Huruf-huruf yang tidak beramal
(tidak menjadi ‘amil)
Oleh : Den Herians
Yang dimaksud huruf yang tidak beramal adalah huruf yang tidak menjadi amil yakni huruf yang tidak mempengaruhi / merubah kata setelahnya, Yaitu terdapat 16 kategori, yakni :
1. حُرُوفُ التَّنبِيهِ
(peringatan/perhatian), yaitu :
2. حُرُوفُ الإِيجَابِ
(jawaban), yaitu ada enam :
3. حُرُوفُ التَّفسِيرِ
(tafsir/penjelasan), yaitu ada dua : أَيْ dan أَنْ ,
seperti Firman-Nya :
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
" dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim" (Q.S.AshShaaffat:104).
4. الحُرُوفُ الْمَصدَرِيَّةُ
(huruf mashdariyah), yaitu ada tiga :
مَا، أَنْ، أَنَّ .
5. حُرُوفُ التَّحضِيضِ
(Anjuran), yaitu ada empat :
أَلَّا،هَلَّا، لَوْلَا،لَوْمَا [4]
6. حَرفُ التَّوَقُّعِ
(kepastian), yaitu : قَدْ , untuk memastikan kejadian yang telah lalu (litahqiiqilmadhi) atau dekatnya peristiwa, jika masuk kepada fi’il madhi. Dan untuk menunjukkan jarang jika masuk pada fi’il mudhari’.
7. حُرُوفُ الِاستِفهَامِ
8. حَرفُ الرَّدعِ
(menyangkal), yaitu كَلَّا yang maknanya : الْمَنعُ وَالزَجرُ (mencegah dan memperingatkan). Dan huruf ini juga menunjukkan kepada makna 'sesungguhnya', seperti Firman-Nya Ta’ala :
9. التَّنوِينُ
(tanwin), yaitu ada lima bagian :
a. التَّمكِنُ (tanwin tamkin), misalnya : زَيْدٌ.
b. التَّنكِيرُ (tanwin tankir), misalnya : صَهٍ ,
maksudnya:
أُسْكُتْ سُكُوْتًا مَّا فِيْ وَقْتٍ مَّا
"diamlah diam sejenak". Adapun صَهْ tanpa tanwin, maka maknanya : اُسْكُتِ السُّكُوْتَ الْآنَ : "diamlah sekarang juga".
c. العِوَضُ (tanwin ‘iwadl), misalnya : يَوْمَئِذٍ.
d. الْمُقَابَلَةُ (tanwin muqabalah), misalnya : مُسْلِمَاتٌ.
e. التَّرَنُّمُ (tanwin tarannum),yaitu yang berada pada akhir bait-bait syair. Seperti perkataan Jarir:
أَقِلِّي اللَّوْمَ عَاذِلُ وَالْعِتَابْ... وَقُوْلِيْ إنْ أَصَبْتُ لَقَدْ أصَابَنْ
10. نُونُ التَّأكِيدِ فِي آخِرِ الْمُضَارِعِ
(Nun taukid di akhir fi’il mudhari’), baik tsaqilah maupun khafifah. Misalnya : اِضْرَبَنَّ , اِضْرِبَنْ .
11. حُرُوفُ الزِّيَادَةِ
(huruf-huruf tambahan), ada delapan yaitu :
إِنْ، أَنْ، مَا، لَا، مِنْ، الْكَافُ، الْبَاءُ، اللَّامُ
(Empat yang akhir telah disebutkan dalam huruf-huruf jar).
12. حُرُوفُ الشَّرطِ
(huruf-huruf syarat), ada dua yaitu : أَمَّا dan لَوْ [7]. Huruf أَمَّا li-tafshil (merinci) wajib masuk huruf ف sebagai jawabnya, seperti Firman-Nya:
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ. فَأَمَّا الَّذِيْنَ شَقُوْا فَفِي النَّارِ ... وَأَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِي الْجَنَّةِ [8]
Dan لَوْ diungkapkan untuk menunjukkan ketiadaan kedua hal, yang awalnya pun memang tiada/tidak terjadi. Misalnya pada Firman-Nya Ta’ala :
لَوْ كَانَ فِيْهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa".[9]
13. لَوْلَا
yaitu diungkapkan bagi ketiadaan dua hal untuk menunjukkan adanya yang awal. Misalnya :
لَوْلَا عَلِيٌ لَهَلَكَ عُمَرُ
"Seandainya tidak ada ‘Ali, pastilah ‘Umar binasa ".[10]
14. اللَّامُ الْمَفتُوحَةُ
(Huruf lam yang di fathah), yaitu للتأكيد (sebagai taukid). Misalnya :
لَزَيْدٌ أَفْضَلُ مِنْ عَمْرٍو
15. مَا yang bermakna مَا دَامَ , yaitu mashdariyah zharfiyah. Misalnya :
أَقُوْمُ مَا جَلَسَ الْأَمِيْرُ
16. حُرُوفُ العَطفِ
(huruf-huruf ‘athaf), yaitu ada sepuluh :
الْوَاوُ، الْفَاءُ، ثُمَّ، حَتَّى، إِمَّا، او، أَمَّ، لَا، بَلْ، لَكِنْ
Itulah beberapa huruf-huruf yang tidak beramal, maka kalimat (kata) setelah huruf-huruf tersebut berada dalam kondisi asalnya, sedangkan huruf athaf , maka kalimat (kata) setelahnya tergantung kondisi kalimat sebelumnya, baik marfu, manshub ataupun majrurnya.
Kembali ke : Daftar Isi
[1]. Dan diantara yang termasuk huruf tanbih yaitu : يَا jika tidak masuk kepada munada, seperti masuknya huruf ini kepada ليت dan رب termasuk huruf,
contohnya :
يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الآخِرَةِ
"betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia namun telanjang di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan) ". (shahih Bukhari)
[أخرجه البخاري في «الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه = صحيح البخاري» (2/ 49 - 50) (رقم: 1126)
[2] . Dan termasuk diantaranya juga : كلا dan لا , dan kedua-duanya digunakan sebagai nafi jawab (tanggapan atas pengingkaran). Dan كلا diantaranya berfaidah sebagai penentangan atas nafi, yaitu menentang lawan bicara dan memperingatkannya, dikatakan kepada orang yang mereka-reka suatu keburukan terhadap anda dan hendak memperdaya dengan kepentingannya.
[3] . Sebagaimana telah diketahui bahwa أَنَّ masuk pada jumlah ismiyah yakni menashabkan mubtada' dan merafa’kan khabar dan mashdarnya di ta'wil darinya.
Misalnya :عَلِمْتُ مُحَمَّدًا نَاجِحٌ
(Saya tahu Muhammad adalah orang yang sukses),
kemudian dita'wil mashdar, yang maknanya yaitu: عَلِمْتُ نَجحَا مُحَمَّدٍ (Saya tahu kesuksesan Muhammad).
Dan diantara yang termasuk huruf mashdariyah juga adalah لَوْ yang kebanyakan terletak setelah وَدَّ dan يَوَدُّ, seperti Firman-Nya Ta’ala : وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ (Q.S: AlQalam:9),
kemudian Firman-Nya : يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ (Q.S: AlBaqarah:96), Namun terkadang terletak pula setelah kalimat yang selain وَدَّ dan يَوَدُّ , seperti perkataan Qutailah :
مَا كَانَ ضَرُّكَ لَو مَنَّنتَ فَرُبمَا ...مِنَ الْفَتَى وَهُوَ المُغِيظُ المُحنَقُ
(Perkataan Qutailah binti Nadhr bin alHarits, sebagaimana alJarawiy menukilnya dari : الحماسة المغربية: مختصر كتاب صفوة الأدب ونخبة ديوان العرب» (1/ 99) (رقم 40)] ). Kemudian كَيْ , misalnya : إِرْحَمِ النَّاسَ لَكَيْ تُرْحَمَ. Kemudian همزة التسوية (hamzah tashwiyah), seperti Firman-Nya Ta’ala: سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ (Q.S: AlBaqarah:6) yang secara taqdirnya yaitu : سَوَاءٌ عَلَيهِم إِنذَارُكَ وَعَدَمُهُ . Dan الذي pada Firman-Nya Ta’ala: وَخُضْتُمْ كَالَّذِيْ خَاضُوْا (Q.S: AlTaubah : 69), yakni : كَخَوضِهِم.
[4] . Termasuk huruf tahdid yaitu أَلَا , contoh; Firman-Nya Ta’ala : أَلَا تُحِبُّوْنَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ: " Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? "(Q.S. AnNuur:22)
[5] . «مَا» الاستفهامية(Ma Istifham) sebenarnya bukanlah huruf akan tetapi ia adalah isim yang mabni yang mempunyai kedudukan dalam i’rab, diperhitungkan kedudukannya dalam jumlah (kalimat), contoh : مَا اسْمُكَ , maka مَا adalah isim yang mengandung makna huruf fi mahalli raf’in mubtada'un’/ dalam kedudukan rofa’ sebagai mubtada’ (في محل رفع مبتدأ).
[7] . Termasuk diantara huruf-huruf syarat yaitu : إِنْdan إِذْمَا , kedua huruf ini beramal (sebagai ‘amil). Kemudian لَوْ, لَوْلَا,dan لَوْمَا , huruf-huruf ini tidak beramal (tidak menjadi ‘amil). Contoh :
إِن تَجهَد تَنجَح، إِذ مَا تَدرِس تَنجَح، لَو جِئتَ لَأَكرَمتُكَ، لَولَا رَحمَةُ اللهِ لَهَلَكَ النَّاسُ، لَومَا الكِتَابَةُ لَضَاعَ أَكثَرُ العِلمِ .
Adapun huruf إِن dan إِذمَا menjazemkan fi’il mudhari’.
[10] . Ibnu ‘Abdul bar telah meriwayatkannya dalam kitab: الاستيعاب في معرفة الأصحاب (3/ 1103) Mengenai seorang perempuan hamil yang mengaku telah berzina datang kepada ‘Umar ibnul Khaththab r.a, kemudian Khalifah memerintahkan supaya dia dilempar dengan batu, kemudian ‘Ali r.a menghalanginya,
ia berkata: تُرجَمُ الزِّنَا بَعدَ وَضعِ الحَملِ : "Seorang pezina itu dirajam setelah selesai hamilnya!". Kemudian ‘Umar mengatakan perkataan tersebut.
Contoh yang semisal: لَولَا رَحمَةُ اللهِ لَهَلَكَ النَّاسُ : "Jika bukan karena Rahmat Allah pasti semua manusia binasa".

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik