10.2.18

pict.penjelasan tawabi

Penjelasan Mengenai  Tawabi’
التوابع )
Oleh : Den Herians
          Sebagaimana diketahui bahwa tabi’ (التابع) adalah setiap lafazh berikutnya yang di i’rab dengan i’rab lafazh sebelumnya, dan dinamakanlah lafazh yang sebelumnya itu matbu’ (متبوعا). Adapun hukumnya adalah senantiasa mengikuti/menyesuaikan matbu’ dalam i’rabnya.      
Tawabi' terbagi 5 bagian, yaitu :
1.     الصفة (Sifat), yaitu tabi’ yang menunjukkan atas makna matbu’.
Misalnya :
جَاءَنِيْ رَجُلٌ عَالِمٌ
Atau yang dikaitkan kepada matbu’, misalnya :
جَاءَنِيْ رَجُلٌ حَسَنٌ غُلَامُهُ، أو أَبُوْهُ
Adapun sifat yang menunjukan kepada makna matbu’, ia mengikuti matbu’nya pada sepuluh macam, yaitu :
التَّعرِيفُ،  وَ التَّنكِيرُ،  وَ التَّذكِيرُ،  وَ التَّأنِيثُ،  وَ الإِفرَادُ،  وَ التَّثنِيَّةُ،  وَ الجَمعُ،  وَ الرَّفعُ،  وَ النَّصبُ،  وَ الجَرُّ.
(ma’rifat nakirahnya, mudzakar mu'annatsnya, mufrad mutsanna dan jama’ nya, rafa’ nashab dan jarnya) Misalnya :
عِنْدِيْ رَجُلٌ عَالِمٌ،  ورَجُلَانِ عَالِمَانِ،  ورِجَالٌ عَالِمُوْنَ،  واِمْرَأَةٌ عَالِمَةٌ،  واِمْرَأَتَانِ عَالِمَتَانِ،  ونِسْوَةٌ عَالِمَاتٌ
Dan sifat yang menunjukan atas makna yang dikaitkan dengan matbu’nya  dinamakan na’at sababi (النعت السببي), maka ia mengikuti matbu’nya pada 5 macam, yaitu :
التَّعرِيفُ، وَ التَّنكِيرُ، وَ الرَّفعُ، وَ النَّصبُ، وَ الجَرُّ
(ma’rifat nakirahnya, rafa’ nashab dan jarnya)
Perlu diketahui bahwa nakirah itu disifati dengan jumlah khabariyah.
Misalnya :
جَاءَنِيْ رَجُلٌ أَبُوْهُ عَالِم ٌ[1]
Dan pada jumlah tersebut dhamirnya harus kembali kepada nakirah.
2.     التأكيد (Ta'kid/penegas), yaitu tabi’ yang menunjukan kondisi matbu’ dalam pensifatannya atau pada kondisi keseluruhan secara tegas, agar tidak ada keraguan bagi si pendengarnya. Dan ta'kid terbagi dua, yaitu: لفظي (ta’kid lafzhi) dan معنوي (ta’kid maknawi).
Bentuk ta’kid lafzhi yaitu dengan pengulangan lafazh, misalnya :
زَيْدٌ زَيْدٌ قَائِمٌ , ضَرَبَ ضَرَبَ زَيْدٌ إِنَّ إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ ,
atau
زَيْدٌ قَائِمٌ زَيْدٌ قَائِمٌ
Adapun ta’kid maknawi yaitu dengan delapan lafazh, yakni :
نَفْسٌ،  وعَيْنٌ ،   وكِلَا وكِلْتَا  ،    وكُلٌّ [وعَامَّةٌ]  ،   [وجَمِيْعٌ]    وأَجْمَعُ  ،    وأَكْتَعُ  ،   وأَبْتَعُ ،    وأَبْصَع.
Misalnya :
جَاءَنِيْ زَيْدٌ نَفْسُهُ, جَاءَنِي الزَّيْدَانِ أَنْفُسُهُمَا، جَاءَنِي الزَّيْدُوْنَ أَنْفُسُهُمْ, وكذلك عَيْنٌ.
جَاءَنِي الزَّيْدَانِ كِلَاهُمَا، والْهِنْدَانِ كِلْتَاهُمَا.
Sebagai catatan, untuk كِلَا dan كِلْتَا  ini khusus bagi mutsanna.
Contoh berikutnya:
«جَاءَنِي الطُّلَّابُ عَامَّتُهُمْ، وجَمِيْعُهُمْ»] و «جَاءَنِي الْقَوْمُ كُلُّهُمْ [وجَمِيْعُهُمْ] أَجْمَعُوْنَ وأَكْتَعُوْنَ، وأَبْتَعُوْنَ، وأَبْصَعُوْنَ»
Ketahuilah bahwa أَكْتَعُأَبْتَعُ, dan أَبْصَعُ mengikuti أَجْمَعُ dan lafazh أَجْمَعُ datang setelah كلbegitu juga  جَمِيْعٌ jika bermaksud menegaskan, dan lafazh جُمْعَاءُ  datang setelah كلهاdan lafazh أَجْمَعُونَ setelah كلهم( , dan tidak beramal tanpanya (كل)  dan tidak mendahuluinya.
3.     البدل (Badal), yaitu tabi’ yang dimaksudkan dengan nisbah, dan terdapat empat macam, yaitu : بدل الكل (badal kulli), بدل الاشتمال (badal isytimal), بدل الغلط (badal ghalath), dan بدل البعض (badal ba’dhi).
a.     بدل الكل : Badal keseluruhan, yaitu lafazh yang pengertiannya sesuai dengan mubdal minhu (yang diganti).
Misalnya :
جَاءَنِيْ زَيْدٌ أَخُوْكَ
"Telah datang kepadaku Zaid, saudaramu".
b.     بدل البعض : Badal sebagian, yaitu badal yang pengertiannya masih merupakan  bagian dari mubdal minhu.
Misalnya :
ضُرِبَ زَيْدٌ رَأْسُهُ
"Zaid telah dipukul kepalanya".
c.      بدل الاشتمال : Badal isi (kandungan), yaitu badal yang mempunyai kandungan makna bagian mubdal minhu. Misalnya :
سُلِبَ زَيْدٌ ثَوْبُهُ
"Zaid telah dicuri pakaiannya".
d.     بدل الغلط : Badal keliru, yaitu lafazh yang disebutkan setelah alghalath ( lafazh yang keliru).
Misalnya :
مَرَرْتُ بِرَجُلٍ حِمَارٍ
"Aku bertemu dengan laki-laki (yaitu) keledai" [2]
4.     العطف بالحروف (‘Athaf dengan huruf), yaitu tabi’ yang dimaksudkan dengan nisbah yang menyertai matbu’nya, terletak setelah huruf ‘athaf.
Misalnya :
جَاءَنِيْ زَيْدٌ وَ عَمْرٌو
"Telah datang kepadaku Zaid dan ‘Amr".
Adapun huruf ‘athaf ada sepuluh macam, dan akan dijelaskan pada fashal yang ke 3 insya Allah Ta’ala. ‘Athaf  dengan huruf dinamakan pula ‘Athaf Nasaq ( عَطفُ النَّسقِ).
5.     عطف البيان (‘Athaf Bayan), yaitu tabi’ , namun bukan sifat yang menjelaskan matbu’nya.
Misalnya :
أَقْسَمَ بِاللهِ أَبُوْ حَفْصٍ عُمَرُ
" Telah bersumpah atas nama Allah Abu hafsh (yaitu) ‘Umar".
Ini terjadi apabila terkenalnya dengan ‘alam (nama orang). Dan misalnya :
جَاءَنِيْ  زَيْدٌ أَبُوْ عَمْروٍ
" Telah datang kepadaku Zaid (yaitu) Abu ‘Amr". Ini terjadi apabila terkenalnya dengan Kunyah.
 _________________
Kembali ke Daftar Isi 

[1] . Terkadang berbentuk jumlah ismiyah atau jumlah fi'liyah, seperti misalnya :    جَاءَ رَجُلٌ يَحْمِلُ كِتَابً .
[2] . Maksudnya disini adalah ingin mengatakan bertemu dengan keledai tapi salah mengucapkan, akhirnya kemudian lafazh rajulun dibadal (diganti) dengan lafazh himar.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik