Membaca alQuran dan mengamalkannya (Tahapan mengimani alQuran)
Oleh: Den Herians
Salam santun sahabat wijad...kita lanjut lagi dalam pembahasan mengenai tahapan-tahapan mengimani AlQuran, setelah mengetahui bahwa AlQuran itu haq, maka bagian dari mengimani adalah membacanya dan mengamalkannya.
Dalam mempelajari bagaimana cara membaca AlQuran, para ‘ulama telah menyusun kaidah-kaidah membaca AlQuran dalam ilmu Tajwid/Tahsin, yang mana ilmu ini membahas bagaimana cara membaca Kitabullah tersebut dengan baik dan benar sesuai dengan sunnah Rasulullah saw, dan telah dikenal definisi ilmu tajwid secara istilah, disebutkan bahwa tajwid adalah :
إِخرَاجُ كُلِّ حَرفٍ مِن مَخرَجِهِ مَعَ إِعطَائِهِ حَقَّهُ وَمُستَحَقَّهُ
“ Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya sesuai dengan Haq dan Mustahaqnya”
Dalam AlQuran pun Allah Ta’ala telah memerintahkan bagaimana seharusnya membaca Al Qur-an itu, dalam surat al Muzammil :
“Hai Orang yang berselimut {Muhammad}. Bangunlah pada malam hari (untuk sholat) kecuali sedikit (daripadanya). Yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu , dan bacalah Alqur an itu dengan tartil”
ورتل القران ترتيلا
Az-Zujaz mengatakan , maksud ayat ini adalah: perjelaslah bacaan Alqur-an dengan sejelas-jelasnya. Memperjelas bacaan Alqur-an itu tidak akan sempurna kecuali dengan cara mengucapkan huruf-hurufnya dengan jelas dan benar. ( Tafsir Ash-Shobuni II : 622 )
Sedangkan arti tartil sendiri adalah Irsalul kalimati minal fammi bisuhulatin wastiqomatin ( mengeluarkan/mengucapkan kalimat dari mulut dengan mudah dan benar ) -Ar-Raghib: 187.
Adapun makna ayat ini adalah bacalah Alqur-an dengan perlahan-lahan,teratur, memperjelas bacaan huruf-hurufnya serta mentadabburi maknanya.{Tafsir Ash-Shobuni II: 622}.Allah Ta’ala berfirman yang maknanya mengajak bicara kepada Nabi-Nya :“Hai Orang yang berselimut! Bangunlah untuk menerima urusan besar yang sedang menunggumu, berdirilah dengan kuat dan tegap untuk melakukan pekerjaan berat dan melelahkan, pergunakan sebagian malam untuk sholat, ber-tadhorru’ {merendahkan diri}, beribadah dan senantiasa khusuk, karena Aku akan mewahyukan kepadamu Alqur an yang agung dan mulia ini. Bacalah Alqur-an dengan mentadabburi dan melihat ayat-ayatnya dengan teliti pada waktu kamu bangun malam untuk sholat,sebab bangun malam untuk mengerjakan sholat lebih berat dirasakan, tetapi lebih besar harapan diterima disisi Alloh swt”.( AlQudwah no.25 Dzulhijjah 1422 H / Maret 2002 M _terbitan pesantren Tahdzibul washiyyah ).
Selanjutnya mempelajari AlQuran sebagai pedoman hidup setiap muslim bisa dijadikan kurikulum sepanjang hayat , jika kita menghitung jatah usia secara logika pada umumnya, usia manusia kurang lebih 60 tahun katakanlah, maka AlQuran bisa dipelajari yaitu dari usia 7-15 tahun, kita programkan untuk masa membaca dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Dari usia 16-45 tahun ditargetkan untuk mempelajari arti, pemahaman dan kandungan isi AlQuran sebanyak satu juz pertahun , menginjak usia 40-60 tahun bisa ditargetkan untuk mengkaji ulang bacaan, arti serta kandungan isi AlQuran sebanyak 2 juz pertahun. Proses mempelajarinya bisa digunakan sistim SKS. Satu juz umumnya terdiri dari 9 lembar, dan 1 lembar terdiri dari 30 baris. Dengan target minimal 1 tahun per juz berarti bisa mempelajari al Qur-an sebanyak 1 juz ( 9 lembar ) dalam 9 bulan . Sisa waktu selama 3 bulan dipakai untuk libur catur wulan dan hari-hari yang tidak efektif. Proses belajar untuk 1 juz perbulan bisa dipelajari dengan membagi 30 baris untuk 30 hari. Berarti cukup mempelajari al Qur-an sebanyak 1 baris perhari. Jika setiap muslim dapat menyisihkan waktu untuk belajar 1 baris perhari insyaaAllaah ketika menginjak usia 45 tahun sudah tamat membaca al Quran berikut mengetahui dan menguasai arti dan kandungan AlQuran. (Pokok-pokok ilmu tauhid jilid1 karya Ust. A. Zakaria).
Dari penjelasan metode diatas, memang berbeda jika dibandingkan dengan para sahabat dalam mempelajari alQuran. Menurut penulis, perbedaannya tersebut dapat dikatakan dari segi semangat mempelajarinya. Kendala yang terjadi bisa dikarenakan merasa sibuk dengan urusan keduniaan ataupun karena rasa malas untuk mempelajarinya. Boleh jadi juga karena alasan mesti mempelajari bahasa arab itu sendiri sebagai bahasa AlQuran yang memerlukan konsentrasi waktu dalam mempelajarinya...dsb dari berbagai alasan manusia.
Maka disinilah perlunya kita sungguh-sungguh mengimani AlQuran sebagai pedoman hidup, agar kita bersemangat untuk tidak meninggalkannya karena berbagai urusan dunia.
Sebagaimana para sahabat Rasulullah saw, mereka penuh ghirah, sangatlah bersemangat dalam menerima AlQuran dari Rasulullah saw, mereka membaca dan menghapalnya kemudian memahaminya. Para sahabat selalu berjuang mengamalkan AlQuran dan memahami hukum-hukumnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as Sulami, ia berkata :
“ Mereka membacakan al Qur-an kepada kami, seperti Utsman bin ‘Affan dan Abdullah Bin Mas’ud serta yang lain menceritakan, bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata : Kami mempelajari al Qur-an berikut ilmu dan amalnya sekaligus ”.
Demikianlah tahap pembelajaran para sahabat terhadap AlQuran, sehingga AlQuran itu melekat pada kehidupan sehari-hari para mereka.
Demikianlah tahap pembelajaran para sahabat terhadap AlQuran, sehingga AlQuran itu melekat pada kehidupan sehari-hari para mereka.
Dari pembelajaran dan pengamalan AlQuran tersebut, para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna AlQuran dan penafsiran ayat-ayatnya yang terkadang berbeda diantara mereka sesuai dengan yang mereka pahami dari Rasulullah saw, hal demikian diteruskan oleh murid-murid mereka, yaitu para tabi’in hingga sampai kepada kita sekarang, yang mana kita pun mempunyai kewajiban untuk belajar dan mengamalkannya serta berda’wah dengan AlQuran AlKarim ini.
Proses tahapan mempelajari AlQuran selanjutnya meliputi pembahasan tafsir AlQuran dari segi turunnya ayat, kedalaman bahasa dan periwayatannya secara mutawwatir, pengumpulan dan penertiban AlQuran, pengetahuan tentang surat makiyyah dan madaniyah, nasikh wal mansukh, al muhkam wal mutasyabih dan masih banyak disiplin ilmu lainnya yang berhubungan dengan AlQuran, yang kemudian dilanjutkan dengan tahapan menda’wahkannya kepada seluruh manusia. Itulah diantara tahapan mengimani AlQuran.
Selanjutnya kita pun wajib mengimani bahwa AlQuran itu senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman, maka dari itu Islam adalah agama yang abadi. Allah telah memberikan panduan agar manusia berjalan dijalan yang lurus, Firman Allah Ta’ala :
... فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".( Q.S Thohaa:123-124)
Allah swt menjamin bagi orang yang menjaga petunjukNya dalam ilmu dan amal, Dia akan memberikan penghidupan yang baik baginya serta memberikan balasan baginya di akherat kelak. Allah swt berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.( Q.S An Nahl : 97 )
Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.
Kemudian perlu dipahami pula bahwa risalah AlQuran disamping ditujukan kepada manusia, ditujukan pula kepada jin, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ahqof : 29-31, Allah berfirman :
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu(untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.
Dijelaskan dalam tafsir almaraghi bahwa Allah mengecam orang-orang kafir atas kekafiran mereka tentang apa yang diimani oleh bangsa jin, supaya mereka menyadari kebodohan mereka dan berhenti dari kesesatan dan kelakuan mereka yang buruk, yaitu kafir kepada AlQuran dan berpaling dari padanya, padahal mereka adalah pemeluk bahasa yang dengan itu AlQuran diturunkan, dan mereka pun sebangsa dengan Rasul yang membawanya, sedangkan bangsa jin itu sebagian mereka mendengarkan AlQuran dan tahu bahwa Al Quran itu dari sisi Allah dan mereka pun beriman kepadanya, padahal bangsa jin itu bukanlah pemeluk bahasa AlQuran dan tidak sebangsa denga Rasul saw.
Setelah itu bangsa jin pun berda’wah memberi peringatan kepada kaumnya, mengancam kepada mereka dan mewajibkan memenuhi seruan kepada Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad saw. Demikian lah da’wah al Qur-an itu tidak terbatas bagi manusia, ayat diatas merupakan isyarat bahwa hukuman dikalangan jin pun sama dengan hukuman dikalangan manusia, mengenai pahala, hukuman maupun melaksanakan perintah dan larangan. Dan ini mesti kita imani, bahwa AlQuran memang turun sebagai Rahmatan lil’alamin.
Sahabat wijad yang dirahmati Allah, demikian tahapan mengimani AlQuran secara singkat, dan tentu masih luas dan mendalam jika kita mau mengkaji, sebab keimanan terhadap alQuran mestilah senantiasa dijaga dan ditumbuhkan hingga sampai saat ajal. Wallaahu a’laam...semoga kita dikaruniai keimanan dan kecintaan yang mendalam kepada AlQuran AlKarim.
_____________
Maraji' :
Qur-an In Word
Syarah hadits Qudsi
Almausuatulkitab
Al Quran Al Karim
Tafsir AlMaraghi
Studi Ilmu AlQur-an_Manna Khalil al-Qattan_
Pokok-pokok Ilmu Tauhid jilid 1_Ust.A.Zakaria
Kajian Ulumul Quran Tamhidul Mubalighin PD PERSIS.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir M.Nasib Arrifa’i


0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik