Perumpamaan, Munasabah, dan Qosam dalam alQuran
Oleh : Den Herians
Amtsal alQuran
Amtsal merupakan penyerupaan suatu keadaan dengan keadaan yang lain demi tujuan yang sama yaitu pengisah menyerupakan sesuatu dengan aslinya. Merupakan makna yang paling jelas dalam menggambarkan suatu realita yang dihasilkan oleh adanya daya tarik dan keindahan.
a. Menampilkan sesuatu yang ma’qul (rasional), sebagaimana dalam Q.S alBaqarah ; 264, yaitu Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “ .[168].
[168] Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.
Dalam ringkasan tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah berfirman : “Perkataan yang baik“, seperti kalinat thayyibah dan do’a kepada kaum muslimin , “dan ampunan“serta permintaan maaf dari kezhaliman, adalah lebih baik dari pada sedekah yang diiringi dengan menyakiti si penerima. Allah maha kaya dari bantuan makhluqnya lagi Maha Penyantun.
Dalam ringkasan tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah berfirman : “Perkataan yang baik“, seperti kalinat thayyibah dan do’a kepada kaum muslimin , “dan ampunan“serta permintaan maaf dari kezhaliman, adalah lebih baik dari pada sedekah yang diiringi dengan menyakiti si penerima. Allah maha kaya dari bantuan makhluqnya lagi Maha Penyantun.
Dalam shahih Muslim dikatakan dari Abu Dzar dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
ثَلاَثَةٌ لاَيُكَلِّمُهُمُ الله ُ يَومَ القَيَامَةِ وَ لاَيَنظُرُ إَلَيهِم وَلاَيُزَكِّيهِم وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ : المَنَّانُ بِمَا أَعطَى, وَالمُسبِلُ إِزَارَهُ, وَالمُنفِقُ سِلعَتَهُ بِالحَلَفِ الكَاذِبِ.
“Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan diperhatikan dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka adzab yang pedih: orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, orang yang memanjangkan kainnya (karena sombong), dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”.
Oleh karena itu Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”. Allah memperingatkan bahwa sedekah akan batal karena diikuti dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan yang menerimanya.
Kemudian Allah berfirman :”seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia “. Yaitu seperti batalnya orang yang riya dalam bersedekah, yang tampak oleh manusia bahwa dia bersedekah padahal dia bermaksud meraih pujian orang melalui sedekahnya. Oleh karena itu Allah berfirman : “dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”.
Kemudian Allah memberikan perumpamaan akan infak orang yang riya :
“perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Perumpamaan tanah / debu diatas batu yang licin yang ditimpa hujan lebat, sehingga tidak bersisa tanah itu dari batu tersebut, semuanya lenyap. Demikian perumpamaan bagi orang yang riya semuanya lenyap dan sirna dari sisi Allah walaupun tampak bagi dirinya amal, seperti orang yang melihat keberadaan tanah atau debu yang diatas batu, maka Allah berfirman :
“mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “.
Dari penjelasan kitab tafsir Ibnu Katsir tersebut, dapat diambil faedah dari adanya perumpamaan yang difirmankan Allah swt, yaitu kita dapat memahami dan membayangkan bagaimana hilangnya pahala amal sedekah yang disertai dengan perkataan sehingga menyakiti si penerima sedekah, sebagaimana hilangnya tanah dari atas batu yang licin.
b. Menghimpun makna yang menarik dan indah, dalam Q.S alBaqarah ; 17-20 :
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api [26], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. mereka tuli, bisu dan buta [27], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29]. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu" .
[26] Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.
[27] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran.
[28] Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.
[29] Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.
Perumpamaan seperti orang yang menyalakan api, yaitu orang yang mencari penerangan dengan api agar dia dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya. Setelah api itu dapat menyinari sekelilingnya, maka dia memperoleh manfaat dari api itu, tapi tiba-tiba api itu padam sehingga ia berada dalam gelap gulita, tidak bisa melihat dan tidak memperoleh petunjuk, dengan kondisi demikian ditambah lagi dengan keadaan yang tuli, bisu dan buta, sehingga walaupun ada cahaya ia tidak dapat mengambil manfaatnya, oleh karena itu ia tidak dapat kembali lagi ketempat semula.
Perumpamaan ini menunjukan bahwa kaum munafik itu pada awalnya beriman, kemudian mereka kafir. Maka hati mereka dikunci mati sehingga tidak dapat lagi memahami, maka mereka jatuh kedalam kebimbangan yang besar. Karena tiada lagi kebimbangan yang lebih besar melainkan kebimbangan terhadap agama.
“Atau seperti hujan lebat dari langit disertai kegelapan, guruh, dan kilat.Mereka menyumbat telinga dengan jarinya karena petir dan takut mati....” (hingga ayat 20).
Ini pun perumpamaan lain yang dimisalkan Allah kepada kaum munafik lainnya, yaitu sewaktu-waktu memperlihatkan kebenaran dan sewaktu-waktu memperlihatkan keraguan. Kondisi hati mereka yang ragu-ragu, kafir, dan bimbang adalah laksana hujan yang lebat dan gelap. Yang diserupakan dengan keraguan, kekafiran, kemunafikan, disertai guruh yang diserupakan dengan ketakutan, sebab kaum munafik itu merasa takut dan kaget luar biasa.
Ibnu ‘Abbas berkata bahwa penetapan alQuran itu nyaris membukakan aib kaum munafik.
“Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti”.
Ibnu ‘Abbas berkata :
“Maksudnya, ketika mereka mengetahui kebenaran dan mengatakannya, mereka dapat berjalan lancar, namun apabila mereka kembali kepada kekafiran mereka mandeg dan kebingungan “.
“Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka" .
Ibnu ‘Abbas berkata :
“ Karena mereka meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya ”.
kemudian ayat “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”, masih menurut Ibnu ‘Abbas : Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala azab dan ampunan yang hendak diberikan kepada hamba-hambaNya”.
Ibnu Jarir berkata : “Sesungguhnya Allah menyifati diriNya dengan Kekuasaan atas segala sesuatu dalam bidang ini tidak lain karena Allah hendak menakut-nakuti kaum munafik dengan azab dan kekuasaanNya, hendak memberitahu mereka bahwa Allah meliputi mereka dan berkuasa untuk melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
(Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir).
c. Mendorong orang untuk berbuat yang sesuai dengan yang diberi matsal, masih dalam Q.S alBaqarah ; 261 :
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui “.
[166] Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Ini perumpamaan yang diberikan Allah menyangkut pelipat gandaan pahala bagi orang yang berinfak di jalan allah untuk mencari keridloanNya. Bahwa kebaikan itu dilipatgandakan mulai dari sepuluh kali hingga 700 x lipat.
Dari Ibnu ‘Abbas dikatakan :
”Dirham yang diinfakkan dalam jihad dan haji akan di lipat gandakan hingga 700x lipat.
Oleh karena itu Allah berfirman : “adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji”.
Perumpamaan menjadi lebih menarik dengan ungkapan 700x lipat, karena perumpamaan itu mengandung isyarat bahwa amal saleh itu dikembangkan oleh Allah swt bagi pelakunya, seperti berkembangbiaknya biji yang ditanam ditanah yang subur.
Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ada seseorang yang menyedekahkan seekor unta yang rompeng hidungnya untuk perjuangan dijalan Allah. Maka Rasulullah saw bersabda : “ Niscaya ia akan datang pada haari kiamat membawa 700 ekor unta yang rompeng hidungnya “. (HR. Muslim dan Nasa’i)
Demikian dari perumpamaan ayat diatas memiliki faedah untuk menarik minat seseorang agar bersemangat berinfak dijalan Allah.
d. Memuji orang yang diberi matsal , Q.S AlFath; 29:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar “.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Pada permulaan Islam, orang-orang mu’min jumlahnya sedikit. Kemudian mereka bertambah banyak dan semakin teratur dari hari ke hari, semakin meningkat sehingga membuat orang-orang kagum terhadap mereka, Nabi saw berda’wah sendirian, kemudian Allah memperkuat orang-orang yang ada bersama Beliau sebagaimana diperkuatnya benih yang pertama dari suatu tanaman dengan hal-hal yang keluar daripadanya.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, bahwa Nabi saw bersabda : “ Orang yang paling belas kasih diantara umatku adalah Abu Bakar. Dan yang paling tegas dalam melaksanakan perintah Allah adalah Umar, dan yang paling pemalu adalah Utsman dan yang paling adil adalah Ali dan yang paling ahli dalam urusan faraidh adalah Zaid, yang paling pandai membaca adalah Ubay dan yang paling tahu diantara mereka tentang mana yang halal dan mana yang haram adalah Mu’adz bin Jabal. Dan setiap umat mempunyai kepercayaan. Dan kepercayaan umat ini adalah Abu Unaidah bin Jarrah”.
Kemudian Allah swt menerangkan bahwa orang-orang Mu’min Dia jadikan sedemikian rupa:
لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
"karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir"
Bahwasanya Allah mengembangkan orang-orang mu’min dan memperbanyak jumlah mereka adalah untuk membuat jengkel orang-orang kafir terhadap mereka. Karena orang-orang mu’min berkeyakinan bahwa Allah pasti menyempurnakan cahaya-Nya lewat orang-orang mu’min, sekalipun orang yang ingkar tidak rela. ( Tafsir AlMaraghi ).
Demikian Allah memuji orang yang diberi perumpamaan pada ayat tersebut diatas. Kaum muslimin pada waktu itu berada dalam masa kejayaan karena mereka benar-benar melaksanakan ajaran Rasulullah saw sehingga mereka seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.
Namun dimanakah masa kejayaan Islam pada saat ini? perumpamaan kemunduran dan kebodohan yang terjadi saat ini adalah perumpamaan tentang kebodohan dan lemah semangat, yang telah berubah menjadi tanaman yang kering dan terhempas oleh angin. Mudah-mudahan Allah swt segera merubah keadaan ini kembali kepada kejayaan Islam dahulu. Aamiin.
Ayat Munasabah
Munasabah secara bahasa berarti keserupaan / kedekatan , kemudian secara Istilah adalah Suatu ilmu yang mengetahui alasan-alasan dibalik susunan atau urutan bagian-bagian alQuran baik ayat dengan ayat ataupun surat dengan surat.
Fungsi munasabah :
1. Untuk mengembangkan sebagian anggapan orang bahwa tema-tema alQuran kehilangan relevansi antara satu bagian dengan bagian lainnya.
2. Mengetahui hubungan antar bagian alQuran, baik dari segi kalimat antar kalimat, ayat dengan ayat, ataupun surat dengan surat.
3. Dapat diketahui mutu dan tingkat bahasa alQuran dan konteks kalimat yang satu dengan yang lainnya.
4. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat alQuran setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat lain.
Contoh satu ayat Munasabah dalam alQuran, antara surat alFatihah dengan surat alBaqarah, yaitu pada surat Fatihah ayat 2 dan albaqarah ayat 152 :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“ segala puji [2] bagi Allah, Tuhan semesta alam “ [3].
[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
[3] Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.
“ Segala puji bagi Allah” , yakni rasa syukur hanya dipersembahkan kepada Allah semata bukan kepada perkara yang disembah selain Dia dan bukan kepada seluruh perkara yang diciptakanNya, karena Dia telah menganugerahkan nikmat kepada hamba-hambaNya yang tak terhingga jumlahnya dan tidak ada seorang pun selain Dia yang mengetahui jumlahnya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berhak mendapat rasa syukur, oleh karena itu bafi Allah lah segala puji , baik di awal maupun di akhir.
Sebagaimana diterangkan didalam alhadits :
اللَّهُمَّ لَكَ الحَمدُ كُلُّهُ وَلَكَ المُلكُ كًلُّهُ وَبِيَدِكَ الخَيرِ كًلُّهُ وَإِلَيكَ يَرجِعُ الأَمرُ كًلُّهُ....
“ Ya Allah kepunyaan Engkaulah segala puji , kepunyaan Engkaulah seluruh kerajaan, dalam kekuasaan Engkaulah segala kebaikan dan kepada Engkaulah segala urusan itu kembali ....”.
Bisyir bin Imarah berkata dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas bahwa :
“Segala puji kepunyaan Allah Rabb semesta alam “
Maksudnya segala puji itu kepunyaan Allah yang milikNya lah seluruh makhluq yang ada dilangit dan dibumi serta apa yang ada diantara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. ( Tafsir Ibnu Katsir ).
Kemudian munasabah dengan surat alBaqarah ayat 152:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“ Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu [98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku “.
[98] Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.
Pada ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersyukur kepadaNya. Allah mengingatkan kepada hamba-hambaNya yang beriman atas anugerahNya kepada mereka berupa diutusnya Rasulullah saw yang membacakan ayat-ayatNya yang jelas kepada mereka, menyucikan dan membersihkan mereka dari berbagai macam kotoran dan kehinaan, mengeluarkan mereka dari kemusyrikan kepada ketauhidan, mengajari mereka alKitab alQuran dan Hikmah (AsSunnah), serta mengajari mereka apa yang belum mereka ketahui.
Hasan Bashri dan ulama lainnya mengatakan :
“Sesungguhnya Allah ingat kepada orang yang mengingatNya, menambah rizki kepada orang yang bersyukur kepadaNya, dan mengazab orang yang mengufuriNya.
Dalam hadits shahih disebutkan :
يَقُولُ الله ُ تَعَلَى : مَن ذَكَرِنِي فِي نَفسِهِ ذَكَرتُهُ فِي نَفسِي وَمَن ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرتُهُ فِي مَلإٍ خَيرُ مِنهُ
“Allah Ta’ala berfirman : "Barangsiapa menyebut-Ku dalam hatinya, maka Aku akan menyebutnya dalam hati-Ku, barang siapa yang menyebut-Ku ditengah orang banyak, maka Aku akan menyebutnya ditengah kerumunan yang lebih baik". (Tafsir Ibnu Katsir)
Demikian sekilas contoh munasabah ayat, antara surat Fatihah ayat 2 dengan dikuatkan oleh surat alBaqarah ayat 152, menjelaskan bahwa seluruh pujian itu hanyalah milik Allah Ta’ala, bahwa kita mesti mengingat dan bersyukur kepada-Nya sebagai pengakuan bahwa Allah Maha Terpuji.
Qasam dalam AlQur-an
Secara bahasa Qasam artinya Sumpah, secara Istilah adalah Sumpah Allah dalam alQuran dengan maksud memberikan penegasan kepada umatNya terhadap hal yang disampaikan.
Sebagaimana contoh dalam Qur-an surat Al‘Ashr Allah bersumpah “ Demi Waktu ”.
Al ‘Ashr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Allah bersumpah dengan menyebutkan bahwa semua manusia itu benar-benar berada didalam kerugian, yakni rugi dan binasa. Dalam ayat ini Allah bersumpah menghendaki agar menjadi perhatian kepada seluruh manusia untuk berhati-hati dengan waktu yang digunakan. Jika waktu itu tidak digunakan untuk beribadah kepada Allah swt, maka Allah menegaskan pada ayat selanjutnya :
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
" Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,"
Maka semua manusia berada dalam kerugian, kecuali :
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “.
Diawali dengan sumpah: "Demi Waktu",
Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan waktu, agar digunakan untuk beramal shaleh, karena Allah memberikan pengecualian kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
Bagi kita sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu saja setiap waktu yang kita lewati mestilah diisi dengan amal shaleh agar tidak jatuh kepada kerugian dunia dan akhirat. Dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa ayat “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh “, artinya dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan seluruh tubuhnya mengerjakan amal-amal yang shaleh. Dan ayat :
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
“ dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran”
Artinya menunaikan kebaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“ dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Artinya tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemunkaran.
Dari penjelasan tafsir diatas, maka semakin yakinlah kita bahwa setiap waktu bagi orang beriman adalah amal shaleh, karena begitu pentingnya waktu dalam ajaran Islam maka Allah Ta'ala bersumpah dengan surat tersebut.
Sebagai kesimpulan... AmtsalulQuran, Munasabah Ayat alQuran dan QosamulQuran merupakan termasuk disiplin ulumulQuran yang sangat penting untuk dipelajari sebagai petunjuk amal dalam kehidupan sehari-hari orang beriman.
Baca juga :
______________________
MARAJI' :
Syarah hadits Qudsi
Kamus Almunawwir
Almausuatulkitab (CD)
Al Quran Al Karim
Qur-an In Word
Terjemah Tafsir AlMaraghi
Studi Ilmu AlQur-an_Manna Khalil al-Qattan_
Pokok-pokok Ilmu Tauhid jilid 1_Ust.A.Zakaria
Kajian Ulumul Quran Tamhidul Mubalighin PD PERSIS
Ringkasan Terjemah Tafsir Ibnu Katsir_ M.Nasib Arrifa’i

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik