Kebalikan dari Tauhid adalah Syirik, yaitu mengadakan bagi Allah tandingan, dan perbuatan syirik merupakan perbuatan yang termasuk kepada dosa yang paling besar. Allah Ta’ala menyebutkan dalam Firman-Nya :
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى
إِثْمًا عَظِيمًا
"Barangsiapa
yang mempersekutukan Allah, Maka
sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar"
(Q.S. AnNisa:48)
Didalam syarah Fathul Majid, syirik itu dibagi juga 3 macam sebagaimana Tauhid yang 3, yaitu
Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma washifat.
Maka syirik pun ada syirik rububiyah, syirik asma wa shifat, dan syirik
didalam beribadah. Ketiga bagian syirik ini ada yang masuk kepada syirik besar
dan ada yang masuk kepada syirik kecil, namun pada asalnya syirik itu terbagi
kepada 3 macam, yaitu: شرك أكبر
(Syirik Besar), شرك
أصغر (Syirik Kecil), dan
شرك خفي (Syirik yang samar). Syirik Khafi ini terkadang ada yang termasuk syirik
besar dan ada juga yang termasuk syirik kecil, adapun bentuk syirik ini adalah
Syirik Niyat.
Syirik Rububiyah ( الشِّركُ فِي
الرُّبُوبِيَّةِ ) [1]
Syirik ini
dibagi dua macam, yang pertama adalah Syirik Al Ta’thil, dan ini
merupakan bagian syirik yang paling buruk dan paling besar dosa dan
kejahatannya, seperti perbuatan syirik Fir’aun yang mengatakan tidak ada Tuhan
selain dirinya, sebagaimana disebutkan dalam AlQur'an :
يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي
"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan
bagimu selain aku" [2]
dan
dia berkata kepada kaumnya : أَنَا
رَبُّكُمُ الأَعلَى "Akulah
Tuhanmu yang paling tinggi" [3] , dia juga mengatakan : وَمَا
رَبُّ العَالَمِينَ "Siapa Tuhan semesta alam itu?" [4] .
Demikian sikap atheis Fir’aun yang mengingkari keberadaan Allah swt, ia
menantang Allah Ta’ala dan berlaku sombong dan ia juga keras kepala lagi suka
melakukan pelanggaran (brutal).
Kemudian, bagian yang kedua dari syirik rububiyah adalah syirik kecil, misalnya syirik dalam ucapan, seperti seseorang yang berkata: لَولَا اللهُ وَأَنتَ (Jika bukan karena Allah dan engkau ...), لَولَا اللهُ وَفُلَان (Jika bukan karena Allah dan si Fulan ...), juga perkataan : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئتَ (Yang Allah kehendaki dan kamu kehendaki), demikian juga bersumpah dengan nama selain Allah dan yang semacam dengan ucapan-ucapan tersebut.
Kemudian, bagian yang kedua dari syirik rububiyah adalah syirik kecil, misalnya syirik dalam ucapan, seperti seseorang yang berkata: لَولَا اللهُ وَأَنتَ (Jika bukan karena Allah dan engkau ...), لَولَا اللهُ وَفُلَان (Jika bukan karena Allah dan si Fulan ...), juga perkataan : مَا شَاءَ اللهُ وَشِئتَ (Yang Allah kehendaki dan kamu kehendaki), demikian juga bersumpah dengan nama selain Allah dan yang semacam dengan ucapan-ucapan tersebut.
Dengan demikian kita mesti memelihara lisan kita agar
berhati-hati dalam berucap walaupun itu sekedar gurauan belaka.
Syirik
Asma wa Shifat (الشِّركُ
فِي الأّسمَاءِ وَالصِّفَات(
[5]
Syirik didalam asma wa shifat terdapat dua macam pula :
yang pertama adalah شِركُ التَّشبِيهِ (Syirik
AlTasybih[ menyerupakan Sifat dan Asma Allah dengan manusia]), seperti orang-orang
yang mengatakan : "Tangan Allah seperti tangan manusia", dan
"Pendengaran Allah seperti pendengaran manusia", dan
"Penglihatan Allah seperti penglihatan manusia", dan "
Pengetahuan-Nya seperti pengetahuan manusia" dan lain sebagainya. Maka ini
merupakan mempersekutukan nama-nama Allah dan Shifat-Nya dengan manusia.
Wajib bagi kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah, tidak
ada sekutu bagi-Nya dalam kekhususan karakter-Nya dalam nama-nama dan
shifat-shifat-Nya. Sungguh Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam AlQuran bahwa
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Dia , Allah Ta’ala berfirman:
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا
يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
" (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia
menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis
binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak
dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang
Maha Mendengar dan Maha Melihat" . [6]
Kemudian bagian yang kedua dari syirik dalam asma wa
shifat adalah memberi nama makhluq dengan nama-nama khusus dari Asma Allah
Ta’ala, seperti orang yang memberi nama makhluq misalnya dengan nama حكيماً
(Hakiiman), عليماً
(‘Aliiman), خبيراً
(Khabiiran), dan lain-lain yang serupa itu, atau dengan
nama الإله (Ilah), atau الآلهة
(Alihah), atau الرب
(Rab), atau yang serupa itu dari nama-nama yang tidak
layak bagi makhluq, yaitu dengan membuat pecahan dari nama-nama Allah untuk
nama-nama makhluq. Sebagaimana perbuatan orang-orang Musyrik, mereka memberi
nama untuk memulyakan berhala mereka sebagai sembahan, yang mana itu
merupakan dusta dan rekayasa
mereka. Mengenai ini Allah Ta’ala
berfirman :
إِنْ هِيَ إِلَّا
أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ
سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ
مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
"itu
tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya;
Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa
nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka"
[7]
Demikianlah sesungguhnya orang-orang
Musyrik, mereka memberi nama-nama berhala mereka dengan nama-nama yang berasal
dari pecahan yang diambil dari nama-nama Allah, seperti nama Manat diambil dari
nama AlMannan(Yang Maha Pengasih), dan Allaata diambil dari nama Allah, dan
Al’Uzza diambil dari nama Al’Aziiz (Yang Maha Perkasa).
Syirik
dalam beribadah (الشِّركُ فِي العِبَادَةِ) [8]
Syirik dalam beribadah ini sangat
banyak dan luas, terbagi kepada 2 bagian: Yang pertama adalah syirik besar,
yang apabila seorang manusia mati, ia kekal di dalam jahannam, dan apabila ia
bertaubat dari perbuatan syirik tersebut maka insyaAllah , Allah akan menerima
taubatnya. Dan yang kedua adalah syirik kecil, yaitu apabila seorang manusia
jatuh kepada perbuatan yang lebih besar dari berzina dan minum khamr, akan
tetapi perbuatan syiriknya itu tidak menyebabkan ia keluar dari agama Islam,
dan tempatnya adalah atas kehendak Allah Ta’ala, jika Allah berkehendak, maka
Dia menyiksa dan megadzabnya atas perbuatannya itu, dan jika Dia berkehendak
untuk memaafkan kesalahannya itu, maka ia berhak untuk berada dekat dengan-Nya.
Syirik yang besar ini adalah seperti
berbuat syirik dalam perasaan cinta, atau dalam perasaan takut, atau didalam
bertawakkal, atau dalam kekuasaan, dalam rukuk dan sujud, atau dalam thawaf,
atau dalam penyembelihan dan nadzar, dll.
Maka apabila seseorang melakukan sebagian dari yang
demikian, misalnya menyembelih unggas bagi Jin, ini adalah kemusyrikan!, yaitu
syirik besar!, dan apabila melakukan suatu perbuatan demikian, maka wajib
baginya agar bertaubat untuk membersihkan diri dari perbuatan dosa tersebut.
Adapun syirik yang kecil, misalnya perbuatan riya', yaitu
keadaan dia apabila beramal ingin dilihat manusia, dan ia menyukai jika
orang-orang memperhatikannya, atau ia membaguskan amalnya karena mengharapkan
penglihatan dan pujian manusia, maka perbuatan seperti ini tidak boleh ada di
hati seorang Muslim, sebab perbuatan tersebut adalah pencerminan dari orang
munafiq. Maka keadaan ‘amal yang dibangun atas dasar riya tidaklah akan nampak
kecuali dari orang-orang munafiq atau orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman
:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ
وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ
النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
"Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali".[9]
Ayat tersebut menjelaskan bahwa
sholatnya mereka (orang munafiq) itu tujuannya hanya untuk riya'.
Akan tetapi seorang Muslim pun terkadang nampak pada
dirinya ketika beramal sebagaimana orang yang menampakkan syirik kecil
tersebut, namun kemudian ia bersegera untuk memperbaikinya, dan jika ia
berpaling darinya dan ia mampu untuk membersihkan amalnya, maka itu tidak akan
merugikan (merusak) amalnya. Namun jika ia tidak sanggup membersihkannya, maka
riya itu bila ia telah bercampur dengan ‘amal, maka ia merusaknya dan
menggagalkannya, dan jadilah yang demikian itu ‘amal yang rusak lagi sia-sia.
Sebagaimana terdapat dalam hadits qudsi : مَن
عَمِلَ عَمَلاً أَشرَكَ فِيهِ مَعِي غَيرِي تَرَكتُهُ وَشِركَهُ
, " Barang siapa melakukan suatu ‘amalan dengan
menjadikan sekutu dalam amal tersebut bersama-Ku selain Aku, maka Aku
meninggalkannya dan sekutunya" [10].
Dan terdapat pula dalam hadits yang lain sehubungan
dengan orang-orang yang riya' dengan
‘amal mereka, Allah berfirman kepada mereka pada hari kiamat :
اِذهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنتُم تَرَاءُونَ
فِي الدُّنيَا فَانظُرُوا هَل تَجِدُونَ جَزَاءَكُم عِندَهُم؟
"Pergilah
kalian kepada orang-orang yang dulu kamu memperlihatkan (amal kamu) di dunia,
maka lihatlah apakah kalian menemukan balasan bagi kalian disisi mereka?" [11].
Dari penjelasan diatas, sedikitnya
dapat kita ketahui bahwa riya' adalah perbuatan syirik kecil yang termasuk
kepada dosa besar, karena perbuatan riya' menyebabkan si pelaku menjadikan
selain Allah tandingan bagi-Nya. Oleh karena itulah pada hari kiamat Allah
mengusir pelaku riya' agar mereka
meminta pahala kepada orang-orang yang telah dijadikan tandingan bagi
Allah, yang pada kenyataannya tidaklah ada yang sanggup memberikan pahala
kecuali hanya Allah Ta’ala yang Maha Kaya lagi Maha Bijaksana.
Adapun dalam Kitabul Kaba'ir karya Muhammad bin ‘Utsman
Adzdzahabi dijelaskan bahwa Syirik kepada Allah itu terdapat dua macam, dan ini
tidak bertentangan dengan penjelasan dalam kitab Fathul Majid, kedua macam
syirik tersebut adalah :
1.
Menjadikan
bagi Allah tandingan, yaitu menyembah selain-Nya diantara makhluq-makkhluqNya,
baik itu batu, pohon, matahari, bulan, bintang, atau para nabi, atau malaikat,
atau syaikh dan lain-lain. Itu semua adalah اَلشِّركُ
الأَكبَرُ (Syirik yang paling besar), Allah Ta’ala menyebutkan
dalam Firman-Nya :
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, Maka
sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar".[12]
Dan sebagaimana dikisahkan dalam AlQur'an mengenai
nasihat Luqman kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah Ta’ala. Allah
berfirman :
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang
besar".[13]
Allah Ta’ala mengharamkan sorga bagi siapa saja yang
mengadakan sekutu bagi-Nya, sebagaimana orang-orang yang menjadikan Isa as
sebagai tandingan bagi-Nya, maka Allah Ta’ala menempatkan mereka di
neraka, Dia berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ
الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya telah kafirlah
orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera
Maryam", Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya
surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu
seorang penolongpun".[14]
Demikianlah orang yang menyekutukan Allah kemudian ia
mati dalam keadaan musyrik, maka sudah pasti ia menjadi penghuni neraka,
sebagaimana orang yang beriman kepada Allah dan ia mati dalam keadaan mu'min,
maka ia pasti menjadi penghuni surga. Didalam salah satu hadits diriwayatkan :
حَدَّثَنِي إِسحَاقُ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الوَاسِطِيُّ عَن الجُرَيرِيِّ عَن
عَبدِ الرَّحمَنِ بنِ أَبِي بَكرَةَ عَن أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ
أَلَا أُنَبِّئُكُم بِأَكبَرِ الكَبَائِرِ قُلنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
الإِشرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الوَالِدَينِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ
أَلَا وَقَولُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَولُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ
الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلتُ لَا يَسكُتُ
Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah menceritakan
kepada kami Khalid Al Wasithi dari Al Jurairi dari Abdurrahman bin Abu Bakrah
dari Ayahnya radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Tidak maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu
yang termasuk dari dosa besar? Kami menjawab; "Tentu wahai
Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah dan mendurhakai
kedua orang tua." ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk
lalu melanjutkan sabdanya: "Perkataan dusta dan kesaksian palsu,
perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus saja mengulanginya
hingga saya mengira beliau tidak akan berhenti." [15]
Kemudian sabda Rasulullah saw : اِجتَنِبُوا
السَّبعَ المُوبِقَاتِ [16] "Jauhilah oleh
kalian tujuh dosa besar", dan Rasulullah
saw menyebutkan diantaranya adalah اَلشِّركُ بِاللهِ (Menyekutukan
Allah).
Banyak pula hadits yang menjelaskan bahwa syirik itu
adalah perbuatan dosa besar, dan Rasulullah saw telah memerintahkan agar
umatnya menjauhinya.
2. اَلرِّيَاءُ بِالأَعمَالِ, Riya' didalam beramal,
yakni bukan mengharap ridlo dan cinta Allah swt melainkan ia beramal karena
ingin dilihat oleh orang lain. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya" [17].
Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya agar ber’amal
dan beribadah hanya demi mengharapkan perjumpaan dengan-Nya, yaitu mengharapkan
pahala, balasan dan penghargaan hanya dari Allah Ta’ala, bukan ingin dipuji
orang karena "kelihatan" bagus amalnya, jika tidak ada orang lain ia
malas dan asal-asalan dalam beribadah bahkan ia enggan untuk melaksanakan ibadah, namun jika ada orang
yang melihatnya, ia bagus-baguskan amalnya dan terlihat bersemangat.
Seorang hamba yang ikhlas, hanyalah Wajah Allah yang ia
harapkan, tak peduli ada orang yang melihat atau tidak karena ia yakin dan
merasa dilihat serta diperhatikan oleh Allah Ta’ala, maka hatinya tersungkur
sujud karena takut kepada-Nya. Ia pun ber’amal ibadah betul-betul didasari
dengan ilmu, sebab ia takut ‘amalnya itu tidak sesuai dengan syari’at yang
dicontohkan Rasulullah saw. Ia pun benar-benar memahami bahwa ikhlas dalam
beramal dengan mencocoki sunnah Rasulullah saw merupakan syarat diterimanya
sebuah ‘amal.[18]
Rasulullah saw telah memperingatkan mengenai perbuatan
riya' sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan :
حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا
لَيثٌ عَن يَزِيدَ يَعنِي ابنَ الهَادِ عَن عَمرٍو عَن مَحمُودِ بنِ لَبِيدٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخوَفَ مَا
أَخَافُ عَلَيكُم الشِّركُ الأَصغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّركُ الأَصغَرُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُم يَومَ
القِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعمَالِهِم اذهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنتُم
تُرَاءُونَ فِي الدُّنيَا فَانظُرُوا هَل تَجِدُونَ عِندَهُم جَزَاءً [19]
Telah
menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid
yaitu Ibnu AlHad dari ‘Amr dari Mahmud bin Labid, bahwa Rasulullah saw
bersabda: " Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah
syirik kecil ", mereka bertanya : "Apakah syirik kecil itu
wahai Rasulullah ?", Rasulullah bersabda: " Riya',
Allah ‘Azza WaJalla berfirman kepada mereka (pelaku riya') pada hari kiamat
ketika manusia diberi balasan atas ‘amal mereka: "Pergilah kalian kepada orang-orang
yang dahuulu kamu memperlihatkan (amal kamu) di dunia, maka lihatlah apakah
kalian menemukan balasan bagi kalian disisi mereka?".
Kemudian dijelaskan pula dalam salah satu hadits riwayat
Imam Bukhari :
عَن
جُندَبِ بنِ عَبدِ اللهِ - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ -
صلى
الله عليه وسلم
- « " مَن
سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَمَن يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ »
رواه البخاري الرقائق 11 / 335 رقم 6499 والأحكام 13 / 128
رقم 7152 ومسلم الزهد 4 / 2289 رقم ء2987 [20]
Dari
Jundab bin ‘Abdillah r.a ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
"Barang
siapa yang beramal karena sum’ah, maka Allah akan membuatnya dikenal sum’ah,
dan barang siapa yang beramal karena riya maka Allah akan membuatnya dikenal
riya " ( H.R Bukhari ).
Demikianlah orang-orang yang beramal karena bukan
mengharap pahala dari Allah, sebanyak apapun ‘amal mereka tidak akan membuahkan
balasan pahala dari sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam hadits dijelaskan :
حَدَّثَنَا
سُلَيمَانُ حَدَّثَنَا إِسمَاعِيلُ أَخبَرَنِي عَمرٌو يَعنِي ابنَ أَبِي عَمرٍو
عَن أَبِي سَعِيدٍ الْمَقبُرِيِّ عَن أَبِي هُرَيرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِن صِيَامِهِ الْجُوعُ
وَالعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِن قِيَامِهِ السَّهَرُ[21]
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah menceritakan kepada kami
Isma'il telah mengabarkan kepadaku 'Amr
yaitu Ibnu Abi 'Amr dari Abi Sa'id AlMaqburi dari Abu Hurairah ia
berkata: "Rasulullah saw bersabda: "Berapa banyak orang yang
berpuasa tidak mendapatkan keuntungan dari puasanya melainkan hanya lapar dan
dahaga, dan berapa banyak orang yang sholat malam tidak mendapatkan keuntungan
dari ibadah sholatnya melainkan begadang saja."
Dengan demikian, jika tidak menjadikan sholat dan shaum
itu karena mengharap Wajah Allah Ta’ala, maka tidak akan ada pahala baginya.
Perumpamaan orang yang beramal karena riya' adalah
seperti orang yang memenuhi kantongnya dengan kerikil, kemudian ia pergi ke
pasar untuk membelanjakannya, maka dibukalah kantongnya dihadapan seorang
pedagang, ketika si pedagang hanya melihat kerikil, maka dilemparkanlah kerikil
tersebut ke wajahnya, maka tidaklah bermanfa’at kantong yang berisi penuh
tersebut.
Demikianlah sia-sia hasilnya bagi orang yang beramal
dengan disertai riya'. Mudah-mudahan
Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita semua dalam menjalani kehidupan ini,
sehingga kita terjauh dari segala perbuatan syirik. Wa Allaahulmuwaffiq.
Baca juga :
[1] .(المكتبة الشاملة ) عبد الله بن محمد الغنيمان -شرح كتاب التوحيد
[2] . Q.S.
AlQashash:38
[3] . Q.S. AnNazi’at : 24
[4] . Q.S. AsSyu’araa : 23
[5] . (المكتبة
الشاملة ) عبد
الله بن محمد الغنيمان -شرح
كتاب التوحيد
[6] . Q.S. AsSyura:11
[7] . Q.S.
AnNajm : 23
[8] .(المكتبة
الشاملة ) عبد الله بن محمد الغنيمان -شرح كتاب التوحيد
[9] . Q.S. AnNisa:142
[10] . Shahih Muslim, bab: من أشرك في عمله غير الله
[11] . Hadits riwayat Imam Ahmad
[12] . Q.S AnNisa:48
[13] . Q.S Luqman:13
[14] . Q.S. AlMaidah:72
[15] . H.R. Bukhari
[16] . H.R. Bukhari
[17] . Q.S. AlKahfi:110
[18] . Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat
AlKahfi:110
[19]
.(المكتبة الشاملة ) مسند
أحمد
[20]
. الكبائر,
الشيخ محمد بن عبد الوهاب, باب ذكر الرياء والسمعة (المكتبة الشاملة)
[21]
.(المكتبة الشاملة ) مسند
أحمد

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik