Konsep Agama
Agama berasal dari kata gam yang berarti pergi. Ketika memakai awalan a, i, atau u yang panjang dan berakhiran a, maka artinya menjadi jalan. Maksudnya jalan kehidupan, jalan agar sampai kepada Tuhan. Agama bukan berasal dari a + gama, yang berarti tidak + kacau. Karena dalam bahasa Sansekerta yang merupakan asalnya, agama terbentuk dari susunan a + gam + a, yang berarti jalan kehidupan.[57]
Dalam istilah Islam, agama diungkapkan dengan din dan millah. Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, din makna asalnya ta'at dan balasan. Artinya, agama menuntut keta'atan dan menyediakan balasan. Secara khusus Islam memberikan definisi din sebagai berikut:
وَهُوَ اسْمٌ لِمَا شَرَعَ اللهُ تَعَالَى لِعِبَادِهِ عَلَى لِسَانِ الْأَنْبِيَاءِ لِيَتَوَصَّلُوْا بِهِ إِلَى جِوَارِ اللهِ
Nama sesuatu yang disyari'atkan Allah kepada hamba-hambanya, melalui lisan para nabi untuk menghampirkan mereka ke hadirat Allah.[58]
Perbedaannya dengan millah terletak pada penyandarannya saja. Jika din disandarkan kepada Allah dan manusia, maka millah hanya disandarkan kepada seorang Nabi, seperti millah Ibrahim. Tidak akan ditemukan din Ibrahim, ada juga din Allah, atau din kalian.[59]
Kata din itu sendiri tidak eksklusif milik Islam semata, karena dalam al-Qur`an kata din juga diungkapkan untuk menyebut agama selain Islam. Perhatikan misalnya firman Allah swt berikut:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagi kalian (orang-orang kafir) din kalian, dan bagiku din-ku.[60]
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.[61]
Berkaitan dengan definisi formal "agama" tidak ditemukan satu definisi yang utuh dan sama. Dalam wacana pemikiran Barat sendiri telah terjadi polemik yang tidak berkesudahan, baik di bidang ilmu filsafat agama, teologi, sosiologi, antropologi, maupun di bidang ilmu perbandingan agama sendiri. Saking sulitnya, bahkan sampai dikatakan mustahil mendefinisikan agama, maka beberapa ilmuwan Barat, seperti W.C. Smith, menyatakan bahwa agama tidak mungkin didefinisikan.[62]
Akan tetapi, Muhammad 'Abdullah Darraz, dalam karyanya, al-Din: Buhuts Mumahhidah li Dirasat al-Adyan (Agama: Catatan Pengantar Studi Agama) mengemukakan 14 definisi agama dari para ahli Barat dari berbagai disiplin ilmu. Ia kemudian menyimpulkan bahwa agama itu dapat didefinisikan dari dua aspek: Pertama, sebagai keadaan psikologis (etat subjectif), yakni: relijiusitas; dengan demikian agama adalah kepercayaan atau iman kepada Zat yang bersifat ketuhanan yang patut disembah dan ditaati. Kedua, sebagai hakikat eksternal (fait objectif), bahwa agama adalah seperangkat panduan teoritis yang mengajarkan konsepsi ketuhanan dan seperangkat aturan praktis yang mengatur aspek ritualnya.[63]
Sementara itu, Endang Saifuddin Anshari, dalam kajiannya tentang agama, menyimpulkan bahwa agama itu setidaknya memiliki tiga sistema/sistem, yaitu: (1) sistema credo (tata keyakinan), (2) sistema ritus (tata peribadatan), dan (3) sistema norma (tata kaidah).[64]
Klasifikasi Agama
Ahmad Abdullah al-Masdoosi, dalam bukunya Living Religions of the World, mengklasifikasikan agama kepada tiga kategori, yaitu:
1. Revealed and non-revealed (agama wahyu dan non-wahyu)
Agama wahyu adalah agama yang mendasarkan ajarannya pada pesan yang disampaikan oleh para Nabi melalui kitab-kitabnya, dari Tuhan yang sama. Agama yang masuk kategori ini, menurut al-Masdoosi adalah Yudaisme, Kristen dan Islam. Sedangkan sisanya termasuk pada agama non-wahyu.
2. Missionary and non-missionary (agama misi dan non-misi)
Agama misi adalah agama yang menyebarkan ajarannya kepada bangsa yang lain. T.W. Arnold memasukkan Buddhisme, Kristen dan Islam ke dalam agama misi. Sedangkan Yudaisme, Brahmaisme dan Zoroasterianisme dimasukkan ke dalam agama non-misi. Akan tetapi menurut al-Masdoosi, dilihat dari bentuk ajarannya yang asli, Buddhisme dan Kristen tidak masuk dalam kategori agama misi. Hanya Islam, menurutnya, yang secara asli masuk dalam kategori agama misi.
3. Geoghraphical-racial and universal (agama rasial-geograpikal dan universal)
Dilihat dari segi rasial dan geograpikal, agama-agama di dunia dapat dibagi atas: (a) Semitik, (b) Arya, dan (c) Monggolian. Yang termasuk Semitik adalah Yudaisme, Kristen dan Islam. Yang termasuk Arya adalah Hinduisme, Janisme, Sikhisme, dan Zoroasterianisme. Sedangkan yang masuk kategori Monggolian adalah Confusianisme, Taoisme dan Shintoisme. Sementara Buddhisme merupakan campuran dari Arya dan Monggolian.[65]
Sementara itu, Endang S. Anshari memberikan catatan, secara umum agama-agama tersebut terbagi kepada dua kategori, yaitu (1) agama samawidan (2) agama ardli. Agama samawi artinya agama langit, yakni yang mendasarkan ajarannya pada wahyu dari langit, sementara agama ardli artinya agama bumi, yakni agama yang murni berkembang di bumi tanpa ada kaitan dengan wahyu dari langit. Secara umum, yang dimasukkan ke dalam agama samawi adalah Islam, Kristen, dan Yahudi. Tapi menurut Endang, sebenarnya hanya Islamlah satu-satunya agama samawi, karena ia merupakan satu-satunya agama para Nabi. Yahudi dan Kristen sudah menyimpang dari Islam.[66]
Islam sebagai Agama
Allah swt menegaskan bahwa agama yang akan diterima di sisi-Nya hanyalah Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab (Yahudi dan Nashrani) kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[67]
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[68]
Fakhrud-Din ar-Razi, dalam kitab tafsirnya, Mafâtih al-Ghaib, menjelaskan bahwa makna Islam adalah: (1) Masuk dalam Islam, yakni tunduk dan mengikuti, (2) masuk dalam silm, yakni agama Islam, yang makna asalnya keselamatan, dan (3) memurnikan sesuatu, maksudnya memurnikan agama dan aqidah hanya kepada Allah swt.[69]
Imam at-Thabari menguatkan pendapat ar-Razi dengan menyatakan bahwa Islam adalah tunduk dengan merendahkan diri dan khusyu'. Jika Allah menyatakan bahwa agama yang diterima di sisi-Nya adalah Islam, maka maknanya adalah ketundukan yang hanya diperuntukkan bagi-Nya, bukan selain-Nya.[70]
Berkaitan dengan hal itu Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa Islam adalah mengikuti Rasul-rasul yang diutus Allah di setiap waktu sampai Rasul terakhir, yakni Muhammad saw, yang menyempurnakan jalan nabi-nabi sebelumnya. Oleh karena itu, siapa yang mati setelah diutusnya Muhammad saw dalam keadaan tidak beriman kepadanya dan tidak beragama dengan agama yang dibawanya, maka agamanya pasti tidak akan diterima.[71]
Dari uraian para mufassir di atas, bisa disimpulkan bahwa Islam adalah submission (penyerahan diri) hanya kepada Allah swt melalui ajaran para Nabi-Nya sampai Nabi Muhammad saw. Jadi bukan submission dalam makna yang umum, yakni asal melakukan penyerahan diri kepada Tuhan, apapun agamanya; apakah itu Islam, Kristen, atau Yahudi.
Islam juga dengan sendirinya adalah sebuah nama dan sifat ajaran para Nabi, dari sejak Adam a.s sampai Muhammad saw. Ia bukan nama sebuah sistem keagamaan (a religious sistem) yang muncul dalam rentang waktu sejarah seperti yang dituduhkan para peneliti Kristen dan Yahudi terhadap Islam hari ini. Dari sejak awal, al-Qur`an secara konsisten menjelaskan bahwa ajaran para Nabi as itu semuanya Islam. Umat Islam hari ini telah berhasil mempertahankan otentisitas ajaran para Nabi tersebut, berbeda dengan Yahudi-Kristen yang telah melenceng jauh dari Islam, sehingga mereka pun tidak layak memegang title Islam.[72]
Allah Ta’ala sudah menegaskan dalam QS. Ali 'Imran [3]:83 bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepasrahan total hanya kepada Allah swt.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.[73]
Semua Nabi, menurut al-Qur`an, diutus dengan membawa ajaran ini (QS. An-Nahl [16] : 36). Dengan demikian Nabi Adam as agamanya Islam, Nabi Ibrahim as agamanya Islam, Nabi Musa as agamanya Islam, Nabi 'Isa as agamanya Islam, dan semua Nabi-nabi hingga Nabi Muhammad saw agamanya juga Islam.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).[74]
Al-Qur`an sangat konsisten menjelaskan bahwa nabi-nabi beragama Islam; hanya tunduk kepada Allah swt, dan tidak musyrik. Lihat misalnya ayat berikut:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam".[75]
Maka dari itu, setiap Nabi diberikan ajaran oleh Allah swt untuk menguatkan Nabi lainnya. Dan jika ada Nabi lain di masa hidupnya yang datang belakangan, maka ia harus menolong Nabi yang datang belakangan tersebut, sekaligus mengikuti syari'atnya jika ia membawa syari'at baru dari Allah swt.
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu."[76]
Oleh karenanya Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
وَإِنَّه -واللهِ-لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلا أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Sesungguhnya demi Allah, kalau saja Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak halal baginya kecuali harus mengikutiku”.[77]
Mengingkari salah satu Nabi, apalagi sampai mendustakan dan membunuh sejumlah Nabi sebagaimana pernah dilakukan Yahudi (QS. Al-Baqarah [2] : 87), adalah keyakinan dan perbuatan yang melenceng (ikhtilaf) dari Islam. Itu sebabnya pula dengan tegas Allah menyatakan bahwa Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) telah ikhtilaf dari Islam, dan mereka dengan sendirinya telah kufur sebagaimana difirmankan-Nya dalam QS. Ali 'Imran [3] : 19. Semestinya semua Nabi itu diakui sama, tidak boleh dibeda-bedakan:
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَوَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[78]
Inilah Islam, agama yang benar-benar asli dari Allah Ta’ala. Agama yang menuntut agar semua Nabinya diimani. Mengingkari salah satunya, apalagi Nabi penutup akhir zaman yang terlalu jelas untuk diingkari (al-bayyinah), karena namanya, sifat-sifatnya, dan karakteristiknya sudah disebutkan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sebelumnya, itu semua merupakan sebuah pembangkangan dan penyelewengan yang nyata. Kufur, demikian Allah Ta’ala menegaskannya:
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Quran),[79]
Akan tetapi:
وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ
Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.[80]
Maka Allah Ta’ala pun menyatakan:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.[81]
Terhadap fakta pluralitas agama, dengan demikian, Islam tidak memandangnya sebatas berbeda semata, melainkan menyimpang (ikhtilaf) dan membangkang (kufr). Yahudi, Kristen, dan agama-agama syirk lainnya dipandang oleh Islam sebagai agama-agama yang sengaja menyimpang dari Islam dan membangkang. Terhadap hal ini, al-Qur`an telah menguraikan argumentasi logisnya dalam berbagai surat dan ayat, terangkai dengan sangat panjang dari mulai al-Fatihah sampai an-Nas.
Islam Satu-satunya Agama Wahyu
Dalam fenomena keagamaan hari ini, penjelasan al-Qur`an bahwa Islam yang saat ini dianut oleh umat Islam adalah agama yang masih genuinesebagai agama wahyu (din Allah, din al-haqq), menemukan faktanya. Konsep ketuhanan, kenabian, wahyu/kitab, hari kiamat dan peribadatan yang saat ini diyakini dan diamalkan umat Islam, tidak tunduk pada sejarah dengan mengalami perubahan dan pergantian di setiap masanya. Sehingga Islam bukan agama sejarah (historis), melainkan melintasi sejarah (metahistoris). Sama identik dengan agama nabi-nabi sebelumnya, karena memang sama-sama bersumber pada wahyu.
Dalam konsep ketuhanan misalnya, dari awal Islam menegaskan bahwa Tuhan itu satu, tidak berserikat, tidak beranak tidak pula diperanakkan, tidak ada satupun yang dapat menyamai Tuhan (baca: Allah). Sementara dalam Kristen terjadi perkembangan konsep, dari monotheisme murni menjadi monotheisme tidak murni. Kaum Kristen awal, dan itu dibuktikan dengan keberadaan agama Yahudi, meyakini bahwa Tuhan itu satu. Tapi kemudian berdasarkan Konsili Nicea 325 ditetapkanlah bahwa Tuhan punya anak, yakni Yesus. Yesus adalah manusia sekaligus Tuhan. Penetapan Yesus sebagai "manusia" sekaligus "Tuhan" ini berubah-ubah pula dalam perumusan syahadat di setiap Konsilinya. Termasuk ketika pada Konsili Toledo III di Spanyol tahun 589 ditambahkan Roh Kudus sebagai oknum ketiga dari Tuhan. Perubahan syahadat ini telah menyebabkan terpecahnya Gereja menjadi Barat dan Timur.[82]
Berkaitan dengan konsep keselamatan, dalam agama Kristen juga terjadi pergeseran. Dari yang semula eksklusif (mengakui kebenaran hanya pada Krsiten) menjadi inklusif. Dan itu terjadi setelah Konsili Vatikan II (1962-1965) menetapkan bahwa ada kemungkinan keselamatan di luar Katholik.[83]Kenyataan bahwa masalah aqidah ditetapkan oleh Konsili semakin memberikan fakta bahwa Kristen sudah bukan lagi agama wahyu atau agamanya para Nabi. Islam yang masih genuine sebagaimana awalnya, tetap memiliki pandangan bahwa orang-orang kufur pasti akan masuk neraka selama-lamanya.
Hal yang sama juga mengenai agama Yahudi. Dalam konsep kenabian, tampak sekali dalam Bible mereka adanya pencemaran nama baik, seperti terjadi pada Luth, Daud, dan Sulaiman yang disebutkan berzina. Padahal Nabi adalah orang pilihan Allah yang ma'shum. Demikian juga dalam konsep the promised land (tanah yang dijanjikan) yang baru dirumuskan seiring berdirinya Zionisme.[84]
Dalam konteks peribadatan, Islam hari ini masih konsisten dengan shalat, zakat, shaum, dan hajjinya, yang disebutkan al-Qur`an sebagai syari'at para Nabi (baca: Islam), walau tentu secara praktik peribadatan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi dalam agama Yahudi dan Kristen tidak tampak pada syari'at mereka ajaran-ajaran shalat, zakat, shaum, dan hajji. Walaupun ada tatacara peribadatan semacam shalat, zakat dan shaum, akan tetapi semuanya sangat tunduk pada sejarah, disesuaikan dengan situasi dan tempat.[85]
Agama-agama lainnya di luar Yahudi dan Krsiten, tampak lebih kentara lagi. Itu dikarenakan mereka dari semula tidak mendasarkan ajarannya pada wahyu, melainkan pada kontemplasi pemimpin agamanya yang kemudian menghasilkan rumusan-rumusan ajaran. Salah satu contoh sederhana, berbedanya agama Hindu Bali dengan Hindu India.
Dalam agama Islam hari ini, dari sejak awal disampaikan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad silam, sampai sekarang, tidak terjadi pergeseran konsep keagamaan. Shalatnya masih berbahasa Arab, dan yang wajibnya lima waktu. Zakatnya masih terdiri dari zakat fithrah dan mal. Shaumnya tetap sebulan Ramadlan penuh. Hajjinya tetap ke al-Masjid al-Haram di Makkah pada beberapa hari di bulan Dzulhijjah. Kalaupun ada perbedaan, itu bukan merupakan pergeseran ajaran. Akan tetapi memang dari sejak awal terjadi perbedaan penafsiran, dan itu hanya terjadi pada hal-hal yang furu'.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam hal ini menegaskan bahwa tradisi intelektual, agama dan budaya Islam tidak memiliki karakteristik yang suatu zaman dicirikan dengan menangnya sebuah sistem pemikiran berdasarkan pada materialisme atau idealisme, dengan beragam posisi seperti empirisisme, rasionalisme, positivisme, kritisisme, dan lain-lain. Ciri-ciri periode sejarah Islam juga tidak mengenal zaman klasik, pertengahan, modern dan sekarang berubah lagi kepada pasca-modern; atau juga periode kelahiran kembali (renaissance) dan pencerahan (enlightenment). Paradigma tersebut berubah-ubah karena bersumber dari unsur-unsur filosofis dan budaya yang dibantu oleh ilmu pengetahuan saat itu. Sedangkan Islam bukanlah bentuk budaya, dan sistem pemikirannya serta sistem nilainya bukan semata-mata berasal dari unsur-unsur budaya dan filosofis yang dibantu sains, tetapi sumber aslinya adalah wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi.[86]
Al-Attas menjelaskan lebih lanjut bahwa substansi agama seperti nama agama, iman dan amal, ibadah, aqidah, serta sistem teologinya diberi oleh wahyu dan diterjemahkan serta ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Bukan dari tradisi budaya dalam arus historisisme. Islam menyadari identitasnya telah lengkap, sempurna dan otentik dari selesainya turunnya wahyu. Jadi Islam telah 'dewasa' ketika muncul dalam sejarah dunia. Islam tidak memerlukan pertumbuhan atau progresifitas dalam hal-hal yang sudah sangat jelas.[87]
Konsep Dîn Islam
Secara gamblang hadits dialog antara Nabi saw dan Jibril menggambarkan bagaimana struktur bangunan dîn Islam.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه و سلم- بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ. قَالَ مَا الإِسْلاَمُ قَالَ الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ. قَالَ مَا الإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه و سلم- ( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ ) الآيَةَ. ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ : رُدُّوهُ. فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا. فَقَالَ: هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Pada suatu hari Nabi Saw tampak di tengah-tengah manusia, lalu Jibril datang kepadanya dan bertanya: "Apa iman itu?" Beliau menjawab: "Iman adalah kau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, bertemu dengan-Nya, rasu-rasul-Nya, dan kau beriman pada kebangkitan." Jibril bertanya lagi: "Apa Islam itu?" Beliau menjawab: "Islam adalah kau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang fardlu, dan shaum Ramadlan." Jibril bertanya lagi: "Apa ihsan itu?" Beliau menjawab: "Yaitu kau beribadah kepada Allah seolah-olah kau melihat-Nya, dan jika tidak maka sesungguhnya Dia melihatmu." Jibril bertanya: "Kapan kiamat itu?" Beliau menjawab: "Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya. Tapi aku akan memberitahu kepadamu tanda-tandanya; apabila seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, apabila pengembala unta yang hitam bermegah-megah dalam bangunan. Ada lima hal yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Kemudian Nabi Saw membaca 'Sesungguhnya Allah, di sisi-Nyalah pengetahuan kiamat…)." Setelah itu Jibril berpaling, dan Nabi Saw berkata: "Suruh dia kembali!" Tapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Nabi Saw bersabda: "Itu adalah Jibril. Ia datang mengajarkan agama kepada manusia."[88]
Berkaitan dengan hadits di atas Imam al-Bukhari menyatakan: Fa ja'ala dzâlika kullahu dînan; Beliau (Nabi saw) menjadikan semua itu sebagai agama.[89] Maksudnya, agama itu adalah iman (aqidah), islam (syari'ah), dan ihsan (akhlaq). Dalam hal ini, maka harus dibedakan antara "Islam" dalam pengertian sebuah agama/syari'at Allah kepada para nabi seperti telah dijelaskan sebelumnya, dengan "islam" dalam pengertian sebagai salah satu ajaran dari agama Islam itu sendiri. Dikaitkannya ketiga rukun agama tersebut dengan tanda-tanda kiamat mengisyaratkan keterkaitannya dengan kehancuran tatanan masyarakat ketika agama (iman, islam, dan ihsan) tidak diamalkan sebagaimana mestinya. Dari hadits ini tampak jelas bagi kita bahwa Rasul saw mendefinisikan agama lewat amalan yang konkrit, bukan melalui sebuah pengertian yang teoritis dan filosofis.
Secara lebih sederhana, bisa ditegaskan bahwa iman orientasinya keyakinan atau aqidah, islam orientasinya pengamalan ibadah atau syari'at, sedangkan ihsan orientasinya manajemen diri atau akhlaq. Oleh karenanya, jika hanya percaya adanya Allah (iman) tapi tidak mau mengikuti syari'at Nabi (islam) sebagaimana halnya musyrikin Jahiliyyah, maka itu tidak bisa disebut beragama Islam. Atau, jika hanya mengikuti syari'at Nabi (islam) tanpa meyakininya (iman) seperti halnya orang munafiq, itu pun tidak beragama Islam. Pun demikian jika hanya percaya dan beribadah (iman dan islam), tapi tidak berakhlaq mulia (ihsan), tidak dapat dikategorikan beragama Islam yang benar. Yang dua pertama (tidak iman-islam) dikategorikan kafir, sementara yang terakhir (tidak ihsan) dikategorikan fasiq, tidak sampai kafir. Islam sebagai agama dengan demikian harus mencakup iman, islam, dan ihsan. Jika tidak, tunggu saja kiamat yang semakin mendekat.
Antara Iman dan Islam
Penting untuk disinggung kembali dalam hal ini tentang pengertian iman dan islam. Baik iman ataupun islam, kedua-duanya mempunyai dua makna; makna hakiki dan makna yang tidak hakiki. Iman/islam yang hakiki adalah iman/islam dalam bentuk yang sempurna.
(اَلْإِيْمَانُ) إِذْعَانُ النَّفْسِ لِلْحَقِّ عَلَى سَبِيْلِ التَّصْدِيْقِ، وَذَلِكَ بِاجْتِمَاعِ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ: تَحْقِيْقٌ بِالْقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِحَسْبِ ذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ
Iman adalah menundukkan diri pada kebenaran dengan cara meyakini. Dan hal tersebut dengan mencakupi tiga hal: meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.[90]
(اَلْإِسْلاَمُ) أَنْ يَكُوْنَ مَعَ الْاِعْتِرَافِ اعْتِقَادٌ بِالْقَلْبِ، وَوَفَاءٌ بِالْفِعْلِ، وَاسْتِسْلاَمٌ ِللهِ فِي جَمِيْعِ مَا قَضَى وَقَدَرَ
Islam adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati, menunaikan dengan perbuatan, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam semua yang telah ditetapkannya dalam qadla dan qadar.[91]
Di antara contoh ayat tentang iman-islam yang hakiki adalah:
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqin (orang-orang yang benar dalam keimanannya –pen).[92]
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri (islam) kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[93]
Sementara itu iman-islam dalam pengertian yang tidak hakiki, atau dalam pengertian hanya sekedar identitas saja adalah:
(اَلْإِيْمَانُ) اِسْمٌ لِلشَّرِيْعَةِ الَّتِي جَاءَ بِهَا مُحَمَّدٌ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ، وَيُوْصَفُ بِهَ كُلُّ مَنْ دَخَلَ فِي شَرِيْعَتِهِ مُقِرًّا بِاللهِ وَبِنُبُوَّتِهِ
Iman adalah nama bagi syari'at yang dibawa oleh Muhammad saw. Dan disifati dengannya setiap orang yang masuk ke dalam syari'atnya, mengakui Allah dan kenabiannya.[94]
(اَلْإِسْلاَمُ) اَلْاِعْتِرَافُ بِاللِّسَانِ، وَبِهِ يُحْقَنُ الدَّمُ، حَصَلَ مَعَهُ الْاِعْتِقَادُ أَوْ لَمْ يَحْصُلْ
Islam adalah pengakuan dengan lisan, dan dengannya terlindungi darah (tidak boleh diperangi), baik itu pengakuan yang disertai keyakinan ataupun tidak.[95]
Contoh ayat yang menjelaskan iman-islam dalam pengertian identitas agama ini adalah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh.[96]
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk' (islam), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;…[97]
Singkatnya, "iman" dan "islam" itu satu makna dalam arti "identitas agama" atau "ekspresi keagamaan yang sempurna". Dan itu terjadi jika kedua kalimat tersebut disebutkan secara terpisah; iman saja atau islam saja. Tapi jikalau iman dan islam itu disebutkan dalam satu kalimat yang sama, maka maknanya ada perbedaan. Iman orientasinya keyakinan, sedangkan islam orientasinya amalan. Seperti tercantum dalam hadits Jibril tentang iman, islam dan ihsan di atas, atau yang disinggung dalam QS. Al-Hujurat di atas.
Pluralisme Agama
Pluralisme berasal dari kata pluralism yang berarti jamak atau lebih dari satu. Dalam kamus bahasa Inggris, pluralism memiliki tiga pengertian: 1. Pengertian kegerejaan, yaitu (i) sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, atau (ii) memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan, baik bersifat kegerejaan maupun non-kegerejaan. 2. Pengertian filosofis, yaitu sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasar yang lebih dari satu. 3. Pengertian sosio-politis, yaitu suatu sistem yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristik di antara kelompok-kelompok tersebut.[98]
Ketika disandingkan dengan agama, maka pengertian "pluralisme agama" adalah koeksistensi (kondisi hidup bersama) antar-agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas, dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama.[99]
Akan tetapi, menurut Anis Malik Thoha, dalam disertasinya yang kemudian menjadi buku Tren Pluralisme Agama, dari segi konteks di mana pluralisme agama sering digunakan dalam studi-studi agama dan wacana sosio-ilmiah pada era modern ini, istilah ini telah menemukan definisi dirinya yang sangat berbeda dengan yang dimiliki semula (dictionary definition). Dari yang semula mengakui eksistensi agama-agama semata, menjadi mengakui bahwa agama-agama tersebut sama dalam hal esensinya dan dengan sendirinya sama-sama menuju keselamatan.[100]
Sampai pada koeksistensi antar-agama dalam satu komunitas, Islam tentu mengakomodasinya. Lihat misalnya pernyataan, lakum dînukum wa liya dîn (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) dan lâ ikrâha fid-dîn (tidak ada paksaan untuk memeluk agama). Masyarakat Madinah di zaman Nabi saw sendiri juga telah menjadi prototipenya. Akan tetapi, jika sampai harus mengakui bahwa semua agama itu pada hakikatnya sama, dan sama-sama menuju keselamatan, ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang menyatakan wa man yabtaghi ghairal-Islam dinan fa lan yuqbala minhu (barangsiapa yang mengharap selain Islam sebagai agama, maka pasti tidak akan diterima).
Menurut Syamsuddin Arif, fakta bahwa agama yang ada di dunia ini sangat banyak, telah melahirkan dua aliran pemikiran besar, yaitu skeptisisme dan relativisme. Kaum skeptis menyatakan bahwa beragamnya agama tersebut menjadi pembenar bahwa kebenaran dalam agama itu tidak ada, sementara kaum relativis justru menilai sebaliknya, beragamnya agama merupakan sebuah fakta bahwa kebenaran itu tidak satu, ia ada pada setiap agama.
Lebih lanjut, kaum relativis ini memiliki tiga aliran pemikiran, yaitu esensialisme, sinkretisme, dan pluralisme. Esensialisme menyatakan bahwa semua agama pada esensinya sama, percaya pada ketuhanan. Perbedaan hanya terjadi pada bentuk formalnya saja. Frithjof Schuon mengolah gagasan ini menjadi kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religions) yang dijadikannya sebagai "agama abadi/hikmah abadi" (sophia perennis).
Sementara sinkretisme melangkah lebih jauh dengan mencoba menyatukan agama-agama dalam satu format keagamaan. Contohnya adalah Sikhisme di India, Baha`isme di Iran, Cuadaisme di Vietnam, atau aliran-aliran kebatinan semacam Sumarah, Pangestu, Darmo Gandhul dan sebagainya di Indonesia.
Adapun pluralisme mengakui bahwa agama-agama itu sama dalam porsinya masing-masing. Dengan kata lain, mengakui persamaan dalam perbedaan. Sama-sama benar dalam posisi dan kedudukannya masing-masing.[101] Semua keyakinan dan paham ini jelas-jelas bertentangan dengan konsep agama dalam Islam sebagaimana telah dijelaskan di awal.
Anis Malik Thoha, dalam hal ini menguraikan dua madzhab pluralisme agama lain, selain yang dipaparkan Syamsuddin Arif di atas, yakni humanisme sekular dan teologi global. Humanisme adalah paham kemanusiaan yang menjadikan manusia sebagai pusat dari segala paham. Disebut sekular karena pada hakikatnya ia sudah keluar dari agama, dengan mengajukan paham tersendiri tentang kemanusiaan. Dari aspek kemanusiaan tersebut itulah maka semua agama bisa dinilai sama. Bahkan ekstremnya, semua paham keagamaan harus segera dihapuskan dan digantikan dengan satu paham saja, yakni kemanusiaan.
Sementara teologi global, di antaranya dikemukakan oleh W.C. Smith, mengemukakan perlunya agama baru yang berlaku secara global. Seiring globalisasi yang melanda dunia secara keseluruhan, maka teologi pun harus mengalami globalisasi. Paham-paham keagamaan yang dinilai lokal, dengan sendirinya harus dilebur sehingga menjadi teologi global.[102]
Adian Husaini, dalam hal ini memberikan catatan, pluralisme agama berkembang dan dikembangkan di dunia Barat, dikarenakan mereka menghadapi problem teologi dalam agama mereka (Kristen), sehingga mereka memandang perlu dikembangkannya sebuah teologi baru untuk mengatasi kebuntuan teologi. Islam tentu tidak mengalami hal serupa, sehingga tidak layak pula untuk kemudian mengekor mengembangkan pluralisme agama.[103]
Pluralisme agama hari ini menjadi semacam keniscayaan bagi masyarakat modern. Di zaman yang sudah sangat modern dan terbuka seperti saat ini, dimana hubungan antar-manusia sudah sangat global tanpa mengindahkan lagi ras, suku dan agama, paradigma bahwa agama tertentu saja yang akan menjamin keselamatan dinilai sebagai paradigma yang sempit dan tidak maju. Seharusnya paradigma itu diubah menjadi lebih toleran dan bersahabat; keselamatan ada pada setiap agama, apapun itu.
Agama Kristen Katholik adalah salah satu agama yang sudah tergerus oleh paradigma modern ini. Dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), agama Kristen Katholik menetapkan adanya kemungkinan keselamatan di luar Katholik.[104] Ini seolah-olah menjadi semacam kran pembuka untuk kaum prularis menyebarkan fahamnya ke berbagai agama lainnya, termasuk Islam. Dalih sederhananya, Katholik saja sudah menerima konsep dasar pluralisme agama guna menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, lalu kenapa agama lainnya belum menyesuaikan dirinya dengan tuntutan zaman.
Maka dari itu tidak heran jika beberapa cendekiawan Muslim, termasuk di Indonesia, kemudian gencar mengkampanyekan pluralisme agama; keyakinan bahwa keselamatan ada di berbagai agama. Gagasan yang diusungnya ada dua corak, pertama, meyakini bahwa semua agama akan mendapatkan keselamatan, dan kedua, meyakini bahwa agama yang berafiliasi pada millah Ibrahim (Islam, Yahudi, Kristen) akan mendapatkan keselamatan.
Untuk corak gagasan pertama, bisa disimak dari pernyataan Budhi Munawar-Rahman berikut ini yang mengusulkan adanya perombakan basis teologi Islam:
Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama, yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman –tanpa harus melihat agamanya apa—adalah sama di hadapan Allah. Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.
Dari segi teologi Islam, harusnya ini tidak menjadi masalah. Alquran menegaskan bahwa keselamatan di hari akhirat hanya tergantung kepada apakah seseorang itu percaya kepada Allah, percaya kepada hari akhirat, dan berbuat baik. Dan rupanya inti ajaran agama adalah mengenai ketiga hal tersebut. Ini dikemukakan Alquran dalam surah al-Baqarah dan surah al-Maidah (Q.S. 2:62 dan 5:69).[105]
Dua ayat yang dimaksud oleh Budhi adalah sebagai berikut:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[106]
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[107]
Selain itu, Budhi juga mengemukakan satu ayat yang menurutnya telah mengajarkan ide toleransi dan pluralisme antar-agama, yaitu:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."[108]
Menurut Budhi, pandangan keagamaan yang memberikan ruang kepada toleransi semakin penting dimasyarakatkan, agar apa yang disebut “pentingnya menghubungkan tali kasih sayang antarumat beragama” menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan tanpa ada stigma atau hambatan teologis. Padahal ayat ini, menurut Budhi, jelas-jelas menganjurkan kita untuk mencari titik temu (kalimat-un-sawa').[109]
Sementara untuk corak gagasan kedua, bisa disimak dalam buku Fiqh Lintas Agama yang ditulis oleh Nurcholish Madjid dkk. Dalam buku tersebut secara provokatif disebutkan bahwa Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari satu tradisi agama yang sama, yaitu tradisi agama Ibrahim.[110] Agama Ibrahim itu adalah agama yang "generik"; bertumpu pada dua konsep, hanîf dan muslim, yang jauh dari sifat sektarian dan komunalistik (bersemangat golongan).
Perkataan 'hanîf' menunjukkan kepada yang murni, suci dan benar dengan titik inti pandangan Ketuhanan yang Maha Esa atau tawhîd; sedangkan perkataan 'muslim' menunjukkan kepada pengertian sikap tunduk (dîn) dan pasrah total hanya kepada kemurnian, kesucian dan kebenaran itu, yang di atas segalanya ialah tunduk dan pasrah total kepada Tuhan yang Maha Esa (islâm)…
Jika dalam al-Qur`an disebutkan bahwa Ibrahim bukan Yahudi atau Kristen, maka maksudnya ialah bahwa dia tidaklah termasuk mereka yang pandangan keagamaannya sektarian dan komunal, dengan klaim-klaim eksklusif sebagai pemegang satu-satunya kebenaran. Gaya keagamaan kaum Yahudi dan Kristen pada masa Nabi itu dijadikan sebagai model sektarianisme dan komunalisme, suatu hal yang sesungguhnya dapat juga berlaku pada sebagian pemeluk agama-agama lain, termasuk kaum Muslim sendiri.[111]
Keyakinan sebagai pemegang satu-satunya kebenaran ini kemudian mereka garis bawahi tebal-tebal untuk menandakan sikap sektarian dan komunal yang dimaksud. Artinya, jika umat Islam mengikuti hal serupa, maka umat Islam sudah tidak layak disebut sebagai pelanjut tradisi agama Ibrahim. Umat Islam, jika demikian, tidak jauh beda dengan Yahudi dan Nashrani yang dikecam oleh Allah swt karena tidak hanîf dan muslim dalam QS. Al-Baqarah [2] : 111-113. Karena menurut mereka, di sisi lain justru al-Qur`an menegaskan bahwa mungkin Ahli Kitab lebih hanîf dan muslim, juga anti-sektarianisme (QS. Ali 'Imran [3] : 113-115).[112]
Dua rujukan ayat yang dimaksudkan oleh Nurcholish di atas berbunyi lengkap sebagai berikut:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَبَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَوَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.[113]
لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَيُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَوَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.[114]
Uraian di atas menggambarkan dengan sangat jelas betapa mereka sudah berani menjustifikasi argumen salah mereka dengan ayat-ayat al-Qur`an. Penafsiran terhadap ayat-ayat di atas yang digiring pada pembenaran paham pluralisme agama adalah sebuah penafsiran ceroboh, dibuat-buat, dan tidak berdasar. Untuk membuktikan kesalahan penafsiran tersebut perlu dikaji secara serius apa sebenarnya penafsiran yang benar dari ayat-ayat yang mereka selewengkan maknanya itu. Kajian yang ditujukan pada khazanah tafsir pun harus dilakukan.
Antara Toleransi dan Pluralisme
Reinterpretasi terhadap basis teologi seperti diusulkan oleh kalangan pemikir muslim yang menamakan dirinya liberal, inklusif, dan pluralis seperti di atas, tampak sekali terlalu dipaksakan. Hal itu dikarenakan Islam hanya mengajarkan toleransi; sebatas menghormati agama lain, bukan pluralisme, dalam arti mengakui kebenaran agama lain. Adanya hambatan teologis seperti diakukan oleh mereka, sebenarnya tidak berdasar sama sekali. Itu dikarenakan, sejarah Islam dan umat Islam dari sejak zaman Nabi saw hingga beberapa abad sesudahnya, termasuk hari ini, tidak pernah menemukan hambatan teologis ketika berinteraksi dengan umat antar-agama. Karena memang basis teologi yang diajarkan Islam sudah cukup jelas dan mudah untuk diaplikasikan.
Menurut Yusuf al-Qaradlawi, al-Qur`an memang telah menempatkan Yahudi dan Nashrani dalam hubungan "keturunan" dan "kekerabatan", berakar pada agama yang satu, yang dengannya seluruh nabi diutus oleh Allah swt. Oleh karena itu al-Qur`an sering memanggil mereka, "Wahai ahli kitab," atau "Wahai orang-orang yang diberi kitab." Para ahli kitab pun jika mereka membaca al-Qur`an pasti akan mendapatkan pujian terhadap kitab suci, rasul-rasul, dan nabi-nabi mereka. Karenanya, apabila kaum muslimin berdiskusi dengan mereka hendaklah mereka menghindari kecongkakan yang hanya akan menyakitkan hati dan membangkitkan permusuhan.[115]
Senada dengan Yusuf al-Qaradlawi, M. Quraish Shihab juga menekankan pentingnya dialog dengan metode yang paling baik tersebut. Ia menegaskan, sebenarnya yang diharapkan dari semua pihak termasuk Ahli Kitab adalah kalimat sawa` (kata sepakat). Dan kalau ini tidak ditemukan, maka cukuplah mengakui kaum muslim sebagai umat beragama Islam, jangan diganggu dan dihalangi dalam melaksanakan ibadahnya.[116]
Kalimat sawa' itu sendiri sebagaimana dijelaskan QS. Ali ‘Imran [3] : 64 adalah pengakuan akan kemahatunggalan Allah swt yang tidak ada sekutu baginya. Maka al-Qur`an mengingatkan pelanggaran Ahli Kitab mengenai hal tersebut dalam beberapa ayat, di antaranya: "Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara."[117] Dan dalam surat al-Ma`idah dinyatakan dengan tegas bahwa semua itu adalah bentuk keukufuran (pembangkangan) kepada Allah swt.[118]
Kalimat sawa` lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat sesudahnya, adalah keimanan terhadap semua rasul dan kitab yang dikirimkan oleh Allah swt, termasuk di antaranya Muhammad saw. Dalam hal ini, bahkan al-Qur`an menyinggung bahwa hal tersebut sudah menjadi perjanjian "primordial" antara Allah dengan mereka, seperti halnya perjanjian "primordial" untuk hanya mengakui Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan.[119]
Dari itu jelaslah bahwa sikap al-Qur`an dalam hal konsep formal teologi tegas, tanpa kompromi. Tetap menjelaskan secara qath'i mana yang benar dan mana yang salah, untuk kemudian didialogkan dengan Ahli Kitab, tentunya dengan cara yang hiya ahsan; paling baik. Jadi, walau prinsip toleran dibangun oleh Islam dalam interaksi umat antar-agama, tetap saja konsep formal teologinya tidak diubah menjadi pluralis. Semua pihak, khususnya Ahli Kitab, dipersilahkan untuk mengambil sikap sesuai dengan kehendaknya sendiri, karena yang benar telah jelas, dan yang salah pun telah jelas, dan kedua-duanya pun sudah dijelaskan oleh Allah dengan sejelas-jelasnya: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."[120]
Konsepsi Iman dan Amal Shalih
Dengan kerangka seperti itu; menerima toleransi dan menolak pluralisme, maka konsepsi iman kepada Allah dan hari akhir, beserta amal shalihnya sebagaimana ditegaskan QS. Al-Baqarah [2] : 62 dan al-Ma`idah [5] : 69, tidak perlu dipertentangkan lagi dengan ayat-ayat di atas. Jangan lagi berasumsi bahwa Islam, Yahudi, dan Kristen sama-sama akan masuk surga asalkan cukup beriman kepada Allah, hari akhirat, dan beramal shalih saja. Karena pertanyaannya, "Apakah umat yang menyekutukan Allah dan menolak kenabian Muhammad saw juga kitab al-Qur`an, bisa dikategorikan beriman kepada Allah dan beramal shalih?" Jawabannya tentu tidak. Karena jika benar beriman kepada Allah, pasti semua titah-Nya akan dipenuhi, termasuk beriman kepada Nabi Muhammad saw dan al-Qur`an. Karena juga jika benar beramal shalih, pasti mereka akan mengamalkan apa yang telah dititahkan Allah, termasuk menaati Nabi Muhammad saw dan al-Qur`an.
At-Thabari dalam menafsirkan ayat tersebut mengemukakan:
Adapun iman Yahudi, Nashrani, dan Shabi`in yang dimaksud adalah membenarkan Muhammad saw dan apa yang dibawanya. Maka siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Muhammad, pada apa yang dibawanya, dan hari akhir, ia juga beramal shalih, seraya tidak mengubah ajarannya sampai ia meninggal, maka ia akan mendapatkan pahala amalnya di sisi Rabbnya sebagaimana dijelaskan oleh-Nya.[121]
Sementara Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini (QS. Al-Baqarah [2] : 62) diturunkan berkaitan dengan pujian Salman al-Farisi terhadap orang Nashrani yang suka shalat, shaum, dan beriman pada kenabian Muhammad saw, lalu dinyatakan oleh Nabi saw: "Mereka penghuni neraka." Waktu itu Nabi saw menjelaskan bahwa keimanan Yahudi kepada Nabi Musa dan Taurat diterima sepanjang Nabi 'Isa belum hadir. Tapi ketika Nabi 'Isa sudah hadir maka haruslah mengikuti ajaran Nabi 'Isa. Jika tidak, kâna hâlikan (ia binasa), demikian ditegaskan Nabi saw. Hal yang sama juga berlaku pada orang Nashrani selama Nabi Muhammad saw belum datang. Tapi ketika Nabi saw sudah datang, dan ia tidak mengikuti ajarannya, maka kâna hâlikan.[122]Penafsiran serupa juga dinyatakan oleh al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma'ani.[123]
Adapun al-Maraghi, berkaitan dengan QS. Al-Baqarah [2] : 62 tersebut menjelaskan:
Sesungguhnya orang mukmin, apabila ia tetap dalam keimanannya dan tidak menggantinya, demikian juga orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi'i, apabila mereka beriman kepada Muhammad saw, apa yang dibawanya (al-Qur`an), dan hari akhir, juga mengamalkan keshalihan, tidak mengubahnya sampai mereka meninggal dalam keadaan seperti itu, maka bagi mereka pahala amal mereka ada di sisi Tuhan mereka, tidak akan ada takut atas mereka, dan tidak akan pula mereka ditimpa kesedihan.[124]
Sementara Syaikh Muhammad Rasyid Ridla menafsirkan QS. Al-Maidah [5] : 69 sebagai berikut:
Letak korelasi ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya adalah penjelasan bahwa Ahli Kitab tidak menegakkan agama Allah, tidak pula menegakkan apa yang telah dibebankan Allah kepada mereka, baik yang parsialnya atau yang pokoknya. Mereka tidak menjaga nash-nash kitab secara keseluruhan, berani meninggalkannya secara sembunyi-sembunyi, mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dalam bentuk keimanan seperti para pendahulu mereka yang shalih, dan tidak beramal shalih seperti para pendahulu mereka itu[125]
Di antara ayat yang terkait erat korelasinya dengan ayat 69 tersebut adalah ayat 65 dan 66 yang ditafsirkan Rasyid Ridla sebagai berikut:
Yaitu, seandainya saja mereka beriman kepada penutup para nabi dan rasul…(ayat 65) Yaitu, seandainya saja mereka menegakkan ajaran Taurat dan Injil yang diturunkan sebelumnya dengan cahaya tauhid dan keutamaan, yang memberitakan kabar gembira tentang nabi yang akan datang dari keturunan saudara mereka Isma'il (Muhammad –pen), sebagaimana telah dikatakan Musa; dan Barqalith ruh al-haq yang mengajarkan mereka segala sesuatu, sebagaimana telah dikatakan 'Isa, dan mereka menegakkan sesudah itu apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka melalui lisan Nabi yang diberitakan oleh kitab-kitab mereka ini…[126]
Dengan demikian, kedua ayat tersebut (QS. Al-Baqarah [2] : 62 dan al-Ma`idah [5] : 69) harus dipahami sebagai sebuah ajakan yang toleran dan terbuka, yakni bahwa siapapun orangnya; apakah itu muslim, Yahudi, Kristiani, atau shabi`in (penyembah bintang), mempunyai peluang yang sama untuk masuk surga dan selamat, asalkan mereka memenuhi dua syarat; beriman dan beramal shalih dengan sebenar-benarnya.[127]
Millah Ibrahim
Hal yang rancu terdapat pula dalam uraian mengenai tradisi agama Ibrahim, yang mereka sebut hanif dan muslim dengan penekanan sebuah agama "generik" yang jauh dari kesan sektarianisme dan komunalistik (agama golongan). Implikasinya, jika umat Islam hanya mengakui Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, maka mereka sudah tidak sesuai lagi dengan millah Ibrahim, karena sudah bersikap sektarian.
Menempatkan tradisi agama Ibrahim (millah Ibrahim) dengan agama "generik"-nya dalam posisi seperti itu memang tidak terlalu salah. Hanya pembatasan agama "generik" tersebut pada hanif dan muslim, itu lagi-lagi terlalu dipaksakan. Ditambah asumsi bahwa agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw sebagai agama komunal, sama sederajat dengan Yahudi dan Nashrani, sehingga pada akhirnya melahirkan pemahaman yang kabur terhadap pernyataan al-Qur`an bahwa Yahudi dan Nashrani telah menyeleweng.
Millah Ibrahim itu bukan hanya hanif dan muslim, tapi juga wa ma kana minal-musyrikin; bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena ternyata, dari delapan ayat yang menjelaskan millah Ibrahim, satu ayat saja yang tidak menyebutkan wa ma kana minal-musyrikin plus muslim-nya. Sisanya, ketujuh-tujuhnya menyatakan muslim dan ma kana minal-musyrikin.[128] Jadi kalau Islam sudah menyekutukan Allah, baru Islam sudah bukan millah Ibrahim lagi. Namun karena yang musyrik itu ternyata Nashrani, maka pantaslah ia dinyatakan melenceng dari millah Ibrahim. Dan karena Yahudi juga sudah tidak muslim (berserah diri dan tunduk) dengan membangkang kepada Nabi 'Isa dan Muhammad saw, mereka pun tidak bisa lagi dikategorikan millah Ibrahim.
Selanjutnya perlu ditegaskan bahwa Islam bukan agama 'komunal' seorang Nabi. Ia adalah agama para nabi, dari sejak Adam a.s sampai Muhammad saw. Identitasnya tadi, hanif, muslim, wa ma kana minal-musyrikin. Dan itulah agama yang "generik" itu. Tapi pertanyaannya, apakah Yahudi dan Nashrani juga masih "generik" se-"generik" Islam yang ada hari ini? Semua tentu bisa menjawabnya.
Selanjutnya : Konsep Manusia
Baca Juga : Mengenal ISLIB
[57] Muhammad Amin Suma, Pluralisme Agama menurut al-Qur`an; Tela'ah Aqidah dan Syari'ah. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, hlm. 9, mengutip dari Siti Gazalba, dan Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama: Pendahuluan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1979, hlm. 121 mengutip penjelasan Bahrum Rangkuti.
[58] Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu'jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., hlm. 491.
[59] Ibid, hlm. 492. Lihat juga Syarif al-Jurjani, at-Ta'rifat, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., hlm. 35
[60] QS. Al-Kafirun [109] : 6
[61] QS. Al-Fath [48] : 28
[62] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005, hlm. 12.
[63] Ibid, hlm. 13
[64] Endang S. Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, hlm. 126-127.
[65] Ibid, hlm. 124-126
[66] Ibid, hlm. 126-129.
[67] QS. Ali 'Imran [3] : 19
[68] QS. Ali 'Imran [3] : 85
[69] Fakhrud-Din ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, 4 : 146, dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[70] Muhammad ibn Jarir at-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta`wil al-Qur`an, 6 : 274, dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[71] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur`an al-'Azhim, jilid 1, hlm. 472.
[72] Wilfred Cantwel Smith, seorang professor perbandingan agama di Harvard University sekaligus pendiri Islamic studies di McGill University Canada, berpendapat bahwa inti dari Islam itu adalah submission (penyerahan diri). Asal ada submission kepada Tuhan, maka seseorang sudah muslim, walaupun agamanya Yahudi atau Kristen. Adapun Islam yang menjadi nama sebuah agama hari ini, menurutnya, itu terbentuk dalam proses sejarah. Jadi Islam yang dimaksud dalam Innad-dina 'indal-'Llahi al-Islam, menurut Smith tidak menunjuk kepada agama tertentu, melainkan sebuah bentuk kepasrahan atau ketundukan. Lihat W.C. Smith, The Meaning and End of Religion, Minneapolis: Fortress, 1991, hlm. 111-113. Pendapatnya ini kemudian diikuti oleh Nurcholish Madjid sebagaimana bisa disimak dalam buku Tiga Agama Satu Tuhan, Bandung: Mizan, 1999, hlm. xix. Adian Husaini secara panjang lebar telah membahas hal ini dalam Konsep Islam sebagai Agama Wahyu dalam Adian Husaini (ed.), Islamic Worldview: Bahan-bahan Kuliah di Program Doktor Pendidikan Islam Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, 2009.
[73] QS. Ali 'Imran [3] : 83
[74] QS. An-Nahl [16] : 36
[75] QS. Al-Baqarah [2] ; 131-132. Ayat-ayat lain yang menceritakan kisah Nabi-nabi sangat konsisten menjelaskan bahwa para Nabi hanya tunduk kepada Allah swt.
[76] QS. Ali 'Imran [3] : 81
[77] Musnad Ahmad 3 : 387 dalam al-Maktabah as-Syamilah. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani. Lihat Irwa`ul-Ghalil 6 : 34.
[78] QS. Ali 'Imran [3] : 84-85
[79] QS. Al-Bayyinah [98] : 1-2
[80] QS. Al-Bayyinah [98] : 4
[81] QS. Al-Bayyinah [98] : 6
[82] Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 35-41, dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 344-345.
[83] Ibid, hlm. 339-340.
[84] Uraian sederhana tentang perkembangan keagamaan Yahudi bisa dilihat dalam buku Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004.
[85] Uraian yang cukup sederhana di antaranya bisa dirujuk pada buku A.D el Marzdedeq, Parasit Aqidah.
[86] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, hlm. 3-4.
[87] Ibid, hlm. 4-5.
[88] (1) Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab su`al Jibril 'anil- iman wal- islam wal-ihsan wa 'ilmis-sa'ah no. 50; kitab at-tafsir bab qaulihi innal-'Llaha 'indahu 'ilmus-sa'ah no. 4777. (2) Shahih Muslim kitab al-iman bab ma'rifah al-iman wal-islam wal-qadr wa 'ilmis-sa'ah no. 102, bab al-iman ma huwa wa bayani khishalihi no. 106, bab al-islam ma huwa wa bayani khishalihi no. 108. (3) Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fil-qadr no. 4697. (4) Sunan an-Nasa`i kitab al-iman wa syara`i'ihi bab shifatil-iman wal-islam no. 5008. (5) Musnad Ahmad kitab musnad 'Umar ibn al-Khaththab no. 374, musnad 'Abdillah ibn al-'Abbas no. 2981, musnad Abi Hurairah no. 9749.
[89] Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab su`al Jibril 'anil- iman wal- islam wal-ihsan wa 'ilmis-sa'ah no. 50
[90] Ar-Raghib, Mu'jam Mufradat, hlm. 246
[91] Ibid.
[92] QS. Al-Hadid [57] : 19
[93] QS. al-Baqarah [2] : 112
[94] Ar-Raghib, Mu'jam Mufradat, hlm. 246
[95] Ibid.
[96] QS. Al-Baqarah [2] : 62. Makna beriman pada penggalan pertama adalah identitas keagamaan. Sedangkan "beriman kepada Allah dan hari akhir" itu makna iman dalam pengertian sempurna.
[97] QS. Al-Hujurat [49] : 14
[98] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hlm. 11-12.
[99] Ibid, hlm. 14
[100] Ibid, hlm. 15. Salah satu tokoh yang dijadikan rujukan utama dalam pergeseran definisi ini adalah John Hick.
[101] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, hlm. 80-83.
[102] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hlm. 51-89.
[103] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 343-344.
[104] Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 35-41, dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hlm. 339-340.
[105] Budhi Munawar-Rahman, Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama dalam Luthfi Assyaukanie (ed), Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jakarta : Jaringan Islam Liberal, 2002, hlm. 53
[106] QS. Al-Baqarah [2] : 62
[107] QS. Al-Ma`idah [5] : 69
[108] QS. Ali 'Imran [3] : 64
[109] Budhi, Basis Teologi, hlm. 52
[110] Nurcholish Madjid dkk., Fiqih Lintas Agama. Jakarta : Paramadina, Cet. VII, Maret 2005, hlm. 26.
[111] Ibid., hlm. 26-27
[112] Nurcholish, Fiqih Lintas Agama, hlm. 27-28.
[113] QS. Al-Baqarah [2] : 111-113
[114] QS. Ali ‘Imran [3] : 113-115
[115] Yusuf al-Qaradlawi, al-Halal wal-Haram fil-Islam, terj. Wahid Ahmadi dkk., Halal Haram dalam Islam. Solo : Era Intermedia, Cet. I, 2000, hlm. 482-483.
[116] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur`an. Bandung : Mizan, Cet. XI, Juli 2000, hlm. 357.
[117] QS. An-Nisa` [4] : 171
[118] QS. al-Ma`idah [5] : 72-75
[119] QS. Al-Baqarah [2] : 146-147 dan Ali ‘Imran [3] : 12
[120] QS. Al-Baqarah [2] : 256
[121] Tafsir at-Thabari 2 : 148-149 dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[122] Tafsir Ibn Katsir 1 : 284 dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[123] Ruh al-Ma'ani 1 : 347 dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[124] Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi. Beirut : Dar al-Fikr, t.th, Jilid 1, hlm. 134.
[125] Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir al-Qur`an al-Hakim as-Syahir bi Tafsir al-Manar. Berirut: Dar al-Ma'rifah, Cet. II, t.th., Juz 6, hlm. 476-477.
[126] Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, hlm. 460.
[127] "Beriman dan beramal shalih yang sebenar-benarnya" dirujukkan pada terjemahan Al-Qur`an terjemah Depag, yang kemudian memberikan keterangan dalam catatan kakinya: "Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah."
[128] Periksa QS. Al-Baqarah [2] : 135. Ali 'Imran [3] : 67, 95. Al-An'am [6] : 79, 161. An-Nahl [16] : 120, 123.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik