28.7.17

"Kecintaanmu kepada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli" 
Demikian dalam hadits riwayat Abu Dawud mengenai hakikat cinta. Tentu saja buta dan tuli nya seseorang  adalah akibat pengaruh cinta yang tidak dilandasi dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, sehingga perasaan cinta yang liar tersebut mengalahkan kedudukan kesucian qalbu yang seharusnya memiliki kecintaan yang paling dalam kepada Allah dan Rasul-Nya.
          Cinta kepada lawan jenis, kepada keturunan, kepada harta dan kedudukan yang tinggi memang bentuk karunia Allah yang dianugrahkan bersama dengan fitrah yang Allah Ta’ala tetapkan kepada manusia ketika ia diciptakan sejak pertama kali. Namun cinta tersebut Allah karuniakan semata-mata adalah sebagai hiasan dan alat demi menjalankan tugas pokok yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Kita sebagai makhluq sosial yang dikaruniakan rasa kasih dan sayang, tidak  dibiarkan begitu saja tanpa petunjuk dalam menjalani hidup, namun Allah bekali pula dengan pendengaran, penglihatan, akal dan qalbu agar kita mempergunakannya untuk dapat mengenal Rabb kita, maka Allah pun mengutus rasul-rasul sebagai suri teladan bagi manusia untuk menjelaskan dan membimbing mereka agar mengetahui kebesaran dan kemaha kuasaanNya sehingga manusia tunduk dan patuh dengan segala ketentuanNya. Oleh karena itulah seyogyanya kita harus belajar mengenal dan memahami jati diri kita yang sebenarnya dari awal penciptaan hingga pada saatnya ajal datang menjemput kita, agar perjalanan hidup ini senantiasa sesuai dengan petunjuk Allah dalam menggapai kecintaanNya. Sebagai rumusannya Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam alQuran bagaimana cara mencintai-Nya, Firman Allah Ta’ala :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammd saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. Ali Imran:31).
gbr. cinta sejatiPada ayat diatas Allah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam menghambakan diri kepada Nya sebagai bukti dari kecintaan kepada Allah Ta’ala. Sebagai indikasinya adalah kita mencintai apa yang dicintai rasul saw dan membenci apa yang beliau saw benci.
Demi mencapai hakikat cinta yang sebenarnya yaitu cinta kepada Allah dan RasulNya, tentu diperlukan perjuangan keras melalui ilmu dan amal shalih, sehingga kecintaan kita kepada "sesuatu" senantiasa dilandasi kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Maka inilah cinta yang harus kita tuju dan kita raih demi kesuksesan kehidupan dunia dan akhirat...      
Allah Ta'ala menciptakan manusia yang pada mulanya seorang diri yaitu Adam a.s, kemudian Dia ciptakan daripadanya istrinya yaitu Hawa', menurut suatu pendapat diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri [1], kemudian yang dengan karuniaNya diberilah manusia cinta dan kasih sayang, maka dengan jalan demikian Allah memperkembang-biakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Sebagaimana FirmanNya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya [2] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[3], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu". (Q.S. AnNisa:1).
AlMaraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata الناس merupakan isim jenis bagi manusia, bahwa manusia itu adalah "hewan" yang dapat berbicara yang berdiri tegak dan disebut pula dengan nama insan (إنسان).
Kemudian manusia dibedakan dari hewan dengan dianugerahi akal dan qalbu yang kemudian diberikan kewajiban dan diperintah supaya bertaqwa kepadaNya melalui ibadah yang hanya kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya. Oleh karena itu jika manusia tidak menggunakan akal dan hatinya sesuai dengan aturan Allah, maka yang tersisa dari manusia tersebut adalah "hewan". Demikian pula terhadap cinta sebagai karunia Allah, maka manusia mesti memanfa’atkan seluruh potensinya dengan berusaha mencintai apa yang rasul cintai dan membenci apa yang rasul benci yang hakikatnya berarti mencintai Allah Ta’ala.

Arti Mahabbah / Cinta
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)(Q.S.Ali Imran:14)
 Ungkapan rasa cinta senantiasa menghiasi manusia, baik itu kepada lawan jenis, harta, kedudukan ataupun keturunan dan lain sebagainya,  yang mana perasaan tersebut sering memenuhi dada hingga terasa menggembirakan dan membahagiakan, bahkan terkadang menyesakkan bila cinta tersebut terkhianati, sehingga membuat galau dan sedih. 
Adapun bagi orang yang hatinya hidup karena keimanan kepada Rabbnya justru rasa cinta tersebut malah menjadi jalan kedekatan kepada-Nya, apa saja yang dia sukai dan dia cintai, seluruhnya didasari atas kecintaan kepada Rabbnya, dan itu merupakan penawar  kegalauan dan kesedihan. Selengkapnya baca aja : Saat Lagi Galau dan Sedih.
          Menurut IbnulQayyim Rahiimahullaah dalam Zaadulma’aad, manusia itu hatinya senantiasa dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu kesempitan dan kelapangan, adapun penyebab kelapangan, yang paling besar adalah Hudan dan Tauhid, sedangkan penyebab kesempitan, yang paling besar adalah syirik dan kesesatan. Disinilah letak perbedaan jatuhnya cinta kepada sesuatu, adapun Hudan (petunjuk) yang membawa kepada Tauhidullah, tentu inilah yang melahirkan kecintaan kepada Rabnya, sedangkan syirik dan kesesatan membuat si pelaku jatuh kepada apa-apa yang dicintai syaitan, yang mana syaitan itu tabi’atnya adalah membangkang kepada perintah Allah, maka prilakunya dalam mencintai sesuatu selalu bertentangan dengan aturan Allah dan RasulNya. Berbeda dengan orang yang hatinya penuh dengan cahaya keimanan, bagi dia cintanya hanyalah semata-mata karena Allah, maka ia pun akan senantiasa mencintai apa yang Allah dan rasulNya cintai.
Cinta merupakan karunia Allah yang begitu indah. Yang dengan cinta tersebut maka satu sama lain menjadi saling menyayangi, saling berbagi, saling melindungi, saling menyempurnakan. Sungguh Maha Mulia Allah Ta’ala yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan. Telah kita ketahui dari beberapa penjelasan terdahulu bahwa sejarah penciptaan manusia diawali dengan penciptaan Adam as, kemudian wanita diciptakan setelahnya Adam as mengeluhkan kesendiriannya disurga, maka Hawa diciptakan oleh Allah ta’ala untuk menemani Adam as sebagai istrinya.
          Rasa kasih dan sayang yang merupakan karunia Allah tersebut merupakan ni’mat dari Allah Ta’ala yang wajib kita syukuri dengan menempatkan kasih dan sayang tersebut sesuai dengan kehendakNya. Demikian diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana FirmanNya:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir".(Q.S. Al-Ruum:21).
Didalam tafsir alQurtuby dijelaskan:
وَرُوِيَ مَعْنَاهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: الْمَوَدَّةُ حُبُّ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَالرَّحْمَةُ رَحْمَتُهُ إِيَّاهَا أَنْ يُصِيبَهَا بِسُوءٍ  [4]  
Diriwayatkan mengenai makna mawaddah dan rahmah dari Ibnu ‘AbbasMawaddah adalah cinta kasih seorang pria kepada istrinya, dan Rahmah adalah kasih sayang pria kepada istrinya terhadap keburukan yang akan menimpanya.
Inilah cinta kasih antara suami istri yang begitu menggebu-gebu dan saling melengkapi.
Kata cinta dalam al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wuddan (mawaddah), keduanya memiliki arti yang berkaitan yaitu menyukai, senang, menyayangi. Kemudian dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menegaskan bahwa mawaddah atau wuddan tersebut dianugrahkan kepada hambaNya yang shalih atas keimanan mereka, Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka wuddan (rasa kasih sayang)". (Q.S. Maryam:96).
          Sebagaimana yang dijelaskan oleh alMaraghi dalam tafsirnya bahwa : الوُدُّ: الْمَوَدَّةُ وَالْمَحَبَّةُ ,alwuddu bermakna kasih sayang dan cinta. Demikian itu bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan RasulNya, membenarkan apa-apa yang dibawa oleh rasul saw, kemudian beramal dengannya, menghalalkan yang dihalalkanNya, mengharamkan yang diharamkanNya, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan mahabbah yang suci dalam qalbu orang-orang beriman.
          AlQuran menjelaskan satu jenis cinta yang tidak sanggup bersikap adil karena terlalu condong/cenderung (الْمَيْل), cinta jenis ini terjadi kepada pria yang beristri lebih dari satu, sehingga ia terlalu condong memperhatikan kepada istri yang paling dicintainya, sebagaimana FirmanNya:
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
"dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu),walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung(kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(Q.S. AnNisa:129).
            Dalam hadits riwayat Abu Dawud dijelaskan :
2135حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِىُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنِ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ بَشِيرِ بْنِ نَهِيكٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ. [5]
Telah menceritakan kepada kami AbulWalid Ath Thayalisi, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari AnNadhrah bin Anas dari Basyir bin Nahik dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata: "Barangsiapa yang memiliki dua orang isteri kemudian ia cenderung kepada salah seorang diantara keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah badannya miring".
            Ada juga hasrat cinta yang sangat mendalam sehingga membutakan mata hati karena tidak mampu lagi melihat kebenaran, bahkan dia tidak mampu mengontrol apa yang akan diperbuatnya, ini dilukiskan dalam alQuran dengan kata شغف (Syaghaf), Firman-Nya Ta’ala :
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri AlAziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata." (Q.S.Yusuf:30).
          Menurut alKalbiy makna الشِّغَافُ yaitu : حِجَابُ الْقَلْبِ (penutup hati) [6]. Adapun Dr. Wahbah Zuhaily menjelaskan قَدْ شَغَفَها حُبًّا yaitu : قَد وَصَلَ حُبُّهُ إِلَى شِغَافِ قَلبِهَا وَهُوَ غِلَافُهُ الْمُحِيطُ بِهِ[7]: Sungguh cintanya sampai kepada tingkatan syigafu qalbi yaitu gelapnya cinta meliputi hatinya.
          Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang wanita bangsawan kepada Yusuf as, padahal dia adalah istri seorang raja mesir, membuat perempuan tersebut tersesat dengan cintanya. Namun mari kita perhatikan ungkapan Yusuf as dengan cintanya yang paling besar hanya diperuntukan bagi Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun memelihara Yusuf as dari berbuat maksiyat, FirmanNya Ta’ala :
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
"dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Q.S. Yusuf:23-24).
Modal perasaan cinta dan kasih sayang yang telah Allah berikan kepada tiap insan seyogyanya merupakan alat untuk memantapkan taqarrub kepadaNya sehingga menjadi hamba yang pandai bersyukur. Perasaan saling mencintai dan menyayangi harus didasarkan atas kecintaan kepada Allah Ta’ala, dengan begitu istilah "cinta" dan "sayang" bukan suatu ungkapan kepalsuan yang lahir dari syahwat yang tidak terkendali, melainkan perasaan yang tumbuh karena nilai-nilai ketaqwaan demi mengharap kasih sayang-Nya yang Maha Sempurna.
          Demikian cinta juga dapat menjadi "virus" yang amat berbahaya yang menyebabkan seseorang menjadi buta dan tuli sebagaimana sabda Nabi saw:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
" Kecintaanmu kepada sesuatu akan membuat buta dan tuli" (H.R. Abu Dawud)
Dapat kita saksikan kini betapa banyak remaja, pemuda dan pemudi bahkan orang-orang dewasa sekalipun yang terjerumus akibat kebutaan dan ketulian disebabkan cintayang tidak dilandasi dengan iman sehingga rusaknya pergaulan dan akhlaq mereka, berapa banyak suami istri yang jatuh terpuruk rumah tangga mereka akibat cinta yang tidak pada tempatnya. Adapula yang membunuh dirinya bahkan saling membunuh antara satu dengan yang lain akibat syahwat yang dihiasi nama“cinta” yang penuh kepalsuan. Padahal Rasulullah saw telah memberitakan :
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَ نْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ. صحيح البخاري - (ج 1 / ص 14([8]
"Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka"( H.R. Bukhari).
          Demikian hadits tersebut diatas melukiskan betapa indahnya cinta yang Allah berikan kepada hambaNya yang shalih, sehingga setiap apa yang dicintainya atau dibencinya, itu semata-mata karena Allah Ta’ala. Maka dari itu landasan kecintaan kepada Allah lah yang senantiasa harus menghiasi qalbu kita. Dan cintanya orang-orang yang shalih, senantiasa dalam do’anya pun penuh dengan harapan ketaqwaan bagi keluarganya, mari perhatikan FirmanNya Ta’ala:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".(Q.S. AlFurqan:74).
          Setiap diri adalah imam, dan imam yang shalih lagi taat kepada Allah Ta’ala tentu senantiasa memohon kepadaNya agar dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya senantiasa mencintai Allah, taat kepada Allah dan RasulNya. Contoh kecilnya adalah seorang suami yang merupakan pemimpin bagi keluarganya. 
Dijelaskan pada ayat diatas bahwa orang-orang yang shalih begitu mendambakan pasangan dan keturunan yang menyenangkan hatinya, adapun yang dimaksud menyenangkan adalah ketika mereka melihat pasangan dan keturunannya ta’at kepada Allah, yaitu  beribadah hanya kepadaNya tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, sebagai mana Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat 74 surat AlFurqan diatas:
يَعْنِي: الَّذِينَ يَسْأَلُونَ اللَّهَ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ أَصْلَابِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ مَنْ يُطِيعُهُ وَيَعْبُدُهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يَعْنُونَ مَنْ يَعْمَلُ بِالطَّاعَةِ، فتقرُّ بِهِ أَعْيُنُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.[9]
Yaitu orang-orang yang memohon kepada Allah, supaya Allah memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan yang menta’ati Allah dan menyembah hanya kepada-Nya semata tanpa menyekutukanNya.
Telah berkata Ibnu ‘Abbas : Yaitu mereka orang-orang yang beramal dengan penuh keta’atan, maka perbuatan mereka itu menyenangkan penglihatan mereka di dunia dan akhirat.
          Adapun bentuk kecintaan dan keta’atan kepada Allah itu dapat diraih hanya dengan cara mencintai dan mengikuti syari’at yang dibawa rasulNya Muhammad saw, sebagaimana Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammd saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. Ali Imran:31).
          Demikian ayat diatas menunjukkan bahwa bukti dari pengakuan mencintaiNya itu harus terwujud dalam keta’atan kepada RasulNya, yaitu mengikuti jalan/aturan (syari’at) rasulullah saw yang telah Allah tugaskan kepada beliau saw sebagai pengemban risalahNya.[10]  Dengan demikian jika kita kaitkan dengan kenyataan, bahwa rasa cinta yang ada pada setiap diri manusia, hendaklah dapat  ia tundukan sehingga patuh kepada aturanNya, karena tidak ada yang lebih baik dalam kehidupan akhirat kelak  kecuali ampunanNya sebagai karunia atas cinta dan kasih sayang-Nya. Artinya dalam sebuah keluarga kecil sekalipun maka makna saling mencintai karena Allah dan RasulNya harus dapat diwujudkan sebagai wadah untuk menjalin kasih sayang yang penuh keridloan-Nya. Maka peranan seorang laki-laki terhadap wanita atau peranan seorang imam dalam keluarga kecil tersebut harus mampu mengajak dan mendidik keluarganya agar menjalani hidup sesuai dengan syari’at Rasulullah saw.
          Karakteristik cinta (mahabbah) yang ada pada diri manusia senantiasa mengikat pikirannya, sebagaimana seorang pria yang sedang jatuh cinta kepada wanita atau sebaliknya, dia selalu cenderung untuk mengingat dan menyebut-nyebut orang yang dicintainya, namun dia juga dapat diperbudak oleh cintanya tersebut. Sementara ciri dari cinta yang sejati adalah : pertama  dia lebih suka berbicara dengan yang dicintainya dibanding dengan yang lain, yang kedua lebih suka berkumpul dengan yang dicintainya dibandingkan dengan yang lain, dan yang ketiga dia lebih suka mengikuti kehendak yang dicintainya dibanding kehendak yang lain atau kehendak diri sendiri. Maka demikian pula orang yang telah jatuh cinta kepada Allah Ta’ala, ia lebih suka berbicara dengan-Nya yaitu dengan membaca ayat-ayat Nya baik yang tersirat maupun tersurat, lebih suka bercengkerama dengan Nya di sepertiga malam atau pada waktu i’tikaf  dengan melaksanakan qiyamullail meskipun dia tidak dapat melihat Allah, dan dia juga lebih suka mengikuti perintah Allah Ta’ala daripada perintah yang lain, dapat dirasakan begitu mendalam cintanya kepada Allah swt. Firman-Nya Ta’ala :
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
" ...Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah..." [11].
Demikianlah bahwa sesungguhnya kecintaan yang benar yakni cinta sejati itu hanyalah cinta yang dilandasi dengan hubban lillaah.
          Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Aamiin...
Masih galau dan sedih karena cinta? Klik rahasianya di sini

[1].Lih: Tafsir Ibnu Katsir.
[2].Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[3].Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
[4] تفسير القرطبي - (ج 14 / ص17 )المكتبة الشاملة
[5] . قال الألباني : صحيح (المكتبة الشاملة) سنن أبى داود - (ج 2 / ص)
[6] . Lihat : تفسير القرآن العزيز, ابن أبي زَمَنِين المالكي- المكتبة الشاملة-
[7] . Lihat : التفسير المنير د وهبة بن مصطفى الزحيلي- المكتبة الشاملة-
[8] . Maktabah Syamilah.
[9] . Maktabah Syamilah  تفسير ابن كثير ت سلامة - (ج 6 / ص 132)
[10] .  Rasulullah saw bersabda:  مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ  صحيح مسلم - (ج 5 / ص123 )المكتبة الشاملة)" Barang siapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak " (H.R. Muslim) ( Tafsir Ibnu Katsir).
[11] . Q.S AlBaqarah:165

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik