13.8.17

Konsep Wahyu dan Kenabian

Wahyu dan kenabian merupakan dua unsur rukun iman dalam agama Islam, tepatnya iman kepada kitab dan rasul. Pembahasan tentang keduanya sangat urgen mengingat hari ini banyak yang melakukan desakralisasi terhadap al-Qur`an dan hadits Nabi saw. Al-Qur`an dipandang sebagai sebuah teks buatan Nabi Muhammad saw yang sangat terikat oleh sejarah, ruang dan waktu. Demikian juga dengan hadits Nabi Muhammad saw. Apa yang dituangkan dalam al-Qur`an dan hadits dinilai sebagai cerminan budaya Arab yang membentuknya. Sehingga jilbab, hukum potong tangan, waris, perang, dan pernikahan antar-agama mesti ditafsirkan ulang agar sesuai dengan perkembangan zaman hari ini.
gbr. quran sunnah
Konsep Wahyu
Secara bahasa wahyu bermakna "pemindahan sesuatu kepada yang lain". Imam Ibn Manzhur menyebutkan:
كُلُّ مَا أَلْقَيْتَهُ إِلَى غَيْرِكَ
Setiap yang kamu alihkan kepada selainmu[104]

Maka dari itu, jelas Ibn Manzhur, maknanya mencakup berisyarat (isyârah), menulis (kitâbah), menyampaikan surat/pesan (risâlah), memberi ilham (ilhâm), dan berbicara dengan pelan (kalam khafiy).[105]
Dalam al-Qur`an sendiri pemakaian kata wahyu ini ditemukan dalam beberapa ayat, di antaranya:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia,…"[106]
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",[107]
Dalam dua ayat tersebut wahyu bermakna "ilham".
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.[108]
Dalam ayat di atas wahyu bermakna "memberi isyarat".
Sementara itu, wahyu dalam konteks istilah syara' tercermin dalam ayat dan hadits berikut:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.[109]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa."[110]
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[111]
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رضي الله عنه سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه و سلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلي الله عليه و سلم أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Dari 'Aisyah, ummul-mu`minin—semoga Allah meridlainya—bahwasanya al-Harits ibn Hisyam ra bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu?" Rasulullah saw menjawab: "Terkadang datang kepadaku seperti gemerincing lonceng, dan itu yang paling berat bagiku. Ketika selesai maka aku sungguh telah menghafal apa yang Dia firmankan. Terkadang pula malaikat datang menyerupai seorang laki-laki. Ia berkata kepadaku, dan aku hafal terhadap apa yang Dia firmankan." 'Aisyah menjelaskan: "Sungguh aku pernah melihat beliau ketika menerima wahyu pada suatu hari yang sangat dingin. Ketika selesai keningnya bercucuran keringat.[112]
Dalam proses turunnya wahyu tersebut, Allah swt menjamin Nabi Muhammad saw tidak akan salah satu huruf pun dalam menghafal firman Allah swt.
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.[113]

Dari ayat dan hadits di atas, dapat diketahui bahwa wahyu adalah sumber ajaran para Nabi 'alaihimus-salâm. Yang membedakan Nabi dari manusia lainnya adalah wahyu itu sendiri, karena memang para Nabi adalah seorang manusia biasa. Wujud wahyu itu sendiri adalah kalâm (firman) Allah swt yang ditransferkan kepada Nabi-Nya, baik secara langsung ataupun melalui perantaraan malaikat. Itu berarti bahwa wahyu memiliki dua unsur pokok, yakni Allah swt selaku pemberi wahyu dan Nabi as sebagai penerima wahyu.
Berkaitan dengan hal ini, Manna' al-Qaththan memberikan ta'rîf wahyu sebagai berikut:
كَلاَمُ اللهِ تَعَالَى الْمُنَزَّلُ عَلَى نَبِيٍّ مِنْ أَنْبِيَائِهِ
Firman Allah Ta'ala yang diturunkan kepada seorang Nabi.[114]

Wahyu adalah Tanzîl
Catatan dari al-Qaththan bahwa wahyu itu munazzal; diturunkan langsung, perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Karena itu berarti bahwa apa yang diterima Nabi adalah murni sebagai firman Allah swt secara utuh. Tidak terkandung di dalamnya penafsiran dan pengalihan bahasa oleh malaikat atau oleh Nabi sendiri. Dalam berbagai ayat al-Qur`an penegasan wahyu sebagai tanzîl ini dapat ditemukan:
تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Al-Qur`an adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya (langsung menyiksanya). Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.[115]
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.[116]

Dalam ayat ini Allah swt dengan sangat tegas menyatakan bahwa al-Qur`an tanzîl; diturunkan langsung dalam bahasa Arab ke dalam sanubari Nabi Muhammad saw. Tidak ada campur tangan malaikat sedikit pun. Termasuk juga Nabi, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Apalagi syetan, yang disebutkan Allah swt tidak akan mungkin mampu mengembannya.
وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ 
Dan Al-Qur`an itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Qur`an itu, dan mereka pun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Qur`an itu.[117]

Karena syetan, kata Allah swt, hanya mampu membawa berita-berita yang kosong.
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ
Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?[118]

Oleh karenanya teks al-Qur`an, walau bagaimanapun, tidak akan sama dengan teks buatan penyair, ataupun jampi-jampi paranormal.
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan Al-Qur`an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.[119]

Sampai di sini jelas sekali bahwa wahyu yang diturunkan Allah swt kepada para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw, adalah kalam Allah, dan tentunya tidak akan sama dengan hasil kreasi manusia. Dengan sendirinya wahyu ini pun metahistoris; tidak terikat sejarah, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ia jelas tidak tunduk pada budaya Arab yang ada waktu itu, melainkan melintasinya. Kalau memang wahyu, khususnya al-Qur`an, merupakan hasil kreasi manusia tepatnya Nabi Muhammad saw, tentu manusia-manusia yang lainnya pun bisa membuat karya yang serupa dengan al-Qur`an. Akan tetapi fakta berbicara lain, al-Qur`an tidak bisa tersamai oleh karya manusia yang ada waktu itu, bahkan sampai hari ini. Ini sekali lagi menjadi fakta shahih bahwa al-Qur`an bukan hasil kreasi manusia, melainkan kalâm Allah swt.
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain."[120]

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar." Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu[713] Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?[121]
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.[122]

Dalam ketiga ayat di atas, Allah swt menantang manusia membuat yang serupa al-Qur`an, mulai dari satu mushhaf seperti al-Qur`an, sepuluh surat, bahkan sampai satu surat, akan tetapi sampai hari ini memang tidak ada yang bisa membuatnya. Ini menjadi bukti shahih bahwa al-Qur`an bukan dihasilkan oleh kreasi manusia yang terikat oleh sejarah itu, melainkan kalam Allah swt yang melintasi sejarah.
Konsep Kenabian
Nabi berasal dari kata naba` yang berarti berita yang sangat penting.[123] Istilah Nabi itu sendiri bermakna seseorang yang diberi berita (mukhbar) dan penyampai berita dari Allah swt (mukhbir).[124] Berita yang dimaksud adalah wahyu dari Allah swt sebagaimana telah diuraikan di atas. Al-Qur`an menginformasikan:
قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ
Ia (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."[125]
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,[126]
Istilah lain dari Nabi adalah Rasul, artinya seseorang yang diutus. Maksudnya adalah seseorang yang diutus oleh Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوهُ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ فَبُعْدًا لِقَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.[127]

Kenabian bukan Kecerdasan Manusiawi
Keterikatan yang erat antara Nabi/Rasul dengan Allah swt melalui wahyu ini perlu ditegaskan ulang untuk menepis pendapat-pendapat bahwa kenabian adalah sebuah proses kecerdasan manusia tingkat tinggi, hasil imajinasi kompositif, atau kemampuan melakukan kontak dengan akal aktif yang berada di dunia spiritual (malaikat Jibril).[128]Uraian-uraian seperti itu terlalu dibuat-buat dan dikhawatirkan meniru tuduhan orang-orang musyrik Makkah terhadap Nabi Muhammad saw yang menyebut beliau sebagai seseorang yang mempunyai daya imajinasi yang tinggi (penyair), mampu berkomunikasi dengan alam ghaib (paranormal/tukang sihir) dan alam mimpi (adlghâtsu ahlâm/halusinasi mimpi). Semua tuduhan itu dibantah oleh Allah swt, karena kenabian dengan wahyunya merupakan sesuatu yang jauh lebih tinggi dari semua tuduhan itu.
فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya." Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu."[129]
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Bahkan mereka berkata (pula): "(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus."[130]

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta."[131]


Perbedaan Nabi dan Rasul
Tentang istilah Nabi dan Rasul, ada yang berpendapat tidak ada perbedaan di antara keduanya. Akan tetapi sebagian besar ulama menyatakan terdapat perbedaan, berdasarkan firman Allah swt:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[132]
Mengenai perbedaan antara Nabi dan Rasul, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Nabi itu seseorang yang diberi wahyu tetapi tidak ditugaskan untuk menyampaikannya kepada umatnya, sedangkan Rasul ditugaskan untuk menyampaikan ajaran kepada umatnya. Ada juga yang berpendapat bahwa Rasul itu seseorang yang diutus dengan membawa syari'at yang baru, sementara Nabi adalah seseorang yang diutus untuk menguatkan syari'at Nabi sebelumnya.
Al-Asyqar dalam hal ini menyatakan bahwa pendapat yang kedua lebih tepat, yakni Rasul adalah seseorang yang diutus dengan membawa syari'at yang baru, sementara Nabi adalah seseorang yang diutus untuk menguatkan syari'at Nabi sebelumnya. Karena menurutnya, semua Nabi pasti ditugaskan untuk menyampaikan ajarannya dan tidak boleh menyembunyikannya. Dan itu terbukti dalam hadits riwayat al-Bukhari dimana Nabi saw menyatakan para Nabi juga memiliki pengikut/umat.[133]
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
Dihadapkan kepadaku umat-umat. Maka ada seorang Nabi yang disertai oleh seorang, ada Nabi yang disertai oleh dua orang, ada Nabi yang disertai oleh serombongan orang, dan ada juga Nabi yang tidak disertai seorang pun.[134]

Jumlah Nabi dan Rasul
Jumlah Nabi dan Rasul sangat banyak, beberapa di antaranya disebutkan dalam al-Qur`an. Sebagaimana dinyatakan Allah swt dalam salah satu firman-Nya:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.[135]
Mengenai jumlah pastinya, sebuah riwayat dari Abu Dzar menginformasikan:
وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ الْأَنْبِيَاءِ كَانَ أَوَّلَ؟ قَالَ: آدَمُ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَنَبِيٌّ كَانَ؟ قَالَ: نَعَمْ نَبِيٌّ مُكَلَّمٌ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَمِ الْمُرْسَلُوْنَ؟ قَالَ: ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيْرًا. وَفِي رِوَايَةٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ كَمْ وَفَاءُ عِدَّةِ الْأَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا اَلرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلاَثُمِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيْرًا
Dan dari Abu Dzar, ia berkata, aku bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah Nabi pertama?" Beliau menjawab: "Adam." Aku bertanya lagi: "Apakah ia seorang Nabi?" Beliau menjawab: "Ya, Nabi yang diajak bercakap-cakap langsung oleh Allah." Aku bertanya lagi: "Berapa jumlah Rasul?" Beliau menjawab: "300 belasan, jumlah yang banyak." Dalam riwayat dari Abu Umamah, Abu Dzar bertanya: "Berapa jumlah keseluruhan Nabi?" Beliau menjawab: "124.000. Di antaranya 315 orang menjadi Rasul."[136]

Agama Nabi dan Rasul
Semua Rasul dan Nabi diutus oleh Allah swt dengan ajaran yang sama, yakni beribadah hanya kepada Allah dan jauhi selain Allah (Thaghuth):
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".[137]

Ajaran seperti ini dinamakan Islam.[138] Maka dari itu bisa disimpulkan bahwa semua Nabi agamanya Islam. Nabi Adam as agamanya Islam, Nabi Ibrahim as agamanya Islam, Nabi Musa as agamanya Islam, Nabi 'Isa as agamanya Islam, dan semua Nabi-nabi hingga Nabi Muhammad saw agamanya juga Islam.
Kesatuan agama para Nabi/Rasul ini merupakan konsekuensi dari kesatuan substansi wahyu yang diterima oleh para Nabi/Rasul sebagaimana telah diuraikan dalam konsep wahyu di atas. Konsekuensinya, mendustakan seorang Rasul berarti mendustakan semua Rasul, karena para Rasul sudah terikat dalam satu kesatuan. Sebagaimana disinggung oleh al-Qur`an berikut ini:
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ 
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.[139]
كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ
Kaum 'Aad telah mendustakan para rasul.[140]
كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ
Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.[141]
كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ
Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.[142]
كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ
Penduduk Aikah (Madyan) telah mendustakan rasul-rasul.[143]
Yang didustakan oleh umat-umat yang disebutkan di atas itu adalah Nabi yang diutus kepada mereka, bukan semua Nabi. Akan tetapi, dalam pandangan al-Qur`an, ketika mereka mendustakan seorang Nabi, maka hakikatnya mereka telah mendustakan semua Nabi.
Al-Qur`an menegaskan bahwa pengakuan kepada semua Nabi ini merupakan aqidah. Menyalahinya berarti kufur, dan tidak Islam lagi.
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[144]
Karena setiap Nabi diberikan ajaran oleh Allah swt untuk menguatkan Nabi lainnya. Dan jika ada Nabi lain di masa hidupnya yang datang belakangan, maka ia harus menolong Nabi yang datang belakangan tersebut, sekaligus mengikuti syari'atnya jika ia membawa syari'at baru dari Allah swt. Apalagi itu terkait Nabi terakhir, Muhammad saw.
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu."[145]
Oleh karenanya Nabi Muhammad r pernah bersabda:
وَإِنَّه -واللهِ-لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلا أَنْ يَتَّبِعَنِي
Sesungguhnya demi Allah, kalau saja Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak halal baginya kecuali harus mengikutiku.[146]
Dalam kesempatan lain, beliau menyatakan:
الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
Para nabi itu saudara dari istri-istri muda. Ibu mereka beda-beda, dan agama mereka satu.[147]
Islam hari ini benar-benar membuktikan statusnya sebagai agamanya para Nabi. Dalam hal konsep ketuhanan, kenabian, dan kitab, misalnya, Islam hari ini tidak mengalami pergeseran. Konsep ketuhanannya masih sama dengan agama para Nabi sebelumnya, yakni tauhid. Konsep kitab dan kenabiannya masih utuh, tidak dipilah-pilah sebagaimana halnya Yahudi dan Kristen yang menolak mengimani Muhammad saw dan al-Qur`an. Semua itu membuktikan bahwa wahyu memang melintasi ruang dan waktu. Ia sama sekali tidak terikat oleh ruang dan waktu dengan mengalami pergeseran disesuaikan dengan kondisi ruang dan waktu tertentu.

Dekonstruksi Konsep Wahyu
Saat ini, konsep wahyu yang sangat jelas dan gamblang sebagaimana diuraikan di atas, didekonstruksi oleh sebagian pihak. Wahyu dinilai bukan kalam Allah, melainkan teks yang dibuat oleh sejarah. Maka hermeneutika pun menjadi satu-satunya model penafsiran yang tepat untuk al-Qur`an.
Untuk lebih jelasnya, bisa disimak paparan Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta saat ini, terkait konsep wahyu yang dikutip dari bukunya, Menafsirkan Kehendak Tuhan.[148]
Menurut Komaruddin, al-Qur`an haruslah dilihat dari perspektif teologi dan filsafat linguistik. Sebuah pandangan teologis menyebutkan bahwa al-Qur`an  adalah suci, kebenarannya absolut, berlaku di mana dan kapan saja, sehingga ia tidak mungkin bisa diubah dan diterjemahkan. Begitu diterjemahkan dan ditafsirkan, maka ia bukan lagi al-Qur`an, melainkan terjemahan dan tafsiran al-Qur`an.
Namun demikian, menurutnya, dari sudut historis dan filsafat linguistik, pandangan di atas menimbulkan problem tersendiri. Begitu kalam Tuhan telah membumi dan sekarang malah menjelma ke dalam teks, maka al-Qur`an tidak bisa mengelak untuk diperlakukan sebagai objek kajian hermeneutik. Karena umat beragama tidak berjumpa langsung dengan Tuhan ataupun Malaikat Jibril sebagaimana yang dialami Rasulullah, melainkan hanya dalam bentuk teks dan tafsiran yang diantarkan pada kita melalui mata-rantai tradisi. Itu artinya, teks al-Qur`an kemudian memiliki dua dimensi; sakral dan profan, absolut dan relatif, historis dan metahistoris. Tegasnya, teks al-Qur`an tidak ada bedanya dengan teks-teks lainnya yang bersifat terbuka untuk digugat dan dikritisi.
Komaruddin juga menjelaskan, wahyu itu pada dasarnya bukanlah bahasa tertulis. Wujud wahyu adalah "suara" atau "bisikan". Proses kalam Allah yang abadi, universal dan metahistoris tersebut menjadi bahasa Arab yang bersifat budaya, berdimensi lokal dan partikular merupakan sebuah hal yang selalu memancing nalar kritis. Para hermeneut kemudian sering mengajukan pertanyaan, apakah jaminannya bahwa Muhammad tidak salah tangkap dan salah ingat, padahal Muhammad kadang kala merasa ketakutan dan bagaikan menahan beban berat ketika menerima wahyu?
Komaruddin menjelaskan lebih lanjut, dalam al-Qur`an yang telah tersaji saat ini, setidaknya telah melalui dua proses penafsiran. Pertama, penafsiran al-Qur`an yang dilakukan oleh Jibril dan kemudian didiktekan kepada Muhammad saw. Secara filosofis, persoalan siapa Jibril, masih bisa diperdebatkan. Mengapa Allah yang lebih dekat ketimbang urat nadi manusia masih memerlukan perantara untuk berbicara kepada Muhammad? Kalau begitu, apa dan siapa yang disebut Jibril itu?
Kedua, penafsiran yang mungkin terjadi dalam diri Muhammad Rasulullah. Bukankah Muhammad sebuah sosok pribadi yang cerdas, jujur, amanah (bisa dipercaya), dan bukan sebuah kaset kosong untuk diisi rekaman? Jadi, ketika menerima wahyu, Muhammad bertindak aktif memahami, menyerap dan kemudian mengungkapkannya dalam bahasa Arab. Selain itu, menambahkan penjelasannya melalui hadits. Bahkan, manusiawi jika Muhammad kadang kala merasa bagaikan memikul beban yang amat berat ketika wahyu itu turun, atau seperti mendengar lonceng yang mememakkan gendang telinga, ketika Jibril datang hendak menyampaikan wahyu.
Terhadap fakta yang seperti inilah, maka Komaruddin Hidayat dan sebagian sarjana muslim lainnya mendesak untuk memberlakukan hermeneutika (metode kritik teks) terhadap al-Qur`an. Menurut mereka, walau bagaimanapun, ketika al-Qur`an sudah mewujud sebagai teks, otomatis sifatnya bukan lagi kalam Allah, melainkan teks buatan manusia, tepatnya Nabi Muhammad saw.

Mengenal Hermeneutika
Hermeneutika adalah tafsir Bible. The New Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa hermeneutika adalah the study of the general principle of biblical interpretation to discover the truths and values of the Bible (studi prinsip-prinsip umum tentang penafsiran Bible untuk mencari kebenaran dan nilai-nilai kebenaran Bible).[149] Bible itu sendiri adalah kitab suci Kristen dan Yahudi, terdiri dari Perjanjian Lama  dan Perjanjian Baru.[150] Menurut para ahli, Kristen mengadopsi hermeneutika disebabkan kalangan Kristen hampir sepakat bahwa Bible secara harfiahnya bukan kalam Tuhan. Itu dibuktikan dengan adanya perbedaan pengarang Bible yang secara otomatis melahirkan style yang berbeda-beda. Oleh karena itu mereka memerlukan hermeneutika untuk memahami kalam Tuhan yang sebenarnya.[151]
Akar katanya berasal dari bahasa Yunani Kuno ta hermeneutika yang berarti 'hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan'. Kata tersebut merupakan turunan dari Hermes, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi.[152] Dan konsep hermeneutic itu sendiri di masa Yunani resminya digunakan untuk kebutuhan kultural bagi menentukan makna, peran dan fungsi teks-teks kesusasteraan yang berasal dari masyarakat Yunani kuno. Saat itu dikenal dua model interpretasi, yaitu literal yang dikembangkan Aristoteles, dan alegoris yang dikembangkan oleh Plato.[153]
Kedudukan Hermes dalam mitologi Yunani tersebut pada faktanya tidak bisa dipandang sebatas mitos belaka. Karena terbukti dari mitologi tersebut berkembang sebuah pemikiran tentang bagaimana "sang juru bicara" Tuhan tersebut harus menerjemahkan bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia, dari bahasa universal menjadi bahasa lokal. Hal inilah yang kemudian dianut oleh para hermeneut muslim yang menyamakan proses tranmisi wahyu dari Allah swt kepada para nabinya dengan peran Hermes dalam mitologi Yunani tersebut. Yakni bahwa wahyu itu bukan berbahasa Arab, dijadikan berbahasa Arab oleh Jibril dan Nabi saw agar bisa dipahami oleh penduduk Arab waktu itu. Sebuah sikap yang tentunya sangat ceroboh dan bertentangan dengan prinsip tanzîl yang dinyatakan secara tegas oleh Allah swt dalam al-Qur`an.

Madzhab Hermeneutika Kristen
Dalam perkembangannya, sebagaimana ditulis The New Encyclopedia Britannica, terdapat empat model utama interpretasi Bible yang berkembang di kalangan Kristen, yaitu (1) literal interpretation, (2) moral interpretation, (3) allegorical interpretation, dan (4) anagogical interpretation. Tiga interpretasi pertama disistematisasikan oleh Origen (185-254 M). Sementara model interpretasi keempat, dikembangkan oleh Johannes Cassianus (360-430 M).
Menurut literal interpretation, teks Bible haruslah diinterpretasikan sesuai dengan makna yang jelas (plain meaning), sesuai konstruksi tata bahasa dan konteks sejarahnya. Model ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kemauan penulis Bible. Mereka percaya bahwa kata-kata yang tercantum dalam Bible adalah berasal dari Tuhan. Namun pendapat ini banyak mendapatkan kritik. Sebab, faktanya, dalam Bible terdapat banyak bahasa individu sang penulis Bible itu sendiri.
Model moral interpretation mencoba membangun prinsip-prinsip penafsiran yang memungkinkan nilai-nilai etik diambil dari beberapa bagian dalam Bible. Misalnya, menginterpretasikan undang-undang tentang makanan dalam Kitab Imamat (Leviticus), bukan sebagai larangan untuk memakan daging hewan tertentu, tetapi lebih merupakan sifat-sifat buruk yang secara imajinatif diasosiasikan dengan hewan-hewan itu.
Menurut model ketiga, allegorical interpretation, teks-teks Bible mempunyai makna pada level kedua, di atas seseorang, sesuatu, ataupun yang jelas-jelas disebutkan secara gamblang dalam teks. Sementara model keempat, anagogical interpretation, ini dikenal sebagai mystical interpretation. Model ini dipengaruhi oleh tradisi mistik Yahudi (Kabbala) yang di antaranya mencoba mencari makna-makna mistis dari angka-angka dan huruf-huruf Hebrew.
Contoh dari interpretasi empat tingkat adalah kata Jerusalem. Pada level literal, Jerusalem adalah nama kota yang ada di bumi. Menurut makna moral, Jerusalem berarti jiwa (soul). Pada makna alegoris, Jerusalem diartikan sebagai gereja Kristen. Dan pada level anagogical, Jerusalem adalah "kota Tuhan di masa depan". [154]
Dari empat model itu, dua model menjadi arus utama interpretasi Bible pada awal-awal sejarah kekristenan, yaitu model alegoris yang berpusat di Alexandria dan model literal yang berpusat di Antioch. Model alegoris ini merupakan kelanjutan dari metode interpretasi Plato sedangkan model literal merupakan kepanjangan dari metode interpretasi Aristoteles.[155]
Karena model alegoris ini bisa menghasilkan pengertian yang liar, maka kalangan Kristen membatasi model ini dengan batasan keimanan (rule of faith), yakni bahwa interpretasi haruslah sejalan dengan ajaran gereja. Batasan lainnya adalah apa yang disebut hermeneutical circle, yakni bahwa suatu teks harus diinterpretasikan sesuai konteks Bible secara keseluruhan, bukan hanya konteks lokal teks tersebut. Model interpretasi ini pada tahap selanjutnya hanya membatasi pastur-pastur saja sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk menginterpretasi. Sebuah model interpretasi yang kemudian mendominasi Katholik Roma.
Sebagai bentuk protes pada model interpretasi khas gereja di atas, Marthin Luther menyatakan bahwa "kata-kata Tuhan" harus diartikan secara jelas sesuai arti bahasa dan makna literalnya. Ia menghendaki metode penafsiran literal dengan tujuan untuk mengalihkan otoritas interpretasi Bible dari gereja, konsili-konsili dan Paus, ke teks Bible itu sendiri. Prinsip yang didengungkannya adalah sola scriptura; cukup dengan kitab suci saja. Prinsip ini kemudian dipegang teguh oleh kalangan Kristen Protestan. Dari sinilah, menurut para ahli, mulainya pembakuan hermeneutika sebagai ilmu, metode dan teknik interpretasi yang otonom.[156]

Hermeneutika Barat (Filsafat)
Memasuki abad ke-17, dipelopori oleh Schleiermacher—seorang pendeta Protestan yang juga filosof—hermeneutika dijadikan sebuah filsafat pemahaman yang mencakup semua bidang ilmu, tidak hanya Bible. Dalam periode ini, setidaknya terdapat tiga aliran hermeneutika, yaitu:
Pertama, hermeneutika teoretis (hermeneutical theory). Schleiermacher (1768-1834) sebagai pencetus aliran ini menyatakan bahwa hermeneutika haruslah menempuh dua bentuk penafsiran: (1) penafsiran gramatikal, bertitik tolak pada wacana umum suatu bahasa atau kebudayaan, dan (2) penafsiran psikologis yang didasarkan pada subjektifitas pengarang. Yakni pembaca berusaha memahami maksud pengarang dengan cara merekonstruksi perasaan si pengarang, sehingga dimungkinkan mampu memahami lebih baik daripada pengarangnya sendiri.
Wilhelm Dilthey (1833-1911)—kritikus sastra dan sejarawan asal Jerman— sependapat dengan Schleiermacher. Hanya ia mengkritik penafsiran psikologis yang berkutat pada batin si pengarang. Menurutnya, yang perlu direproduksi bukan kondisi batin pengarangnya, tapi makna-makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.
Kedua, hermeneutika filosofis (hermeneutic philosophy). Aliran ini dipelopori oleh Hans-Georg Gadamer. Aliran ini membantah hermeneutika filosofis yang berkutat pada masa lalu. Menurut aliran ini, sebuah proses penafsiran selalu berarti proses produksi makna baru dan bukan reproduksi makna awal. Karena kita hanya dapat memahami masa lalu (teks, pengalaman sejarah) dari sudut pandang kita dan dari situasi kekinian kita. Oleh karenanya, penafsiran adalah sebuah proses re-interpretation; memahami lagi teks secara baru dan makna baru pula. Inilah yang kemudian disebut teori double movement.
Ketiga, hermeneutika kritis (critical hermeneutics). Aliran ini dipelopori oleh Jurgen Habermas (1929- ). Menurutnya, hemeneutika teoretis dan filosofis terlalu berkutat pada bahasa dan bahasa itu sendiri. Apakah itu dikaitkan dengan subjektifitas pengarang, situasi kesejarahan masa lalu, ataupun dalam posisinya menatap masa depan. Semestinya, hermeneutika harus bisa membongkar motif-motif tersembunyi dan kepentingan terselubung, khususnya kepentingan kekuasaan, yang melatarbelakangi lahirnya teks. Pemikiran ini muncul sangat mungkin disebabkan terpengaruh oleh lingkungan sosial Habermas yang Marxis.[157]
Dalam tradisi hermeneutika modern dikenal tiga orang yang disebut sebagai three masters of prejudices, yaitu Sigmund Freud, Karl Marx, dan Friedrich Nietzsche. Sikap "prejudice" atau prasangka ini dimaknai oleh mereka secara positif agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
Dari Sigmund Freud, para hermeneut belajar bahwa alam bawah sadar (subconscious) setiap pengarang, juga pembaca, pasti turut berperan dalam memandang dan menafsirkan realitas. Isi bawah sadar yang paling dominan, kata Freud, adalah dorongan dan ilusi-ilusi libido. Jika asumsi Freud ini diterapkan pada al-Qur`an, maka fenomena yang segera muncul adalah, bagaimana kita mesti memahami narasi al-Qur`an yang bercorak sangat laki-laki? Bukankah itu disebabkan kultur Arab yang lebih dominan peran sosial laki-lakinya?
Dari Karl Marx para hermeneut diajari untuk mewaspadai kesadaran pengarang dan pembaca yang mudah sekali dipengaruhi oleh status ekonomi dan politik. Kelahiran teks jenis apa pun, termasuk teks keagamaan, tidak luput dari pengaruh ekonomi dan politik. Oleh karenanya, dalam memahami dan menafsirkan teks, termasuk al-Qur`an, asumsi-asumsi kepentingan politis-ekonomis ini harus bisa dilewati dengan cara dekonstruksi (merusak total) kerangka yang ada, dalam rangka memperoleh kebenaran objektif. Maka yang terjadi adalah penafsiran shahabat dan para ulama salaf lainnya selalu "dicurigai" dengan motif politis-ekonomis.
Adapun dari Nietzsche, para hermeneut belajar bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki dorongan untuk menguasai orang lain. Maka pembakuan Mushaf 'Utsmaniy akan selalu dicurigai sebagai kebijakan penguasa yang tidak adil. Pembakuan beberapa tafsir salaf pun akan selalu dicurigai dengan motif yang ini.[158]
Uraian di atas, setidaknya dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa hermeneutika tidak bebas nilai. Ia sangat terpengaruh oleh latar belakang masing-masing pemikirnya. Tergambar pula dengan jelas bahwa dalam hermeneutika tidak ada kesepakatan yang sama tentang bagaimana sebenarnya metode penafsiran yang benar. Masing-masingnya saling menjatuhkan dan mengklaim bahwa penafsiran versi dirinyalah yang paling benar. Inilah yang kemudian membuat para pemikir dewasa ini meyakini bahwa penafsiran itu relatif; tergantung pada metodologinya.
Terlebih jika kita mempertimbangkan asumsi dan peringatan yang dikemukakan Freud, Marx, maupun Nietzsche, maka jelas sekali hermeneutika sebagai sebuah metodologi penafsiran berusaha memperingatkan pembaca untuk selalu "curiga" kepada para shahabat dan ulama yang dituduh telah "membakukan secara paksa" al-Qur`an dan ilmu tafsirnya. Bahkan tidak hanya itu, Jibril dan Nabi Muhammad saw pun mereka curigai dari ketiga motif yang telah dijelaskan di atas. Anehnya, para hermeneut itu sendiri banyak yang terlalu lugu karena tidak mampu "mencurigai" teori-teori yang dikemukakan para masternya itu.

Dampak Hemeneutika terhadap al-Qur`an
Ketika hermeneutika diterapkan pada al-Qur`an, maka jelas konsekuensinya al-Qur`an disamakan statusnya dengan Bible; sebuah produk sejarah yang dihasilkan manusia, penafsiran terhadapnya relatif, dan ajaran-ajaran yang dikandungnya harus dirombak total agar sesuai dengan zaman.
Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zaid—di antara tokoh pemikir yang sering dijadikan rujukan oleh para sarjana peminat hermeneutika—misalnya menyatakan bahwa al-Qur`an adalah produk sejarah. Ia hanyalah hasil sosial dan budaya yang dijadikan "tak terpikirkan" disebabkan semata-mata pemaksaan penguasa resmi. Arkoun menyatakan bahwa wahyu hanya dapat diketahui oleh manusia melalui "edisi dunia" (editions terrestres) yang telah mengalami modifikasi, revisi dan substitusi.[159] Nasr Hamid menegaskan, al-Qur`an adalah bahasa manusia. Perubahan teks ilahi menjadi teks manusiawi terjadi sejak turunnya wahyu yang pertama kali kepada Muhammad.[160]
Fazlur Rahman—dikenal sebagai guru Cak Nur dan Syafi'I Ma'arif—dengan hermeneutika yang dianutnya menyatakan bahwa tafsir yang ada sekarang sangat tradisional, karena pendekatan yang dilakukannya parsial dan atomistik. Bagi Fazlur Rahman, metode menafsirkan al-Qur`an haruslah dengan cara "gerakan ganda" versi hermeneutika Gadamer; tidak hanya melihat masa lalu, tapi juga menyesuaikannya dengan masa sekarang dalam satu kesepaduan. Hasilnya, Fazlur Rahman menolak poligami, hukuman potong tangan, bunga bank sebagai riba, dan hukum-hukum Islam lainnya.[161]
Dalam buku Indahnya Kawin Sesama Jenis (hlm. 39), disebutkan bahwa homoseks diharamkan karena penafsiran yang tidak kritis. Sang penulis kemudian mengaku menafsirkan dengan kritis—sebagaimana berlaku dalam hermeneutika—dengan menyatakan bahwa motif Nabi Luth dalam mengharamkan homoseksual (sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur`an surat al-A’raf :80-84 dan Hud :77-82) tidak lepas dari faktor kepentingan Luth itu sendiri, yang gagal menikahkan anaknya dengan dua laki-laki, yang kebetulan homoseks.[162] Sesuatu yang kemudian dihebohkan kembali oleh Musdah Mulia akhir Maret 2008.[163]
Sebelumnya, Guru Besar UIN Jakarta ini juga menyatakan bahwa penafsiran larangan kawin beda agama atas QS. Al-Mumtahanah [60] : 10 haruslah dengan memahami konteksnya. Sebuah madzhab yang khas dalam hermeneutika. Menurutnya, konteksnya waktu itu kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan umat Islam. Sehingga wajar jika kemudian diharamkan. Tapi sekarang konteksnya sudah berbeda, sehingga tidak tepat kalau masih dinyatakan haram. [164]
Amina Wadud, seorang professor Islamic Studies di Virginia Commonwealth University menyatakan dalam bukunya, Qur`an and Women: Rereading the Sacred Text from a woman's Perspective, bahwa penafsiran al-Qur`an 'model klasik' yang ada saat ini bias gender, menindas wanita. Sehingga kemudian janganlah heran kalau ia mengehebohkan dunia Islam dengan menjadi imam sekaligus khatib Jum'at di sebuah Katedral New York 18 Maret 2005 silam.[165]
Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta, lebih provokatif lagi. Dalam pengantarnya untuk buku Hermeneutika Pembebasan ia berani menyatakan, "Tafsir-tafsir klasik al-Qur`an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam."[166] Sebuah pernyataan yang dikeluarkan Amin Abdullah dalam keadaan dirinya tidak pernah mengeluarkan satu karya tafsir (atau hermeneutika) pun. Baginya, makna yang jelas itu hanya akan didapatkan dalam hermeneutika yang seperti dijelaskannya dalam Pengantar buku Hermeneutika al-Qur`an:
"Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah "terbatas, parsial-kontekstual pemahamannya", serta "bisa saja keliru". Hal ini tentu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk "Selalu Benar".[167]

Pernyataan yang menyanjung hermeneutika itu, ternyata sempat juga dikeluarkan oleh Nurcholish Madjid:
"Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar, meskipun dari sudut pandangan lain—keyakinan, misalnya—pengakuan itu mungkin bisa dibenarkan, atau malah secara logis diperlukan…
Maka yang benar ialah—seperti telah ditunjukkan buku ini—menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy secepticism), atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmat keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia, khususnya sesama Muslim."[168]

Terhadap fakta seperti inilah, maka Syamsuddin Arif memberikan catatan terkait hermeneutika yang terus dipaksakan untuk diaplikasikan pada al-Qur`an:
Pertama, hermeneutika menganggap semua teks sama, semuanya merupakan karya manusia sebagai 'produk sejarah'. Bila diterapkan pada al-Qur`an, hermeneutika otomatis menghendaki penolakan terhadap status al-Qur`an sebagai kalamullah, mempertanyakan otentisitasnya, sekaligus menggugat kemutawatiran mushhaf 'Utsmani. Asumsinya bisa karena itu dipaksakan oleh penguasa waktu itu, akibat hegemoni bangsa Arab, dan lain sebagainya.
Kedua, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya, dan terus menerus terperangkap dalam apa yang disebut 'lingkaran hermeneutis', di mana makna senantiasa berubah. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut sebagian orang, mungkin salah menurut orang lain. Karena kebenaran sangat bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu.[169]
Konsekuensinya, al-Qur`an menjadi susah untuk diamalkan karena semuanya menjadi direlatifkan. Padahal al-Qur`an dari sejak awal menolak skeptisisme dan relativisme. Al-Qur`an hadir membawa haqq dan hudan untuk dijadikan pegangan dan diamalkan manusia. Oleh karena itu, bagi cendekiawan mukmin, tegas Syamsuddin Arif, hermeneutika lebih tepat kalau dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah.[170]
Terlebih pada kenyataannya ilmu tafsir yang dikembangkan oleh para ulama sudah mendahului teori-teori yang dikemukakan dalam hermeneutika. Hanya tentu bedanya, ilmu tafsir berawal dari keyakinan bahwa al-Qur`an kalam Allah swt dan kebenaran dalam al-Qur`an ada serta dapat ditemukan, sementara hermeneutika berawal dari kesangsian al-Qur`an sebagai kalam Allah dan keraguan yang tiada akhir akan ditemukannya kebenaran dalam al-Qur`an.
Sungguh tepat sekali apa yang diperingatkan Rasul saw:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
"Kamu akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelummu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga walau mereka masuk lubang biawak sekalipun kamu akan mengikutinya juga." Kemudian Rasulullah saw ditanya: "Apakah mereka yang dimaksud itu Yahudi dan Nashrani?" Jawab Rasul: "Siapa lagi kalau bukan mereka?"[171]

Selanjutnya : Konsep Ilmu
Back to : Tauhid



[104] Muhammad ibn Mukram ibn Manzhur, Lisan al-'Arab, Beirut: Dar Shadir, t.th., jilid 15, hlm. 379.
[105] Ibid.
[106] QS. Al-Qashash [28] : 7
[107] QS. An-Nahl [16] : 68
[108] QS. Maryam [19] : 11
[109] QS. An-Nisa` [4] : 163
[110] QS. Al-Kahfi [18] : 110
[111] QS. As-Syura [42] : 51
[112] Shahih al-Bukhari kitab bad`il-wahyi bab kaifa kana bad`ul-wahyi ila Rasulillah saw no. 2
[113] QS. Al-Qiyamah [75] : 16-19.
[114] Manna' al-Qaththan, Mabâhits fî 'Ulûm al-Qur`ân, Riyadl : Mansyurat al-'Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M, hlm. 33.
[115] QS. Al-Haqqah [69] : 43-47
[116] QS. As-Syu'ara [26] : 192-195
[117] QS. As-Syu'ara [26] : 210-212
[118] QS. As-Syu'ara [26] : 221-226
[119] QS. Al-Haqqah [69] : 41-43
[120] QS. Al-Isra` [17] : 88
[121] QS. Hud [11] : 13-14.
[122] QS. Al-Baqarah [2] : 23-24
[123] Lihat QS. An-Naba` [78] : 2
[124] 'Umar Sulaiman 'Abdullah al-Asyqar, ar-Rusul war-Risâlât, Yordania: Dar an-Nafa`is, 2005, hlm. 11.
[125] QS. At-Tahrim [66] : 3
[126] QS. Al-Hijr [15] : 49.
[127] QS. Al-Mu`minun [23] : 44
[128] Pendapat di atas dikemukakan oleh Ibn Sina dan al-Farabi. Lihat Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003, hlm. 102-110. Menurut Mulyadhi, pendapat kedua filosof tersebut adalah merupakan upaya rasionalisasi wahyu sebagai sumber pengetahuan di samping akal dan indera yang diperuntukkan bagi sesama filosof.
[129] QS. At-Thur [52] : 29-31
[130] QS. Al-Anbiya` [21] : 5
[131] QS. Shad [38] : 4
[132] QS. Al-Hajj [22] : 52
[133] Al-Asyqar, ar-Rusul war-Risâlât, hlm. 12-13.
[134] Shahih al-Bukhari kitab at-thibb bab man lam yarqi no. 5752.
[135] النساء :163-164 
[136] Misykat al-Mashabih 3 : 246 (Muhammad ibn 'Abdillah al-Khathib at-Tabrizi, Misykat al-Mashabih, Beirut: al-Maktab al-Islami, 1985. Tahqiq: Muhammad Nashiruddin al-Albani). Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani.
[137] QS. An-Nahl [16] : 36
[138] QS. Ali 'Imran [3] : 83
[139] QS. As-Syu'ara` [26] : 105
[140] QS. As-Syu'ara` [26] : 123
[141] QS. As-Syu'ara` [26] : 141
[142] QS. As-Syu'ara` [26] : 160
[143] QS. As-Syu'ara` [26] : 176
[144] QS. Ali 'Imran [3] : 84-85. Dalam QS. An-Nisa` [4] : 150-151 Allah swt menyebut orang yang memilah-milah para nabi sebagai orang yang benar-benar kufur.
[145] QS. Ali 'Imran [3] : 81
[146] Musnad Ahmad 3 : 387. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani. Lihat Irwa`ul-Ghalil 6 : 34.
[147] Shahih Muslim kitab al-fadlâ`il bab fadlâ`il 'Isa ibn Maryam no. 6281
[148] Komaruddin Hidayat, Menafsirkan Kehendak Tuhan. Jakarta: Teraju, 2004, Cet. II, hlm. 150.
[149] The New Encyclopedia Britannica dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat. Depok: Gema Insani Press, 2005, hlm. 290.
[150] Perjanjian Lama adalah Bible Yahudi, di mana lima kitab pertamanya diyakini sebagai Taurat. Sementara Perjanjian Baru adalah Bible Kristen yang diyakini sebagai Injil. Tentu saja penggabungan keduanya ini versi Kristen, karena Yahudi hanya mengakui Bibel Yahudi/Hebrew Bible saja. Lihat Hamid Qadri, Dimension of Christianity, terj. Masyhur Abudi dan Lis Amalia R., Dimensi Keimanan Kristen. Pustaka Da'i, 1999.
[151] Wawancara dengan Herlianto, seorang pendeta reformis Kristen, Ketua Yayasan Bina Awam, magister teologi di Princeton, USA (MTh). Dalam wawancara dengan penulis via email pada tanggal 4 Maret 2008. Lebih lengkapnya ia mengatakan: "Hermeneutika adalah keniscayaan, artinya semua naskah sastra harus dimengerti secara hermeneutis, sebab tulisan manusia itu harus dimengerti dari latar belakang bahasa, budaya, sejarah, maupun tujuan menulis dan dalam konteks apa tulisan itu berada. Umat Kristen mempercayai Alkitab sebagai firman Allah bukan dalam pengertian semua ayatnya diturunkan dari sorga, tetapi firman yang ditulis dengan ilham Roh Kudus (2Timotius 3:15-16), untuk inilah diperlukan hermeneutika untuk mengerti apa sebenarnya berita benar dibalik keterbatasan manusia dengan sastranya itu. Namun bagi umat Kristen, hermeneutika harus didasarkan hukmat yang berasal dari Allah bukan hikmat yang berasal dari akal manusia, sebab hasilnya akan berbeda sekali."
[152] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Intelektual. Depok: Gema Insani Press, 2008, hlm. 178; Komaruddin, Menafsirkan Kehendak Tuhan, hlm. 15; Ilham. B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan. Jakarta: Teraju, 2002hlm. 23; Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur'ani. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2007, Cet. IV, hlm. 18-19.
[153] Hamid Fahmy Zarkasyi, Menguak Nilai di Balik Hermeneutika dalam Jurnal ISLAMIA Th. I No. 1/Muharram 1425.
[154] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 290-292
[155] Ibid.; Fakhruddin, Hermeneutika Qur`ani, hlm. 21
[156] Syamsuddin, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, hlm. 179.
[157] Disarikan dari Ilham, Hermeneutika Pembebasan, hlm. 34-45
[158] Ibid., hlm. 21-24.
[159] Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today dalam Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur`an. Depok: Gema Insani Press, 2007, Cet. III, hlm. 65.
[160] Nasr Hamid Abu Zaid dan Esther R. Nelson, Voice of an Exile dalam Ibid. hlm. 71
[161] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas dalam Adnin Armas, Hermeneutika dan Dampaknya terhadap Studi al-Qur`an. Makalah Kuliah Islamic Worldview PPS UIKA Bogor, hlm. 21-22.
[162] Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-230 dalam www.hidayatullah.com.
[163] Harian The Jakarta Post edisi Jumat (28/3/2008). Pada halaman mukanya menerbitkan sebuah berita berjudul "Islam recognizes homosexuality" (Islam mengakui homoseksualitas)
[164] Siti Musdah Mulia, Muslimah Reformis. Bandung: Mizan, 2005, hlm. 63.
[165] Adian Husaini, Hegemoni Kristen Barat dalam Studi Islam di perguruan Tinggi. Depok: Gema Insani Press, 2006, hlm. 252.
[166] Amin Abdullah, Kata Pengantar dalam Ilham. B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, hlm. xxvi.
[167] Amin Abdullah, Kata Pengantar dalam Fakhrudin Faiz, Hermeneutika al-Qur`an; Tema-tema Kontroversial. Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005.
[168] Nurcholish Madjid, Kata Pengantar dalam Komaruddin Hidayat, Menafsirkan Kehendak Tuhan, hlm. xxii.
[169] Syamsuddin, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, hlm. 181-182
[170] Ibid.
[171] Shahih al-Bukhari kitab ahadits al-anbiya bab ma dzukira 'an bani Isra`il no. 3456 dan kitab al-I'tisham bil-kitab bab qaulin-Nabiyy latattabi'unna sunana man kana qablakum no. 7320; Shahih Muslim kitab al-qadr bab ittiba' sunan al-yahud wan-nashara no. 6952

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik