31.7.17

Konsep Tuhan
Oleh: Ustadz Dr. Nashruddin Syarief M. Pd.I
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi saw pada suatu waktu bertanya kepada Ubay: "Ayat apakah yang paling mulia dalam kitab Allah?" Ubay menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Setelah diulang-ulang pertanyaan tersebut oleh Nabi saw, kemudian beliau bersabda: "Ayat kursi."[15]Dalam sanad yang lain, Abu Dzar dan Abu Umamah bertanya kepada Nabi saw: "Ayat apakah yang paling istimewa dari yang diturunkan kepada anda?" Nabi saw menjawab: "Ayat kursi."[16]
Imam Ibn Katsir menyatakan, berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi saw seperti yang dikutip di atas, ayat kursi merupakan ayat yang sangat istimewa.[17] Imam Ibn Taimiyyah menjelaskan, itu dikarenakan ayat kursi secara khusus menjelaskan tentang siapa dan bagaimana Allah, berbeda dengan ayat-ayat lainnya yang umumnya menjelaskan tentang makhluk-Nya.[18] Artinya, penjelasan tentang kedudukan dan sifat-sifat Allah swt menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Pembahasan mengenai konsep Tuhan dalam kaitan Islamic worldview ini pun menjadi pembahasan yang paling inti dari semua pembahasan yang ada.
gbr Lafazh Allah
Definisi Tuhan
Tuhan dalam bahasa Arab disebut Ilâh. Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, arti dari ilâh adalah ma'bûd (yang disembah/diibadahi), berasal dari kata alaha yang artinya 'abada (ibadah). Segala sesuatu yang disembah, apapun itu, orang Arab menyebutnya ilâh.[19]
Dalam tradisi Judea-Kristen, Tuhan didefinisikan sebagai "tiga omni" (tiga maha), yaitu: omnipotent (mahakuasa), omnibenevolent (mahakasih) dan omniscient (mahatahu).[20]
Dengan kata lain, Tuhan ini adalah sesuatu Zat yang Mahatinggi dalam persepsi manusia, dan mereka kemudian menyembah-Nya. Sejarah panjang perjalanan manusia telah membuktikan bahwa manusia adalah homo religious (makhluk spiritual). Keyakinan akan adanya Zat yang Mahatinggi selalu hadir dalam kehidupan mereka, meski dengan persepsi yang berbeda-beda dan dengan cara penyembahan yang berbeda.[21]
Satu hal menarik yang penting untuk dikemukakan di sini adalah teori yang dipopulerkan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin of the Idea of God, yang pertama kali terbit pada 1912. Sebagaimana dikutip oleh Armstrong, Schmidt menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Sebuah keyakinan yang masih ada dalam agama suku-suku pribumi Afrika. Akan tetapi karena kedudukannya yang begitu tinggi dan jauh, tuhan tersebut tidak hadir dalam kehidupan mereka. Schmidt lalu berteori, Tuhan Tertinggi itu kemudian digantikan oleh tuhan-tuhan kuil pagan yang lebih menarik.[22]
Kepercayaan terhadap Tuhan
Mengutip pendapat Rudolf Otto, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman, Karen Armstrong menjelaskan, kepercayaan atas adanya Tuhan ini ada disebabkan manusia mempunyai rasa tentang hal gaib (numinous), rasa akan adanya kekuatan misterius yang melekat dalam setiap aspek kehidupan, dan itulah dasar dari agama. Salah satu contohnya adalah para petani yang mempunyai rasa bahwa kesuburan pertanian mereka sangat tergantung pada sesuatu Zat yang Mahatinggi.[23]
Terhadap fakta seperti inilah, maka Nurcholis Madjid memberikan catatan bahwa percaya kepada suatu "tuhan" adalah hal yang dapat dikatakan taken for granted pada manusia, sepenuhnya manusiawi, sehingga sebenarnya usaha mendorong manusia untuk percaya kepada Tuhan adalah tindakan berlebihan. “Tidak didorongpun manusia telah percaya kepada Tuhan,” begitulah kira-kira rumus sederhananya, menurut Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—.[24]
Cak Nur kemudian menguatkan hipotesanya dengan merujukkannya pada kehancuran Marxis-Leninis di Eropa Timur. Menurutnya, dunia Eropa Timur sana yang bersistemkan Marxis-Leninis pernah membuat sebuah percobaan yang bersungguh-sungguh untuk menghapus agama dan untuk melepaskan manusia dari peranan agama. Tetapi percobaan itu, biarpun Marx dan para pendukungnya mengklaimnya sebagai “ilmiah”, ternyata menemui kegagalan. Penyebabnya, menurut Cak Nur, pertama, kaum Marxis tidak mampu benar-benar menghapus agama di sana, meskipun segenap dana dan daya telah dikerahkan. Kedua, justru amat ironis, Marxisme sendiri telah menjadi agama  pengganti (quasi religion) yang lebih rendah dan kasar, jika tidak dikatakan primitif.
Cak Nur menjelaskan lebih lanjut, ajaran komunisme boleh jadi memang benar telah membebaskan manusia dari percaya kepada objek penyembahan (Tuhan), karena dalam pandangan mereka, menyembah akan berakibat perbudakan dan perampasan kemerdekaan manusia. Namun ternyata mereka kemudian terjerembab dalam praktek penyembahan kepada objek-objek yang lebih membelenggu, lebih memperbudak, dan merampas lebih banyak kemerdekaan mereka, yaitu para pemimpin yang bertindak tiranik dan otoriter. Apalagi para pemimpin itu dianggap personifikasi  ajaran yang "suci", sehingga wajar sekali ajaran itu dinamakan selalu dalam kaitannya dengan sang pemimpin, seperti Marxisme, Leninisme, Stalisnisme, Maoisme, dan lain-lain.
Cak Nur menegaskan, jadi meskipun Marxisme/Komunisme dapat dipandang sebagai padanan agama atau agama pengganti, namun karena secara sadar dan sistematis menolak setiap kemungkinan percaya kepada suatu wujud Mahatinggi, ia tumbuh menjadi agama palsu (ersatz religion), yang lebih rendah dan kasar dari agama-agama konvensional, serta lebih memperbudak manusia dan membelenggu kemerdekaannya. Sehingga ia menjadi sebuah tragedi manusia dalam usaha mencari makna hidupnya dan menemukan pemecahan yang “ilmiah” bagi persoalan hidup itu.[25]
Percaya kepada Tuhan adalah Fithrah
Dalam perspektif Islam, percaya kepada Tuhan merupakan fithrah yang ada dalam diri manusia. Sebagaimana difirmankan Allah swt:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[26]
Ayat di atas menegaskan bahwa fithrah adalah awal penciptaan manusia.[27] Dan dalam awal penciptaan manusia itu, manusia mengakui eksistensi Allah swt. Oleh karena itu tetaplah dalam agama yang hanya berserah diri kepada Allah swt, agar manusia tetap dalam fithrahnya sebagaimana awal ia diciptakan.
Pengakuan akan eksistensi Allah swt ini, secara lebih tegas lagi disinggung oleh ayat:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."[28]
Itu semua berarti bahwa pengakuan atas Allah I sebagai satu-satunya Rabb, dan berserah diri hanya kepada-Nya, adalah fithrah manusia dari sejak awal diciptakan. Dengan sendirinya, manusia, nuraninya yang paling tulus akan mengatakan dengan jujur, Tuhan Yang Menciptakannya hanya satu, tidak mungkin dua. Tuhan yang dimaksud itu tentu Tuhan yang benar-benar Tuhan, Tuhan yang tidak manusiawi atau bendawi, Tuhan yang betul-betul Mahatinggi dan Mahaagung.
Secara lebih jelas al-Qur`an menguraikan bahwa "rasa akan adanya Tuhan yang Esa" ini tidak akan hilang ditelan waktu, walau orang-orang berusaha melupakannya, atau bahkan menghilangkannya. Karena menurut al-Qur`an, ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan, atau ketika ia menjelang kematian, "rasa akan adanya Tuhan yang Esa" ini akan hadir dengan sendirinya dalam dirinya. Perhatikan misalnya firman Allah swt berikut:
قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!" (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).[29]
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur."[30]
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.[31]
Jadi, jika Wilhelm Schmidt dan Rudolf Otto dengan teori seperti telah dikutip di atas baru mengemukakannya pada abad 20, maka al-Qur`an telah lebih dulu memproklamirkannya dari sejak 1400-an tahun silam.
Fithrah = Tauhid
Satu hal yang perlu dicatat dalam hal fithrah ini adalah konsistensi dari Al-Qur`an yang menyebutkan bahwa fithrah itu adalah tauhid; meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan. Jadi, perbedaannya dengan teori keagamaan yang dikemukakan oleh para peneliti agama seperti telah dikutip di atas, al-Qur`an tidak membenarkan kepercayaan adanya Tuhan—sebagai sesuatu yang manusiawi itu—adalah percaya kepada sembarang Tuhan, melainkan yang dimaksud dengan fithrah/sesuatu yang manusiawi itu adalah percaya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Artinya, orang yang percaya kepada Tuhan tapi itu selain Allah, dikategorikan melenceng dari fithrah, menyimpang dari kemanusiawiannya.
Ibn Taimiyyah dalam hal ini mengibaratkan fithrah seperti mata. Setiap manusia yang lahir pasti matanya akan bisa melihat lingkungan sekitarnya, tentunya jika tidak ada yang menghalangi cahaya di sekitar mata itu. Tapi kalau cahaya terhalang, lingkungan sekitar pun gelap, senormal-normalnya mata pasti tidak akan bisa melihat. Sama halnya dengan fithrahjika dari sejak lahir cahaya Islam dibiarkan datang, tidak dihalang-halangi, pasti setiap manusia akan beribadah hanya kepada Allah I semata. Tapi jika dihalang-halangi, senormal-normalnya manusia dengan fithrahnya tetap tidak akan bisa beribadah hanya kepada Allah swt.[32]
Dalam pemahaman seperti inilah maka Nabi r bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ
Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi. Seperti seekor hewan yang dilahirkan ibunya, adakah kamu melihat di antaranya yang terpotong hidungnya?[33]
Keterkaitan antara fithrah dengan agama yang dianut sungguh sangat jelas. Dalam perspektif Islam, seseorang yang dalam beragamanya tidak tauhid, melainkan Yahudi, Kristen, Majusi, dan lain sebagainya, maka hal tersebut dinilai menyimpang dari fithrah. Terhadap mereka yang lahir dalam keadaan Kristen, Yahudi atau agama lainnya ini, kita bisa menganalogikannya dengan seorang anak hasil adopsi. Anak hasil adposi pasti akan meyakini bahwa orangtuanya itu adalah orangtua yang mengadopsinya. Keyakinan seperti itu akan terus tertanam di dalam hatinya sepanjang ia tidak mendapatkan informasi bahwa orangtua yang mengadopsinya itu bukan orangtua yang sebenarnya. Tetapi ketika ia mendapatkan sedikit saja informasi tentang siapa orangtua sebenarnya, secara otomatis ia akan gelisah dan mencari kebenaran siapa sebenarnya orangtuanya. Itupun jika ia termasuk orang yang peduli dengan kebenaran siapa sebenarnya orangtuanya. Adapun orang yang acuh tidak acuh, walaupun ia sudah diberi tahu bahwa orang yang mengadopsinya itu bukan orangtuanya, ia tidak akan merasa perlu mencari dan menemui orangtua aslinya.
Dalam hal ini, maka Islam memberikan porsi yang sangat besar berkaitan dengan tauhid ini. Lihat saja al-Qur`an dalam berbagai suratnya, hampir di setiap lembar "menyerang" orang-orang yang keliru meyakini siapa tuhannya. Itu artinya, kita sebagai muslim diharuskan pula meyakini tauhid ini dengan sebenar-benarnya, untuk kemudian "menyerang" orang lain yang masih kafir/musyrik, beradu argument dengan mereka, dan mengajak mereka untuk kembali kepada fithrahnya. Walau tentunya, seperti analogi yang dikemukakan di atas, bagi orang yang acuh tak acuh dengan persoalan ketuhanan sawa`un 'alaihim a andzartahum am lam tundzirhum la yu`minun.[34]
Untuk mempertegas bahwa fithrah manusia itu adalah tauhid, al-Qur`an menjelaskan bahwa dari sejak awal manusia diciptakan, mereka selalu diseru untuk hanya menyembah tuhan yang satu; tauhid.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (yang disembah selain dari Allah) itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).[35]
Cukup jelas ayat ini menginformasikan bahwa kalaupun ada yang menyembah thaghut, itu dikarenakan mereka sesat dan menyimpang. Kita umat Islam dituntut oleh Allah swt untuk melakukan analisa sosio-antropologis guna mendapatkan fakta-fakta ketersesatan mereka itu. Karena menurut al-Qur`an, tuhan-tuhan selain Allah swt hanyalah buatan dan rekaan orang-orang semata, seperti dikuatkan oleh teori Wilhelm Schmidt yang dikutip di atas.
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.[36]
Sampai di sini kita bisa membantah teori transcendent unity of religion; sebuah teori yang menyatakan bahwa semua agama hanya berbeda dalam tataran eksoteris (kulit luar)-nya saja, sementara dalam tataran esoteris (lapisan inti)-nya semua agama sama, karena sama-sama menuju pada satu tuhan. Menurut ayat ke-23 dari QS. An-Najm [53] di atas, di antara tuhan-tuhan itu jelas ada perbedaan. Allah swt, datang langsung menerangkan diri-Nya di dalam kitab-Nya dan ajaran para rasul-Nya, sementara tuhan-tuhan selain Allah swt konsepnya dibuat-buat sendiri oleh manusia, dan di sanalah letak penyimpangannya.
Jadi al-Qur`an sama sekali tidak bisa menerima dalih "semua agama adalah sama-sama jalan yang sah menuju tuhan yang sama", karena pada faktanya dalam hal asma`; nama dan konsepsi yang dikandungnya, tuhan-tuhan selain Allah swt jelas sekali sangat berbeda. 
Konsep Tauhid dalam Agama Wahyu
Para peneliti agama biasanya membedakan agama pada dua jenis kategori: tradisi wahyu kenabian dan filsafat kebijaksanaan; monoteisme dan politeisme; Timur Tengah dan Timur; samawi dan ardli. Kategori yang pertama mendasarkan ajarannya pada wahyu yang disampaikan oleh utusan-utusan Tuhan dari Tuhan mereka, sedangkan kategori yang kedua mendasarkan ajarannya pada spekulasi-spekulasi filosofis. Yang masuk pada kategori pertama adalah Yahudi, Kristen, dan Islam, sedangkan yang masuk pada kategori kedua adalah agama-agama selainnya.[37]
Perbedaan kontras dari dua kategori agama ini, menurut Mulyadhi Kartanegara adalah, pada agama yang berdasar pada wahyu, Tuhan menggambarkan dirinya bersifat personal; memiliki nama dan sifat-sifat, bahkan bisa mengatakan Aku atau Kami. Sedangkan konsep tuhan dari kebanyakan agama yang tidak berdasar pada wahyu, terutama Buddha dan Taoisme, bersifat impersonal, terbatas pada penjelasan tentang zat semata, oleh karenanya sulit untuk dipahami. Alih-alih berbicara tentang Tuhan, mereka lebih banyak menekankan segi-segi moral dan spiritual.[38]
Maka dari itu, secara jelas dan gamblang penegasan siapa dan bagaimana tuhan akan mudah ditemukan dalam ajaran-ajaran agama wahyu. Seperti telah disinggung sebelumnya, dalam QS. An-Nahl [16] : 36 semua rasul sama mengajarkan agar umatnya beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi selain Allah. Inilah konsepsi inti dari tauhid.
Al-Qur`an misalnya dalam QS. Al-Ikhlash menjelaskan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia."[39]
Dalam Bible,[40] tepatnya Perjanjian Lama, terdapat ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Tuhan adalah Esa.
Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa![41]
Dalam Perjanjian Baru, juga terdapat ayat semakna yang tampaknya menolak doktrin trinitas:
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang ini, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa…[42]
Lebih jauh, dalam kitab Yakobus juga ditekankan Keesaan Tuhan, dengan menjelaskan bahwa setan-setan pun meyakini keesaan Tuhan.
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.[43]
Menurut Jerald F. Dirks, masih banyak dokumen-dokumen yang lebih tua dan orisinil dari beragam kitab yang pernah disebut-sebut oleh Injil yang menekankan hal yang sama. Ditambah kenyataan sejarah membuktikan bahwa para murid Yesus yang berbakti di Kuil Yerussalem benar-benar berbeda dalam hal konsepsi ketuhanan dengan Kristen yang diajarkan Paulus dari Tarsus yang sama sekali belum pernah bertemu Yesus. Fakta-fakta sejarah lainnya juga banyak menginformasikan adanya ketidakberesan dalam Konsili Nikea 325 M yang menetapkan doktrin trinitas. Berdasarkan semua fakta itu Jerald F. Dirks berani menyimpulkan bahwa doktrin trinitas Kristen saat ini telah menyimpang dari doktrin agama wahyu awal, sebagaimana tercermin dalam keyakinan Yahudi yang masih monoteistik.[44]
Terhadap fakta ini Herlianto—seorang pendeta Kristen dengan gelar magister teologi dari Princeton, USA (MTh)—memberikan bantahan:
Ayat Ulangan 6 : 4 biasa disebut Shema (bhs. Ibrani yang artinya Aqidah) tentang ke’Esa’an Allah (bhs Ibrani: Echad). Sekalipun ada yang mengartikan ‘Echad’ sebagai ‘tunggal,’ Echad juga merupakan kesatuan yang terpadu berbagai pihak. ‘Echad’ memiliki beberapa arti, bisa menyebut tunggal (sendirian) tetapi juga ‘kesatuan, semua bersama.” Dalam ‘Penciptaan’  Echad digunakan untuk menunjukkan keaslian atau kesatuan masa datang yang terpecah. Arti kata ‘echad’ juga berarti ‘kesatuan daging’ antara suami isteri (one flesh, Kejadian 2:24), dan juga ‘kesatuan umat’ antara dua suku yang bergabung (one people, Kejadian 11:6;34:16,22). Kedua penggunaan ‘echad’ ini mengandung pengertian kesatuan yang jamak. Dalam Perjanjian Lama, Echad belum digunakan sebagai istilah teologis, karena itu tidak bisa digunakan dalam hubungan dengan monotheisme.[45]
Karena bagi Herlianto, konsep "tritunggal"—demikian ia menyebutnya—adalah sebuah keyakinan yang diajarkan langsung oleh Bibel:
Bersumber Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah adalah pencipta langit dan bumi serta segala isinya termasuk manusia. Yesus adalah penyataan Allah dalam diri manusia (Yohanes 1:18). Roh Kudus adalah penyataan Allah dalam Roh. Segala jabatan yang diberikan kepada Allah Bapa, juga diberikan kepada Putra (Yesus) dan Roh Kudus.
Baik label ‘putra’ maupun ‘sabda,’ keduanya merupakan perlambangan. Putra menunjukkan semacam hubungan Bapa-Anak sedangkan Firman menunjukkan kalam yang keluar dari Allah. Keduanya saling melengkapi: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1).[46]
Menurut Étienne Gilson, paham Kristen seperti ini pertama kali diformulasikan oleh Augustinus dari pemikiran seorang filosof Yunani, Plotinus yang membedakan antara Yang Tunggal dari pemikiran Plato dan Pikiran/Intelek yang memikirkan dirinya sendiri dari Aristoteles yang kemudian disebut Nous oleh Plotinus. Yang Tunggal tidak dapat digambarkan, dan dari sana maka lahirlah prinsip kedua yang lebih rendah yaitu Intelek yang menjadi penyebab segala sesuatu. Jadi antara Yang Tunggal dan Intelek dalam pemikiran Plotinus dipisahkan. Bagi Augustinus ini adalah salah satu pembenar keyakinan Kristen tentang Tuhan Bapak dan Yesus sebagai "Firman Tuhan" yang statusnya lebih rendah.[47]
Apa yang diuraikan di atas cukup untuk memberikan gambaran bahwa konsep trinitas adalah penyimpangan yang nyata dari monoteisme. Maka dari itu banyak sekali ayat-ayat yang membantah konsep trinitas.[48] Semua nabi, termasuk al-Masih Isa putra Maryam, sama-sama mengajarkan bahwa Tuhan itu hanyalah Allah, dan semua manusia sudah sewajibnya hanya menyembah-Nya. Maka dari itu, Allah swt menitahkan:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."[49]

Perlu dicatat di sini bahwa tulisan ini tidak untuk menyatakan bahwa Yahudi bertauhid, melainkan hanya sebatas menyatakan monoteisme. Karena pada faktanya Yahudi menjadikan Ezra/Uzair sebagai anak tuhan, walau ada sebagian yang cukup menjadikannya sebagai acuan utama dalam penyandaran ajaran Yahudi. Dengan kata lain, Yahudi tidak benar-benar menjadikan Allah sebagai Tuhan yang dijadikan sumber acuan dari ajarannya, melainkan mereka lebih mengacu pada ajaran-ajaran yang dikodofikasikan oleh rahib-rahib mereka, di antaranya Ezra. Tidak jauh beda dengan Krsiten hari ini yang menyandarkan ajarannya pada apa yang dikodifikasikan oleh Paulus. Terhadap fakta seperti ini Allah swt memberikan kritik:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.[50]
Sebuah hadits memberikan tafsir atas ayat tersebut. Ketika Rasul saw membacakan ayat ke-31 di atas, 'Adiy ibn Hatim seorang Kristen yang tertarik dengan Islam berkata:
قاَلَ عَدِيٌّ: فَقُلْتُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوْهُمْ. فَقَالَ: بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ الْحَلاَلَ، وَأَحَلُّوْا لَهُمُ الْحَرَامَ فَاتَّبَعُوْهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ
'Adiy berkata: Aku berkata: "Sesungguhnya mereka (Yahudi-Kristen) tidak menyembah mereka." Jawab Nabi saw: "Tidak demikian, sesungguhnya mereka (rahib dan pendeta) telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka (umat Yahudi-Kristen) pun mengikutinya. Itulah yang dimaksud penyembahan mereka kepada rahib dan pendeta itu." [51]
Apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah syirik yang menodai tauhid. Tepatnya syirik dalam hal tahkim/penentuan hukum atau kodifikasi ajaran. Mereka yang seharusnya hanya mena`ati Allah dan rasul-Nya dalam hal hukum-hukum dan ketentuan lainnya, malah mena'ati rahib dan pendeta mereka. Dalam hal inilah maka kita tetap menyatakan bahwa Yahudi pun sudah menyimpang dari tauhid, walau masih monoteistik.

Konsep Tauhid dalam Ilmu Kalam
Ketika filsafat Yunani menghegemoni peradaban Islam, terdapat beberapa ilmuwan yang membahas persoalan ketuhanan dengan kacamata filsafat. Pembahasan mereka tersebut kemudian disebut dengan ilmu kalam. Menurut para filosof muslim ataupun mutakallimin (penggiat Kalam), Tuhan secara Zat tidak bisa dikenal, karena ia berbeda dengan apapun; laisa ka mitslihi syai`un. Tentang hal ini, tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan-Nya karena apapun yang kita deskripsikan dapat dipastikan tidak akan sama dengan-Nya. Pada level ini, Tuhan tidak bisa dikatakan memiliki sifat apapun, tidak ada sifat apapun yang bisa dinyatakan positif, bahkan tidak bisa pula sifat wujud. Oleh karenanya mereka kemudian menolak sifat-sifat Allah swt. Di antara yang berdiri di barisan ini adalah Jahmiyyah, Mu'aththilah, Mu'tazilah, dan tentu saja sebagian besar filosof seperti Ibn Sina.[52]
Ibn 'Arabi tampil memberikan penjelasan yang rinci. Menurutnya, pembahasan yang disajikan filosof dan mutakallimun adalah benar jika ditinjau dari segi zatnya saja. Akan tetapi Tuhan juga memiliki aspek lain, yakni sifat. Dalam kaitan ini, maka sifat-sifat Allah swt seperti hidup, melihat, mendengar, dan sebagainya adalah benar adanya walau tetap tidak sama dengan hidup, melihat, dan mendengarnya makhluk, demikian halnya juga dengan sifat-sifat lainnya.[53] Bagi Ibn 'Arabi, Tuhan memiliki dua "wajah"; zat dan sifat. Dalam kedua "wajah" tersebut Tuhan tentu akan berbeda dipersepsikan. Dengan kata lain, Ibn 'Arabi membenarkan konsep tuhan yang dideskripsikan oleh para filosof/mutakallimun ataupun yang dideskripsikan oleh para ulama semisal al-Ghazali.[54]
Akan tetapi, menurut Ibn Taimiyyah sebagaimana dikutip oleh al-'Utsaimin dalam kitabnya al-Qaul al-Mufid Syarh Kitab at-Tauhid, tauhid yang diajarkan oleh al-Qur`an, hadits, dan kemudian diamalkan oleh para shahabat dan tabi'in (salaf) itu juga mengajarkan tauhid dalam asma wa shifat; nama dan sifat-sifat Tuhan. Dalam artian, antara nama dan sifat tidak bisa dipisah-pisahkan. Nama apa saja yang Allah sebutkan, termasuk Allah sebagai zat, dan sifat apa saja yang Allah sebutkan mutlak harus diimani (itsbat) sebagaimana adanya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (nafyul-mumatsalah). Keduanya bukanlah oknum yang berbeda, melainkan tetap satu jua. Dengan demikian ijtihad yang ditempuh oleh Ibn 'Arabi yang membenarkan kedua golongan yang jelas-jelas bertentangan seperti disinggung di atas, tidak bisa diterima oleh konsepsi tauhid asma wa shifat ini.[55]
Pembahasan konsep ketuhanan yang terfokus pada eksistensi Tuhan semata, adalah salah satu ciri khas dalam ilmu Kalam. Tuhan menjadi suatu objek yang banyak diperdebatkan, seperti tercermin dalam aliran Mu'tazilah, Asy'ariyyah, atau Maturidiyyah. Akibatnya aspek lain yang lebih penting, yakni bahwa tuhan itu juga harus di-Esa-kan dalam peribadatan seringkali diabaikan. Efeknya, tidak heran jika di kalangan para penganut Asy'ariyyah, misalnya, takhayul, bid'ah, khurafat, dan praktik-praktik syirik lebih banyak didiamkan.
Dalam kaitan inilah, Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, dilanjutkan oleh Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab, menyerukan bahwa Allah swt itu jangan hanya di-tauhid-kan dalam hal rububiyyah (eksistensi ketuhanan)-nya semata, melainkan juga dalam hal uluhiyyah (peribadatan)-nya. Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab dalam kitabnya, Kitab at-Tauhid, mengawali pembahasannya dengan lima ayat yang semuanya menyeru pada tauhid dalam hal ibadah, yaitu QS. Adz-Dzariyat [51] : 56, an-Nahl [16] : 36, al-Isra` [17] : 23-24, an-Nisa` [4] : 36, dan al-An'am [6] : 151-153. Semua ayat tersebut mengisyaratkan bahwa yang paling pokok dalam tauhid itu adalah tauhid uluhiyyah/'ubudiyyah.[56]

Selanjutnya : Konsep Agama


[15] Musnad Ahmad bab hadits al-masyayikh 'an Ubay ibn Ka'ab no. 20318 dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[16] Musnad Ahmad bab hadits Abi Dzar al-Ghifari no. 20566 dan bab hadits Abi Umamah al-Bahili no. 21257 dalam al-Maktabah as-Syamilah.
[17] 'Imaduddin Abul-Fida` Isma'il ibn Katsir, Tafsir al-Qur`an al-'Azhim, Damaskus: Maktabah Daril-Faiha`, 1994, jilid 1, hlm. 409.
[18] Taqiyuddin Ahmad ibn 'Abd al-Halim ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ Syaikh al-Islâm Ahmad ibn Taimiyyah, tahqiq 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Qasim al-'Ashimi al-Najdi al-Hanbali, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1997 M,, jilid 9, hlm. 306. Selanjutnya ditulis Ibn Taimiyyah, Majmu' Fatawa.
[19] Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu'jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, Beriut: Dar al-Fikr, t.th., hlm. 17.
[20] Julian Baggini, Philosophy: Key Themes. Terj. Nur Zain Hae, Lima Tema Utama Filsafat, Jakarta: Teraju, 2004, hlm. 145.0
[21] Karen Armstrong menuliskan dengan cukup rinci perjalanan sejarah keagamaan manusia ini dalam salah satu bukunya, A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. Diterjemahkan oleh Zainul Am, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Krsiten, dan Islam selama 4.000 Tahun, Bandung: Mizan, 2001 (Selanjutnya ditulis Karen Armstrong, Sejarah Tuhan). Bisa dirujuk pula pada buku A.D el Marzdedeq, Parasit Aqidah; Perkembangan Agama-agama Kultur dan Pengaruhnya terhadap Islam di Indonesia, Bandung: Syaamil, 2006, Cet. II.
[22] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, hlm. 27-28.
[23] Ibid, hlm. 29-30.
[24] Nurcholish Madjid, Islam; Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, , 2000, Cet. IV, hlm. xxii.
[25] Ibid, hlm. xx-xxi.
[26] QS. Ar-Rum [30] : 30
[27] Arti asal fathara adalah menciptakan. Lihat misalnya nama surat ke-40 Fathir; Maha Pencipta.
[28] QS. Al-A'raf [7] : 172
[29] QS. Al-An'am [6] : 40-41
[30] QS. Yunus [10] : 22
[31] QS. Yunus [10] : 90-91
[32] Ibn Taimiyyah, Majmû' Fatâwâ, 4: 427
[33] Shahih al-Bukhari kitab al-jana`iz bab ma qila fi aulad al-musyrikin no. 1296 dalam al-Maktabah al-Syamilah versi 2. Orang Arab mempunyai tradisi memotong hidung unta. Jadi kalau ada unta yang potong hidungnya, itu disebabkan dipotong oleh pemiliknya. Artinya jika ada seseorang beragama Yahudi atau Nashrani, maka hal itu disebabkan ia di-Yahudi-kan atau di-Nashrani-kan oleh orang tuanya.
[34] QS. Al-Baqarah [2] : 6. Al-Qur`an banyak menyebutkan factor kenapa seseorang acuh tak acuh dengan tuhannya. Salah satu yang paling dominan adalah kesenangan kehidupan dunia. Seorang anak adopsi pun ketika ia merasa nyaman dengan kehidupannya dan hatinya terjebak pada kesenangan tersebut, tentu ia tidak akan merasa perlu untuk mencari tahu siapa orangtua aslinya.
[35] QS. An-Nahl [16] : 36. Dalam QS. Al-Qashash [28] : 59 Allah menjelaskan bahwa Rasul yang diutus-Nya itu bukan ke seluruh pelosok daerah, tetapi di pusat peradabannya/ibu kotanya.
[36] QS. An-Najm [53] : 23.
[37] Jerald F. Dirks, The Abrahamic Faiths: Judaism, Christianity, and Islam Similarities and Contrasts, terj. Santi Indra Astuti, Abrahamic Faiths: Titik Temu dan Titik Seteru antara Islam, Kristen, dan Yahudi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006, hlm. 30-31. Lihat juga Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2005, hlm. 43, dan A.D el Marzdedeq, Parasit Aqidah.
[38] Mulyadhi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam, hlm. 43.
[39] QS. Al-Ikhlash [112] : 1-4
[40] Bible adalah kitab suci Kristen dan Yahudi, terdiri dari Perjanjian Lama  dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah Bible Yahudi, di mana lima kitab pertamanya diyakini sebagai Taurat. Sementara Perjanjian Baru adalah Bible Kristen yang diyakini sebagai Injil. Tentu saja penggabungan keduanya ini versi Kristen, karena Yahudi hanya mengakui Bibel Yahudi/Hebrew Bible saja. Pengakuan adanya Perjanjian Lama dan Baru menurut Kristen ini merupakan sebuah kesadaran dari Krsiten bahwa ajarannya adalah kelanjutan dari Yahudi. Lihat Hamid Qadri, Dimension of Christianity, terj. Masyhur Abudi dan Lis Amalia R., Dimensi Keimanan Kristen. Pustaka Da'i, 1999.
[41] Ulangan 6: 4
[42] Markus 12: 28-29
[43] Yakobus 2: 19
[44] Jerald F. Dirks, Abrahamic Faiths, hlm. 11-27. Salah satu sanggahan sederhana yang bisa kita kemukakan, jika Kristen menyadari bahwa ajarannya merupakan kelanjutan dari Yahudi dan itu dibuktikan dengan Bibelnya, mengapa kemudian dalam konsep ketuhanannya berbeda?
[45] Wawancara penulis dengan Herlianto pada tanggal 25 Februari 2008 dan 4 Maret 2008.
[46] Ibid.
[47] Étienne Gilson, God and Philosophy, terj. Silvester Goridus Sukur, Tuhan di Mata para Filosof, Bandung: Mizan, 2004, hlm. 96-101.
[48] QS. An-Nisa` [4] : 171, QS. Al-Ma`idah [5] : 17, 72-77.
[49] QS. Ali 'Imran [3] : 64
[50] QS. At-Taubah [9] : 30-31.
[51] Tafsir Ibn Katsir 2 : 459
[52] Ahmad Mahmud Shubhi, Fi 'Ilm al-Kalam: Dirasah Falsafiyyah li Ara` al-Firaq al-Islamiyyah fi Ushul ad-Din. Dar an-Nahdlah al-Islamiyyah, t.th., jilid 1, hlm. 121-131 dan Mulyadhi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam, hlm. 39-42.
[53] Bagi Asy'ariyyah, perbedaan sifat antara Khalik dengan makhluk ini menuntut adanya ta`wil (penyimpangan arti) atas sifat-sifat Allah swt. Seperti yad; tangan, dita`wil menjadi kekuasaan.
[54] Mulyadhi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam, hlm. 38-40.
[55] Muhammad ibn Shalih al-'Utsaimin, al-Qaul al-Mufid wa Fath al-Majid fi Syarh Kitab at-Tauhid (editor: 'Adil ibn Sa'ad)Kairo: Dar Ibn al-Haitsam, 2003, hlm. 17-20.
[56] Ibid, hlm. 12-17.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik