22.7.17

gbr Syirik
     
Kebalikan dari Tauhid adalah Syirik, yaitu mengadakan bagi Allah tandingan, dan perbuatan syirik merupakan perbuatan yang termasuk kepada dosa yang paling besar. Allah Ta’ala menyebutkan dalam Firman-Nya :
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar" (Q.S. AnNisa:48)
Didalam syarah Fathul Majid, syirik itu dibagi  juga 3 macam sebagaimana Tauhid yang 3, yaitu Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma washifat.  Maka syirik pun ada syirik rububiyah, syirik asma wa shifat, dan syirik didalam beribadah. Ketiga bagian syirik ini ada yang masuk kepada syirik besar dan ada yang masuk kepada syirik kecil, namun pada asalnya syirik itu terbagi kepada 3 macam, yaitu: شرك أكبر (Syirik Besar), شرك أصغر (Syirik Kecil), dan شرك خفي (Syirik yang samar). Syirik Khafi ini terkadang ada yang termasuk syirik besar dan ada juga yang termasuk syirik kecil, adapun bentuk syirik ini adalah Syirik Niyat.

Syirik Rububiyah ( الشِّركُ فِي الرُّبُوبِيَّةِ ) [1]
          Syirik ini dibagi dua macam, yang pertama adalah Syirik Al Ta’thil, dan ini merupakan bagian syirik yang paling buruk dan paling besar dosa dan kejahatannya, seperti perbuatan syirik Fir’aun yang mengatakan tidak ada Tuhan selain dirinya, sebagaimana disebutkan dalam AlQur'an :
يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي
"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku"  [2]  

dan dia berkata kepada kaumnya :  أَنَا رَبُّكُمُ الأَعلَى  "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi" [3] , dia juga mengatakan : وَمَا رَبُّ العَالَمِينَ "Siapa Tuhan semesta alam itu?" [4] .
Demikian sikap atheis Fir’aun yang  mengingkari keberadaan Allah swt, ia menantang Allah Ta’ala dan berlaku sombong dan ia juga keras kepala lagi suka melakukan pelanggaran (brutal). 


Kemudian, bagian yang kedua dari syirik rububiyah adalah syirik kecil, misalnya syirik dalam ucapan, seperti seseorang yang berkata:  لَولَا اللهُ وَأَنتَ (Jika bukan karena Allah dan engkau ...), لَولَا اللهُ وَفُلَان (Jika bukan karena Allah dan si Fulan ...), juga perkataan : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئتَ (Yang Allah kehendaki dan kamu kehendaki), demikian juga bersumpah dengan nama selain Allah dan yang semacam dengan ucapan-ucapan tersebut.

Dengan demikian kita mesti memelihara lisan kita agar berhati-hati dalam berucap walaupun itu sekedar gurauan belaka.

Syirik Asma wa Shifat  (الشِّركُ فِي الأّسمَاءِ وَالصِّفَات( [5]
Syirik didalam asma wa shifat terdapat dua macam pula : yang pertama adalah شِركُ التَّشبِيهِ  (Syirik AlTasybih[ menyerupakan Sifat dan Asma Allah dengan manusia]), seperti orang-orang yang mengatakan : "Tangan Allah seperti tangan manusia", dan "Pendengaran Allah seperti pendengaran manusia", dan "Penglihatan Allah seperti penglihatan manusia", dan " Pengetahuan-Nya seperti pengetahuan manusia" dan lain sebagainya. Maka ini merupakan mempersekutukan nama-nama Allah dan Shifat-Nya dengan manusia.

Wajib bagi kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekhususan karakter-Nya dalam nama-nama dan shifat-shifat-Nya. Sungguh Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam AlQuran bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan  Dia , Allah Ta’ala berfirman:
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
" (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat" . [6]

Kemudian bagian yang kedua dari syirik dalam asma wa shifat adalah memberi nama makhluq dengan nama-nama khusus dari Asma Allah Ta’ala, seperti orang yang memberi nama makhluq misalnya dengan nama  حكيماً (Hakiiman), عليماً (‘Aliiman), خبيراً (Khabiiran), dan lain-lain yang serupa itu, atau dengan nama الإله (Ilah), atau الآلهة (Alihah), atau الرب (Rab), atau yang serupa itu dari nama-nama yang tidak layak bagi makhluq, yaitu dengan membuat pecahan dari nama-nama Allah untuk nama-nama makhluq. Sebagaimana perbuatan orang-orang Musyrik, mereka memberi nama untuk memulyakan berhala mereka sebagai sembahan, yang mana itu merupakan  dusta dan rekayasa mereka.  Mengenai ini Allah Ta’ala berfirman :
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
"itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka" [7]

          Demikianlah sesungguhnya orang-orang Musyrik, mereka memberi nama-nama berhala mereka dengan nama-nama yang berasal dari pecahan yang diambil dari nama-nama Allah, seperti nama Manat diambil dari nama AlMannan(Yang Maha Pengasih), dan Allaata diambil dari nama Allah, dan Al’Uzza diambil dari nama Al’Aziiz (Yang Maha Perkasa).

Syirik dalam beribadah (الشِّركُ فِي العِبَادَةِ)  [8]
          Syirik dalam beribadah ini sangat banyak dan luas, terbagi kepada 2 bagian: Yang pertama adalah syirik besar, yang apabila seorang manusia mati, ia kekal di dalam jahannam, dan apabila ia bertaubat dari perbuatan syirik tersebut maka insyaAllah , Allah akan menerima taubatnya. Dan yang kedua adalah syirik kecil, yaitu apabila seorang manusia jatuh kepada perbuatan yang lebih besar dari berzina dan minum khamr, akan tetapi perbuatan syiriknya itu tidak menyebabkan ia keluar dari agama Islam, dan tempatnya adalah atas kehendak Allah Ta’ala, jika Allah berkehendak, maka Dia menyiksa dan megadzabnya atas perbuatannya itu, dan jika Dia berkehendak untuk memaafkan kesalahannya itu, maka ia berhak untuk berada dekat dengan-Nya.

          Syirik yang besar ini adalah seperti berbuat syirik dalam perasaan cinta, atau dalam perasaan takut, atau didalam bertawakkal, atau dalam kekuasaan, dalam rukuk dan sujud, atau dalam thawaf, atau dalam penyembelihan dan nadzar, dll.

Maka apabila seseorang melakukan sebagian dari yang demikian, misalnya menyembelih unggas bagi Jin, ini adalah kemusyrikan!, yaitu syirik besar!, dan apabila melakukan suatu perbuatan demikian, maka wajib baginya agar bertaubat untuk membersihkan diri dari perbuatan dosa tersebut.

Adapun syirik yang kecil, misalnya perbuatan riya', yaitu keadaan dia apabila beramal ingin dilihat manusia, dan ia menyukai jika orang-orang memperhatikannya, atau ia membaguskan amalnya karena mengharapkan penglihatan dan pujian manusia, maka perbuatan seperti ini tidak boleh ada di hati seorang Muslim, sebab perbuatan tersebut adalah pencerminan dari orang munafiq. Maka keadaan ‘amal yang dibangun atas dasar riya tidaklah akan nampak kecuali dari orang-orang munafiq atau orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali".[9]  

          Ayat tersebut menjelaskan bahwa sholatnya mereka (orang munafiq) itu tujuannya hanya untuk riya'.

Akan tetapi seorang Muslim pun terkadang nampak pada dirinya ketika beramal sebagaimana orang yang menampakkan syirik kecil tersebut, namun kemudian ia bersegera untuk memperbaikinya, dan jika ia berpaling darinya dan ia mampu untuk membersihkan amalnya, maka itu tidak akan merugikan (merusak) amalnya. Namun jika ia tidak sanggup membersihkannya, maka riya itu bila ia telah bercampur dengan ‘amal, maka ia merusaknya dan menggagalkannya, dan jadilah yang demikian itu ‘amal yang rusak lagi sia-sia. Sebagaimana terdapat dalam hadits qudsi : مَن عَمِلَ عَمَلاً أَشرَكَ فِيهِ مَعِي غَيرِي تَرَكتُهُ وَشِركَهُ  , " Barang siapa melakukan suatu ‘amalan dengan menjadikan sekutu dalam amal tersebut bersama-Ku selain Aku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya" [10].

Dan terdapat pula dalam hadits yang lain sehubungan dengan orang-orang  yang riya' dengan ‘amal mereka, Allah berfirman kepada mereka pada hari kiamat :
اِذهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنتُم تَرَاءُونَ فِي الدُّنيَا فَانظُرُوا هَل تَجِدُونَ جَزَاءَكُم عِندَهُم؟
"Pergilah kalian kepada orang-orang yang dulu kamu memperlihatkan (amal kamu) di dunia, maka lihatlah apakah kalian menemukan balasan bagi kalian disisi mereka?" [11].

          Dari penjelasan diatas, sedikitnya dapat kita ketahui bahwa riya' adalah perbuatan syirik kecil yang termasuk kepada dosa besar, karena perbuatan riya' menyebabkan si pelaku menjadikan selain Allah tandingan bagi-Nya. Oleh karena itulah pada hari kiamat Allah mengusir pelaku riya' agar mereka  meminta pahala kepada orang-orang yang telah dijadikan tandingan bagi Allah, yang pada kenyataannya tidaklah ada yang sanggup memberikan pahala kecuali hanya Allah Ta’ala yang Maha Kaya lagi Maha Bijaksana.

Adapun dalam Kitabul Kaba'ir karya Muhammad bin ‘Utsman Adzdzahabi dijelaskan bahwa Syirik kepada Allah itu terdapat dua macam, dan ini tidak bertentangan dengan penjelasan dalam kitab Fathul Majid, kedua macam syirik tersebut adalah :

1.    Menjadikan bagi Allah tandingan, yaitu menyembah selain-Nya diantara makhluq-makkhluqNya, baik itu batu, pohon, matahari, bulan, bintang, atau para nabi, atau malaikat, atau syaikh dan lain-lain. Itu semua adalah اَلشِّركُ الأَكبَرُ (Syirik yang paling besar), Allah Ta’ala menyebutkan dalam Firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar".[12]

Dan sebagaimana dikisahkan dalam AlQur'an mengenai nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah Ta’ala. Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar".[13]

Allah Ta’ala mengharamkan sorga bagi siapa saja yang mengadakan sekutu bagi-Nya, sebagaimana orang-orang yang menjadikan Isa as sebagai tandingan bagi-Nya, maka Allah Ta’ala menempatkan mereka di neraka,  Dia berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun".[14]

Demikianlah orang yang menyekutukan Allah kemudian ia mati dalam keadaan musyrik, maka sudah pasti ia menjadi penghuni neraka, sebagaimana orang yang beriman kepada Allah dan ia mati dalam keadaan mu'min, maka ia pasti menjadi penghuni surga. Didalam salah satu hadits diriwayatkan :
حَدَّثَنِي إِسحَاقُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الوَاسِطِيُّ عَن الجُرَيرِيِّ عَن عَبدِ الرَّحمَنِ بنِ أَبِي بَكرَةَ عَن أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُم بِأَكبَرِ الكَبَائِرِ قُلنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الإِشرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الوَالِدَينِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا وَقَولُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَولُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلتُ لَا يَسكُتُ
Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah menceritakan kepada kami Khalid Al Wasithi dari Al Jurairi dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang termasuk dari dosa besar? Kami menjawab; "Tentu wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua." ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk lalu melanjutkan sabdanya: "Perkataan dusta dan kesaksian palsu, perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus saja mengulanginya hingga saya mengira beliau tidak akan berhenti."    [15]

Kemudian sabda Rasulullah saw : اِجتَنِبُوا السَّبعَ المُوبِقَاتِ [16] "Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar", dan Rasulullah saw menyebutkan diantaranya adalah اَلشِّركُ بِاللهِ (Menyekutukan Allah).

Banyak pula hadits yang menjelaskan bahwa syirik itu adalah perbuatan dosa besar, dan Rasulullah saw telah memerintahkan agar umatnya menjauhinya.
2.    اَلرِّيَاءُ بِالأَعمَالِ, Riya' didalam beramal, yakni bukan mengharap ridlo dan cinta Allah swt melainkan ia beramal karena ingin dilihat oleh orang lain. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" [17].

Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya agar ber’amal dan beribadah hanya demi mengharapkan perjumpaan dengan-Nya, yaitu mengharapkan pahala, balasan dan penghargaan hanya dari Allah Ta’ala, bukan ingin dipuji orang karena "kelihatan" bagus amalnya, jika tidak ada orang lain ia malas dan asal-asalan dalam beribadah bahkan ia enggan untuk  melaksanakan ibadah, namun jika ada orang yang melihatnya, ia bagus-baguskan amalnya dan terlihat bersemangat. 

Seorang hamba yang ikhlas, hanyalah Wajah Allah yang ia harapkan, tak peduli ada orang yang melihat atau tidak karena ia yakin dan merasa dilihat serta diperhatikan oleh Allah Ta’ala, maka hatinya tersungkur sujud karena takut kepada-Nya. Ia pun ber’amal ibadah betul-betul didasari dengan ilmu, sebab ia takut ‘amalnya itu tidak sesuai dengan syari’at yang dicontohkan Rasulullah saw. Ia pun benar-benar memahami bahwa ikhlas dalam beramal dengan mencocoki sunnah Rasulullah saw merupakan syarat diterimanya sebuah ‘amal.[18]

Rasulullah saw telah memperingatkan mengenai perbuatan riya' sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan :
حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيثٌ عَن يَزِيدَ يَعنِي ابنَ الهَادِ عَن عَمرٍو عَن مَحمُودِ بنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيكُم الشِّركُ الأَصغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّركُ الأَصغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُم يَومَ القِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعمَالِهِم اذهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنتُم تُرَاءُونَ فِي الدُّنيَا فَانظُرُوا هَل تَجِدُونَ عِندَهُم جَزَاءً [19]
Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid yaitu Ibnu AlHad dari ‘Amr dari Mahmud bin Labid, bahwa Rasulullah saw bersabda: " Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil ", mereka bertanya : "Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah ?", Rasulullah bersabda: " Riya', Allah ‘Azza WaJalla berfirman kepada mereka (pelaku riya') pada hari kiamat ketika manusia diberi balasan atas ‘amal mereka:  "Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahuulu kamu memperlihatkan (amal kamu) di dunia, maka lihatlah apakah kalian menemukan balasan bagi kalian disisi mereka?".

Kemudian dijelaskan pula dalam salah satu hadits riwayat Imam Bukhari :
عَن جُندَبِ بنِ عَبدِ اللهِ - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - « " مَن سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَمَن يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ » رواه البخاري الرقائق 11 / 335 رقم 6499 والأحكام 13 / 128 رقم 7152 ومسلم الزهد 4 / 2289 رقم  ء2987 [20]
Dari Jundab bin ‘Abdillah r.a ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

"Barang siapa yang beramal karena sum’ah, maka Allah akan membuatnya dikenal sum’ah, dan barang siapa yang beramal karena riya maka Allah akan membuatnya dikenal riya " ( H.R Bukhari ).

Demikianlah orang-orang yang beramal karena bukan mengharap pahala dari Allah, sebanyak apapun ‘amal mereka tidak akan membuahkan balasan pahala dari sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam hadits dijelaskan :
حَدَّثَنَا سُلَيمَانُ حَدَّثَنَا إِسمَاعِيلُ أَخبَرَنِي عَمرٌو يَعنِي ابنَ أَبِي عَمرٍو عَن أَبِي سَعِيدٍ الْمَقبُرِيِّ عَن أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِن صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِن قِيَامِهِ السَّهَرُ[21]
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah menceritakan kepada kami Isma'il telah mengabarkan kepadaku 'Amr  yaitu Ibnu Abi 'Amr dari Abi Sa'id AlMaqburi dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah saw bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan keuntungan dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang yang sholat malam tidak mendapatkan keuntungan dari ibadah sholatnya melainkan begadang saja."

Dengan demikian, jika tidak menjadikan sholat dan shaum itu karena mengharap Wajah Allah Ta’ala, maka tidak akan ada pahala baginya.

Perumpamaan orang yang beramal karena riya' adalah seperti orang yang memenuhi kantongnya dengan kerikil, kemudian ia pergi ke pasar untuk membelanjakannya, maka dibukalah kantongnya dihadapan seorang pedagang, ketika si pedagang hanya melihat kerikil, maka dilemparkanlah kerikil tersebut ke wajahnya, maka tidaklah bermanfa’at kantong yang berisi penuh tersebut.

Demikianlah sia-sia hasilnya bagi orang yang beramal dengan disertai riya'. Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita semua dalam menjalani kehidupan ini, sehingga kita terjauh dari segala perbuatan syirik.  Wa Allaahulmuwaffiq.

Baca juga :

[1] .(المكتبة الشاملة )  عبد الله بن محمد الغنيمان -شرح كتاب التوحيد
[2] . Q.S. AlQashash:38
[3] . Q.S. AnNazi’at : 24
[4] . Q.S. AsSyu’araa : 23
[5] . (المكتبة الشاملة )  عبد الله بن محمد الغنيمان -شرح كتاب التوحيد
[6] . Q.S. AsSyura:11
[7] . Q.S. AnNajm : 23
[8] .(المكتبة الشاملة )  عبد الله بن محمد الغنيمان -شرح كتاب التوحيد
[9] . Q.S. AnNisa:142
[10] . Shahih Muslim, bab: من أشرك في عمله غير الله
[11] . Hadits riwayat Imam Ahmad
[12] . Q.S AnNisa:48
[13] . Q.S Luqman:13
[14] . Q.S. AlMaidah:72
[15] . H.R. Bukhari
[16] . H.R. Bukhari
[17] . Q.S. AlKahfi:110
[18] . Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat AlKahfi:110
[19] .(المكتبة الشاملة )  مسند أحمد
[20] . الكبائر, الشيخ محمد بن عبد الوهاب, باب ذكر الرياء والسمعة (المكتبة الشاملة)
[21] .(المكتبة الشاملة )  مسند أحمد

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik