Mabni dan Mu'rab
Oleh : Den Herians
Kalimat (kata) dalam bahasa arab terbagi 2 kategori, yaitu : Mu’rab (معرب) dan Mabni (مبني). Maka Mu’rab itu diantaranya : yaitu kata yang berubah harakat akhirnya disebabkan perbedaan ‘awamil. Misalnya perubahan harakat akhir pada kata زَيْدٌ, pada jumlah (kalimat) : جَاءَنِيْ زَيْدٌ , kemudian رَأَيْتُ زَيْدًا , dan مَرَرْتُ بِزَيْدٍ. Maka kata جَاءَ adalah 'amil (عامل) dan kata زَيْدٌ, itu mu'rab dan harakat dhommah itulah i’rab (yang terkena perubahan) dan huruf dal ' د ' itu tempat i’rab. Adapun Mabni yaitu kata yang tidak berubah harakat akhirnya walaupun berbeda ‘awamil, misalnya kata : هؤلاء، هو,ini sama saja baik itu rofa’, nashab ataupun jar.
Semua jenis huruf adalah mabni, demikian pula sebagian dari fi’il-fi’il, yaitu : fi’il madhi, fi’il amr, fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun niswah dan nun taukid[1]. Dan ketahuilah bahwa Isim Ghair Mutamakkin adalah mabni, adapun Isim Mutamakkin adalah mu’rab dengan syarat kedudukannya berada didalam tarkib (susunan kalimat), demikian pula fi’il mudhari’ dengan syarat terbebas dari nun-nun yang disebutkan tadi.
Adapun Isim Ghair Mutamakkin yaitu isim yang menyerupai mabni asal, dan mabni asal itu ada tiga, yaitu :
1. الفعل الماضي ( Fi’il Madhi ).
2. الأمر الحاضر المعروف ( Kata perintah yang menunjukkan waktu sekarang yang diketahui ).
3. جملة الحروف ( Jumlah huruf ).
Sedangkan Isim Mutamakkin yaitu isim yang tidak menyerupai mabni asal.
Isim Ghair Mutamakkin ada delapan macam, yaitu :
1. المُضمَرَاتُ / Dhamir-dhamir, misalnya : أَنَا, ضَرَبْتُ, إِيَّايَ, ضَرَبَنِيْ, لِيْ, dan jumlahnya ada tujuh puluh [2] , yang diantaranya ada 14 yang marfu’muttasil (مرفوعًا متصلًا), yaitu :
ضَرَبَ، ضَرَبَا، ضَرَبُوْا، ضَرَبَتْ، ضَرَبَتَا، ضَرَبْنَ، ضَرَبْتَ، ضَرَبْتُمَا، ضَرَبْتُمْ، ضَرَبْتِ، ضَرَبْتُمَا، ضَرَبْتُنَّ، ضَرَبْتُ، ضَرَبْنَا.
Kemudian 14 yang marfu’munfashil (مرفوعًا منفصلًا), yaitu :
هُوَ، هُمَا، هُمْ، هِيَ، هُمَا، هُنَّ، أَنْتَ، أَنْتُمَا، أَنْتُمْ، أَنْتِ، أَنْتُمَا، أَنْتُنَّ، أَنَا، نَحْنُ.
Kemudian 14 yang manshub muttasil (منصوبًا متصلًا), yaitu :
قَتَلَهُ، قَتَلَهُمَا، قَتَلَهُمْ، قَتَلَهَا، قَتَلَهُمَا، قَتَلَهُنَّ، قَتَلَكَ، قَتَلَكُمَا، قَتَلَكُمْ، قَتَلَكِ، قَتَلَكُمَا، قَتَلَكُنَّ، قَتَلَنِيْ، قَتَلَنَا.
Kemudian 14 yang mansub munfashil (منصوبًا منفصلًا) , yaitu:
إِيَّاهُ ، إِيَّاهُمَا ، إِيَّاهُمْ ، إِيَّاهَا ، إِيَّاهُمَا ، إِيَّاهُنَّ ، إ يَّاكَ ، إِيَّاكُمَا ، إِيَّاكُمْ ، إِيَّاكِ ، إِيَّاكُمَا ، إِيَّاكُنَّ ، إِيَّايَ ، إِيَّانَا.
Dan 14 lagi yang majrur muttasil (مجرورًا متصلًا) , yaitu :
لَهُ ، لَهُمَا ، لَهُمْ ، لَهَا ، لَهُمَا ، لَهُنَّ ، لَكَ ، لَكُمَا ، لَكُمْ ، لَكِ ، لَكُمَا ، لَكُنَّ ، لِيْ ، لَنَا.
2. أسماء الإشارة / Isim-isim Isyarah, yaitu :
ذَا، ذَانِ، وذَيْنِ، تَا، تِيْ، تِهِ، ذِهِ، ذِهِيْ، تِهِيْ، تَانِ، تَيْنِ، أُوْلَاءِ، أُوْلَى.
3. الأسماء الموصولات / Isim-isim Maushul, yaitu :
اَلَّذِيْ، اَللَّذَانِ، اَللَّذَيْنِ، اَلَّذِيْنَ، اَلَّتِيْ، اَللَّتَانِ، اَللَّتَيْنِ، اَللَّاتِيْ، اَللَّوَاتِيْ، مَا، مَنْ، أَيُّ، أَيَّةُ [3]
Dan alif lam ( الألف واللام ) yang bermakna الذي pada isim fa’il dan isim maf’ul, misalnya : اَلضَّارِبُ, yang bermakna الذي ضَرَبَ , dan misalnya :اَلْمَضْرُوْبُ , yang bermakna الذي ضُرِبَ . Dan ذُوْ yang bermakna الذي pada lugoh bani Tha'iy, contoh:
جَاءَنِيْ ذُوْ ضَرَبَكَ.
Namun perlu diketahui bahwa أَيٌّ dan أَيَّةٌ keduanya ini mu’rab.
4. أَسمَاءُ أَفعَالٍ / Isim-isim fi’il, dan ada 2 macam , yaitu :
a. في معني الأمر الحاضر (bermakna perintah sekarang/segera), misalnya:
رُوَيْدَ [4] , بَلْهَ [5] , حَيَّهَلْ [6] , هَلُمَّ [7].
b. في معنى الفعل الماضي (bermakna fi’il madhi / waktu lampau), misalnya: هَيْهَاتَ [8] , شَتَّانَ [9] .
Terdapat pula Asmaul Af’al yang bermakna fi’il mudhari’ namun jarang, seperti:أُفٍّ yang bermakna اَتَضَجَّرُ (bosan, menjemukan). Sebagaimana FirmanNya Ta’ala:
«فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا» (Q.S : 17:23).
5. أسماء الأصوات / Isim-isim suara(bunyi)[10], misalnya:
أُحْ أُحْ, أُفْ, نَخَّ, غَاقَ [11].
6. أسماء الظروف / Isim-isim zharaf (keterangan), dan ada 2 macam yaitu : زَمَانٌ (waktu) dan مَكَانٌ (tempat).
a. Zharaf Zaman, misalnya:
[12] إِذ، إِذَا، مَتَى، كَيْفَ أَيَّانَ، أَمْسِ، مُذْ،, [13] مُنْذُ، قَطُّ، عَوْضُ، قَبْلُ، بَعْدُ .
b. Zharaf Makan, misalnya:
حَيْثُ، قُدَّامَ، تَحْتَ، فَوْقَ.
7. أسماء الكنايات / Isim-isim Kinayah. Adapun kinayah terdapat 2 macam, yaitu :
a. Ada kalanya dari bilangan, misalnya : كَمْ، كَذَا،.
b. Ada kalanya dari alhadits, misalnya: كَيْتَ(demikian)ذَيْتَ , (ini/itu, begini/begitu).
8. المركب العددي / Murakkab ‘Adadiy, misalnya : أَحَدَ عَشَرَ.
[1] . Fi’il mudhari’ itu mabni fathah jika bersambung dengan nun taukid tsaqilah atau khafifah, seperti contoh pada FirmanNya ta’ala:
«وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُوْمُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ»
(Q.S. 7:167). Dan mabni atas sukun jika bersambung dengan nun niswah, seperti contoh pada FirmanNya ta’ala:
«قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّ» (Q.S. 33:59).
[2]. Mengenai jumlah dhamir, kalangan ahli nahwu berbeda pendapat, sebagiannya mengatakan ada 70, dan sebagiannya lagi mengatakan ada 60. Namun demikian huruf ta ' ت ' pada perkataan «ضَرَبَتْ هِنْدٌ أُخْتَهَا» yang di ta'nits, yaitu huruf yang menunjukan atas fa’il yang muannats, maka ia bukanlah dhamir.
[3]. Bagi أَيّ dan أَيَّة ada 4 hal: 1. Kedua-duanya tidak menjadi mudhaf dan ditunjukkan silah maushulnya, misalnya:«أَيْ هُوَ قَائِمٌ» 2. Kedua-duanya tidak menjadi mudhaf namun tidak ditunjukkan silah maushulnya, misalnya: «أَيْ قَائِمٌ». 3. Kedua-duanya menjadi mudhaf dan ditunjukkan silah maushulnya, misalnya: «أَيُّهُمْ هُوَ قَائِمٌ». 4.Kedua-duanya menjadi mudhaf namun tidak ditunjukkan silah maushulnya, misalnya: «أَيُّهُمْ قَائِمٌ» , kemudian pada format yang ke 4 ini kedua-duanya mabni dan pada selainnya kedua-duanya mu’rab.
[4]. Bermakna : أَمْهِلْ ( pelan-pelan!/ beri waktu!).
[5] . Bermakna : دَعْ ( tinggalkan!).
[6] . Bermakna : إِيْتِ واَقْبِلْ (mendekatlah!, datanglah!).
[7] . Bermakna : إِيْتِ (datanglah!).
[8] . Bermakna : بَعُدَ (jauh).
[9] . Bermakna : اِفْتَرَقَ (terpisah).
[10]. Asma'ul Aswat yaitu kata-kata yang tidak berserikat dengan Asma’ul Af’al kecuali hanya dalam strukturnya yang terdengar sama, dan tidak ada i’rab baginya, dan juga tidak mengandung dhamir.
[11] . Seperti suara gagak, dan contoh lain: هَلَّا yaitu suatu teriakan untuk mengendalikan kuda, kemudian عَدَسَ untuk bighal(keledai), dan قَبَ untuk sarung pedang.
[12] . كيف termasuk isim istifham, juga merupakan keterangan waktu (zharaf zaman) menurut Sibawaih, في محل نصب دائمًا (senantiasa dalam kedudukan nasab), dan terkait dengan khabar. Contoh : كيف أنت atau terkait dengan hal, contoh: كيف جاء خالد. Yakni di i’rab atas khabar atau hal.
[13] . قبل, dan بعد keduanya mu’rab apabila mudhaf ilaihnya di sebutkan, dan keduanya mabni apabila mudhaf ilaihnya dibuang.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik