Oleh: Den Herians
Perasaan sedih, galau, stress, depresi dan sebagainya diantara semua yang membuat hilang kestabilan diri, boleh jadi setiap orang pernah merasakannya...atau mungkin anda sedang merasakannya saat ini...dan atas taqdir Allah anda terdampar di blog ini ... semoga sedikit terhibur dengan artikel yang singkat ini.
Oke, kita lanjut... Itu semua terjadi dilatar belakangi banyak hal, mungkin kekecewaan terhadap diri sendiri, pasangan, teman atau lingkungan, atau juga karena gak punya duit..heheh.. boleh jadi juga disebabkan keluarga sendiri.. ada juga akibat tertekan di dunia kerja... atau justru stress karena ga punya kerjaan, ditambah komplikasi dengan banyak hal yang orang bilang udah jatuh tertimpa tangga... akhh pokoknya semua itu membuat sakit, perih, marah, berontak, ingin teriak sekencangnya, bahkan ada yang sampai ga bisa lagi menangis karena merasa beratnya penderitaan... lantas harus bagaimanakah.. kemana tempat mengadu, kemana harus meminta pertolongan saat lagi galau dan sedih ?...
Sahabat...sesungguhnya beruntung menjadi seorang muslim, karena Allah Ta'ala telah memberikan semua solusinya dalam alQuran, hanya saja sejauh mana keyakinan kita terhadap petunjuk Allah tersebut... Kalo kita kembali mengingat ayat-ayatNya, terdapat satu penjelasan bahwa yang membuat manusia gelisah, merasakan kesempitan jiwa, sesak dan bersedih (yang dimaksud adalah kesedihan yang berlarut-larut hingga menyebabkan terpuruk, sebab mustahil manusia didunia ini tidak pernah bersedih) bermula karena dia jauh dari Nya, Allah berfirman :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
(wa man a'rodlo 'an dzikrii, fa inna lahuu ma'iisyatan dlonkan)
“Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit..”(Q.S. Thahaa:124).
Demikian dalam Firman-Nya diatas, Allah mengisyaratkan bahwa kesempitan dan kesedihan dalam hidup, karena kita berpaling dari mengingat-Nya, berpaling dari hukum-hukum Nya, sesungguhnya DIA ga suka kalo hamba-Nya menyia-nyiakan Kasih Sayang-Nya, boleh jadi selama ini kita memang melupakan DIA, tidak mengindahkan aturan-Nya, berlaku sombong sehingga merasa tidak memerlukan petunjuk-Nya... bila demikian maka tiada lagi obat dan penawarnya kecuali harus segera menyelamatkan diri kepada Allah Ta’ala, segera mencari perlindungan kepada-Nya, segera bersimpuh atas kehinaan diri kita dihadapan-Nya, karena DIA Yang Maha Menerima Taubat, DIA menyeru hamba-hamba Nya agar segera kembali mendekat kepada-Nya:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(wa tuubuu ilalloohi jamii'an ayyuhal mu´minuuna la'allakum tuflihuun)
“...Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (Q.S. anNuur:31).
Saat lagi galau dan sedih - Illustrator : Juan Claudy
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaubat, dijanjikan-Nya keberuntungan dan kebahagiaan. Selama nafas belum sampai di kerongkongan lawanlah rasa sedih dan kesempitan hidup tersebut dengan kembali kepada ampunan-Nya agar tidak membuat keimanan semakin terpuruk, ingatlah janji Allah dalam ayat diatas dan berhati-hatilah dari keputusasaan sebab itu yang dihembuskan syaitan.. segeralah menjauh dari langkah-langkah syaitan, sebab ia memang tidak pernah menginginkan semua manusia beruntung dan bahagia, sementara umur kita didunia ini teramat singkat dan kematian itu pasti datangnya...yang disaat itu penyesalan sudah tiada berarti lagi...Yakinlah bahwa sesungguhnya rahmat Allah itu teramat luas...yakinlah kepada ayat-ayat Allah bahwa semua kesedihan akan sirna dengan mengingat-Nya.. Allah berfirman :
أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
( alaa bidzikrillaahi tathma´innul quluub )
“.. Ingatlah.. hanya dengan berdzikir kepada Allah.. hati akan senantiasa tenteram..” (Q.S: Al-Ra’d:28).
Kemudian berdo’a dengan sungguh-sungguh, harap dan cemas kepada-Nya dapat menjadi jalan ketenangan ketika lagi sedih atau galau, sebagaimana yang diajarkan Nabi saw :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: كُنْتُ أَخْدمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Aku pernah melayani Rasulullah saw, dan aku mendengar beliau banyak berdo’a :
“Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kekikiran dan sifat pengecut dan dari lilitan hutang dan juga dari penindasan orang” (Lihat H.R. Imam Bukhari).
Dengan demikian alangkah baik bagi kita menghapal do'a diatas sebagai dzikir kita disaat lagi galau dan sedih, yang sesungguhnya dzikir itu mesti dilakukan setiap waktu baik lagi senang ataupun susah 👧 .
Sahabat... sesungguhnya Islam mengajarkan perkara-perkara yang hebat sebagai penjagaan untuk diri kita, agar kita tidak larut dalam kegalauan dan kesedihan agar kita tidak merasa susah... hanya barangkali kita sering menganggap perkara Islam itu ga penting karena hijaunya dunia menipu kita... atau karena kita sering merasa suci sehingga menganggap ga perlu petunjuk alquran... namun ga usah berputus asa sebab Allah itu maha luas ampunanNya, meskipun... kita sering mengkhianati-Nya , DIA berfirman :
Sahabat... sesungguhnya Islam mengajarkan perkara-perkara yang hebat sebagai penjagaan untuk diri kita, agar kita tidak larut dalam kegalauan dan kesedihan agar kita tidak merasa susah... hanya barangkali kita sering menganggap perkara Islam itu ga penting karena hijaunya dunia menipu kita... atau karena kita sering merasa suci sehingga menganggap ga perlu petunjuk alquran... namun ga usah berputus asa sebab Allah itu maha luas ampunanNya, meskipun... kita sering mengkhianati-Nya , DIA berfirman :
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
(Inna Robbaka waasi'ul maghfiroti Huwa a'lamu bikum idz annsya-akummminal ardli wa idz annntum ajinnnatunn fii buthuuni ummahaatikum, falaa tuzakkuu annnfusakum Huwa a'lamu bimanittaqoo)
“...Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”(Q.S. An Najm:32).
Sesungguhnya sangat banyak berita gembira dalam alQuran yang lebih patut dijadikan pengharapan untuk masa depan, sebab kesedihan dan kesenangan dunia sesungguhnya sangatlah singkat, sedangkan... kesedihan akhirat tiada terkira...dan kesenangan akhirat itu... kekal abadi.
Namun ada juga sih di saat seseorang lagi galau dan sedih, ia terkadang menghabiskan waktunya mendengarkan musik atau lagu yang sedih, tapi itu justru malah lebih mengaduk-aduk perasaan dan menambah kesedihan, maka sebaiknya jangan demikian. Melainkan justru kita harus mulai kembali menata diri dan menetapi perkara-perkara yang telah di turunkan Allah kepada Rasul-Nya, melaksanakan yang di fardlukan-Nya dan yang sunnah demi kebahagiaan kita dunia akhirat.
Namun ada juga sih di saat seseorang lagi galau dan sedih, ia terkadang menghabiskan waktunya mendengarkan musik atau lagu yang sedih, tapi itu justru malah lebih mengaduk-aduk perasaan dan menambah kesedihan, maka sebaiknya jangan demikian. Melainkan justru kita harus mulai kembali menata diri dan menetapi perkara-perkara yang telah di turunkan Allah kepada Rasul-Nya, melaksanakan yang di fardlukan-Nya dan yang sunnah demi kebahagiaan kita dunia akhirat.
Berikut beberapa perkara dan nasihat disaat lagi galau dan sedih yang penulis dapatkan dari beberapa sumber, semoga menjadi solusi yang baik, terimakasih kepada asatidz dan teman-teman yang senantiasa membimbing dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran :
1. Bertaubat dan kembali kepada keta'atan, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan meneladani Rasul-Nya.
2. Menjadi sahabat alQuran, dimulai dengan rajin membacanya, memahami dan mengamalkannya, sebab alQuran itu dapat menjadi obat bagi jiwa, yang menjadi sebab ketenangan dan kebahagiaan, sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
(wa nunazzilu minalQur´aani maa Huwa syifaa-un wa rohmatun lil mu´miniin)
“Dan Kami turunkan dalam AlQuran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..”(Q.S. al Isra : 82).
AlQuran itu menjadi obat dan penawar bagi yang jiwanya gelisah, sebagaimana yang diceritakan dalam suatu riwayat dimana suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullah saw yang bernama Ibnu Mas’ud r.a dan meminta nasihat, ia berkata : “ wahai Ibnu Mas’ud berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah, sebab dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tenteram, jiwaku selalu galau, gelisah tak menentu, dan pikiranku kusut, makan tak enak, tidurpun aku tak nyenyak”.
Maka Ibnu Mas’ud pun menasihatinya, ia berkata : “ Jika penyakit demikian itu yang menimpamu , bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yakni : 1. ketempat orang membaca alQuran, kau ikutlah baca alQuran atau engkau dengarkan, simak baik-baik orang yang membacanya, atau 2. Engkau pergi ke Majelis Pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah Ta'ala, atau 3. Engkau bisa cari waktu dan tempat yang sunyi, disana engkau bisa berkhalwat menyembah Allah, misalnya di waktu tengah malam, disaat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun dan kerjakan shalat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati. Namun seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara demikian, maka engkau mintalah kepada Allah, agar diberiNya hati yang lain, sebab hati yang kau punya itu bukan lagi hatimu”.
Setelah orang tersebut kembali kerumahnya, diamalkannyalah nasihat dari Ibnu Mas’ud tadi. Dia pergi mengambil air wudlu kemudian diambilnya alQuran, kemudian dia baca dengan hati yang khusyu’. Setelah selesai membaca alQuran berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang tenang dan tenteram, pikirannya kembali jernih, lalu kegelisahannya hilang sama sekali. (Silakan rujuk : Tafsir Ibnu Katsir).
Dari riwayat diatas dapat kita petik hikmah bahwa alQuran itu, dengan membacanya saja dapat menenteramkan jiwa, apalagi jika kita mempelajari lebih dalam makna dan kandungan alQuran kemudian mengamalkannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim :
وَعَن أَبِى هُرَيرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صل الله عليه وسلم : وَمَااجتَمَعَ قَومٌ فِى بَيتٍ مِن بُيُوت اللهِ يَتلُونَ كِتَابَ الله, وَيَتَدارَسُونَهُ بَينَهُم, إِلاَّنَزَلَت عَلَيهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتهُمُ الرَّحمَةُ, وَحَفَّتهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ الله ُ فِيمَن عِندَهُ. ( رواه مسلم )
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Tidak ada satu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan ketenangan (sakinah) turun kepada mereka, rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah pun menyebut-nyebut mereka pada malaikat yang ada pada sisiNya".
Akan tetapi statement diatas hanya berlaku bagi orang-orang yang mau beriman saja, sebab bagi orang-orang yang enggan beriman yaitu orang yang menganiaya dirinya sendiri dengan kekafirannya, mendengarkan alQuran tidaklah menambah kepadanya keimanan melainkan hanya bertambah jauh saja dari alQuran serta bertambah kekufuran dan bencana akibat dari kekafirannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S Al-Taubah :124-125 :
"dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira".
"Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit , Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam Keadaan kafir".
Oleh karena itu, mari kita ikhlashkan jiwa kita dalam mengimani alQuran, agar perjalan hidup kita di dunia ini senantiasa mendapatkan bimbingan-Nya.
3. Banyak memohon ampunan Allah (beristighfar), berdzikir setiap saat yang kita sanggup berdzikir diwaktu pagi dan petang, Firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
( Yaa ayyuhalladziina aamanudzkurullooha dzikron katsiiraa, wa sabbihuuhu bukrotan wa ashiilaa )
" Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”(Q.S. al Ahzab : 41-42).
Ya...karena dengan berdzikir maka jiwa akan menjadi tentram, demikian janji Allah Ta'ala :
“.. Ingatlah.. hanya dengan berdzikir kepada Allah.. hati akan senantiasa tenteram..” (Q.S: Al-Ra’d:28).
4. Memohon kepada Allah agar selalu diberikan hidayah dan keistiqomahan yang akan menjaga kita dari keburukan bisikan syaitan, keburukan hawa nafsu. Carilah waktu-waktu ijabah do’a seperti di sepertiga malam dan pada waktu sujud, pada akhir waktu setelah ashar di hari jum’at bahkan sepanjang hari jum'at, ketika waktu berbuka shaum, dan lain-lain.
Keistiqomahan seorang hamba diatas jalan Allah, inilah yang mengantarkannya kepada ketentraman jiwa, sebagaimana janji Allah :
إِنَّ الَّذِينَ قالُوا: رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقامُوا، فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ، وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, Maka tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati..." ".(Q.S. Al Ahqaf:13).
Sungguh orang-orang yang menghimpun menjadi satu diantara keimanan dan ketauhidan kepada Allah swt semata tanpa menyekutukan-Nya, dan ia istiqomah diatas syari'at Islam demi mencapai kebahagiaan jiwa dan raganya, maka mereka itu aman tenteram sentosa, tidak merasa susah karena khawatir akan masa depan, dan tidak juga bersedih meratapi yang telah lalu, dan mereka itu kekal selamanya dalam surga yang penuh kenikmatan.
Begitu mulyanya orang-orang yang istiqomah dijalan Allah, sehingga malaikat akan turun kepada mereka dan mengilhamkan sesuatu yang menyejukan jiwa dan menggembirakan hati, melenyapkan kekhawatiran serta mengusir kesedihan. Maka apalah lagi yang dibutuhkan ketika Allah swt telah memberikan kita ketenangan dan menghilangkan kecemasan?...
" Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka Istiqomah, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".(Q.S. Fushshilat:30).
5. Mulai mencari sahabat dekat, yakni bersahabat dengan orang-orang yang shalih, karena mereka adalah sebaik-baik penolong setelah Allah swt, karena nasihat-nasihat mereka dapat membantu untuk istiqomah dalam agama Allah, perhatikan langkah-langkah mereka dan bergabunglah dengan mereka di majelis-majelis ilmu, beribadahlah bersama mereka.
Ikutlah duduk di majelis-majelis orang yang shalih, sebagaimana Rasulullah saw telah mengisyaratkan tentang perumpamaan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang salah :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ، إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ، إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
" Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang buruk adalah seperti penjual parfum dengan pandai besi, boleh jadi sipenjual minyak wangi itu akan memberikannya kepadamu atau engkau membeli darinya atau engkau akan mendapatkan wanginya, sedangkan pandai besi percikannya bisa membakar bajumu atau paling tidak kamu akan mendapatkan bau bakarannya " (Shahih alBukhari).
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " «الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ» ". رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي " شُعَبِ الْإِيمَانِ " وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَالَ النَّوَوِيُّ: إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ.
Dan dari Abi Hurairah r.a ia berkata : Rasulullah saw bersabda : " Seseorang itu berada diatas agama teman dekatnya, maka hendaklah seseorang dari kalian perhatikan siapa yang dijadikan teman dekat " ( H.R Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan alBaihaqiy dalam "Su'abil Iman", Tirmidzi berkata : " Hadits ini hasan gharib, dan anNawawi berkata : Isnadnya shahih).
Benar kata 'ulama , sungguh tidak diragukan lagi, bahwa teman sejati yang shalih itu akan lebih mengokohkan, lebih kokoh daripada gunung, lebih kuat dari pada bangunan tinggi, tidak mungkin teman sejati itu menggoyahkan temannya dan melalaikan aqidahnya. Oleh karena itu pantas saja 'ulama salaf berkata : "Bersahabatlah dengan orang yang membangkitkan kondisimu dan perkataannya menunjukanmu kepada Allah " ( Lihat : صفات الداعية , hal 65).
6. Saat ini teknologi sudah semakin canggih dan mudah, berhati-hatilah dengan segala fasilitas tersebut. Manfaatkan waktu seefektif mungkin, disamping mengkaji keIslaman dengan asatidz dan teman-teman yang shalih , maka disaat sendirian dan luang gunakanlah amanat kemudahan tersebut dengan lebih banyak berdzikir dan menyimak streaming ataupun rekaman-rekaman kajian Islam dari para ‘ulama, karena didalamnya terdapat banyak faidah ilmu dan tuntunan akhlaq, juga banyak dibahas contoh-contoh perjalanan orang-orang yang shalih, dan jika mendapati keraguan dengan suatu penjelasan maka jangan sungkan untuk segera bertanya kepada asatidz di majelis ilmu, atau boleh juga membaca situs-situs Islami seperti anda sekarang sedang terdampar di blog ini J .
Demikian sahabat yang lagi galau dan sedih 😉 jangan berlarut-larut ya... dan sesungguhnya bagi seorang muslim, kesedihan dan kebahagiaan di dunia ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui dengan bersabar dan bersyukur, karena dunia bukan tempat bergembira selamanya, bukan pula tempat bersedih selamanya. Dan kita harus menyakini dengan iman sepenuh hati, bahwa Allah Ta'ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mustahil menzhalimi hamba-Nya. Dan apa saja yang menimpa diri kita, itu adalah karena perbuatan kita sendiri, akan tetapi Allah Ta'ala adalah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
(wa maa ashoobakummmimmmushiibatinn fabimaa kasabat aidiikum wa ya'fuu 'ann katsiir)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”(Q.S. asy Syuraa:30).
Merasa sedih dan galau memang sesuatu yang wajar dalam diri manusia, dan termasuk sikap yang positif jika merasa sedih dan khawatir terhadap kesalahan dan dosa sehingga cenderung akan memperbaiki diri, karena tiada satupun manusia yang tiada berdosa, sebagaimana terdapat dalam salah satu hadits :
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطّائِينَ التَوَّابُونَ
"Setiap keturunan Adam adalah berdosa, dan sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang bertaubat" [1] .
Walaupun hadits diatas terdapat kritikan, namun isinya dapat kita jadikan sebagai motivasi yang baik, yang cukup membangkitkan semangat bertaubat, dan sebaik-baik taubat adalah taubat nashuha :
" Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".(Q.S. AlTahrim:8).
Ada pula kesedihan yang terjadi bukan akibat dari perbuatan dosa, akan tetapi itu adalah ujian dari Allah Ta'ala, yakni kesedihan yang dialami oleh para Nabi dan Rasul serta orang-orang yang shalih, kita simak salah satu contoh dalam kisah alQuran :
وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
"dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai begitu dalam kesedihanku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena Kesedihan dan Dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)" (Q.S. Yusuf:84).
Lihatlah betapa berduka dan terlukanya Nabi Ya'qub terhadap apa yang menimpa yusuf akibat perbuatan anak-anaknya, namun Ya'qub as bersabar dan menahan diri dari murka kepada anak-anaknya sehingga menyebabkan matanya menjadi buta karena dalamnya kesedihan, meski kesedihannya begitu mendalam, Ya'qub bukanlah orang yang suka mengeluh dan berputus asa, melainkan beliau as tetap bersabar dan ta'at kepada Rabb nya, dan pada akhirnya Allah Ta'ala mengganti kesedihannya itu dengan kebahagiaan dan kesenangan, terlebih lagi kebahagiaan dan kesenangan akhirat.
Kesedihandan kegalauan di dunia hanyalah sementara, bagi orang-orang yang bersabar dan tetap istiqomah dalam keta'atan, Allah menjanjikan kebahagiaan dan kesenangan yang kekal kelak di akhirat. Demikian Allah Ta'ala dalam alQuran memberitakan kepada kita :
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
" dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan Kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri"(Q.S. Fathir:34).
Ibnu 'Abbas ra menjelaskan tentang ayat ini, bahwa mereka adalah satu kaum yang ketika didunia mereka itu takut kepada Allah, sehingga mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah, baik ketika sendiri ataupun berjama'ah, dan hati mereka merasakan kesedihan yang mendalam karena dosa-dosa yang telah mereka kerjakan dan mereka khawatir kesungguhan amal mereka tidak diterima yang akan menyebabkan mereka jatuh kedalam neraka. (Lihat : تفسير ابن أبي حاتم - محققا 10/ 3183)
Dengan demikian wahai sahabat, tiadalah mengapa kita merasa galau dan bersedih karena kesalahan dan dosa kita, namun hendaklah kita bersungguh-sungguh kembali bertaubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dengan memperbaiki diri dan meningkatkan amal shalih dan keta'atan kepada-Nya, semoga kita semua termasuk kedalam golongan hamba-hamba yang dihilangkan duka cita kita didunia dan akhirat...dikaruniai banyak kebahagiaan dan kegembiraan dunia dan akhirat...
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
Wahai Allah karuniakanlah sholawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu Muhammad saw dan kepada keluarga dan para sahabatnya semua
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Wahai Allah, sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kekikiran dan sifat pengecut dan dari lilitan hutang dan juga dari penindasan orang
Aamiin Yaa Mujiibassaailiin.
[1]. Imam Tirmidzi berkata : "Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits 'Ali bin Mas'adah". Sedangkan AlHakim berkata : "Shahih". Dan AdzDzahabi berkata :" Bahkan didalamnya terdapat kelemahan. Adapun Imam Bukhari mendha'ifkan 'Ali bin Mas'adah. (Lihat : فيض القدير 5/ 17).

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik