabilah dipersilahkan memegang tiap sisi kain tersebut hingga sampailah ke tempat hajar aswad akan diletakkan. Maka semua kabilah merasa gembira. Dengan demikian Nabi saw berhasil menghentikan pertikaian antar kabilah quraisy, maka Beliau saw sesungguhnya sebelum diangkat sebagai rasulpun Beliau saw telah memiliki sifat Rahmatan lil'aalamiin.[9]
Atas reputasi Nabi saw yang dikenal sebagai al-amin (yang jujur terpercaya) sehingga beliau saw termasuk yang dijadikan saksi dalam sebuah perjanjian yang dinamakan hilful fudhul (حلف الفضول) [10], dinamakan demikian karena perjanjian ini dihadiri oleh orang-orang terkemuka yang memiliki keutamaan...
          Tiba lah Nabi saw di usia 40 tahun, dan seolah dunia pada waktu itu berada di tepi jurang neraka, orang-orang banyak melakukan penyimpangan syari'at. Sampailah Nabi saw merasakan kegelisahan terhadap apa yang beliau saksikan berupa kejahiliyahan, bagitu merebaknya khurafat, takhayul dan penyembahan berhala-berhala. Beliau saw sangat ingin adanya bimbingan dan petunjuk dari yang menciptakan langit dan bumi ini. Maka beliau saw lebih suka menyendiri dari keramaian masyarakat jahiliyah, sampai akhirnya beliau keluar dan menjauh dari Makkah, Beliau menjauh dari rumah-rumah, sehingga tidaklah beliau melewati batu-batu dan pohon-pohon kecuali mengucapkan salam kepada Beliau saw, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ
Dari Jabir bin Samurah dia berkata; Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya akulah yang paling mengenal batu di Makkah. Batu-batu itu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Rasul..." (Shahih Muslim).
Pada permulaan Nabi saw menuju diangkatnya menjadi rasul, Beliau diperlihatkan mimpi-mimpi yang benar dalam tidurnya, beliau melihatnya laksana fajar subuh. Sebagaimana dikisahkan dalam shahih alBukhari:[11]
Dari 'Urwah bin Az Zubair dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, bahwasanya dia berkata: "Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah saw adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu 'ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya[12] sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Sampai kemudian datanglah alHaq saat Beliau di gua Hiro, Malak datang seraya berkata: "Bacalah?" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Nabi saw menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!". Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)." Kemudian Nabi saw kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailidh seraya berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: "Aku mengkhawatirkan diriku". Maka Khadijah berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim." Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: "Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini". Waroqoh berkata: "Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami". Maka Rasulullah saw menceritakan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: "Dia lah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu". Rasulullah saw bertanya: "Apakah aku akan diusir mereka?" Waroqoh menjawab: "Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kau bawa ini kecuali akan dimusuhi. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga". Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu. Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah saw ceritakan: "Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malak yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: "Selimuti aku. Selimuti aku". Maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah (dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan." (alHadits).
Menurut para ahli sejarah, kejadian di gua Hira ini terjadi pada tahun ke 41 dari kelahiran Beliau saw, bertepatan tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 6 agustus 610 M, Wallaahu a'lam. Ini terjadi ketika Beliau terjaga dan sepenuhnya sadar [13] yang kemudian turun beberapa ayat dari surat al'Alaq. Itulah permulaan hari diantara hari-hari kenabian dan pertama turunnya wahyu alQuran.
Kemudian Khadijah pun beriman dan memeluk Islam dan beliaulah yang pertama beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad saw, beliau sayyidah Khadijah Radhiyallahu 'anha yang senantiasa mendukung dan menguatkan Rasulullah saw, menentramkan jiwa dan meringankan beban Nabiyullaah Muhammad saw.
Selanjutnya beriman dan masuk Islam pula yaitu 'Ali bin Abi Thalib ra, Zaid bin Haritsah ra, kemudian Abu Bakr bin Abi Quhafah ra. Dan juga sebagian tokoh quraisy seperti 'Utsman bin 'Affan ra, Zubair bin al'Awam ra, 'Abdurrahman bin 'Auf ra, Sa'ad bin Abi Waqash ra. Thalhah bin 'Ubaidillaah, dll semoga Allah meridhai mereka...
Muhammad Rasulullah saw, setelahnya mengemban tugas kerasulan, sepanjang hidup Beliau berdakwah, mengajak ummat ke jalan keselamatan yaitu Islam sebagai agama Tauhid, meneruskan risalah para Rasul sebelumnya.
Beliau saw memulai dakwah dari keluarga terdekat kemudian tetangga dan lingkungan sekitar dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun, kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi saw untuk berdakwah secara terbuka, sebagaimana Firman-Nya Ta'ala:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
" Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik". (Q.S. alHijr:94).
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
" dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman".(Q.S. AsySyu'ara : 214-215 ).
وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ
" dan Katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan".(Q.S. alHijr:89).
          Keluarlah Beliau saw naik menuju bukit Shofa, kemudian beliau menyeru dengan suara lantang :
يَا صَبَاحَاه ... يَا صَبَاحَاه
Wahai orang-orang!..Tolonglah di pagi ini !...
Ini merupakan seruan yang dikenal orang arab sebagai sinyal bahaya yang biasanya ada musuh yang akan menyerang, maka orang-orang Quraisy bersegera mendekat memenuhi seruan Rasulullah saw, maka mereka berkumpul...lalu Nabi saw bersabda :
يَا بَنِي عَبدِ الْمُطَّلِبِ، يَا بَنِي فَهرٍ، يَا بَني كَعبٍ! أَرَأَيتُم لَو أَخبَرتُكُم أَنَّ خَيلًا بِسَفحِ هَذَا الجَبَلِ تُرِيدُ أَن تُغِيرَ عَلَيكُم، صَدَّقتُمُونِي؟!
"Wahai bani 'Abdil Muththalib..hai bani Fahr...hai bani Ka'ab..apa pandangan kalian jika aku beritakan bahwa ada sepasukan berkuda datang dari lereng bukit ini bermaksud menyerang kalian?..,kalian mempercayaiku ?! ".
Masyarakat Arab memang mengetahui benar kejujuran Muhammad saw , bahwa Beliau adalah seorang yang berbudi pekerti luhur, terpercaya, amanah, dan perkataan yang keluar dari lisannya adalah selalu perkataan yang baik, maka mereka menjawab dengan membenarkan Nabi saw, sebagaimana dijelaskan dalam hadits alBukhari :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّفَا ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ يَا صَبَاحَاهْ فَاجْتَمَعَتْ إِلَيْهِ قُرَيْشٌ قَالُوا مَا لَكَ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ يُصَبِّحُكُمْ أَوْ يُمَسِّيكُمْ أَمَا كُنْتُمْ تُصَدِّقُونِي قَالُوا بَلَى قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ.
Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma dia berkata; Suatu hari Rasulullah saw naik kebukit Shofa dan berkata: " Wahai orang-orang!", Lalu orang-orang Quraisy pun berkumpul mendekati beliau. Mereka bertanya: Ada apa? Beliau menjawab: 'Apa pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa ada musuh yang akan menyerang kalian dipagi hari atau di sore hari, apakah kalian akan membenarkanku? Mereka menjawab: Tentu saja. Lalu Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku memperingatkan kalian tentang adzab yang berat di hadapan kalian." Kemudian Abu Lahab berkata: "Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?! Celakalah kamu!", Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat: "Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa!." (QS. Al Lahab: 1).
Perjalanan dakwah Nabi saw mendapat banyak rintangan dan gangguan yang sangat keras, masyarakat jahiliyah memusuhi nya, menolak dan mengingkari kejujuran dan kebenaran baginda Nabi saw. Namun Beliau saw meneruskan perjuangannya dengan pantang menyerah, sampai kaumnya menekan Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi saw, sampai akhirnya Abu Thalib pun memohon kepada Nabi saw :
يَابنَ أَخِي! إِنَّ قَومَكَ قَد جَاؤُونِي، فَقَالُوا لِي كَذَا وَكَذَا، فَأَبقَ عَلَيَّ وَعَلَى نَفسِكَ، وَلَا تُحَمِّلنِي مِنَ الأَمرِ مَا لَا أُطِيقُ
"Wahai anak saudaraku...sesungguhnya kaum mu telah datang kepadaku, mereka berkata begini dan begitu , maka bantulah aku dan dirimu, dan janganlah engkau bebani aku dengan perkara yang aku tidak sanggup memikulnya". [14]
Baginda Rasulullah saw mendapati pamannya dalam keadaan tergoncang dengan perkara dakwahnya, cemas, khawatir akan keselamatan Nabi, namun risalah dakwah mesti terus berjalan kendatipun perlindungan dari orang terdekat sudah tidak dapat diharapkan lagi, Nabi saw menyampaikan kepada Abu Thalib :
يَا عَمِّ! وَاللهِ لَو وَضَعُوا الشَّمسَ فِي يَمِينِي وَالقَمَرَ فِي يَسَارِي، عَلَى أَن أَترُكَ هَذَا الأَمرَ حَتَّى يُظهِرَهُ اللهُ أَو أَهلَكَ دُونَهُ، مَا تَرَكتُهُ [15]
"Wahai pamanku..Demi Allah! seandainya mereka meletakan matahari ditangan kananku dan rembulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, hingga Allah memenangkannya atau membinasakan yang lainnya, aku tak akan  meninggalkannya!" .
Kemudian bercucuranlah air mata baginda Nabi saw, Beliau menangis dan merasakan kesedihan, lalu beliau saw bangkit hendak berlalu, kemudian Abu Thalib memanggilnya: "Mendekatlah wahai anak saudaraku", kemudian Nabi saw mendekat. Berkatalah Abu Thalib :
اِذهَب يَابنَ أَخِي فَقُل مَا أَحبَبتَ، فَوَ اللهِ لَا أُسَلِّمُكَ لِشَيءٍ أَبَدًا
"Berangkatlah wahai anak saudaraku, katakanlah apa yang kamu sukai, maka demi Allah!.. selama aku masih hidup aku tak akan menyerahkanmu sedikitpun ".
Maka berangkatlah Nabi saw untuk berdakwah mengajak ummat ke jalan Allah. Orang-orang Quraisy merasa putus harapan terhadap Abu Thalib, kendatipun mereka segan akan kehormatan Abu Thalib. Namun kekerasan tetap terjadi kepada pengikut Rasulullah yang lemah, hukuman, siksaan dan pukulan menimpa mereka, hingga kelaparan dan kehausan. Seperti yang menimpa Bilal ra, namun siksaan yang demikian menyakitkan tak membuat shahabat Bilal melepaskan keimanannya...Allaahu Akbar. Hingga akhirnya shahabat Abu Bakr ashShidiiq mengambil dan membebaskannya...Masyaa Allah.
Semakin hari pengikut Rasulullaah saw sedikit-demi sedikit bertambah, maka semakin keras penyerangan dan penentangan kaum  Quraisy, berbagai upaya mereka lakukan untuk memadamkan cahaya Allah. Mereka melakukan fitnah-fitnah keji, mencaci Rasulullah, menyebut rasulullah tukang sihir dan sebagainya. Sampai tidaklah bertemu seseorang dengan Rasulullah melainkan mereka mendustakan dan menyakiti Beliau saw.  Demikian juga yang dialami Abu Bakr ra ketika beliau mengajak kaum Quraisy untuk beriman kepada Allah dan RasulNya.
Sampai suatu hari ketika Nabi saw sedang sujud, ditimpakan kepada Beliau kotoran bekas sembelihan unta, Beliau saw tidak mengangkat kepalanya sampai Fathimah mengambil kotoran tersebut dari punggung baginda Rasulullah  saw.[16]
Pada suatu hari Nabi saw berpapasan dengan Abu Jahl di Shafa, kemudian Abu jahl mengumpat dan memaki Nabi saw, namun Beliau tidak membalas melainkan Beliau berlalu meninggalkannya. Dan selang beberapa waktu setelah itu salah seorang paman Nabi saw yaitu Hamzah memeluk Islam, kemudian semakin bertambahlah pengikut Rasulullah saw. Melihat keadaan demikian, kaum Quraisy semakin khawatir, maka mereka mengizinkan 'Utbah bin Rabii'ah datang ke tempat Rasulullah saw untuk bernegosiasi.
Kemudian 'Utbah duduk dan berkata :
يَابنَ أَخِي! إِنَّكَ مِنَّا حَيثُ قَد عَلِمتَ، وَإِنَّكَ قَد أَتَيتَ قَومَكَ بِأَمرٍ عَظِيمٍ، فَرَّقتَ بِهِ جَمَاعَتَهُم، وَسَفَهتَ بِهِ أَحلَامَهُم، وَعَبتَ بِهِ آلِهَتَهُم وَدِينَهُم، وَكَفَرتَ بِهِ مَن مَضَى مِن آبَائِهِم، فَاسمَع مِنِّي أَعرُضُ عَلَيكَ أُمُورًا تَنظُرُ فِيهَا، لَعَلَّكَ تَقبَلَ مِنهَا بَعضَهَا [17]
" Wahai anak saudaraku sesungguhnya engkau termasuk golongan kami sebagaimana engkau ketahui, sungguh engkau datang kepada kaum mu dengan perkara yang besar, engkau memecah belah kesatuan mereka, engkau merendahan akal mereka, engkau mencela Tuhan-Tuhan mereka dan agama mereka, engkau mengingkari adat nenek moyang mereka..maka dengarkanlah aku...aku hendak menawarkan perkara kepadamu agar engkau sudi memperhatikannya, mudah-mudahan engkau (menyukai) sebagiannya dan menerimanya".
Kemudian Nabi saw mengatakan :
قُل يَا أَبَا الوَلِيدِ! أَسمِعُ
 "Katakanlah hai AbulWalid aku akan mendengarkan".
Kemudian Abul Walid berkata :
يَابنَ أَخِي! إِن كُنتَ إِنَّمَا تُرِيدُ بِمَا جِئتَ بِهِ مِن هَذَا الأَمرِ مَالًا، جَمِعنَا لَكَ مِن أَموَالِنَا حَتَّى تَكُونَ أَكثَرُنَا مَالًا، وَإِن كُنتَ تُرِيدُ شَرَفًا، سَوَّدنَاكَ عَلَينَا، حَتَّى لَا نَقطَعُ أَمرًا دُونَكَ، وَإِن كُنتَ تُرِيدُ مَلِكًا مَلَّكنَاكَ عَلَينَا، وَإِن كَانَ الَّذِي يَأتِيكَ رَئِيًّا تَرَاهُ، لَا تَستَطِيعُ رَدَّهُ عَن نَفسِكَ، طَلَبنَا لَكَ أَطِبَّاءَ، وَبَذَلنَا فِيهِ أَموَالَنَا حَتَّى نُبَرِّئَكَ مِنهُ.
"Wahai anak saudaraku, jika engkau dengan perkara yang kau bawa itu menghendaki harta, akan kami kumpulkan semua harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya dari kami, jika engkau menghendaki kehormatan, akan kami angkat engkau jadi pemimpin kami sehingga kami tidak akan memutuskan perkara selain kepadamu,  jika engkau ingin menjadi raja, akan kami angkat engkau menjadi raja kami, dan jika yang mendatangi kamu itu adalah gangguan ghaib yang kau melihatnya dan kau tidak kuasa menolaknya dalam dirimu, kami akan mencarikan untukmu tabib-tabib, dan kami akan korbankankan semua harta kami hingga kami membebaskan kamu dari (gangguan)nya".
Ketika 'Utbah selesai berbicara, kemudian Nabi saw meminta 'Utbah untuk gantian mendengarkan, maka 'Utbah mempersilahkannya. Kemudian Nabi saw membaca beberapa ayat dari surat Fushshilat hingga sampai ke ayat Sajdah, dan Beliau saw pun sujud, kemudian berkata :
قَد سَمِعتَ يَا أَبَا الوَلِيدِ مَا سَمِعتَ فَأَنتَ وَذَاكَ
"Engkau telah mendengar apa yang  kau dengar hai Abul Walid, demikianlah".
Kemudian 'Utbah pergi. Ketika orang-orang kafir melihat 'Utbah dengan roman yang berbeda ketika waktu ia berangkat, maka mereka bertanya kepadanya apa yang terjadi, kemudian 'Utbah menyampaikan bahwa dia belum pernah mendengar dari siapapun apa yang dikatakan Muhammad saw, dan ia menegaskan bahwa itu bukanlah sihir dan sya'ir bukan juga perkataan dukun. Sehingga orang-prang kafir Quraisy itu marah kepada Abul Walid.
Maka semakin geramlah kaum kafir kepada Rasulullah saw dan pengikutnya, semakin keras pula penindasan dan penganiayaan kepada kaum muslimin. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah, itulah permulaan Hijrah dalam Islam.
Begitu orang-orang kafir mengetahui sebagian kaum Muslimin hijrah ke Habasyah dan mendapat ketenangan disana, maka mereka mengutus 'Abdullah bin Abi Rabi'ah dan 'Amr bin al'Ash bin Wail dengan membawa banyak hadiah untuk raja Najasy, bermaksud agar sang raja tidak memberi bantuan kepada kaum muslimin, mereka berkata kepada sang raja :
إِنَّهُ لَجَأَ إِلَى بَلَدِ الْمَلِكِ مِنَّا غِلمَانٌ سُفَهَاءُ، فَارَقُوا دِينَ قَومِهِم، وَلَم يَدخُلُوا فِي دِينِكُم، وَجَاؤُوا بِدِينٍ مُبتَدِعٍ، لَا نَعرِفُهُ نَحنُ وَلَا أَنتُم، وَقَد بَعَثنَا إِلَيكَ أَشرَافُ قَومِهِم مِن آبَائِهِم وَأَعمَامِهِم وَعَشَائِرَهُم لِتَرُدَّهُم إِلَيهِم، فَهُم أَبصَرَ بِهِم وَأَقرَبَ إِلَيهِم، وَقَالَت البَطَارِقَةُ حَولَهُ: صَدَّقَا أَيُّهَا الْمَلِكُ، فَأَسلِمهُم إِلَيهِمَا.[18]
"Sungguh telah datang ke negeri Paduka anak-anak bodoh dari kaum kami, mereka memisahkan diri dari agama kaumnya, dan mereka juga tidak masuk kedalam agama kalian, mereka itu datang membawa agama baru, kami tidak mengetahu agama tersebut dan tidak juga anda, dan sungguh kami telah diutus kepada mu oleh para pemuka kaum mereka yaitu ayah-ayah mereka, paman-paman mereka dan keluarga mereka, agar engkau mengembalikan anak-anak itu kepada mereka, karena mereka yang lebih tau dan lebih dekat kepada anak-anak itu". (Berkata lah para tokoh Romawi disekitarnya) : "Mereka benar wahai Paduka, maka serahkanlah anak-anak itu kepada mereka".
Namun Raja Najasy marah dan menolak perkataan mereka, dan Dia melindungi orang yang datang kepadanya dan negerinya, Dia bersumpah atas nama Allah dan mengutus seseorang kepada kaum muslimin, mereka memanggilnya dan memanggil para 'ulama nashrani. Kemudian raja Najasy berkata kepada kaum muslimin :
مَا هَذَا الدِّينُ الَّذِي قَد فَارَقتُم فِيهِ قَومَكُم؟ وَلَم تَدخُلُوا فِي دِينِي وَدِينِ أَحَدٍ مِن هَذِهِ الْمِلَلِ؟.
"Agama apakah ini yang telah mencerai-beraikan kamu dan kaum mu? dan kalian tidak masuk kepada agamaku dan agama seorang pun dari milah-milah itu?"..
Kemudian berdirilah  Ja'far bin Abi Thalib, ia adalah anaknya paman Rasulullah saw, ia berkata :
أَيُّهَا الْمَلِكُ! كُنَّا قَومًا أَهلَ جَاهِلِيَّةٍ، نَعبُدُ الأَصنَامَ، وَنَأكُلُ الْمَيتَةَ، وَنَأتِي الفَوَاحِشَ، وَنُقَطِّعُ الأَرحَامَ، وَنُسِيءُ الجِوَارَ، وَيَأكُلُ القَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ، فَكُنَّا عَلَى ذَلِكَ، حَتَّى بَعَثَ اللهُ إِلَينَا رَسُولًا مِنَّا، نَعرِفُ نَسَبَهُ وَصِدقَهُ وَأَمَانَتَهُ وَعَفَافَهُ، فَدَعَانَا إِلَى اللهِ لِنُوَحِّدَهُ، وَنَعبُدَهُ، وَنَخلَعَ مَا كُنَّا نَعبُدُ نَحنُ وَآبَاؤُنَا مِن دُونِهِ مِنَ الحِجَارَةِ وَالأَوثَانِ.
"Wahai paduka Raja, kami adalah satu kaum yang menganut kejahiliyahan, kami menyembah berhala, memakan bangkai(sembelihan yang tidak di sebut nama Allah Ta'ala), berbuat fahsya, dan kami suka memutuskan tali kasih sayang, jahat kepada tetangga. Dan orang yang kuat diantara kami suka memakan harta orang yang lemah, begitulah kelakuan  kami sampai Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kaum kami, kami tahu silsilah keturunannya, kejujurannya, amanahnya, kebersahajaannya, maka Dia (saw) mengajak kami untuk mengesakan-Nya, menyembah-Nya, dan melepaskan apa yang kami dan nenek moyang kami sembah selain-Nya berupa batu dan patung-patung.
وَأَمَرَنَا بِصِدقِ الحَدِيثِ، وَأَدَاءِ الأَمَانَةِ، وَصِلَةِ الرَّحمِ، وَحُسنِ الجِوَارِ، وَالكَفِّ عَنِ الْمَحَارِمِ وَالدِّمَاءِ، وَنَهَانَا عَنِ الفَوَاحِشِ، وَقَولِ الزُّورِ، وَأَكلِ مَالِ اليَتِيمِ، وَقَذفِ الْمُحصَنَاتِ.
Dan Ia menyuruh kami agar berkata benar, menunaikan amanah, bersilaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan Ia menahan kami dari yang haram dan menumpahkan darah, dan melarang kami dari perbuatan fahsya, dari berkata bohong, memakan harta anak yatim dan melarang menuduh berzina.
وَأَمَرَنَا أَن نَعبُدَ اللهَ وَحدَهُ، لَا نُشرِكَ بِهِ شَيئًا، وَأَمَرَنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ- فَعَدَّدَ عَلَيهِ أُمُورَ الإِسلَامِ- فَصَدَّقنَاهُ وَآمَنَّا بِهِ، وَاتَّبَعنَاهُ عَلَى مَا جَاءَ بِهِ مَنَ اللهِ، فَعَبَدنَا اللهَ وَحدَهُ، فَلَم نُشِرك بِهِ شَيئًا وَحَرَّمنَا مَا حُرِّمَ عَلَينَا، وَأَحَللنَا مَا أُحِلَّ لَنَا، فَعَدَا عَلَينَا قُومُنَا، فَعَذَّبُونَا، وَفَتَنُونَا عَن دِينِنَا، لِيَرُدُّونَا إِلَى عِبَادَةِ الأَوثَانِ، مِن عِبَادَةِ اللهِ تَعَالَى، وَأَن نَستَحِلَّ مَا كُنَّا نَستَحِلُّ مِنَ الخَبَائِثِ.
Dan Ia menyuruh kami supaya menyembah Allah saja, agar kami tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Ia menyuruh kami sholat, menunaikan zakat dan shaum -kemudian ia merinci perkara-perkara Islam kepadanya- maka kami membenarkannya dan beriman dengannya, kami mengikutinya atas  apa yang Ia bawa dari Allah, maka kami menyembah Allah semata, kami tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, kami mengharamkan apa yang diharamkan kepada kami, menghalalkan apa yang dihalalkan kepada kami. (Karena itulah) Kaum kami mengejar kami, mereka menyiksa kami, menjauhkan kami dari agama kami agar kami kembali menyembah berhala daripada menyembah Allah Ta'ala, dan agar kami menghalalkan apa yang kami pernah menghalalkan dari berbagai kekotoran-kekotoran.
فَلَمَّا قَهَرُونَا، وَظَلَمُونَا، وَضَيَّقُوا عَلَينَا، وَحَالُوا بَينَنَا وَبَينَ دِينِنَا، خَرَجنَا إِلَى بَلَادِكَ، وَاختَرنَاكَ عَلَى مَن سِوَاكَ، وَرَغِبنَا فِي جِوَارِكَ، وَرَجَونَا أَلَّا نُظلِمَ عِندَكَ أَيُّهَا الْمَلِكُ! [19]
Tatkala mereka memaksa kami, menzhalimi, menyengsarakan kami dan menghalangi kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri paduka, kami lebih memilihmu daripada yang lain, kami hendak berlindung didekatmu, dan kami mengharapkan paduka tidak menzhalimi kami...wahai paduka Raja".
Raja Najasy menyimak perkataannya dengan tenang dan penuh kebijaksanaan, kemudian meminta Ja'far agar mengatakan dan membacakan apa yang telah didengar dari Nabi saw, kemudian Ja'far membacakan apa yang Ia hapal beberapa ayat dari surat Maryam, kemudian Raja Najasy menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, dan menangis juga para uskupnya hingga air mata mereka membasahi mushaf di tangan mereka.
Sungguh yang diucapkan Ja'far dihadapan Raja Habasyah adalah kalam Yang Maha Bijaksana yang datang mengisi ruang dan waktu, melintasi semua agama, menunjukan integritasnya, kesucian dan kemurnian Islam... Allaahu Akbar. Kemudian Raja Najasy pun mengetahui.. apa yang dibawa Muhammad saw dan Isa as, adalah cahaya yang satu, maka Ia beriman dan menerima kerasulan Muhammad saw, kemudian menjamin keselamatan kaum muslimin dan menolak untuk menyerahkan mereka kepada kafir Quraisy.
Hijrah pertama ini terjadi pada tahun ke-5 dari kenabian Muhammad saw. Kemudian Ja'far bersama beberapa orang sahabat menetap di Habasyah hingga beberapa tahun, sampai Ia mendatangi Rasulullah saw pada perang Khaibar.
Selanjutnya tibalah Islam diperkuat dengan masuk Islamnya 'Umar bin alKaththab, sebagai jawaban atas do'a Rasulullah saw. Suatu hari 'Umar sambil menghunus pedang keluar rumah menuju Rasulullah saw untuk membunuhnya, atas taqdir Allah...di jalan 'Umar bertemu dengan Nu'aim bin 'Abdillah dari kaum bani 'Adiy yang telah masuk Islam, mari kita simak percakapan mereka :
فَقَالَ لَهُ: أَينَ تُرِيدُ يَا عُمَرَ؟
قَالَ: أُرِيدُ مُحَمَّدًا هَذَا الصَّابِىءُ، الَّذِي فَرَقَ أَمرَ قُرَيشٍ، وَسَفَّهَ أَحلَامَهَا، وَعَابَ دِينَهَا، وَسَبَّ آلِهَتَهَا، فَأَقتُلُهُ.
فَقَالَ لَهُ نُعَيمٌ: لَقَد غَرَّتكَ نَفسُكَ يَا عُمَرَ! أَفَلَا تَرجِعُ إِلَى أَهلَ بَيتِكَ، فَتُقِيمَ أَمرَهُم؟
قال عمر: وَأَيُّ أَهلِ بَيتِي؟!
قال: خَتَنُكَ وَابنُ عَمِّكَ سَعِيدُ بنُ زَيدٍ، وَأُختُكَ فَاطِمَةُ بنَتُ الخَطَّابِ، فَقَد وَاللهِ أَسلَمَا، وَتَابِعَا مُحَمَّدًا عَلَى دِينِهِ، فَعَلَيكَ بِهِمَا.
Nu'aim :" Mau kemana kau hai 'Umar?
'Umar : " Menuju Muhammad dengan pedang ini!,dia yang telah mencerai-beraikan perkara Quraisy, menganggap bodoh pandangan-pandangannya, mencela agamanya, menghina Tuhan-tuhannya, maka aku akan membunuhnya!
Nu'aim :" Amarahmu telah memperdayamu hai 'Umar!, tidak kah sebaiknya kau kembali kepada keluargamu? maka kau akan mendapati urusan mereka.
'Umar : " Kenapa dengan keluargaku?"
Nu'aim : "Menantumu dan anak pamanmu yaitu Sa'id bin Zaid, dan saudaramu Fathimah binti alKaththab, demi Allah keduanya telah masuk Islam, dan mengikuti agama Muhammad, maka atasilah mereka!".
Maka seketika 'Umar teralihkan niyatnya membunuh Rasulullah saw, dengan diliputi amarah Ia kembali menuju saudari dan menantunya. Begitu 'Umar sampai, dan beserta mereka ada Khabab bin al-Art sedang memegang shohifah (lembaran) didalamnya tertulis surat Thaha Ia sedang membacakannya, ketika mereka mendengar suara 'Umar , Khabab segera bersembunyi di dalam kamar, kemudian Fathimah segera mengambil shohifah tadi dan menyembunyikannya dibawah pahanya, namun telah terdengar oleh  'Umar  bacaan Khabab yang Ia tidak fahami, sehingga 'Umar bertanya kepada mereka tentang apa yang Ia dengar,  dan berkata :
 وَاللهِ لَقَد أُخبِرتُ أَنَّكُمَا تَابِعتُمَا مُحَمَّدًا عَلَى دِينِهِ
"Demi Allah sungguh aku mendengar kabar bahwa kalian telah mengikuti agama Muhammad!"
Kemudian 'Umar menyergap Sa'id bin Zaid, dan Fathimah berdiri untuk menahan 'Umar, kemudian 'Umar memukulnya. Atas perbuatan kekerasan 'Umar akhirnya mereka berdua mengaku :
نَعَم، قَد أَسلَمنَا وَآمَنَّا بِاللهِ وَرَسُولِهِ، فَاصنَع مَا بَدَا لَكَ!
"Benar! sungguh kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka lakukanlah apa yang mau kamu lakukan !".
Ketika 'Umar melihat Fathimah berlumuran darah, maka 'Umar merasa menyesal dan terdiam, kemudian meminta Fathimah menyerahkan shohifah yang sebelumnya mereka baca, kemudian 'Umar membacanya :
 طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى...
"Thaa Haa, tidaklah Kami menurunkan alQuran ini kepadamu agar kamu menjadi susah..."
'Umar berkata :
  مَا أَحسَنَ هَذَا الكَلَامَ، وَأَكرَمَهُ!
"Alangkah indahnya Kalam ini, alangkah mulyanya!"
Ketika Khabab mendengar ucapan 'Umar, maka Ia keluar kamar dan berkata :
يَا عُمَرُ! وَاللهِ إِنِّي لَأَرجُو أَن يَكُونَ اللهُ قَد خَصَّكَ بِدَعوَةِ نَبِيِّهِ، فَإِنِّي سَمِعتُهُ أَمسِ، وَهُوَ يَقُولُ: «اَللَّهُمَّ أَيِّدِ الِإسلَامَ بِأَبِي الحَكَمِ بنِ هِشَامٍ (يَعنِي أَبَا جَهلٍ) أَو بِعُمَرَ بنِ الخَطَّابِ» فَاللهَ اللهَ يَا عُمَرُ.[20]
" Hai 'Umar, demi Allah sungguh aku sangat berharap Allah telah memilihmu dengan perantaraan do'a Nabi-Nya, sesungguhnya kemarin aku mendengar Beliau berdo'a :" Yaa Allaah kuatkanlah Islam dengan AbulHakam bin Hisyam (yakni Abu Jahal) atau dengan 'Umar bin alKhaththab", Maka takutlah kepada Allah Hai 'Umar".
Kemudian 'Umar meminta Khabab mengantarnya ke tempat Rasulullah saw. Tiba lah 'Umar di tempat Nabi saw,dan Hamzah bin 'Abdil Muthalib merasa khawatir terhadap Nabi saw kemudian Ia bersiap-siap untuk menghadang 'Umar . Kemudian Rasulullah saw mengizinkannya masuk dan bertanya apa kepentingan 'Umar mendatanginya, 'Umar menjawab:
يَا رَسُولَ اللهِ! جِئتُكَ لَأُؤمِنُ بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ، وَبِمَا جَاءَ بِهِ مِن عِندِ اللهِ.
"Yaa Rasulallah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa  yang datang dari Sisi Allah".
Rasulullah dan para sahabat bertakbir, dan sungguh dimulyakan kaum muslimin dengan masuk Islamnya 'Umar Radhiyallaahu'anhu. Kemudian dengan penuh keberanian 'Umar mendeklarasikan keIslamannya kepada kaum Quraisy.
Maka semakin panas dan memuncak kebencian dan kemarahan kaum Kafir dengan masuk Islamnya 'Umar,
Selanjutnya mereka kaum kafir Quraisy memutuskan hubungan dengan bani Hasyim dan melakukan pemboikotan. Kaum Quraisy berkumpul dan bermusyawarah untuk menulis suatu perjanjian atas bani Hasyim dan bani Muththalib, yaitu tidak boleh menikahi dan menikahkan dengan mereka, tidak boleh melakukan jual beli, mereka menulisnya diatas shohifah, kemudian mereka saling bersumpah, kemudian mereka mengaitkan shohifah tersebut di dinding Ka'bah sebagai pengukuhan atas diri mereka.
Kemudian bani Hasyim dan bani Muththalib bergabung kepada Abu Thalib, kecuali Abu Lahab bin 'Abdil Muththalib karena Ia ikut bersama Quraisy.  Ini terjadi pada bulan Muharram tahun ke 7 dari kenabian.
Bani Hasyim mengalami penderitaan, sampai-sampai anak-anak kecil mereka merintih-rintih karena kelaparan, hingga tangisannya terdengar dari kejauhan, ini disebabkan boikot kaum Quraisy yang mengalihkan jalur bisnis dan menimbun berkali-lipat persediaan logistik, sehingga bani Hasyim tidak bisa memperolehnya. Ini berlangsung selama 3 tahun. Sementara Rasulullah saw tiada henti mendakwahi kaumnya siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan bani Hasyim bersabar atas perjuangan tersebut.
Menyaksikan kezhaliman tersebut, bangkitlah sekelompok orang dari Quraisy yang memiliki kehormatan dan hati nurani, mereka tidak tahan dan tidak menyukai kezhaliman yang terjadi, diantaranya adalah Zubair bin Abi Umayyah yang berbicara kepada penduduk Makkah dan Muth'im bin 'Adiy kemudian mencabut shohifah perjanjian tersebut. Kemudian Nabi saw menyampaikan berita tersebut kepada Abi Thalib, maka dirobeklah shohifah dan batal lah perjanjian tersebut.
Tidak lama setelah itu, pada tahun yang sama yakni tahun ke 10 dari kenabian menjadi tahun kesedihan baginda Rasulullah saw, karena wafatnya dua orang terkasih yaitu Abu Thalib dan sayyidah Khadijah yang selama ini membantu dan menguatkan perjuangan Beliau saw, namun Abu Thalib hingga akhir hayatnya tidak memeluk Islam.
Setelah wafatnya Abu Thalib, orang-orang kafir Quraisy semakin berani menyakiti Nabi saw, maka kejahiliyahan mereka semakin menjadi, semakin keras permusahannya dan berpaling dari Islam. Kemudian secara sembunyi-sembunyi, Nabi saw pergi ke Thaif [21] setidaknya berharap ada bantuan dari penduduk tsaqif, dan Nabi berharap mereka akan masuk Islam. Nabi berangkat ke Thaif ditemani anak angkatnya yaitu Zaid bin Haritsah. Ketika tiba di Thaif Nabi saw memulai dakwahnya kepada para pemuka Tsaqif dan tokoh-tokohnya, namun permohonan dan ajakan Nabi saw ditolak dengan kasar, mereka memperolok dan mencemooh Nabi saw, mengutuk, menghina dan menyorakinya, kemudian melempar baginda Nabi saw dengan batu hingga berdarah, sehingga Nabi saw berlindung di balik pohon kurma, demikian juga Zaid bin Haritsah terluka. Kemudian Allah menurunkan malak gunung  yang siap diperintahkan apa saja oleh Nabi saw yang mana malak tersebut menawarkan dua gunung untuk ditimpakan kepada mereka, namun Nabi saw menolaknya karena Beliau berharap Allah akan memunculkan dari mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Akhirnya Rasulullah saw kembali ke Makkah kembali menghadapi hari-hari kekerasan kaumnya yang memusuhi dan mencemooh Beliau saw dan kaum Muslimin.
Selanjutnya tibalah jamuan kemulyaan dari Allah  Ta'ala kepada Nabi saw , yaitu terjadinya isra dan mi'raj Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian diangkat naik ke langit, diperlihatkan-Nya sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya...Subhaanalaah wa Allaahu Akbar...Sebagaimana dikisahkan alQuran, Allah Ta'ala berfirman :
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar".(Q.S. AnNajm:17-18).
Kemudian ketika pagi harinya Rasulullah saw menyampaikan peristiwa isra mi'rajnya kepada kaum Quraisy, maka mereka mengingkarinya, mendustakan, menyorakinya dan mencemooh baginda Nabi saw.
Lalu Abu Bakr ra tampil membela Nabi dan membenarkan berita tersebut :
وَاللهِ لَئِن كَانَ قَالَهُ لَقَد صَدَقَ، فَمَا يُعجِبُكُم مِن ذَلِكَ؟ فَوَ اللهِ إِنَّهُ لَيُخبِرُنِي أَنَّ الخَبَرَ يَأتِيهِ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأَرضِ فِي سَاعَةٍ مِن لَيلٍ أَو نَهَارٍ، فَأُصَدِّقُهُ.[22]
"Demi Allah jika saja Beliau saw berkata lebih dari itu pun pasti Beliau mengatakan kebenaran!, maka apa yang menyebabkan kalian merasa heran dengan itu?, demi Allah sungguh Beliau saw memberitakan kepadaku bahwa berita tersebut datang dari langit ke bumi dalam satu waktu dari satu malam ataupun siang, maka pasti aku membenarkannya!".
Pada peristiwa isra mi'raj ini, Rasulullah saw mendapat perintah wajibnya sholat 5 waktu dalam sehari semalam yang asal perintahnya adalah 50 kali, namun Nabi saw  memohon keringanan kepada Allah Ta'ala demi ummatnya. Yang artinya siapa saja yang melaksanakan sholat ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan balasan hanya dari Allah semata, maka pahalanya sama dengan pelaksanaan sholat 50 kali yang awalnya diperintahkan...Allaahu Akbar.
Demikian perjalanan dakwah Nabiyullah Muhammad saw senantiasa mendapat kecaman, pendustaan dan perlawanan dari kaum Quraisy, dan apa yang Nabi dakwahkan dari permulaan adalah Beliau saw mengajak ummat kepada Aqidah yang satu, Beliau menyeru :
 يَا بَنِي فُلَانٍ! إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيكُم، يَأمُرُكُم أَن تَعبُدُوا اللهَ وَلَا تُشرِكُوا بِهِ شَيئًا، وَأن تَخلَعُوا مَا تَعبُدُونَ مِن دُونِهِ مِن هَذِهِ الأَندَادِ، وَأَن تُؤمِنُوا بِهِ، وَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَتَمنَعُونِي حَتَّى أُبَيِّنُ عَنِ اللهِ مَا بَعَثَنِي بِهِ.[23]
"Wahai Bani Fulan sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, Dia memerintahkan kamu supaya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan supaya kalian meninggalkan beribadah kepada selain-Nya daripada tandingan-tandingan(berhala) ini, supaya kalian beriman kepada-Nya dan membenarkan-Nya, dan kalian menahan ku hingga aku menjelaskan dari Allah apa yang telah Dia utuskan kepada ku".
Namun ajakan Rasulullah saw tersebut ditentang. Maka ketika Rasulullah saw telah selesai berbicara , berdirilah Abu Lahab, ia berkata :
يَا بَنِي فُلَانٍ! إِنَّ هَذَا إِنَّمَا يَدعُوكُم أَن تَسلُخُوا اللَّاتَ وَالعُزَّى مِن أَعنَاقِكُم، وَحُلَفَائِكُم مِنَ الجِنِّ، إِلَى مَا جَاءَ بِهِ مِنَ البِدعَةِ وَالضَّلَالَةِ، فَلَا تُطِيعُوهُ وَلَا تَسمَعُوا مِنهُ [24]
" Hai Bani Fulan sesungguhnya ini, dia hanya mengajakmu agar meninggalkan Laata dan 'Uzza dari leher-leher kamu dan sekutu-sekutu kamu dari bangsa Jin, kepada apa yang dia datang dengannya berupa bid'ah dan kesesatan, maka jaganlah kalian menurutinya dan jangan kalian dengarkan perkataan darinya !".
Demikian hari-hari Rasulullah dalam dakwah penuh celaan dari kaumnya. Dan semakin dipersulit pula jalan menuju Rasulullah dan Islam, sehingga orang-orang yang menginginkan hidayah dan alhaq harus menempuh rintangan yang membahayakan dirinya...begitu sulit dimasa perjuangan menegakan Kalimatullaah 'Azza Wa Jalla, pantas saja generasi Rasulullah dan para Sahabat adalah sebaik-baik generasi. Kendatipun demikian tidak di pungkiri bahwa Rasulullah saw merasa sedih dengan sikap dan perbuatan kaum Quraisy dengan penolakannya, dan Allah Ta'ala menghibur baginda Nabi saw, Firman-Nya :
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لا يُكَذِّبُونَكَ وَلكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآياتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah"(Q.S. Al-An'am :33).
Selanjutnya sampailah waktu untuk hijrah ke Madinah. Mereka orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi saw, maka Allah Ta'ala memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi saw. Rasulullah saw datang kepada Abu Bakr ra dan memberitahukan bahwa Allah Ta'ala telah memberikan izin untuk khuruj dan hijrah, kemudian Abu Bakr menangis karena campur aduk perasaan antara sedih dan gembira.
Bukan tidak pedih dan menderita dalam melaksanakan hijrah ini. Namun terdapat pelajaran yang amat berharga dari kisah hijrah, yaitu bahwa dakwah dan 'aqidah mesti mengikhlaskan diri dari setiap yang dicintai dan disayangi, mesti memegang teguh komitmen untuk berada di jalan keselamatan yaitu jalan Islam. Itu merupakan manifestasi dari kecintaan terhadap iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah saw dan Abu Bakr ra berangkat hijrah dari Makkah ke Madinah dengan diam-diam, menghindari kejaran kafir Quraisy, kemudian Nabi saw dan Abu Bakr ra bersembunyi di Gua di bukit Tsur. Begitu khawatir dan bersedih hati Abu Bakr akan keselamatan baginda Nabi saw, namun Allah Ta'ala memberikan pertolongan-Nya , kemudian pintu masuk Gua di tutupi oleh sarang laba-laba hingga menyatu dengan semak-semak sehingga kaum yang mengejar tidak mencurigai mereka ada didalamnya. Allah Ta'ala melindungi mereka , sebagaimana dalam Firman-Nya :
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"(Q.S. AtTaubah:40).
.....To be continued..In Syaa Allaah...


[1]  مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلاَبِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ .شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (6/ 183)
Berdasarkan penjelasan nasab Nabi saw diatas yang tidak ada perselisihan, bahwa 'Adnan adalah dari anaknya Ismail bin Ibrahim Khaliilullaah 'alaihimashsholaatu wassalaam.
Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda :
إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل واصطفى قريشا من كنانة واصطفى هاشما من قريش واصطفاني من بني هاشم
Sungguh Allah swt telah memilih Kinanah dari anaknya Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah dan memilih Hasyim dari Quraisy dan memilihku (Muhammad saw) dari bani Hasyim.
[2]  صحيح مسلم (4/ 1791) المكتبة الشاملة
[3]  Lihat AlRahiiqul Makhtuum.
[4]   Lihat : فقه السيرة النبوية مع موجز لتاريخ الخلافة الراشدة
[5] Inilah negeri yang banyak disebut dalam alQuran selain Makkah dan Madinah, yaitu negeri yang jika setiap kaum muslimin mukminin mengetahui keutamaan negeri ini ... niscaya akan membuat mereka bergetar penuh semangat jihad!!.. yang kini beberapa daerahnya menjadi konflik atas perebutan wilayah dan penindasan kaum kafir terhadap kaum muslimin. Syam atau sekarang disebut juga suria (سوريا)/syria, merupakan wilayah yang terbentang dari palestine, Jordania, lebanon dan Suriah. (Bbrp keterangan bisa lihat wikipedia [itu juga kalo filenya masih ada]).
[6]  Demikian Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan sebutan anaknya karena kuatnya kecintaan dan kasih sayangnya kepada beliau saw.
[7]  sebagaimana dijelaskan dalam shahih bukhari, Nabi saw bersabda :
 كُنتُ أَرعِى الغَنَمَ عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهلِ مَكَّةَ   : Aku menggembala kambing dengan bayaran beberapa Qirat (keping dinar) milik penduduk Makkah.
[8]   Lihat : السيرة النبوية على ضوء القرآن والسنة
[9]  Lihat : السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي
[10]  Sebab terjadinya perjanjian ini dilatarbelakangi datangnya seorang laki-laki dari kabilah Zabiid yang membawa barang komoditi, kemudian datanglah salah seorang pemuka Quraisy yaitu al'Ash bin Wail  membeli barang dagangannya tersebut, namun dia tidak mau membayarnya, kemudian pedagang tersebut meminta pertolongan kepada penduduk Makkah yang terpandang , dan terdapat seorang pemuda yang terhormat mau membantunya,kemudian mereka mendatangi rumah 'Abdullah bin Jud'an, kemudian mereka saling mengikat perjanjian dan bersumpah tangan diatas tangan yang lainnya antara penduduk Makkah ataupun pendatang untuk tidak melakukan kezhaliman, hingga masing-masing menunaikan haq dan kewajibannya.  Maka dinamakan lah perjanjian ini hilfulfudhul.(lihat: السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي ).
[11] حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ 
فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ
[12]  Menurut satu riwayat, ibadah ini berdasarkan syari'at Ibrahim as.
[13]  Lihat : السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي
[14]  lihat : السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 187 )
[15]  lihat : السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 188 )
[16] حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَقَ يُحَدِّثُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ وَحَوْلَهُ نَاسٌ مِنْ قُرَيْشٍ إِذْ جَاءَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ بِسَلَا جَزُورٍ فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَخَذَتْهُ عَنْ ظَهْرِهِ وَدَعَتْ عَلَى مَنْ صَنَعَ ذَلِكَ فَقَالَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ الْمَلَأَ مِنْ قُرَيْشٍ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَعُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ وَشَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ أَوْ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ شُعْبَةُ الشَّاكُّ قَالَ فَلَقَدْ رَأَيْتُهُمْ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ فَأُلْقُوا فِي بِئْرٍ غَيْرَ أَنَّ أُمَيَّةَ أَوْ أُبَيًّا تَقَطَّعَتْ أَوْصَالُهُ فَلَمْ يُلْقَ فِي الْبِئْرِ
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ ثَلَاثًا يَقُولُ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ ثَلَاثًا وَذَكَرَ فِيهِمْ الْوَلِيدَ بْنَ عُتْبَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ وَلَمْ يَشُكَّ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ وَنَسِيتُ السَّابِعَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar sedangkan lafadznya dari Ibnu Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; aku mendengar Abu Ishaq menceritakan dari 'Amru bin Maimun dari Abdullah dia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang sujud, sementara di sekitar beliau ada beberapa orang Quraisy, tiba-tiba 'Uqbah bin Abu Mu'th datang dengan membawa sekarung bekas sembelihan anak unta yang telah membusuk, lalu ia melemparnya tepat mengenai punggung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena itu beliau tidak mau mengangkat kepalanya. Setelah Fatimah datang, maka dia mengambil karung tersebut dari punggung beliau. Lantas beliau mendo'akan kebinasaan terhadap orang-orang yang telah melakukan perbuatan tersebut, beliau bersabda: "Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy; Abu Jahal bin Hisyam, 'Utbah bin Rabi'ah, 'Uqbah bin Abu Mu'ith, Syaibah bin Rabi'ah, Umayyah bin Khalaf dan Ubay bin Khalaf." Sungguh aku telah melihat dalam perang Badar, mereka semua binasa, lalu jasad mereka dilemparkan ke dalam sumur selain Umayah atau mungkin Ubay, karena persendiannya banyak yang putus, maka ia tidak dilemparkan ke dalam sumur." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ja'far bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dengan isnad seperti ini, dengan sedikit tambahan, "Apabila beliau berdo'a, beliau lebih suka mengulanginya sampai tiga kali, beliau bersabda: "Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy, Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy, Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy -hingga tiga kali-." Dan dia menyebutkan dalam hadits tersebut nama 'Al Walid bin 'Utbah dan Umayyah bin Khalaf - tanpa ada keragu-raguan-, Abu Ishaq berkata, "Dan aku lupa yang ketujuh." (HR. Muslim)
[17]  السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 195)
[18]  Lihat :
 السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 198)
[19]  Lihat :
 السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 199)
[20]  Lihat :
 السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 204)
[21]  Thaif merupakan kota ketiga terbesar setelah Makkah dan Yatsrib
[22] Lihat :
 سيرة ابن كثير: ج 2؛ ص 96، وسيرة ابن هشام: ج 1؛ ص 399
[23]  Lihat :
 السيرة النبوية لأبي الحسن الندوي (ص: 220)
[24]  Lihat :
سيرة ابن هشام: ج 1؛ ص 422- 423 [أخرجه أحمد مزيدا من التفصيل في مسنده (3/ 491- 492) ، والحاكم في المستدرك (1/ 15) ، والطبراني في المعجم

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik