Bismillaah...salam sejahtera sobat semua, nyambung lagi ke kaidah dasar bahasa arab ringkasan, kini kita masuk ke kaidah 7 sampai kaidah 14, yang ini merupakan ringkasan terakhir dari pembahasan nahwiyah edisi mukhtashor ini, ok..check it out ...
Isim manshub yang terletak setelah Isim Tafdhil di i’rab sebagai tamyiz. Contoh:
-هَذَا أَجمَلُ الْمُقرِئِينَ صَوتاً [1]
-قال تعالى:
Qaidah ke-8 :
Isim yang terletak setelah zharaf makan senantiasa di i’rab sebagai mudhaf ilaih, demikian pula dhamir yang bersambung dengan isim.
Contoh yang pertama:
طَافَ الحَاجُّ حَولَ الكَعبَةِ
(yang berhaji tawaf mengelilingi Ka’bah).
Contoh yang kedua:
دِينُنَا خَيرُ الأَديَانِ
(Agama kami adalah sebaik-baiknya agama)
Qaidah ke-9 :
Mengenai فِي مَحَلِّ (dalam kedudukan) rafa, nashab, jar atau jazm. Apakah bedanya antara kondisi ini dengan ucapan kita: marfu’, manshub, majrur atau majzum?.
Apabila dikatakan في محل , maka yang dimaksud adalah i’rab yang terletak pada jumlah (kalimat) atau syibhu jumlah (yang menyerupai kalimat [ zharaf atau jar majrur] ), dan tanda i’rabnya pada kalimat seperti ini tidak nampak. Contoh:
هَذَا بُلبُلٌ يَشُدُو[3]
نَظَرتُ إِلَى بُلبُلٍ يَشُدُو [4]
سَمِعتُ بُلبُلاً يَشُدُو[5]
Maka jumlah (kalimat): يشدو
I’rabnya adalah :
فِي مَحَلِّ رَفعٍ، وَجَرٍّ ، وَنَصبٍ
sesuai kategorinya, tergantung pada kalimat sebelumnya. Adapun contoh yang berkedudukan فِي مَحَلِّ جَزمٍ :
مَن أَدَّى الصَّلَاةَ خَاشِعًا فَقَد فَازَ [6]
maka i’rabnya فاز وأدى yakni في محل جزم .
Kemudian contoh lain : Firman-Nya Ta’ala :
Maka i’rabnya adalah :
« جَاءَ » فِي مَحَلِّ جَزمٍ فِعلُ الشَّرطِ .
« فَلَهُ عَشرُ » فِي مَحَلِّ جَزمٍ جَوَابُ الشَّرطِ.
Karena fi’il-fi’il : أدى ، فاز ، جاء merupakan fi’il madhi yang asalnya mabni (tetap).
Adapun jika dikatakan marfu..dst. Maka yang dimaksud adalah penyesuaian i’rab terhadap lafazh, dan tanda i’rabnya zhahir jika keadaan lafazhnya memungkinkan untuk tampaknya harakat atas lafazh tersebut.
Misalnya :
حَضَرَ ضَيفٌ . أَكرَمتُ ضَيفاً . سَلَّمتُ عَلَى ضَيفٍ
atau i’rabnya secara taqdir sebagaimana yang telah dijelaskan pada fashal sebelumnya.
Qaidah ke-10 :
Mengenai maf’ul bih dan maf’ul fih, perbedaan diantara keduanya yaitu: bahwa lafazh maf’ul bih disebutkan ketika lafazh tersebut menjadi objek yang dikenai suatu kejadian atasnya. Sedangkan maf’ul fih terjadi ketika lafazh yang disebutkan bukan sebagai objek yang terjadi padanya. Contoh:
1. صُمتُ يَومَ عَرَفَةَ
maka lafazh يوم adalah مفعول فيه
2. أَرسَلَ القَائِدُ جُندَهُ إِلَى المَعرَكَةِ
maka lafazh جنده adalah مفعول به
Qaidah ke-11 :
Tidak di manshub dengan kasrah kecuali jama’ muannatstsalim. Sebagaimana contoh pada FirmanNya Ta’ala:
Qaidah ke-12 :
Tidak dikatakan marfu, manshub, majrur saja ketika pengi’raban, tetapi harus secara lengkap dengan penyebutan tandanya, karena tanda-tanda i’rab itu dibedakan dengan perbedaan mu’rabnya.
Qaidah ke-13 :
Bagaimanakah anda menaksir dan menentukan pengi’raban secara muqaddaroh?
Disini anda harus mencari lafazh dari yang mu’rab dan harus benar-benar diperhatikan, mulailah dengan mengi’rabnya dalam diri anda, kemudian mulailah dengan mengindikasikan pengi’raban atas apa yang telah anda temukan dan bandingkan. Dan jika telah mendapatkannya berarti anda telah pintar memahaminya, kemudian sebutkan kalimat yang telah anda ketahui strukturnya dan sebutkanlah i’rabnya. Dan untuk memperkuat penaksiran, cobalah untuk mengi’rab semua yang anda baca dengan pengi’raban yang sempurna.
Qaidah ke-14 :
Pengertian kalam (pembicaraan) ada 10, yaitu sebagaimana yang disebutkan AlHariry dalam kitabnya Syarhu Malhatil i’rab, yang mana ia berkata: " Yang dimaksud dengan perkataan kami harfun ma’anni yaitu pengertian dari makna kalam yang 10, yaitu : al-khabar, al-istikhbar, al-amr, an-nahy, an-nidaa', al-qasam, ath-thalab, al-‘ardh, at-tamaniy dan at-ta’ajub ".
_____________________
و لله الحمد
Sumber Rujukan
القرآن الكريم
معاني القرآن لأبي إسحاق الزجاج
إعراب القرآن لأبي جعفر النحاس
الأزهية في علم الحروف للهروي
درة الغواص في أوهام الخواص للحريري
الكشاف للزمخشري
شرح سيرة ابن هشام السهيلي
غرائب آي التنزيل للرازي
بدائع الفوائد لابن قيم الجوزية
البحر المحيط لأبي حيان الأندلسي
مغني اللبيب عن كتب الأعاريب لابن هشام
الجامع لأحكام القرآن للقرطبي
النحو الوافي لعباس حسن
شذا العَرف في فن الصرف لأحمد الحملاوي
شرح ابن عقيل
معاني القرآن لأبي إسحاق الزجاج
إعراب القرآن لأبي جعفر النحاس
الأزهية في علم الحروف للهروي
درة الغواص في أوهام الخواص للحريري
الكشاف للزمخشري
شرح سيرة ابن هشام السهيلي
غرائب آي التنزيل للرازي
بدائع الفوائد لابن قيم الجوزية
البحر المحيط لأبي حيان الأندلسي
مغني اللبيب عن كتب الأعاريب لابن هشام
الجامع لأحكام القرآن للقرطبي
النحو الوافي لعباس حسن
شذا العَرف في فن الصرف لأحمد الحملاوي
شرح ابن عقيل
[1] . Ini adalah para qori’ yang paling indah suaranya.
[2] . Q.S : Alkahfi:34.
[3] . Ini burung yang sedang berkicau.
[4] . Aku memandang burung yang sedang berkicau.
[5] . Aku mendengar burung yang sedang berkicau.
[6] . Barang siapa yang menunaikan shalat dengan khusyu maka pasti dia beruntung.
[7] . Q.S: AlAn’am:160
[8] . Q.S : Hud:114


0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik