18.2.18

istitsna dalam bahasa arab
 Istitsna (pengecualian)
Oleh : Den Herians
Istitsna/mustatsna (المستثني / pengecualian) dalam bahasa arab, adalah lafazh yang disebutkan setelah إِلَّا  dan saudaranya, yaitu :
  غَيْرَ، سِوَى، حَاشَا، خَلَا، عَدَا، مَا خَلَا،  مَا عَدَا،  مَا حَاشَا، لَيْسَ، لَا يَكُوْنُ
Fungsinya untuk mengetahui bahwa lafazh mustastna (yang dikecualikan) tersebut tidak dihubungkan kepada lafazh-lafazh yang terkait dengan lafazh sebelumnya.
Dan mustatsna terdapat dua macam, yaitu :  Muttashil (متصل) dan Munqathi’ (منقطع).
1.     المتصل (Muttashil)
Yaitu yang dikecualikan/dikeluarkan dengan إِلَّا atau salah satu diantara saudaranya dari kelompok. Misalnya :
جَاءَنِي الْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا
" Kaum itu telah datang kepadaku kecuali Zaid"
Maka lafazh زَيْدٌ termasuk bagian dari الْقَوْم  , namun ia dikecualikan dari yang datang.
2.     المنقطع (Munqathi’)
Yaitu mustatsna yang disebutkan setelah إِلَّا atau salah satu dari saudaranya namun ia tidak termasuk dari yang diperhitungkan keberadaannya, karena tidak termasuk kepada mustatsna minhu.
Misalnya :
جَاءَنِي الْقَوْمُ إِلَّا حِمَارًا
" Kaum itu telah datang kepadaku kecuali Keledai"
Maka حِمَار bukanlah bagian dari الْقَوْم .
Adapun dari segi i’rab, mustatsna terbagi kepada empat bagian, yaitu :
1.     Mustatsna yang terletak setelah إِلَّا pada kalam mujab (kalimat positif), maka keadaannya manshub, sebagaimana contoh diatas pada mustastna muttashil.
Yang dimaksud Kalam Mujab (الكلام الموجب) adalah kalimat (jumlah) yang tidak terdapat unsur nafi (peniadaan/negasi), nahi (larangan), atau istifham (pertanyaan).
Demikian juga jika posisi istitsna didahulukan dari mustatsna minhu (yang dikecualikan darinya) pada kalam ghairu mujab (kalimat negatif), maka kedudukannya manshub. Sebagaimana contoh berikut:
مَا جَاءَنِيْ إِلَّا زَيْدًا أَحَدٌ
" Tiada yang datang kepadaku seorangpun kecuali Zaid"
Adapun i'rab mustatsna munqathi’, ia senantiasa manshub. Dan jika mustatsna terletak setelah خَلَاعَدَا, dan حَاشَا , juga manshub menurut madzhab kebanyakan ‘ulama.
Pun jika terletak setelah مَا خَلَا,مَا عَدَالَيْسَ, dan لَا يَكُوْنُ maka keadaannya senantiasa manshub. Contoh :
«جَاءَنِي الْقَوْمُ مَا خَلَا زَيْدًا» ، ومَا عَدَا زَيْدًا»
2.     Mustatsna yang terletak setelah إِلَّا pada kalam ghairu mujab (kalimat negatif), disebut mustatsna minhu juga, maka diperbolehkan padanya dua bentuk :
a.     Di nashab atas dasar istitsna,
b.     Sebagai Badal (pengganti) bagi yang sebelumnya. 
Misalnya dalam kalimat :
مَا  جَاءَنِيْ   أَحَدٌ    إِلَّا    زَيْدًا
atau :
مَا جَاءَنِيْ    أَحَدٌ    إِلَّا    زَيْدٌ
3.     الْمُستَثنَى الْمُفَرَّغُ (mustatsna mufarragh/yang kosong), yaitu mustatsna minhu selain yang disebutkan pada kalam ghair mujab, ia berbeda-beda dalam i’rabnya tergantung kebutuhan ‘awamilnya.
Misalnya :
مَا جَاءَنِي إِلَّا زَيْدٌ ، مَا رَأَيْتُ إِلَّا زَيْدًا ، مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ
Perhatikan lafazh Zaid diatas yang berbeda-beda i'rabnya, tergantung kebutuhan amil, ada yang perlu fa'il(subjek), ada yang perlu maf'ul bih (objek), ada yang majrur karena huruf jar.  
4.     Mustatsna yang terletak setelah lafazh غَيْرُسِوَى, dan  سِوَاءَmaka keadaannya majrur, begitu pula bila terletak setelah حَاشَا keadaannya majrur menurut madzhab yang terbanyak, dan sebagian madzhab membolehkan manshub.
Perhatikan contoh berikut :
 جَاءَنِي الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدٍ - سِوَى زَيْدٍ -  سِوَاءَ زَيْدٍ -  حَاشَا زَيْدٍ
Dan perlu diketahui disini bahwa i’rab lafazh غَيْرَ adalah sebagaimana i’rabnya mustatsna bi illa (إِلَّا) pada semua bentuk yang telah disebutkan diatas. Contohnya sebagaimana dalam perkataan:
«جَاءَنِي الْقَوْمُ غَيْرَ زَيْدٍ، وغَيْرَ حِمَارٍ»«مَا جَاءَنِيْ غَيْرَ زَيْدٍ الْقَوْمُ», «مَا جَاءَنِيْ أَحَدٌ غَيْرَ زَيْدٍ، وَغَيْرُ زَيْدٍ», «مَا جَاءَنِيْ غَيْرُ زَيْدٍ»«مَا رَأَيْتُ غَيْرَ زَيْدٍ»,«مَا مَرَرْتُ بِغَيْرِ زَيْدٍ»
Demikian pula halnya dengan سِوَى .
Dan perlu diketahui pula bahwa lafazh غَيْر dikelompokkan kepada sifat, dan terkadang digunakan untuk istitsna (pengecualian) sebagaimana halnya إِلَّا dikelompokkan bagi istitsna dan terkadang digunakan untuk sifat, seperti contoh pada Firman-Nya Ta’ala :
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا
yakni maksudnya : غَيْرُ اللهِ , demikian pula lafazh :
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Demikian secara ringkas mengenai Istitsna dalam Bahasa Arab
_______________________________________
Kembali ke :  Daftar Isi 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik