Alhamdulillah rampung sudah artikel Prinsip Dasar Kaidah Bahasa Arab, kali ini ane tulis kesimpulan dan ringkasannya dalam satu artikel ini sesuai dengan link yang ada di Daftar Isi. Semoga bermanfaat.
1.Dikelompokkan secara makna terdapat dua bentuk yaitu : Mufrad (مُفْرَدٌ) dan Murakkab (مُرَكَّبٌ).
2. Adapun Murakkab yaitu : Jumlah (جُمْلَةٌ), Kalam (كَلَامٌ), Murakkab Idhofi (مُرَكَّبٌ إِضَافِيٌّ), Murakkab Taushifi (مُرَكَّبٌ تَوْصِيْفِيٌّ), Murakkab Imtizaji (مُرَكَّبٌ اِمْتِزَاجِيٌّ).[1]
3. Sedangkan Mufrad dinamai dengan kalimat [2] (كَلِمَةً), yaitu Isim (اِسْمٌ), Fi’il (فِعْلٌ) dan Huruf (حَرْفٌ).
4. Isim terbagi dua : Mu’rab (مُعْرَبٌ) dan Mabni (مَبْنِيٌّ).
5. Mu’rab terbagi tiga : Marfu’ (مَرْفُوْعٌ), Manshub (مَنْصُوْبٌ), Majrur (مَجْرُوْرٌ).
6. الْمَرْفُوْعُ (Marfu’) yaitu : Fa’il, Maf’ul yang tidak disebut fa’ilnya (naibul fa’il), Mubtada', Khabar Mubtada', khabar Inna dan saudaranya (خَبْرُ إِنَّ وَأَخْوَاتِهَا), Isim Kana dan saudaranya (اِسْمُ كَانَ وَأَخْوَاتِهَا), Khabar la nafiyatuliljinsi (خَبْرُ لَا الَّتِيْ لِنَفْيِ الْجِنْسِ), Isim Ma dan La (Inna dan Laata ) yang bermakna laisa (اِسْمُ مَا وَلَا [وَإِنَّ وَلَاتَ] بِمَعْنَى لَيْسَ).
7. الْمَنْصُوْبُ (Manshub) yaitu : Maf’ul Muthlaq, Maf’ul Bih, Maf’ul Fiih, Maf’ul Lah, Maf’ul Ma’ah , Hal, Tamyiz, AlMustatsna, Isim Inna dan saudaranya, Khabar Kana dan saudaranya, Isim La Nafiyatuliljinsi jika menjadi mudhaf atau syibhulmudhaf, Khabar Inna dan Maa (La dan Lata) yang bermakna laisa.
8. الْمَجْرُوْرُ (Majrur) : Majrur dengan Mudhaf, dan Isim yang dimasuki huruf diantara huruf-huruf jar. Dan terdapat pula tawabi’ untuk tiap-tiap yang marfu’, manshub, dan majrur mengenai keadaan i’rabnya, adapun tawabi’ ada lima, yaitu : na’at, taukid, ma’thuf dengan huruf ‘athaf, badal, dan ‘athaf bayan.
9. الْمَبْنِيُّ (Mabni) : Dhamir-dhamir, Isim Isyarah, Isim Maushul, Kinayah, Isim fi’il, Isim Aswat (bunyi), dan juga sebagian dari Zharaf.
10. Selanjutnya Isim itu terbagi dua : Mustaq (مُشْتَقٌّ) dan Jamid (جَامِدٌ).
11. Mustaq yaitu : Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Sifat Musyabahah, Isim Tafdhil, Isim Zaman, Isim makan, dan Isim Alat.
12. Jamid yaitu : yang selain dari mustaq, seperti mashdar dan lainnya.
13. الْفِعْلُ (Fi’il), yaitu : Madhi, Mudhari’, Amr, Amr tanpa lam ,dan Nahyi ( yaitu fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amri dan lam nahyi).
14.Fi’il Madhi dan Fi’il Amr yang tanpa lam , keduanya mabni, dan selain dari nya mu’rab. Dan fi’il mudhari’ itu marfu’jika kosong dari amil nashab dan amil jazm, dan majzum jika ada amil jazm kemudian manshub jika ada amil nashab. Akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan huruf. Adapun Amr tanpa lam dan nahyi maka keduanya senantiasa majzum ( sebab lam amri dan lam nahyi termasuk kepada yang menjazemkan fi’il mudhari’.
15. Fi’il itu ada yang lazim dan ada yang muta’addi.
16. اللَّازِمُ (Lazim) yaitu fi’il yang tidak memerlukan maf’ul bih.
Misalnya : جَاءَ وَقْتُ الصَّلَاةِ : " Waktu sholat telah tiba".
17. الْمُتَعَدِّيُّ (Muta’addi) yaitu fi’il yang memerlukan maf’ul, dan terdapat tiga macam, yakni :
a) Yang memuta’addikan satu maf’ul.
Misalnya : ضَرَبَ
b) Yang memuta’addikan dua maf’ul.
Misalnya : عَلِمَ, أَعْطَى
c) Yang memuta’addikan tiga maf’ul.
Misalnya : أَعْلَمُ
18. الْحُرُوْفُ (Huruf) : Ada huruf-huruf yang beramal (‘amil) dan tidak beramal (ghairu ‘amil).
19. Huruf-huruf yang beramal ( الْعَامِلَةُ ):
1. حُرُوْفُ الْجَرِّ (Huruf Jar), ada 17 (bahkan 20) macam , yaitu :
اَلْبَاءُ، وَالتَّاءُ، وَالْكَافُ، وَاللَّامُ، وَالْوَاوُ، وَمُذْ، وَمُنْذُ، وَخَلَا، وَعَدَا، وَرُبَّ، وَحَاشَا، وَمَنْ، وَعَنْ، وعَلَى، وَحَتَّى، وَفِيْ، وَإِلَى، [وَكَيْ، وَلَعَلَّ، وَمَتَى فِيْ لُغَةٍ] .
2. النَّوَاصِبُ لِلْفِعْلِ الْمُضَارِعِ (yang menashabkan fi’il mudhari’), yaitu ada 4 : أَنْ، لَنْ، كَيْ ، إِذَنْ .
3. الْجَوَازِمُ لِلْمُضَارِعُ (yang menjazmkan fi’il mudhari’), ada 5 :
إِنْ ، لَمْ، لَمَّا، لَامُ الْأَمْرِ، لَا النَّهْي ِ [وَأَدَوَاتُ الشَّرْطِ الْجَازِمَةُ] .
4. Huruf-huruf Musyabbih yang menashabkan isim dan merafa’kan khabar, yaitu :
إِنَّ، أَنَّ، كَأَنَّ، لَكِنَّ، وَلَيْتَ، لَعَلَّ
5. Huruf-huruf nida' yang menashabkan munada' mudhaf, musyabbih bilmudhaf dan nakirah maksudah. Yaitu ada 5 :
يَا، إِيَّا، هَيَا، أَيْ، الْهَمْزَةُ
6. لَا النَّافِيَّةُ لِلْجِنْسِ (La nifiyah liljinsi) dan مَا, لَا, dan ( إِنَّ وَلَاتَ ) yang bermakna laisa.
20. Huruf-huruf yang tidak beramal (غَيْرُ الْعَامِلَةِ):
1. Huruf ‘athaf :
اَلْوَاوُ ، الْفَاءُ، ثُمَّ، حَتَّى، أَو، إِمَّا، أَمْ، لَا، بَلْ ، لَكِنْ
2. Huruf Tanbih : أَلَا، هَا .
3. Huruf jawab : نَعَم، وَبَلَى، وَأَيْ، وَأَجَلْ، وَجَيْرُ، وَإِنَّ.
4. Huruf tafsir : أَيْ، وَإِنْ .
5. Huruf tahdid : هَلَّا، وَأَلَّا، وَلَوْلَا، وَلَوْمَا , dan fi’il yang tetap secara lafazh dan taqdirnya.
6. Huruf tawaqqu’, yaitu قَدْ.
7. Huruf istifham : اَلْهَمْزَةُ، هَلْ .
8. Harfu ar-rad’i : كَلَّا,dan قَدْ yang bermakna haq.
9. Demikian pula :
مَا الْمَصْدَرِيَّةُ، وَإِنْ، وَلَوْ، وَإِمَّا لِلشَّرْطِ
21.Ta Ta'nits : Sakinah yang berada di akhir fi’il madhi dan Mutaharikat yang berada diakhir isim.
22. Tanwin : Nun sakinah yang mengikuti harakat akhir namun bukan sebagai taukidnya fi’il dan nun taukid khafifah atau musyaddadah yang khusus dengan fi’il yang masuk pada amr, nahyi, istifham, tamanni, ardhi, dan qasam.
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya jumlah [3] itu terbagi 4 bentuk, yaitu : Ismiyah (اسمية), Fi’liyah (فعلية), Zharfiyah (ظرفية), dan Syarthiyah (شرطية).
a) Jumlah Ismiyah yaitu kalimat yang tersusun dari mubtada' dan khabar,
Misalnya : زَيْدٌ قَائِمٌ : " Zaid berdiri".
b) Jumlah Fi’liyah yaitu kalimat yang tersusun dari fi’il dan fa’ilnya,
Misalnya : قَامَ زَيْدٌ : "Zaid telah berdiri".
c) Zharfiyah yaitu kalimat yang tersusun dari zharaf (kata keterangan) dan mazhruf (yang dikondisikan).
Misalnya : عِنْدِيْ مَالٌ : "aku mempunyai harta".
d) Syarthiyah yaitu kalimat yang tersusun dari syarat dan jawab.
Misalnya : إِنْ تُكْرِمْنِيْ أُكْرِمُكَ : " Jika engkau memulyakanku maka aku pun memulyakan mu".
Adapaun karakteristik Jumlah, terdapat 9 macam, yaitu:
1. الْمُبَيَّنَةُ (Mubayyanah) yaitu : Jumlah (kalimat) permulaan yang menerangkan secara umum.
Misalnya :
اَلْكَلِمَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: اِسْمٌ، وَّفِعْلٌ، وَّحَرْفٌ
"Kata itu terbagi 3 macam, yaitu : Isim, Fi’il, dan huruf ".
2. الْمُعَلِّلَةُ (Mu’allilah) yaitu jumlah yang menjelaskan penyebab terhadap jumlah sebelumnya.
Misalnya pada Sabda Rasulullah saw :
"Janganlah kalian shaum pada hari ini, karena hari ini harinya makan dan minum dan harinya para suami"
3. الْمُعتَرِضَةُ (Mu’taridhah)[5] : Jumlah yang terletak diantara dua pembicaraan tanpa ada keterkaitan makna diantara keduanya.
Misalnya :
قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ: اَلنِّيَّةُ فِي الْوُضُوْءِ لَيْسَتْ بِشَرْطٍ
Abu Hanifah Rahimahullah berkata : "Niat dalam berwudhu itu tidak termasuk syarat".
4. الْمُستَأنِفَةُ (Musta'nifah/sisipan)[6], yaitu semisal jumlah yang menjelaskan atas pertanyaan orang yang bertanya. Misalnya :
لِمَ رَفَعْتَ زَيْدًا؟ لِأَنَّهُ فَاعِلٌ!
"Kenapa engkau merafa’kan lafazh Zaid?" ," karena dia itu fa’il!".
5. النَّتِيجِيَّةُ (Natijiyyah) yaitu jumlah yang dihasilkan dari pembicaraan sebelumnya. Contoh :
اَلْجَزْمُ مُخْتَصٌّ بِالْأَفْعَالِ وَالْخَفْضُ مُخْتَصٌّ بِالْأَسْمَاءِ، فَلَيْسَ بِالْأَفْعَالِ خَفْضٌ وَّلَا فِي الْأَسْمَاءِ جَزْمٌ
"Jazm itu dikhususkan dengan fi’il-fi’il dan khafadh dikhususkan dengan isim-isim, maka khafadh tidak berada pada fi’il-fi’il dan jazm tidak berada pada isim-isim".
6. الِابتِدَائِيَّةُ (Ibtidaiyyah) yaitu jumlah yang terletak pada awal pembicaraan. Misalnya :
اَلْكَلِمَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ
"Kalimat itu terbagi tiga bentuk".
7. الْمَقطُوعَةُ (Maqthu’ah) yaitu jumlah yang terjadi tanpa keterkaitannya dengan lafazh yang terbentuk dengan bilangan.
Misalnya :
اَلْبَابُ الثَّانِيْ فِي الْعَوَامِلِ اللَّفْظِيَّةِ الْقِيَاسِيَّةِ
" Bab yang kedua mengenai ‘amil-‘amil lafzhiyah qiyasiyyah".
8. الحَالِيَّةُ (Haliyyah) yaitu jumlah yang menempati hal (menerangkan keadaan).
Misalnya :
جَاءَنِيْ زَيْدٌ وَأَبُوْهُ رَاكِبٌ
Telah datang kepadaku Zaid dan bapaknya yang berkendaraan.
9. الْمَعطُوفَةُ (Ma’thufah) yaitu jumlah yang di ‘athafkan (di ikutkan) kepada pembicaraan sebelumnya, mengenai ini cukup banyak dijelaskan dalam istilah bahasa arab.
____________________
1. Mubtada dan khabarnya senantiasa marfu’.
Contoh : زَيْدٌ قَائِمٌ.
2. Fa’il itu marfu’ dan maf’ul bih manshub.
Contoh : ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا.
3. Maf’ul yang tidak disebut fa’ilnya marfu’.
Contoh : ضُرِبَ زَيْدٌ.
4. كَانَ, صَارَ, أَصْبَحَkemudian مَا dan لَا yang menyerupai لَيْسَ dan saudaranya, mereka ini merofa’kan isim dan menashabkan khabar.
Contoh : كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا.
5. إِنَّ,أَنَّ,لَكِنَّ,لَيْتَ, an لَعَلَّ , ini menashabkan isim dan merofa’kan khabar.
Contoh : إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ.
6. Hal (الحال) manshub.
Contoh : جَاءَنِيْ زَيْدٌ رَاكِبًا.
7. Zharaf zaman dan makan manshub.
Contoh : خَرَجْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ, قُمْتَ خَلْفَكَ.
8. Tamyiz, juga manshub.
Contoh : جَاءَنِيْ عِشْرُوْنَ رَجُلًا.
9. Isim la nafiyah lil jinsi jika keadaannya nakirah yang tidak menjadi mudhaf, maka ia mabni fi mahalli nashbin.
Contoh : لَا رَجُلَ فِي الدَّارِ.
10. Demikian pula AlMustatsna dari kalam yang mutsbit adalah manshub.
Contoh : جَاءَنِي الْقَوْمُ إِلَّا زَيْدً.
11. AlMustatsna dari kalam yang munfi, boleh padanya marfu’ atas badal dan boleh manshub atas istitsna.
Contoh : مَا جَاءَنِي الْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ, dan boleh زَيْدًا.
12. Munada mufrad di dhammah tanpa tanwin.
Contoh : يَا بَكْرُ . Dan munada mudhaf manshub tanpa tanwin. Contoh : يَا عَبْدَ اللهِ.
13. Huruf-huruf jar menjarkan isim.
14. Huruf-huruf qasam menjarkan isim.
Contoh : وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا .
15. Mudhaf ilaih itu majrur.
Contoh: غُلَامُ زَيْدٍ.
16. Terdapat empat macam i’rab yang mengikuti i’rab sebelumnya, yaitu:
1. Sifat
contoh : جَاءَنِيْ زَيْدٌ الْعَاقِلُ
2. ‘Athaf
contoh: جَاءَنِيْ زَيْدٌ وَّعَمْرٌو
3. Ta'kid
contoh: قَامَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ
4. Badal
contoh: قَامَ زَيْدٌ عَمُّكَ.
17. Saling menyesuaikan antara sifat dan maushuf merupakan syarat, dalam hal i’rabnya, ma’rifat dan nakirahnya, mudzakar dan mu'annatsnya, mufrad, mutsanna, dan jamaknya.
18. Ma’rifat adalah sesuatu yang sudah tertentu, yaitu ada 5 bentuk:
1. Isim ‘Alam.
2. Dhamir.
3. Isim Isyarah.
4. Yang dima’rifatkan dengan alif lam.
5. Yang disandarkan (diidhafatkan) kepada salah satu dari yang empat tersebut diatas.
19. Nakirah yaitu sesuatu yang masih umum.
20. Yang asal dalam i’rab adalah dengan harakat.
21. Adapun i’rab mutsanna dan jamak salim yaitu dengan huruf.
22. Mutsanna tanda rofa’nya dengan alif dan nun.
Contoh: جَاءَنِيْ الزَّيْدَانِ.
Kemudian nashab dan jar nya dengan ya.
Contoh: رَأَيْتُ الزَّيْدَيْنِ, مَرَرْتُ بِالزَّيْدَيْنِ
Adapun jamak tanda rofa’nya dengan wawu dan nun.
Contoh : جَاءَنِي الزَّيْدُوْنَ
nashab dan jar nya dengan ya dan dikasrah huruf yang sebelum ya.
Contoh: رَأَيْتُ الزَّيْدِيْنَ , مَرَرْتُ بِالزَّيْدِيْنِ
23. Nun pada mutsanna dikasrah, adapun pada jamak di fathah. Dan kedua nun tersebut hilang bila diidhafatkan. Contoh : غَلَامَاكَ , بَنُوْكَ
24. I’rab isim yang lima (asmaul khomsah) mudhaf kepada selain ya mutakallim tanpa perantaraan kata sambung (huruf), yaitu dengan wawu tanda rofa’nya, dengan alif tanda nashabnya, dengan ya tanda jarnya.
Yaitu : أَبُوْكَ، وأُخُوْكَ، وحَمُوْكَ ، وفَوْكَ، وذُوْ مَالٍ
Contoh : جَاءَنِي أَبُوْكَ, رَأَيْتُ أَبَاكَ, مَرَرْتُ بِأَبِيْكَ, dst.
25. Isim Mutamakkin dan fi’il mudhari’ adalah mu’rab, adapun selain keduanya mabni.
26. Fi’il-fi’il ditinjau dari segi waktu terdapat tiga macam, yaitu :
1. Fi’il madhi, ia mabni atas fathah. Contoh : قَامَ.
2. Fi’il mudhari’, ia mu’rab. Marfu’ bila tidak ada yang memasukinya dari amil nashab atau amil jazm.
3. Fi’il amr, ia itu jazm
1. المركب الإضافي (Murakkab Idhafi) : kalimat yang tersusun dari mudhaf dan mudhaf ilaih.
Misalnya : خَاتَمُ فِضَّةٍ، كِتَابُ التِّلمِيذِ
2. المركب البياني (Murakkab Bayani), yaitu setiap dua kata yang kata keduanya menjelaskan kata yang pertama. Murakkab ini terbagi 3 macam, yaitu :
a) مركب وصفي (Murakkab Washfi),yaitu kalam yang tersusun dari sifat dan maushuf .
Misalnya : أَكرَمتُ التِّلمِيذَ الْمُجتَهِدَ
b) مركب توكيدي (Murakkab Taukidi),yaitu kalam yang tersusun dari yang ditegaskan (الْمُؤَكَّدُ) dan yang menegaskan(الْمُؤَكِّدُ).
Misalnya : جَاءَ القَومُ كُلُّهُم
c) مركب بدلي (Murakkab Badali),yaitu kalam yang tersusun dari badal dan mubdal minhu. Misalnya : جَاءَ خَلِيلٌ أَخُوكَ
3. المركب العطفي (Murakkab ‘Athfi), yaitu kalam yang tersusun dari ma’thuf dan ma’thuf ilaih dengan perantaraan huruf ‘athaf. Misalnya :
يَنَالُ التِّلمِيذُ وَالتِّلمِيذَةُ الحَمدَ وَالثَّنَاءَ إِذَا ثَابِرًا عَلَى الدَّرسِ وَالإِجتِهَادِ
4. المركب المزجي (Murakkab ‘Mazji),
misalnya : بَعلَبَكَّ، سِيبَوَيهِ، بَيتُ لَحمِ
5. المركب العددي (Murakkab ‘Adadi), yaitu setiap dua bilangan yang diantara keduanya terdapat huruf ‘athaf yang diperkirakan, yaitu dari bilangan 11 sampai dengan 19 .
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ شَيْبَةَ, قَالَ: ثَنَا رَوْحٌ , قَالَ: ثَنَا مُوْسَى بْنُ عُبَيْدَةَ, قَالَ: أَخْبَرَنِي الْمُنْذِرُ, عَنْ عَمْرِو بْنِ خَالِدَةَ الزُّرَقِيِّ, عَنْ أُمِّهِ, قَالَتْ: بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِيْ أَوْسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ, يُنَادِيْ فِي النَّاسِ: «لَا تَصُوْمُوْا فِيْ هَذِهِ الْأَيَّامِ, فَإِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَّشُرْبٍ وَّبِعَالٍ»
[5]. Mu’taridhah yaitu jumlah(kalimat) yang menunjukkan diantara dua hal yang tidak dapat dipisahkan demi faidah kalam (pembicaraan) sebagai penguat, menegaskan dan membaguskan, sebagaimana yang nampak antara mubtada' khabar, fi’il dan fa’ilnya, fi’il dan maf’ulnya, hal dan shahibulhalnya, syarat dan jawabnya, sifat dan mausufnya, huruf jar dan yang terhubung dengannya,serta qasam dan jawabnya. Misalnya :
وَقَد أَدرَكتَنِى وَالحَوَادِثُ جَمَّة ... أسِنَّةُ قَومٍ لَا ضِعَافٌ وَلَا عُزْلٌ
[نقله ابن عبد ربه الأندلسي في «العقد الفريد» (6/ 46)]
[6] . Musta'nifah yaitu jumlah yang terletak ditengah-tengah kalam yang menyela kalam sebelumnya untuk melanjutkan pembicaraan baru. Seperti Firman-Nya Ta’ala : [القرآن الكريم، سورة النحل (16): 3] خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ , maka jumlah تَعَالَى adalah isti'nafiyah.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik