29.8.17

Belajar dari Nuh as bagian 1
Oleh: Den Herians
Setiap orang pasti memiliki suatu keyakinan atau kepercayaan tertentu, dan dia mesti terikat dengan apa yang dia yakini, sekalipun ada orang yang mengaku tidak percaya Tuhan atau atheis, namun pada dasarnya dia terikat dengan ketidak percayaannya itu, maka sesungguhnya dia sedang beriman kepada ketidak percayaannya.
Nah, didalam Islam, keterikatan tersebut dinamakan Aqidah. Karena keterikatannya hanya kepada Allah yang Maha Satu, maka Islam menyebutnya Aqidah Tauhid. Yang sesungguhnya aqidah tauhid inilah yang diajarkan dalam Islam, merupakan aqidah yang Allah telah tetapkan kepada seluruh manusia untuk membenarkannya dan mengamalkannya sejak manusia pertama di ciptakan, lihat di artikel Konsep Agama.
Kemudian keyakinan tersebut mengalami pergeseran akibat terjadinya perselisihan dan kedengkian diantara manusia, tepatnya terjadi pada masa Nuh as , sudah ane tulis diartikel awal perselisihan manusia dalam agama. Maka pada masa inilah rasul pertama di utus untuk kembali mengajak umat kepada aqidah tauhid .
Allah swt telah menetapkan Nuh a.s[1] sebagai rasul pertama[2] untuk memberi peringatan dari Allah akan adzab yang besar kepada kaumnya, sebagai pembawa risalah dan hudan agar mereka kembali ta’at dan beribadah hanya kepada Allah swt. Firman-Nya Ta’ala:
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih"." (Q.S. Nuh:1)
Allah swt tidaklah serta merta menurunkan adzab ketika suatu kaum berbuat melampaui batas, melainkan Dia terlebih dahulu menurunkan peringatan kepada mereka melalui rasul-Nya, sehingga Allah berkehendak menyelamatkan orang-orang yang mau beriman diantara mereka.
Sebagaimana yang telah banyak dikisahkan bahwa apa yang terjadi kepada kaum Nuh a.s, mereka adalah kaum yang menyelisihi kebenaran setelah sebelumnya berada diatas syari’at yang haq [3], sehingga Allah mengutus Nuh supaya mengajak mereka kembali kepada Tauhidullah, meninggalkan penyembahan berhala, meninggalkan kemusyrikan dan dosa.
Dapat kita perhatikan dan tauladani bagaimana beberapa ayat alQuran menjelaskan bahwa Nuh a.s mengawali dakwahnya dengan menyeru umatnya kepada tauhidullah,  Firman-Nya Ta’ala :
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوحًا اِلٰی قَوْمه فَقَالَ یٰقَوْمِ اعْبُدُوا الله مَا لَكُم مِّنْ  اِله غَیرُہ  اِنِّی  اَخَافُ عَلَیكُمْ عَذَابَ یَوْمٍ عَظِیمٍ
" Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". (Q.S. Al A’raaf:59). [4]
Kemudian Firman-Nya Ta’la :
قَالَ يَا قَوْمِ  إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ  أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“ Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku” (Q.S. Nuh:2-3).
Nuh a.s memerintahkan mereka untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengerjakan seluruh amal yang wajib juga yang sunat diantara amalan-amalan hati dan amalan-amalan anggota badan. Serta memerintahkan supaya mereka bertaqwa kepada-Nya dan takut akan adzab-Nya yaitu dengan cara meninggalkan yang diharamkan-Nya dan menjauhi segala dosa. Kemudian agar mereka pun menyempurnakan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan menerima nasihat-nasihat Nuh a.s. [5]

gbr. Tuhan Yang Maha Esa

Nuh pun menyampaikan janji Allah kepada kaumnya apabila mereka mau menta’ati tiga hal yang Allah perintahkan tersebut, maka Allah menjanjikan mereka dua hal, yaitu:
       
1.      يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ
"Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian", yaitu jika mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan membenarkan apa yang diutuskan kepada kalian maka Allah mengampuni dan memaafkan dan menghilangkan segala kesalahan. Disini Allah berjanji kepada mereka menghapuskan kemadlaratan akhirat dari mereka.
2.      وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى
"dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan". Yaitu diperpanjang umur kalian sampai batas maksimum yang Allah tetapkan kadarnya, itupun jika mereka beriman dan mematuhi apa yang ada dibalik ketetapan Allah bagi mereka, atas takdir tetapnya mereka diatas kekafiran dan pembangkangan. [6]
Juga pada ayat yang lain, Firman-Nya Ta’la :
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوحًا اِلٰی قَوْمِہٖ فَقَالَ یٰقَوْمِ اعْبُدُوا الله مَا لَكُم مِّنْ  اِلهٍ غَیرُهُ  اَفَلَا تَتَّقُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (Q.S. Al Mu'minuun:23).
Dari beberapa ayat diatas cukup jelas bagi kita bahwa sejak rasul pertama diutus, adalah bertugas untuk meninggikan kalimat Allah, menyampaikan ajaran tauhid untuk membersihkan umat dari kemusyrikan dan kejahiliyahan dalam agama. Dan tidaklah para rasul di utus kecuali mereka mengajak kepada Tauhidullah. Dengan demikian sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk mengikuti, memahami dan mengamalkan aqidah tauhid dengan benar sesuai ajaran para rasul-Nya, terlebih bagi para muballigh untuk lebih mendalami lagi bagaimana para rasulullah menyampaikan dan mengajak umat kepada Tauhidullah.
Selanjutnya, alQuran menjelaskan bagaimana Nuh a.s mengajarkan tauhidullah kepada umatnya, dan perlu diketahui bahwa didalam dakwah itu terdapat unsur targhib dan tarhib, sebagaimana ayat berikut merupakan tarhib (peringatan/ancaman) supaya kaum Nuh takut akan adzab Allah Ta’ala. Sebagai pelajaran untuk seluruh manusia agar meyakini benar akan ke-esaan Allah swt dan bagaimana teramat lemahnya manusia sehingga tidaklah sedikitpun pantas bagi mereka untuk menyombongkan diri terhadap Rabb semesta Alam, Firman-Nya Ta’ala :
مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا  وَ قَدْ خَلَقَكُمْ  اَطْوَارًا   [7]

“ Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian “

أَي مَالَكُم لَا تَخَافُونَ عَظَمَةَ اللهِ  وَقَد خَلَقَكُم عَلَى أَطوَارٍ مُختَلِفَةٍ ، فَكُنتُم  نُطفَةً   فِى الأَرحَامِ،  ثُمَّ عَلَقَةً ، ثُمَّ مُضغَةً ، ثُمَّ عِظَامًا، ثُمَّ كَسَا عِظَامَكُم لَحمًا، ثُمَّ  أَنشَأَكُم خَلقًا آخَرَ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحسَنُ الخَالِقِينَ.[8]
Yaitu: Mengapa kamu tidak takut akan keagungan Allah, padahal dia sungguh telah menciptakan kamu dalam beberapa tahapan yang berbeda-beda, maka jadilah kamu itu nuthfah didalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, kemudian tulang belulang, kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging, kemudian kamu dibentuk menjadi makhluq yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah Pencipta Yang Paling Baik.
Disebutkan mengenai tahapan-tahapan ini dalam banyak ayat alQuran, seperti surat Ali Imran, surat alMu'minuun,dll. Mengajarkan kepada manusia untuk memikirkan siapakah yang mengurus semua itu kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla?, bukankah statement-statement diatas menunjukan Wujud-Nya Allah Ta’ala dan Wahdaniyah-Nya ?, oleh karena itulah Allah Ta’ala mengutus para rasul-Nya untuk mengingatkan manusia akan ke Maha Kuasaan Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Mengurus segalanya, hanya Dia yang berhak untuk disembah dan di ibadati.
Kemudian Nuh a.s menyampaikan risalah Rabbnya ‘Azza wa Jalla mengenai penciptaan langit dan sebagian perkara alam semesta,yang semuanya menunjukan ke Maha Esaan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana ayat selanjutnya menjelaskan, Firman-Nya Ta’ala :
أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا تَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا .   [9]


“ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu “
أَيْ  أَلَمْ تَعْلَمُوا  أَنَّ الَّذِي قَدَرَ عَلَى هَذَا، فَهُوَ  الَّذِي   يَجِبُ  أَنْ يُعْبَدَ !. [10]
Yakni apakah kalian tidak mengetahui sesungguhnya yang menguasai  ini semua, Dia lah yang wajib untuk di ibadati !.
Disini terlukiskan bagaimana Nuh a.s telah berdialog dengan analogi dan keterangan yang menunjukkan keesaan Allah swt, dan memerintahkan kaumnya supaya benar-benar memperhatikan ilmu-ilmu disekitar diri mereka sendiri, cakrawala, langit dan bumi, matahari dan bulan, bagaimana langit dan bumi itu bisa berlapis-lapis, sebagiannya melapisi atas sebagian yang lain, setiap langit itu meliputi yang lainnya seperti kubah-kubah, Allah swt menciptakan tujuh langit yang menutupi bumi yang berlapis-lapis pula. Allah Ta’ala menciptakan matahari dan bulan beserta penciptaan langit dan bumi. Allah membentuk manusia dari tanah dibumi ini (sebagaimana tumbuhnya tanaman di bumi) dan mengembalikannya sebagaimana dia berasal darinya kemudian dikeluarkan lagi  darinya setelah ia mati, untuk memperhitungkan segala perbuatan mereka ketika di dunia. Allah juga menciptakan bumi sebagai hamparan dengan stabil sehingga manusia bisa melakukan perjalanan diatas luasnya bumi dengan tenang. Itu semua adalah nikmat-nikmat dari Allah swt, yang semuanya itu menunjukan wahdaniyah-Nya Allah swt. Maka tiada satupun yang berhak untuk diibadati kecuali hanya Allah ‘Azza wa Jalla.
Kemudian argumen-argumen yang dibawa oleh Nuh a.s mengenai Tauhidullah tidak dapat terbantahkan oleh kaumnya, namun mereka tetap tidak mau menerima seruan Nuh a.s kecuali hanya sedikit saja diantara mereka yang telah beriman. Maka Allah swt mengadzab kaum Nuh setelah Nuh berdo’a kepada Allah swt.
Namun demikian, dipenghujung dakwah Nuh a.s, Allah swt menghibur Nuh untuk tidak bersedih hati, Firman-Nya Ta’ala :
وَأُوحِيَ   إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ  لَنْ يُؤْمِنَ  مِنْ قَوْمِكَ  إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ   فَلَا تَبْتَئِسْ  بِمَا كَانُوا  يَفْعَلُونَ 
 " Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan".(Q.S. Huud: 36).
Allah swt memberitahukan kepada Nuh, bahwa kaumnya tidak akan pernah mau beriman, namun Nuh jangan menyesal dan bersedih atas kekafiran mereka, karena sudah ditetapkan bagi mereka keputusan Allah, dan telah pasti kebenaran Kalimat Allah atas orang-orang yang kafir.
Dari sekilas penjelasan diatas mengenai dakwah Nabi Nuh as kepada Tauhidullah, memberi gambaran dan hikmah kepada kita, bahwa perjalanan dakwah fisabilillah dengan mengajak umat untuk meyakini akan ketauhidan Allah swt, seberat apapun rintangannya, juru dakwah tidak boleh berhenti untuk  menyerukan Tauhid, dan dari sejak Nuh diutus, bahwa petunjuk Allah itu hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang mau beriman, terlihat bahwa pengikut Nuh as hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang telah beriman saja. Sehebat dan sejelas apapun argumen yang disampaikan, tidak akan bermanfaat bagi orang-orang yang enggan untuk beriman, dan ini bukanlah sesuatu yang harus membuat juru dakwah lemah terkulai dan bersedih hati, karena tugas mereka hanyalah mengajak dan menyampaikan kebenaran, bukan untuk menentukan semua orang mau menerima dan beriman.
Wallaahul Muwaffiq

Selanjutnya : Ikhlash dan Istiqomah (belajar dari Nuh as bag2)

[1] Yaitu : نُوحُ بْنُ لَامَكَ بْنِ مَتُّوشَلَخَ بْنِ خَنُوخَ، وَهُوَ إِدْرِيسُ بْنُ بُرْدِ بْنِ مَهَلَايِيلَ بْنِ أَنُوشِ بْنِ قَيْنَانَ بْنِ شِيثِ بْنِ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. : Nuh bin Lamak bin Matusyalakh bin Khanukh yaitu Idris bin Burdi bin Mahalabil bin Anusy bin Qainan bin Syits bin Adam a.s.(Qashashul Anbiya')
[2]. Lihat: Tafsir alQurtuby, Tafsir Ibnu Katsir, Addurul Mantsur fi Tafsir bilMa'tsur, dll.  Paling tidak  pada penjelasan surat al-  A’raf ayat 59.
[3]. Kunjungi : link wijad : Awal Perselisihan Manusia dalam Agama.
[4] Permulaan terjadinya penyembahan berhala oleh kaumnya itu diawali adanya suatu kaum yang shalih, mereka meninggal dunia kemudian kaumnya membangun bagi mereka masjid-masjid dan mereka membuat gambar/lukisan didalamnya supaya mereka dapat mengenang orang-orang yang shalih tersebut dan memuja mereka dengan harapan mereka dapat menyerupai orang-orang shalih tersebut, kemudian berlalulah masa yang panjang, mereka malah membuat gambar-gambar tersebut menjadi patung-patung, kemudian seiring lamanya waktu mereka berbuat melampaui batas maka mereka menyembah berhala-berhala itu dan memberi mereka nama dengan nama-nama orang-orang yang shalih tersebut. Maka ketika perkara kemusyrikan ini semakin kritis, Allah swt mengutus seorang rasul yaitu Nuh a.s untuk memerintahkan kepada mereka agar mereka hanya menyembah Allah tidak menyekutukan-Nya, maka Nuh berkata : "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya,  Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar", yaitu adzab hari kiamat ketika kalian menemui Allah dalam keadaan kalian menyekutukan-Nya. Akan tetapi para pembesar kaumnya malah berkata kepada Nuh : " Sesungguhnya kami melihat kamubenar-benar berada dalam kesesatan ". yaitu didalam dakwahmu mengajak kami untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala ini yang kami telah mendapatinya dari nenek moyang kami!".
Beginilah keadaan para pendosa, mereka memandang orang-orang yang ta’at kepada Allah berada dalam kesesatan. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, pada surat Al-A’raaf:59-62).
[5] . Lih: Penjelasan Almaraghi ,tafsir surat Nuh ayat 1-4.
[6] Ibid. ‘Ulama mengambil kesimpulan dengan ayat ini (surat Nuh ayat 1-4) : Bahwa keta’atan kepada Allah, berbuat baik, dan bersilaturrahim hakikatnya adalah dapat memperpanjang umur, sebagaimana terdapat dalam hadits : صِلَةُ  الرَّحِمِ  تَزِيدُ   فِى العُمُرِ "Shilaturrahim (menyambungkan kasih sayang) itu menambah umur ".
[7] (Q.S. Nuh:13-14).
[8] المكتبة الشاملة تفسير المراغي (29/ 84
[9]  (Q.S. Nuh:15-20).
[10]  Lihat : المكتبة الشاملة تفسير القرطبي (18/ 304

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik