16.10.17

gbr.ahlulquran

Wahyu Al Quran & Hadits Qudsi

Oleh : Den Herians

Kata Al-Wahyu dalam bahasa arab merupakan  masdar (kata dasar), menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu tersembunyi dan cepat.
Secara istilah wahyu diartikan sebagai ajaran yang disampaikan Allah kepada Rasul Nya melalui perantaraan malaikat Jibril.
a.     Cara wahyu datang kepada Rasulullah
Wahyu turun kepada Rasul telah dijelaskan dalam hadits, sebagaimana yang akan dijelaskan sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبدُ اللهِ بنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخبَرَنَا مَالِكٌ، عَن هِشَامِ بنِ عُروَةَ، عَن أَبِيهِ، عَن عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنهَا: أَنَّ الحَارِثَ بنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيفَ يَأتِيكَ الوَحيُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (أَحيَانًا يَأتِيَنِي مِثلُ صَلصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفصِمُ عَنِّي وَقَد وَعَيتُ عَنهُ مَا قَالَ، وَأَحيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ). قَالَت عَاِئشَةُ رضي الله عنها: وَلَقَد رَأَيتُهُ يَنزِلُ عَلَيهِ الوَحيُ فِي اليَومِ الشَّدِيدِ البَردِ، فَيَفصِمُ عَنهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا. صحيح البخاري   ) موسوعة الحديث النبوي الشريف (

Telah menceritakan ‘Abdillah bin Yusuf, ia berkata telah mengabarkan kepada ku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin ra bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?" Rasulullah saw. menjawab, "Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang dikatakannya." Aisyah r.a. berkata, "Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin . Setelah wahyu itu berhenti turun kelihatan dahi Nabi bersimpah keringat.”
          أحيَانًا ( kadang-kadang ) adalah bentuk jama’dari  حِينٌ yang berarti waktu yang banyak atau sedikit , akan tetapi maksud kata tersebut dalam hadits ini adalah waktu, seakan-akan Nabi berkata “ beberapa kali ia datang kepadaku “. Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Hisyam dalam bab “ bad’ul khalqi “( permulaan penciptaan ), ia mengatakan “ dalam semua kondisi itu telah datang kepadaku malaikat “. Dijelaskan pula dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id dari jalur Abi Salamah al Majisyun, dia menyampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Wahyu datang kepadaku dengan 2 cara, yaitu malaikat Jibril datang dan menyampaikan wahyu kepadaku sebagaimana seorang menyampaikan berita kepada orang lain, dan ini tidak membuatku takut. Atau datang kepadaku dengan suara lonceng, dan hal ini membuatku takut”.
          Disamping itu malaikat juga datang dalam bentuk manusia, seperti datang kepada Nabi dalam wujud sahabat Nabi yang bernama Dihyah, atau seorang laki-laki berbangsa arab atau lainnya yang semuanya telah dijelaskan dalam hadits shahih.
          Inti dari hadits diatas adalah menjelaskan sifat wahyu seperti turunnya wahyu dengan cara desingan tawon, bisikan hati, ilham, mimpi, dan berbicara langsung pada malam Isra’ Mi’raj dengan tanpa hijab, yang kedua sifat pembawa wahyu , hakikat malikat Jibril yang memiliki 600 sayap, Nabi melihatnya duduk diantara langit dan bumi, Nabi melihat malikat Jibril dalam bentuk yang asli hanya dua kali menurut ‘Aisyah.
          Adapun turunnya wahyu dengan cara membisikkan dalam hati Rasulullah saw, kemungkinannya ada dua cara, yang pertama malaikat datang kepada Nabi seperti suara lonceng kemudian membisikkan wahyu kedalam hati Nabi. Adapun turunnya wahyu melalui Ilham tidak dipertanyakan, karena yang ditanyakan adalah sifat wahyu yang dibawa oleh malaikat, begitu juga turunnya wahyu pada malam Isra’ Mi’raj.
          Al Hulaimi berkata, bahwa wahyu turun kepada Nabi dalam 46 cara, kemudian ia menyebutkan semuanya, dan yanag paling banyak adalah mengenai sifat pembawa wahyu, yang telah disebutkan dalam hadits “ Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan dalam hati “ Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam bab Qana’ah, hadits ini shahih menurut Hakim dari jalur Ibnu Mas’ud. 
          مِثلُ صَلصَلَةِ الجَرَسِ (seperti bunyi lonceng ). Dalam riwayat Muslim dikatakan Shalshalah artinya suara yang dihasilkan dari benturan antara besi, kemudian kata tersebut dinisbahkan kepada semua suara yang menimbulkan dengung, sedangkan Jaras adalah lonceng kecil atau kerincingan kecil yang digantungkan pada kepala hewan. Al Karmani mengatakan bahwa Jaras adalah kentongan atau lonceng kecil yang didalamnya ada potongan kuningan dan digantungkan dileher unta, apabila unta itu bergerak maka lonceng itu akan berbunyi. Ada pula yang mengatakan bahwa shalshalah adalah suara malaikat ketika menyampaikan wahyu atau suara sayap malaikat.
            وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ ( itulah yang sangat berat bagiku ) 
          Kita dapat memahami dari penjelasan diatas bahwa semua wahyu itu berat, akan tetapi wahyu yang paling berat diterima Nabi adalah wahyu yang diterima dengan disertai bunyi lonceng, karena memahaminya lebih sulit dari pada memahami perkataan secara langsung. Sebagian ulama mengatakan, bahwa berat atau sulitnya menerima wahyu bertujuan agar Nabi lebih berkonsentrasi dalam menerima wahyu.
          وَأَحيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلاً (Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki).
          Hadits ini pun menjadi dalil bahwa malaikat dapat menyerupai manusia. Menurut Syaikhul Islam perubahan malaikat hanya dalam bentuknya saja bukan dzatnya. ( Lihat Fathul Baari  Syarah hadits alBukhari ).
          Wahyu juga turun dalam mimpi yang benar dalam tidur, sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : أوَّلُ بُدِئَ بِهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الرُّأيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّومِ فَكَانَ لاَيَرَى رُؤيًا إِلاَّ جَاءَت مِثلَ فَلَقِ الصُّبحِ.
“ Dari ‘Aisyah ra dia berkata : “ Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah saw adalah mimpi yang benar diwaktu tidur . Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari”. ( Mutafaq ‘alaih ).
          Wahyu diturunkan hanya kepada para Rasul sebagai pembawa Risalah Allah, tidak kepada manusia biasa.Untuk apa Allah mengutus seorang Rasul jika wahyu itu bisa turun kepada manusia mana saja selain Nabi yang diutus oleh Allah swt.
          Allah swt mengutus Rasul pilihan adalah untuk menyampaikan Risalahnya, yakni wahyu itu tadi, agar mausia menempuh jalan Nya yang lurus.
b.     Hubungan wahyu dan Hadits Qudsi
Selain wahyu yang berupa al Qur-an yang turun kepada Rasulullah saw, yaitu Hadits Qudsi. Al Munawi rahimahullahu Ta’ala berkata kalau lafadzh alQudsi bisa juga dibaca alQudusi, Makna lafadzh tersebut adalah Ath Thuhur yang artinya suci, jika didalam bahasa arab disebutkan istilah Al Ardhul muqaddasah , maka artinya adalah tanah yang disucikan, begitu juga dengan makna Baitul Maqdis , adalah rumah yang disucikan. Demikianlah keterangan yang disebutkan dalam kitab AlMishbah .
Kalau lafadzh Alhadits ternyata disandarkan kepada AlQuds sehingga berbunyi Alhadits Qudsiyyah, maka tidak lain karena makna dari hadits tersebut disandarkan sepenuhnya kepada Allah swt.
Definisi hadits Qudsi yang terdapat dalam kitab At Ta’rifat adalah kabar berita yang disampaikan Allah kepada Nabi Nya saw, baik melalui ilham ataupun mimpi, kemudian Rasulullah saw menyampaikan pesan dari Allah tersebut dengan redaksi yang berasal dari dirinya sendiri.
Sedangkan Maulana Ali AlQari rahimahullahu Ta’ala berkata : “Hadits Qudsi adalah pesan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala yang diriwayatkan oleh perawi dan narasumber yang paling terpercaya, afdhalushshalawat wa akmaaluttahiyat. Terkadang penyampaiannya melalui perantara malaikat Jibril as melalui wahyu, ilham, maupun lewat mimpi. Sedangkan hadits yang diutarakan dalam hadits Qudsi diserahkan sepenuhnya kepada Rasulullah saw.
Perbedaan Al Qur-an dengan hadits Qudsi, menurut Ath Thayibi “ AlQur-an merupakan lafazh yang diturunkan oleh Allah melalui Jibril as kepada Nabi saw. Sedangkan hadits Qudsi adalah pemberitahuan Allah melalui ilham atau mimpi, kemudian Nabi saw yang mengungkapkan pesan Allah tersebut kepada umatnya melalui redaksi Nabi sendiri. Sedangkan hadits-hadits yang lain merupakan riwayat yang tidak disandarkan kepada Allah dan juga tidak diriwayatkan dari Nya.
Ibnu Hajar berkata : “ perlu diketahui bahwa perkataan yang disandarkan kepada Allah itu banyak macamnya” :
a.   Perkataan yang paling mulia adalah alQur-an , karena memiliki beberapa keistimewaan diantaranya sebagai berikut : lafazhnya bersifat mu’jiz (melemahkan pihak lain yang ingin menyamainya), menjadi mu’jizat yang langgeng sampai akhir zaman, senantiasa terjaga orisinalitasnya, harus dibaca dalam ibadah shalat, setiap membaca satu hurufnya diberi pahala 10x lipat. Semua keistimewaan tersebut tidak dimiliki oleh kitab yang lain, hadis Qudsi juga tidak memiliki satu pun keistimewaan yang dimiliki Al Qur-an.
b.  Hadis Qudsi yaitu riwayat yang dinukil Nabi saw kepada kita secara ahad dari TuhanNya, hadis Qudsi tergolong firman Allah Ta’ala. Untuk penyebutan ayat al Qur-an biasanya diistilahkan : “Allah swt berfirman : “.Sedangkan dalam menyebutkan riwayat hadis Qudsi dengan istilah :    “ Rasulullah saw menyabdakan riwayat yang berasal dari Tuhannya”.
Rasulullah saw pernah bersabda : “ Ingatlah, sesungguhnya aku diberi alQur-an dan sesuatu yang serupa dengannya (maksudnya sunnah nabawi/hadits). Perlu diketahui bahwa cara Nabi memperoleh hadits Qudsi tidak hanya dengan satu cara, wahyu tersebut turun melalui berbagai cara, misalnya melalui mimpi, dengan menebarkan perasaan takut atau melalui lisan malaikat.
c.      Contoh Hadits Qudsi beserta penjelasannya.
1.     AMAL YANG PERTAMA KALI DIHISAB PADA HARI KIAMAT
Dari Hammam, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Huraits bin Qabishah, dia berkata :
قَدَمتُ المَدِينَةَ, قَالَ: قُلتُ : اللَّهُمَّ يَسِّرلِي جَلِيسًا صَالِحًا, فَجَلَستُ إِلَى أَبِى هُرَيرَتَ رضي الله عنه قَالَ : فَقُلتُ:  إِنِّي دَعَوتُ الله َ عزوجل أَن يَسِّرَلِي جَلِيسًا صَالِحًا , فَحَدَّثنِي بِحَدِيثٍ شَمِعتَهُ مِن رَسُولِ اللهِr  لَعَلَّ الله ُ أَن يَنفَعَنِي بِهِ, قَالَ :سَمِعتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إِنَّ أَوَّلَ مَايُحَاسَبُ بِهِ العَبدُ بِ الصَلاَ تِهِ , فَإِن صَلَحَت فَقَد أَفلَحَ وَأَنجَحَ, وَإِن فَسَدَت,فَقَد خَابَ وَخَسِرَ.
قَالَ هَمَّامٌ : لاَ أَدرِي هَذَا مِن كَلاَمِ قَتَادَةَ أَو مِنَ الرِّوَايَةِ ؟ فَإنِ انتَقَصَ مِن فَرِيضَتِهِ شَيءٌ , قَالَ: أُنظُرُوا, هَل لِعَبدِي مِن تَطَوُّعٍ؟ فَيُكَمَّلُ بِهِ مَا نَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ, ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى نَحوِ ذَلِكِ.
Aku datang ke madinah , Aku berbicara ( pada diriku sendiri), Ya Allah, mudahkanlah aku mendapatkan teman duduk yang shalih. Lalu aku duduk  disamping Abu Hurairah r.a. Aku berkata : “Aku telah berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memudahkan aku mendapatkan teman duduk yang shalih. Oleh karena itu beritahukanlah aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah saw. Mungkin saja Allah akan memberikan manfaat kepadaku melalui hadits tersebut”. Abu Hurairah berkata:“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada diri seseorang hamba adalah shalatnya. Jika ibadah shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses. Namun bila ibadah shalatnya rusak, maka dia gagal dan merugi”.
Hammam berkata :Aku tidak tahu dengan pasti apakah kalimat berikut ini termasuk perkataan Qatadah atau kalimat dalam riwayat hadits : ‘ Jika ada yang kurang dari kewajibannya, maka Allah berfirman :” Lihatlah { wahai para malaikat} apakah hamba Ku masih memiliki amalan sunnah?”. Lalu Allah akan menyempurnakan kewajibannya yang kurang. Kemudian seluruh amal perbuatan orang tersebut juga diperlakukan seperti itu.”.(Diriwayatkan oleh An Nasa’I dalam kitab sunannya pada bab Al Muhasabah’Alashsholah, juz I hal 232)
Penjelasan hadits:  
إِنَّ أَوَّلَ مَايُحَاسَبُ بِهِ العَبدُ بِ الصَلاَ تِهِ
Lafazh bi sholaatin merupakan badal dari jar wa majrur yang berbunyi bihii . Sepertinya dalam hal ini Allah hendak berfirman : Sesungguhnya amalan hamba yang akan dihisab pertama kali adalah sholatnya. Jadi amal yang paling awal dihisab dan diperiksa terlebih dahulu adalah ibadah sholat tersebut.
          Yang dimaksud dengan amalan hamba yang pertama kali dihisab, pada hadits ini adalah amalan yang bersifat lahiriyah, yakni yang tergolong dalam rukun Islam. Sebab bagaimanapun juga keimanan seseorang tetap merupakan prioritas utama yang akan dihisab oleh Allah SWT. Jika keimanan seseorang murni karena Allah maka tahapan berikutnya adalah proses hisab terhadap rukun islam yang lainnya. Pertama kali yang akan dihisab setelah amalan hati ( yakni murninya iman seseorang yang terkumpul dalam dua kalimah syahadat ) adalah sholat. Sholat merupakan tiang agama, maka dengan mendirikan sholat berarti telah mendirikan agama, selain itu sholat merupakan ibadah yang dikerjakan berulang kali sebanyak lima kali dalam sehari semalam, ini berbeda dengan rukun islam yang lain, misalnya zakat maal, tidak semua orang islam dikenai kewajiban zakat maal. Atau ibadah haji yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup.
          Kemudian juga, maksud hadits diatas untuk menjelaskan keutamaan Allah SWT, dimana Dia akan menyempurnakan kekurangan ibadah fardlu hamba Nya dengan amalan-amalan sunah. Jika memang amalan fardlu tersebut kurang sempurna, maka akan ditambal dengan amalan sunah lainnya.
2.     ALLAH MENCIPTAKAN SEMUA HAMBA-NYA SEBAGAI MUSLIM
Telah diceritakan dari Iyadh bin Khammar AlMujasyi’i ra, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw bersabda dalam khutbahnya :
أَلاَ إِنَّ رَبِّى أَمَرَنِي أَن أُعَلِّمُكُم مَا جَهِلتُم مِمَّا عَلَّمَنِي يَومِ هَذَا : كُلُّ مَالٍ نَحَلتُهُ عَبدًا حَلاَلٌ, وَإِنِّ خَلَقتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلُّهُم, وَإِنَّهُم أَتَتهُم الشَّيَاطِينُ, فَاجتَالَتهُم عَن دِينِهِم, وَحَرَّمَت عَلَيهِم مَا أَحلَلتُ لَهُم, وَأَمَرَتهُم أَن يُشرِكُوا بِي مَا لَم أُنزِل بِهِ سُلطَانًا, وَإِنَّ الله َ نَظَرَ إِلَى أَهلِ الأَرضِ, فَمَقَتَهُم عَرَبَهُم وَعَجَمَهُم إِلاَّ بَقَايَا مِن أَهلِ الكِتَابِ, وَقَالَ : إِنَّمَ بَعَستُكَ لأَبتَلِيَكَ, وَ أَبتَلِيَ بِكَ , وَأَنزَلتُ عَلَيكَ كِتَابًا لاَ يَغسِلُهُ المَاءُ, تَقرَؤُهُ نَائمًا وَيَقظَانَ, وَإِنَّ الله أَمَرَنِي أَن أُحَرِّقَ قُرَيسًا, فَقُلتُ : رَبِّى إِذًا يَثلَغُ رَأسِي, فَيَدَعُوهُ خُبزَةً قَالَ :استَخرِجهُم كَمَااستَخرَجُوكَ وَاغزُهُم نُغزِكَ وَأَنفِق فَسَنَنفِق عَلَيكَ  وَابعَث جَيشًا نَبعَث خَمسَةً مِثلَهُ وَقَاتِل بِمَن أَطَاعَكَ مَن عَصَاكَ, قَالَ وَأَهلُ الجَنَّةِ ثَلاَثَةٌ ذُو سُلطَانِ مُقسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ , رَقِيقُ القَلبِ لِكُلِّ ذِي قُربَ وَمُسلِم وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالِ, قَالَ َأَهلُ النَّارِ خَمسَةٌ, الضَّعِيفُ الَّذِي لاَزَبرَ لَهُ, الَّذِينَ هُم فِيكُم تَيبَعَا, لاَيَبتَغُونَ أَهلاً وَلاَ مَالاً, وَالخَائِنُ الَّذِي لاَيَخفَى لَهُ طَمَعٌ , وَإِن دَقَّ إِلاَّ خَنَهُ, وَرَجُلٌ لاَيُصبِحُ وَلاَ يُمسِى إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَن أَهلِكَ وَمَالِكَ, وَذَكَرَالبُخلَ أَوالكَذَبِ, وَالشِنظِيرُالفَحَّاشُ. ( ولم يذكر أبو غسّان في حديثه وأنفق فسننفق عليك ).   
 “ Ingatlah, sesungguhnya Tuhanku telah menyuruhku untuk mengajarkan kalian semua tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui, yang diajarkan Allah kepadaku seperti pada hari ini. ( Allah berfirman : “ Setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba hukumnya adalah halal. Sesungguhnya Aku telah menciptakan semua hamba-Ku sebagai muslim, Sesungguhnya mereka didatangi oleh syetan sehingga mengalihkan mereka dari keyakinan agamanya. Syetan juga akan mengharamkan sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, syetan memerintah mereka untuk menyekutukan Aku selama Aku belum menurunkan kekuasaan-Ku (untuk menghancurkan mereka). Sesungguhnya Allah menyaksikan penduduk bumi lantas mengutuk mereka, baik yang berasal dari kalangan arab maupun non arab, kecuali hanya sebagian orang dari ahli kitab saja. Allah juga berfirman:”Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji (orang-orang) melalui keberadaanmu (sebagai Rasul). Aku menurunkan sebuah kitab suci kepadamu, kitab suci yang tidak akan hilang karena dibasuh air serta dapat kamu baca pada waktu kamu tidur maupun terjaga”. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membakar orang-orang Quraisy. Lalu aku berkata:” Wahai Tuhanku , bagaimana ternyata jika mereka memecahkan kepalaku sebagaimana mereka mematahkan sepotong roti”. Allah berfirman: “ Usirlah mereka sebagaimana mereka telah mengusirmu!, perangilah mereka niscaya Kami akan menolongmu. Berinfaqlah kamu maka Kamipun akan memberi nafkah kepadamu. Utuslah satu pasukan, maka kami akan mengutus limakali pasukan yang serupa. Perangilah orang-orang yang bermaksiat kepadamu bersama-sama dengan mereka yang menaatimu!”. Penghuni surga itu ada tiga macam : Orang yang memiliki kekuasaan yang mau bersikap adil dan mau bersedekah serta menginfakan (hartanya), seorang laki-laki yang memiliki rasa belas kasih kepada setiap kerabat dan orang muslim, dan orang yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak halal sedangkan dia sendiri telah berkeluarga. Sedangkan penghuni neraka itu ada lima macam: Orang lemah yang tidak memiliki akal (yang bisa dipergunakan untuk menahan diri dari hal yang tidak pantas), mereka itu adalah orang yang hanya menjadi pengikut diantara kalian, tidak berkeinginan untuk memiliki keluarga maupun mencari harta,pengkhianat yang memperlihatkan sifat rakusnya sekalipun dalam hal yang samar, seorang laki-laki yang pagi dan petang senantiasa memperdaya kamu dari keluarga dan hartamu, lalu Allah menyebutkan sifat bakhil atau sifat bohong, dan orang yang akhlaqnya buruk ”. ( hanya saja pada riwayatnya Abu Ghosan tidak menyebutkan redaksi: “Berinfaqlah kamu, maka kamipun akan memberikan nafkah kepadamu “ ).
إِنَّ رَبِّى أَمَرَنِي أَن أُعَلِّمُكُم مَا جَهِلتُم مِمَّا عَلَّمَنِي يَومِ هَذَا : كُلُّ مَالٍ نَحَلتُهُ عَبدًا حَلاَلٌ
          Makna lafazh نَحَلتُهُ adalah أعطيته ( artinya sesuatu yang aku berikan ). Namun dalam rangkaian kalimat hadits tersebut ada frase yang dibuang ( mahdzuf . Apabila disebutkan secara lengkap maka bunyi kalimat tersebut adalah:
كُلُّ مَالٍ نَحَلتُهُ أَعطَيتُهُ عَبدًا حَلاَل
“ setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba dari sekian banyak hamba-Ku, status hukumnya adalah halal “
          Maksud kalimat hadits diatas adalah untuk mengingkari barang halal yang telah diharamkan oleh mereka bagi dirinya sendiri. Sesuatu yang semua halal lantas dianggap haram tersebut misalnya budak yang telah dimerdekakan, anak domba jantan yang kahir kembar dengan betina, unta yang dibelah telinganya, dll. Sebetulnya semua yang disebutkan itu tidak jadi haram karena mereka haramkan.
          Kemudian kata حُنَفَاءَ dalam kalimat وَإِنِّ خَلَقتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلُّهُم ,adalah orang-orang muslim, namun ada yang mengartikan sebagai orang-orang yang bersih dari perbuatan maksiat, bahkan ada pula yang mengartikan sebagai orang-orang yang istiqomah dan kembali kepada Allah karena menerima hidayah.
          وَإِنَّهُم أَتَتهُم الشَّيَاطِينُ, فَاجتَالَتهُم عَن دِينِهِم, Imam Nawawi rahimaullahu , berkata :“Demikianlah redaksi yang terdapat dalam naskah yang beredar dinegeri kami, yakni dengan menggunakan huruf jim ( ج ) sehingga berbunyi  فَاجتَالَتهُم ( Fajtalathum ), seperti inilah lafazh yang dinukil oleh alQadhi dari riwayat mayoritas perawi. Sedangkan redaksi  yang berasal dari riwayat alHafizh Abu Ali alGhassani adalah dengan menggunakan huruf kha ( خ ) sehingga berbunyi فَاختَالَتهم ( Fakhtalathum ). Namun redaksi pertama yang lebih shahih dan lebih jelas maknanya. Makna lafazh فَاجتَالَتهُم adalah : Syetan-syetan membodohi orang-orang tersebut lalu mengajak mereka pergi. Bahkan syetan itu menggelincirkan dari pendirian mereka semula dan akhirnya menggiring mereka ke jurang kebathilan. Demikian tafsir yang dikemukakan oleh alHarawi dan beberapa ulama lainnya.
          AlQadhi berkata adapun makna lafazh فَاختَالَتهم seperti yang disebutkan dalam satu riwayat adalah: syetan-syetan menahan dan menghalangi mereka dari keyakinan agamanya.
وَإِنَّ الله َ نَظَرَ إِلَى أَهلِ الأَرضِ, فَمَقَتَهُم عَرَبَهُم وَعَجَمَهُم إِلاَّ بَقَايَا مِن أَهلِ الكِتَابِ
yang dimaksud dengan kata المقت ( al maqtu ) adalah rasa benci yang mendalam. Sedangkan maksud dari kebencian atau kutukan Allah dalam hadits ini adalah karena Allah menyaksikan perbuatan orang-orang di muka bumi  yang tidak lagi sesuai dengan tatanan dan aturan agama . Hal itu terjadi sebelum Nabi saw diutus menjadi Rasul.
          Sedangkan yang dimaksud lafazh بَقَايَا مِن أَهلِ الكِتَابِ , artinya sebagian ahli kitab yang masih berpegang teguh kepada ajaran agama mereka yang benar. Tentu saja dengan tanpa melakukan perubahan dalam agama tersebut.
          Kemudian maksud kalimat:
إِنَّمَ بَعَستُكَ لأَبتَلِيَكَ وَ أَبتَلِيَ بِكَ
Yaitu : Allah hendak mengujimu ( Muhammad ) dengan cara memberikan beberapa perintah untuk kamu kerjakan, baik yang berupa misi kerasulan maupun yang lainnya seperti perintah berjihad, bersabar terhadap ujian dari Allah, dsb. Namun Allah menguji orang lain melalui diri Rasulullah saw. Oleh karena itu diantara mereka ada yang beriman secara terang-terangan dan benar-benar ikhlas dalam melaksanakan keta’atan, namun ada juga yang berpaling, bahkan menyimpan rasa permusuhandan kekufuran, dan diantara mereka pula ada yang bersifat munafik.
          Selain itu tujuan Allah memberikan ujian tidak lain supaya amal perbuatan mereka bisa dinilai secara lahiriah, karena sesungguhnya Allah swt hanya akan menyiksa hambaNya berdasar kepada sesuatu yang pernah dikerjakan, Allah tidak akan menyiksa berdasar sesuatu yang belum pernah dikerjakan, sekalipun Allah swt sebenarnya mengetahui atas segala sesuatu yang akan terjadi. Hal ini sesuai dengan isi Q.S Muhammad ayat 31 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
 “ Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” .
          Maksud ayat diatas adalah agar Allah mengetahui mana diantara mereka yang menerapkan beberapa sifat yang disebutkan, sehingga Allah akan membalas semua yang mereka perbuat.
          Selanjutnya yang dimaksud dengan kalimat:
وَأَنزَلتُ عَلَيكَ كِتَابًا لاَ يَغسِلُهُ المَاءُ, تَقرَؤُهُ نَائمًا وَيَقظَانَ
adalah kitab suci yang telah dihafal didalam dada. Dengan demikian tidak khawatir akan musnah, bahkan akan tetap kekal sepanjang masa dan terus menerus diwarisi oleh generasi khalaf dari generasi salaf mereka.
فَقُلتُ : رَبِّى إِذًا يَثلَغُ رَأسِي, فَيَدَعُوهُ خُبزَةً
maksud kalimat ini adalah melukai kepala sebagaimana roti yang di potong.
          لاَيَبتَغُونَ أَهلاً وَلاَ مَالاً , maksudnya orang yang malas untuk mencari harta dan malas memiliki keturunan.
          هُم فِيكُم تَيبَعَا , yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak memiliki pendirian dan pedoman dalam masalah agama.
          Demikian dari sekilas penjelasan diatas, dapat kita bedakan mana wahyu yang berupa alQuran dan  mana alHadits.

Maraji' :
Al Quran Al Karim
Syarah hadits Qudsi
Almausuatulkitab (CD)
Terjemah Tafsir AlMaraghi
Studi Ilmu AlQur-an_Manna Khalil al-Qattan_
Pokok-pokok Ilmu Tauhid jilid 1_Ust.A.Zakaria
Kajian Ulumul Quran Tamhidul Mubalighin PD PERSIS
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir_ M.Nasib Arrifa’i

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik