1.1.19

        Setiap manusia mustahil tidak memiliki keyakinan beriman dan beragama dalam hidupnya, sekalipun ia mengaku tidak bertuhan. Serius ! … ketika dia meyakiniberita/informasibahwa Tuhan itu tidak ada, artinya ia sedang menuhankan informasi atauPembawainformasi tersebut, padahal informasi tersebut sangat bertentangan dengan “data” yang valid mengenai adanya Tuhan baik secara tersirat ataupun tersurat
Keimanan itu Fitrah
             Dalam Islam, informasi mengenaiApadanSiapaitu Tuhan, diberitakan oleh para Rasul-Nya kepada manusia (bahkan Jin), agar mereka semua mengimani dan menyembah Tuhan tersebut, hanya menyembah-Nya saja ! , bukan untuk menyembahPembawa Beritanya.  Dengan demikian, Islam memberikan pencerahan secara lurus dan murni, bersih dan suci dari menuhankansesuatuselain Allah.  Adapun informasi bahwa Tuhan itu hanyalah Allah Yang Esa, diamanatkan-Nya kepada para Utusan-Nya dengan validitas data dan informasi-Nya yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, jika semua manusia mau jujur dengan lubuk hatinya yang terdalam, maka ia tidak akan berani membantah kebenaran dan kemurnian Islam sebagai agama yang lurus dari Allah Yang Maha Esa untuk menjadi jalan hidup, karena keyakinan akan keimanan kepada agama yang benar sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebagaiFitrahmanusia, sebagaimana telah disampaikan Nabi terakhir
Baginda Rasulullaah terkasih,  Muhammad  saw  pernah bersabda :
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمعَاءَ هَلْ تُحَسُّونَ فِيهَا مِن جَدْعَاءَ ؟ [1]
“Setiap yang dilahirkan, ia dilahirkan diatas Fitrah, maka dua orang tua nya lah yang meyahudikannya atau menashranikannya atau memajusikannya, seumpama dilahirkannya hewan sebagai hewan dalam kondisi sempurna, apakah ditemukan padanya ada kecacatan?” - Alhadits - (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a).
Lalu Abu Hurairah berkata :
وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ:" فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ " [الروم: 30]
Bacalah oleh kalian jika berkehendak :
“ (Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus (Islam); tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. ArRuum:30)”. Dan keimanan itu Fitrah.
            Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, salah seorang sahabat yang mulia, yang namanya yaitu ‘Abdurrahman bin Shakhr adDausiy, dan Beliau adalah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits karena kesehariannya senantiasa bersama-sama Rasulullah saw, dan atas berkah dari do’anya Rasulullah saw maka Abu Hurairah memiliki hapalan yang kuat. Abu Hurairah r.a masuk Islam pada Tahun ke-7 dari Hijrah yaitu pada masa Khaibar dan meninggal di Madinah pada tahun 57 H.
            Jika disimpulkan secara ringkas, sebagaimana dijelaskan para pensyarah hadits dan para mufassir, Hadits dan ayat diatas menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah Ta’ala memiliki naluri beragama, yaitu agama Islam sebagai agama tauhid. Maka jika ada manusia yang tidak beragama Tauhid, sebenarnya itu tidaklah wajar dan menyimpang dari fitrah. Adapun penyebab mereka tidak beragama tauhid, diantaranya disebabkan pengaruh lingkungan.
Lebih jauhnya mari kita simak penjelasan hadits diatas secara rinci dari Syaikh Muhammad ‘Ali AsShobuniy Rahimahullaah, salah seorang ‘Ulama besar, seorang pengajar di Fakultas Syari’ah dan Dirasah islamiyyah di Makkah pada masanya : 
Makna Kosakata
1.  Kata كُلُّ (setiap/tiap-tiap), merupakan satu lafazh diantara lafazh-lafazh yang umum, yang berfaidah istighraq (mencakup seluruhnya), dan berfaidah Syumul (meliputi secara umum), contohnya seperti dalam Firman Allah Ta’ala :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti mati"
Dan terdapat pula contoh pada perkataan penyair :
كُلُّ الحَوَدِيثِ مَبدَؤُهَا مِنَ النَّظَرِ * وَ مُعظَمُ النَّارِ مِن مُستَصغَرِ الشَّرَرِ
Tiap-tiap kejadian bermula dari pandangan  * Dan besarnya api bermula dari percikan kecil
2.   Kata مَوْلُود (yang dilahirkan) yaitu  مَخلُوق(makhluk), dan  yang dimaksud yaitu janin yang keluar dari perut seorang ibu, baik janin laki-laki ataupun perempuan. Seorang penyair arab mengingatkan  dengan ungkapan :
وَلَدَتكَ أُمُّكَ يَا ابنَ آدَمَ بَاكِيًا * وَالنَّاسُ حَولَكَ يَضحَكُونَ سُرُورًا
فَاعمَل لِنَفسِكَ أَن تَكُونَ إِذَا بَكَوْا * فِي يَومِ مَوتِكَ ضَاحِكًا مَسرُورًا
Engkau dilahirkan ibumu hai anak Adam dalam keadaan menangis * dan orang-orang sekitarmu tertawa gembira.
Maka beramal lah untuk dirimu agar ketika mereka menangis * di hari kematianmu, (kamu) tertawa gembira.   Keimanan itu Fitrah.
3.  Kata الفِطْرَةِ , yang dimaksud adalah  الدِّينُ الحَنِيفُ (agama yang lurus), yang merupakan derivasi dari kata فَطَرَ  , yang bermakna خَلَقَ  (menciptakan), sebagaimana dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“ mengapa aku tidak menyembah yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? “ (Yaasiin :22).
Juga sebagaimana Nabi saw pernah bersabda kepada AlBaraa’ bin ‘Aazib setelah Beliau saw mengajarinya do’a hendak tidur, Beliau bersabda :
فَإِن مَتَّ مَتَّ عَلَى الفِطرَة
, yakni maksudnya : “ jika engkau membaca do’a yang Aku ajarkan tersebut, lalu engkau mati di malam kamu tidur, maka kamu mati diatas Fitrah, yakni diatas keimanan dan diatas agama yang lurus”.  Keimanan itu Fitrah.
4.  Kata يُهَوِّدَانِهِ (meyahudikannya), yaitu mereka berdua (orang tuanya) menjadikannya seorang Yahudi, kata ini merupakan derivasi dari kata هَادَ yang bermakna تَابَ  (kembali/taubat). Sebagaimana makna dalam salah satu ayat, Allah berfirman :
وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ... [2]
Pengertian هُدْنَا pada ayat ini yaitu تُبنَا و رَجَعنَا (kami bertaubat dan kami kembali).
Adapun maksud ungkapan Nabi saw : يُهَوِّدَانِهِ , yaitu : sesungguhnya kedua orang tuanya yang mengeluarkan anaknya dari Islam yang suci kepada agama Yahudi yang sesat.
5.  Kata يُنَصِّرَانِهِ , yaitu kedua orang tuanya menjadikannya Nashrani. Dan yang dimaksud Nashara yaitu pengikut Isa a.s , mereka pemegang kitab Injil, dan mereka menyebut dirinya Masihiin (pengikut almasih) sedangkan alQuran menyebut mereka Nashara. Adapun syari’at mereka ini telah dihapus oleh Allah Ta’ala sebagaimana dihapus juga syari’at Yahudi, setelahnya Allah Ta’ala mengutus Muhammad saw sebagai Rasul-Nya yang terakhir. Maka jadilah agama mereka itu bathil, tidak diterima di Sisi Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”.(Q.S. Ali Imran : 85)
6.  Kata يُمَجِّسَانِهِ , yaitu kedua orang tuanya menjadikannya Majusi, dan kaum Majusi yaitu mereka kaum yang menyembah api, atau penyembah matahari dan bulan dan lain-lain diantara sesembahan berupa benda-benda. Mereka menyembah pohon, sapi, dsb. Mereka orang-orang musyrik yang tidak memegang kitab samawi.
7.   Kata تُنْتَجُ , yaitu kata kerja dalam bentuk pasif yang bermakna تُولَدُ وَ تُخلَقُ (dilahirkan dan diciptakan).
8.  Kata البَهِيمَةُ , yaitu kata benda bagi yang tidak berakal, dan terkadang seseorang yang bodoh yaitu yang kurang akal dan pikirannya, diserupakan dengan kata tersebut. Terdapat contoh dalam syair :
أَبُنًيَّ إِنَّ مِنَ الرِّجَالِ بَهِيمَةً *فِي صُورَةِ الرَجُلِ السَّمِيعِ الْمُبصِرِ
فَطنٍ بِكُلِّ مُصِيبَةٍ فِي مَالِهِ * فَإِذَا أُصِيبَ بِدِينِهِ لَم يَشعُر
Wahai anakku sesungguhnya ada diantara seseorang itu adalah bahimah * Dalam bentuk seseorang yang mendengar lagi melihat.
Cerdik dengan setiap musibah yang menimpa pada hartanya * Apabila ditimpa musibah dalam agamanya, maka ia tiada menyadarinya.
9.   Kata جَمعَاءَ , yaitu sempurna fisiknya tidak ada kekurangan dan kecacatan.
10.  Kalimat هَلْ تُحَسُّونَ , maksudnya yaitu : “apakah kalian merasakan ada kekurangan?”, atau “ apakah kalian melihat dan mendapatinya ada kekurangan?”.  
11.   Kata جَدْعَاءَ , yaitu dipotong hidungnya atau telinganya.
Terdapat contoh dari sabda Nabi saw:
مَن قَتَلَ عَبْدَهُ قَتَلْنَاهُ وَمَنْ جَدَعَهُ جَدَعْنَاهُ
“ Siapa yang membunuh budaknya maka kami bunuh dia juga, dan siapa yang memotongnya, maka kami potong juga dia”. (H.R. Abu Dawud).
Makna Balaghah
1.   Ungkapan Nabi saw : يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ  , adalah bentuk kinayah dari kelahiran yang baik dan aqidah yang selamat, yakni aqidah Tauhid yang bersih murni.
2.  Ungkapan Nabi saw: فَأَبَوَاهُ , yang dimaksud yaitu ayah dan ibu. Dalam bahasa arab termasuk kedalam bab “taghlib”. Semisal perkataan “ العُمَرَينِ (dua Umar)” yang dimaksud yaitu Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhumaa. Dan semisal perkataan “  القَمَرَينِ (dua bulan)”, yang dimaksud yaitu matahari dan bulan.
3.  Ungkapan Nabi saw: يُهَوِّدَانِهِ,يُنَصِّرَانِهِ, يُمَجِّسَانِهِ , penggunaan kata dalam bentuk “ Fi’il Mudhari’ “ (kata kerja dalam bentuk present [ untuk saat ini dan akan datang ]) berfaidah tajaddud (regenerasi) dan tsubut(tetap).
4.  Ungkapan Nabi saw: كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ,  merupakan bentuk tasybih(penyerupaan) yang lathif (lembut/sopan), dalam ilmu balaghah disebut dengan Tasybih Tamtsiliy. Nabi saw membuat perumpamaan terhadap : “ anak yang dilahirkan, dilahirkan diatas keimanan (fitrah) “, dengan biri-biri yang lahir sempurna organ tubuh dan bentuk fisiknya, kemudian  manusia membuatnya menjadi cacat dengan memotong telinganya atau hidungnya sehingga menodai dan merusak wujudnya yang sempurna. Demikian pula seorang anak itu terlahir membawa fitrah tauhid dan keimanan, lalu dirusaklah aqidahnya  dan dicemari dengan pendidikan yang buruk dan lingkungan yang fasad.
5.   Ungkapan Nabi saw: جَمعَاءَ و جَدْعَاءَ , diantara kedua kata  ini memiliki kedekatan lafazh namun berbeda makna, untuk menunjukkan retorika yang indah [3].
Syarh (Penjelasan) Hadits
            Didalam hadits yang mulya tersebut tersimpan keharuman diantara keharuman-keharuman untaian kalimat, dan cahaya diantara cahaya-cahaya kenabian. Sungguh Nabi saw telah menjelaskan dengan penjelasan yang terang, jernih dan segar, dengan gaya bahasa yang lembut, serius dan tertata dengan baik, memiliki aspek keilmuan yang tinggi.
Para ahli ilmu sosiologi melakukan penelitian, ahli filsafat dan para pemikir pun mengumpulkan data dari sifat kelahiran manusia, untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan : Apakah agama itu merupakan watak dasar dalam setiap diri manusia?, dan apakah kebaikan ataukah keburukan yang sebenarnya bawaan asal manusia?, dan apakah kejadian seorang anak ketika lahirnya itu dibekali dengan kapabilitas (kemampuan) ruhiyah yang menjadi ilham terhadap jiwanya untuk membimbing dan mengarahkannya?.
Maka Nabi saw melalui hadits diatas, telah menunjukkan bagaimana asal diantara asal usul perkembangan makhluq yang mulya ini. Apa yang diberitakan oleh Nabi saw merupakan bimbingan dan cahaya yang terang bagi siapa saja yang mau mengkaji, mau memikirkan serta mencari pengetahuan (ma’rifat) dan kebenaran(hakikat).
Nabi saw menunjukkan bahwa yang menjadi watak dasar manusia adalah kebaikan, sifat baik inilah yang murni, adapun sifat buruk/jahat sesungguhnya ini adalah lawannya. Dan manusia diciptakan diatas fitrah yang selamat, suci dan lurus. Akan tetapi komunitas atau lingkunganlah yang merusaknya, merusak tatanan kesucian dan kelurusan agamanya, terlebih lagi adalah kedua orang tuanya yang menjadi sebab kebinasaannya, sebab baik atau buruknya , lurus atau bengkoknya. Keimanan itu Fitrah.
Seorang anak ketika ia dilahirkan dalam kondisi yang baik dalam lingkungannya, pasti ia akan tumbuh diatas keimanan dan ia tentu akan hidup diatas kebaikan dan kesalihan. Namun jika lingkungannya fasad dan menyimpang termasuk orang tuanya, sedangkan sedekat-dekatnya manusia kepada seorang anak adalah kedua orang tuanya , maka itu akan merusak akal sehat dan kemurniannya, maka kondisi tersebut akan merubahnya, memalingkannya dari petunjuk kepada kesesatan, dari kebahagiaan kepada kecelakaan, dari keimanan kepada kekafiran.
Jika saja keluarganya tidaklah fasad, lingkungannya tidak menyimpang, dan kedua orangtuanya tidak sesat, maka tentu manusia tetap diatas firahnya, baik jiwanya, selamat aqidahnya, maka ia akan bergerak dengan cepat menuju keutamaan dan kesempurnaan.
Maka perhatikanlah sabda Nabi saw, sehingga Beliau saw memberikan perumpamaan seorang anak dengan seekor biri-biri yang Allah ciptakan dengan sempurna akan tetapi manusia merusak kesempurnaannya tersebut, sehingga mereka memotong telinga atau hidungnya sehingga menjadi hewan yang cacat.
Demikian hadits tersebut menggambarkan bagaimana hakikatnya seorang manusia itu adalah pada dasarnya lahir dengan watak manusia yang beraqidah lurus dan murni.  Adapun manusia yang mengingkari dan menyimpang dari kesuciannya, mereka tidak mempergunakan karunia Allah berupa akal, penglihatan dan pendengaran mereka untuk memperhatikan ayat-ayat Allah. Maka tak ubahnya mereka itu seperti binatang. Sungguh benar Firman Allah Ta’ala :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“ dan Sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, mereka Itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. AL A’raaf:179).
وصَلَّى الله وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
Keimanan itu Fitrah.

[1]  Lihat : من كنوز السنة ,Muhammad ‘Ali asShobuniy.
[2] dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (Q.S. Al A’raf :156)
[3] Dalam ilmu balaghah dikenal dengan istilah ilmu badi'.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik