8.8.17

Iman kepada para Rasul Allah Ta’ala
A.   Hukum beriman kepada Rasul berikut dalil-dalilnya
Beriman kepada para rasul Allah Ta’ala merupakan suatu kewajiban diantara kewajiban-kewajiban dalam Addiinul Islam dan termasuk rukun yang agung diantara rukun-rukun iman, banyak keterangan dalam alQuran dan Hadits yang menunjukan hal tersebut. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."(Q.S. AlBaqarah:285).
gbr. nabi-nabi Allah
Sebagian nama-nama Nabi
Allah telah menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak beriman  kepada para rasul-Nya , maka mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya, Firman-Nya Ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ...
" Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya...” (Q.S. AnNisaa:150-151).
          Oleh karena itulah beriman kepada para rasul Allah termasuk kepada rukun iman, karena jika tidak beriman kepada salah satunya, maka termasuk kepada orang-orang kafir. Sehingga begitu jelas Allah Ta’ala membedakan karakter orang-orang beriman, diantaranya mereka adalah orang-orang yang tidak membeda-bedakan para Rasul Allah, yang Allah janjikan pahala yang besar berupa ampunan dan kasih sayang-Nya.  Firman-Nya Ta’ala:
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
" orang-orang yang beriman kepada Allah dan Para Rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. AnNisaa:152).
Kemudian terdapat penjelasan mengenai rukun iman ini dalam hadits Jibril, yang mana Rasulullah saw menjawab apa yang ditanyakan Jibril kepada beliau saw tentang Iman, maka rasulullah saw menjawab:
أَن تُؤمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَومِ الآخِرِ
"(Iman itu) Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan kepada Hari akhir" (H.R. Bukhari & Muslim).
          Dalam hadits ini disebutkan beriman kepada para rasul disamping beriman kepada yang disebutkan sisanya yang wajib bagi setiap muslim untuk merealisasikannya dan meyakininya.
          Kemudian disebut pula didalam do’a beliau saw ketika tahajjud, sesungguhnya beliau mengucapkan :
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ  -... صحيح البخاري-
"Ya Allah, bagi-Mu lah segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi dan sesuatu yang berada di antara keduanya, bagiMu segala puji, Engkau adalah pemelihara langit dan bumi dan siapa saja yang menghuninya, Engkau adalah benar, dan janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga-Mu benar, neraka-Mu benar, kiamat benar, para nabi benar,...." (H.R. Bukhari).
Maka pengakuannya Nabi saw bahwa para nabi adalah haq merupakan termasuk bagian diantara pokok-pokok keimanan yang agung, seperti beriman kepada Allah dan adanya surga dan neraka serta adanya hari kiamat. Ini merupakan dalil atas pentingnya beriman kepada para nabi dan rasul yang berada dalam posisi penting didalam agama. Karena siapa saja yang mendustakan dan mengingkari para nabi dan rasul Allah atau salah satu dari mereka, maka sesungguhnya ia telah kafir kepada Allah swt yang merupakan sejelas-jelasnya kekafiran.

B.   Buah dari Keimanan Kepada Para Rasul
Jika keimanan kepada para rasul ini terealisasi, maka akan meninggalkan bekas-bekas yang baik dan buahnya akan terasa manis bagi seorang muslim dan mu'min, diantaranya :
1.     Ilmu.
العِلمُ بِرَحمَةِ اللهِ تَعَالَى وَعِنَايَتُهُ بِخَلقِهِ حَيثُ أَرسَلَ إِلَيهِم أُولَئِكَ الرُّسُلُ الكِرَام لِلهِدَايَةِ وَالإِرشَادِ
Manisnya ilmu disebabkan Rahmat Allah Ta’ala dan pertolongan-Nya kepada manusia yang mana Dia mengutus para rasul kepada mereka yaitu para rasul yang mulya dengan membawa hidayah dan bimbingan yang benar. 
2.     Syukur
شُكرُ اللهِ عَلَى هَذِهِ النِّعمَةِ الكُبرَى
Manisnya bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang amat besar ini.
3.     Mahabbah
مَحَبَّةُ الرُّسُلِ وَتَوقِيرُهُم وَالثَّنَاءُ عَلَيهِم بِمَا يَلِيقُ بِهِم لِأَنَّهُم رُسُلُ اللهِ تَعَالَى وَخُلَاصَةُ عَبِيدِهِ ، وَلَمَّا قَامُوا بِهِ مِن تَبلِيغِ رِسَالَةِ اللهِ لِخَلقِهِ وَكَمَالِ نُصحِهِم لِأَقوَامِهِم وَصَبرِهِم عَلَى أَذَاهُم    
Manisnya kecintaan kepada para rasul dan memulyakan mereka, menyanjung mereka dengan sanjungan yang sesuai/proporsional, sebab sesungguhnya mereka adalah para rasul Allah Ta’ala dan hamba-hambaNya yang terpilih manakala mereka melaksanakan tugasnya sebagai rasul untuk menyampaikan risalah Allah kepada hamba-hamba Nya, dan sempurnanya nasihat-nasihat mereka kepada kaumnya dan kesabaran mereka atas penderitaan mereka.

C.   Pengertian Nabi dan Rasul dan Perbedaan diantara keduanya
النَّبِيُّ فِي اللُّغَةِ : مُشتَقٌ مِنَ النَّبَأِ وَهُوُ الخَبَرُ ذُو الفَائِدَةِ العَظِيمَةِ.[1]
Kata Nabi menurut bahasa merupakan kata jadian dari kata naba' yang bermakna khabar (berita/informasi) yang mempunyai faidah yang besar.
          Allah Ta’ala berfirman :
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ
" Tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya?. Tentang berita yang besar".(Q.S. AnNaba':1-2).
          Dengan demikian disebut نبيًّا / Nabi karena ia sebagai pembawa berita dari Allah.
Ada pula yang mengatakan bahwa kata النبي merupakan kata jadian dari النباوة / Nabaawah, yang bermakna sesuatu yang tinggi. Disebut dengan makna ini karena mempunyai kedudukan yang tinggi dari kebanyakan manusia. Firman-Nya Ta’ala : وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا : "dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi".(Q.S. Maryam:57).
وَالرَّسُولُ فِي اللُّغَةِ : مُشتَقٌ مِنَ الإِرسَالِ وَهُوَ التَّوجِيهُ.[2]
Dan adapun الرَّسُولُ / Rasul, menurut bahasa merupakan kata jadian dari إِرسَالٌ  yang bermakna taujih (penasihat/pembimbing, utusan).
Sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ
" dan Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu".(Q.S. AnNaml:35).
          Para ‘ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan nabi dan rasul menurut istilah syar’i  dengan ungkapan yang mendekati/mirip, diantaranya :
1.     Nabi yaitu : مَن أَوحَى اللهُ إِلَيهِ بِمَا يَفعَلُهُ وَيَأمُرُ بِهِ الْمُؤمِنِينَ  
Orang yang telah Allah beri wahyu kepadanya terhadap apa yang ia mengerjakannya dan memerintahkannya kepada orang-orang beriman.
Rasul yaitu :
 مَن أَوحَى اللهُ إِلَيهِ وَأَرسَلَهُ إِلَى مَن خَالَفَ أَمرَ اللهِ لِيُبَلِّغَ رِسَالَةَ اللهِ
Orang yang yang telah Allah beri wahyu kepadanya dan mengutusnya kepada siapa saja yang menentang perintah Allah untuk menyampaikan risalah Allah.
2.     Bahwa Nabi adalah :
مَن نَبَأَهُ اللهُ بِأَمرِهِ وَنَهِيهِ لِيُخَاطِبَ الْمُؤمِنِينَ وَيَأمُرُهُم بِذَلِكَ وَلَا يُخَاطِبُ الكُفَّارَ وَلَا يُرسَلُ إِلَيهِم.
Orang yang Allah berikan kabar berupa perintah-Nya dan larangan-Nya supaya berbicara kepada orang-orang beriman dan memerintahkan mereka dengan berita tersebut,dan tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang kafir, dan tidak diutus kepada mereka.
Dan adapun Rasul , yaitu :
مَن أُرسِلَ إِلَى الكُفَّارِ وَالْمُؤمِنِينَ لِيُبَلِّغَهُم رِسَالَةَ اللهِ وَيَدعُوهُم إِلَى عِبَادَتِهِ.
Orang yang diutus kepada orang-orang kafir dan orang-orang beriman supaya menyampaikan risalah Allah kepada mereka dan mengajak mereka untuk beribadah kepada-Nya.

D.   Kaifiyat Beriman Kepada Para Rasul
Beriman kepada para rasul adalah meyakini apa yang Allah beritakan dengannya tentang mereka didalam kitab-Nya dan meyakini apa yang Nabi saw beritakan dengannya dalam sunnahnya secara  Ijmali dan Tafshili.
Maka keimanan kepada para rasul  secara mujmal yaitu:
التَّصدِيقُ الجَازِمُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى بَعَثَ فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا يَدعُوهُم إِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَالكُفرُ بِمَا يُعبَدُ مِن دُونِ اللهِ.[3]
Membenarkan secara mutlak bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus pada tiap-tiap ummat seorang rasul yang mengajak mereka untuk menyembah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya, dan ingkar kepada apa-apa yang disembah selain Allah.
          Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".(Q.S. AnNahl:36).
Sesungguhnya mereka semuanya adalah orang-orang yang benar, yang patuh, yang mendapat bimbingan, yang mulia lagi berbakti, yang hati-hati lagi terjaga, yang mendapat petunjuk. Sebagaimana Firman-Nya :
هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
"Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya)".(Q.S. yaasiin:52).
          Dan Firman-Nya Ta’ala yang menyebutkan golongan yang besar dari para Nabi dan Rasul :
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
" dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan".(Q.S. Al An’am:88-87).
Mereka semuanya adalah orang-orang yang berada diatas kebenaran yang terang, mereka membawa petunjuk yang terang dan mereka melaksanakannya, sebagai mana yang dikisahkan alQuran tentang  ahli surga, Firman-Nya :
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
" .. dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran." dan diserukan kepada mereka:"ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan."(Q.S.Al A’raf:43).
Dan Firman-Nya :
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
" Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.."(Q.S. AlHadiid:25).
Kemudian landasan da’wah mereka semuanya adalah sama yaitu mengajak kepada Tauhidullah dan adapun yang disyari’atkan kepada mereka berbeda-beda sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Sebagaimana Firman-Nya :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
" dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian hanya Aku".(Q.S. Al Anbiya' : 25)
Dan Firman-Nya :
 لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
"...untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan syari’at dan jalan yang terang. .." (Q.S. AlMaaidah:48).
Sungguh para rasul telah menyampaikan seluruhnya apa yang mereka telah diutus untuk menyampaikannya dengan terang. Dengan demikian maka sesungguhnya telah tegak hujjah (bukti-bukti yang kuat) atas seluruh ummat, dan tidak ada alasan lagi untuk membantah-Nya.  Allah Ta’ala berfirman :
لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا
" supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu".(Q.S. AlJinn:28).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
"(mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(Q.S.AnNisaa':165).
Kemudian kita wajib beriman kepada para rasul bahwa sesungguhnya mereka hanyalah manusia biasa yang diciptakan, maka mereka tidak sedikitpun memiliki kekhususan rububiyah, sehingga tidak sedikitpun mereka pantas untuk disembah. Sesungguhnya mereka hanyalah hamba-hamba yang Allah telah memuliakan mereka sebagai pengemban Risalah-Nya. Sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
" Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal".(Q.S. Ibrahim:11).
Firman-Nya Ta’ala mengenai Nabi Nuh a.s :
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَنْ يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
" dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa Sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar Termasuk orang-orang yang zalim".(Q.S. Huud:31).
Demikian pula Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw supaya mengatakan kepada kaumnya :
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
"Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu,bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat,aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (Q.S. AlAn’am:50)
Selanjutnya diantara kewajiban beriman kepada para rasul yaitu meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah Ta’ala, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka. Firman-Nya Ta’ala :
إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
" Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)," (Q.S. AlMu'min: 51).
Adapun keimanan kepada para rasul secara Tafshili, yaitu wajib beriman dengan nama-nama yang Allah sebutkan dalam AlQuran dan yang Nabi saw sebutkan dalam sunnah beliau saw mengenai mereka, yang secara spesifik dijelaskan mengenai nama-nama mereka dan berita mengenai mereka, dan keutamaan serta kekhususan mereka. Seperti misalnya Allah Ta’ala menjelaskan dalam alQuran tentang keutamaan  Ibrahim a.s sebagai Khalilullaah(kekasih Allah), Firman-Nya Ta’ala :
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
"...dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya" (Q.S.AnNisaa':125).
Dan sabda Nabi saw :
 إِنَّ اللهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبرَاهِيمَ خَلِيلًا- أخرجه مسلم [4]
" Sesungguhnya Allah mengambil aku sebagai kesayangan, sebagaimana Dia mengambil Ibrahim sebagai kesayangan." (H.R.Muslim).
Dan lain sebagainya mengenai kisah para Nabi dan Rasul yang dijelaskan dalam alQuran dan alHadits.

E.   Wajib Mencontoh dan Mengikuti Para Rasul
Wajib terhadap setiap ummat untuk mencontoh para rasul yang diutus kepada mereka sesuai dengan yang Allah syari’atkan.
1.      Membenarkan apa yang rasul diutus dengannya, dengan menta’ati nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ
" dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.."(Q.S. AnNisaa':64).
Dan Firman-Nya :
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
" dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang". (Q.S. AlMaaidah:92)
Wajib mengikuti dan menta’ati Rasulullah saw sebagai rasul terakhir  untuk seluruh umat. Firman-Nya Ta’ala :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
" dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui"(Q.S. Saba':28).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
" Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".(Q.S. Al-A’raaf:158).
2.      Menjadi wali dan Mencintai rasul dan berhati-hati terhadap musuh mereka dan hal yang mereka benci. Firman-Nya Ta’ala :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
" dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) AllahItulah yang pasti menang"(Q.S. AlMaaidah:56).
Dan Firman-Nya :
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
" dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(Q.S. AtTaubah:71).
3.      Meyakini keutamaan para rasul diantara manusia lainnya. Firman-Nya Ta’ala :
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
" Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat".(Q.S. AlHajj:75)
Dan Firman-Nya :
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
"dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui".(Q.S. Al An’am:83).
Hingga ayat :
وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
"... masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),.." (Al An’am:86).
4.      Meyakini keutamaan rasul yang satu dengan yang lainnya yang Allah berikan masing-masing keutamaan yang berbeda. Firman-Nya Ta’ala :
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
" Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat Dia dengan Ruhul Qudus". (Q.S. AlBaqarah:253)
5.      Sholawat dan salam atas para rasul, Firman-Nya :
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ
" dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam".(Q.S. AshShofat:78-79).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
“ Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".(Q.S. AshShofat:108-109)
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ
" dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun".(Q.S. AshShofat:119-120)
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
" dan Kesejahteraan dilimpahkan atas Para rasul". (Q.S. AshShofat:181).
F.    Kekhususan-kekhususan Nabi Muhammad saw dan hak-hak beliau atas ummatnya.
Allah swt telah mengkhususkan Nabi Muhammad saw dengan banyaknya kekhususan dan berbagai prestasi sebagai fadilah atas beliau saw atas rasul-rasul yang lain dan Allah melebihkan beliau saw dari semua makhluq. Diantara kekhususan tersebut, yaitu :
1.     Keseluruhan risalah beliau dititik beratkan kepada Jin dan Manusia, maka tidak berkuasa seseorangpun dari mereka kecuali harus mengikuti beliau saw dan beriman kepada risalahnya. Firman-Nya Ta’ala :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
" dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (Q.S. Saba' : 28).
Dan Firman-Nya Ta’ala :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, "(Q.S. AlFurqan:1).
Kemudian dijelaskan dalam Shahih Muslim :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ.صحيح مسلم  (ج 2 / ص 64(
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw telah bersabda, "Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara: pertama, aku diberi Jawami' al-Kalim. Kedua, aku ditolong dengan rasa takut (yang dihunjamkan di dada-dada musuhku). Ketiga, ghanimah dihalalkan untukku. Keempat, bumi dijadikan suci untukku dan juga sebagai masjid. Kelima, aku diutus kepada seluruh makhluk. Keenam, para nabi ditutup dengan kerasulanku." (H.R. Muslim)
403 - عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ » صحيح مسلم - (ج 1 / ص 93(
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka."(H.R. Muslim).
2.     Sesungguhnya Rasulullah saw adalah nabi dan rasul terakhir sebagai penutup para nabi dan rasul, sebagaimana dijelaskan pada hadits diatas. Allah swt berfirman :
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
" Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamutetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu". (Q.S. AlAhzab:40).
6099 - عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَثَلِى وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يُطِيفُونَ بِهِ يَقُولُونَ مَا رَأَيْنَا بُنْيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا إِلاَّ هَذِهِ اللَّبِنَةَ. فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ ». صحيح مسلم - (ج 7 / ص 64(
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: "Perumpamaan aku dan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia memperindahnya dan menyempurnakannya kemudian orang-orang mendatangi dan mengelilingi bangunan  tersebut, mereka berkata : " Kami belum pernah melihat bangunan yang lebih indah dari ini, hanya saja ada satu labinah ini (satu lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) ". Maka akulah yang menjadi labinah itu". (H.R.Muslim).
Demikianlah penjelasan nash-nash diatas menunjukan bahwa Rasulullah saw merupakan penyempurna risalah para nabi dan rasul sebelumnya.
3.     Allah swt telah memperkuat nabi dengan mu’jizat yang besar dan ayat-ayat yang nyata yaitu alQuran, Kalamullah yang terjaga dari perubahan dan pergantian. Firman-Nya Ta’ala :
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Q.S. Al Israa: 88).
Dan Firman-Nya :
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
" dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman"(Q.S. Al ‘Ankabut:51)
Kemudian dijelaskan dalam hadits shahih :
4696 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِن الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُه وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ .صحيح البخاري - (ج 4 / ص 1905(
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah diberi keistimewaan-keistimewaan khusus yang tidak diberikan kepada manusia lainnya sehingga orang-orang beriman padanya. Dan ada pun yang diberikan padaku adalah wahyu yang Allah turunkan kepadaku. Maka aku berharap, bahwa aku adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat." (H.R. Bukhari).
4.     Ummat Rasulullah saw merupakan sebaik-baik ummat dan paling banyak ahli surga. Firman-Nya Ta’ala:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
" kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (Q.S. Ali Imran:110)
Dijelaskan dalam hadits:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي قُبَّةٍ فَقَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَتَرْضَوْنَ أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَذَلِكَ أَنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ أَوْ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ. رواه البخاري
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah menuturkan; 'Suatu saat kami bersama Nabi dalam sebuah hunian dari tanah liat, tiba-tiba Nabi berujar: "Puaskah kalian menjadi seperempat penghuni surga?" 'ya', Jawab kami. Nabi berujar lagi: "Puaskah kalian menjadi sepertiga penghuni surga?" 'ya, ' Jawab kami. Nabi berujar lagi: "Puaskah kalian menjadi separoh penghuni surga?" 'ya, ' Jawab kami. Nabi bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi separoh penghuni surga, dan surga tak dimasuki selain seorang muslim, dan perbandingan kalian diantara pemeluk kesyirikan tak lain hanyalah seperti rambut putih di kulit sapi hitam" atau dengan redaksi: "seperti sehelai rambut hitam di kulit sapi merah."(H.R. Bukhari).
5.     Sesungguhnya Nabi saw merupakan pemimpin keturunan Adam pada hari kiamat.
Sebagaimana dijelaskan dalam shahih Muslim :
6079  - أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ » صحيح مسلم - (ج 7 / ص 59(
Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak, aku adalah orang yang muncul lebih dahulu dari kuburan, aku adalah orang yang paling dahulu memberi syafa'at, dan aku adalah orang yang paling dahulu dibenarkan memberi syafa'at." (H.R.Muslim).
6.     Sesungguhnya Nabi adalah pemegang syafa’at yang besar. Firman-Nya Ta’ala:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
" dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji". (Q.S. Al Israa: 79).
قَالَ قَتَادَةُ : " كَانَ أَهلُ العِلمِ يَرَونَ الْمَقَامَ الْمَحمُودَ هُوَ شَفَاعَتُهُ يَومَ القِيَامَةِ " [5]
Qatadah berkata:" Adalah ahli ilmu memandang makna almaqaamamalmahmuda yaitu syafa’at nabi saw pada hari kiamat".
7.     Sesungguhnya Rasulullah saw adalah pemegang panji pujian pada hari kiamat dan manusia mengikuti beliau.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمَ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَائِي وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَلَا فَخْرَ قَالَ فَيَفْزَعُ النَّاسُ ثَلَاثَ فَزَعَاتٍ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ أَبُونَا آدَمُ فَاشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ فَيَقُولُ إِنِّي أَذْنَبْتُ ذَنْبًا أُهْبِطْتُ مِنْهُ إِلَى الْأَرْضِ وَلَكِنْ ائْتُوا نُوحًا فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُ إِنِّي دَعَوْتُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ دَعْوَةً فَأُهْلِكُوا وَلَكِنْ اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُ إِنِّي كَذَبْتُ ثَلَاثَ كَذِبَاتٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْهَا كَذِبَةٌ إِلَّا مَا حَلَّ بِهَا عَنْ دِينِ اللَّهِ وَلَكِنْ ائْتُوا مُوسَى فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُ إِنِّي قَدْ قَتَلْتُ نَفْسًا وَلَكِنْ ائْتُوا عِيسَى فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ إِنِّي عُبِدْتُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ ائْتُوا مُحَمَّدًا قَالَ فَيَأْتُونَنِي فَأَنْطَلِقُ مَعَهُمْ قَالَ ابْنُ جُدْعَانَ قَالَ أَنَسٌ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَآخُذُ بِحَلْقَةِ بَابِ الْجَنَّةِ فَأُقَعْقِعُهَا فَيُقَالُ مَنْ هَذَا فَيُقَالُ مُحَمَّدٌ فَيَفْتَحُونَ لِي وَيُرَحِّبُونَ بِي فَيَقُولُونَ مَرْحَبًا فَأَخِرُّ سَاجِدًا فَيُلْهِمُنِي اللَّهُ مِنْ الثَّنَاءِ وَالْحَمْدِ فَيُقَالُ لِي ارْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ وَقُلْ يُسْمَعْ لِقَوْلِكَ وَهُوَ الْمَقَامُ الْمَحْمُودُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ  )عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا قَالَ سُفْيَانُ لَيْسَ عَنْ أَنَسٍ إِلَّا هَذِهِ الْكَلِمَةُ فَآخُذُ بِحَلْقَةِ بَابِ الْجَنَّةِ فَأُقَعْقِعُهَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ. أخرجه الترمذي
Dari Abu Sa'id berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Aku pemimpin anak cucu Adam pada hari kiamat dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri, ditanganku ada bendera pujian, dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri, dan tidaklah seorang nabi pun selain Adam kecuali berada di bawah benderaku saat itu, aku adalah orang pertama-tama yang bumi dibelah untukku, dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri." Beliau bersabda: "Manusia mengalami tiga ketakutan (besar), mereka mendatangi Adam, mereka berkata: Engkau ayah kami Adam, berilah kami syafaat kepada Rabbku. Ia berkata: Aku melakukan suatu dosa, aku diturunkan ke bumi, datangilah Nuh. Mereka mendatangi Nuh, Nuh berkata: Sesungguhnya aku menyerukan suatu seruan kepada penduduk bumi lalu mereka dibinasakan, datangilah Ibrahim. Mereka mendatangi Ibrahim, Ibrahim berkata: Aku berdusta tiga kali -Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tidak ada satu dustapun yang diucapkan Ibrahim melainkan dibolehkan demi agama Allah, " -Ibrahim berkata: Datangilah Musa. Mereka mendatangi Musa, Musa berkata: Aku dulu membunuh seseorang, datangilah Isa. Mereka mendatangi Isa, Isa berkata: Sesungguhnya aku disembah selain Allah, datangilah Muhammad. Mereka mendatangiku lalu aku pergi bersama mereka." Ibnu Jud'an berkata: Anas berkata: Sepertinya aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Aku meraih tali pintu surga lalu menggoyang-goyangnya. Dikatakan padaku: Siapa itu? Ada yang menjawab: Muhammad. Mereka membukakan untukku, mereka menyambut lalu berkata: Selamat datang. Aku pun tersungkur sujud lalu Allah mewahyukan pujian dan sanjungan padaku. Dikatakan padaku: Angkatlah kepalamu, mintalah niscaya kau akan diberi, memberilah syafaat pasti kau akan diberi syafaat dan berkatalah niscaya ka didengar. Itulah tempat terpuji yang difirmankan Allah: 'Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (Al Israa`: 79) Sufyan berkata: Tidak ada yang diriwayatkan dari Anas selain kata-kata ini: Lalu aku meraih tali pintu surga lalu aku menggoyang-goyangnya. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan. Sebagaian dari mereka meriwayatkan hadits ini dari Abu Nadlrah dari Ibnu Abbas secara panjang lebar.(H.R. Turmudzi).
8.     Beliau saw adalah pemegang wasilah, yaitu derajat yang tinggi di surga.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ- رواه مسلم
Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila kalian mendengar mu'adzdzin(mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya."(H.R. Muslim).

G.  Hakikat Isra’ Mi’raj Rasulullah saw berikut dalil-dalilnya.
الإِسرَاءُ فِي اللُّغَةِ : مِنَ السُّرَى وَهُوَ : سَيرُ اللَّيلِ أَو عَامَّتُهُ . وَقِيلَ : سَيرُ اللَّيلِ كُلِّهِ . الإِسرَاءُ فِي الشَّرعِ يُرَادُ بِهِ : الإِسرَاءُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمَسجِدِ الحَرَامِ بِمَكَّةَ إِلَى بَيتِ الْمُقَدَّسِ بِإِيلِيَّاءَ وَرُجُوعُهُ مِن لَيلَتِهِ.[6]
Isra' menurut bahasa : Berasal dari kata assuro, yaitu perjalanan semalam  atau sebagiannya. Dan ada yang mengatakan : perjalanan semalam penuh.
Isra' menurut syara’, yang dimaksud adalah : Perjalanan Rasul saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Baitul Maqdis di Iliyya' (Masjidil Aqsa / Yerussalem)[7] dan kembali pada malam itu juga.
Israa' Mi’raj dan Hakikatnya
Kejadian al-Isra' merupakan mu’jizat yang agung, yang mana Allah Ta’ala menguatkan rasulullah saw dengannya, dan itu terjadi sebelum hijrah. Dimana beliau saw di isra'kan dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha mengendarai Buraaq dengan ditemani Jibril a.s, hingga tiba di Baitul Maqdis, Nabi saw menambatkan Buraaq di tiang pintu masjid, kemudian beliau saw masuk dan sholat didalamnya bersama para Nabi dan menjadi imam. Selanjutnya Jibril datang dengan satu wadah berisi khamr dan satu wadah lagi berisi susu, kemudian beliau saw memilih susu daripada khamr, kemudian Jibril a.s berkata kepada beliau saw : هُدِيتَ لِلْفِطْرَةِ : Engkau telah ditunjukan kepada fithrah.
Dan telah terdapat keterangan mengenai Isra' nabi saw ini didalam alQuran dan alHadits.  Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
" Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui" (Q.S. Al Israa':1).
          Adapun  المِعرَاجُ  merupakan isim alat dari العُرُوجُ , yaitu bermakna يَصعَدُ (naik), yaitu مَنزِلَةُ السُّلَمِ [8].
Yang dimaksud dengan mi’raj dalam istilah syara’ yaitu : Naiknya Nabi saw dengan ditemani Jibril a.s dari BaitulMaqdis ke langit dunia kemudian dilanjutkan kelangit berikutnya hingga sampai dilangit ke tujuh, dan bertemu dengan para nabi yang berada ditempatnya, kemudian memberi salam dan menyambut mereka. Kemudian naik ke sidratulmuntaha kemudian beliau saw melihat suatu pemandangan yang Allah telah menciptakannya, kemudian Allah mewajibkan kepada beliau saw shalat lima waktu, kemudian Allah menurunkannya kembali ke bumi. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang cukup panjang mengenai isra' mi’raj ini, yaitu  :
Dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha'sha'ah radliallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bercerita kepada mereka tentang malam perjalanan Isra': "Ketika aku berada di al Hathim" -atau beliau menyebutkan di al Hijir- dalam keadaan berbaring, tiba-tiba seseorang datang lalu membelah". Qatadah berkata; Dan aku juga mendengar dia berkata: "lalu dia membelah apa yang ada diantara ini dan ini". Aku bertanya kepada Al Jarud yang saat itu ada di sampingku; "Apa maksudnya?". Dia berkata; "dari lubang leher dada hingga bawah perut" dan aku mendengar dia berkata; "dari atas dadanya sampai tempat tumbuhnya rambut kemaluan."lalu laki-laki itu mengeluarkan qalbuku (hati), kemudian dibawakan kepadaku sebuah baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan iman, lalu dia mencuci hatiku kemudian diisinya dengan iman dan diulanginya. Kemudian aku didatangkan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai." Al Jarud berkata kepadanya; "Apakah itu yang dinamakan al Buraq, wahai Abu Hamzah?". Anas menjawab; "Ya. Al Buraq itu meletakan langkah kakinya pada pandangan mata yang terjauh"."Lalu aku menungganginya kemudian aku berangkat bersama Jibril 'alaihis salam hingga sampai di langit dunia. Lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah melewatinya aku berjumpa Adam 'alaihis salam. Jibril a.s berkata: "Ini adalah bapakmu, Adam. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Adam a.s membalas salamku lalu dia berkata: "Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua, lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Yahya dan 'Isa 'alaihimassalam, keduanya adalah anak dari satu bibi. Jibril berkata; "Ini adalah Yahya dan 'Isa, berilah salam kepada keduanya." Maka aku memberi salam kepada keduanya dan keduanya membalas salamku lalu keduanya berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit ketiga lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Yusuf a.s. Jibril berkata; "Ini adalah Yusuf. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Yusuf membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit keempat lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Idris a.s. Jibril berkata; "Ini adalah Idris, berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Idris membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit kelima lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku bertemu dengan Harun a.s. Jibril berkata; "Ini adalah Harun. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Harun membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian aku dibawa naik ke langit keempat lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi; "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku mendapatkan Musa a.s. Jibril berkata; "Ini adalah Musa. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Musa membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih". Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan; "Mengapa kamu menangis?". Musa menjawab; "Aku menangis karena anak ini diutus setelah aku namun orang yang masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari orang yang masuk surga dari ummatku". Kemudian aku dibawa naik ke langit ketujuh lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit kemudian dia ditanya; "Siapakah ini". Jibril menjawab; "Jibril". Ditanyakan lagi: "Siapa orang yang bersamamu?". Jibril menjawab; "Muhammad". Ditanyakan lagi; "Apakah dia telah diutus?". Jibril menjawab; "Ya". Maka dikatakan; "Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang". Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku mendapatkan Ibrahim a.s. Jibril berkata; "Ini adalah bapakmu. Berilah salam kepadanya". Maka aku memberi salam kepadanya dan Ibrahim membalas salamku lalu berkata; "Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih". Kemudian Sidratul Muntaha diangkat/dinampakkan kepadaku yang ternyata buahnya seperti tempayan daerah Hajar dengan daunnya laksana telinga-telinga gajah. Jibril a.s berkata; "Ini adalah Sidratul Muntahaa." Ternyata di dasarnya ada empat sungai, dua sungai Bathin dan dua sungai Zhahir". Aku bertanya: "Apakah ini wahai Jibril?". Jibril menjawab; "adapun dua sungai Bathin adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan dua sungai Zhahir adalah an Nail dan eufrat". Kemudian aku diangkat ke Baitul Ma'mur, lalu aku diberi satu gelas berisi khamer, satu gelas berisi susu dan satu gelas lagi berisi madu. Aku mengambil gelas yang berisi susu. Maka Jibril berkata; "Ini merupakan fithrah yang kamu dan ummatmu berada di atasnya". Kemudian diwajibkan bagiku shalat lima puluh kali dalam setiap hari. Aku pun kembali dan lewat di hadapan Musa a.s. Musa bertanya; "Apa yang telah diperintahkan kepadamu?". aku menjawab: "Aku diperintahkan shalat lima puluh kali setiap hari". Musa berkata; "Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima puluh kali shalat dalam sehari, dan aku, demi Allah, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra'il dengan sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu". Maka aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelunya. Aku pun kembali, dan aku di perintah dengan sepuluh kali shalat setiap hari. Lalu aku kembali dan Musa kembali berkata seperti sebelumnya. Aku pun kembali, dan akhirnya aku diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari. Aku kembali kepada Musa dan dia berkata; "Apa yang diperintahkan kepadamu?". Aku jawab: "Aku diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari". Musa berkata; "Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima kali shalat dalam sehari, dan sesungguhnya aku, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra'il dengan sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu". Beliau berkata: "Aku telah banyak memohon (keringanan) kepada Rabbku hingga aku malu. Tetapi aku telah ridla dan menerimanya". Ketika aku telah selesai, terdengar suara orang yang berseru: "Sungguh Aku telah memberikan keputusan kewajiban-Ku dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku". [9](H.R. Bukhari).[10]
Telah bersepakat para ‘ulama, baik ‘ulama salaf maupun kholaf atas kebenaran dan keshahihan isra' Rasulullah saw. Dan Mi’raj terjadi pada malam isra', sedangkan beliau di isra' kan dengan ruh dan jasadnya. [11] Dijelaskan pula mengenai mi’raj di dalam alQuran :
أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَى عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى  لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
"Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?, dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar". (Q.S.AnNajm:12-18)
          Dengan demikian isra' dan mi’raj merupakan ayat-ayat yang agung, yang dengannya Allah swt telah memulyakan nabi-Nya saw. Maka wajib bagi setiap muslim meyakini keshahihannya, bahwa isra' dan mi’rajnya Nabi saw merupakan ketetapan Allah yang dikhususkan bagi Nabi Muhammad saw diantara para rasul-Nya.
Penjelasan mengenai perayaan dan peringatan Israa' Mi’raj
وَلَا يُشرَعُ لِلمُسلِمِ الِاحتِفَالُ بِذِكرَى الإِسرَاءِ وَالْمِعرَاجِ كَمَا لَا تُشرَعُ لَهُمُا صَلَاةٌ خَاصَّةٌ كَمَا يَفعَلُهُ بَعضُ عَوَّامِ الْمُسلِمِينَ ، بَل كُلُّ ذَلِكَ بِدَعٌ مُنكَرَةٌ لَم يَشرَعهَا النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلم وَلَم يَفعَلهَا أَحَدٌ مِنَ السَّلَفِ وَلَم يَقُل بِهَا أَحَدٌ مِمَّن يَقتَدِي بِهِ فِي العِلمِ .
وَقَد بَيَّنَ العُلَمَاءُ مِن أَهلِ السُّنَّةِ أَنَّ صَلَاةَ لَيلَةِ سَبعٍ وَعِشرِينَ مِن شَهرِ رَجَبٍ وَأَمثَالهَاَ : مِنَ البِدَع ِالَّتِي أُحدِثَت فِي دِينِ اللهِ ، وَأَنَّهُ عَمَلٌ غَيرُ مَشرُوعٍ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الإِسلَامِ وَلَا يَنشِئُ مِثلَ هَذَا إِلَّا جَاهِلٌ مُبتَدِعٌ . وَقَد قَالَ صلى الله عليه وسلم : « مَن أَحدَثَ فِي أَمرِنَا هَذَا مَا لَيسَ مِنهُ فَهُوَ رَدٌّ ») صحيح مسلم برقم (2697),(   أَي مَردُودٌ عَلَيهِ .[12]
Tidak disyari’atkan bagi seorang muslim, mengadakan perayaan dengan memperingati israa' dan mi’raj, sebagaimana tidak disyari’atkan pula pada peringatan isra dan mi’raj tersebut sholat yang khusus sebagaimana sebagian ummat muslim yang awam mengerjakannya, bahkan semuanya itu adalah bid’ah-bid’ah yang munkar, Nabi saw tidak pernah mensyari’atkannya, dan tidak seorangpun dari ‘ulama salaf yang mengerjakannya, dan tidak ada seorangpun diantara orang yang mengikuti perbuatan tersebut   mengatakan berdasarkan ilmu.
Dan sungguh ‘ulama ahlussunnah telah menerangkan : Bahwa sesungguhnya sholat pada malam 27 di bulan rajab dan yang semisalnya, termasuk kepada bid-‘ah bid’ah yang diada-adakan didalam agama Allah, dan sungguh perbuatan tersebut adalah amal yang tidak disyari’atkan, berdasarkan kesepakatan imam-imam Islam, dan tidaklah menetapkan perbuatan seperti ini kecuali orang yang jahil dan pelaku bid’ah. Dan sungguh Nabi saw  telah bersabda: "Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini, suatu urusan yang bukan berasal dari nya, maka ia tertolak"(Shahih Muslim). Yaitu maksudnya ditolak atasnya.

Penjelasan Mengenai Masa Hidup Para Nabi dan Ajalnya
Sebagai manusia biasa, para nabi dan rasul pun telah mempunyai ketetapan hidup dan mati. Sungguh banyak dalil-dalil yang menjelaskan mengenai kehidupan dan kematian para nabi. Dimasa para nabi hidup hingga ajal mendekati mereka, mereka senantiasa berwasiat kepada kaumnya untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah swt, diantaranya Firman Allah didalam alQuran  :
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
" Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".(Q.S. AlBaqarah:133)
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ حَتَّى إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ
"dan Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu Senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika Dia meninggal, kamu berkata: "Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu". (Q.S. Ghafir:34)
          Allah swt menjelaskan bagaimana ketetapan wafatnya Sulaiman a.s, Firman-Nya Ta’ala :
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
" Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau Sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan".(Q.S. Saba' :14)
Pada ayat yang lain Allah swt berfirman kepada Nabi saw :
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
" Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula)".(Q.S. AzZumar:30).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
" tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan".(Q.S. Ali Imran:185).
          Ayat-ayat diatas menjelaskan mengenai kematian para Nabi, bahwa sesungguhnya mereka semua akan mati sebagaimana akan matinya seluruh manusia. Namun dikhususkan atas Nabi Isa a.s, bahwasanya beliau almasih a.s belum wafat, Allah Ta’ala hanya mengangkat Isa a.s ke langit, sebagaimana dijelaskan dalam Firman-Nya :
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
" (ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, Sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya". (Q.S. Ali Imran:55).
Ayat ini menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala mengangkat Isa a.s dengan jasad dan ruhnya, dan sesungguhnya Isa a.s belum wafat, adapun wafat yang disebutkan pada ayat ini, pada firman-Nya : مُتَوَفِّيكَ , Telah diterangkan mengenai tafsirnya, bahwa yang dimaksud wafat disini adalah diangkatnya Isa a.s kepada-Nya, sebagaimana yang diterangkan Ibnu Jarir AthThabari, dan kebanyakan mufassir menjelaskan bahwa wafat yang disebutkan disini yaitu : النوم(tidur). Sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا
" Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya " (Q.S. AzZumar:42)
          Pada ayat yang lain Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Isa a.s itu belumlah wafat akan tetapi hanya diangkat oleh Allah dan akan diturunkan kembali ke bumi kemudian beliau akan wafat sebelum hari kiamat, firman-Nya Ta’ala :
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
" dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. AnNisaa':157-158).
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
"tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya, dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka".(Q.S. AnNisaa' : 159).
Ahli kitab menyebut Isa a.s, Ibnu Maryam, mereka bermaksud mengolok-olok yang pada dasarnya mereka itu tidak percaya kepada Isa a.s sebagai rasulullah.
Adapun maut yang disebutkan pada ayat ini, yaitu wafatnya Isa a.s di akhir zaman, setelah beliau a.s diturunkan dari langit untuk menghancurkan salib dan membunuh babi, kemudian menetapkan Jizyah (pajak). Sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih mengenai turunnya Isa a.s di akhir zaman.[13]
AlQurtuby menjelaskan :
لَيْسَ أَحَدٌ مِن أَهلِ الكِتَابِ  الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى إِلَّا وَيُؤمِنُ بِعِيسَى عَلَيهِ السَّلَامُ إِذَا عَايَنَ الْمَلَكَ، وَلَكِنَّهُ إِيمَانٌ لَا يَنْفَعُ، لِأَنَّهُ إِيمَانٌ عِنْدَ الْيَأسِ وَحِينَ التَّلَبُّسِ بِحَالَةِ الْمَوْتِ، فَالْيَهُودِيُّ يُقِرُّ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ بِأَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَالنَّصْرَانِيُّ يُقِرُّ بِأَنَّهُ كَانَ رَسُولَ اللَّهِ.
Tidaklah salah seorang dari ahli kitab Yahudi dan Nashrani, kecuali mereka akan beriman kepada Isa a.s, ketika mereka benar-benar melihat alMalak, akan tetapi itu adalah keimanan yang tidak akan bermanfa’at, karena iman demikian merupakan  keimanan orang yang berputus asa, dan manakala kondisi mereka ditutupi kematian, maka orang-orang Yahudi dan Nashrani pada hari itu mengakui bahwa Isa a.s adalah Rasulullah.
          Kemudian ada yang berpendapat bahwa diantara para nabi yang belum wafat selain Isa a.s adalah Idris a.s, dengan dalil firman Allah Ta’ala :
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا  وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
"dan Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi".Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi".(Q.S. Maryam : 56-57)
Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Idris a.s belum wafat, beliau diangkat oleh Allah Ta’ala sebagaimana diangkatnya Isa a.s, sebagian lagi mengatakan bahwa Idris a.s diangkat ke langit, kemudian wafat disana. 
Ibnu Katsir menjelaskan :
قَالَ ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ فِي قَوْلِهِ: وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا قَالَ إِدْرِيسُ رُفِعَ وَلَمْ يَمُتْ كَمَا رُفِعَ عِيسَى، وَقَالَ سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عن مجاهد وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا قال:إِلى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، وَقَالَ الْعَوْفِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا قَالَ: رُفِعَ إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَمَاتَ بِهَا وَهَكَذَا قَالَ الضَّحَّاكُ بْنُ مُزَاحِمٍ وَقَالَ الْحَسَنُ وَغَيْرُهُ فِي قَوْلِهِ: وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا قال: الجنة.[14]
Telah berkata Ibnu Abi Najih dari Mujahid mengenai Firman-Nya Ta’ala : وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا , ia berkata : Idris a.s diangkat dan tidak wafat sebagaimana diangkatnya Isa a.s. Dan Sufyan telah menyebutkan dari Manshur dari Mujahid:  وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا , ia berkata : Ke langit yang ke empat. Dan ‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas : وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا, ia berkata : Diangkat ke langit yang ke enam, kemudian beliau wafat disana. Demikian pula AdhDhahak bin Muzahim berkata. Dan telah berkata AlHasan dan yang lainnya mengenai firman-Nya : وَرَفَعْناهُ مَكاناً عَلِيًّا  , ia berkata : AlJannah.
Wallaahu a’lam.
_____________


[1] ج 1 / ص 201 أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة - 
[2] .Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة -ج 1 / ص 228
[6] .( أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة - (ج 1 / ص 253
[7] . Kiblat pertama Ummat Rasulullah saw
[8] . Semacam tempat naik (tangga). Namun tidak kita ketahui begaimana kaifiyatnya.
 [9] عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُمْ عَنْ لَيْلَةِ أُسْرِيَ بِهِ بَيْنَمَا أَنَا فِي الْحَطِيمِ وَرُبَّمَا قَالَ فِي الْحِجْرِ مُضْطَجِعًا إِذْ أَتَانِي آتٍ فَقَدَّ قَالَ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فَشَقَّ مَا بَيْنَ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ فَقُلْتُ لِلْجَارُودِ وَهُوَ إِلَى جَنْبِي مَا يَعْنِي بِهِ قَالَ مِنْ ثُغْرَةِ نَحْرِهِ إِلَى شِعْرَتِهِ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ مِنْ قَصِّهِ إِلَى شِعْرَتِهِ فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِي ثُمَّ أُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوءَةٍ إِيمَانًا فَغُسِلَ قَلْبِي ثُمَّ حُشِيَ ثُمَّ أُعِيدَ ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ دُونَ الْبَغْلِ وَفَوْقَ الْحِمَارِ أَبْيَضَ فَقَالَ لَهُ الْجَارُودُ هُوَ الْبُرَاقُ يَا أَبَا حَمْزَةَ قَالَ أَنَسٌ نَعَمْ يَضَعُ خَطْوَهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ فَانْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ فَقِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا فِيهَا آدَمُ فَقَالَ هَذَا أَبُوكَ آدَمُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ السَّلَامَ ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفَتَحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يَحْيَى وَعِيسَى وَهُمَا ابْنَا الْخَالَةِ قَالَ هَذَا يَحْيَى وَعِيسَى فَسَلِّمْ عَلَيْهِمَا فَسَلَّمْتُ فَرَدَّا ثُمَّ قَالَا مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفُتِحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ قَالَ هَذَا يُوسُفُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَفُتِحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ قَالَ هَذَا إِدْرِيسُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الْخَامِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قِيلَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ قَالَ هَذَا هَارُونُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ السَّادِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا مُوسَى قَالَ هَذَا مُوسَى فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِالْأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ فَلَمَّا تَجَاوَزْتُ بَكَى قِيلَ لَهُ مَا يُبْكِيكَ قَالَ أَبْكِي لِأَنَّ غُلَامًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا إِبْرَاهِيمُ قَالَ هَذَا أَبُوكَ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ قَالَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ السَّلَامَ قَالَ مَرْحَبًا بِالِابْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ ثُمَّ رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ قَالَ هَذِهِ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى وَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ نَهْرَانِ بَاطِنَانِ وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ فَقُلْتُ مَا هَذَانِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ ثُمَّ رُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ ثُمَّ أُتِيتُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ وَإِنَاءٍ مِنْ عَسَلٍ فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ هِيَ الْفِطْرَةُ الَّتِي أَنْتَ عَلَيْهَا وَأُمَّتُكَ ثُمَّ فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ فَمَرَرْتُ عَلَى مُوسَى فَقَالَ بِمَا أُمِرْتَ قَالَ أُمِرْتُ بِخَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ وَإِنِّي وَاللَّهِ قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَوَضَعَ عَنِّي عَشْرًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَأُمِرْتُ بِعَشْرِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ فَقَالَ مِثْلَهُ فَرَجَعْتُ فَأُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ بِمَ أُمِرْتَ قُلْتُ أُمِرْتُ بِخَمْسِ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ خَمْسَ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَإِنِّي قَدْ جَرَّبْتُ النَّاسَ قَبْلَكَ وَعَالَجْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَشَدَّ الْمُعَالَجَةِ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ لِأُمَّتِكَ قَالَ سَأَلْتُ رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ وَلَكِنِّي أَرْضَى وَأُسَلِّمُ قَالَ فَلَمَّا جَاوَزْتُ نَادَى مُنَادٍ أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي (صحيح البخاري)

[10] Juga terdapat penjelasan tentang mi’raj ini didalam shahih Muslim.
[11] . Lihat: ج 1 / ص 255  أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة -
[12] .( أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة - (ج 1 / ص 261
[13] . Lihat :  ج 1 / ص 264  أصول الإيمان في ضوء الكتاب والسنة -
[14] .( تفسير ابن كثير ط العلمية - (ج 5 / ص 214

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik